Pengalamanku pertama kali dengan self-harm terjadi saat aku kelas dua SMA.
Sejak kecil aku memang tidak pernah pandai bergaul, dan di sekolah aku tidak dekat dengan siapa pun di kelas, juga tidak ikut kegiatan klub apa pun. Karena itu, aku tidak punya seorang teman pun di sekolah yang bisa diajak bicara dari hati ke hati.
Bukannya aku dibully, tapi teman-teman sekelasku selalu menjaga jarak dariku. Karena itulah aku jadi sulit punya teman, dan aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjalin pertemanan sejak awal.
Kenangan masa SMA-ku cuma dipenuhi warna abu-abu.
Meskipun aku tidak sampai bolos sekolah, aku juga tidak bisa menemukan arti dalam terus datang ke sana. Aku menjalani hari-hari yang kosong, hambar, dan membosankan, sampai akhirnya jenuh sendiri.
Namun, dibanding keluargaku yang memberiku perhatian berlebihan yang tidak kuinginkan, sekolah yang tidak menuntutku berinteraksi dengan siapa pun masih terasa sedikit lebih baik.
Bagi orang sepertiku, satu-satunya tempat bertopang waktu itu adalah koneksi di media sosial.
Sejak aku iseng membuat akun Twitter, aku tenggelam di dalamnya seakan-akan akhirnya menemukan tempat untuk berada. Sedikit demi sedikit, temanku di dunia maya mulai bertambah.
Hubungan yang terjalin di Twitter memang dangkal dan gampang putus, tapi aku merasa lega hanya karena di sana aku bisa terhubung dengan orang lain tanpa kesulitan.
Di antara mereka, ada juga orang-orang yang punya keresahan yang sama sepertiku. Saat bicara dengan mereka, aku bisa memperlihatkan diriku yang sebenarnya tanpa harus berpura-pura.
Namun, justru lewat keterbukaan di media sosial itulah aku mulai mengenal self-harm.
Suatu hari, seorang teman perempuan di internet mengunggah sebuah foto. Itu adalah foto pergelangan tangannya setelah disayat, beberapa garis dengan darah yang masih merembes keluar.
Saat melihat foto itu di timeline Twitter-ku, aku sangat terkejut. Yang pertama kali kupikirkan hanya betapa sakitnya itu, dan apa makna di balik tindakan seperti itu.
Banyak orang mengkhawatirkannya dan meninggalkan komentar di bawah postingan itu. Aku juga ikut mengirim pesan, menanyakan, “Ada apa? Kalau mau, kamu bisa cerita padaku.”
Dia sepertinya seumuran denganku, tapi katanya dia sudah menyayat pergelangan tangannya sejak SD.
Menyayat pergelangan tangan membuat hatinya terasa tenang. Melihat darah yang mengalir membuat perasaan “ingin mati” untuk sementara mereda. Begitulah dia menjelaskan alasannya melakukan self-harm.
Aku sendiri tidak yakin apakah yang dia katakan benar atau tidak. Aku juga samar-samar paham bahwa menyayat pergelangan tangan jelas bukan perbuatan yang baik.
Meski begitu, saat itu aku tetap mencobanya, hanya karena rasa penasaran.
Aku menempelkan mata pisau cukur ke pergelangan tanganku dan perlahan menekannya.
Awalnya tidak terasa terlalu sakit, tapi tak lama kemudian bagian otot di dalamnya mulai terasa nyeri. Mungkin tekanan yang kuberikan salah, karena dari luka itu mengalir darah gelap keruh yang cukup lama tidak berhenti.
Dengan sengaja membuat luka di pergelangan tangan, aku bisa merasakan secara nyata melalui kulitku bahwa aku masih hidup. Caranya sebenarnya sangat sederhana.
Aku juga tidak ingat sejak kapan aku mulai bergumam, “Sekali lagi, sekali lagi,” setiap kali menyayat pergelangan tanganku.
Namun, seiring bertambahnya luka di pergelangan tanganku, plester yang kupakai untuk menutupinya juga bertambah banyak, dan akhirnya kebiasaan self-harm itu pun ketahuan orang-orang di sekitarku, termasuk teman-teman sekelas yang nyaris tidak pernah bicara denganku, para guru, bahkan ayahku.
Aku dihujani amarah ayahku.
Pada akhirnya, pemicu yang mendorongku melakukan self-harm, yaitu akun Twitter itu, dihapus.
Namun, ketergantungan yang sempat tertanam itu tidak mudah dihentikan. Sebagai gantinya, aku mengembangkan kebiasaan buruk menggigit kuku. Meski begitu, sejak kelas tiga SMA, aku tidak lagi menyakiti diri sendiri dengan cara menyayat.
Walaupun begitu, dulu aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan menyesali masa laluku seperti ini.
Karena bekas-bekas self-harm itu tidak akan meninggalkan kesan yang baik saat bertemu orang baru, aku mulai menyembunyikan pergelangan tanganku dan selalu memakai pakaian berlengan panjang.
Karena itulah, sampai sekarang pun Shinsuke masih belum tahu soal bekas luka self-harm itu.
Dari mana sebenarnya Kujou Chitose melihat bekas luka di pergelangan tanganku? Tapi sekarang itu pun rasanya sudah tidak penting lagi. Mungkin saat kami mandi bersama.
Apa dia sudah memberitahukannya pada Shinsuke? Kalau iya, lalu bagaimana aku harus menghadapinya nanti?
Kujou-senpai bilang padaku bahwa Shinsuke berusaha menghindari gadis-gadis gloomy.
Itu bukan candaan, juga bukan kebohongan. Itu kenyataan yang tak terbantahkan. Kalau tidak, dia tidak akan sampai sengaja menyampaikannya padaku.
Shinsuke pasti sudah sadar sejak hari pertama kami bertemu bahwa aku ini seorang gadis gloomy.
Sebenarnya dia memandangku seperti apa? Sebagai orang yang merepotkan, menyebalkan, tak berdaya? Saat bicara denganku, apa yang sebenarnya dia pikirkan?
Hanya dengan membayangkan diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa, diriku yang dibenci orang, diriku yang menyembunyikan jati diri sambil berusaha menjalin hubungan dengan Shinsuke, dadaku terasa seperti diremas, dan napasku jadi kacau.
Bagi Shinsuke, keberadaanku bukan hanya beban, tapi juga tidak diperlukan.
Apa yang harus kulakukan supaya aku tidak dibenci Shinsuke?
Apa yang harus kulakukan untuk menuntaskan masa laluku?
Masalah hati tidak mungkin diselesaikan semudah itu. Sifat gloomy yang sudah meresap ke dalam kepribadianku tidak akan hilang hanya dengan mengubah suasana hati.
Kalau begitu, aku harus mencari cara untuk menghapus dua ciri yang paling ingin dihindari Shinsuke.
Kalau cuma soal pakaian, aku bisa langsung mengubah gayaku kapan saja.
Namun, seberapa pun aku mengubah penampilanku, luka-luka tak terhitung di pergelangan tanganku tidak akan pernah hilang. Mereka akan tetap ada dalam hidupku, tipis dan pucat.
Meskipun rasa sakit di masa lalu itu sudah lama lenyap, bagian dalam pergelangan tanganku kembali terasa nyeri sekarang.
Kalau begini terus, Shinsuke benar-benar akan membenciku.
Aku harus mengubah situasi ini... aku harus mengubah diriku yang sekarang.
Agar hatiku tidak semakin kacau, aku menggigit ibu jariku keras-keras seolah ingin mencabutnya.
☆
“Orang itu... kenapa hari ini dia tidak datang ke kamarku?”
Jarum jam sudah lewat pukul sepuluh malam.
Aku, Aigaki Shinsuke, selesai kerja lalu langsung bersiap pulang, sambil memikirkan kembali kejadian hari itu.
Setiap pagi, Kotosaka Shizune, gadis gloomy itu, biasanya akan membuatkan bento khusus untukku lalu membawanya ke apartemenku. Tapi pagi ini dia tidak muncul, bahkan tidak ada kabar sama sekali, dan itu sungguh di luar dugaan.
Sejak awal, aku memang selalu bingung dengan rutinitas hariannya yang terus-menerus membuatkan makanan untuk seorang teman biasa yang sebenarnya tidak punya hubungan khusus dengannya. Karena itu, awalnya aku tidak merasa terlalu buruk meskipun dia tidak datang.
Namun, kalau seorang gadis gloomy seperti Shizune tiba-tiba melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, rasanya pasti ada alasannya, seolah telah terjadi sesuatu yang cukup besar.
Aku sempat berpikir dia mungkin akan datang ke minimarket sebagai pelanggan seperti kemarin saat aku sedang kerja. Tapi sampai shift-ku selesai, dia tetap tidak muncul.
Tingkahnya yang tidak biasa itu membuatku, yang sebenarnya biasanya tidak suka ikut campur, mulai mengkhawatirkannya.
Bukan cuma pagi, bahkan saat makan malam pun, pada hari-hari ketika aku kerja sampai hampir jam sepuluh, dia tetap akan menyiapkan makanan dan membawanya ke apartemenku.
Mungkin saja sekarang dia sedang menungguku di depan pintu apartemen.
Semakin pikiranku kacau, semakin cepat pula langkah kakiku saat berjalan pulang.
“Dia nggak ada...?”
Namun, ketika sampai di depan apartemen, aku tetap tidak melihat sosok Shizune.
Apa aku harus mengirim pesan untuk menanyakan keadaannya?
Beberapa menit lebih cepat dari biasanya, aku sampai di rumah, melangkah lesu menyusuri lorong, lalu masuk ke lift.
“Hari ini capek banget...”
Begitu kembali ke kamar, aku menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menatap langit-langit.
“Kenapa aku jadi begitu memikirkan tingkah Shizune...?”
Cuma sehari saja aku tidak melihatnya, tapi ternyata itu sudah cukup membuatku merasa tertekan secara mental.
Keberadaannya perlahan-lahan telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hariku.
Dia adalah tipe orang yang seharusnya kujaga jarak darinya, gadis gloomy yang tertutup dan menyimpan luka emosional. Jadi kenapa aku malah secemas ini? Bahkan aku sendiri merasa aneh.
Setelah berbaring cukup lama, aku bangkit lalu berdiri di depan kulkas, mencari sesuatu di dalam freezer.
“Makan malam... seadanya saja pakai frozen food.”
Aku sama sekali tidak punya tenaga untuk memasak sekarang.
Setelah memutuskan makan sesuatu yang sederhana malam ini, aku mengambil mi instan beku lalu menyipitkan mata membaca waktu pemanasannya di microwave.
Ting dong.
Suara ceria itu bergema di dalam kamar dan langsung menarikku kembali ke dunia nyata.
Aku meletakkan kembali mi beku itu di dapur lalu mengalihkan pandangan ke layar interkom.
“...Selamat malam.”
Di layar itu, wajah Shizune muncul.
Aku langsung menghembuskan napas lega dan meletakkan tangan di dada.
“Oh... jadi hari ini kamu tetap datang?”
Berusaha bersikap biasa, aku menjawab dengan nada yang sama seperti biasanya.
“...Boleh aku masuk?”
“Boleh. Aku bukakan pintunya.”
Setelah berkata begitu, aku mematikan interkom lalu buru-buru membuka kunci pintu depan.
Sekitar semenit kemudian, terdengar ketukan, lalu pintu terbuka perlahan.
“...Halo.”
“...Eh, kamu ini benar-benar Shizune... kan?”
Saat menyambutnya di pintu masuk, aku sampai meragukan apa yang kulihat.
Shizune biasanya selalu berpakaian dengan gaya yang identik dengan gadis gloomy. Tapi hari ini, pakaiannya hampir sama sekali tidak punya ornamen-ornamen seperti itu.
Topi yang ditarik rendah, hoodie agak kebesaran, jeans biru tua, sneaker low-cut, dan backpack biasa. Rambutnya memang masih diikat half ponytail seperti biasa, tapi keseluruhan penampilannya benar-benar berbeda dari biasanya, sampai aku sulit menyembunyikan keterkejutanku.
“Aneh ya...?”
“Nggak, bukan aneh... malah, yah, cocok banget...”
“Begitu ya... syukurlah.”
Seakan terbebas dari ketegangan, ekspresi Shizune pun sedikit melunak.
“...Oh iya, ini aku kembalikan. Makasih untuk kemarin. Sudah aku cuci.”
“Ah, makasih.”
Dari dalam backpack-nya, dia mengeluarkan setelan jersey dan T-shirt yang kupinjamkan kemarin, lalu menyerahkannya padaku.
Aku melihat baju yang kuterima itu dan berpikir beberapa detik.
Aku memang tidak bohong waktu bilang itu cocok.
Walaupun kesan landmine-kei-nya selama ini begitu kuat sampai selalu membuatku sedikit gelisah, kalau ditanya apakah pakaian seperti sekarang tidak cocok untuknya, jelas bukan begitu.
Kalau aku bertemu Shizune dalam penampilan seperti ini sejak awal, mungkin aku sama sekali tidak akan merasa canggung. Bahkan mungkin aku justru akan berpikir bahwa penampilan seperti ini memang sangat cocok untuknya.
Wajah Shizune memang secara alami cocok dengan banyak hal. Bahkan hanya dengan jersey atau hoodie biasa pun dia tetap terlihat manis. Begitu juga dengan gaya street fashion yang dipakainya sekarang.
Tapi justru itulah yang terasa ganjil. Fakta bahwa Shizune tidak mengenakan gaya gloomy seperti biasanya terasa sangat tidak wajar.
Aku mengangkat wajah, seakan ingin menegaskan penampilannya ke dalam ingatan, lalu menelusuri sosok Shizune dari ujung kepala sampai kaki sekali lagi.
Dan pada saat itu, sesaat, sosok Shizune bertumpang tindih dengan Kujou Chitose di benakku.
Pakaian yang dikenakannya hari ini sangat mirip dengan gaya berpakaian Chitose.
Apa selera fashion-nya berubah? Dalam waktu cuma satu hari...?
Dihadapkan pada bug dunia nyata seperti ini, otakku nyaris panik.
“Bukannya aku sudah bilang... barang yang kalian bawa berat banget! Aku nggak bisa masuk kalau begini!”
Seolah bug lain ditambahkan ke dalam situasi ini, tamu tak terduga lain muncul di sudut pandangku.
“Kenapa kamu ada di sini!?”
“Wah! Jangan teriak mendadak gitu dong, bikin kaget!”
“Ya karena kamu tiba-tiba muncul!”
“Padahal dari tadi aku sudah ada di sini... kamu aja yang nggak sadar, kan?”
Karena dia bersembunyi di bayangan dekat pintu, aku memang sama sekali tidak sadar. Padahal biasanya aku akan sadar jauh lebih cepat. Mungkin karena perhatianku tadi terlalu tersedot pada Shizune.
“Duh, Shinsuke, kamu nggak punya hati.”
Sambil mengeluh begitu, dia melangkah maju, membiarkan Shizune masuk ke lorong, lalu dirinya ikut masuk juga, melepas sepatu, dan berjalan lebih dalam ke dalam ruangan seenaknya.
Yagiyuu Hirofumi, teman laki-laki kampus yang paling sering bersamaku, dan kemunculannya malah membuat kepalaku lebih kacau dari sebelumnya.
“Pokoknya, Shizune, masuk saja dulu.”
Shizune mengangguk, melepas sneaker-nya, lalu masuk ke dalam ruangan. Aku segera menyusul Hirofumi yang sudah duduk santai di ruang utama dan menangkap bahunya.
“Hirofumi, ini sebenarnya apa yang sedang terjadi...?”
“Nggak usah tanya terlalu banyak. Aku sudah tahu kok apa yang ingin kamu tanyakan.”
Dengan nada sok seperti tokoh antagonis, Hirofumi menjawab begitu sambil menjatuhkan kantong plastik ke meja rendah dengan suara keras. Lalu dia merentangkan kedua tangannya di depan aku dan Shizune.
“Kamu pengin tahu isi tas ini, kan!?”
“Sebetulnya nggak juga.”
Ternyata aku sendiri bisa mengatakan sesuatu yang begitu dingin.
“Bawa barang segede ini masuk ke rumah orang, mana mungkin orang normal nggak penasaran!?”
“Aku sedang terlalu memikirkan hal lain selain itu, jadi aku memang nggak sempat penasaran soal itu.”
“Padahal momen ini langka sekali, lho. Aku dan Shizune sudah menyiapkan kejutan buatmu!”
“Kejutan? Kamu dan Shizune...?”
Aku menoleh ke arah Shizune, dan dia menggeleng diam-diam, menyangkal.
“Bukan kejutan. Ini cuma makan malam untuk nanti.”
“Dan biayanya aku yang tanggung!”
Ternyata, hari ini Hirofumi dan Shizune pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
“Sayurnya agak mahal, jadi kami nggak beli. Tapi kakekmu yang dari kampung kan tiap bulan selalu kirim sayuran segar, jadi stoknya di rumahmu harusnya masih ada, kan?”
“Itu memang benar... tapi sekarang kalian mau bikin apa?”
“Kalau sudah ada tiga orang berkumpul, selain hot pot memang mau makan apa lagi!”
Suara talenan dan pisau saling beradu pun mulai terdengar.
“Jelaskan semuanya padaku dengan jelas.”
Aku buru-buru mendekati Hirofumi yang duduk di kasur seperti di kursi, lalu menanyainya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Shizune yang sedang di dapur.
“Aku pernah tanya juga sebelumnya, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu dan Shizune bisa bersama-sama? Kalian kan nggak sedekat itu sampai bisa pergi bareng sepulang kelas, kan?”
Tadi aku masih bersama Hirofumi sampai akhir kelas ketiga.
Jadi Hirofumi dan Shizune pasti bertemu setelah kami berpisah. Dan sebelum itu, aku sama sekali tidak pernah mendengar dari Shizune bahwa mereka janjian.
“Oh? Kenapa, Shinsuke? Khawatir cewekmu diambil temanmu?”
“Jangan ganti topik. Shizune itu bukan pacarku.”
“Cuma teman, ya? Oke, paham.”
Hirofumi mengayun-ayunkan tangannya sambil tertawa lepas.
“Setelah kita berpisah tadi, aku jalan sendirian ke arah kelas. Terus di situ Shizune manggil aku dan bilang, ‘Bisa temani aku belanja?’”
“Shizune manggil kamu...? Jadi kalian benar-benar pergi belanja?”
“Kita pergi setelah kelas kelima. Bukankah pakaian Shizune hari ini beda dari biasanya? Itu yang dibeli tadi.”
Jadi dia mengganti gaya berpakaian karena Hirofumi menemaninya. Satu pertanyaanku terjawab. Namun, aku masih belum paham alasan yang mendasarinya.
“Terus kenapa Shizune mengajakmu belanja, bukannya mengajakku...?”
“Aku paham perasaanmu, tapi kalau cuma dari kalimat itu, kamu terdengar seperti cowok yang terlalu kepedean,” kata Hirofumi sambil menyeringai, lalu melanjutkan, “Tenang aja. Meski yang diajak itu aku, tetap saja yang dia pikirkan itu kamu.”
“Memikirkan aku?”
“Dia kelihatannya ingin tahu pakaian seperti apa yang cocok dengan seleramu. Jadi dia datang menanyaiku, orang yang paling sering bareng sama kamu, kan?”
“Ini benar-benar sudah melewati batas iri dan masuk ke level benci,” katanya sambil menepuk bahuku, setengah bercanda dan setengah kesal.
“Ngomong-ngomong, waktu belanja tadi aku dengar banyak hal darinya.”
“...Kamu dengar apa?”
“Soal Shizune-chan yang dulu melakukan pekerjaan papa, lalu kamu yang menerima dan merawatnya seperti itu.”
“Pekerjaan papa... sejauh mana tepatnya yang kamu dengar?”
“Kurang lebih, dia menyamar jadi JK lalu jalan sama om-om, dan kamu menghentikan itu semua. Dia juga cerita soal akun Kotone itu sebenarnya dirinya sendiri.”
Aku belum pernah memberi tahu Chitose ataupun Hirofumi soal aktivitasnya berpura-pura jadi anak SMA, jadi kenapa dia sendiri yang justru menceritakannya...
“Tapi jujur saja, aku sama sekali nggak nyangka pertemuanmu dengan Shizune bakal sedramatis itu.”
“Jadi sebenarnya apa yang dia ceritakan...?”
“Kamu melarang Shizune melakukan kerjaan JK lagi, dan bilang dia nggak boleh melakukan hal-hal begitu lagi. Sebagai gantinya, karena dia nggak punya tempat lagi, kamu merawatnya. Begitu, kan?”
“Garis besarnya memang begitu, tapi kamu membesar-besarkannya...”
Aku nggak pernah mengatakan hal sekeren itu.
“Ah, aku memang dari dulu tahu kamu perhatian sama orang, tapi nggak nyangka kamu ternyata pria sejati yang punya hati. Aku salut. Kalau aku cewek, mungkin aku bakal jatuh cinta padamu.”
“Ya... makasih, kurasa.”
Hirofumi menepuk bahuku kuat-kuat sambil tertawa, tapi anehnya meskipun dia tersenyum, tekanan tangannya di bahuku juga makin lama makin besar.
“Tapi satu hal yang nggak akan pernah kumaafkan darimu adalah kamu sampai mengundang Kujou-senpai masuk ke kamar ini!”
“Sakit, sakit, sakit, sakit...”
Aku terpaksa menerima dendam Hirofumi.
Tampaknya Shizune menceritakan hampir seluruh hal yang terjadi sejak kami bertemu.
“Oh! Ini enak banget!”
Hirofumi menjepit sepotong pork loin dengan sumpit, memasukkannya ke mulut, lalu menyuap nasi putih dalam jumlah besar dengan ekspresi puas.
Di tengah meja rendah, tempat aku, Hirofumi, dan Shizune duduk mengelilingi panci, hot pot sedang mendidih. Di dalam panci itu ada pork loin, wortel, kentang, kol, jamur, dan banyak bahan lainnya. Di samping panci tersedia mangkuk-mangkuk berisi nasi beku yang cukup untuk kami bertiga.
Aroma yuzu ponzu menguar di udara. Dalam keadaan lapar setelah pulang kerja, aku mengucapkan “Itadakimasu” lalu langsung menjulurkan sumpit ke dalam hot pot.
“Dagingnya enak banget...”
“Jelas dong! Aku sengaja keluar uang buat beli daging bagus!”
“Jarang sekali. Jangan-jangan kamu kalah mahjong dari Kujou-san?”
“...”
“Maaf. Jadi kamu benar-benar all-in lalu kalah, ya?”
Melihat Hirofumi yang menundukkan bahu sedemikian jelas, aku bahkan tak perlu mendengar jawabannya untuk tahu hasilnya.
“Yah, lupakan itu. Aku cuma mau membalas budi pada Shinsuke yang selama ini selalu baik padaku, jadi aku keluar uang sedikit lebih banyak.”
“Kamu beli daging mahal begini cuma buat pamer di depan Shizune, kan?”
“Uh... ahem! M-mana mungkin! Mana mungkin ada hal seperti itu!”
Oke, sekarang aku yakin.
“Ngomong-ngomong, Shizune, tadi kalian belanja di mana?”
“Nggak terlalu jauh. Di shopping center beberapa stasiun dari sini.”
“Yang nyambung langsung ke stasiun itu?”
Shizune mengangguk pelan sambil terus makan.
Biasanya dia memang dewasa dan kalem, tapi hari ini dia bahkan lebih pendiam dari biasanya.
Dengan pakaiannya yang tidak lagi seperti gaya eksentrik yang sudah biasa kulihat, rasanya dia benar-benar seperti orang lain.
“Oh iya, hampir lupa!”
Tiba-tiba Hirofumi berdiri, berlari ke dapur, lalu membuka-buka kulkas.
“Nih. Hot pot tentu harus ditemani canned beer!”
“Chitose kemarin juga sama. Kalian ini luar biasa ya, seenaknya pakai kulkas orang lain tanpa izin...”
“Jangan sebut-sebut Kujou-senpai lagi! Atau bahumu beneran bakal kulepas!”
Melihat kecemburuannya barusan, rasanya dia memang sanggup melakukan itu.
“Minum sih nggak apa-apa, tapi jangan sampai mabuk terus muntah ya.”
“Kamu pikir aku ini siapa? Memangnya ada orang bodoh yang bakal minum sampai muntah di kamar teman sendiri?”
Orang bodoh yang kamu sayangi kemarin benar-benar melakukan itu, lho.
“Mau minum juga, Shizune? Aku beli alkohol kalengan, masih dingin.”
“...Aku ikut.”
Begitu mendengar tawaran Hirofumi, Shizune mengangguk, mengambil minuman alkohol seri Strong dan sedotan, lalu membuka kalengnya dan menyesap sedikit lewat sedotan.
“Ulang tahunmu sudah lewat ya, Shizune?”
“Awal April kemarin, dan aku sudah dua puluh.”
“Begitu...”
Untuk mahasiswa tahun kedua, kebanyakan memang genap berusia dua puluh menjelang akhir Juni, dan banyak mahasiswa menantikan ulang tahun mereka karena artinya mereka boleh minum dan merokok secara legal.
Baru kali ini aku sadar bahwa aku masih tahu sangat sedikit tentang Shizune...
Padahal meski belum lama kami menjadi teman, entah kenapa aku merasa agak kesepian memikirkan hal itu.
“Perlu dibangunkan nggak?”
“Nggak usah. Kelihatannya dia capek banget.”
Hirofumi sekarang sudah tergeletak di lantai, mendengkur nyaman dalam tidurnya.
“Hirofumi kan berangkat kuliah dari tempat yang jauh, ya? Kalau dia tidur di jam begini, bukannya dia bakal ketinggalan kereta terakhir?”
“Kurasa dia memang berniat menginap malam ini, jadi nggak usah khawatir.”
Meski belakangan dia tidak sesering dulu datang ke kamarku, sebelumnya dia memang cukup sering menginap di sini seolah-olah kamar ini hotel gratis.
Mungkin kali ini dia tidur lebih cepat dari biasanya, tapi itu masih masuk akal. Dia datang kuliah sejak pagi, ikut kelas dari jam kedua sampai jam kelima, lalu pergi belanja dengan Shizune, dan sekarang ikut makan seperti ini.
Dalam kondisi secapek itu, habis makan kenyang lalu minum alkohol, wajar kalau rasa kantuk menyerangnya begitu cepat.
“Shizune, hari ini kamu datang ke sini pakai sepeda?”
“Nggak, aku naik kereta.”
“Kalau begitu, berarti tiga puluh menit lagi kamu harus pulang ya. Tapi kalau kamu mau menginap, aku sih nggak keberatan.”
“Aku nggak bisa menginap... keluargaku sangat ketat, dan itu akan merepotkan.”
“Merepotkanku?”
“Iya.”
“Kurasa sih nggak.”
Dulu, meskipun itu merepotkan, aku mungkin tidak akan terlalu memikirkan hal seperti itu. Tapi sekarang, setelah sekian kali Shizune datang ke kamarku, rasanya membiarkannya menginap satu malam pun sudah bukan masalah besar lagi.
Meski begitu, aku juga tidak ingin memaksanya. Karena dia sendiri bilang “nggak bisa menginap”, aku juga tidak berniat membujuk lebih jauh. Jadi aku tidak menambahkan apa-apa lagi.
“Kalau begitu, sebelum Shizune pulang, aku latihan sebentar.”
Melirik jam, aku berdiri dari lantai lalu duduk di kursi depan meja. Aku menyalakan komputer dan membuka software gambar. Shizune pun menghampiriku.
“Hari ini kamu latihan menggambar apa?”
“Aku mau latihan ilustrasi karakter full-body.”
Meski aku sudah berkali-kali menggambar karakter, biasanya aku hanya menggambar sampai paha ke atas, atau dengan pose tertentu saja. Aku jarang sekali latihan menggambar seluruh tubuh dari berbagai sudut.
Menggunakan ilustrasi karakter perempuan profesional sebagai referensi, aku menampilkannya di layar sebelah kanan. Untuk menentukan komposisinya, aku mulai dengan sketsa kasar. Lalu di atas layer baru, aku mulai menyusun draft tubuhnya.
“Kalau bagian ini dibuat seperti itu, lengkungan tubuh bagian bawahnya jadi agak aneh. Coba lebih perhatikan sense of volume-nya.”
Shizune menunjuk layar seolah sedang mengintip dari dekat, lalu memberi masukan dengan sangat jelas.
Cara mengajarnya tetap sangat bagus. Saat aku mengikuti sarannya, bagian yang tadinya terasa janggal ternyata bisa membaik dengan cepat.
Ini adalah sesi latihan ilustrasi yang biasanya bermakna dan sudah menjadi rutinitas kami setelah makan malam. Namun hari ini ada satu hal yang memberi suasana sedikit berbeda dari biasanya, sampai bisa kurasakan secara fisik.
“Eh, Shizune...”
“...Ada apa?”
“Nggak... bukan apa-apa.”
Padahal aku ingin bertanya, tapi di tengah jalan aku tiba-tiba mengurungkan niat dan menutup mulut.
Shizune sekarang berdiri di belakangku, terus menjelaskan bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Namun hari ini, tubuhnya beberapa kali tiba-tiba menempel padaku, sampai membuat konsentrasiku buyar.
Mungkin itu tidak disengaja, tapi tetap saja, jarak sedekat itu membuatku sangat sadar akan keberadaannya, sampai fokusku pada gambar ikut terganggu.
“...Shinsuke, kamu dengar nggak?”
“Ah, bukan... maksudku... iya.”
“Kelihatannya kamu nggak mendengarkan.”
“Aku... maaf... bisa diulang sekali lagi?”
“Kalau kamu cuma melihat ilustrasi 2D, memang susah untuk menangkap rasa tiga dimensinya. Karakter yang kamu gambar selama ini cenderung punya proporsi kepala yang agak besar, jadi menurutku lebih baik kamu juga melihat tubuh manusia asli. Kalau kamu memahami struktur tubuh manusia lewat referensi nyata, gambar-gambarmu akan jadi lebih tiga dimensi dan menarik.”
“Tubuh manusia asli...? Maksudmu tanpa baju? Jadi kamu menyuruhku melihat gravure idol atau semacam itu? Atau mungkin nude model...?”
“Daripada mereka, kamu punya kandidat yang lebih bagus di sini.”
“Kandidat yang lebih bagus...?”
Shizune menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Aku memutar kursi seperempat lingkaran.
Lalu dia menatap langsung ke mataku.
“Kandidat itu adalah aku... Kamu bisa menjadikanku model.”
Sambil meletakkan tangan di dada, dia mengajukan itu.
“Menjadikan Shizune model... maksudmu aku harus menjadikan tubuhmu tanpa baju sebagai referensi? Mana mungkin aku bisa memakai kamu sebagai model.”
“Aku nggak keberatan.”
Tanpa mengubah ekspresi, Shizune langsung dan begitu saja melepas hoodie kebesarannya, menyisakan tubuh bagian atasnya hanya dalam bra.
Kaos kaki putih, jeans biru tua, dan bra hitam.
Walaupun aku menegaskan lagi penampilannya dari bawah ke atas, aku sama sekali tetap tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Kepalaku cuma dipenuhi kekacauan.
“C-cepat pakai lagi hoodiemu!”
“Kamu nggak mau melihat tubuhku?”
“Ini bukan soal mau lihat atau nggak, cepat pakai bajumu lagi! Hirofumi masih ada di ruangan ini!”
“Dia pasti tidur terlalu nyenyak sampai nggak akan bangun.”
“Masalahnya bukan itu!”
“Aku ingin membantu Shinsuke. Kalau demi kamu, sekadar melepas pakaian pun bukan masalah.”
“Aku nggak berniat menjadikanmu model, jadi kamu nggak perlu melepas baju!”
“Tubuhku memang nggak bisa dipakai jadi model? Memang dadaku nggak terlalu besar, tapi menurutku bentuknya cukup bagus...?”
Shizune menunduk ke arah dadanya yang ukurannya sedang, lalu menyentuhnya pelan di atas bra.
Wajahnya sedikit memerah, tapi jujur aku sendiri tidak tahu apakah itu karena alkohol kalengan yang tadi diminumnya, atau karena rasa malu karena melepaskan pakaian.
Tapi bagaimanapun juga, ada satu hal yang bisa kupastikan.
Shizune yang sekarang jelas-jelas tidak sedang dalam keadaan normal.
“A-aku ambilkan minuman dingin dulu! Kamu kelihatannya mabuk berat!”
Berpura-pura tenang, aku berdiri dari kursi lalu berjalan menuju dapur.
“Kenapa kamu lari?”
Namun, Shizune bergerak seolah ingin menghalangiku dan berdiri tepat di depanku.
“Aku nggak lari...”
Aku berusaha mengalihkan pandangan dari tubuh bagian atasnya dan menatap dinding di kejauhan. Namun dia terus mendekat, masuk ke sudut penglihatanku. Aku pun mundur.
Ada apa sebenarnya dengan Shizune hari ini...?
Dia melakukan satu hal demi satu hal yang biasanya sama sekali tidak akan dia lakukan.
Semakin jarak kami menyempit, keringat dingin mulai muncul di dahiku.
Tanpa sadar aku sudah terdorong sampai ke tepi ranjang yang menempel ke dinding, dan akhirnya aku jatuh duduk ke atas ranjang karena kehilangan keseimbangan.
Shizune berdiri di depanku sambil menunduk, seolah sedang menahan emosi yang terus meluap dari dalam dirinya.
“Kalau demi kamu, Shinsuke, aku akan melakukan apa pun... Aku bisa berhenti dari pekerjaan papa, aku bisa melepas pakaianku, bahkan kalau harus bercinta pun... aku akan melakukan apa pun yang kamu mau. Karena aku mencintaimu...”
“K-kamu... bukannya kamu bilang kamu nggak akan berhubungan dengan siapa pun selain orang yang kamu sukai...? Jadi kenapa kamu bisa sampai segampang ini membiarkan sesuatu seperti ini cuma demi dibutuhkan olehku—”
“—Aku nggak akan membiarkannya!”
Emosi Shizune yang tertahan meledak dan menelan kata-kataku.
“...Karena aku suka pada Shinsuke...! Jadi sekalipun itu seks, kalau denganmu, aku nggak apa-apa...!”
Suara yang awalnya keras itu mulai bergetar di tengah, lalu perlahan melemah sampai nyaris lenyap.
“...Bahkan kalau cuma untuk melampiaskan hasrat seksualmu, aku nggak masalah... Bentuknya bagaimana pun, aku ingin membantu kamu... Aku mencintaimu sampai segitunya...”
Sambil mati-matian menahan air mata, dia memeras keluar kata-katanya perlahan, seolah sedang memuntahkan perasaan terdalamnya.
Sebenarnya, sejak lama aku sudah merasakannya. Shizune punya perasaan padaku.
Namun, meskipun begitu, aku tetap merasa bahwa pada dasarnya itu bukan cinta yang murni tertuju padaku, melainkan ilusi dari keterikatan dan ketergantungan yang dia bentuk padaku. Itu bukanlah hal yang sama dengan jatuh cinta.
Jadi apakah ini benar-benar cinta yang tulus, atau hanya ilusi yang lahir karena dia tidak ingin kehilangan objek tempat bergantungnya—aku belum bisa menentukan jawabannya sekarang.
Apa pun jawabannya, satu hal sudah jelas: keadaan Shizune sekarang bukanlah keadaan yang sehat.
Aku tidak tahu apa pemicunya, tapi satu hal pasti, Shizune ingin dibutuhkan olehku, dan hasrat itu telah mengguncang ketenangan hatinya sampai dia bertindak nekat seperti ini.
“Sekarang kamu menghindariku karena kamu membenciku, kan? Shinsuke, kamu membenciku...?”
“Aku nggak membencimu. Kalau aku membencimu, aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk ke kamarku dari awal.”
Aku mengatakan itu untuk menenangkan Shizune.
“Nggak, bukan begitu. Kamu membiarkanku masuk ke kamarmu cuma karena kamu baik hati, kan?”
“Itu tidak...”
“Kalau begitu, bahkan kalau kamu melihat ini... bahkan kalau kamu melihat bekas self-harm yang paling kamu benci sekalipun, kamu masih akan berkata padaku bahwa kamu nggak membenciku?”
Shizune mengangkat pergelangan tangan kirinya tepat di depan mataku.
Di sana ada banyak sekali bekas sayatan yang dibuat sendiri.
Dari warna bekas lukanya yang memerah samar, aku bisa tahu bahwa dia sudah melakukan self-harm cukup lama. Tidak terlihat ada luka baru.
Namun, meski rasa sakitnya sudah lama hilang dan sekilas tidak terlalu mencolok, bekas-bekas itu tetap tinggal di kulit putihnya sebagai sisa masa lalunya yang rapuh.
“...Kegelisahanmu, kamu nggak bisa menyembunyikannya.”
Meskipun begitu melihat bekas luka di pergelangan tangannya aku langsung berusaha menahan emosiku, rupanya mataku tetap bereaksi tanpa sadar. Dan Shizune, dengan berlebihan, menangkap reaksi sekecil itu.
“A-aku...”
Pikiranku jadi kacau dan aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Seluruh tubuhku menegang, dan napasku tidak beraturan.
Kalau dipikir sekarang, aku sebenarnya tidak akan terlalu terkejut kalau tahu bahwa Shizune pernah melakukan self-harm. Bahkan mungkin... jauh di lubuk hati, aku sudah menduga bahwa suatu hari aku pasti akan melihat sesuatu seperti ini.
Mungkin suatu hari nanti aku memang akan tahu tentang luka-luka yang dibawanya, meski secara mental aku merasa sudah menyiapkan diri, ketika benar-benar berhadapan langsung dengannya, ternyata aku tetap tidak bisa tenang.
“Perempuan dengan bekas luka seperti ini... orang sepertiku memang tidak bisa dijadikan model.”
Shizune bergumam pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
“Kamu membenci perempuan seperti aku, kan? Kamu nggak mau ada hubungan apa pun dengan perempuan yang pernah menyayat pergelangan tangannya, kan...? Sebenarnya kamu memang ingin menghindariku, kan? Dari awal kamu memang selalu nggak suka padaku, kan...?”
Semakin banyak kata yang dia keluarkan, semakin panas nada suaranya.
“Orang yang cuma jadi beban... orang sepertiku memang nggak dibutuhkan, kan...!?”
Dia memuntahkan seluruh rasa sakit yang selama ini terkubur dalam dirinya.
“...Aku benar-benar berharap bisa bertemu denganmu lebih cepat.”
Shizune berjongkok, memeluk lututnya, dan menundukkan kepala.
Kalau pertemuan kami terjadi lebih awal pada masa ketika kondisi Shizune masih lebih stabil mungkin aku bisa menopangnya saat itu.
“Kenapa kepribadianku jadi seperti ini...? Kenapa bagian dalam diriku serapuh ini?”
Tak lagi mampu menahan emosinya, Shizune mulai terisak, bahunya bergetar.
Seolah mencoba menghentikan darah yang tak ada, dia mencengkeram erat pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanan.
Walaupun mungkin terdengar tidak bertanggung jawab, aku tetap ingin menyelamatkan Shizune yang sekarang terlihat seakan bisa runtuh kapan saja. Seolah ditarik sesuatu, tanganku terulur ke arah bahunya.
“Sudah cukup, jangan paksa dirimu untuk bersikap lembut padaku lagi...!”
Ini adalah pertama kalinya aku ditolak langsung oleh Shizune.
Dia menepis tanganku, menatap ekspresiku selama beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajah ke bawah seolah ingin melarikan diri dari kenyataan.
“...Karena kamu terlalu baik makanya kamu menerimaku, kan? Tapi di dalam hatimu, kamu sebenarnya sangat membenciku, kan?”
“Aku nggak pernah memikirkan hal seperti itu sama sekali...”
“Jangan bohong. Kebohongan yang manis itu lebih menyakitkan daripada kebohongan biasa. Jangan katakan itu lagi... katakan saja perasaanmu yang sebenarnya.”
Perasaan sebenarnya yang kupunya terhadap Shizune.
Memang benar, dulu aku sempat menghindarinya.
Namun tanpa sadar aku menumpang-tindihkan dirinya dengan mantan pacarku, lalu merasa aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, dan akhirnya membiarkannya masuk ke kamarku. Tak terasa, aku sedikit demi sedikit mulai menerima keberadaannya.
Sama seperti hari ini, bahkan ketika dia tidak datang ke kamarku secara tiba-tiba, aku merasa gelisah. Itu berarti, dalam setengah bulan sejak kami bertemu, Shizune perlahan sudah menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hariku.
Namun meskipun begitu, perasaan yang dulu pernah kumiliki juga tidak bisa langsung hilang begitu saja, sama seperti bekas luka di pergelangan tangannya.
Kalau harus bilang aku membenci Shizune belum sampai sejauh itu. Tapi fakta bahwa dulu aku pernah takut padanya juga tidak berubah. Dan kalau aku menutupi bagian itu, itu juga berarti aku berbohong.
“Kamu diam saja... berarti aku nggak salah, kan?”
“B-bukan begitu...! Aku nggak pernah membencimu...”
Mengatakan kebenaran secara jujur pada Shizune yang sekarang sedang emosional rasanya seperti menuangkan minyak ke atas api.
Lalu sebenarnya, dengan perasaan seperti apa aku membiarkannya masuk ke kamarku?
Seolah sedang melakukan amal, atau seperti menemukan kucing terlantar, dengan alasan egois dan gegabah aku membujuk diriku sendiri bahwa aku tidak bisa membiarkan Shizune sendirian, lalu membangun hubungan dengannya.
Aku menjalani hari-hari bersama Shizune sambil berpura-pura lembut dan perhatian, tapi pada akhirnya justru mendorongnya sampai ke batas ini.
“Kalau kamu kembali bersikap baik padaku, aku nggak akan bisa kembali lagi. Jadi... sudah cukup...”
Seindah apa pun aku mencoba membungkusnya dengan kata-kata, kenyataannya aku memang tidak bisa terus menahannya di sisiku.
Air mata membasuh makeup Shizune, membuat ekspresinya makin terpelintir.
Aku sama sekali bukan orang yang baik.
Pada akhirnya, semua keterlibatanku dengan Shizune cuma demi kepuasan diriku sendiri.
“Shinsuke, maaf... aku benar-benar minta maaf...”
Permintaan maaf Shizune menancap dalam di salah satu sudut hatiku.
Dia perlahan berdiri, mengenakan kembali pakaiannya, membereskan sedikit barang bawaannya, lalu berjalan menuju lorong.
“...Aku sebaiknya pulang sekarang. Hari ini... sampai barusan pun, aku sudah sangat merepotkanmu.”
Di ambang pintu, Shizune sempat menoleh sebentar dengan senyum paksa di pipinya yang masih basah.
Aku berdiri dan mencoba meraih tangannya, tapi dia berpura-pura tidak melihat, lalu meninggalkan ruangan.
Saat aku melirik jam dinding, waktu keberangkatan kereta terakhir sudah lama lewat.
Kalau sekarang aku bergerak, mungkin aku masih bisa menghentikan Shizune. Tapi begitu mengingat ekspresi yang dia tunjukkan saat pergi, aku justru ragu dan tidak tahu apakah aku benar-benar harus mengejarnya.
“Huu... huu...”
Ruang utama yang beberapa menit lalu begitu ribut, kini hanya diisi suara dengkuran Hirofumi yang samar-samar terdengar.
Pemandangan ini mengingatkanku pada masa sebelum aku bertemu Shizune, dan entah kenapa terasa nostalgia.
Namun sekarang, tanpa dirinya di ruang utama ini, yang kurasakan justru penyesalan yang luar biasa besar, dan suasananya terasa muram sekali.
☆
Jangankan mencuci piring, mandi pun tidak kulakukan. Aku langsung tidur begitu saja.
Saat Hirofumi membangunkanku, jarum jam sudah menunjuk pukul sebelas siang keesokan harinya.
Begitu aku bangun, dia langsung bertanya, “Shizune-chan pulang kapan?” Tapi aku benar-benar tidak ingin menyentuh topik itu sekarang, jadi aku hanya menutupinya dengan senyum kaku.
Kalau ini Shizune yang dulu, bahkan kalau dia harus pulang naik kereta terakhir, keesokan paginya dia tetap akan datang ke interkom kamarku sambil membawa bekal. Tapi hari ini, tidak ada tanda-tandanya sama sekali.
Mungkin sebentar lagi dia akan muncul lagi. Aku berpegangan pada harapan dangkal itu, tapi tampaknya harapan itu tidak akan terkabul.
Tak lama kemudian, Hirofumi juga meninggalkan apartemen. Tinggallah aku sendirian di kamar.
Hari ini hari Sabtu. Tidak ada kuliah, dan aku juga tidak ada jadwal kerja part-time.
Biasanya, aku akan segera menyelesaikan pekerjaan rumah lalu memakai sisa waktuku untuk latihan ilustrasi. Tapi hari ini, aku benar-benar tidak punya semangat untuk melakukannya.
Bahkan saat pen tablet sudah kupegang dan aku menatap layar LCD di depanku, tanganku sama sekali tidak mau bergerak.
Kalau dalam keadaan seperti ini, jelas aku tidak akan bisa berlatih dengan baik. Jadi aku memutuskan untuk sekadar mencoret-coret sketsa sembarangan di sketchbook, seperti waktu membuat doodle di pinggir buku catatan saat jam pelajaran.
Sambil memegang pensil, aku mengetuk-ngetukkan ujung grafitnya ke tepi sketchbook.
Dan hal pertama yang muncul dalam benakku justru wajah Shizune.
Dengan sosoknya di kepala, aku mulai menggambar asal, tapi kali ini garis-garisnya malah jauh lebih lancar dari biasanya. Entah sejak kapan, doodle itu berubah jadi ilustrasi yang benar-benar kugarap serius.
Semakin gambar itu mendekati selesai, semakin kuat pula kekhawatiranku tentang Shizune.
Sekarang dia sedang di mana, dan sedang apa?
Padahal baru beberapa jam sejak kami berpisah, tapi aku terlalu memikirkan keadaannya.
“...Aku nggak bisa memperlihatkan hal seperti ini pada Shizune.”
Aku memandangi ilustrasi yang sudah selesai itu lalu bergumam.
Tanpa sadar, aku mengangkat wajah dan melihat ke luar jendela. Langit tampak dilapisi warna biru kehitaman pucat seperti baru dicat ulang.
Pada akhirnya, hari itu Shizune tetap tidak datang ke apartemen, bahkan setelah kereta terakhir lewat.
☆
Hari Minggu. Hari ini pun Shizune tidak muncul di hadapanku.
Meski suasana hatiku begitu berat sampai aku sendiri tidak ingin keluar rumah, hari ini aku tetap harus bekerja.
Sebelum meninggalkan apartemen, aku sempat mengirim pesan lewat ponsel: “Kamu sekarang ada di mana?” Setelah itu, aku berangkat ke minimarket.
“Oh, Shinsuke, kamu hari ini telat.”
“Cuma dua menit.”
Begitu masuk ke ruang staf, Chitose menyapaku sambil melambaikan tangan. Aku menunduk singkat, menekan kartu absensi, lalu mulai mengganti pakaian dengan seragam kerja.
“Kita harus mulai sebentar lagi.”
Begitu selesai bersiap ke area kasir, Chitose sempat berpamitan lalu memegang gagang pintu.
“...Hmm.”
Chitose menatap lurus ke mataku, lalu tiba-tiba melepaskan tangannya dari pintu.
“...? Ada apa?”
“Nggak, cuma... ya, begitulah.”
Dia mendekat, lalu menjepit wajahku dengan kedua tangannya.
“Hehe! Muka kamu aneh banget.”
“Itu karena...”
“Karena kamu nggak bisa menahan diri untuk jatuh cinta padaku, ya?”
“Ini karena kamu sedang menekan mukaku!”
Aku menepis tangan Chitose sambil berteriak membetulkan ucapannya.
“Yah, lumayan, aku tadi sempat berharap.”
“Mana mungkin bisa begitu? Lagian timing-mu juga aneh, aku sebentar lagi mulai kerja.”
“Ya karena... kamu kelihatannya lagi lesu banget, Shinsuke.”
Dia memiringkan kepala sambil mengamati ekspresiku.
Benar-benar, teman masa kecil memang menakutkan. Mau tak mau aku harus mengakui itu.
“Hari ini barang kiriman sepertinya sedikit. Kita selesaikan kerjaan cepat ya. Nanti aku dengar keluh kesahmu.”
Setelah berkata begitu, Chitose membalikkan badan dan berjalan lebih dulu.
“...Aku benar-benar minta maaf soal semuanya.”
“Nggak apa-apa. Lagian aku ini kakakmu.”
Walaupun biasanya dia bertingkah seenaknya, Chitose hari ini terasa sedikit lebih serius dari biasanya. Sosoknya terlihat sangat bisa diandalkan.
Semakin malam, jumlah pelanggan perlahan-lahan berkurang.
Saat hari kerja, memang tidak banyak pelanggan yang baru pulang kerja atau sekolah datang ke jam-jam malam begini. Mungkin karena semua orang ingin cepat-cepat beristirahat sebelum memulai minggu kerja lagi, toko jadi lebih sepi dari biasanya.
“Jadi, gimana?”
Setelah sebagian besar pekerjaan kami selesai, aku dan Chitose berdiri berdampingan di dekat kasir sambil mengisi ulang display rokok, lalu mengobrol.
“Shizune sama sekali nggak datang ke apartemen lagi.”
Aku langsung mengatakannya tanpa memutar. Sambil membuka kardus kemasan, Chitose menjawab santai dengan nada “heh” setengah hati.
“Sejak kapan?”
“Jumat malam larut... nggak, tepatnya setelah lewat tengah malam.”
“Itu sih belum lama sama sekali.”
Kalau dilihat dari sudut pandang orang luar, itu memang belum terlalu lama, dan belum sampai tahap yang harus terlalu dikhawatirkan. Namun situasi Shizune berbeda.
Sejak hari kami menjadi teman, dia selalu datang ke kamarku pagi dan malam tanpa pernah absen, tapi sekarang tiba-tiba menghilang.
Terakhir kali aku melihatnya, emosinya sangat tidak stabil. Sejak itu, dia bahkan tidak pernah menghubungiku sekali pun.
“Waktu kamu terakhir melihat Shizune, ada hal yang menurutmu mencolok?”
“Dia bilang cukup banyak hal. Kayak ‘Kamu benci aku, kan?’, ‘Kamu pasti nggak mau berhubungan dengan gadis gloomy seperti aku’, ‘Kamu nggak membutuhkan aku’, dan semacamnya.”
Aku mengingat lagi kata-kata Shizune, lalu menyampaikannya pada Chitose. Begitu mendengarnya, Chitose mengangguk pelan, seolah langsung memahami beratnya situasi itu.
“Shizune hari Jumat itu berbeda dari biasanya. Dia nggak datang ke kamarku pagi-pagi, malamnya datang lebih telat dari biasanya, dan entah kapan, dia sempat pergi bersama Hirofumi... lalu yang paling besar, pakaiannya juga berbeda.”
“Pakainya berbeda?”
“Dia pergi belanja baju dengan Hirofumi waktu aku lagi kerja. Tapi bukan gaya landmine seperti biasanya, melainkan gaya yang justru mirip dengan style pribadimu. Dan dia datang ke kamarku dengan baju itu.”
“Kelihatannya dia benar-benar sedang gelisah dan berusaha keras.”
“Berusaha keras...?”
“Bagi Shizune, melepaskan sesuatu yang dia sukai seperti gaya landmine itu bukan hal yang gampang. Itu menunjukkan tekadnya yang besar.”
Gaya landmine itu adalah sesuatu yang memang disukai Shizune.
Artinya, demi diriku, dia benar-benar memutuskan untuk mengubah dirinya.
Tapi tunggu... bagaimana mungkin Shizune bisa tahu soal ketidaksukaanku pada gaya landmine, dan juga trauma psikologisku terhadap gadis gloomy?
“Oi, Shinsuke.”
“...?”
Chitose menghentikan pekerjaannya lalu memanggilku dengan nada serius.
Aku pun mengangkat wajah dan bertatapan dengannya.
“Sebenarnya kamu ingin Shizune menjadi orang seperti apa?”
Nada dan tatapannya membuatku bergidik. Rasanya ini mungkin pertama kali aku melihat Chitose seserius ini.
“Maksudmu...?”
“Aku cuma khawatir soal gadis itu. Jadi, bagaimana sebenarnya rencanamu?”
“Tentu saja... sama seperti sebelumnya...”
“Sama seperti sebelumnya, yaitu memperlakukannya sebagai teman biasa, membiarkannya bantu pekerjaan rumahmu... lalu menurutmu itu akan menyelamatkannya? Benarkah itu yang kamu inginkan? Mau sampai kapan kamu membiarkan semuanya seperti ini?”
Kalau aku cuma ingin memberi Shizune tempat berlindung sementara, itu sebenarnya cukup sederhana.
Tapi pada akhirnya, itu tetap cuma langkah sementara, sekadar tambal sulam.
Menerimanya hanya sebagai teman biasa juga punya batasnya sendiri.
Meski aku bilang begitu, tetap saja aku bersimpati pada Shizune dan mengulurkan tangan secara ceroboh. Itu egois sekali, bahkan bisa dibilang munafik.
“Kebaikan yang setengah-setengah itu juga bentuk ketidakbertanggungjawaban.”
Memang tidak ada istilah lain yang lebih tepat.
“Kalau kamu bersikap baik, orang pasti akan berterima kasih. Tapi kebaikan itu pun ada batasnya. Begitu melewati garis tertentu, ia berubah jadi sesuatu yang kejam. Kecuali kamu memang berniat tetap di sisi orang itu sampai akhir.”
Kalau seseorang terus disiram kebaikan lalu tiba-tiba itu berhenti di tengah jalan, maka orang itu akan kehilangan tempat bertopang.
Dan pihak yang tadinya terus menyalurkan kebaikan itu pun akan dihantui rasa bersalah, lalu makin tersiksa.
“Terus terlibat dengan gadis itu... mungkin memang sebaiknya tidak.”
Chitose mengatakannya dengan jelas.
Kalau didengar sekilas, kalimat itu memang terdengar dingin. Tapi itu sama sekali tidak keluar dari niat jahat. Justru karena dia benar-benar mengkhawatirkanku, dia bisa berbicara setegas itu.
“Sebenarnya kamu mengharapkan apa dari Shizune, atau jangan-jangan kamu sendiri juga nggak mengharapkan apa-apa... Sampai sekarang aku masih nggak ngerti kenapa kamu begitu memikirkan seorang gadis gloomy seperti dia.”
Karena trauma masa lalu, selama ini aku memang selalu menghindari perempuan seperti Shizune. Jadi kenapa sekarang aku bisa berinteraksi dengannya secara begitu alami? Bahkan aku sendiri tidak tahu jawabannya.
“Sekarang Shizune sudah sepenuhnya bergantung padamu. Dia menempel padamu seperti satu-satunya penyelamat, dan siapa pun bisa melihat itu... Kamu nggak lupa, kan? Waktu SMA dulu, kamu sudah menderita gara-gara terlibat dengan tipe gadis seperti ini. Kalau terus begini, bukankah hasil akhirnya akan sama lagi?”
Apa yang dikatakan Chitose memang masuk akal.
Di dalam rangkaian interaksiku yang terus berlanjut dengan Shizune, sebenarnya apa yang kucari? Kenapa aku begitu peduli pada gadis yang berpakaian landmine dan memiliki bekas self-harm itu?
Kalau aku terus hidup bersama Shizune seperti sebelumnya, ujungnya itu hanya akan semakin menyakitinya.
Dan kalau Shizune jatuh semakin dalam, aku pun akan ikut terseret, lalu terciptalah lingkaran buruk yang terus berulang.
Demi melindungi diri, dan yang paling penting, demi dirinya juga, mungkin memang lebih baik hubungan ini diakhiri di sini.
Aku tidak mengerti pikiranku sendiri, dan bahkan tak mampu menghadapi situasi sekarang dengan benar.
Kepalaku terus berputar-putar, mencari jawaban yang rasanya memang sejak awal tidak ada.
Namun meski begitu, aku tidak mungkin bisa menemukan jawabannya di tempat ini, saat ini juga.
Setelah selesai bekerja dan kembali ke apartemen, aku tetap terus memikirkannya sendirian.
☆
Hari Senin. Pagi datang, sama seperti kemarin.
Setelah pulang kerja tadi malam, aku tetap tidak bisa menemukan Shizune, dan dia juga tidak datang ke apartemen.
Pesan-pesan yang kukirim ke ponselnya tidak dibalas, bahkan tidak dibaca.
Dari saat aku bangun sampai aku meninggalkan kamar, dia tetap tidak muncul. Dengan lemah aku cuma memanaskan frozen food seadanya untuk sarapan, lalu pergi ke kampus lebih pagi dari biasanya.
Sebelum bertemu denganku, Shizune memang selalu datang ke kampus pagi-pagi sekali, karena dia berusaha meminimalkan waktu yang dihabiskannya di rumah. Dia akan bertahan di luar sampai larut malam.
Kalau aku berkeliling kampus pagi-pagi begini, mungkin aku bisa menemukan Shizune. Dengan pikiran itu, aku mulai mendatangi tempat-tempat yang mungkin dia kunjungi satu per satu.
Mungkin Shizune memang tidak ingin bertemu denganku. Atau mungkin dia memang sudah tidak membutuhkan aku lagi. Tapi bagaimanapun, aku tetap ingin memastikan dia sekarang sedang bagaimana.
Namun kenyataan tidak berjalan semulus itu. Sampai mendekati jam masuk kelas kedua, aku tetap belum menemukan hasil apa pun. Akhirnya aku menyerah dan masuk ke kelas.
“Shinsuke, sini, sini!”
Begitu aku masuk ke ruang kelas, Hirofumi yang sudah mengambil dua kursi di barisan belakang langsung melambaikan tangan ke kanan-kiri secara mencolok untuk memanggilku.
Tatapan banyak mahasiswa langsung tertuju padanya. Aku sempat bimbang apakah harus pura-pura tidak kenal, tapi rasanya sekarang sudah terlambat. Dengan pasrah aku berjalan ke kursi di sebelahnya.
“Kamu kenapa? Mukamu... kayak orang lagi dikejar sesuatu!”
“Eh, apa...?”
“Ekspresi mukamu! Begitu mendesaknya sampai orang mana pun pasti mengira ada sesuatu yang terjadi!”
“Kurasa maksudmu ‘cemas’.”
Apa aku memang tipe orang yang segampang itu menunjukkan semuanya di wajah? Tadinya aku bahkan sudah berusaha mengatur suasana hati agar Hirofumi tidak mengkhawatirkanku, tapi ternyata tetap ketahuan secepat ini...
“Pagi ini kamu ketemu Shizune?”
“...Nggak.”
“Berarti memang ada masalah antara kamu dan Shizune.”
Hirofumi mengangkat kaki ke kursi, lalu menopang dagunya dengan ujung jari.
“Cerita.”
“Tapi sekalipun aku membicarakannya denganmu, toh itu nggak akan mengubah apa-apa.”
“Kamu bodoh, ya? Kalau soal masalah cowok-cewek, kamu memang harus mempertimbangkan pendapat banyak orang dulu sebelum bisa menarik kesimpulan yang wajar!”
Padahal aku sendiri nggak ingat pernah bilang kalau ini soal pertengkaran laki-laki dan perempuan.
Meski begitu, memang benar juga bahwa aku tidak akan ke mana-mana kalau terus memikirkan semuanya sendirian.
Sekarang aku bahkan tidak bisa lagi mempercayai pikiranku sendiri, dan aku juga tidak bisa begitu saja menerima semua saran Chitose.
Hirofumi termasuk sedikit orang yang tahu bagaimana hubunganku dengan Shizune, jadi mungkin bicara dengannya bukan pilihan yang buruk.
Melihat dosen mulai masuk ke kelas, aku bilang pada Hirofumi bahwa kami akan bicara saat jam makan siang.
Kuliah kedua berlalu tanpa aku bisa benar-benar berkonsentrasi. Aku mencoret-coret sudut buku catatan dengan gambar tak jelas, dan tanpa sadar waktu pun habis.
Begitu keluar dari ruang kelas, aku dan Hirofumi pindah ke kafetaria lalu duduk berhadapan di meja berempat.
Di sana, aku menceritakan semuanya padanya—dari kejadian hari Jumat sampai hari ini, termasuk semua kekhawatiran yang sekarang memenuhi kepalaku.
“Begitu.”
Hirofumi menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengernyit.
“Kalau diringkas, kamu lagi bingung apakah sebaiknya hubunganmu dengan Shizune tetap dilanjutkan atau nggak... begitu, kan?”
“Iya...”
“Kamu sendiri ingin mempertahankan hubunganmu dengan Shizune-chan?”
“Aku ingin... kurasa.”
“‘Kurasa’ apanya. Kamu ini ragu-ragu banget.”
“Aku sendiri belum sepenuhnya paham perasaanku.”
“Mm... yah, sepertinya Shizune-chan juga mungkin sedang khawatir soal hubungannya denganmu, sama seperti kamu sekarang.”
Hirofumi menyilangkan tangan, tampak tenggelam dalam pikirannya.
“Waktu kami pergi belanja baju kemarin, dia memang sempat bilang juga. Kelihatannya dia benar-benar memikirkan hubungannya denganmu. Misalnya kayak, ‘Shinsuke nggak suka baju bergaya landmine, jadi setidaknya aku ingin mulai dari mengubah penampilan,’ terus juga ‘Kalau hubunganku dengan Shinsuke diteruskan seperti ini, bisa-bisa aku malah menyakitinya’... ya, hal-hal semacam itu.”
Mendengar sebagian percakapan antara Shizune dan Hirofumi yang sebelumnya tidak pernah kudengar, aku sekali lagi sadar bahwa dia ternyata memikirkan hal yang sama sepertiku.
“Ya... ini memang bukan masalah yang bisa selesai cuma dengan kamu curhat ke aku. Mau bagaimana hubungan kalian berdua ke depannya... pada akhirnya ya harus diputuskan sendiri oleh kalian berdua.”
“Kurasa begitu.”
“Tapi kalian bahkan nggak bisa saling menghubungi? Aku sih memang sudah tukeran kontak dengannya, tapi kupikir aku bakal diabaikan juga... Kamu sendiri sudah coba telepon, bukan cuma kirim pesan?”
“Aku sudah telepon dua kali, tapi nggak diangkat...”
“Jangan-jangan kamu diblokir?”
“Kalau itu yang terjadi, ya benar-benar game over...”
Kalau aku diberi penolakan seterang itu, aku memang tidak punya pilihan selain menyerah.
Melihatku mengeluarkan ponsel dari saku, Hirofumi berkata, “Coba kulihat.” Sesuai permintaannya, aku membuka LINE dan menunjukkan chat-ku dengan Shizune.
“Oke... bentar ya... ya? Dari yang kulihat sih, kamu belum diblokir.”
“Jadi dia sengaja mengabaikan pesan dan teleponku?”
Shizune memang tidak punya teman di kampus selain kami. Jadi kalau aku ingin menghubunginya lewat orang ketiga, itu pun sulit. Sekalipun aku ingin bicara baik-baik dengannya, kalau aku bahkan tidak bisa menjangkau dia, aku tak bisa melakukan apa-apa.
Mungkin pilihan terbaik adalah menunggu dia menata perasaannya lebih dulu. Tapi aku tidak tahu berapa lama situasi buntu ini akan berlangsung.
Kalau besok ada kuliah etika, kemungkinan besar kami akan bertemu. Tapi kalau Shizune sendiri memang tidak ingin bicara langsung, rasanya juga memalukan kalau aku memaksakan keinginanku.
Lagipula, apakah Shizune benar-benar akan datang ke kelas etika?
Bagi Shizune, kampus selama ini memang sekadar cara agar dia tidak perlu menghabiskan waktu di rumah. Sangat tidak pasti apakah dia akan benar-benar datang ke kelas yang sama denganku.
“Shizune... semoga dia baik-baik saja.”
“Kamu ini ayahnya atau apa? Kalau kamu terlalu melindunginya, dia nggak akan pernah bisa berdiri sendiri, tahu? Shizune-chan itu sudah dua puluh tahun, dan kamu terlalu khawatir.”
“Tapi... bagaimana kalau dia malah kembali ke perilaku merusak dirinya sendiri...”
Saat emosinya goyah, tindakan Shizune sama sekali tidak bisa ditebak.
Kemungkinan dia kembali ke kebiasaan merusak diri sendiri atau self-harm sangat besar. Dalam skenario terburuk, dia bahkan bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi.
“Kamu benar-benar sudah tergila-gila pada Shizune-chan. Ke mana perginya prinsipmu yang nggak butuh pacar itu?”
“Aku nggak melihat Shizune seperti itu...”
“Oh, ayolah! Kamu cuma cari-cari alasan! Serius deh, dari sudut pandangku yang bebas dari semua beban itu, ngelihat kamu sekarang saja sudah bikin aku iri karena kamu cuma memikirkan dia terus!”
Hirofumi menutup telinganya dengan kedua tangan lalu menggelengkan kepala dengan heboh.
“...Serius, akui saja, kan? Mau kamu bilang apa pun, pada akhirnya kamu cuma sedang berputar-putar cari alasan, padahal semua ini intinya cuma satu, yaitu kamu suka sama Shizune-chan!”
“Kamu terlalu fokus ke cinta.”
“Kalau dia memang orang yang dari awal nggak kamu pedulikan, kamu nggak bakal segini repotnya, kan?”
Apa yang dikatakan Hirofumi bisa kupahami, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya.
Aku tidak punya perasaan romantis pada Shizune.
Kalau memang punya, seharusnya waktu dia datang dengan pakaian yang bukan gaya landmine itu, aku pasti sudah menerimanya dengan jujur. Dan jantungku juga pasti akan... berdebar lebih kuat.
“Oh ya!”
Tiba-tiba Hirofumi menepukkan kedua tangannya lalu mengeluarkan ponsel.
“Jangan bilang kamu menemukan ide jenius?”
“Belum bisa dibilang jenius juga sih. Tapi kalau tujuannya cuma ingin memastikan situasinya sekarang... mungkin kita bisa melihat apakah dia kembali melakukan kegiatan ‘papa’ atau tidak. Nih, lihat. Kamu memang harus selalu memperhatikan gadis-gadis imut.”
Hirofumi mengangkat layar ponselnya ke depan wajahku.
Di sana terbuka sebuah akun Twitter.
“Ini akun Shizune...?”
“Nama dan @-nya memang sudah diubah, dan semua tweet lamanya sudah dihapus, tapi ini pasti akun yang dulu dipakai Shizune untuk kegiatan ‘papa’.”
Akun Kotone yang dulu dipakai untuk papa-katsu itu sekarang didaftarkan ulang dengan nama asli Shizune.
Foto profilnya pun sudah bukan lagi foto Shizune berambut hitam memakai seragam sailor, melainkan selfie Shizune dalam penampilan aslinya: rambut putih dan outfit landmine-kei.
“Oke, lihat sini.”
Hirofumi menaruh ponsel itu di meja, lalu menyerahkannya padaku untuk kuoperasikan sendiri.
“Nggak ada tweet sama sekali... ya?”
Dilihat dari timeline-nya, rasanya mustahil memastikan keadaan Shizune dari sini.
Saat ini dia juga tidak follow siapa pun.
Namun, akun itu punya satu follower.
Aku membuka daftar follower untuk melihat detail akunnya.
“Um... ‘Tokyo Chuka University Outdoor Club - Yuton’...?”
Rasanya aku pernah mendengar nama itu, tapi aku tidak langsung bisa mengingat dari mana.
Ada sesuatu yang penting di ujung pikiranku, seperti sedang menarik-narikku.
“Kamu tahu klub ini, Hirofumi?”
“Hm...? Ah, tahu, tahu. Yuton, itu kan klub minum yang cukup terkenal di Chuka University? Ketua klubnya itu kakak tingkat Hoshimiya.”
“Hoshimiya...?”
“Orang itu, yang tahun lalu peringkat empat di kontes kecantikan!”
“Nggak, aku benar-benar nggak kenal. Siapa itu? Tunggu...”
Hoshimiya, tingkat tiga, peringkat empat kontes kecantikan, ketua klub minum potongan-potongan informasi itu kembali bermunculan di kepalaku, dan aku mati-matian mengaduk ingatan.
“...”
Setelah itu, keringat dingin langsung mengucur di tubuhku.
“Oi... ada apa sama kamu?”
“Nggak, bukan apa-apa... harusnya bukan apa-apa...”
Sebuah firasat yang menjijikkan, firasat yang sama sekali tidak ingin kubayangkan, berlari di sekujur tubuhku.
Dengan ujung jari gemetar, aku menyentuh layar dan membuka daftar like dari tweet akun itu.
“Shi... zune...?”
Aku sampai meragukan mataku sendiri.
Di antara sedikit akun yang muncul di layar, ada nama Shizune juga di sana.
Artinya, Shizune menunjukkan niat untuk ikut datang ke acara minum yang diadakan klub Yuton.
“Jadi Shizune-chan pergi ke acara klub minum? Yah, kalau begitu bukannya itu justru nggak buruk? Artinya dia nggak balik lagi ke pekerjaan papa, jadi sekarang kamu bisa tenang, kan?”
“Justru ini buruk! Dan aku sama sekali nggak bisa tenang!”
Aku langsung membentak dan menyangkalnya.
Hirofumi tampak terkejut oleh reaksiku yang tiba-tiba, lalu setelah melihat ekspresiku yang tidak biasa, dia pun mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Klub ini beberapa kali juga pernah mengajak Chitose. Dia bilang mereka suka mengundang cewek satu-satu, bikin mabuk, lalu bawa pergi secara paksa... klub jenis ‘cannon’ itu.”
Setelah memahami beratnya situasi, Hirofumi bergumam, “Serius...? Jadi memang seperti itu?”
Apakah Shizune datang ke acara minum itu dalam keadaan sudah tahu situasinya seperti itu? Ataukah dia pergi ke sana tanpa tahu apa-apa?
Aku mengambil ponselku sendiri dari meja lalu membuka Twitter.
“Shinsuke...? Jangan bilang kamu mau...?”
“Kurasa seperti yang kamu pikirkan. Aku akan like tweet itu dengan akunku, kirim pesan, lalu ikut masuk ke acaranya.”
“Kamu gila...!?”
Aku sendiri sangat sadar bahwa yang kulakukan ini gila.
Melihat Twitter orang diam-diam, lalu sampai kepikiran untuk menyusup ke acara mereka—apa pun sudut pandangnya, ini sama sekali bukan tindakan yang pantas dibanggakan.
Lagipula, sekalipun Yuton punya reputasi buruk, aku tetap tidak bisa memastikan bahwa Shizune pasti benar-benar akan berada dalam bahaya di sana.
Tapi kalau melihat kondisi Shizune sekarang... aku tidak bisa hanya diam dan tidak melakukan apa-apa.
“Aku tahu betul ini sudah jauh melampaui batas ikut campur, dan aku tahu aku sudah keterlaluan. Tapi aku ingin bertemu Shizune secepat mungkin dan bicara dengannya dengan benar.”
“Haaah... ya sudahlah. Kurasa... memang seharusnya begitu.”
Hirofumi menggaruk kepalanya kasar-kasar lalu melihat ponselnya.
“...Kalau begitu, biar aku saja yang menghubungi mereka dengan akunku.”
“Hah... kamu bisa...? Tapi kenapa?”
“Kalau akun dengan follower 8.000 langsung bereaksi pada tweet klub cannon seperti itu, itu malah aneh. Kalau kamu bikin akun baru buat mendekati mereka, mereka juga bakal curiga. Jadi lebih aman kalau aku yang mendekati pakai akun biasa, mereka pasti bakal membalas tanpa banyak waspada.”
“Sungguh nggak disangka kamu mau bantu sampai sejauh ini... jujur aku cukup terkejut.”
“Shinsuke, setelah semua yang biasanya kamu lakukan buatku, punya teman seperti kamu itu benar-benar luar biasa. Nggak gampang menemukan orang yang mau bantu seperti ini saat kita benar-benar butuh,” kata Hirofumi dengan nada tulus.
“Aku juga berpikir begitu. Teman yang mau bergerak saat kita butuh itu memang berharga.”
“Kalau nggak ada respons, kita keliling izakaya-izakaya dekat kampus satu per satu.”
“Iya. Kalau memang begitu, nanti aku mengandalkanmu. Sebagai terima kasih, habis ini aku traktir makan.”
“Aku maunya yakiniku. Kalau terlalu mahal, kita bikin pesta bakar daging saja di rumahmu, Shinsuke.”
“Yang penting dulu semuanya selesai dengan aman.”
“Kalau begitu aku sekarang sudah 90% yakin bakal ditraktir!”
“Percaya diri sekali.”
“Karena ada satu rencana pamungkas yang kalau dijalankan hampir pasti berhasil.”
Senyum Hirofumi yang tanpa takut itu untuk pertama kalinya benar-benar memberiku rasa bisa percaya.
“...Tapi Shinsuke, sebelum kamu benar-benar bergerak, boleh aku tanya satu hal?”
“Apa? Tanya saja.”
“Kamu sendiri kan nggak pandai berurusan dengan cewek seperti Shizune-chan. Dan meskipun hubungan kalian sekarang sudah sedalam ini, kamu tetap bilang nggak punya perasaan romantis padanya.”
Sambil menatap lurus ke mataku, Hirofumi kembali mengajukan pertanyaan yang sangat lugas itu.
“Kalau begitu, kenapa kamu sampai secemas ini dan mau bertindak sejauh ini demi Shizune-chan?”
Aku tidak langsung menjawab. Beberapa detik aku terdiam.
Namun, setelah menenangkan diri dan memikirkannya, rasanya seperti menggali bagian terdalam dalam hatiku sendiri, dan perlahan jawaban itu mulai muncul ke permukaan.
Karena trauma masa lalu, selama beberapa tahun aku benar-benar menghindari perempuan yang berpakaian seperti Shizune dan memiliki bekas self-harm. Tapi rasa tidak nyamanku pada Shizune perlahan memudar, dan keberadaannya mulai terus-menerus menempati pikiranku.
Mungkin... tidak, sejak awal aku memang sudah salah memahami semuanya.
Sekarang setelah sampai sejauh ini, akhirnya aku sadar alasan yang jelas kenapa aku ingin terus terhubung dengannya.
Alasan itu dari awal sebenarnya sangat sederhana, dan justru setelah kusadari, malah terasa agak anticlimax.
“Karena gadis itu... Shizune membutuhkan aku.”
Gadis dengan berbagai masalah tersembunyi itu, Kotosaka Shizune, membutuhkan diriku. Dan aku cuma ingin menanggapi perasaannya itu dengan benar, secara langsung.