Fashion “landmine-style” kadang juga disebut “menhera fashion”, dan konsep dasarnya adalah “imut yang gelap/patologis.”
Secara umum, warna utamanya adalah hitam, tapi bisa juga dipadukan dengan putih, pink, merah, ungu, dan warna-warna lain.
Salah satu ciri khas makeup-nya adalah area sekitar mata yang dibuat kemerahan, seolah-olah habis menangis. Untuk aksesori, mereka juga sering memakai sepatu bersol tebal, anting dengan desain unik, dan liontin.
Ada juga gaya serupa yang disebut “mass-produced”. Hanya saja, perbedaan antara keduanya memang tidak terlalu jelas. Bedanya, gaya mass-produced biasanya lebih identik dengan warna putih dan pink sebagai warna utama.
“Aku nggak nyangka kamu bakal seantipati itu sama gaya landmine.”
Di kafetaria saat jam makan siang, Hirofumi duduk di seberangku sambil melahap seporsi kari ukuran besar. Mengingat percakapan kami dua mata kuliah yang lalu, tiba-tiba dia berkata begitu.
“Yah, tipe kayak gitu juga nggak jelek sih, tapi cewek yandere juga mantap, tahu. Coba deh pikir, kalau pacaran sama cewek yandere, dia bakal sepenuh hati cuma mencintai aku doang. Bukannya itu super membahagiakan?”
“Menurutku kenyataannya nggak sesederhana itu.”
Mendengar pemikiran Hirofumi yang dangkal, wajahku sampai berkedut.
Hirofumi seharusnya juga paham bahwa mereka disebut “landmine” justru karena bukan tipe yang gampang diajak terlibat.
“Ngomong-ngomong, Hirofumi, kamu kelihatannya kelewat tertarik ke semua jenis cewek, ya. Maksudmu kamu nggak punya tipe khusus, dan siapa pun boleh?”
“Bukan berarti siapa pun juga boleh, sih, tapi dibanding orang seumuran, mungkin jangkauan target romanku memang lebih luas. Soalnya kalau aku kelihatan lebih muda, aku bisa dekat sama anak SMA, dan kalau kelihatan lebih dewasa, aku bisa mendekati senpai.”
“Itu mah bukan sekadar ‘lebih luas’ lagi!”
“Asal bodinya seksi, umur bukan masalah buatku.”
“Kurasa kamu nanti nggak bakal kesulitan cari pasangan nikah...”
Aku memutar-mutar pasta dengan garpu. Dalam arti tertentu, aku memang sedikit kagum pada keterusterangan Hirofumi.
“Meski ngomong begitu, Shinsuke, kamu pasti punya tipe cewek yang kamu suka, kan? Soalnya tiap aku tanya, kamu selalu berhasil ngeles.”
“Kalau jujur sih... nggak ada tipe yang benar-benar spesifik.”
“Ayolah, bilang sesuatu. Kalau harus milih, kamu lebih suka orang yang kayak gimana? Pasti ada sedikit bayanganlah.”
“Meski kamu bilang begitu...”
“Oke deh! Pejamkan mata dan bayangin... misalnya...”
“Yaudah, aku turutin.”
Atas saran Hirofumi, aku menutup mata.
“Bawahan pakai short pants, atasannya hoodie agak kebesaran, gaya pakaiannya santai. Kalau keluar, dia selalu pakai topi...”
Aku mulai merangkai ciri-ciri yang dia sebutkan di dalam kepala.
“Rambut sepanjang bahu, kombinasi warna lingerie hitam sama teal. Terus, auranya agak dewasa, kayak onee-san gitu... gimana?”
“Yah, kalau ditanya suka atau nggak sama gaya kayak gitu, mungkin aku lebih condong ke suka... eh, bentar?”
Nada suara Hirofumi membuatku merasa ada yang aneh, jadi aku membuka mata dengan curiga.
“Oh sayang... keceplosan, ya.”
“Chitose, ngapain kamu ada di sini?”
Di hadapanku, Hirofumi berdiri dengan mulut penuh kari. Bukan cuma dia, ada juga seorang mahasiswi yang menirukan suaranya sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
“K-Kujou-senpai!?”
Setelah mulutnya akhirnya bebas, Hirofumi menoleh ke arahnya dengan kaget.
“Ah... tanganku kena kari. Shinsuke, bisa bantu jilat bersih nggak?”
“Mana mungkin aku bantu jilat...”
Sambil menggaruk kepala karena bingung, aku mengambil tisu dari baki udon-ku dan menyerahkannya padanya.
“Maaf nyelonong tiba-tiba. Soalnya obrolan kalian kelihatannya menarik banget, jadi aku nggak bisa nahan diri buat ikut nimbrung.”
“Bukannya aku sudah pernah bilang? Jangan ngajak ngobrol aku di kampus.”
“Kenapa? Dulu kamu panggil aku ‘Chii-san’, tapi sekarang malah pakai nama lengkap... ini semacam fase pemberontakan telat?”
“Aku cuma manggilmu ‘Chii-san’ sampai SD doang. Lagian aku nggak ngajak ngobrol bukan karena lagi memberontak, cuma aku malas jadi pusat perhatian...”
Dalam keseharianku, aku hampir nggak pernah melakukan hal yang mencolok atau berusaha menarik perhatian. Tapi keberadaan Kujou Chitose sendiri sudah cukup untuk menarik perhatian, dan itu ikut berdampak ke hidupku.
Dia adalah mahasiswi tahun ketiga Fakultas Hukum dan sudah setahun lebih dulu dariku sejak zaman TK. Kami selalu menempuh jalur yang sama, hanya fakultas di universitas saja yang berbeda.
Rumah kami juga cuma berjarak sekitar lima menit jalan kaki. Memang bukan hal aneh kalau teman masa kecil terus sekolah di tempat yang sama dari TK sampai SMA, tapi aku sama sekali nggak menyangka kami bakal berakhir di universitas yang sama juga.
Orang tua kami juga dulunya teman sekelas dan hubungan mereka sangat dekat, jadi kami tumbuh bersama seperti kakak-adik sungguhan meski tidak sedarah.
Chitose mulai tinggal sendiri sejak libur musim semi sebelum masuk kuliah. Kemampuanku untuk hidup mandiri sekarang juga banyak berhutang pada bantuan dan dukungannya.
Namun, meski tumbuh di lingkungan yang mirip, posisi kami benar-benar berbeda. Chitose tampaknya ikut berbagai klub olahraga sejak tahun pertama dan kedua, dan lingkaran pertemanan serta reputasinya di kampus juga sangat luas. Tahun lalu bahkan dia berhasil meraih peringkat tiga di kontes kecantikan universitas.
Kalau aku bicara dengan Chitose di tempat umum, mau orang di sekitar suka atau tidak, perhatian mereka pasti tertarik. Meskipun begitu, setiap kali dia melihatku di kampus, dia akan menggodaiku habis-habisan.
Sejak kontes kecantikan itu, Chitose punya cukup banyak fans. Memang kebanyakan mendukung, tapi ada juga beberapa yang ekstrem. Bahkan ada orang yang menangis iri saat tahu kalau kami itu teman masa kecil.
“Sial... dasar bajingan, berani-beraninya ngobrol akrab sama Kujou-senpai di depan mataku...”
Dan tangisan iri seperti itu sering kali datang dari Hirofumi.
Hari ini pun sama. Dari posisi yang tidak bisa dilihat Chitose, mata Hirofumi yang merah penuh darah sudah dipenuhi air mata, dan dia menatapku dengan ekspresi mengerikan.
Aku sendiri memang sudah terbiasa dengan kecemburuan Hirofumi, tapi karena hubunganku dengan Chitose, aku juga pernah berkali-kali diperlakukan dengan kebencian terbuka oleh orang asing. Rasa takut dari masa-masa itu masih tertinggal di ingatanku.
Bukannya aku tidak suka Chitose, tapi di kampus aku memang berusaha menghindari keterkaitan apa pun dengannya.
“Kamu pergi aja deh sekarang. Aura Hirofumi makin pekat.”
“Aku nggak nyangka kamu malah bersikap kayak pacarnya dia.”
“Masalahnya, begitu dia urusan sama cewek, semuanya langsung ribet!!”
“Meski aku nggak peduli juga, rasanya kamu tetap nggak bakal jadi pacarnya Hirofumi, deh. Soalnya barusan kamu bilang kamu suka tipe cewek kayak aku.”
Topi hitam, short pants, hoodie kebesaran, rambut hitam sepanjang bahu, underwear bergaris biru kehijauan, dan aura dewasa. Ciri-ciri yang dia sebutkan barusan persis cocok dengan Chitose.
“Aku cuma bilang, kalau ditanya suka atau nggak, ya lebih ke suka. Cuma itu doang.”
“Wah, tegas juga kamu. Padahal tadi aku sempat berharap sedikit.”
“Harap apa coba...”
“Cinta terlarang?”
“Terlarang apanya? Kami cuma teman masa kecil. Kami bukan kakak-adik beneran.”
Kujou Chitose tampak sangat menikmati situasinya, seperti sedang menggoda anak kecil, lalu tersenyum ceria.
“Kalau nggak ada urusan, kamu harusnya pergi sekarang. Permusuhan Hirofumi makin lama makin tebal.”
“Ah, tunggu sebentar. Sebenarnya aku memang ada urusan sama kamu.”
“Nggak bisa ngomong lewat LINE aja?”
“Pas aku mau hubungi kamu, eh malah ketemu langsung. Jadi kupikir sekalian aja ngomong.”
“...Soal tukeran shift?”
“Oh, tepat sekali tebakanmu.”
Seperti dugaanku. Aku pun menyandarkan tubuh ke kursi.
“Ada pegawai baru yang mulai kerja, kan? Anak itu dari kemarin demam tinggi, jadi aku mau minta tolong apa kamu bisa gantiin shift dia hari ini.”
Aku dan Kujou Chitose bukan cuma hubungan senpai-kouhai di kampus, tapi juga di tempat kerja.
Waktu aku cari kerja part-time di tempat yang belum kukenal, aku dengar minimarket tempat Chitose kerja sedang kekurangan pegawai, jadi akhirnya aku pun ikut kerja di sana.
Shift kami sudah tetap setiap minggu. Aku kerja Kamis, Jumat, dan Minggu jam lima sore sampai sepuluh malam. Sedangkan Kujou Chitose kerja Selasa, Kamis, dan Minggu di jam yang sama. Jadi, dalam seminggu ada dua hari kami kerja bareng.
Manajer di minimarket itu juga baik sekali, dan suasana kerjanya cukup nyaman. Meski aku sendiri merasa kerja di minimarket itu pada dasarnya merepotkan, sejauh ini aku belum pernah benar-benar terpikir untuk resign.
“Oke, hari ini aku bisa gantiin.”
“Oh, makasih. Punya adik laki-laki yang imut memang enak, ya!”
Kujou Chitose menepuk dadanya, dan ekspresinya pun melunak.
“Enak banget ya... Shinsuke, sepulang kuliah nanti kamu mau kencan sama Kujou-senpai, ya?”
Hirofumi menelungkup di meja dengan lesu.
“Kerja bareng itu bukan kencan.”
“Tapi tetap aja kalian menghabiskan waktu bersama, kan? Bukannya itu nyaris sama aja?”
Meski tidak sepenuhnya salah, aku tetap nggak bisa menerima definisi itu.
“Kalau begitu, Hirofumi-kun, mau coba datang interview nggak? Shift Sabtu masih belum tetap, dan aku senang kalau kamu mau masuk.”
“Aku pertimbangkan deh buat interview.”
“Jangan dipertimbangkan setengah-setengah gitu. Lagian, Hirofumi, rumahmu lumayan jauh, kan?”
“Kalau gitu... gimana kalau aku menginap di tempatmu tiap Sabtu?”
“Aku jelas-jelas nggak akan mengizinkan itu...”
“Kalau kamu kesepian, aku bisa datang nemenin.”
“Kalau kamu kesepian, aku yang datang sebagai onee-san.”
“Aku nggak kesepian sama sekali, jadi kalian berdua nggak usah datang.”
Kalau tiap Sabtu mereka berdua datang ke tempatku, habislah waktu berhargaku untuk latihan menggambar.
Lagipula, Chitose memang nggak ada shift Sabtu.
“Kalau begitu, urusannya sudah selesai. Aku pergi dulu, ya.”
Setelah membicarakan hal penting, Chitose melirik jam tangannya.
“Maaf udah ganggu jam makan siang kalian.”
“Nggak apa-apa. Nanti ketemu lagi.”
Dengan berkata, “Aku tunggu nanti ya,” Chitose pun melambaikan tangan dan pergi sambil melangkah ringan ke arah pintu keluar kafetaria.
“Ngomong-ngomong, Shinsuke, bukannya kamu bilang selain ibu dan adikmu nggak ada perempuan lain yang pernah masuk ke kamarmu? Tapi Chitose kan teman masa kecilmu. Dia belum pernah masuk?”
“Belum pernah. Kami berdua sama-sama nggak punya waktu.”
Aku dan Chitose sama-sama menjalani hidup sibuk antara pekerjaan rumah, kuliah, dan kerja part-time. Belakangan ini dia juga mulai sibuk persiapan job hunting, jadi waktu luangnya malah lebih sedikit daripada sebelumnya.
Selain itu, Chitose memang tidak terlalu berniat datang ke kamarku. Dia termasuk salah satu dari sedikit orang yang mendukung mimpiku menjadi ilustrator. Dia tahu aku sudah mati-matian meluangkan waktu untuk latihan.
Meski aku tak pernah mendengarnya langsung darinya, sepertinya dia sengaja berhati-hati agar tidak menggangguku saat sedang latihan menggambar. Dia memang perhatian di tempat-tempat yang aneh.
“Kenapa nggak sekalian kamu pikirin buat pacaran sama Kujou-senpai, kakak ideal yang punya dua-duanya: cantik dan imut? Kalau aku sih, pasti langsung kubawa pulang dan kubikin suasana romantis.”
“Kalau kamu punya kakak perempuan, kamu bakal memandang dia sebagai target romantis?”
“Nggak, jelas nggak.”
“Ya sama.”
☆
“Setelah ini aku masih harus kerja lima jam lagi...”
Setelah kuliah jam ketiga selesai, aku pulang dulu ke apartemen, mengganti isi tas dari buku-buku kuliah ke seragam kerja, lalu berangkat ke minimarket tempatku kerja part-time.
Jarak dari apartemen ke toko itu sekitar lima belas menit jalan kaki, pas banget. Hanya saja, karena letaknya dekat kampus, di jam seperti ini lumayan banyak mahasiswa yang datang ke toko. Tapi buatku yang memang nggak punya banyak kenalan, itu bukan sesuatu yang perlu terlalu dipikirkan.
“Pagi.”
“Pagi.”
Begitu masuk ke ruang staf di balik kasir, Chitose yang datang lebih dulu menyapaku dengan senyum. Aku membalas seperlunya.
Setelah berganti seragam di ruang staf, aku dan Chitose seperti biasa menerima estafet pekerjaan dari pegawai shift sebelumnya lalu keluar ke area kasir.
“Kamu benar-benar ngebantu banget. Anak baru itu nggak punya kontak siapa-siapa selain aku dan manajer toko. Hari ini manajernya juga lagi nggak ada, jadi aku benar-benar bingung harus gimana.”
“Kalau aku nggak bisa masuk kerja, kamu mau gimana?”
“Aku bakal telepon semua nomor rekan kerja yang kupunya.”
“Kamu memang perhatian, ya. Padahal kita baru kerja bareng belum lama.”
“Kalau lagi susah, ya harus saling bantu, kan?”
Mungkin karena itulah Chitose populer, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.
Aku sering dengar kalau orang yang terlalu rupawan kadang malah membuat iri. Dulu pun pernah ada beberapa kali Chitose tanpa salah apa-apa malah dibenci orang. Tapi begitu orang benar-benar bergaul dengannya, mereka akan paham kalau dia memperlakukan semua orang dengan lembut secara setara.
Dengan tingkat kesempurnaan seperti Chitose, rasanya sulit dipercaya dia belum punya pacar. Padahal dia sekarang sangat populer, tapi dia sendiri justru terlihat tidak terlalu tertarik pada urusan asmara. Itu cukup mengejutkan.
Kalau saja aku bukan teman masa kecil Chitose, mungkin aku memang akan kepikiran untuk pacaran dengannya seperti kata Hirofumi. Tapi dalam situasi seperti ini, kemungkinan besar sejak awal pun aku tidak akan punya hubungan apa-apa dengannya.
“Meski Shinsuke sering muji aku perhatian sama orang, kamu juga sebenarnya perhatian, kok.”
“Aku cuma nggak bisa nolak kalau ada orang minta tolong.”
“Kalau posisimu sama kayak aku hari ini, kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama, kan?”
“Yah... mungkin.”
“Nah, berarti kamu perhatian juga, sama kayak aku. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah gantiin shift, gimana kalau kubelikan sake Jepang sebotol?”
“Jangan ngajak orang yang belum dua puluh tahun buat minum alkohol.”
Sifatku yang suka mengulurkan tangan pada orang yang kesusahan itu memang kupelajari dari melihat Chitose sejak kecil. Karena itu, dia juga sangat paham sifatku.
“Sudahlah. Semua barang kiriman sudah datang?”
Aku meluruskan punggung dan melihat ke arah jendela.
“Truk pengirimannya sudah pergi, jadi kita bisa mulai cek barang.”
“Kalau begitu hari ini aku yang periksa stok datangnya. Kalau kasir terlalu ramai, panggil aku.”
Aku melewati area kasir lalu bergerak ke bagian belakang toko.
Begitu membuka pintu dan mengintip ke dalam, tampak banyak kardus ditumpuk di atas beberapa troli dorong. Dibanding hari lain, jumlah barang kiriman untuk hari Selasa memang terasa jauh lebih banyak.
“Ini bakal makan waktu lebih lama dari biasanya.”
Aku masuk ke gudang belakang, memindai barang yang datang, lalu segera memulai pengecekan di depan tumpukan kardus.
Setelah itu aku terus bekerja dalam diam. Saat pekerjaan itu hampir selesai, tiba-tiba suara buzzer bergema di seluruh toko.
“Padahal tinggal sedikit lagi...”
Bunyi buzzer itu berasal dari Chitose yang ada di kasir, menandakan bahwa antrean pelanggan sudah mulai menumpuk.
Aku menghentikan pekerjaanku untuk sementara dan buru-buru berlari ke depan toko.
Begitu melihat area kasir, aku refleks bergumam, “Uwah...”
Sejak kapan pelanggan jadi sebanyak ini...?
Mungkin karena aku terlalu fokus memeriksa barang, aku sama sekali tidak mendengar suara pintu pelanggan terbuka.
Saat aku berlari ke kasir, antreannya sudah panjang. Kebanyakan adalah rombongan pekerja bangunan dengan seragam penuh noda cat dan para pelajar yang baru pulang sekolah.
Chitose berusaha menangani kasir sendirian. Sepertinya banyak pelanggan yang minta bento dipanaskan, jadi antreannya makin tersendat.
Aku menerobos antrean, membuka pintu kasir, lalu berdiri di sisi seberang meja kasir.
Setelah aku ikut membantu Chitose, antrean panjang itu perlahan terurai dengan lancar.
Aku bahkan tak punya waktu untuk memperhatikan wajah tiap pelanggan.
Baik aku maupun Chitose hanya fokus pada gerakan pelanggan dan barang-barang yang ada di meja kasir.
Bento, onigiri, cup noodle, roti.
Ada juga alkohol, camilan, dan rokok.
Mungkin karena itulah.
Ketika satu-satunya benda di depan mataku tinggal barang itu, konsentrasiku seketika terputus.
“...Kondom...?”
Bahkan aku sendiri merasa reaksi ini mirip anak SMA yang lagi ada di puncak masa puber.
Aku mengangkat wajah, lalu pelanggan yang meletakkan sekotak kondom di meja kasir pun masuk ke dalam pandanganku.
“...”
Yang berdiri di hadapanku adalah seorang siswi SMA dengan seragam sailor.
Karena malu, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun, dia sendiri tanpa ragu meletakkan sekotak kondom di meja kasir.
Di belakang siswi SMA itu sudah tidak ada orang lain lagi. Baru kusadari bahwa dia adalah pelanggan terakhir dari antrean panjang tadi.
“Um... anu.”
Setelah beberapa detik membeku, siswi SMA di depanku itu lebih dulu membuka suara.
“Tolong cepat selesaikan.”
Nada suaranya entah kenapa sangat tenang, hampir tidak terdengar seperti suara anak SMA... tidak, sedikit berbeda. Bukan “tenang”, melainkan lebih dekat pada dingin dan tak bernyawa.
“S-saya minta maaf sekali...”
Dengan gugup aku menundukkan kepala, lalu mulai memindai barcode barangnya.
“Um, perlu paper bag...?”
“Nggak usah paper bag, cukup kantong plastik.”
“Uh... baik. Totalnya 600 yen...”
Saat siswi SMA itu merogoh dompetnya untuk mengambil koin, aku menyerahkan kantong plastik lalu memasukkan kotak kondom itu ke dalamnya.
“Ini... barang Anda.”
Aku menggantungkan pegangan kantong plastik itu pada telunjuk dan jari tengahnya yang terulur.
Dan pada saat itulah, aku merasakan kejanggalan yang sangat kuat dari tangannya.
Ujung-ujung jarinya dibungkus plester membentuk lingkaran.
Itu bukan level luka kecil karena salah saat memasak.
Hampir seluruh ujung jarinya tertutup plester, seolah-olah sedang menyembunyikan kukunya.
“...”
Kepalaku mulai gaduh, dan sesuatu di dalam benakku seolah berbisik.
Dengan ketakutan, aku perlahan mengangkat wajah dan menatap wajah siswi SMA itu.
“...Ah.”
Suara kecil lolos dari bibirku.
Aku ingat seragam gadis ini.
Dia bukan teman, bukan kenalan, hubungan kami bahkan lebih dangkal dari kata-kata itu. Mungkin lebih tepat kalau dibilang kami tidak punya hubungan sama sekali. Kami bahkan belum pernah bicara sekali pun.
Meski begitu, sosoknya terukir kuat dalam ingatanku.
“Kotosaka... sekelas?”
Nama marganya melintas di kepalaku, dan tanpa sadar aku mengucapkannya.
Orang yang hari ini duduk di barisan depan pada mata kuliah jam kedua bersama Hirofumi, dengan rambut mendekati putih kusam keabu-abuan.
Kulit putihnya yang nyaris seperti buatan dan eyeshadow merah yang menonjolkan area matanya.
...Aku tidak salah lihat. Ini dia.
Seorang mahasiswi dengan pakaian dan riasan landmine-style.
Sepertinya dia mendengar suaraku, karena matanya menatapku seolah bertanya, “Kok kamu tahu nama keluargaku?”
Aku pun diliputi kebingungan saat berdiri di hadapannya begini.
Kenapa Kotosaka memakai seragam siswi SMA?
Otakku bekerja cepat, mengurutkan kembali ingatan satu per satu.
Tak lama kemudian, aku menemukan jawabannya.
Peristiwa kemarin dan hari ini terlintas lagi di depan mataku, termasuk bagian percakapanku dengan Hirofumi.
Seragam sailor yang sekarang dipakai Kotosaka ini, beberapa jam yang lalu juga sudah pernah kulihat.
Memang gadis di foto itu berambut hitam, tapi tak peduli berapa kali kuingat, penampilan mereka bertumpang tindih.
“...‘Kotone’... lagi cari... pa—”
Sebelum kalimat itu selesai, aku buru-buru menutup mulutku.
Mahasiswi terkenal satu kampus dan satu angkatan denganku, dan gadis yang mencari “papa” di Twitter, ternyata orang yang sama. Tapi itu tidak ada hubungannya denganku. Tidak lebih dari itu.
Lalu kenapa aku sampai keceplosan?
“M-maaf...! Aku nggak sengaja ngomong begitu—uh!?”
Dia menarik kerah seragamku dan menyeretku mendekat ke arahnya. Jarak wajah kami menyusut sampai tinggal beberapa sentimeter, dan samar-samar tercium wangi harum masuk ke hidungku.
Menghadapi perkembangan mendadak ini, kepalaku sempat panik, tapi aku langsung sadar bahwa aku berada dalam situasi berbahaya.
Menahan gugup yang dipancarkan Kotone, aku memejamkan mata sekuat tenaga, menggertakkan gigi, dan mati-matian berusaha lari dari kenyataan.
“Kamu tahu nama itu dari mana?”
“Uh... ah, nggak...”
Saat perlahan membuka mata lagi, aku kembali bertatapan dengannya.
Padahal aku sudah siap dimarahi habis-habisan, tapi anehnya nada suara Kotone tidak banyak berubah dari sebelumnya.
Namun, aku sudah sepenuhnya diselimuti kebingungan dan tak sanggup berkata apa-apa. Mungkin karena menyadari itu, dia pun mengganti pertanyaannya.
“Kamu pulang kerja jam berapa?”
“Jam... jam sepuluh...”
Dengan gugup aku menjawab. Suaraku bergetar, nyaris tak cukup keras untuk didengarnya.
“Setelah kerja selesai, datang ke parkiran.”
Tangannya mendadak melepaskan kerah seragamku.
Meski terkejut karena aku tahu soal urusan “papa”-nya, Kotone tetap terlihat tenang. Dia seolah memastikan wajahku sekali lagi, lalu memalingkan pandangan dengan senyum tipis.
“Sampai jumpa.”
Dengan sudut bibir sedikit terangkat, seolah sengaja memperlihatkan senyum, Kotone pun meninggalkan minimarket.
Begitu ketegangan itu lepas, aku langsung terduduk lemas di lantai.
“Shinsuke, kamu nggak apa-apa!? Tadi kamu ribut sama pelanggan itu ya...!?”
Sepertinya Chitose sempat melihat sebagian kejadian itu, karena begitu Kotone pergi, dia buru-buru menghampiriku. Tapi saat ini, jangankan berdiri tegak, menjawab pun aku tak sanggup.
Aku menundukkan kepala dan menutupi seluruh wajahku dengan kedua telapak tangan.
Sepertinya hari ini aku benar-benar dalam masalah besar.
☆
Setelah Kotone meninggalkan minimarket, keramaian tadi seperti bohong belaka, dan toko pun langsung menjadi jauh lebih sepi.
Bersandar pada rak rokok, aku mengatur napas, berusaha menenangkan jantungku yang masih kacau. Lambat laun emosiku mereda, dan dalam beberapa menit aku kembali ke keadaan normal.
Chitose sempat menyuruhku istirahat di ruang staf, tapi aku bilang “nggak apa-apa” dan kembali melanjutkan pekerjaan pengecekan barang di belakang.
Setelah itu tidak ada kejadian berarti, dan waktu berlalu perlahan.
Saat mendekati jam tutup, aku benar-benar tidak tenang sama sekali.
Tekanan besar itu membebani pikiranku, sampai perutku terasa mual.
Semakin waktu berjalan, aku makin gugup. Dan ketika jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, aku sudah kelelahan lahir batin.
Sebelum menuju ruang staf, aku sempat memeriksa parkiran sekali lagi lewat kamera CCTV pencegah pencurian.
“...Jadi dia nggak ada, padahal sudah waktunya.”
“Hm? Shinsuke, tadi kamu ngomong sesuatu?”
“Nggak, bukan apa-apa...”
“Sejak antreannya pecah jadi dua dan kamu mulai pegang pelanggan sendiri, kamu jadi aneh banget.”
“...Kurasa begitu.”
“Tadi kamu ada masalah sama pelanggan terakhir itu, ya? Aku nggak lihat wajahnya jelas, tapi sepertinya dia anak SMA.”
Chitose menatapku dengan cemas. Karena tak mau membuatnya semakin khawatir, aku memaksakan senyum dan bilang, “Aku beneran nggak apa-apa.”
Setelah clock out, aku berpura-pura seolah akan langsung pulang ke apartemen agar lolos dari perhatian Chitose, lalu memutuskan menunggu Kotone di parkiran.
Sebenarnya aku juga bisa langsung pulang, tapi aku ingin menghindari kemungkinan berpapasan dengannya kalau dia datang terlambat. Toh sekarang dia sudah tahu tempatku bekerja, jadi kabur pun tak ada gunanya.
Lagi pula, selama jam kerja tadi aku sudah tertekan sampai sejauh itu. Aku tidak mau masalah ini dibawa sampai besok. Karena sudah begini, aku ingin menyelesaikannya hari ini juga.
Di parkiran, aku menunggu sambil diliputi pikiran campur aduk antara cepat datang dan jangan datang sekalian.
Meski sama-sama berada di Tokyo, area ini bukan wilayah yang terlalu ramai. Lampu jalan dan lampu gedung memang banyak, tapi kalau dibanding jalan-jalan kota yang glamor, cahayanya cuma seperti kunang-kunang.
Suasananya mirip daerah pinggiran. Aku duduk di parkiran sambil menatap kosong sekeliling, dan anehnya hatiku justru mulai tenang.
Tiba-tiba, pandanganku terselimuti cahaya putih terang.
Itu bukan lampu minimarket, lampu jalan, atau cahaya gedung.
Itu adalah lampu LED sepeda, dan sengaja diarahkan tepat ke wajahku.
Dengan mata menyipit, aku menatap lurus ke sumber cahaya itu.
“Halo.”
Seorang gadis berdiri di sana sambil mengangkang di atas sadel sepeda. Kotone datang ke parkiran lebih dari sepuluh menit lebih lambat dari waktu yang dia tentukan.
Tanpa ekspresi minta maaf ataupun geli, dia mengangkat tangan kanannya dan menyapaku dengan datar.
“Halo.”
Meski sedikit kesal dengan sikap Kotone, aku tetap membalas dengan mengangkat tangan kanan.
Dia mengenakan outfit gelap nyentrik yang sama seperti saat kulihat di kampus, tapi menaiki sepeda mamachari biasa dengan keranjang depan. Kombinasi antara gaya eksentrik dan sepeda itu benar-benar terasa tidak cocok, sampai terlihat janggal dari sudut mana pun.
“Seragammu kenapa?” tanyaku.
Di hadapannya, aku sempat khawatir apakah kami bisa benar-benar mengobrol dengan normal. Tapi anehnya aku justru cukup tenang, mungkin karena sebelumnya sudah menyiapkan mental.
“Aku pulang ke rumah dulu buat ganti baju sebelum ke sini.”
“Kamu ganti baju cuma karena mau ketemu aku?”
“Tentu saja bukan. Kalau pulang malam-malam masih pakai seragam, itu berbahaya.”
“Berbahaya... maksudmu takut ketemu kriminal?”
“Aku nggak mau didekati polisi. Ribet.”
Kotone turun dari sepedanya lalu berjalan mendekat sambil menuntun sepeda itu.
“Ngomong-ngomong, namamu siapa?”
Baru saat itu aku sadar, kami memang belum saling memperkenalkan diri.
“Boong juga nggak ada gunanya, jadi sekalian jujur aja. Aku sebenarnya sudah ingat namamu.”
“Ngeri banget kamu ngomong gitu tiba-tiba. Sejak kapan kamu hafal...?”
“Di name tag toko ada nama keluargamu. Lagian, aku memang sudah tahu namamu.”
“Namaku...?”
Ucapan tambahannya itu membuatku memiringkan kepala.
Aku tidak pernah langsung memberi tahu nama pada Kotone. Soalnya kami memang belum pernah bicara, apalagi punya hubungan apa pun.
Jadi dari mana dia tahu namaku? Sedikit rasa curiga muncul dalam diriku.
“Soalnya kamu orang yang selalu ikut kuliah etika tiap hari Selasa, kan?”
“Yah... memang.”
Aku sama sekali tidak menyangka dia menyadari kami ikut kelas yang sama. Padahal kuliah etika itu diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas dan jumlah pesertanya juga lumayan banyak. Aku cukup terkejut dia bisa mengingat mahasiswa biasa sepertiku.
Tapi meski begitu, tetap saja rasanya belum cukup jadi alasan bagi Kotone untuk tahu namaku. Dia mungkin bisa ingat wajahku, tapi tidak ada kesempatan baginya untuk mengetahui namaku.
“Karena ada cowok bernama Hirofumi yang menyebut namamu, jadi aku tahu.”
...Ah, orang itu.
Aku menutupi mataku dengan tangan sambil mengingat percakapan santai kami sebelum kuliah tadi.
Karena hari ini Kotone duduk lebih dekat dari biasanya, kami memang sempat mengecilkan suara. Tapi suara Hirofumi memang besar dan punya daya tembus yang terlalu kuat.
Aku tidak pernah menyangka namaku bakal dihafal dengan cara seperti itu.
“Sekarang karena kamu sudah tahu, berarti aku nggak perlu perkenalan lagi, kan?”
“Sekadar jaga-jaga.”
Dia hati-hati di tempat-tempat yang aneh.
“...Aigaki Shinsuke. Puas sekarang?”
“Fakultas, angkatan, dan umur, kasih tahu.”
“Buat apa kamu butuh data segitu...?”
“Cepat bilang.”
Ekspresi Kotone tetap datar saat mendesakku untuk menjawab.
Aku sebenarnya tidak punya kewajiban untuk menjawab, tapi melihat sikapnya, aku tahu kalau mencoba mengelabui dia cuma akan bikin masalah ini makin panjang dan lebih merepotkan.
“Tahun kedua Fakultas Sastra, umur sembilan belas.”
“Hm, sesuai dugaan.”
“Lho, kamu tahu juga!?”
“Sama alasannya kayak tadi.”
Semua gara-gara suara Hirofumi yang kelewat kencang. Informasi pribadiku bocor tanpa kusadari. Nanti dia benar-benar harus kusuruh jaga mulut.
“Nah, pertanyaan berikutnya.”
“Masih lanjut...? Bukannya tadi tujuanmu cuma mau memastikan informasi yang sebenarnya sudah kamu tahu?”
“Bukan.”
Kotone memotong perkataanku dan menyangkal dengan tegas.
“Mulai sekarang, ada hal-hal yang aku memang belum tahu. Makanya aku mau kamu yang kasih tahu.”
Jadi ini inti pembicaraannya.
“Kamu mau aku kasih tahu apa?”
Kotone menunduk, terdiam sesaat, lalu kembali menatapku.
Aku menelan ludah sambil menunggu dia bicara lagi.
“Tolong kasih tahu minatmu, asalmu, dan apakah kamu tinggal sendiri.”
“Hah? Uh... apa?”
Pertanyaannya benar-benar berbeda dari dugaanku, sampai keningku langsung berkerut bingung.
Kotone tadi sempat diam cukup lama, jadi kukira dia pasti akan menanyakan sesuatu yang sangat penting. Tapi ternyata bukan. Meski kalau dipikir-pikir...
“Tunggu, tunggu, hentikan dulu! Kalau pertanyaan soal nama dan universitas tadi memang buat konfirmasi, ya sudahlah. Tapi untuk pertanyaan yang ini aku benar-benar nggak ngerti kenapa aku harus jawab!”
“Soalnya, tahu nggak, ada kemungkinan kita bakal menjalin hubungan jangka panjang ke depannya.”
“Kamu ngomong apa sih?”
Kalau bisa, aku justru ingin memutus semua keterkaitan dengan Kotone malam ini juga.
Kenapa dia malah menanyakan hal-hal seperti itu? Dan lagi, dari posisinya sekarang, bukannya dia seharusnya punya pertanyaan lain yang jauh lebih penting? Sesuatu yang seharusnya lebih diprioritaskan daripada identitasku?
“Bukannya kamu nemuin aku buat bikin aku diam? Maksudku... bukannya kamu hidup dari uang para ‘papa’ itu? Kalau begitu, bukannya kamu mestinya lebih khawatir memastikan aku tutup mulut soal itu?”
“Dari awal aku tidak pernah punya niat seperti itu.”
Dia menjawab tegas tanpa ragu.
“Nggak ada bedanya antara aku melakukan pekerjaan rumah untuk para papa dan kamu bekerja part-time di minimarket. Aku nggak punya teman, dan aku juga nggak peduli pendapat orang lain. Jadi, buat apa aku repot-repot membungkam seseorang?”
“Tapi kalau sampai jadi rumor, kehidupan kampusmu bakal terganggu, kan?”
“Kalau itu terjadi, ya aku hadapi saja nanti. Aku masuk kuliah sekarang pun cuma karena alasan aku nggak mau tinggal di rumah.”
“Kamu nekat juga ya...”
“Kalau ancaman memang efektif, apa kamu mau kasih syarat menjijikkan? Misalnya, ‘Kalau nggak mau dibongkar, buka bajumu dan berlutut di depanku,’ kayak di manga dewasa gitu?”
“Mana mungkin aku kepikiran syarat mesum kayak gitu!”
“Kamu... lumayan berhati nurani, ya?”
“Itu kan normal?”
“Nggak, menurutku itu baik sekali... baik sekali.”
Seolah sedang membandingkanku dengan seseorang, dia bergumam pelan.
“Kalau begitu, gantian aku tanya. Kalau kamu mau ‘mengancam’ aku, syarat barter apa yang bakal kamu ajukan?”
“Maksud pertanyaan ini apa sih...”
Aku mendongak ke langit malam yang hanya dihiasi sedikit bintang, lalu berpikir sesaat.
“Kalau nggak mau ketahuan, ya jangan lanjut kerja papa lagi... mungkin.”
Kotosaka tampak tercengang mendengar jawabanku.
“Memangnya jawabanku segitu mengejutkannya?”
“...Kupikir laki-laki cuma bakal menuntut hal-hal yang lebih tak tahu malu.”
“Prasangkamu ke laki-laki parah banget!”
Tapi dari sudut pandang Kotosaka, mungkin itu cukup wajar.
Kalau dia sering didekati laki-laki dengan niat buruk saat melakukan papa-katsu, ya wajar kalau dia jadi punya prasangka terhadap laki-laki dan niat mereka.
“Pokoknya, setidaknya aku nggak bakal kasih tuntutan sadis begitu.”
“Kamu... berhati nurani pangkat dua, ya?”
Cara bicaramu aneh banget.
“Tapi ini nggak ada hubungannya sama hal begituan. Sekarang, kasih tahu minatmu, asalmu, dan apa kamu tinggal sendiri.”
Kotosaka memaksa mengembalikan pembicaraan yang tadi melenceng.
Sepertinya kalau aku tidak menjawab, topik ini memang tidak akan bergerak maju.
“Minatku menggambar... ilustrasi.”
“Ah, ilustrasi ya.”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak, aku cuma merasa itu hobi yang bagus.”
Kadang kalau aku bilang hobiku menggambar ilustrasi, orang justru menggodaku. Tapi Kotone tampak memandang hobiku dengan cukup positif, sambil mengangguk pelan beberapa kali.
“...Kalau asal, aku dari Saitama. Dan ya, sekarang aku tinggal sendiri.”
“Dekat dari sini?”
“Yah, nggak terlalu jauh.”
Kotone meletakkan jari di bibir, memiringkan kepala, lalu menunjukkan ekspresi seperti sedang berpikir.
“Kalau begitu...”
Kotone kembali mengangkangi sepedanya, lalu menepuk-nepuk ringan jok belakang.
“Daripada berdiri terus ngomong di sini, ayo cepat pindah ke sana.”
“Ke sana? Ke izakaya dekat sini?”
“Kalau ke restoran, bakal terlalu mahal. Jadi, aku maunya ke rumahmu.”
“Rumahku...? Maksudmu kita mau ke mana?”
“Ya tentu ke rumahmu.”
“Itu jelas nggak bakal terjadi!”
Aku tidak mau dengan gampang membawa perempuan yang baru pertama kali bicara denganku hari ini ke apartemenku. Tapi di sisi lain, aku juga jelas tidak mau pergi ke tempat Kotosaka.
“Mau aku bonceng?”
“Itu pertanyaan bodoh.”
“Nggak masalah. Aku lihat kamu selalu jalan kaki ke tempat kerja, jadi kalau pun kamu kabur, kamu tetap nggak akan bisa lepas. Aku bisa terus ngikutin.”
“Kenapa aku harus kabur dari kamu bahkan setelah jam kerja selesai!?”
“Ya gimana, kamu yang mulai ngajak aku bicara.”
Melihat ucapan dan tingkah Kotosaka sejauh ini, kalau aku tidak mengantarnya ke sana, dia benar-benar akan mengikuti sampai ke apartemenku.
“Jadi, cepat duduk di belakang. Aku masih menunggu, lho.”
Pilihannya tinggal dua: mencoba menghindarinya dengan berjalan kaki atau pulang bersama Kotosaka. Setelah berpikir beberapa detik, aku memilih opsi yang menurutku hasil akhirnya lebih baik buatku.
“...Kamu nggak takut diberhentiin polisi? Kalau mereka lihat kita boncengan berdua, jelas bakal dicurigai, tahu?”
“Kalau itu terjadi, aku bakal mengayuh sekencang mungkin lalu kabur.”
“Pola pikirmu kayak anak bosozoku banget...”
Karena kelihatannya dia memang sudah mantap mau mengikutiku sampai apartemen, mungkin justru lebih baik kalau kami pergi bareng.
Aku melangkah mendekati sepeda Kotosaka lalu bergantian melihat jok belakang dan punggungnya.
Membiarkan diriku duduk di belakang gadis berpenampilan bom seperti dia jelas membuatku canggung.
“...Anu, aku bantu pegang stangnya saja. Bisa tolong kamu yang duduk di belakang?”
“Dengan hormat kutolak. Nanti rokku kusut. Atau jangan-jangan kamu punya keinginan terselubung untuk merasakan sensasi dipeluk dari belakang dan menikmati tekanan dadaku sambil berkendara erotis?”
“Jangan bikin istilah aneh! Apaan itu ‘berkendara erotis’!?”
Aku mengacak-acak kepalaku keras-keras. “Ah, sudahlah!” teriakku dengan setengah pasrah, lalu aku pun duduk di jok belakang sepeda.
“Kalau begitu, tolong arahkan jalannya. Ini juga berbahaya, jadi bisa lebih dekat sedikit? Nggak apa-apa kalau kamu melukku erat dari belakang.”
“Oh, uh...”
Lenganku pun melingkar di pinggang ramping Kotosaka dan memegangnya erat.
“Aku merasakan sensasi kotor dan kehangatan aneh di sekitar tulang ekorku.”
“Itu cuma perasaanmu aja. Cepat jalan... nanti kita kelihatan orang shift malam.”
Dengan pedal diinjak turun, sepeda itu pun melaju di jalanan Tokyo pinggiran yang sepi.
“...Ngomong-ngomong.”
Tak lama setelah sepeda mulai bergerak, aku baru teringat satu hal penting.
“Aku bahkan masih belum tahu namamu.”
“Kotone.”
“Kamu pakai nama asli buat kerja papa...?”
“Bercanda. Anggap saja semacam nama panggilan.”
“Berhenti bercanda dan kasih tahu yang benar.”
Meski agak dipaksakan, dia tetap perempuan pertama yang masuk ke kamarku.
Aku memang tidak tahu latar belakangnya, tapi setidaknya aku harus tahu namanya.
Sambil terus mengayuh sepeda, Kotosaka menjawab pelan.
Meskipun suaranya nyaris tertelan angin, pada akhirnya aku berhasil mendengar namanya.
Shizune Kotosaka.
Kelihatannya itu nama aslinya.
☆
Tanpa kecelakaan maupun ketemu polisi di jalan, aku dan Kotosaka akhirnya sampai dengan selamat di apartemen. Setelah memarkir sepedanya di tempat yang sudah disediakan, aku pun membawanya masuk ke kamarku.
“Cuma lima menit, dekat juga ya.”
“Itu karena naik sepeda. Kalau jalan kaki, sekitar lima belas menit.”
“Dekat kampus, dekat stasiun, interiornya juga bagus. Orang tuamu yang bayar sewanya, ya?”
“Iya.”
“Mereka orang tua yang baik.”
“Kurasa begitu... Oh, sudah sampai. Tunggu sebentar, aku buka pintunya dulu.”
Kami berjalan menyusuri koridor lantai dua apartemen, lalu aku berhenti di depan pintu kamarku. Setelah membuka kunci dan memastikan keadaan sekitar aman, aku segera membawa Kotosaka masuk ke dalam.
Menurut Hirofumi, selain aku ada juga beberapa mahasiswa kampus kami yang tinggal di apartemen ini. Meski aku tidak tahu mereka tinggal di kamar mana, mengingat Kotosaka cukup terkenal di kampus, pikiran kalau sampai ada orang yang melihat kami otomatis membuatku lebih waspada.
Hampir begitu Kotosaka masuk, aku langsung menutup pintu dan menghela napas lega.
“Bagaimanapun aku cowok yang tinggal sendiri, jadi meski agak berantakan, jangan dipermasalahkan.”
“Tapi kalau dilihat dari genkan-nya, kamu cukup rapi, kok.”
(TL Note: genkan = area pintu masuk rumah/apartemen di Jepang tempat melepas sepatu.)
“Itu cuma level normal. Kalau terlalu berantakan, teman-temanku juga nggak akan bisa masuk.”
“Teman-teman itu perempuan?”
“Aku belum pernah membiarkan perempuan mana pun, selain ibu dan adikku, masuk ke kamar... kecuali kamu, Kotosaka.”
“Berarti aku merenggut ‘keperjakaan kamar’-mu. Terima kasih atas jamuannya.”
“Jangan bikin kedengarannya mesum begitu.”
“Virginity bukan kata yang mesum. Buku yang pertama kali diterbitkan juga dibilang debut.”
“Kalau dipikir-pikir... ada benarnya juga.”
“Lagian, jangan panggil aku Kotosaka. Panggil aku ‘Shizune’. Aku nggak suka dipanggil pakai nama keluarga.”
“...Shizune, ya?”
Memanggil perempuan lain dengan nama depan, selain Chitose dan adikku, rasanya sudah tidak kulakukan sejak tahun pertama SMA. Padahal cuma nama depan, tapi tetap saja terasa canggung.
“Pokoknya, masuk dulu.”
Begitu aku mulai memanggilnya begitu, wajahku langsung terasa panas karena malu. Berusaha menutupi rasa itu, aku buru-buru melepas sepatu, memalingkan muka dari Kotosaka—tidak, dari Shizune—lalu cepat-cepat berjalan masuk ke lorong apartemen.
Tentu saja Shizune tak mungkin paham perasaanku, jadi dia hanya berkata, “Permisi mengganggu,” lalu mengikuti masuk.
Di lorong itu ada pintu menuju kamar mandi, toilet, dan juga lemari. Shizune terus berjalan dekat di belakangku saat kami menuju ruangan utama.
Pintu yang menghadap ke arah masuk adalah pintu menuju ruang utama apartemen ini. Begitu aku dan Shizune sempat bertatapan, kami pun membuka pintu itu.
“...Lumayan luas.”
Setelah memandang seluruh ruangan sebentar, Shizune berkomentar pelan.
“Bumbu dan peralatan makan di dapur juga lumayan banyak. Kamu masak sendiri?”
“Kalau tiap hari makan bento minimarket atau makan di luar, biaya makan bakal habis banyak. Lagi pula, masak sendiri lebih sehat.”
“Kamu hebat juga. Dari luar, aku nggak bakal mengira kamu mahasiswa yang tinggal sendiri.”
“Nggak juga. Memang aku berusaha masak sendiri, tapi ada juga saat-saat aku nggak sempat dan akhirnya makan frozen food atau cup noodle.”
“Kerja rumah pasti capek, ya.”
“Capek banget. Sampai-sampai aku pernah kepikiran mau pinjam tangan kucing buat bantu.”
(TL/N: “meminjam tangan kucing” adalah idiom Jepang untuk keadaan sangat sibuk sampai bantuan sekecil apa pun terasa berguna.)
“Kalau begitu, gimana kalau sekalian pelihara kucing beneran?”
“Itu mungkin bukan ide buruk.”
“Tapi kerja rumahmu malah tambah banyak.”
“Padahal aku sudah baik-baik mengikuti omonganmu, tapi kamu malah balas serius!”
Jangan sia-siakan kebaikanku yang langka.
“Yah, sudahlah. Duduk aja dulu. Aku bisa ambilin minum. Mau teh barley atau kopi kalengan? Kalau kamu nggak keberatan kopi instan, aku juga bisa bikinin kopi panas.”
“Dua cangkir kopi panas.”
“Nggak perlu dua cangkir.”
“Buat kamu dan aku.”
“Aku bisa pilih kopiku sendiri.”
“Kayaknya terlalu ribet kalau harus bikin dua macam.”
“Kenapa kamu perhatian banget? Aku juga nggak masalah minum kopi panas.”
Aku pun menuju dapur untuk menyiapkan air panas.
“Kenapa kamu sengaja datang ke apartemenku?”
“Karena aku tahu kamu tinggal sendiri.”
“Memangnya kenapa kalau aku tinggal sendiri?”
“Dengan begitu, kamu nggak akan terlalu peduli sama omongan orang lain. Kayak sekarang.”
“...Yah, memang.”
Ada semacam makna tersembunyi dalam kata-kata Shizune, tapi untuk saat ini aku memutuskan menunda memikirkannya dan memilih bertanya nanti sambil minum kopi.
Aku menuangkan air panas ke dalam mug lalu mengaduk bubuk kopinya sampai larut sempurna. Setelah selesai, kedua mug itu kutaruh di atas baki dan kubawa ke tengah ruangan.
“Kamu... ngapain ngendap-ngendap begitu?”
“Aku nggak ngendap-ngendap, cuma lihat-lihat kamar.”
“Jangan lihat-lihat kamar cowok sembarangan!”
Di meja kerja yang ada di sudut ruangan, ada PC desktop dan monitor LCD, beberapa data dan artbook ilustrasi, serta sketchbook berisi coretan yang masih setengah jadi.
“Ini gambar-gambarmu? Bagus juga. Aku terkesan.”
Shizune melihat ke arah sketchbook itu, lalu menyampaikan pendapatnya dengan nada sedikit kagum.
“Itu masih jauh dari kata bagus.”
Aku meletakkan baki di atas meja rendah lalu langsung menyangkal ucapannya.
“Kalau gitu coba aku tanya kebalikannya, menurutmu bagian mana yang masih perlu diperbaiki?”
“Bahkan dari gambar karakter ini pun, komposisinya masih terasa agak lemah... Dan kayaknya dari sketchbook itu juga kelihatan jelas kalau aku payah banget soal gambar background.”
“Boleh aku lihat?”
Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Shizune. Dia mengambil sketchbook itu lalu membalik halamannya hati-hati agar tidak sampai melipat kertasnya.
“Waktu mulai menggambar, coba lebih perhatikan hubungan antara bentuk tiga dimensi dan cahaya. Bayangan bisa beda tingkat kedalamannya tergantung pencahayaan. Terus, saat menggambar bangunan, coba ubah sudut pandangnya. Itu bakal bikin komposisinya lebih bagus. Kamu juga bisa belajar dari foto pemandangan atau katalog background yang biasa dipakai mangaka.”
Setelah itu, dia bertanya, “Boleh pakai satu halaman?” Begitu aku mengizinkan, dia mengambil mechanical pencil di meja lalu mulai menggambar sambil menjelaskan.
“Begini. Kelihatannya kamu biasa gambar digital, tapi untuk sketsa, pensil kayu tetap lebih enak. Mechanical pencil kurang cocok untuk bikin garis.”
“...Kamu jago juga. Jangan-jangan Shizune juga bisa gambar?”
“Bisa dibilang aku sesekali iseng. Ya, aku memang agak tertarik.”
Kalau cuma dibilang iseng, rasanya levelnya terlalu tinggi untuk itu.
“Biasanya kamu gambar yang kayak gimana?”
“Yang sama seperti kamu.”
Shizune mengeluarkan ponselnya dari saku lalu menunjukkan layarnya padaku.
Di sana terpampang ilustrasi digital seorang cowok tampan berambut hitam berkacamata yang berjalan berdampingan dengan anak SMA berambut pirang berwajah nakal, keduanya tampak akrab sambil melangkah maju.
Latar belakangnya adalah jalanan saat senja, dan bangunan serta lampu lalu lintasnya digambar dengan teliti. Komposisi, desain karakter, warna, sampai shading-nya semua rapi dan menunjukkan seberapa serius dia terhadap ilustrasi.
“Kamu belajar gambar dari mana...?”
“Aku nggak pernah belajar. Tapi mungkin... pengaruh dari orang tuaku.”
“Orang tuamu kerja di bidang seni?”
“Ayahku dulu mangaka. Meski aku sendiri nggak tahu itu masuk kategori seni atau bukan.”
“Serius...!?”
Jawaban tak terduga dari Shizune membuatku refleks berseru.
“Dulu, sampai beberapa tahun lalu, dia memang mangaka. Tapi karena nggak berhasil besar, dia pensiun. Sekarang dia jadi guru seni di SMA.”
“Ah... begitu...”
Memikirkan masa depanku sendiri, bahuku langsung sedikit merosot.
Ilustrator dan mangaka memang profesi yang berbeda, tapi keduanya sama-sama mencari nafkah lewat gambar. Kenyataan yang keras itu kembali membuatku sadar betapa sulitnya hidup dari menggambar.
“Kamu ingin jadi ilustrator?”
“...Iya.”
“Bagus ya, punya mimpi. Aku sendiri sudah menyerah... jadi aku iri padamu.”
“Kalau nggak salah kamu di Fakultas Pendidikan, kan? Jadi mimpimu jadi guru?”
“Hebat juga, kamu bisa nebak tepat. Tujuanku memang jadi guru SD.”
“Guru SD... Tapi kamu sudah susah-susah masuk universitas, kenapa malah menyerah pada mimpimu? ...Jangan-jangan kreditmu kurang?”
“Kreditku cukup. Tapi itu memang keputusan yang sudah ditentukan dari awal.”
“...Begitu.”
“Tapi kamu harus tetap semangat, ya... aku mendukungmu.”
Sudut bibir Shizune tiba-tiba melengkung membentuk senyum kecil.
Ekspresi mendadak itu membuat jantungku berdetak sekali lebih keras.
“Kopinya nanti keburu dingin. Lebih baik kita minum sekarang.”
“Ah, iya... benar juga.”
Kami pun duduk saling berhadapan di meja rendah. Shizune mengangkat mug-nya.
“Kamu kerja sampai malam, tapi nggak makan malam?”
“Nanti aku makan setelah kamu pulang. Besok aku nggak ada kelas pagi, jadi jadwalku cukup longgar. Tidur sedikit lebih malam juga nggak masalah.”
“Aku sih nggak keberatan kalau kamu makan dulu sebelum aku pulang.”
Setiap kali menyesap kopi, Shizune menghela napas kecil. Dia memutar cangkirnya perlahan sambil kembali menatapku.
“Kamu tahu soal kerja ‘papa’-ku dari mana?”
Jadi, dia memang mau membahas topik itu.
“Bukan aku yang tahu duluan, tapi temanku... tepatnya Hirofumi. Dia nemu akunmu di Twitter. Awalnya dia kira kamu cuma ‘anak SMA yang mirip Shizune’, tapi siapa sangka ternyata itu memang kamu sendiri... ya, semuanya kebetulan saja.”
Sampai kemarin, aku sama sekali tak pernah membayangkan situasi seperti ini akan terjadi. Bahkan sekarang pun aku masih susah percaya. Kalau semua ini mimpi, cepat bangunkan aku.
Sambil memandang outfit Shizune, aku teringat percakapan pertama kami di minimarket.
“Aku penasaran, Shizune... kamu melakukan papa-katsu sambil menyamar jadi anak SMA? Bahkan sampai pakai seragam sailor dan semacamnya... ada alasan khusus?”
“Ah, pertanyaan itu. Alasannya sederhana. Karena para papa memang lebih suka begitu. Obsesinya pada cewek belasan tahun dan cewek dua puluhan itu beda jauh. Anak SMA dan mahasiswi yang usianya cuma beda beberapa tahun saja tetap punya nilai yang berbeda di mata mereka.”
“Rambut hitam juga karena alasan itu?”
“Benar. Aku cuma mewarnainya hitam pada hari-hari aku pergi kerja papa, buat memainkan peran gadis polos. Soalnya kalau penampilanku lebih plain, permintaannya lebih tinggi.”
Dengan nada agak pasrah, Shizune berkata, “Kalau orang dewasa lagi capek, mereka lebih gampang terhibur oleh gadis muda yang polos, kan,” sambil perlahan menyentuh outfit yang dipakainya.
“Tapi... tadi waktu aku lihat kamu di minimarket, kamu masih pakai seragam sailor. Berarti hari ini tadinya kamu memang berniat pergi kerja papa, kan? Kalau begitu, kenapa rambutmu tetap putih?”
“Itu cuma kebetulan. Pagi ini aku nggak sempat menyemprotnya jadi hitam, jadi aku ke kampus dengan rambut putih. Hasilnya, hari ini aku memutuskan batal pergi kerja papa.”
“Cuma karena kamu nggak sempat bikin rambutmu hitam?”
“Mana mungkin. Aku nggak mungkin batal hanya karena alasan sekecil itu.”
“Kalau begitu aku malah makin penasaran...”
“Mungkin karena aku jadi mengenalmu.”
Wajah Shizune sedikit memerah dan senyum lembut muncul di sana. Entah kenapa wajahku sendiri juga terasa memanas, jadi aku buru-buru mengalihkan pandangan dan menutupi mulut dengan tangan kanan.
“...Aku nggak ngerti maksudmu.”
“Kalau kamu, mungkin kamu bisa menerimaku... mungkin.”
“Intuisi macam apa itu?”
“Tapi nyatanya kamu tetap membiarkanku masuk ke kamarmu.”
“Yah... memang sih.”
Bukan berarti aku benar-benar menerima niat Shizune. Tapi melihat timing dan situasinya, perasaannya mungkin memang tidak sepenuhnya meleset.
“Soalnya kamu jelas-jelas mengkhawatirkanku. Kayak tadi waktu lihat jariku.”
“Aku nggak berniat mengkhawatirkanmu...”
“Itu kelihatan jelas dari wajahmu. Tadi juga, bahkan sekarang juga.”
Shizune tampak senang sambil memainkan ujung dua jarinya satu sama lain.
“...Kamu mulai kerja papa itu sejak kapan?”
“Sejak libur musim semi sebelum masuk tahun kedua.”
Berarti baru sekitar empat atau lima bulan.
Dari caranya, dia kelihatan sudah sangat terbiasa, jadi aku sempat salah mengira dia sudah jauh lebih lama melakukan itu. Ternyata belum selama itu.
“Sampai sekarang kamu sudah ketemu berapa orang?”
“Aku nggak pernah hitung. Waktu libur musim semi, aku punya banyak waktu, jadi lumayan sering ketemu. Sejak kuliah mulai, aku biasanya kerja di hari Selasa atau Sabtu-Minggu, kalau kelasku selesai lebih cepat. Dalam seminggu aku ketemu dua orang.”
Percakapanku dengan Hirofumi tadi akhirnya terhubung. Alasan kenapa Shizune datang kuliah dengan rambut hitam sampai kelas etika terakhir tiap Selasa rupanya karena setiap Selasa dia memang ada kerja papa.
Tapi itu bukan inti yang penting sekarang.
Dua orang tiap minggu... aku tak tahu standar orang lain yang melakukan papa-katsu, tapi dari sudut pandangku, frekuensi itu terasa cukup tinggi.
“Kenapa kamu melakukan papa-katsu?”
“Karena aku butuh uang.”
“Kalau begitu, sebenarnya kamu nggak harus memilih papa-katsu... Memang uangnya mungkin lebih sedikit, tapi masih ada cara lain yang lebih aman buat cari uang. Di masa depan, kalau kamu menoleh ke belakang pada keputusan ini—”
“Aku tahu pilihan-pilihan itu!”
Tiba-tiba Shizune berteriak keras sampai tubuhku ikut tersentak.
“Kalau aku menempuh jalan lambat buat nabung... bakal terlalu lama sampai aku bisa keluar dari rumah itu.”
Shizune menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang terdistorsi, lalu perlahan mengatur napas.
Aku menutup mulut dan mendengarkan lanjutannya.
“Aku nggak mau tetap tinggal di rumah itu... aku nggak mau pulang ke sana. Walau cuma sehari, setengah hari, atau semenit pun, aku ingin secepat mungkin terbebas dari tempat itu.”
Setelah napasnya sempat stabil, lama-lama kembali kacau.
Shizune mengepalkan tangan, seolah memeras kata-kata keluar dari dirinya.
“...Bahkan di hari saat aku nggak kerja papa pun, aku tetap tinggal di kampus. Karena aku nggak mau pulang dan juga nggak punya teman, aku menghabiskan waktu di perpustakaan kampus terus... bahkan di Sabtu, Minggu, dan hari libur. Aku selalu bilang ke orang itu kalau aku ‘lagi belajar di kampus’.”
Orang itu... apakah maksudnya seseorang dari keluarganya?
Aku memang belum tahu detailnya, tapi dari caranya bicara, jelas ada sesuatu yang tidak beres dalam situasi keluarganya.
“...Papa-katsu itu berat, kan?”
“Ya jelas berat... ketika aku bersama mereka, mereka cuma melihatku sebagai objek seksual, bukan seseorang yang dicintai sepenuh hati. Tapi meski begitu, aku tetap harus melakukannya... aku cuma merasa bahagia saat menerima uangnya.”
Mungkin setelah menimbang berbagai pilihan, papa-katsu memang menjadi keputusan terakhir yang diambil Shizune untuk mengumpulkan uang. Itu cara paling efisien baginya untuk menabung demi hidup mandiri.
Namun, bukan cuma dia tidak berharap apa pun dari papa-katsu, dia bahkan tampak tidak bisa menerima dirinya sendiri yang menjalaninya.
Mencari uang demi tujuan hidup memang patut dihargai, tapi kalau dampaknya justru menghancurkan mentalnya, mungkin semua itu tidak sepadan. Setidaknya, aku tidak setuju kalau dia terus memaksa dirinya menjual tubuh seperti ini.
“Dari ekspresimu, sepertinya kamu salah paham. Aku belum pernah melakukan hubungan seksual dengan satu pun ‘papa’-ku.”
“Eh? Serius...?”
Pengakuannya yang tak terduga membuatku refleks bersuara.
“Tapi kamu tadi beli... kondom di minimarket, kan?”
“Kondom itu jimatku.”
“Kondom... jimat?”
Aku sama sekali tidak mengerti maksud Shizune, jadi aku pun mengernyit dan mengulanginya.
“Aku nggak mau bersama siapa pun selain orang yang kusukai. Tapi kalau... kalau suatu saat aku berada dalam bahaya dan terpaksa dipaksa, aku masih bisa memohon supaya mereka setidaknya memakai kondom. Itu seperti benteng terakhir yang bisa kuandalkan saat keadaan benar-benar genting. Makanya, setiap kali pergi kerja papa, aku selalu membawanya.”
“Kalau kamu selalu bawa dan nggak pernah pakai, kenapa hari ini kamu datang ke minimarket buat beli yang baru?”
“Karena yang lama hampir kedaluwarsa.”
“Maksudnya?”
“Meski cuma samar-samar, kamu ini virgin, kan?”
“Nembak begitu mendadak itu kasar banget!”
“Tapi aku nggak salah, kan?”
Meski dia tepat sasaran, aku sama sekali tidak mau mengakuinya.
“Emangnya aku memancarkan aura virgin sekuat itu?”
“Lumayan. Reaksimu waktu lihat kotak itu di kasir tadi sudah jelas banget kalau kamu nggak punya pengalaman.”
Memang, memikirkan reaksiku yang goyah tadi saja sekarang sudah cukup membuatku malu.
Mengingatnya kembali, kupingku pun jadi sedikit panas.
“Pokoknya, balik ke topik. Kondom itu punya tanggal kedaluwarsa. Kalau sudah lewat, lebih gampang robek. Kamu nggak tahu, ya, soalnya virgin.”
“Jangan mentang-mentang aku virgin terus kamu anggap aku bodoh.”
Tapi memang, aku benar-benar baru pertama kali tahu kalau kondom juga punya masa kedaluwarsa.
“Yang aku punya sekarang itu sebenarnya barang dari kenalan beberapa tahun lalu, dan masa pakainya sudah hampir habis. Makanya hari ini aku datang ke minimarket untuk beli yang baru.”
“Dan hasilnya, pegawai minimarket-nya malah kebetulan orang yang tahu soal ‘Kotone’.”
Begitulah semua ini bisa berujung pada situasi sekarang. Kebetulan memang menakutkan.
“Seperti yang kubilang tadi, aku nggak pernah sengaja menyembunyikan fakta kalau aku melakukan papa-katsu. Aku juga nggak peduli orang di sekitarku akan menilai bagaimana, dan kalau sampai terbongkar pun nggak apa-apa... cuma, aku memang ingin bicara sedikit denganmu.”
Shizune kembali menatap lurus ke mataku.
“Kalau kamu menganggap tempat ini sebagai tempat persembunyian buat lari dari rumah, aku menolak.”
“Aku nggak pernah berniat tak tahu malu sampai minta sejauh itu.”
Setelah menghabiskan kopinya, Shizune meletakkan mug di sudut meja rendah. Lalu tiba-tiba dia condong ke depan, mendekatkan wajahnya kepadaku, dan menggenggam tanganku erat-erat.
“Paling-paling, aku cuma ingin membangun hubungan yang saling menguntungkan denganmu. Jadi tenang saja.”
Di wajah Shizune terukir senyum jahil sekaligus tanpa takut.
“Kalau dijelaskan sesederhananya... bukan berarti aku ingin ‘tinggal’ di rumah ini... tapi aku ingin ‘keluar-masuk’ rumah ini.”
“Maksudmu ‘keluar-masuk’?”
Dia sedang menyiratkan bahwa dirinya ingin rutin datang ke kamarku dan menghabiskan waktu di sini sampai jam malamnya tiba.
“Masalahnya... kalau cuma begitu, yang untung cuma aku dan kamu nggak dapat apa-apa. Jadi aku memikirkan syarat yang bagus... kontrak terbaik yang bisa membahagiakan kita berdua.”
“Kontrak...?”
“Iya. Nama kontraknya adalah—”
Kontrak Pernikahan Komuter.
Shizune mengusulkan sebuah kontrak yang terasa sangat orisinal.
“Aku akan keluar-masuk kamar ini seperti seorang istri, lalu membantu semua pekerjaan rumahmu. Masak, cuci baju, bersih-bersih, dan pekerjaan kecil lain semuanya akan kutangani. Jadi, sebagai gantinya, aku ingin kamu mengizinkanku terus datang ke kamar ini.”
“Kamu ngomong apa sih...”
“Dengan begitu, waktu kosong yang bisa kamu pakai bakal jauh lebih banyak. Kamu akan punya cukup waktu untuk menggambar... waktu untuk mengejar mimpimu. Dan kalau orangnya aku, aku juga bisa sekalian jadi partner latihanmu.”
Setelah mendengar isi detail kontrak itu, aku perlahan melepaskan tangan Shizune dari genggamanku.
“Nama ‘Kontrak Pernikahan Komuter’ itu terdengar seperti bakal menimbulkan salah paham aneh kalau didengar orang lain.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita sebut ‘Kontrak Meong-Meong’? Soalnya kamu tadi bilang sampai ingin meminjam tangan kucing.”
“Yang itu malah bakal bikin salah paham lebih parah.”
“Meong.”
Dengan ekspresi serius, Shizune membuat pose seperti kucing dengan kedua tangannya.
Jujur saja, kehidupanku sekarang memang berkutat antara kuliah dan kerja, ditambah semua pekerjaan rumah harus kutangani sendiri, jadi waktu buat latihan ilustrasi demi mengejar tujuanku benar-benar sedikit.
Syarat di mana ada orang yang mau mengurus seluruh pekerjaan rumahku tentu sangat menggiurkan. Kalau dia juga bisa menemaniku latihan ilustrasi, itu jelas kondisi yang nyaris terbaik.
“...Syarat ini memang terlalu bagus untuk dilewatkan.”
“Iya, kan? Kalau begitu, kontraknya—”
“Tapi aku harus menolaknya.”
Shizune memang orang yang eksentrik, tapi dia bukan orang jahat. Setidaknya, itu sudah jelas bagiku.
Namun, setiap kali aku melihatnya... ada rasa nyeri tajam menusuk dadaku.
Kenangan yang ditinggalkan mantan pacarku seolah terus berkata, “Jangan terlibat dengan Shizune.”
Usulan Kontrak Pernikahan Komuter dari Shizune memang luar biasa menarik, tapi membayangkan seorang gadis dengan mental yang kelihatannya rapuh dan mudah meledak bisa masuk ke kamarku kapan saja benar-benar membuatku tidak sanggup.
Dan dia bukan cuma terlihat begitu di permukaan.
Dari luapan emosi yang baru saja dia tunjukkan, aku yakin ada sesuatu, tidak, pasti ada “masalah” yang tersembunyi di dalam hatinya yang diam.
Tanpa diragukan lagi, dia adalah gadis gloomy berambut hitam itu.
Detak jantungku perlahan meningkat, dan keringat mulai mengalir di balik pakaianku.
Bagi orang sepertiku yang menganggap gadis gloomy sebagai trauma psikologis, Shizune adalah seseorang yang seharusnya kuhindari bagaimanapun caranya.
Tak peduli sebaik apa pun syarat yang dia tawarkan, aku tidak bisa menerima kontrak itu.
“...Aku nggak akan membuat kontrak apa pun denganmu. Tapi aku juga nggak bilang kalau kamu sama sekali nggak boleh datang ke sini lagi.”
Meski begitu, entah kenapa aku tetap ingin mengulurkan tangan untuk menolongnya.
Aku menekan tangan ke dadaku, berusaha mati-matian menenangkan diriku sendiri.
“Itu artinya...”
“Sesekali, aku masih bisa membiarkanmu masuk ke kamarku. Kalau kamu benar-benar nggak punya tempat lain buat pergi, datanglah ke sini.”
Shizune selalu memberiku perasaan yang mirip dengan cinta pertamaku. Meski begitu, entah kenapa aku juga keras kepala dan ingin sedikit mendukungnya.
Dengan wajah yang tampak makin bingung, Shizune kembali menanyakan syaratnya.
“Meski aku nggak bantu kerja rumah dan nggak menemanimu latihan ilustrasi pun... kamu tetap akan membiarkanku masuk ke kamar ini...?”
“Sesekali saja.”
“Kenapa kamu mau...”
“Bukankah punya ‘teman’ dari universitas yang sama dan bisa diajak bicara itu sudah cukup bagus? Itu saja sudah cukup, kan?”
Lalu aku menambahkan, “Kamu kelihatannya sedang dalam bahaya. Aku mengkhawatirkanmu.”
“...Kalau begitu, aku mengerti.”
Setelah mendengar kata-kataku, Shizune mengangguk pelan.
“Berarti ‘Kontrak Pasangan Sementara’ itu kita lupakan... gantinya, kita buat kontrak untuk menjadi teman.”
“Memangnya jadi teman perlu pakai kontrak?”
“Begitu ya? Tapi... um, mungkin memang nggak perlu.”
Tatapannya sedikit turun, tapi nada suaranya justru terdengar makin cerah saat menerima pengaturan itu.
“Aku akan berusaha menjadi teman yang bisa kamu andalkan.”
“Nggak usah sampai ‘berusaha’ begitu.”
“Sebagai teman, mulai sekarang aku harus memanggilmu apa?”
“Terserah. Panggil saja sesukamu.”
“Kalau begitu, Shinsuke.”
Dengan suara kecil, “Ehehe...,” dia tersenyum manis.
Karena Shizune jarang sekali memperlihatkan emosinya, ekspresi yang tanpa sadar dia tunjukkan itu terasa langsung menyampaikan isi hatinya.
Jadi... dia juga bisa tersenyum seperti ini.
Tanpa sadar, aku terpikat sesaat.
...Sungguh, mungkin yang sakit justru aku sendiri.
Dan begitulah, aku akhirnya terlibat dengan Shizune, gadis gloomy yang tadinya kupikir harus kuhindari sebisa mungkin.