(TL/N: mulai bab ini, “Kotone/Kotosaka” akan dipakai sebagai Shizune sesuai identitas aslinya.)
“Kamu datang lagi hari ini...”
Melihat wajah yang muncul di layar interkom, aku, Aigaki Shinsuke, hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk kepala.
Gadis gloomy yang berpakaian dengan gaya landmine-kei, Kotosaka Shizune.
Kalau menghitung sejak pertama kali aku membiarkannya masuk ke kamarku, hari ini berarti hari kesepuluh berturut-turut dia datang.
Sejak hari itu, dia benar-benar datang ke apartemen tempatku tinggal setiap hari.
“Pagi, Shinsuke.”
“...Pagi. Jadi, kali ini kamu bawa apa?”
“Iya.”
“Haaah... baiklah, aku ngerti. Masuklah.”
Sambil masih terkejut dengan tingkah Shizune, aku membuka pintu otomatis di pintu masuk apartemen dengan enggan.
Kurang dari semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarku di lantai dua.
“Permisi.”
“Kalau tidak salah ingat, yang kubilang cuma ‘sesekali kamu boleh masuk ke kamarku’, kan? Aku nggak pernah merasa menandatangani ‘kontrak istri sementara’ sama sekali.”
“Kebetulan saja hari ini juga termasuk salah satu ‘sesekali’ itu. Aku nggak datang dengan niat tertentu.”
“Kamu menilai sendiri begitu, ya?”
“Kamu marah?”
“Nggak, aku nggak... marah.”
“Kalau begitu syukurlah... ayo cepat makan bareng.”
Setelah berkata begitu, Shizune langsung masuk ke ruang utama. Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah bento lalu menata isinya di atas meja rendah.
Karena kemarin isinya nasi, hari ini menunya sandwich.
Setiap pagi, Shizune membuat bekal untuk dua orang, lalu membawanya ke rumahku.
Menu utama hari ini adalah tiga macam sandwich: egg sandwich, sandwich ham-timun-keju, dan BLT sandwich. Selain itu, di celah-celah bento dia juga mengisi dengan octopus sausage dari ham, scrambled egg, dan kiwi potong kecil sampai seluruh sudutnya penuh rapi.
(TL Note: BLT = bacon, lettuce, tomato.)
“Seperti biasa... kelihatannya enak banget.”
Melihat bekal yang isinya cuma makanan-makanan yang kusukai, air liurku hampir menetes.
“Yang ini punyaku, dan yang itu punyamu, Shinsuke. Oh iya, ini juga buatmu, tisu basah alkohol.”
“Ah, um... kalau begitu... aku makan, ya.”
Sambil mengelap tangan, aku berpikir harus mulai dari mana. Setelah sempat ragu, aku mengambil egg sandwich hati-hati agar isinya tidak berjatuhan, lalu memasukkannya ke mulut.
Tekstur rotinya lembut, putih telurnya dipotong kasar jadi masih terasa teksturnya, lalu kuning telurnya kaya rasa. Taburan black pepper yang pas memberi aksen halus pada rasanya.
“...Enak banget.”
“Benarkah?... Syukurlah.”
Mungkin karena lega mendengar komentarku, pipi Shizune ikut melunak.
Mengikuti tindakanku, dia juga mengambil egg sandwich lalu menggigitnya.
“Gimana ya bilangnya... aku agak merasa nggak enak sama kamu... tiap pagi bikin bekal buatku pasti capek, kan?”
“Aku membuatnya karena aku ingin Shinsuke memakannya.”
Aku tidak pernah sekali pun meminta Shizune membuatkan bekal untukku. Tapi tetap saja, dia terus menyiapkan makanan untukku setiap hari. Itu selalu membuatku merasa sedikit bersalah.
“Aku sudah terbiasa... bahkan sebelum sesekali datang ke kamar ini.”
“Tunggu, tadi kamu seperti memakai istilah yang aneh?”
“Itu cuma perasaanmu. Membuat bekal di pagi hari sebelum sesekali datang ke kamar ini memang sudah jadi rutinitasku. Kalaupun porsinya kutambah satu atau dua orang, usaha yang dibutuhkan hampir sama.”
“Dulu kamu bikin berapa porsi?”
“Dulu aku bikin bekal untukku dan ayahku, jadi dua porsi. Lalu, meski bukan bekal, aku juga biasa menyiapkan sarapan.”
Saat pertama kali tinggal sendiri, aku juga berusaha keras memasak sendiri untuk tiga kali makan. Tapi pagi hari benar-benar sempit waktunya, jadi aku lebih sering bertahan hidup dengan kantin kampus atau stok frozen food. Di sisi lain, Shizune tiap hari bangun pagi untuk memasak, jadi dia memang pantas dipuji soal itu.
Tapi ada satu hal yang mengganjal.
“Kalau kamu juga sekalian menyiapkan sarapan buatku, memang jelas sangat membantu, tapi uang belanja bahan makannya dari mana? Bukan dari biaya hidup keluarga Kotosaka, kan...?”
Bukan cuma pagi, Shizune juga muncul di kamarku pada malam hari. Tujuannya, tentu saja, untuk menyiapkan makan malam.
Kalau dilihat sekilas, tingkahnya agak mirip stalker, tapi bagaimanapun juga kami ini “teman”, kurang lebih seperti itu, dan rasanya nggak pantas mengusir orang yang begitu perhatian padaku. Jadi pada akhirnya aku membiarkannya datang.
“Nggak usah dipikirkan. Aku pakai uang tabunganku dari waktu masih melakukan ‘pekerjaan papa’.”
(TL/N: pekerjaan papa / papa-katsu)
“Tapi bukannya uang itu seharusnya kamu pakai buat biaya hidupmu sendiri?”
“Nggak apa-apa... Lagipula, untuk sementara aku ingin berhenti memikirkan menabung dulu dan istirahat sebentar.”
Sejak hari dia bertemu denganku, Shizune belum pernah lagi melakukan “pekerjaan papa” satu kali pun.
Pagi hari dia datang ke kamarku sebelum berangkat kuliah, siang sampai sore dia tinggal di kampus, lalu malamnya datang lagi ke kamarku. Dia cuma bolak-balik ke tempat-tempat tetap, tanpa kelihatan pergi ke tempat lain.
Bahkan di kuliah etika hari Selasa pun, aku belum pernah melihatnya mengecat rambutnya hitam lagi. Dia terus datang kuliah dengan rambut putihnya. Kalau akhir pekan, dia malah menghabiskan seluruh waktunya di kamarku. Kadang kalau aku sedang kerja part-time, dia bahkan membersihkan kamarku atas inisiatif sendiri.
Untuk sementara, “pekerjaan papa” digantikan oleh kunjungannya ke kamarku.
Tidak salah lagi, buat dirinya itu jelas perkembangan yang baik.
Tapi kalau dilihat dari sisi lain, dia jadi menghabiskan setiap hari di tempatku, bahkan sampai membantu pekerjaan rumah...
“Mau sekalian kubuatin sarapanmu juga?”
“Nggak usah. Itu uang hasil kamu kerja, jadi jangan dihabiskan untukku. Pakai buat dirimu sendiri, misalnya beli baju atau makeup. Cewek kan banyak pengeluarannya, ya?”
“Aku sudah punya semua yang kubutuhkan, baik baju maupun makeup.”
“...Wah, ternyata penghasilanmu lumayan banget, ya.”
“Dari sudut pandangku, sekali makan atau sekali jalan saja minimal dapat 10.000 yen, jadi kalau dihitung-hitung sekitar 5.000 yen per jam.”
Aku yang kerja serius di minimarket saja cuma bisa dapat sekitar 1.000 yen per jam. Jujur saja, rasanya jadi agak hampa.
“Nggak usah khawatir, Shinsuke. Kamu nggak perlu memikirkan uang belanja itu.”
“Kamu ini sedang berusaha memancingku pakai makanan, ya? Aku nggak akan mengadopsi sistem di mana aku membiarkanmu masuk ke kamarku cuma karena kamu bawa bekal dan bahan makanan...”
“Padahal tiap kali aku bawa bekal dan bahan makanan, kamu tetap membiarkanku masuk ke kamar.”
“Yah, memang sih...”
Meski kamu nggak bawa pun, aku juga nggak akan sampai mengusirmu. Aku masih punya batasan sebagai manusia.
“...Oh iya.”
Sepertinya Shizune terpikir sesuatu, lalu bergumam pelan.
“...Ada apa?”
“Aku ingin tanya soal makanan favoritmu buat referensi ke depan. Aku juga ingin menambah variasi menu masakanku.”
Shizune mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpoin dari handbag-nya, lalu menatap lurus ke mataku.
“Makanan favorit...?”
Ditanya mendadak begitu, aku tidak bisa langsung menjawab.
“Kurasa aku lebih suka makanan yang agak manis daripada yang terlalu pedas atau pahit... ya, mungkin begitu. Oh iya, omurice tamagoyaki yang kamu buat malam itu enak banget.”
“Padahal aku mau menambah menu, tapi kalau kamu cuma bilang begitu, itu nggak terlalu membantu. Nggak bisa dijadikan referensi.”
“Ya mau gimana lagi. Yang pertama kepikiran ya itu, jadi itu yang kukatakan.”
Waktu itu dia membuat omurice dengan saus tomat. Tekstur telurnya yang lembut dan fluffy benar-benar membekas. Manis lembut dari telurnya berpadu sempurna dengan rasa kaya butter dari chicken rice-nya. Aku ingat aku menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima menit.
Semua masakan Shizune memang enak, tapi yang satu itu entah kenapa terasa menonjol sampai sekarang pun kalau kuingat lagi, mulutku langsung berair. Jujur saja, aku ingin memakannya lagi.
“Segitunya, ya, sampai yang pertama kali terlintas justru omurice itu?”
“...Yah, mungkin begitu. Kualitas masakan itu benar-benar setingkat yang bisa dijual di toko.”
“Begitu... begitu ya.”
Shizune menggigit bibirnya sedikit, tampak malu. Tapi di saat yang sama dia juga terlihat agak bangga, dadanya mengembang tipis.
“Nanti aku akan membuat omurice lagi. Selain itu, apa ada yang lain yang kamu suka?”
Diam-diam aku membuat pose kemenangan di dalam hati, lalu kembali memikirkan makanan favoritku.
“Yah... coba kupikir... pasta, kari... dan aku juga lumayan suka nikujaga.”
“Nikujaga?”
Tubuh Shizune bergetar sedikit, lalu dia mengulang nama masakan yang kusebut.
“Iya. Kamu nggak suka?”
“Bukan, malah sebaliknya. Aku tidak menyangka bahkan makanan favorit kita pun bisa sama, Shinsuke.”
“Bukannya banyak orang yang suka nikujaga?”
“Aku jarang berinteraksi dengan orang lain, jadi aku nggak terlalu paham soal itu.”
“...Maaf.”
Karena sedikit kikuk, aku memalingkan pandangan dari Shizune.
Namun, dia tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya dan lanjut bicara.
“Serahkan nikujaga padaku. Aku akan memastikan kamu menyukainya.”
“Percaya diri sekali. Itu masakan andalanmu?”
“Itu masakan pertama yang kupelajari, jadi aku lebih terbiasa membuatnya daripada masakan lain.”
“Begitu ya. Tapi kalau begitu, kenapa selama ini kamu belum pernah membuatkannya untukku? Padahal sudah lumayan lama juga kamu memasak untukku.”
“Karena kalau aku menyajikan masakan yang kusukai lalu kamu bilang ‘najis’, aku pasti akan sangat terpukul.”
“Aku nggak mungkin menjelek-jelekkan masakan yang kamu sajikan. Lagipula, bukannya beberapa hari lalu aku sudah bilang? Aku nggak pilih-pilih makanan dan juga nggak punya alergi. Hampir semua makanan bisa kumakan.”
Bahkan kalaupun ada makanan yang sebenarnya nggak terlalu kusukai, aku tetap nggak akan pernah bilang “najis” pada makanan yang sengaja dimasakkan untukku.
“Tapi balik lagi ke topik, nikujaga ya. Waktu masih tinggal di rumah, aku cukup sering memakannya, tapi sejak tinggal sendiri, aku belum makan itu sekali pun.”
“Kalau begitu malam ini kita makan nikujaga. Sepulang kuliah nanti aku akan beli bahannya. Sekalian body wash-mu juga hampir habis, jadi akan kubelikan.”
“Kapan kamu sempat memeriksa isi botol itu...?”
“Waktu aku membersihkan kamar mandimu semalam. Oh iya, Shinsuke, kamu cuci muka beneran nggak sih? Sejak lusa kemarin, face wash-nya sama sekali nggak berkurang.”
“Kamu bahkan memeriksa face wash juga!?”
“Kalau soal skincare, kamu nggak boleh malas. Jenis kulitmu gampang berjerawat, Shinsuke.”
Kenapa dia sampai tahu jenis kulitku juga?
“Tapi di sisi lain, jumlah tisu jauh berkurang dibanding semalam. Harusnya masih ada stok satu kotak tisu cadangan. Mau aku gantiin?”
“Aku beli sendiri, jadi nggak usah peduli aku pakai tisu sebanyak apa!”
Sebenarnya sedetail apa sih kamu memeriksa semuanya?
“...Jangan-jangan aku justru merepotkanmu...?”
Shizune mengerut sedikit, mengamati ekspresiku, lalu alisnya turun dengan cemas.
“N-nggak... kamu nggak... kamu nggak merepotkanku, jadi jangan bikin wajah seperti itu... Kamu malah benar-benar banyak membantu. Soal body wash habis saja, sampai tadi aku sendiri lupa.”
“Benarkah?”
“Iya... kamu memperhatikan banyak hal, jadi... terima kasih.”
“Kalau begitu... syukurlah.”
Shizune menghela napas lega, menyipitkan mata, dan bahunya sedikit rileks.
“Kalau begitu nanti aku cuma akan beli body wash dan bahan-bahan masaknya... nikujaganya tunggu saja.”
“Ah, iya... um... baiklah...”
Kalau terus begini dan aku menyerahkan semua urusan rumah pada Shizune, rasanya lama-lama aku bakal tanpa sadar berubah jadi manusia tak berguna yang tak bisa melakukan apa-apa sendiri.
Ngomong-ngomong, dia membuatkan bekal untukku tiap pagi, datang lagi malam-malam untuk memasak, dan meski niatnya baik, rasanya dia sudah agak kelewat. Aku benar-benar tak tahu kenapa dia melakukan semua ini sampai sejauh ini.
Jangan-jangan semua tindakannya sampai sekarang adalah bentuk promosi dirinya sendiri dengan caranya yang khas?
“...Cuma karena tiap hari bantu pekerjaan rumah, kamu kira pada akhirnya aku bakal menandatangani ‘kontrak istri sementara’ itu dan secara resmi membiarkanmu masuk ke kamarku... bukan begitu yang kamu pikirkan, kan?”
“Nggak.”
Shizune langsung memotong pertanyaanku dengan penolakan. Malah jadi mencurigakan.
“Sebagai penegasan, aku nggak akan pernah menandatangani kontrak itu.”
“Kenapa?”
“Karena syaratnya nggak adil.”
Kalau bicara sejujurnya, sejak awal aku memang tidak ingin terlibat dengan gadis gloomy seperti ini. Hanya saja, aku belum mengatakan itu pada Shizune. Mengatakannya langsung padanya juga terasa agak aneh.
Dan aku juga tidak berbohong.
Masak, cuci, bersih-bersih, ditambah menemani latihan ilustrasiku, Shizune mengambil alih semua itu. Sebagai gantinya, yang dia minta hanyalah hak untuk bebas keluar masuk kamarku.
Dari sudut pandangnya mungkin ada keuntungan berupa “tidak perlu pulang”, tapi untukku kesepakatan itu terlalu timpang. Sebagai sesama mahasiswa, aku tidak ingin menerima barter yang terasa seberat sebelah itu.
“Bagaimanapun juga, ‘kontrak istri sementara’ itu nggak boleh.”
“...Kalau begitu aku tidak akan pernah memasak untukmu lagi.”
“Jadi memang kamu sengaja berusaha mengambil hati aku supaya aku menandatangani kontraknya?”
Lagian, dari awal aku sendiri tidak pernah memintamu melakukan semua ini.
“Mungkin kalau beruntung... memang sempat kupikirkan sih, tapi barusan itu cuma bercanda. Makan malammu tetap akan kubuat seperti biasa.”
“Aku benar-benar nggak ngerti niatmu apa...”
“Barusan aku sudah bilang, kan? Aku cuma membuatnya karena aku ingin kamu memakannya.”
“Kenapa kamu begitu bersikeras ingin membuatku makan masakanmu?”
“Karena kamu selalu terlihat begitu senang saat memakannya. Bisa membantu orang lain... walau mungkin aku sedikit lancang, aku senang kalau bisa dibutuhkan seseorang.”
Wajah Shizune memerah bahagia.
Kelihatannya itu memang perasaannya yang tulus.
“Shizune pasti bakal jadi istri yang bagus.”
“Um... maksudnya apa?”
“Ya sesuai artinya. Kamu jago masak, bisa mengurus pekerjaan rumah lain juga, dan perhatian sekali. Masa depanmu cerah.”
Sambil mengatakan itu, aku menyelesaikan egg sandwich terakhirku lalu mengangkat tangan sedikit di udara, masih memikirkan sandwich mana yang akan kumakan berikutnya.
“...”
“...Shizune?”
Shizune tiba-tiba terdiam, lalu menundukkan kepala seakan-akan berusaha menyembunyikan wajahnya.
“B-bukan apa-apa.”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara kecil darinya yang entah kenapa terdengar senang.
☆
Hari Kamis, kuliah kami dimulai dari jam kedua.
Walaupun mata kuliah kami berbeda, jadwal Shizune hari itu juga sama sepertiku, dimulai dari jam kedua. Jadi, sebelum masuk kelas, kami berjalan bersama di dalam kampus.
“Walaupun belakangan ini jadi terasa biasa, setiap kali lewat di depan orang-orang kampus, aku tetap merasa ditatap aneh...”
“Begitu, ya? Bukankah itu normal?”
Shizune sendiri tampak tidak terusik, tapi jelas ini sama sekali tidak normal.
Pakaiannya serba hitam, rambut putih mencolok yang diikat half-up ponytail, dan makeup merah khas di sudut matanya. Semua itu sudah cukup membuatnya menonjol. Ditambah lagi wajah aslinya memang cantik, jadi daya tariknya malah makin kuat.
Bahkan aku yang berjalan di sebelahnya juga ikut menerima cukup banyak tatapan penasaran. Karena sedikit malu, aku berjalan dengan kepala agak menunduk agar tidak perlu beradu pandang dengan orang lain.
“Hei, hei, hei, hei! Oi!”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang yang hampir terdengar seperti raungan marah. Pemilik suara itu segera menyusul, memutari kami ke depan, lalu menempelkan senyum berlebihan sambil mendekatkan wajahnya.
“Shin-suke-kun? Selamat pagiii!”
“P-pagi. Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba pakai gaya begitu?”
“Soalnya tadi aku lihat Shin-suke-kun lagi jalan bareng cewek pas kebetulan berpapasan, jadi kupikir aku sapa sekalian!”
“Itu mah bukan sekadar berpapasan, kamu terlalu dekat!”
Serius deh, matamu merah banget. Agak ngeri.
“Oh, Kotosaka, pagi! Hari ini juga kamu lucu banget.”
“Um... iya.”
Shizune bersembunyi sedikit di belakangku, mengambil jarak dari makhluk mencurigakan itu.
“Oi, Hirofumi, jangan menakuti Shizune.”
“Aku nggak menakutinya. Aku cuma memberi salam dengan elegan sebagai seorang gentleman.”
“Dari mana elegannya!”
Orang yang tiba-tiba mengajak kami bicara itu adalah teman laki-laki terdekatku di kampus, Yagiyuu Hirofumi.
Aku belum pernah memberi tahu Hirofumi bahwa Shizune adalah “Kotone”. Aku cuma menjelaskan samar-samar bagaimana kami berkenalan, lalu mengatakan bahwa kami menjadi teman.
Jadi Hirofumi memang sudah tahu kalau Shizune sering datang ke kamarku. Dan sejak aku melaporkannya, tiap kali kami berdua jalan bersama, dia akan datang dalam kondisi seperti ini dan mengganggu kami.
Setelah Hirofumi ikut bergabung, aku dan Shizune melanjutkan berjalan bersama.
“Haaah... kamu beruntung banget sih, tahu nggak? Tiap hari bawa pulang cewek secute itu.”
“Aku nggak membawanya pulang.”
“Padahal belum lama ini kamu masih sok keren bilang, ‘selain ibu dan adikku aku nggak pernah bawa cewek masuk ke kamar,’ sekarang malah dengan gampang mengkhianatiku... sialan, sana kepala kamu dipenggal!”
Cuma gara-gara beginian minta orang dipenggal, kamu benar-benar keterlaluan.
“Ah, ahh, ahh... iri banget aku, dasar bajingan! Pokoknya gini, tiap pagi kamu pasti mengalami skenario kayak ‘Onii-chan, kalau nggak cepat bangun nanti telat, lho!’ ‘Ugh... kasih aku tidur lima menit lagi...’ dan memulai harimu dengan suasana segar, kan!?”
“Kenapa malah skenario adik-kakak?”
“Walaupun menurutku kemungkinannya sangat kecil, jangan-jangan sebenarnya yang kamu alami itu kehidupan pengantin baru, di mana kamu bangun dan menemukan Kotosaka dengan naked apron sedang menyiapkan sarapan buatmu... bukan begitu!?”
“Skenario semacam itu nggak ada. Dan kenapa harus naked apron?”
“Bukankah menemukan perempuan telanjang di kamarmu sesaat setelah bangun tidur adalah pemandangan yang diimpikan semua laki-laki di dunia?”
“Hebat juga ya, di depan Shizune begini kamu masih bisa dengan pede memamerkan nafsumu sejauh itu...”
Mendengar imajinasi ngawur Hirofumi, aku sampai kehilangan kata-kata. Tapi anehnya, salah satu komentar isengnya tadi justru tertinggal di benakku.
...Kehidupan pengantin baru, ya.
Aku dan Shizune jelas bukan pasangan, apalagi suami-istri. Tapi meski begitu, dengan caranya sering keluar-masuk kamarku, memang ada sedikit suasana yang anehnya mengingatkanku pada hidup pengantin baru.
Tanpa sadar, pandanganku berpindah dari Hirofumi ke Shizune, lalu aku membayangkan dirinya memakai fashion nyentriknya yang biasa, tapi ditambah celemek saat mengerjakan pekerjaan rumah.
Memang kombinasi antara fashion nyentrik dan celemek terdengar agak aneh, tapi dengan penampilannya yang anggun, rasanya dia akan tetap cocok pakai apa pun.
Bahkan orang sepertiku yang tidak terlalu paham fashion nyentrik pun berpikir begitu, jadi perasaan ini pasti benar.
“...Shinsuke?”
Shizune menyadari tatapanku, memiringkan kepala, lalu menatapku dari bawah.
“Ah, nggak...! Bukan apa-apa...”
Aku buru-buru melambaikan kedua tangan dan menepisnya.
Jelas aku tidak mungkin bilang padanya kalau tadi aku membayangkannya memakai celemek.
“Kamu panik banget. Jangan-jangan kamu sedang membayangkan hal-hal mesum tentang Shizune-chan, ya? Nggak usah ditutup-tutupi, mengaku saja, dasar serigala mesum!”
“Aku nggak membayangkan hal mesum. Dan lagi, aku paling nggak mau dibilang serigala mesum oleh kamu, Hirofumi.”
“Aku ini bukan serigala mesum. Aku serigala mesum yang membanggakan.”
Aku nggak tahan melihatmu sekarang, jadi tolong hapus ekspresi bangga itu dari wajahmu.
“Apakah Shinsuke serigala mesum yang playboy?”
Shizune tetap dengan wajah serius menatapku.
“Demi aku, tolong jangan telan mentah-mentah omongan Hirofumi yang nggak masuk akal itu...”
“Itu bukan omong kosong. Di balik mejanya yang penuh bahan ilustrasi itu, dia menyembunyikan banyak doujinshi R-18—ugh!”=
Aku menghantam bahu Hirofumi keras-keras sambil memperingatkan, “Jangan lanjut lagi.”
“Doujinshi-nya BL?”
Tak disangka, Shizune malah tertarik pada topik itu.
“Iya, dan yang jenis ekstrem pula, lengkap dengan adegan knife play segala. Betul, kan, Shinsuke-kun?”
“Itu cuma barang-barang standar pria normal!”
“Hah...?”
Bahu Shizune turun sedikit, dan dia bergumam dengan nada kecewa.
“Memangnya kamu maunya aku fudanshi?”
“Kalau kamu cuma tertarik pada laki-laki, aku bisa sedikit lebih tenang.”
Tenang soal apa?
“Doujinshi seperti apa yang biasanya dibaca Shinsuke-kun?”
“Yah... kalau ditanya seperti apa...”
Kenapa aku harus diinterogasi soal selera fetish-ku pagi-pagi begini di kampus?
“Nggak usah disembunyikan, santai aja. Kalaupun ternyata Shinsuke-kun ini tipe mesum yang terangsang lihat naga berhubungan dengan mobil, aku sudah siap menerima itu sampai batas tertentu tanpa goyah.”
“Fetish-ku nggak seekstrem itu!”
“Iya, Shizune. Tenang saja, selera seksual cowok ini bukan dari luar angkasa, kok. Masih manusia biasa. Iya, kan, Chef Mesum Shinsuke-kun?”
“Jangan terus-terusan ngomong ngawur dari tadi!”
“Tapi aku memang pernah lihat kok—doujinshi tentang cewek ketahuan mencuri di minimarket itu.”
“Kamu sengaja memperburuk situasiku, ya...?”
“Karena kamu terpesona oleh doujinshi itulah kamu sampai kerja di minimarket!”
“...Shinsuke-kun, jorok.”
Shizune gampang sekali termakan omongan Hirofumi. Memang sih, aku memang punya beberapa doujinshi bertema minimarket.
“Yah, terlepas dari fakta bahwa Shinsuke-kun pernah melihat Kujou-senpai berseragam minimarket, bukankah hal itu belum pernah disebut, ya?”
“Nggak ada yang pernah bilang begitu juga!”
“...Kujou-senpai?”
Mendadak, ekspresi Shizune berubah sedikit muram.
“...? Oi, Shinsuke-kun, kamu belum pernah cerita soal Kujou-senpai ke Shizune, ya?”
“Um, belum.”
“Hal beginian tuh kalau nggak dijelaskan dari awal bisa jadi bibit pertengkaran, lho?”
“Soalnya nggak ada yang nanya, dan lagipula hubunganku sama orang itu cuma sebatas teman masa kecil biasa.”
“...Teman masa kecil.”
Tatapan Shizune jatuh miring ke bawah saat dia mengulang kata yang terasa berat itu.
“Oi, teman masa kecil itu... perempuan?”
“Hah...? Iya, perempuan.”
“...Dan namanya?”
“Kujou Chitose...”
“...Kujou, Chitose... Kamu dan orang itu teman masa kecil, lalu kalian juga kerja di tempat yang sama?”
“Iya, memangnya ada masalah?”
Shizune mendadak menghujaniku dengan pertanyaan tentang Chitose.
Situasi itu membuatku teringat lagi pada rentetan pertanyaan yang dilemparkannya padaku di parkiran minimarket dulu.
“Dia... imut?”
“Buatku sih dia lebih cantik daripada imut. Tapi kalau dilihat dari sudut lain, dibilang super cute juga bisa!”
“Jangan jawab begitu!... Karena kami sudah bersama sejak kecil, aku sendiri nggak melihatnya sebagai imut atau cantik. Mungkin lebih ke berwajah bagus... kali ya.”
“Mm.”
Shizune menatapku sebentar, lalu memalingkan muka seolah sedang ngambek.
“Shinsuke, kamu benar-benar nggak paham hati perempuan.”
“Sekarang giliran kamu juga?”
“Shinsuke-kun, coba belajar mengamati seperti aku.”
Kamu yang tetap bisa melempar topik mesum bahkan di depan Shizune justru kelihatannya juga nggak paham hati perempuan.
Sambil mengobrol begitu, kami sampai di kelas. Setelah ini aku dan Hirofumi punya kelas yang sama, tapi dengan Shizune kami harus berpisah di sini.
“Kalau begitu, nanti ketemu lagi ya, Shizune.”
“Iya, nanti malam aku datang lagi.”
“Nggak, maksudku, hari ini aku kerja...”
“Kalau begitu, aku tunggu sampai kamu pulang.”
“...Mungkin frekuensinya bisa sedikit dikurangi?”
Aku mencoba menyampaikan kekhawatiranku pada Shizune secara halus.
Dia menatapku dengan cemas lalu bertanya, “Kenapa?”
“Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu soal pekerjaan rumah, dan kamu memang benar-benar membantu. Tapi kalau melihat situasi sekarang, bukankah ini jadinya nggak jauh beda dengan ‘kontrak pernikahan komuter’ yang bahkan belum kita tanda tangani itu?”
Aku memang pernah bilang bahwa sesekali dia boleh datang ke kamarku, tapi kalau terus begini, mungkin ini akan berlanjut sampai kami lulus... atau malah setelah lulus pun dia tetap akan datang ke kamarku.
“Hari ini kamu nggak usah memikirkan aku. Pakailah waktumu untuk dirimu sendiri, entah kamu mau pulang atau tidak. Waktu untuk dirimu sendiri itu penting.”
Kalau memikirkan masa depan Shizune, aku tidak boleh membiarkan gaya hidup seperti ini menjadi kebiasaan permanen.
Kurasa sudah waktunya aku menyampaikan hal itu dengan jelas padanya.
“Bahkan kalau hari ini kamu bawa bekal dan bahan masakan pun, aku nggak akan membiarkanmu masuk ke kamarku. Lain kali, tunggu beberapa hari dulu sebelum datang lagi.”
“Aku mengerti.”
Shizune menjawab dengan suara yang nyaris menghilang, terdengar sedih. Namun meskipun secara lisan dia setuju, ekspresinya jelas menunjukkan bahwa dia sulit menerima keputusan itu.
☆
Setelah kuliah dari jam kedua sampai jam keempat pada hari Kamis selesai, aku mulai shift part-time sesuai jadwal di minimarket dari pukul 17.00 sampai 22.00.
“Jarang sekali lihat kamu nggak terlalu capek di jam segini. Dulu biasanya kamu sudah tepar.”
Pada jam ini, gelombang pelanggan sudah mulai reda, menyisakan kejenuhan panjang yang terasa tak ada habisnya.
Karena pekerjaan sudah beres, aku dan Chitose berdiri berdampingan di balik kasir sambil mengobrol untuk menghabiskan waktu sambil menunggu ada pelanggan masuk.
“Yah, akhir-akhir ini ada banyak hal terjadi, tapi karena itu juga aku jadi tidur cukup.”
“Jangan-jangan kamu sudah berhenti begadang nonton video aneh-aneh?”
“Aku dari awal juga nggak pernah nonton yang begitu.”
“Boong. Ekspresimu beberapa hari terakhir jelas menunjukkan kamu sedang menikmati hidup.”
“Cuma iblis yang bisa menyimpulkan sejauh itu dari ekspresi orang!”
Alasan kenapa akhir-akhir ini aku bisa tidur nyenyak tentu saja karena pekerjaan rumahku dibantu Shizune.
Berkat bantuannya, aku bisa mulai latihan gambar lebih cepat, dan hasilnya belakangan ini aku bisa tidur cukup.
Memang tadi pagi sebelum masuk kelas aku sempat mengatakan sesuatu yang terdengar seperti ingin menjauhkan Shizune, tapi faktanya dia tetap telah mendukung kehidupanku.
Kalau aku mengingat lagi ekspresi kami saat berpisah tadi, rasa penyesalan dan introspeksiku justru makin dalam. Apa tadi aku seharusnya memilih kata-kata yang lain?
“Oh ya... ngomong-ngomong, Shin, soal ‘masukaki’...”
(TL/N: ini permainan kata Jepang. “Masukaki” adalah slang untuk masturbasi pria, dan bunyinya mirip dengan “masegaki” yang berarti bocah yang dewasa sebelum waktunya/early bloomer.)
“Ngomong-ngomong soal ‘masukaki’...?”
Pilihan katanya yang tiba-tiba membuatku tercengang. Aku hanya bisa mengulang kata itu dengan bingung.
“Kamu tahu klub yang menjadikan ‘masukaki’ sebagai semboyan?”
“Kamu yakin bukan maksudmu ‘masegaki’...?”
“Ah iya, iya, itu yang itu.”
Apa-apaan sih ‘masukaki’? Kedengarannya malah lebih vulgar daripada ‘masegaki’... pasti semacam kelompok mesum kelas berat.
“Kamu pernah dengar klub bernama ‘Yuton’?”
“Nggak, belum pernah. Terkenal?”
“Lumayan terkenal di kalangan anak tingkat tiga. Klubnya sendiri sih cuma ‘klub minum’ biasa, jadi di permukaan nggak ada yang aneh. Belakangan ini aku beberapa kali diajak, tapi mereka ngeselin, jadi aku nggak suka.”
Chitose mengeluh dengan wajah sebal.
“Jarang sekali ya. Aku nggak nyangka kamu sampai nggak suka kalau diajak ke klub minum.”
Dia memang sering muncul di berbagai komunitas, dan sepanjang tahun selalu menerima undangan minum dari berbagai tempat.
Kalau kebetulan hari itu dia kerja, dia akan menolak. Tapi kalau sedang senggang, biasanya dia lumayan antusias ikut.
“Aku cuma dengar rumor jelek soal klub itu. Ketua klubnya adalah mahasiswa tahun ketiga yang kemarin peringkat empat di kontes kecantikan. Tapi katanya mereka suka mengundang cewek satu per satu, bikin mabuk, lalu... yah, pokoknya auranya seperti itu. Yang biasa disebut club cannon.”
Dengan wajah skeptis, Chitose melanjutkan, “Katanya cara mereka bikin cewek mabuk itu juga lumayan parah. Tapi sebenarnya gimana sih mekanismenya?”
Karena topik ini jauh dari duniaku, aku sendiri sulit membayangkannya. Aku tak pernah mengira benar-benar ada kelompok seperti itu...
“Kalau mereka mendekatimu, kamu biasanya menolak seperti apa?”
“Tentu saja, langsung kukasih lutut ke selangkangan! ...Nah, begitu. Kalau lawannya cowok yang nggak ngerti omongan, kadang bisa juga kutendang dari bawah lurus.”
Tiba-tiba Chitose mengangkat kakinya ke arah dadaku dan aku tersentak.
“Kalau kamu menolak sebrutal itu, harusnya mereka nggak akan ngajak kamu minum lagi.”
“Nah, anehnya justru frekuensi mereka ngajakku malah makin banyak.”
“Berarti yang mengejarmu sekumpulan masokis.”
“Yang tadi soal cara menolaknya itu cuma bercanda. Emangnya kamu berharap begitu?”
“Dari alur pembicaraan kita barusan, nggak ada satu pun yang layak kuharapkan.”
“Soalnya tadi mukamu terlihat seperti orang yang ingin dihancurkan.”
“Kesan macam apa yang kamu punya tentang aku!?”
Sayangnya, aku bukan tipe penyimpang yang terangsang oleh hal seperti itu.
“Pokoknya, Shin, kamu juga hati-hati. Jangan sampai jadi target ‘club cannon’.”
“Cowok biasa sepertiku nggak akan dijadikan target.”
“Tapi cowok imut biasanya tetap bisa jadi sasaran.”
Chitose mengatakannya dengan serius.
“Lagian, orang juga suka bilang, ‘cowok imut bisa laris manis’, lho.”
“Laris manis? Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Dan aku juga nggak imut.”
“Serius? Soalnya belakangan ini aku justru merasa kamu agak feminin dan imut.”
“Feminin? Dasarnya dari mana?”
“Yah, misalnya dari wangimu?”
“Aku nggak ganti deterjen, dan aku juga nggak merasa pakai parfum.”
“Uh, maksudku bukan itu. Cuma rasanya ada yang sedikit berbeda.”
Chitose mendekatkan wajahnya ke tubuhku lalu mengendus-endus seperti anjing.
Memanfaatkan toko yang sedang sepi pelanggan, dia malah berputar-putar mengelilingiku. Jongkok, berdiri, lalu mengamatiku sesuka hati.
Walaupun aku memandangnya dengan tatapan jijik atas tingkah nyentriknya, dia sama sekali tidak peduli.
Setelah selesai mengendus dari posisi jongkok, Chitose menatap lurus ke mataku lalu memiringkan kepala seperti sedang curiga.
“Shin, kamu punya pacar?”
“......!?”
Ucapan Chitose langsung mengguncangku habis-habisan.
Aku memang tidak punya pacar, tapi ada seorang perempuan tertentu yang menghabiskan banyak waktu bersamaku.
Aku sama sekali tidak menyangka dia bisa mencium itu hanya dari baunya...
Sampai saat ini, aku menyembunyikan hubunganku dengan Shizune dari Chitose. Bukan karena harus disembunyikan, tapi tetap saja rasanya sulit menceritakan bahwa aku sudah berkali-kali membawa Shizune, yang baru kukenal beberapa hari, ke kamarku—sesuatu yang bahkan belum pernah kulakukan pada Chitose, teman masa kecilku sendiri.
“Dari reaksimu, kurasa tebakanku tepat.”
“Itu bukan... maksudku ini...”
“Akhir-akhir ini memang ada yang aneh dari kamu, Shin.”
Benar-benar, ikatan yang terjalin sejak TK itu tidak bisa disembunyikan. Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
Chitose menegakkan pinggang dengan senyum penuh kemenangan, seperti orang yang baru saja menang besar.
“Biar kuinterogasi kamu sampai tuntas, seolah-olah aku sedang menjilatmu habis.”
“Kalau bisa cukup diinterogasi saja...”
Setelah itu, aku menceritakan pada Chitose semua yang terjadi antara aku dan Shizune sejak kami bertemu. Aku tidak menyebut soal “pekerjaan papa”, tapi selain itu, aku menceritakan hampir semuanya.
“Begitu.”
“Kamu paham semua cuma dari sekali penjelasan?”
“Bagian soal awal pertemuan kalian memang agak susah kupahami, tapi intinya gadis misterius bernama Kotosaka Shizune itu datang ke kamarmu setiap hari, membantu pekerjaan rumah dan latihan ilustrasimu, kan?”
“Kalau dijelaskan lebih tepat, izin yang kuberikan itu sebenarnya lebih ke ‘sesekali dia boleh masuk ke kamarku’...”
“Kalau begitu, habis kerja hari ini, gadis itu bakal datang lagi?”
“Nggak, kurasa hari ini dia nggak akan datang. Aku juga sudah mengingatkannya.”
“Begitu ya... tapi meski begitu, aku benar-benar nggak menyangka Shin bakal terlibat dengan perempuan lagi.”
Chitose tahu tentang trauma percintaanku di masa lalu. Dia termasuk segelintir orang yang tahu riwayat cintaku yang sangat sedikit itu.
Dari dulu dia memang sering jadi tempatku curhat, jadi fakta bahwa aku sekarang terhubung dengan seorang perempuan, apalagi perempuan misterius seperti Shizune, jelas cukup mengejutkannya.
“Kamu sendiri punya perasaan khusus terhadap gadis misterius itu, Shizune?”
“Perasaan khusus... yah, kalau dibilang begitu...”
Sebenarnya memang ada. Aku merasakan kemiripan antara dirinya dan mantan pacarku di tahun pertama SMA, jadi aku merasa tidak bisa begitu saja mengabaikannya. Aku tahu itu alasan yang tidak terlalu lurus.
“Jangan-jangan kamu merasa ada bayangan mantanmu yang dari SMA tahun pertama itu pada dirinya... atau semacam itu?”
“...Kamu bisa menebak sampai sejauh itu dan agak bikin takut, tahu. Tebakanmu tepat. Tapi gadis itu dan mantanku jelas orang yang berbeda, kan?”
“Iya, mereka jelas orang yang berbeda.”
“Kalau begitu, meski mungkin sekarang masih sulit, usahakan jangan melihat mereka seolah saling tumpang tindih. Itu nggak sopan, baik buat mantanmu maupun buat Shizune.”
Shizune adalah Shizune, bukan pengganti mantanku.
Kalau aku bersikap baik padanya cuma karena “ada kemiripan”, itu sama saja memperlakukan dia sebagai pengganti mantanku.
Setelah bicara dengan Chitose, aku jadi sadar bahwa sisi buruk dalam diriku terlihat lebih jelas lagi.
“Aduh... nggak nyangka Shin mulai memelihara makhluk moe lagi.”
“Aku nggak memeliharanya. Shizune bukan anjing atau kucing.”
“Walau dia manusia, entah kenapa dia terasa seperti kucing liar yang licik buatku.”
“Kucing liar, ya...”
Kesan itu entah kenapa terasa buruk sekali. Bukan cuma Shizune sama sekali tidak mencuri apa pun, dia malah orang yang memberiku makan.
“Ah, aku jadi iri.”
“Iri?”
“Ya. Bahkan sebagai teman masa kecil, aku belum pernah masuk ke kamar Shin, tapi dia malah datang mengganggumu sejak hari pertama kalian bertemu? Mana mungkin aku nggak iri.”
“Soal itu... aku benar-benar minta maaf pada Chitose...”
“Jadi, kalian sudah sampai sejauh itu?”
“Belum!”
“Bukankah pekerjaan rumah juga termasuk seks...!?”
“Jangan memasang wajah kaget sambil ngomong begitu!”
Kalau kamu serius menanyakan itu, aku mulai meragukan pemahamanmu soal akal sehat.
“Kalau kamu menandatangani ‘kontrak istri sementara’ denganku, itu pasti termasuk, lho.”
“Jangan bahas itu lagi. Lagipula jangankan kontrak, pekerjaan rumah dasar saja kamu nggak bisa.”
Kalau cuma melihat penampilannya, orang mungkin mengira Chitose adalah perempuan sempurna yang serba bisa. Tapi sebagai orang yang mengenalnya sejak kecil, aku sangat tahu betapa payahnya dia dalam beberes, bersih-bersih, dan apalagi memasak.
“Hehehe... kalau kamu terlalu meremehkanku, kamu yang bakal repot lho.”
“Bagian mana yang membaik? Tiap kali aku masuk ke kamarmu di rumah dulu, yang kulihat cuma pakaian dan buku pelajaran berserakan.”
“Meski kelihatannya begitu, sejak mulai tinggal sendiri, kamarku sebenarnya cukup rapi kok.”
“Hebat juga. Ternyata tinggal sendiri bisa mengubah orang sejauh itu?”
“Tentu saja. Barang-barang jadi cenderung menghilang entah ke mana.”
Kembalikan rasa kagumku yang barusan.
“Walaupun aku malas membayangkannya, gimana kalau pakaianmu hilang dicuri atau semacamnya...?”
“Mana mungkin. Kamarku ada di lantai empat apartemen.”
Memang, kalau begitu pakaian yang dijemur di balkon pasti lebih aman dari pencurian.
“Yah, tadi cuma bercanda. Faktanya aku memang cukup rapi.”
“Berarti kamu memang sedikit tumbuh dewasa ya.”
“Kalau mulai kelihatan berantakan, aku langsung masukin semuanya ke kantong plastik, jadi dari luar kelihatan bersih.”
“Kenapa nggak sekalian buang saja pakaian dan buku-bukumu?”
“Hah, jangan-jangan itu sebabnya aku nggak pernah bisa menemukan apa-apa?”
“Kenapa kamu baru sadar...”
“Soalnya bersih-bersih dan rapihin barang itu merepotkan, tahu? Tapi kalau dipaksa saat malas, aku jadi nggak bisa melakukannya dengan baik, jadi dari dulu aku selalu beres-beres saat lagi mood bagus habis minum.”
“Batas toleransi alkoholmu rendah banget!”
Kalau kamu asal lempar semua barang, ya jelas kamarmu akan kelihatan bersih.
Begitu topik itu mereda, Chitose melihat sekeliling toko sambil berpikir, lalu mengganti topik.
“Meski aku nggak terlalu peduli, dari tadi benar-benar nggak ada satu pelanggan pun yang datang.”
“Iya juga, sekarang kamu bilang begitu.”
Biasanya di jam segini selalu ada pelanggan masuk meski tidak ramai.
Chitose berdiri di tengah area kasir, lalu berjinjit untuk mengamati situasi di luar.
“Eh, Shin, Shin!”
Dia melambai memanggilku, lalu menunjuk ke luar.
“Bukannya hujan deras banget di luar?”
“Hah...? Oh, iya benar.”
Entah sejak kapan, di luar ternyata sudah turun hujan deras.
Karena tidak ada pelanggan masuk dan suara hujan tertelan BGM toko, kami bahkan tidak menyadarinya sampai sekarang.
“Shin, kamu bawa payung?”
“Nggak...”
“Iya, aku juga nggak... padahal di ramalan cuaca cuma bilang mendung.”
“Yah, ramalan cuaca juga memang nggak selalu bisa dipercaya.”
“Kalau kita teriak ke langit, kira-kira hujannya bakal berhenti?”
“Itu plot anime remaja macam apa?”
Karena kami memang tidak membawa payung, tidak banyak yang bisa dilakukan. Kami cuma bisa berharap hujannya berhenti sebelum jam pulang kerja. Kalau hujan derasnya tetap lanjut, mau tidak mau kami mungkin harus membeli payung plastik, meski agak sayang.
Ting tong ting tong.
Tiba-tiba lonceng penanda pelanggan berbunyi. Pada saat yang sama, suara hujan dari luar ikut masuk ke dalam toko.
Aku buru-buru membenarkan postur tubuh, lalu berdiri tegak di balik kasir seperti pegawai teladan.
“Selamat datang. Ah, selamat datang... e-eh!?”
Aku tadinya berniat menyapa setelah Chitose, tapi saat sosok pelanggan yang masuk itu tertangkap oleh pandanganku, tanpa sadar aku mengeluarkan suara kaget.
Dia menepiskan tetes hujan dari payungnya, menggosokkan sepatu basahnya di keset, lalu berjalan lurus ke arah kasir.
Yang berdiri di depanku adalah Kotosaka Shizune, dalam keadaan basah kuyup.
“Kenapa kamu datang ke sini...?”
“Bagaimanapun juga aku ini pelanggan. Kamu harus lebih memperhatikan pilihan kata saat bicara.”
“Ah... uh, selamat datang.”
“Bagus.”
Pelanggan high-class dari mana ini?
“Aku cukup yakin tadi pagi aku bilang, ‘kalau kamu datang hari ini pun aku nggak akan membiarkanmu masuk.’ Kamu nggak ingat?”
“Tempat yang kamu maksud ‘tidak akan membiarkan masuk’ itu adalah kamar Shinsuke. Kamu belum pernah bilang ‘jangan datang ke minimarket.’”
Secara teknis dia memang tidak salah, tapi memelintir arti seperti ini juga harus ada batasnya.
“Jadi, kenapa kamu secara khusus datang ke minimarket?”
“Payung... aku pikir kamu nggak bawa, jadi aku datang.”
Shizune mengeluarkan payung lipat dari tasnya lalu memperlihatkannya padaku.
“...Uh... kamu datang ke sini cuma untuk membawakan payung?”
“Iya... dan juga, makan siang.”
Setelah itu dia mengeluarkan bento lalu meletakkannya di atas meja kasir.
“Hari ini Shinsuke bilang padaku, ‘luangkan lebih banyak waktu untuk dirimu sendiri,’ tapi bagiku membuat bekal untuk Shinsuke juga termasuk untuk diriku sendiri.”
“...Begitu ya.”
Merasa sedikit salah tingkah, aku memalingkan muka dan menggaruk pipi.
Kalau sudah sejauh ini, rasanya aku benar-benar nggak bisa lagi merusak suasana hatinya.
Aku berbisik pelan, “Terima kasih,” lalu menerima payung dan bento yang dia berikan.
“Hei, hei.”
“Ya...?”
Chitose menyentuh bahuku dengan jari lalu berbisik di telingaku.
“Ini gadis yang kamu maksud tadi, si little gloomy?”
“...Iya.”
Chitose mundur sedikit dariku, lalu mengamati seluruh tubuh Shizune dengan saksama.
“...Siapa orang kasar ini?”
Shizune menatap Chitose dengan jijik yang jelas, seolah sedang memandang sampah.
“Bukan apa-apa, maaf. Tapi memang benar ya, gaya pakaianmu mirip.”
“Mirip...?”
“Itu urusan pribadiku. Jangan dipikirkan.”
“...Begitu? Shinsuke, ini orang yang tadi pagi disebut Hirofumi itu, teman masa kecilmu?”
“Lho, kamu sudah tahu siapa aku?”
Shizune menyipitkan mata lalu mengecek name tag Chitose. Chitose sendiri menanggapi dengan senyum, lalu mengulurkan tangan melewati meja kasir.
“Aku Kujou Chitose, mahasiswa tingkat tiga dan teman masa kecil Shinsuke.”
“Tingkat dua, Kotosaka Shizune.”
Meski agak kaku, Shizune tetap memperkenalkan dirinya.
“Shinsuke, sejauh mana kamu sudah bicara tentang aku pada perempuan ini?”
“Um... soal kamu bantu pekerjaan rumahku dan latihan gambar... hal-hal seperti itu.”
“Begitu. Jadi kamu nggak menyebut soal ‘papa’.”
“Aku memang nggak—eh, kenapa kamu malah mengungkit itu sekarang!?”
“Aku memang tidak menyembunyikannya.”
Shizune menyelesaikan kalimatnya dengan nada tenang, lalu menambahkan, “Lagipula aku juga sudah tidak melakukannya lagi.”
“Papa-katsu, ya... begitu.”
Chitose tampak sedikit terkejut, lalu mengangguk-angguk berlebihan. Setelah itu, dengan suara kecil yang tidak bisa didengar Shizune, dia bergumam, “Jadi rumor itu memang benar.”
...Rumor? Maksudmu apa...?
“Pokoknya, untuk sekarang biarkan Shizune menunggu di ruang staf dulu.”
“Kenapa? Alasannya?”
“Dia capek-capek datang membawakan payung dan bekal untukmu. Masa setelah kamu mengambil barangnya, kamu langsung bilang, ‘Nah, sekarang pulang sana’? Kamu ini semacam pria yang habis pakai langsung buang, ya? Kalau soal barang yang habis dipakai lalu dibuang, kakakmu yang satu ini akan turun tangan.”
“Jangan pakai nada yang bikin salah paham begitu!”
“Dibuang setelah dipakai...? Shinsuke, kamu sudah tidur dengan perempuan ini?”
“Mana mungkin!”
“Mana mungkin ya, ohoho.”
“Jangan ribut-ribut dengan semangat mabuk begitu!”
“Baiklah, baiklah. Yang jelas, untuk sekarang biarkan dia menunggu dulu di sini. Shizune juga sampai hujan-hujanan membawakan payung buatmu.”
“Aku cuma membawakan payung untuk Shinsuke. Aku nggak membawakan untukmu, jadi jangan salah paham.”
“Oh, tsundere sekali.”
Percakapan antara dua gadis ini dipenuhi atmosfer yang agak mengkhawatirkan. Apa benar aman kalau kubiarkan begitu saja...?
“Ngomong-ngomong, Shizune, kamu datang ke sini naik apa? Hari ini kamu nggak datang naik sepeda mamachari seperti biasa, kan?”
“Hari ini aku naik kereta. Lalu dari stasiun ke sini aku jalan kaki.”
“Padahal hujan deras, kamu tetap jalan sampai ke sini. Tekadmu hebat juga.”
Meski dia bawa payung, tubuh Shizune tetap basah kuyup karena hujan deras itu.
Kenapa dia sampai sejauh ini demi aku?
“Pokoknya, hari ini aku akan membiarkanmu masuk ke kamarku. Kalau terus begini, kamu bisa masuk angin.”
“Benarkah...? Boleh? Kamu yakin?”
“Bagaimanapun juga, kamu datang membawakan payung dan juga membuatkan bekal untukku dalam cuaca seburuk ini.”
Dilihat dari keadaannya, hujan deras sekarang mungkin cuma hujan lewat. Kalau nanti sepulang kerja aku menunggu sebentar di apartemen, seharusnya sebelum kereta terakhir hujannya sudah reda.
“Ayo ke ruang staf dulu, hangatkan badan. Aku pinjami handuk toko buat kamu keringkan badan.”
Aku mempersilakan Shizune melewati belakang kasir, lalu membawanya masuk ke ruang staf.
“Nanti aku ambilkan kopi. Duduk dulu di kursi itu sambil tunggu.”
“Terima kasih. Tapi... apa nggak apa-apa membiarkan orang luar masuk?”
“Tenang saja, nggak bakal jadi masalah. Kalaupun ada yang bilang sesuatu, manajer toko kami orangnya masuk akal. Nanti kita jelaskan saja situasinya.”
“Begitu ya...”
Aku menyerahkan handuk itu pada Shizune. Dia menepuk-nepuk wajahnya pelan untuk menghapus tetesan air, lalu menutupi mulut dan hidungnya sedikit sambil menatap lurus ke mataku.
“Apakah aku... membantumu, Shinsuke?”
“Yah... iya, kurasa.”
Rasanya agak aneh mengatakan “kamu membantuku” pada teman sekelas, tapi kalau harus dijawab, memang dia sudah sangat banyak membantu... tidak, bahkan sudah lebih dari itu.
“Aku akan berusaha membuatmu lebih membutuhkanku lagi.”
“Begitu ya...”
“Iya. Rasanya menyenangkan. Soalnya aku iri.”
Chitose, yang sejak tadi diam-diam mendengarkan percakapan kami dari luar, tiba-tiba muncul di belakangku lalu meraih bahuku.
“Apa sih yang perlu diirikan dari situasi ini?”
“Tentu saja, aku iri karena bisa melihat langsung Shin bersikap lembut pada perempuan selain aku. Rasanya aku mulai mengalami kecemburuan yang tidak pantas untuk usiaku. Ah, aku benci kalian anak muda. Aku nggak mau tua.”
Padahal selisih umur kami cuma satu tahun, tapi dia ngomong macam-macam seolah dirinya nenek-nenek.
“Lagian, sekarang ada lagi satu perempuan yang mendapat perjanjian untuk masuk ke kamar Shinsuke, lho? Sebagai ketua klub fans Shinsuke, aku sampai iri setengah mati.”
“Padahal anggotanya cuma kamu sendiri, kan?”
“Bahkan setelah aku berkali-kali ditolak, Shizune malah bisa dengan santainya datang mengganggu kamarnya tanpa beban. Nggak adil banget, ya?”
Mata Chitose berbinar-binar seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada orang tuanya, sambil tetap rajin menjual dirinya sendiri.
“Singkatnya, aku juga harus mengundangmu masuk ke kamarku, ya?”
“Wah, ternyata sekarang kamu sudah bisa baca pikiran?”
“Kalau permintaanmu seterang itu, siapa yang nggak bakal paham?!”
Aku menghela napas panjang.
“Ya sudah. Kalau kamu memang mau, datang saja.”
“Serius? Boleh semudah itu?”
“Bukan masalah besar. Lagipula, aku dan Chitose sudah saling kenal sangat lama. Meski selama ini aku selalu menolak ajakanmu, kalau kamu benar-benar ingin masuk ke kamarku, aku sebenarnya akan membiarkanmu masuk biasa saja.”
“Hah? Tadi kamu bilang ‘masuk ke dalam’, ya?”
“Jangan kutip kata-kataku dengan cara aneh. Maksudku kita itu punya hubungan lama sebagai kenalan.”
“Hehe, bercanda. Jangan tegang begitu.”
Jangan bercanda pada saat seperti ini. Kamu bikin aku stres.
“...Kalau begitu, kapan kamu mau datang ke apartemenku?”
“Kalau begitu, aku akan menghormati keinginanmu... aku datang hari ini saja.”
“Wha...!?!”
Bukan cuma suaraku, tapi suara Shizune juga ikut menggema bersamaan di ruang staf.
“Tunggu dulu, itu terlalu mendadak!”
“Ya biasa saja kan? Kita semua sama-sama tinggal sendiri. Lagian, pertama kali kamu membawa Shizune ke kamarmu juga cukup mendadak, kan? Jadi menambah satu-dua orang lagi harusnya nggak ada bedanya.”
“Ada atau tidak bedanya itu yang menilai aku...”
Tapi kalau dipikir lagi, pergi dari satu orang ke dua orang di kamarku memang tidak mengubah banyak hal...
Tanpa sadar aku melirik ekspresi Shizune.
“............”
Shizune mengernyit dalam-dalam, menatap Chitose dengan pandangan tajam seperti mengancam.
“...Kalau Shinsuke merasa tidak masalah, maka aku juga tidak keberatan.”
Setelah itu, dengan sikap yang jelas-jelas tidak puas, dia menerimanya.
Apa benar aman membiarkan mereka berdua ada di kamarku pada saat yang sama? Tolonglah, jangan bikin masalah di kamarku...
☆
“Permisi.”
Begitu pintu apartemenku dibuka, Chitose langsung menerobos masuk sambil mengumumkan, “Aku yang pertama.”
“...Kamu bikin gaduh banget.”
Shizune melempar komentar dingin itu lalu masuk setelah Chitose.
“...Aku merasa sangat nggak tenang.”
Aku menutup pintu perlahan, lalu menatap kosong ke arah punggung kedua gadis itu.
Setelah selesai kerja, aku berhasil membawa Shizune dan Chitose kembali ke apartemen dalam hujan deras.
“Aku siapkan air panas dulu. Kalian berdua tunggu di ruang utama.”
Aku mengambil tiga handuk dari lemari kamar mandi, lalu menyerahkan dua di antaranya pada kedua gadis itu.
“Wah, Shinsuke baik banget.”
“Sebelum udara luar makin dingin, kalian jangan sampai masuk angin.”
Begitu menerima handuk, Chitose langsung berjalan percaya diri menuju ruang utama seperti rumah sendiri, lalu membuka pintunya lebar-lebar.
“Kamarmu luas dan bagus. Dekat kampus, dekat stasiun, dekat tempat kerja juga. Harus ada batas seberapa hebat kamar ini.”
“Kalimat itu rasanya sudah sering sekali kudengar.”
Selesai menyalakan pemanas air, aku masuk ke ruang utama.
“Sekitar dua puluh menit lagi airnya panas, jadi setelah itu kalian bisa tentukan siapa yang masuk duluan.”
“Memangnya nggak apa-apa kalau Shinsuke nggak mandi dulu?”
“Aku belakangan saja. Berkat kamu tadi, aku nggak terlalu kehujanan.”
“Jadi kamu ingin kami masuk dulu, lalu kamu menikmati sisa air mandi kami?”
“Memangnya aku kelihatan seperti penyimpang kelas berat begitu!?”
“Nggak usah khawatir, Shinsuke. Untuk sekarang kamu masih terlihat aman. Kalaupun nanti kamu benar-benar memakai air bekas mandi kami, itu masih bisa dijelaskan sebagai kepedulian lingkungan. Kamu belum akan terlihat seperti orang mesum.”
“Itu sebenarnya cukup menghina dalam arti lain, dan jelas sudah melewati batas kepedulian lingkungan...?”
Bahkan Shizune ikut menyetujui itu, membuat bahuku langsung jatuh lemas. Lalu pandanganku beralih ke pakaian yang mereka berdua kenakan.
Aku memang memakai payung lipat pinjaman dari Shizune, tapi mereka berdua tidak. Karena tadi mereka pulang di bawah satu payung yang sama, baik Shizune maupun Chitose sekarang benar-benar basah kuyup.
“Pokoknya, kita harus pikirkan dulu soal pakaian kalian...”
Dilihat dari tingkat basahnya, pakaian mereka pasti butuh waktu lama untuk kering.
“Handuk dan hair dryer bisa kupinjamkan langsung, tapi soal baju ganti... kita harus pikirkan.”
“Handuk...? Jadi kamu berencana meminjamkan handuk yang sudah menyerap aroma Shinsuke sampai ke tiap seratnya kepadaku...?”
“Memang sempat kepikiran, tapi jujur aku nggak terlalu ingin meminjamkannya pada penyimpang...”
“Wah, licik sekali. Rasanya seperti AV dengan sample image yang kualitasnya terlalu bagus, tapi isi aslinya jauh di bawah ekspektasi.”
“Kalau mau bikin perumpamaan, tolong pakai contoh yang lebih mudah dipahami.”
“Kepala tanpa ekor itu justru pas.”
Jangan punya ekspektasi terlalu tinggi cuma untuk handuk.
“Biar kupastikan dulu, kalian berdua nggak bawa pakaian ganti?”
“Aku nggak. Pakaian kerja atasan-bawahanku ya cuma yang ini.”
“Aku juga nggak bawa.”
Keduanya menggeleng menjawab pertanyaanku.
“Kalau kalian nggak keberatan, bagaimana kalau sementara pakai bajuku?”
“Baju Shinsuke...? Jadi kamu mau kami memakai pakaian yang sudah menyerap aroma Shinsuke sampai ke tiap seratnya...?”
“Memangnya Chitose berencana berjalan-jalan telanjang bulat di sini?”
“Kamu mendadak jadi ketat sekali. Yah, kalau untuk Shinsuke sih bertelanjang dada pun nggak masalah.”
“Kalau begitu aku pinjami bajuku, biar aku siapkan... jadi, Shizune bagaimana?”
“...Aku juga ingin memakai baju Shinsuke.”
“Begitu ya... kalau begitu, masalah yang tersisa tinggal underwear, ya?”
Tentu saja aku tidak mungkin punya bra atau celana dalam perempuan sebagai stok cadangan di kamarku.
Pandangan mataku tanpa sadar jatuh ke rok Shizune dan celana pendek Chitose.
“Ngomong-ngomong... meski agak susah menanyakannya, apa pakaian dalam kalian juga ikut basah?”
“Kalau bagian atas sih aman, tapi bagian bawah basah sampai level yang kalaupun sedikit kelihatan, itu juga nggak akan banyak menutupi.”
“Itu sudah lumayan gawat.”
“Aku juga begitu, terutama bagian bawah.”
Begitu ya... aku menekan pelipisku dengan tangan kanan.
“Bagaimanapun, aku jelas nggak bisa meminjamkan celana dalamku...”
“Kalau underwear Shinsuke, aku sih nggak masalah memakainya.”
Sekilas, bayangan Shizune memakai celana dalamku muncul begitu saja di kepalaku.
“Nggak... nggak, nggak, nggak, jelas itu nggak boleh.”
Aku menggeleng keras-keras untuk mengusir imajinasi itu.
“Aku juga ingin memakai underwear.”
“Underwear itu memang dipakai!”
Kalau Shizune masih bisa kumaklumi sedikit, tapi kalau Chitose benar-benar nggak mau kupinjami.
“Kalau bra, aku juga nggak keberatan kalau tanpa bra.”
“Itu juga ditolak!”
Aku ini juga laki-laki, tahu. Tolong agak waspada sedikit.
“Tapi kadang di rumah aku memang nggak pakai bra.”
“Kalau bra mungkin masih bisa dilewatkan, tapi demi kebersihan setidaknya celana dalam tetap harus dipakai.”
“Kalau begitu aku pakai terus saja yang sekarang.”
“Ah... maaf, tapi tolong atasi dulu dengan itu, ya?”
“Lain kali aku tinggal menaruh beberapa celana dalam cadangan di sini.”
“Iya, yah... um... itu agak...”
Kalau Hirofumi sampai tahu, bisa runyam sekali urusannya.
“Untuk sekarang aku berencana makan bekal yang dibuatkan Shizune buatku... kalian berdua sendiri setelah mandi mau makan sesuatu?”
“Aku nggak usah. Barusan aku sudah beli alkohol di minimarket.”
“Kamu nggak bisa menyebut alkohol sebagai makan malam.”
“Tentu saja aku beli yang lain juga. Ada kushikatsu ayam goreng, keripik kentang, dan mi instan.”
“Semuanya makanan tinggi kalori... kamu biasanya memang makan beginian?”
“Tentu saja. Aku masih dalam masa pertumbuhan, tahu.”
Chitose mengangkat kedua tangannya lalu mengangkat bagian bawah dadanya, sengaja menonjolkan dadanya.
Mungkin sekarang dia masih bisa mempertahankan bentuk tubuh berkat usia mudanya, tapi kalau dia terus makan seperti ini tiap hari, nanti bakal ada hari saat dari balik bajunya aku nggak bisa membedakan dada dan perutnya lagi.
“Sepertinya Chitose punya caranya sendiri menghadapi berat badan. Kalau kamu, Shizune?”
“Aku sudah makan di rumah, jadi nggak apa-apa.”
“Begitu. Kalau nanti kalian lapar, bilang saja. Kalau cuma roti, snack, atau frozen food, aku bisa siapkan cepat.”
Aku mengeluarkan bento dari dalam tasku lalu membukanya di meja rendah.
“Wah. Masakan rumahan Shizune kelihatannya enak banget.”
Begitu melihat isi bento itu, Chitose mengeluarkan suara campuran antara kagum dan antusias.
“Bukan sesuatu yang istimewa, cuma biasa saja.”
Shizune memalingkan muka dengan wajah sedikit memerah. Namun, pujian Chitose jelas tidak membuatnya tidak senang.
Tingkat atas dari bento dua susun itu berisi nasi putih bertabur wijen, sementara tingkat bawahnya terbagi menjadi dua: satu sisi berisi potato salad dengan black pepper, dan sisi lainnya berisi nikujaga yang wangi.
“Aku membuatnya seperti yang kita sepakati pagi ini... gimana?”
Shizune melirik ke arahku, mengamati reaksiku.
“Iya, kelihatannya enak banget. Terima kasih.”
Begitu aku mengucapkan terima kasih, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Shinsuke benar-benar luar biasa ya. Bisa tiap hari dimasakin gadis secute ini.”
“Aku nggak pernah minta dia memasak buatku... boleh aku mulai makan?”
Setelah memastikan Shizune mengangguk, aku merapatkan kedua tangan dan berkata, “Itadakimasu.”
Aku mengambil sumpit yang sudah kusiapkan sendiri, lalu mencicipi nikujaganya.
“Mm... ini enak banget.”
“Syukurlah.”
Begitu mendengar komentarku, Shizune menghela napas lega.
“Aku boleh minta sedikit nggak?”
“Nggak.”
“Pfft, Shizune pelit.”
“Itu tergantung keputusan Shinsuke.”
“Iya, iya... yah, kalau cuma satu gigitan sih...”
“Oh, kalau begitu, aku ambil ya!”
Tanpa ragu, Chitose langsung mengambil sepotong besar daging babi dari nikujaga itu dengan tangan, lalu memasukkannya ke mulut.
“Mmm... rasa begini nggak bisa dinikmati tanpa sake.”
Chitose pelan-pelan mengeluarkan kaleng sake dari kantong plastik minimarket, membuka tab-nya, lalu meneguk sake dan nikujaga itu bersamaan.
“Mmm... minum habis kerja memang menenangkan... Shinsuke, Shinsuke, boleh satu gigitan lagi? Kasih aku hadiah sepotong daging lagi dong.”
Sambil memohon begitu, Chitose menempelkan dadanya yang besar ke tubuhku.
Baru seteguk saja wajahmu sudah merah...?
“Bukannya tadi sudah kubilang cuma satu gigitan? Ngomong-ngomong, kamu mabuk cuma gara-gara seteguk itu...?”
“Aku baru seteguk, tenang aja.”
“Nikujaga bukan makanan yang diminum seteguk! Serius deh, makan saja makanan yang kamu beli sendiri!”
Tapi setelah kupikir-pikir lagi, bahkan kalau dia belum mabuk sekalipun, cara bicaranya memang begini. Agak sulit menilai kapan dia benar-benar mabuk atau tidak.
“...Tapi ya, ini memang benar-benar enak.”
Bukan cuma nikujaganya, potato salad-nya pun enak sampai aku tak bisa mengeluh. Sepertinya dia bahkan memperhitungkan nilai gizinya. Dibanding masak sendiri, jelas jauh lebih enak kalau dimasakkan oleh Shizune.
“Shizune bisa mengurus sebagian besar pekerjaan rumah, jadi kalau nanti tinggal sendiri, hidupmu pasti nggak akan terlalu sulit.”
“Begitu, ya? Tapi kalau aku tinggal sendiri nanti, mungkin aku malah nggak akan masak lagi. Sekarang aku masih bisa bertahan karena memasak untuk orang lain.”
“Yah, memang benar sih, kalau cuma buat diri sendiri kadang jadi asal-asalan.”
“Kurasa aku lebih cocok kalau tinggal bersama atau sekamar dengan seseorang.”
“Melihat caramu sekarang, iya, sepertinya begitu.”
Kemampuan untuk bergerak demi orang lain memang salah satu kelebihan Shizune.
Bahkan hari ini pun, meski tujuannya agar bisa “datang ke kamarku”, dia tetap sampai rela hujan-hujanan membawakan payung untukku.
Kalau Shizune dibiarkan sendiri, mungkin dia akan melangkah ke arah yang sama seperti ayahnya. Setidaknya, kalau dia menjalin hubungan yang dekat dengan seseorang, aku tak perlu terlalu khawatir.
“Waktu mulai tinggal sendiri, kamu nggak pernah kepikiran buat pulang ke rumah?”
“Baru sampai sini pun aku sudah langsung kepikiran soal rumah. Awalnya aku bahkan nggak bisa mengurus pekerjaan rumah dengan baik dan sama sekali nggak punya motivasi... tapi setelah mulai hidup sendiri, aku jadi sadar betapa berharganya orang tuaku. Rasanya seperti, ‘Ah, pekerjaan rumah ternyata capek banget.’”
“Kalau dengan berpikir seperti itu kamu bisa menghargai orang tuamu, berarti orang tuamu memang luar biasa.”
“Kalau kamu nanti tinggal sendiri, mungkin kamu juga akan berpikir begitu... ah, maaf.”
Ucapan itu keluar begitu saja, lalu mendadak profil wajah Shizune masuk ke dalam pandanganku dan aku buru-buru menutup mulut.
Aku ingin meninggalkan rumah. Aku ingin hidup sendiri. Aku ingin mandiri. Banyak orang berpikir begitu, tapi yang benar-benar mengambil tindakan tetaplah minoritas, bahkan di kalangan mahasiswa.
Tekad Shizune untuk meninggalkan rumahnya jelas nyata. Karena itulah dia sekarang ada di sini. Meskipun aku belum tahu apa-apa tentang latar belakang besar yang dia sembunyikan, bukan posisiku untuk bicara sembarangan.
Namun, setelah hening sejenak, Shizune menjawab ucapanku tadi.
“Aku mungkin... tidak akan pernah menanyakan pertanyaan seperti itu. Bahkan kalau aku harus menanggung utang besar demi bisa pergi dari rumah itu, bahkan kalau aku dilempar ke penjara, rasanya itu masih lebih baik daripada terus tinggal di rumah itu.”
Walau cuma sekejap, di mataku kedua mata Shizune tampak sepenuhnya dipenuhi kegelapan.
“Yah... itu cukup ekstrem.”
“Aku cuma ingin hidup bebas, jadi aku butuh uang dalam jumlah tertentu. Kalau aku masuk penjara, aku justru akan makin jauh dari kebebasan. Jadi pada akhirnya cara terbaik tetap menabung uang, lalu pergi dari rumah.”
—Air mandi sudah siap.
Pada saat itu, suara pemanas air terdengar menggema ke ruang utama.
“Sepertinya air mandinya sudah siap.”
“...Iya. Jadi, siapa yang masuk duluan?”
“Ah, Shizune, bagaimana kalau kamu masuk bareng aku?”
“Kenapa aku harus masuk bareng kamu...”
“Soalnya, penting untuk mengikuti budaya pemandian Jepang.”
“Ini bukan pemandian umum... ah, tunggu—”
Chitose menarik lengan Shizune dengan paksa lalu menyeretnya ke kamar mandi.
Meski itu jelas mengabaikan keinginan Shizune, mungkin begitulah caranya Chitose menyatakan bahwa dia ingin sedikit lebih akrab dengannya.
Aku hanya melihat punggung mereka berdua dalam diam, lalu melanjutkan makanku.
“...Aku kenyang.”
Setelah menghabiskan isi bento, aku merapatkan tangan dan menundukkan kepala.
Pandangan mataku beralih ke jam di dinding. Sepertinya sudah sekitar dua puluh menit berlalu sejak Shizune dan Chitose masuk kamar mandi.
“Aku cuci bentonya dulu.”
Aku berdiri dari bantal duduk lalu membawa kotak makan itu ke dapur.
Karena belakangan ini pekerjaan rumah hampir semuanya kutinggalkan pada Shizune, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mencuci piring sendiri.
Berdiri di depan wastafel, pertama-tama aku membersihkan sisa kotoran pada bento dengan tisu dapur, lalu menggunakan spons berbusa untuk mencucinya perlahan.
“Pantas saja kamu bisa hidup sendiri. Kamu ternyata cukup terampil mengurus pekerjaan rumah.”
Pintu berderit terbuka, dan bersamaan dengan itu suara datang dari belakangku.
“...Kupikir siapa. Ternyata kamu.”
“Kalau yang muncul bukan aku atau Shizune, itu baru masalah besar.”
Aku menoleh dan melihat Chitose, dengan rambut masih basah, mengintip dari balik pintu.
“Shizune mana? Bukannya kalian tadi masuk bareng?”
“Aku cuma mandi cepat, jadi keluar duluan. Shizune masih berendam... oh iya, boleh pinjam hair dryer?”
“Boleh... eh, jangan keluar lagi!”
“Hah? Kamu mengurungku?”
“Bukan mengurung! Setidaknya pakai baju dulu baru keluar!”
“Yah, tapi aku juga nggak tahu baju yang Shin siapkan buatku ditaruh di mana.”
Sial, keteledor juga. Aku tadi memang bilang akan meminjamkan baju, tapi lupa menyiapkannya di kamar mandi.
“Tunggu saja yang manis, nanti aku siapkan!”
“Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku nggak keberatan. Kita ngobrol saja dulu sampai kamu selesai cuci.”
Chitose, hanya berbalut handuk mandi dan membawa hair dryer, masuk ke ruang utama.
“Jangan malah sengaja keluar ke sini... di kamar mandi juga ada colokan, kan?”
“Kamu gampang sekali dibaca, langsung memalingkan pandangan dariku. Jangan-jangan sekarang kamu mulai sadar sebagai laki-laki?”
“Bukan soal sadar atau nggak. Siapa pun pasti akan mengalihkan pandangan kalau melihat perempuan cuma pakai handuk.”
“Kalau cowok biasa, kurasa sekarang dia pasti bakal menatap penuh minat. Apa aku memang kurang pesona kewanitaannya?”
Pesona kewanitaanmu justru berlebihan.
Karena dadanya yang besar, handuk mandi yang melilit tubuh Chitose jadi membentuk tonjolan tiga dimensi, dan bagian atas belahan dadanya yang tak sepenuhnya tertutup handuk pun kelihatan. Jujur saja, aku bingung harus melihat ke mana.
“Tapi melihat wajahmu semerah itu, kurasa aku masih punya pesona juga.”
“Kamu ini, ke cowok lain juga bisa tampil setenang ini?”
“Nggak, nggak. Kalau ke cewek sih mungkin masih bisa, tapi kalau lawan jenis, aku cuma akan melakukannya di depan orang yang benar-benar kupercaya. Untuk sekarang, ya cuma Ayah sama kamu, kan?”
“Paman mungkin iya, tapi aku ini cuma teman masa kecil tanpa hubungan darah sama sekali, kan?”
“Jangan bilang seolah-olah kamu orang luar. Kita ini teman masa kecil yang lebih dekat daripada kakak-adik biasa, kan? Jadi nggak jauh beda sama saudara sungguhan.”
Chitose berdiri di dekat sudut dapur yang menyatu dengan kulkas, lalu mengambil satu kaleng sake Jepang.
“Kapan kamu mulai seenaknya buka kulkasku?”
“Sebelum mandi tadi. Oh iya, boleh pinjam kulkas sebentar?”
“Kamu ini tipe bertindak dulu, minta izin belakangan ya?”
Yah, kalau cuma sebatas itu sih bukan masalah besar.
“Tadi kamu sudah minum, kan? Nggak apa-apa? Bukannya sake itu kadar alkoholnya lumayan tinggi?”
“Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Meski kelihatannya begitu, aku lumayan tahan minum kok. Aku nggak punya kenangan pernah benar-benar mabuk.”
Dengan percaya diri, dia membuka kaleng sake itu lalu menyesapnya.
“Kesempatan langka, mau minum bareng? Aku sengaja mendinginkan lebih banyak.”
“Aku lewat. Aku masih sembilan belas tahun.”
“Kalau begitu nanti setelah kamu dua puluh, ayo minum bareng.”
“Boleh, tapi Chitose yang traktir.”
“Yah, bukan masalah sih, tapi mungkin dalam arti tertentu ada biaya lain juga.”
“Maksudnya?”
“Aku kepikiran kamu bisa membayarnya dengan tubuhmu.”
“Aku nggak mau diculik olehmu!”
“Nanti aku bikin kamu mabuk lalu kubawa paksa ke hotel.”
Biasanya dalam situasi seperti ini perannya justru kebalik, kan?
“Ngomong-ngomong, Shin, kamu ternyata cukup populer ya.”
“Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?”
“Yah, cuma dapat perasaan begitu saja.”
“...?”
Chitose menatap wajahku lalu tersenyum. Namun entah kenapa aku merasa senyum itu bukan senyum tulus, melainkan senyum yang dipaksakan dan terasa agak janggal.
“Menurut tebakan kakakku ini, gadis itu... Shizune mungkin punya perasaan khusus padamu.”
“...Nggak, itu bukan berarti dia suka padaku.”
“Kenapa kamu begitu yakin?”
“...Yah, kemungkinan besar dia cuma sedang mencari seseorang untuk diandalkan. Kebetulan aku ada di sana, dan semua kondisinya pas, jadi dia mengembangkan rasa nyaman atau niat baik padaku.”
Kotosaka Shizune, gadis pendiam dan tertutup itu, memang jelas punya lebih dari sedikit rasa suka dalam arti umum terhadapku.
Tapi itu bukanlah “suka” dalam makna konvensional seperti dalam hubungan romantis. Pada dasarnya itu sangat berbeda.
Dia cuma sedang mencari seseorang untuk diandalkan dan karena ingin punya tempat bergantung, dia jadi melekat padaku.
Semua gadis gloomy yang pernah terlibat denganku di masa lalu selalu begitu.
Aku tidak tahu apakah ini karena kepribadianku yang mudah membuat orang nyaman untuk curhat, tapi anehnya aku cukup sering berada dalam posisi di mana gadis-gadis seperti itu datang mencurahkan masalah mereka kepadaku. Selain tiga orang yang benar-benar pernah berpacaran denganku, ada juga beberapa kesempatan lain di mana aku menerima pengakuan cinta setelah memberi nasihat atas masalah mereka, meski akhirnya tak berkembang jadi hubungan.
Tapi mereka tidak sungguh-sungguh mempedulikanku dalam arti yang sebenarnya.
Mereka cuma menemukan seseorang yang mau mendengarkan masalah mereka dan karena alasan sesederhana itulah, mereka salah mengira itu sebagai rasa suka.
“Kamu memang keras kepala seperti biasa. Nggak ada yang berubah, dan itu justru membuatku lega.”
“Padahal aku benar-benar nggak mau lagi terlibat dengan gadis gloomy...”
“Yah, anak-anak tipe begitu memang sempat membuatmu cukup menderita.”
Chitose mengangguk seolah sedang mengenang sesuatu, lalu tersenyum pahit.
“Tapi kamu tetap mengulurkan tangan pada Shizune atas kehendakmu sendiri... Kenapa sih kamu ini orangnya terlalu baik, Shin?”
Setelah menyesap sake-nya, Chitose mendongak ke langit-langit.
“Bukan karena aku baik. Seperti yang tadi kukatakan waktu di tempat kerja, cuma karena Shizune sedikit mengingatkanku pada mantanku, jadi aku nggak bisa mengabaikannya... Kalau yang datang adalah gadis gloomy lain, aku pasti nggak akan melakukan semua ini... setidaknya, begitu menurutku...”
“Kalau secara spesifik, bagian mananya yang mirip? Gaya pakaiannya memang sedikit mengingatkan pada mantanmu, tapi wajah maupun kepribadian mereka nggak terlalu mirip.”
“Bukan cuma gaya pakaiannya. Ada masalah lain yang sedang dihadapi Shizune juga... aku belum menggali terlalu dalam, tapi sepertinya dia punya masalah yang berhubungan dengan keluarganya.”
“Masalah keluarga... begitu. Memang, mantanmu dulu juga punya latar yang mirip... jadi karena itulah kamu bersimpati pada Shizune dan bersikap lembut padanya, ya?”
“Walaupun aku nggak berniat secara sadar bersikap lembut... memang, aku merasa bersimpati padanya.”
“Kamu mungkin nggak sadar, tapi kamu itu memang cukup lembut. Tapi kalau kamu terlalu lembut pada perempuan, mereka bisa salah mengira kamu terlalu peduli pada mereka, jadi hati-hati, ya?”
“Nasihat itu sudah beberapa kali juga kamu berikan padaku...”
“Sikapmu yang nggak tegas itu praktis sudah setara kejahatan. Shizune juga termasuk salah satu tipe yang akan jatuh kalau dibaiki saat sedang berada dalam kegelapan.”
“Iya, iya.”
Kurasa hanya kamu satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti kolam tempat orang jatuh.
Chitose menghabiskan sisa sake dalam sekali teguk, lalu menghembuskan napas, “Haaah...”
“Jadi, menurutmu ada kemungkinan kamu benar-benar akan menumbuhkan perasaan pada Shizune di masa depan?”
“...Sulit bilangnya.”
Sampai sekarang pun, aku masih belum sepenuhnya nyaman dengan perempuan yang punya aura landmine-kei, dan rasa tidak enakku terhadap gadis-gadis gloomy juga belum hilang.
Namun anehnya, rasa penolakanku terhadap emosi rapuh Shizune perlahan mulai memudar. Kehidupan sehari-hariku sedikit demi sedikit mulai dipenuhi oleh “setengah hidup bersama” kami.
Aku tak tahu bagaimana perasaanku akan berubah ke depannya. Tapi meski begitu—
“Terlepas dari soal romantis atau tidaknya... yang kupikirkan sekarang justru seberapa lama kehidupan seperti ini akan terus berlanjut.”
“Iya, pola pikirmu memang lumayan rumit ya.”
Chitose kembali membuka kulkas lalu mengambil satu kaleng sake lagi. Setelah menyesapnya, dia mengusap tetesan alkohol di sudut bibirnya dengan ibu jari.
“...Shin itu terlalu baik. Supaya kamu nggak terluka lagi... sepertinya aku juga harus diam-diam melakukan sedikit usaha.”
“...? Usaha macam apa?”
“Maksudku, kalau nanti kamu butuh seseorang untuk diajak bicara, aku akan selalu ada buatmu.”
“Iya, kalau waktunya tiba, aku akan mengandalkanmu.”
Sikap ceria Chitose memang sudah berkali-kali menyelamatkanku.
Walau biasanya dia selalu bertingkah konyol, begitu aku benar-benar punya masalah, dia selalu datang dan mendengarkanku. Karena itulah aku mengaguminya seperti kakak perempuan sungguhan.
“Haaah... baiklah, cucian bentonya selesai. Chitose, jangan cuma minum, cepat keringkan rambutmu sebelum Shizune keluar.”
“Tunggu... tiba-tiba aku merasa nggak enak badan... ugh.”
“Kamu minum sake seagresif itu, ya wajar saja... Shizune nanti juga butuh hair dryer. Kalau kamu nggak cepat—”
“Eh, tunggu dulu, Shin—”
Suara Chitose yang berusaha menghentikanku terdengar dari belakang.
Namun karena aku bergerak terlalu buru-buru, kakiku tidak sempat berhenti.
Dan saat itulah aku menyadari satu hal yang lupa kulakukan.
“Sial, aku benar-benar lupa...!”
“Lupa? Apa?”
“Kamu juga lupa!? Baju! Baju buat Chitose dan Shizune!”
Rasa cemas mendadak menyerang, sampai suaraku jadi tanpa sengaja terdengar kasar.
Aku terlalu larut dalam obrolan sampai lupa bahwa Chitose sejak tadi duduk di sana nyaris tanpa pakaian.
Aku buru-buru berlari ke lemari, mengambil dua set jersey dan dua kaus, lalu bergegas ke arah kamar mandi.
“Ah, tunggu, Shin—”
Suara Chitose yang berusaha memanggilku lagi terdengar di telingaku.
Tapi karena aku terlalu panik, laju tubuhku tak bisa lagi kuhentikan.
Dan saat itulah, aku membuat kesalahan lain.
Tanpa memastikan apakah Shizune masih di dalam bak mandi atau tidak, aku langsung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk.
“...Ah.”
Suara itu bukan datang dari Chitose, dan juga bukan dari diriku—itu suara Shizune.
Pikiranku membeku total, sampai aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Begitu pintu terbuka, hal pertama yang kulihat adalah tubuh telanjang Shizune.
Terlalu banyak informasi yang masuk sekaligus, termasuk detail tubuhnya, dan semuanya terpatri begitu cepat di kepalaku.
Dalam beberapa detik yang terasa tenang itu, bayangan tubuh telanjang Shizune memenuhi seluruh pikiranku.
“...”
Shizune tetap diam, hanya menatap lurus ke arahku dengan mata jernihnya.
Rasa penyesalan langsung menyerbu seperti ombak, dan keringat dingin bercucuran di dahiku.
Wajar kalau dia marah besar. Dalam situasi seperti ini, memukul atau menendangku pun akan sangat masuk akal. Kalaupun dia melaporkanku ke polisi, aku juga tidak akan bisa protes.
“Aku minta maaf, sungguh... maaf banget!”
Hampir menangis, aku terus-menerus meminta maaf sejadi-jadinya.
“...Kamu nggak perlu minta maaf. Nggak apa-apa.”
Di luar dugaanku, Shizune malah memaafkanku dengan nada suaranya yang biasa dan tenang.
“Kamu mungkin memang nggak sengaja... lagi pula, kalau yang melihat itu kamu, Shin, bahkan kalau kamu melihatku...”
Shizune berkata dengan canggung, seakan menelan sendiri perasaannya.
Aku menghela napas lega, lalu meletakkan jersey dan kaus yang kubawa di lantai.
“Kalau begitu aku... taruh ini di sini buat kamu pakai...”
Aku memalingkan wajah, berusaha berpura-pura tenang, lalu nyaris menabrak pintu saat ingin kabur dari sana—tepat di saat itu juga.
Suara erangan dari belakang membuat seluruh tubuhku menegang.
“O-oi... Chitose, kamu nggak enak badan?”
“Aku tadi... berusaha menghentikanmu... tapi aku... buru-buru... terus alkoholnya naik...”
Chitose, yang mual karena bergerak terlalu mendadak, meraih bahuku erat-erat seperti orang yang sedang kehilangan pegangan.
Nap asnya menjadi berat. Lalu pipinya menggembung dengan suara bleurgh.
“...Ughhhhh.”
Chitose muntah di lorong kamar orang lain.
Pada titik ini, aku mulai menyesal membawanya ke kamar.
Dia bilang dia nggak pernah punya ingatan gagal menahan mabuk, tapi kemungkinan besar itu karena semua ingatan itu ikut hanyut bersama mabuknya...
“Rasa itu... tadi sudah kebilas, kan?”
“Iya, nggak ada sama sekali.”
Shizune, yang sudah mengenakan jersey pinjamanku, mengendus-endus area perutku lalu mengacungkan jempol.
Setelah tubuhku disiram muntahan Chitose, aku langsung lari ke kamar mandi dan mandi seakan ingin mengelupas seluruh kulitku.
Aku memang nggak kehujanan, tapi sama sekali nggak menyangka malah akan basah oleh muntah.
“Ngomong-ngomong, terima kasih sudah membantu membereskan semuanya. Kamu benar-benar menolong.”
“Nggak apa-apa. Meski rasanya hidungku mau tumbuh sayap lalu terbang saja.”
“...Sepertinya kamu benar-benar nggak nyaman.”
Saat aku mandi, rupanya Shizune sudah membereskan muntahan itu. Ketika aku selesai berganti piyama dan membuka pintu kamar mandi, lorong itu sudah kembali rapi seperti semula.
Nanti aku benar-benar harus membuat Chitose minta maaf baik-baik pada Shizune dan berterima kasih dengan benar.
“...Ngomong-ngomong, aku agak susah membiasakan diri.”
“Membiasakan diri dengan apa?”
“Ah... maksudku, dengan bajunya.”
Sampai sekarang aku cuma pernah melihat Shizune dalam seragam sailor atau pakaian fashion nyentriknya. Karena itu, walaupun sekarang dia cuma mengenakan jersey pinjamanku, aku tetap merasakan kejanggalan yang sangat kuat.
Bukan berarti tidak cocok. Justru wajah cantiknya membuat even jersey biasa yang agak kebesaran pun terlihat manis di tubuhnya.
Tapi tetap saja, aku merasa ada sesuatu yang janggal, mungkin karena kesan fashion nyentriknya selama ini sudah terlalu kuat tertanam di kepalaku.
Tak peduli berapa lama aku menatap Shizune dalam jersey, rasanya aku tetap tidak akan terbiasa.
“...Shin, kamu menatap terus.”
“Ah... maaf...”
Aku buru-buru mengalihkan pandangan dari Shizune.
“Aku sekarang nggak pakai makeup... kalau ditatap segitu intens, aku jadi malu...”
Saat kulirik ke samping, Shizune sedang memainkan ujung-ujung jarinya, wajahnya memerah, dan cara bicaranya terdengar sedikit terbata.
Karena terlalu terganggu oleh kejanggalan penampilannya dalam jersey, tadi aku gagal menyadari bahwa hari ini adalah pertama kalinya aku melihat Shizune tanpa makeup.
Rambut putihnya yang biasanya diikat half-up ponytail sekarang dibiarkan terurai, baru saja dikeringkan setelah mandi. Dari penampilannya sekarang, aku bisa sedikit membayangkan seperti apa dirinya saat masih tinggal di rumah dulu.
Padahal dia sudah sangat manis bahkan tanpa makeup—apakah dia tetap tidak suka dilihat orang dalam keadaan seperti ini? Benar-benar, hati perempuan memang sulit dipahami.
“Oi, Shin, lupakan dulu soal baju dan semacamnya, nggak apa-apa membiarkan orang itu tergeletak di lorong begitu?”
Sambil menunjuk senpai kami yang kini pingsan terbaring di lorong, Shizune bertanya padaku.
“Membiarkannya sih nggak apa-apa, tapi kalau dia sampai ketiduran di sini itu justru merepotkan.”
Aku jongkok di samping Chitose lalu menepuk pipinya perlahan.
“Hmm... apa ini sudah pagi?”
“Masih malam. Jangan tidur di sini, setidaknya ayo pindah ke tempat tidur.”
Chitose membuka mata dan melihat sekeliling dengan tatapan anak kecil yang tersesat.
“Hah...? Kapan aku ganti baju?”
“Shizune yang bantu menggantikan bajumu waktu kamu terbaring tadi.”
“Hah? Terus kenapa Shin juga ganti baju...?”
“Karena kamu muntah padaku...”
“Aku sama sekali nggak punya ingatan soal itu.”
“Mulai sekarang jangan minum lagi...”
“Ugh... aduh, kepalaku sakit...”
Dengan tangan kanannya menekan kepala, Chitose terlihat benar-benar nggak enak badan sambil memejamkan mata.
“Sandarkan tubuhmu ke bahuku, kita pindah ke tempat tidur.”
“Aku maunya digendong ala putri, Onii-chan.”
“Nggak, itu terasa berat sekali.”
“Kamu kasar pada seorang nona. Berat badanku cuma seberat tiga buah beri merah, tahu?”
“Perumpamaan dongeng dari mana itu...”
“Nggak, nggak, aku maunya princess carry!”
Sambil merengek seperti anak kecil, Chitose mengayun-ayunkan siku dan lututnya sembarangan.
“Ah, ampun! Iya, iya, aku paham, jadi berhenti teriak!”
Aku mengangkat tubuh Chitose, lalu membawanya perlahan ke tempat tidur.
“Wah, meski badanku rasanya nggak enak, suasana hatiku malah luar biasa. Jarang ada kesempatan kayak gini, jadi panggil aku ‘Putri’ dong, Pangeran Kuda Putih.”
“Kalau begitu, Putri Muntah.”
Kelihatannya tenaganya masih cukup banyak untuk bikin keributan.
Setelah aku nyaris melemparkan Chitose ke atas tempat tidur, dia malah menyeringai lebar.
“Jangan tiba-tiba ketawa, menjijikkan.”
“Kamu nggak seru. Begitu rebahan di tempat tidur, aku jadi teringat masa lalu.”
Aku memiringkan kepala. “Masa lalu yang mana?” tanyaku pada Chitose.
“Waktu SD, kamu kan dulu suka menyembunyikan buku-buku mesum di bawah tempat tidur.”
“Aku nggak pernah menyembunyikan buku mesum. Itu cuma manga anak cowok yang agak berani sedikit.”
Chitose memegang sudut ranjang lalu menjulurkan leher untuk mengintip ke bawahnya.
“Aneh. Jadi sekarang kamu sudah nggak menyembunyikannya di bawah tempat tidur?”
“Yah, sekarang aku tinggal sendiri, jadi nggak ada alasan lagi menaruhnya di sana.”
“Oh. Jadi kamarmu sekarang sudah dihias dengan buku-buku mesum secara elegan?”
“Seperti yang kamu lihat, sama sekali nggak ada dekorasi seperti itu. Lagian sekarang zamannya sudah ada versi digital. Kalau pun aku punya buku-buku begituan, ya cuma ada di ponselku.”
Sambil memberi tahu Chitose bahwa tidak ada buku semacam itu di kamarku, diam-diam aku melirik ke arah Shizune.
Tadi pagi, Hirofumi sudah memberi tahu Shizune soal tempatku menyimpan doujinshi mesum.
Karena isi mereka terlalu berbahaya, aku jelas tak boleh membiarkan Chitose menemukannya. Kalau dia tahu, nanti waktu kami jaga shift bareng, itu pasti akan dia jadikan bahan buat menggodaku terus.
“...Nona Shizune?”
Begitu menyadari tatapanku, Shizune tiba-tiba memalingkan mata. Lalu dia berjalan lurus ke meja kerja dan mengulurkan tangan ke laci tempatku menyimpan bahan ilustrasi—tempat persembunyian doujinshi itu.
“Nona Shizune!?”
“Ya ampun, ya ampun, apa sekarang kamu menyimpannya di sini?”
Chitose turun dari tempat tidur dengan langkah limbung lalu mendekati Shizune. Pada saat yang hampir bersamaan, di sudut mataku kulihat Shizune berhasil mengeluarkan sebuah doujinshi dari dalam laci.
Secara refleks aku langsung menerjang, merebut buku itu dari tangan Shizune, lalu karena momentum yang keburu besar, aku tanpa sadar mengayunkannya lurus ke wajah Chitose.
“Ah-choo!”
Sampul buku bergambar gadis berseragam minimarket itu melayang deras di udara.
Chitose yang kena hantam langsung di wajah oleh doujinshi itu mengeluarkan suara konyol, lalu oleng ke belakang. Dia mundur beberapa langkah, tersandung meja rendah, lalu jatuh terlentang ke atas tempat tidur.
“Dia mati?”
“Belum, untuk saat ini.”
Aku mengambil doujinshi itu kembali, memastikan Chitose baik-baik saja, lalu menoleh ke Shizune.
“Kenapa kamu justru mengeluarkan doujinshi pada saat seperti ini?”
“Aku cuma... sempat terpikir sesuatu yang jahil.”
“Kalau cuma bilang ‘jahil’, itu nggak otomatis jadi boleh...”
“...Karena aku benar-benar marah.”
Membelakangi aku, Shizune mengungkapkan ketidaksenangannya.
Aku sendiri bingung apa yang sudah kulakukan sampai membuatnya marah, tapi jujur saja aku tidak tahu. Dan sekalipun kutanya, rasanya Shizune juga tidak akan menjawab. Jadi aku pun menyerah memikirkannya.
Setelah mengembalikan doujinshi itu ke laci, aku duduk di kursi depan meja kerja, mengambil bahan-bahan ilustrasiku, lalu mulai membolak-baliknya asal.
“Sudah malam begini, kamu masih mau latihan ilustrasi?”
Shizune berbalik dan mengajakku bicara.
“Iya. Latihan setelah makan malam sudah jadi bagian dari rutinitasku.”
“Kamu benar-benar hebat, Shinsuke. Sudah sesibuk itu tapi tetap berusaha keras.”
“Karena aku suka melakukannya, aku nggak menganggapnya sebagai usaha keras.”
Aku menyalakan komputer, membuka software gambar, lalu mengetuk-ngetukkan pen tablet ke layar LCD.
Di tengah layar muncul kanvas kosong, di sisi kiri ada menu berbagai jenis brush seperti pensil, G-pen, airbrush, dan lain-lain, sementara di sisi kanan ada layer-layer untuk menumpuk gambar.
“Hari ini kamu mau menggambar apa?”
“Aku kepikiran mau latihan memberi gerak pada karakter. Bukankah kemarin kamu sempat menggambar ilustrasi karakter? Aku mau coba menggambar karakter itu dalam pose berlari.”
“Kalau begitu, pertama-tama lebih baik kamu tentukan pusat berat tubuhnya dulu. Posisi kaki menyentuh tanah, cara persendian menekuk, lalu tubuh bagian atas juga akan mengikuti gerak kaki, sehingga rasa dinamisnya muncul—”
Shizune dengan cepat memberi contoh alur gambar sederhana, lalu aku menjadikannya referensi sambil mulai menggambar. Dalam proses itu dia beberapa kali memberi saran di berbagai titik, dan aku akan memasukkan saran itu ke dalam latihan gambarku. Itulah rutinitas harian kami akhir-akhir ini.
Hal-hal yang dulu kupecahkan sendiri dengan mencari-cari dan mencoba satu per satu, kini jadi jauh lebih efisien berkat berlatih bersama Shizune.
“Shizune, kamu benar-benar guru yang bagus.”
“Begitukah?”
“Di mataku, kamu sudah seperti guru, Nona Shizune.”
“Jangan begitu, itu kedengarannya aneh.”
Sebelumnya, Shizune memang pernah bilang padaku bahwa tujuan awalnya masuk universitas adalah untuk menjadi guru SD.
Padahal nilainya bagus dan kredit kuliahnya juga aman, jadi menurutku cukup sayang kalau dia menyerah begitu cepat.
“Boleh aku tanya, kenapa kamu menyerah untuk jadi guru SD?”
“Bukan alasan yang besar. Seperti yang tadi kubilang, cuma karena kurasa itu memang tidak cocok untukku.”
“Tidak cocok...”
“Pada titik ini, aku sudah tidak punya mentalitas untuk sungguh-sungguh memikirkan masa depan. Lagipula, soal cocok atau tidak cocok itu juga bukan sesuatu yang bisa kuhindari.”
Shizune menghentikan gerak tangannya, seolah sedang merangkum pikirannya yang berserakan, lalu berbicara pelan.
“Tugas guru SD bukan cuma mengajar pelajaran. Aku juga harus menghadapi masalah yang dibawa setiap anak. Tapi kalau aku sendiri bahkan tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri... aku nggak akan mampu membangun hubungan dekat dengan anak-anak.”
Memang benar. Menjadi guru bukan cuma soal berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi, tapi juga soal menjaga kondisi mental anak-anak.
Setiap anak punya banyak masalah dan kesulitannya sendiri. Kadang ada hal-hal yang menuntut kita menggali jauh, seperti bullying, bolos sekolah, masalah keluarga, dan lain-lain, dan seorang guru tak bisa menghindar untuk berhadapan dengan itu.
Kalau targetnya anak-anak yang secara emosi masih sensitif, cara-cara biasa saja sering tidak cukup.
Mungkin memang benar itu bukan pekerjaan yang bisa dijalani hanya karena pandai mengajar atau karena suka anak-anak. Kalau Shizune sendiri merasa dia tidak cocok, mungkin memang benar begitu.
“Tapi, Shizune, kamu dulu memang ingin jadi guru, kan?”
Meski begitu, setelah susah payah sampai ke universitas dan berada di tempat di mana mimpinya bisa terwujud, rasanya tetap terlalu sayang kalau dia menyerah hanya karena soal kecocokan.
“Aku nggak tahu alasan awalmu ingin jadi guru, dan aku juga nggak terlalu paham soal masalah kecocokan itu. Menurutku hal-hal seperti itu bukanlah alasan yang benar-benar menentukan. Kalau memang ingin melakukan sesuatu, bukankah sebaiknya dicoba dulu?”
Aku menggeser sedikit kursiku lalu menatap ilustrasi Shizune yang tampil di layar komputer.
“Sama seperti aku yang memang cuma suka menggambar, belum tentu aku benar-benar cocok jadi ilustrator. Tapi karena aku ingin menjadikannya tujuan hidup, makanya aku tetap berlatih seperti ini... ada banyak sekali momen di mana aku hampir berpikir, ‘Karena aku sama sekali nggak berkembang, mending menyerah saja.’”
“Bahkan Shinsuke juga punya pikiran seperti itu.”
“Kamu terlalu memujiku. Kalau dilihat secara luas, ada terlalu banyak orang di dunia yang lebih hebat dariku. Dan Shizune, kamu juga salah satunya.”
“Itu justru... Shinsuke yang jauh lebih berbakat daripada orang sepertiku... kamu jauh lebih hebat...”
Shizune tidak sedang merendahkan diri. Dia tampak benar-benar mempercayai itu.
“Sama seperti kamu berpikir begitu, menurutku justru kamu sendiri cocok jadi guru.”
“Itu yang namanya terlalu memuji.”
“Bukan cuma soal pandai mengajar. Yang lebih penting, bukankah kamu tipe orang yang benar-benar berusaha untuk orang lain, Shizune? Kalau begitu, bukankah profesi guru justru sangat cocok buatmu?”
Shizune selalu bertindak sesuai kehendaknya sendiri.
Kalau tinggal mengganti objeknya jadi anak-anak, dia pasti bisa menjadi guru yang sangat baik.
“Meskipun kamu bilang dirimu punya masalah, bukankah itu juga pengalaman yang berharga? Justru karena kamu pernah melewati hal-hal seperti itu, kamu jadi lebih bisa berempati pada anak-anak, lebih dekat pada kegelisahan mereka, kan?”
“Shinsuke benar-benar merasa aku cocok jadi guru?”
“Aku sudah bilang itu dari tadi.”
“...Begitu ya.”
Shizune menelan kata-kataku yang tulus itu, lalu menundukkan kepala.
“Kalau begitu, aku akan meluangkan sedikit lebih banyak waktu untuk... memikirkannya.”
Saat Shizune mengangkat kepalanya kembali, matanya tidak lagi sekosong beberapa detik yang lalu. Setidaknya di mataku, dia tampak mendapatkan sedikit rasa percaya diri.
“Ugh, ugh, ugh...”
Dari belakang terdengar suara rendah seperti orang merangkak keluar dari kegelapan.
“Ada apa... rasanya memoriku langsung terbang begitu sosok pegawai minimarket misterius itu masuk ke pandanganku...”
“Kamu pasti cuma mimpi. Ngomong-ngomong, gimana kondisi tubuhmu, Chitose?”
“Ugh... yah, belum sepenuhnya pulih sih, tapi sedikit lebih baik... mungkin?”
Chitose turun dari tempat tidur sambil menggaruk kepalanya.
Sepertinya ingatannya juga agak samar, dan entah kenapa itu membuatku sedikit lega.
“Oi, Shinsuke, sekarang jam berapa? Sudah larut, kan?”
Aku menatap jam dinding. Tinggal sedikit lebih dari sepuluh menit sebelum jarum jam dan menit bertumpuk di angka dua belas.
“Sudah hampir ganti hari.”
Sejak akhir jam kerja tadi, hari ini terasa jauh lebih padat daripada biasanya, dan waktu rasanya berlalu dalam sekejap. Terutama setelah aku mulai latihan ilustrasi, perasaan itu makin kuat.
Aku berdiri dari kursi, membuka tirai, lalu melihat situasi di luar jendela.
“Hujannya... sepertinya sudah berhenti untuk sekarang.”
Meski langit malam masih dipenuhi awan, cahaya bulan mulai menyelinap lewat sela-selanya.
“Jadi sekarang bagaimana? Sudah hampir waktu kereta terakhir. Kalau mau pulang, mungkin kita harus mulai siap-siap.”
“Hah? Maksudmu aku boleh menginap di sini...!?”
“Yah, memang mungkin agak riskan kalau laki-laki dan perempuan yang belum menikah menginap bersama, tapi kalau ada Shizune dan Chitose berdua, harusnya masih aman.”
“Kalau begitu aku mau menginap. Tempat tidur Shinsuke sudah penuh aroma keringatnya, rasanya pasti menenangkan.”
“Keluar dari sana sekarang juga. Kalau kamu tetap mau menginap, kamu tidur di kamar mandi.”
“Padahal kamu kenal aku sejak kecil, tapi kamu jahat banget. Lagian, aku ini masih baru pulih dari mual, tahu?”
“Nggak enak badan gara-gara minum terlalu banyak itu nggak dihitung sakit.”
“Kamu ini manusia atau bukan? Kakakmu ini nggak pernah merasa membesarkan anak seperti ini.”
Chitose memeluk lengan sendiri sambil cemberut dan mendesah tidak puas.
“Kalau Chitose bilang begitu, kalau kamu sendiri bagaimana, Shizune? Kamu bisa tidur di tempat tidur, dan kalau nggak suka, aku bisa pinjamkan sleeping bag tamu.”
Shizune mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu menatap layarnya dengan ekspresi muram.
“...Aku lewat.”
“Hah? Kenapa?”
“Kalau aku sampai kelewatan kereta terakhir dan pulang terlambat, itu malah akan merepotkan.”
Nada suaranya benar-benar terdengar sebal.
“Orang tuamu menghubungimu?”
Sambil bertanya, aku mendekatinya. Shizune lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.
“Iya, mereka menelepon dan kirim pesan.”
“Begitu. Kalau begitu memang nggak ada pilihan. Berarti aku yang akan tetap merepotkan sendiri.”
“Tapi tentu saja itu juga nggak boleh. Pulanglah.”
“Kamu tetap setajam biasanya ya... kenapa kamu seketat itu pada kakakmu yang tersayang? Padahal kita masih bisa minum sampai pagi.”
“Aku tadi sudah bilang aku masih sembilan belas, kan? Dan serius, mulai sekarang tolong lebih banyak mengingat!”
Kalau aku membiarkanmu terus minum, kamar ini bisa-bisa benar-benar dipenuhi muntahmu.
“Aku antar kalian sampai stasiun. Cepat siap-siap pulang.”
“Ugh...”
Chitose duduk bersila di atas ranjang sambil memeluk lengannya, terlihat sedang berpikir.
“Shinsuke, kamu nggak perlu mengantar.”
“Nggak apa-apa?”
“Aku toh akan bersama Shizune sampai ke stasiun.”
Chitose menoleh ke Shizune sambil bertanya, “Nggak masalah, kan?” Shizune menyadari tatapan itu lalu mengangguk dengan enggan, “Terserah,” dengan ekspresi pasrah.
Shizune sepertinya memang tidak punya kesan baik terhadap Chitose, jadi aku sempat agak khawatir membiarkan mereka keluar cuma berdua. Tapi karena mereka sendiri sudah setuju, kurasa seharusnya aman.
“Kalau begitu, aku nggak akan mengantar... kalian berdua, hati-hati di jalan.”
“Iya, iya. Shinsuke memang hobi mengkhawatirkan hal-hal.”
Tak lama kemudian, Chitose dan Shizune memasukkan pakaian mereka yang basah ke kantong plastik. Chitose memakai T-shirt dan celana training, sedangkan Shizune memakai set lengkap jersey. Setelah itu, mereka berdua pun meninggalkan apartemen.
Begitu mereka keluar, aku duduk di atas tempat tidur dan menatap kosong sekeliling kamar. Padahal dekorasi dan furnitur di ruang utama ini sama persis seperti tadi, tapi entah kenapa ruangan ini sekarang terasa lebih luas daripada sebelumnya. Mungkin karena suasananya jadi terlalu sunyi.
Dulu, aku tak pernah sekalipun membayangkan akan membiarkan gadis gloomy seperti Shizune menginap di kamarku.
Seharusnya, terhadap gadis seperti Shizune—gadis gloomy yang awalnya ingin kuhindari dan kujaga jaraknya—aku memang punya trauma psikologis. Tapi anehnya, sekarang aku justru mulai ingin menerimanya.
Alasan di balik itu sendiri, sampai sekarang pun aku belum benar-benar mengerti.
Namun, waktu yang kuhabiskan bersama Shizune ternyata jauh tidak seburuk yang kubayangkan.
☆
Mereka keluar dari apartemen. Hujan deras yang turun beberapa jam sebelumnya telah berhenti seolah semuanya bohong belaka, hanya menyisakan jalanan basah dan genangan air.
Dari apartemen Shinsuke ke stasiun terdekat, jaraknya hanya beberapa menit jalan kaki. Meski waktu sampai kereta terakhir sudah tidak banyak, untungnya stasiun itu memang dekat. Chitose dan Shizune juga tidak terlihat terlalu cemas, dan mereka melewati gerbang tiket dengan tenang.
“Aku nggak nyangka ternyata kita searah.”
“...Iya.”
Chitose dengan ceria mencoba membuka percakapan, tapi respons Shizune terdengar dingin dan kurang hangat, seolah pikirannya sedang melayang ke tempat lain.
Rumah Shizune berjarak empat stasiun dari stasiun terdekat kampus, sementara apartemen Chitose hanya berjarak dua stasiun.
Berbeda dengan daerah pedesaan, jarak antar stasiun di Tokyo cukup pendek, jadi waktu tempuh ke stasiun berikutnya juga tidak lama. Waktu menunggu di peron pun tidak terlalu panjang. Saat menunggu kereta datang, keduanya nyaris tidak mengobrol berarti.
Setelah naik kereta, mereka secara naluriah duduk berdampingan.
Meskipun ini Tokyo, pada jam segini dan di area di luar 23 distrik utama, gerbong kereta hampir kosong.
“Kenapa kamu ingin dibutuhkan oleh Shinsuke, Shizune?”
Setelah beberapa saat berlalu dan kereta mulai bergoyang, Chitose berbicara seolah ingin memecah keheningan. Ditanya sedemikian langsung soal hubungannya dengan Shinsuke, Shizune tampak sedikit terguncang.
“Aku harus menjawabnya...?”
“Ayolah, jangan begitu. Aku juga ingin mengenalmu lebih jauh. Lagipula aku ini teman masa kecil Shinsuke... atau kalau kata lain, kakak perempuannya.”
Sambil tersenyum lembut, Chitose menatap wajah Shizune.
“...Sejak musim semi tahun ini, aku menghasilkan uang lewat pekerjaan papa. Lalu ketika Shinsuke tahu soal itu, karena dia mengkhawatirkanku, dia bilang padaku bahwa... aku boleh sesekali datang ke kamarnya.”
“Kalau soal itu aku sudah tahu. Aku juga tahu kamu pernah mengajukan ‘kontrak istri sementara’ ke Shinsuke. Tapi bukankah Shinsuke kemudian bilang kamu tetap boleh masuk ke kamarnya bahkan tanpa membantu pekerjaan rumah? Jadi kenapa sampai sekarang kamu tetap tiap hari membuat bekal dan membawanya ke kamarnya?”
“Karena... aku ingin membantu Shinsuke yang baik hati karena sudah menerimaku... aku ingin dibutuhkan olehnya...”
“Karena dia menerimaku apa adanya, aku jadi ingin membuatnya lebih membutuhkanku... intinya, Shizune, kamu ini ‘bergantung pada Shinsuke’, kan?”
Ucapan Shinsuke, “Gadis itu cuma sedang mencari seseorang untuk diandalkan,” tertancap kuat di benak Chitose.
Shizune ingin membalas kebaikan Shinsuke dan berharap dirinya dibutuhkan olehnya.
Tindakan itu sendiri tidak salah.
Tapi hanya untuk saat ini.
“Shinsuke itu baik hati pada siapa saja, lho.”
“Siapa pun bisa melihat itu.”
“Kamu tahu nggak kalau Shinsuke dulu pernah pacaran?”
“Dia pernah menyebutkannya... sekali.”
“Kamu tahu nggak kalau sejauh ini Shinsuke sudah punya tiga mantan? Tapi tahu nggak titik persamaan dari ketiga gadis itu?”
Pertanyaan Chitose membuat kepala Shizune terasa sakit.
Tanpa petunjuk apa pun, tak mungkin dia bisa menemukan jawabannya.
Kenapa orang ini sengaja menanyakan hal seperti ini padaku...? pikirnya.
Ekspresi Chitose yang terpantul di jendela tepat di hadapan mereka terlihat seperti sedang tersenyum, tapi juga seperti tidak.
Setiap kali mereka berdua mulai berbicara, udara di sekitar mereka terasa berat.
“Benar juga, kalau tanpa petunjuk, kamu memang nggak akan tahu.”
Setelah menunggu beberapa detik tanpa jawaban, Chitose perlahan mendekatkan mulut ke telinga Shizune.
“Kesamaan mereka, Shizune... adalah dirimu.”
Mata Shizune langsung melebar.
Chitose menarik tubuhnya kembali, mengamati reaksi Shizune, lalu melanjutkan dengan tenang.
“...Shinsuke itu sejak dulu sangat baik. Kalau dia melihat orang sedang kesusahan, meskipun tahu dirinya mungkin sedang ikut campur urusan orang, dia tetap akan bertanya dan berusaha membantu menyelesaikan masalah itu bersama-sama.”
Setiap kata yang diucapkan Chitose terasa berat, seperti menekan hati Shizune.
“Tapi ya, justru karena pengalamannya berpacaran dengan gadis-gadis tipe itu, sekarang Shinsuke jadi sangat negatif soal asmara. Itu sudah berlangsung sejak tahun pertama SMA sampai sekarang.”
Apa yang dia katakan jelas bukan candaan. Shizune sendiri sangat sadar akan itu.
“Ketiga mantan pacarnya punya ciri yang sama. Sayangnya, Shizune... kamu memenuhi ciri-ciri itu dengan sangat tepat.”
Hubungan Chitose dan Shinsuke begitu dalam, dan kata-katanya membawa bobot yang dalam arti tertentu bahkan melebihi kata-kata manis yang mungkin diucapkan Shinsuke sendiri. Rasanya seperti dia sedang menyentuh isi hati asli Shinsuke.
“Shinsuke sepanjang hidupnya selalu berusaha menghindari gadis dengan ciri seperti itu. Makanya, bagiku sangat sulit dipercaya kalau sekarang dia justru punya hubungan denganmu seperti ini.”
“Um... ciri itu... apa...?”
Dengan gugup, Shizune bertanya pada Chitose.
Padahal yang dia tanyai seharusnya Chitose, tapi bayangan yang dipantulkan jendela justru tampak bertumpuk dengan bayangan Shinsuke.
“Kamu sangat suka berpakaian dengan gaya landmine, ya, Shizune? Menurutku itu cocok sekali buatmu. Imut dan cantik. Tapi bagaimana menurut Shinsuke?”
Dengan cara yang memutar, Chitose memberi tahu maksudnya.
Kalau yang jadi masalah hanya cara berpakaian landmine-kei, maka asal dia berhenti mengenakan gaya itu, semuanya seharusnya beres.
Shizune mengembuskan napas lega, lalu melanjutkan bertanya pada Chitose.
“Masih... masih ada kesamaan lain...?”
Tepat di saat itu, pengumuman kereta mulai berbunyi.
Chitose menjawab, “Ada satu lagi,” lalu berdiri dari duduknya.
...
Perlahan, Chitose menarik tangan Shizune dan menyingsingkan lengan jersey yang dipakainya hingga pergelangan tangannya terlihat.
“Yang ini.”
Pandangan Shizune jatuh ke pergelangan tangannya sendiri, lalu matanya membelalak. Kekeringan yang sempat muncul di matanya seketika berubah lagi menjadi basah.
“Kamu tahu kenapa Shinsuke menghindari orang dengan ciri seperti ini?” kata-kata Chitose menembus kenyataan, seolah sedang memandang sampai ke bagian terdalam diri Shizune.
“Karena dia tidak ingin terlibat lagi dengan gadis gloomy sepertimu.”
Bersamaan dengan kata-kata itu, pintu kereta terbuka.
Pasangan-pasangan Shinsuke di masa lalu pasti sama-sama menyimpan sesuatu.
Gaya berpakaian landmine, luka-luka bekas menyakiti diri sendiri di pergelangan tangan.
Hal-hal semacam itu membuat Shinsuke sejak awal sudah tidak mampu menghadapi situasi seperti itu.
Pada akhirnya, itu adalah trauma psikologisnya terhadap gadis gloomy.
Chitose mengatakan beberapa hal lain lagi sebelum turun dari kereta, tapi saat itu telinga Shizune sudah tak lagi bisa mendengar apa pun.
Di dalam gerbong yang kosong, Shizune menangis sambil memakai ujung jari yang tertutup plester untuk terus menggaruk luka di pergelangan tangannya.
...
“Aku benar-benar orang yang buruk... sungguh.”
Setelah turun di stasiun terdekat apartemenku dan menyaksikan kereta yang dinaiki Shizune kembali berjalan, Chitose melangkah menuju gerbang tiket.
Aku benar-benar membenci sisi buruk diriku yang seperti ini.
Sebagai teman masa kecil sekaligus kakak yang menyayangi Shinsuke seperti adik sendiri, aku sungguh senang melihat dia berhasil menjalin hubungan dengan seorang teman perempuan.
Kata-kata yang tadi kukatakan pada Shizune bisa saja menghancurkan kesempatan berharga Shinsuke yang memang tidak pandai menjalin hubungan dengan orang lain untuk memiliki relasi yang harmonis.
Bahkan sekarang pun aku masih sulit percaya bahwa Shinsuke bisa sampai terhubung dengan gadis gloomy seperti Shizune. Jika memang itu jalan yang dipilih Shinsuke, maka seharusnya aku tidak ikut campur, dan memang aku pun tak punya hak untuk ikut campur.
Yang bisa kulakukan paling jauh hanyalah menjadi teman masa kecil dan kakak yang baik, mendengarkan kekhawatiran Shinsuke, dan memberinya saran semampuku.
Tapi kali ini, kali ini saja, aku benar-benar tak bisa hanya diam melihat semuanya terjadi.
Aku tidak boleh membiarkan gadis itu terlalu dekat dengan Shinsuke. Bahkan kalaupun dia tetap bersikeras mendekat, itu harus terjadi di dalam pengawasanku setidaknya itulah yang dikatakan intuisi saat anak itu muncul di hadapanku.
Karena aku sudah lama berada di sisi Shinsuke, mengawasinya, mendengarkan curhatnya, aku jadi paham.
Shizune membawa masalah besar yang sampai sekarang belum dia utarakan pada Shinsuke.
Kalau hubungan mereka menjadi lebih dekat dari sekarang, Shinsuke tidak akan pernah menganggap masalah besar itu sebagai sesuatu yang tak ada hubungannya dengannya; dia pasti akan ikut memikulnya bersama. Memang seperti itulah dia, orang yang terlalu lembut.
“Aku minta maaf... pada kalian berdua...”
Aku sudah tidak ingin lagi melihat Shinsuke terluka.
Aku juga tidak ingin lagi melihat Shinsuke tersiksa karena cinta.
Kalau ketergantungan Shizune terus membesar, Shinsuke pasti akan kembali menderita seperti dulu.
Kalau begitu, akulah yang harus melindungi Shinsuke.
Namun, andaikan mereka berdua tetap melanjutkan hubungan mereka seperti sekarang, maka demi mengatasi masalah yang masing-masing mereka pikul, mereka mungkin terpaksa tetap berjalan berdampingan, meski itu berarti aku sendiri harus menelan kembali kata-kataku.