Menhera ga Aisai Apron ni Kigaetara Volume 1 Chapter 1 Part 1

Setelah Bertemu Gadis Berambut Hitam Kelam Itu (1)

“Haah... pengin banget punya pacar.”

“Kelihatannya niat banget, ya.”

“Ya iyalah. Namanya juga mahasiswa, pasti pengin punya pacar, kan?”

“Memangnya begitu, ya, kalau mahasiswa?”

“Ya begitulah konsensusnya. Punya pacar yang imut, dan kalau bisa sekalian having fun sedikit.”

“Pilihan kata yang kamu pakai vulgar juga, ya. Kelihatan banget nafsumu lagi meluap-luap.”

Aku menaruh dua kaleng kopi di atas meja rendah sambil melirik temanku yang sedang rebahan di lantai dan melontarkan kata-kata penuh nafsu itu. Setelah itu, aku pun duduk di atas bantal duduk.

Namaku Aigaki Shinsuke, mahasiswa tahun kedua yang biasa-biasa saja dan sedang kuliah di Tokyo. Asalku dari Saitama, dan pada bulan Maret sebelum masuk kuliah, aku pindah ke Tokyo. Sebenarnya jarak dari rumah ke kampus masih memungkinkan untuk PP naik kereta, tapi berkat bantuan orang tuaku, aku mulai tinggal sendiri di apartemen dekat universitas.

Kamarku ada di lantai dua sebuah apartemen enam lantai. Ruangannya memang merangkap ruang tamu, dapur, dan kamar tidur, tapi cukup luas. Pintu masuknya memakai auto-lock, dan supermarket, minimarket, pertokoan, sampai stasiun, semuanya ada dalam jarak jalan kaki dari apartemen ini. Buat ukuran mahasiswa, kondisi kamar ini bisa dibilang cukup mewah.

Meskipun Tokyo City University, tempatku kuliah, memang berada di Tokyo, letaknya bukan di kawasan 23 distrik spesial yang biasanya orang bayangkan, seperti Aoyama atau sekitar Rikkyo. Kampusnya justru berada di area pinggiran luar 23 distrik. Tapi buat orang sepertiku yang tumbuh besar di pelosok Saitama, tempat ini terasa cukup nyaman dan cocok dengan bayanganku soal kehidupan kampus.

“Ngomong-ngomong, Shinsuke, kamu enak banget sih bisa tinggal sendiri di apartemen sebagus ini.”

Dengan wajah lesu, Yagiyuu Hirofumi, teman pertamaku sejak masuk kuliah, mengangkat tubuhnya lalu mengambil sekaleng kopi sambil cemberut dan mengeluh, “Nggak adil banget.”

“Setiap kali kamu main ke sini, yang kamu bilang selalu itu.”

“Ya soalnya aku iri. Kalau aku tinggal deket kampus, tiap pagi bisa tidur sampai mepet. Lah aku? Dua jam buat PP ke kampus. Kalau ada kelas pagi, aku harus bangun jam lima. Belum lagi, enak banget buat bawa cewek ke sini! Kalau masih tinggal di rumah, jangankan bawa cewek pulang, mimpi aja susah!”

“Bagian kedua itu isinya cuma nafsumu semua, ya. Aku sangat paham.”

Bahkan kalau Hirofumi benar-benar tinggal di apartemen ini pun, rasanya meragukan ada cewek waras yang mau datang kalau diajak. Soalnya dia itu nyaris personifikasi hasrat seksual. Padahal wajahnya lumayan, badannya bagus, dan kepribadiannya juga terus terang. Tapi semua nilai plus itu tenggelam gara-gara syahwatnya yang terlalu kuat.

“Biar aku luruskan, cewek yang bakal kubawa pulang cuma ibu sama adikku.”

“Kamu tuh kayak orang yang merasa harta karun bakal busuk kalau nggak dipakai. Kalau aku yang punya tempat ini, tiap hari aku bakal ngajak mahasiswi dan dosen perempuan datang ke sini. Tembok kamar ini pasti juga lagi nunggu-nunggu hari di mana dia bisa menyaksikan hal-hal mesum antara laki-laki dan perempuan. Tapi kamu emang nggak tertarik sama beginian, ya?”

“Aku nggak punya tembok cabul! ... Lagian, kamu itu ada standarnya nggak, sih?”

“Dosen juga perempuan, kan?”

Maksudku, dosen juga jangan diajak.

“Tapi, Shinsuke, kamu tuh sayang banget sama masa mudamu. Ini loh, masa kuliah. Kenapa nggak punya dua atau tiga pacar sekalian?”

“Pacar itu bukan sesuatu yang bisa punya dua atau tiga sekaligus.”

“Ah, tapi kalau kamu punya pacar, berarti waktu nongkrong di sini bakal berkurang, kan? Kalau ada orang lain yang ngeduluin aku, aku iri banget sih. Jangan-jangan kamu memang ditakdirkan nggak punya pacar!”

“Kenapa semua orang nganggep begitu, sih...?”

“Cuma bercanda. Tapi kalau kamu benar-benar dapat pacar, aku bakal ngutukmu habis-habisan.”

“Nggak bisa sekalian ngucapin selamat aja?”

“Tapi serius deh, kamu emang nggak ada niat cari pacar?”

Hirofumi menyangga dagunya dengan tangan, lalu menatapku lekat-lekat.

“Kenapa tiba-tiba penasaran banget? Emangnya ada sampah nempel di mukaku?”

“Meski nggak separah aku, kamu lumayan cakep juga, Shinsuke.”

Tatapan serius itu bikin bulu kudukku merinding.

“Jangan bilang...”

“Jangan salah paham. Aku murni hetero.”

Nggak nyangka aku harus mendeklarasikan orientasi seksualku dengan begitu tegas.

“Tapi ya, aku agak susah percaya. Kepribadianmu bagus, pendengar yang baik, perhatian juga. Kamu punya semua elemen yang bikin populer, jadi kenapa kamu nggak punya pacar?”

“Punya pacar itu bukan segalanya, kan? Lagi pula, antara kuliah, kerjaan rumah, belum lagi kerja part-time, aku aja baru sempat nyempetin sedikit waktu latihan yang berharga. Mana mungkin aku masih punya waktu buat jalan sama pacar.”

“Mau latihan sebanyak apa pun, tanpa perempuan, kamu nggak bakal bisa melakukan main event-nya, tahu.”

“Pikiranmu isinya cuma itu doang, ya?”

“Ya memang kebanyakan mahasiswa begitu, kan? Tapi serius, buat mahasiswa, nggak tertarik sama hal itu sampai segitunya itu cukup aneh, tahu?”

Hirofumi mengendurkan tubuhnya lalu menopang badannya di lantai, sambil menatapku dengan sorot mata yang entah kenapa terasa penuh iba.

“Aku cuma lagi nggak pengin punya pacar sekarang. Mungkin kalau aku ketemu ‘orang biasa’ yang cocok sama kepribadian dan minatku, baru aku bakal mikirin buat pacaran.”

Walaupun menurutku, masa depan seperti itu nggak mungkin datang buat orang sepertiku yang menghindari interaksi dengan perempuan.

“Jadi, kamu nggak tertarik mendekati siapa pun di kampus karena belum ketemu orang yang cocok sama kepribadian dan minatmu?”

“Ya, kurang lebih begitu.”

“Jadi kamu latihan gambar itu demi menciptakan pacar idealmu, ya?”

“Sesat banget pemahamannya! Memangnya kamu kira ilustrator itu apa?!”

“Kalau bukan begitu, terus apa?”

Sejak kelas satu SMA, aku sudah mengejar mimpiku untuk menjadi ilustrator. Gara-gara pengaruh cinta pertamaku, aku jadi mengagumi orang-orang yang menggambar karakter untuk game dan novel. Begitu masuk SMA, aku mulai serius menekuni ilustrasi.

Aku menghadapi mimpiku ini dengan cukup serius, bahkan setelah lulus nanti pun aku pernah mempertimbangkan untuk jadi ilustrator profesional. Tapi saat SMA dulu, ketika memilih jalur masa depan, orang tuaku berkata, “Kalau bisa, kami ingin kamu memilih sesuatu selain menggambar. Sesuatu yang lebih stabil.” Pada akhirnya, itulah yang membuatku masuk universitas.

Meski begitu, masuk universitas bukan berarti aku menyerah pada mimpiku. Sama seperti saat SMA, sampai sekarang pun aku tetap belajar dengan tekun lewat internet dan buku sambil menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, terus mengejar cita-citaku.

Hanya saja, belakangan ini aku frustrasi karena merasa tidak ada kemajuan, seolah terjebak dalam slump.

Kalau saja ada seseorang yang bisa kuajak berdiskusi soal ilustrasi, mungkin hasilnya akan berbeda. Sayangnya, aku tidak punya kenalan semudah itu.

Walaupun aku latihan setiap hari tanpa bolong, aku tetap merasa kemampuan diriku punya batas.

“Oi, muka kamu muram banget. Bukannya follower Twitter-mu akhir-akhir ini nambah?”

Hirofumi menunjuk ponselku yang ada di atas meja rendah. Aku mengambilnya lalu memperlihatkan halaman akunku.

“Memang akhirnya tembus delapan ribu, tapi setelah itu nggak banyak perubahan.”

“Delapan ribu follower itu udah banyak banget, tahu. Karakter-karakter gambarmu juga imut... Tiap lihat, aku selalu ragu ini beneran gambar kamu atau bukan.”

Sejak mulai menggambar ilustrasi, aku sudah mengunggah karya-karyaku di Twitter dengan nama akun “Shin”.

Awalnya, karyaku hampir tak pernah mendapat pujian. Tapi karena aku terus mengunggah secara konsisten, sempat ada beberapa kali gambarku viral, dan tahun lalu jumlah follower-ku akhirnya menembus delapan ribu.

“Dengan follower sebanyak itu, harusnya banyak yang ngajak kenalan, kan? Jadi gimana kenyataannya?”

“Udah kubilang, ‘akun ini dipakai buat unggah ilustrasi’. Lagian aku juga nggak pernah nunjukin wajahku di internet, jadi nggak mungkin ada ajakan beginian.”

“Bosenin. Kalau aku yang sepopuler itu, popularitas itu bakal kupakai sebagai senjata dan umpan, terus aku DM diam-diam cewek-cewek imut yang menarik di akun mereka.”

“Kalau kamu benar-benar seterkenal itu, kemungkinan besar kamu malah bakal dibakar massa internet. Lagi pula, aku ragu ada cewek yang segitu putus asanya sampai mau ketemu kamu.”

“Ck, kenyataannya nggak sesederhana itu, Watson.”

Sherlock Holmes vibe dari mana lagi ini?

Dengan wajah penuh percaya diri seperti hendak presentasi, Hirofumi mengeluarkan ponselnya dari saku lalu membalikkan layarnya ke arahku.

“Kalau buat unggah ilustrasi, kamu juga pernah pakai hashtag kayak #募集彼氏 atau #絵師さんと繋がりたい, kan?”

Dengan menambahkan simbol yang dia sebut “hashtag” (#) di awal postingan media sosial, kita bisa memakai fungsi tag.

Kalau sudah diberi tag, kita bisa langsung mencari postingan orang lain yang memakai kata yang sama. Sebaliknya, tag itu juga memudahkan orang lain menemukan postingan kita.

“Lihat nih. Kalau cari hashtag ini, banyak akun cewek imut yang lagi cari pacar atau cari kenalan.”

Hirofumi mencari hashtag #募集彼氏.

(TL/N: 募集彼氏 = “sedang mencari pacar”)

Berbagai macam tipe cewek muncul di timeline yang terus discroll: siswi SMA, mahasiswi, OL, gyaru, tipe bening, sampai yang kelihatannya agak aneh pun ada.

(TL Note: OL = office lady, istilah Jepang untuk wanita kantoran. Gyaru = gaya cewek fashionable yang mencolok.)

“Di dunia ini ada sebanyak itu cewek yang cari pacar, tapi satu pun nggak muncul di depanku. Misterius banget, ya.”

“Jelas itu masalah dari dirimu sendiri.”

“Pedas banget dari biasanya... Tapi, coba lihat deh, menurutmu banyak dari cewek-cewek yang posting foto ini cakep, nggak?”

Sambil bilang, “Nih, lihat,” Hirofumi kembali menunjukkan layar ponselnya.

“Menurutmu begitu? Kebanyakan foto ini udah diedit habis-habisan. Nggak bisa menilai mereka benar-benar cantik atau nggak cuma dari foto beginian.”

“Memang, seperti yang Shinsuke bilang, kebanyakan sudah dipoles habis-habisan. Tapi ada juga kok yang kelihatannya nggak banyak edit. Misalnya yang ini! Gimana, lucu, kan?”

“Bukan tipeku.”

“Kalau yang ini? Mirip aktris pendatang baru di drama Jumat malam itu!”

“Aku nggak ngerti selebritas, jadi nggak tahu orang itu.”

“Kalau yang ini? Mirip banget sama Kotosaka dari kelas kita hari Selasa jam kedua!”

“Siapa itu Kotosaka?”

“Kita sekelas loh di jam kedua hari Selasa!?”

“Aku bahkan lebih nggak tahu lagi soal orang itu dibanding selebritas tadi...”

Sudah lelah dengan topik-topik Hirofumi yang selalu berhubungan dengan perempuan, aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke jam dinding.

“Udah hampir waktunya siap-siap bikin makan malam.”

Aku berdiri perlahan lalu berjalan ke dapur.

Kalau percakapan ini diteruskan, waktu latihan menggambarku di malam hari bakal berkurang.

“Hari ini kamu masak buat diri sendiri?”

“Iya. Kalau terus-terusan makan di luar, dompetku nggak bakal tahan. Kakekku juga kirim sayuran dari kebun rumah bulan ini, jadi rencananya aku masak itu.”

“Anak baik banget kamu ya, Shinsuke-kun.”

“Jangan coba-coba menjilat pakai honorifik -kun. Nggak cocok sama kamu dan malah bikin jijik.”

Aku berdiri di dapur, membuka kulkas, lalu memeriksa bahan-bahan yang masih tersisa.

“Karena kamu memang mau makan di sini hari ini, bisa bantu lipat cucian nggak? Kalau bantu kerjaan rumah sedikit, nanti aku traktir makan malam.”

“Uhuk, coba saja kamu perempuan...”

“Kalau aku perempuan, dari awal aku juga nggak bakal ngebolehin kamu masuk ke kamarku.”

Pada jam kedua hari Selasa, kami harus mengikuti kuliah etika.

Aku masuk ke ruang kelas bersama Hirofumi lalu duduk berdampingan, mengobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi.

Bukan berarti aku sama sekali tidak punya teman lain di kampus, tapi selama jam kuliah dan jeda antar kelas, aku paling sering bersama Hirofumi. Bukan cuma karena kami satu jurusan, tapi rasanya memang kami cukup cocok. Kalau tidak, mana mungkin hubungan ini bertahan setiap hari sejak awal masuk kuliah.

“Shinsuke, lihat, cewek yang baru masuk tadi dadanya gede banget! Tali pundaknya sampai ketarik gara-gara payudaranya!”

Kadang-kadang aku benar-benar bertanya-tanya, apa aku sebaiknya memutus hubungan saja dengannya.

“Jangan heboh begitu di kelas. Kelihatan banget buruknya.”

“Maaf, maaf. Besok-besok aku bisikin aja.”

“Dibisikin juga sama menyebalkannya, jadi jangan.”

Aku sudah entah berapa kali menegurnya soal beginian.

“Jujur aja, cewek-cewek di universitas ini levelnya tinggi banget, apalagi yang dari Fakultas Pendidikan! Ah, gila... aku nggak mau belajar sastra, aku maunya belajar pendidikan seks...”

“Pendidikan seks, ya.”

Kuliah etika adalah mata kuliah wajib semua jurusan, jadi selain aku dan Hirofumi yang dari Jurusan Sastra, ada juga banyak mahasiswa dari jurusan lain yang ikut kelas ini.

“Memangnya cewek-cewek Fakultas Pendidikan sebanyak itu yang lucu?”

“Kamu lupa festival kampus tahun lalu? Kontes kecantikannya didominasi cewek-cewek Fakultas Pendidikan.”

“Aku nggak tertarik sama sekali. Aku bahkan nggak ingat siapa yang menang kontes kecantikan.”

“Itu highlight festival kampus, tahu!”

Hirofumi menepuk meja, lalu wajahnya mendekat ke arahku. Aku menjauhkan daguku agar tak terlalu dekat, lalu menekan bahunya untuk mendorongnya kembali ke posisi semula.

“...Oh?”

Lalu Hirofumi sepertinya menyadari sesuatu dan condong ke depan, seolah sedang mengintip. Terpancing oleh suara dan arah pandangnya, aku ikut menoleh ke sana.

...

Tubuhku sedikit bergetar saat melihat seorang gadis yang bahkan namanya saja tidak kukenal sedang berjalan mendekati kami.

Dia melangkah di lorong antar kursi tanpa ragu, perlahan-lahan semakin dekat ke arahku dan Hirofumi.

Seluruh keberadaannya memancarkan aura yang anehnya terasa familiar.

Dia mengenakan atasan dengan desain unik dan rok mini, boots platform, tas tangan, liontin, aksesori rambut, begitu banyak ornamen yang semuanya disatukan dalam warna hitam. Berbanding terbalik dengan pakaiannya, kulitnya putih pucat dan riasan mata merahnya terlihat mencolok.

Rambutnya berwarna putih keabu-abuan yang memikat, diikat menjadi dua ponytail kecil.

Sesaat, aku merasa seperti sedang melihat boneka buatan tangan yang sangat indah sedang berjalan.

Tingkat keseriusan pada detail penampilannya memang setinggi itu.

Namun, semakin dekat dia pada kami, detak jantungku mulai meningkat perlahan.

Bagian dalam bajuku mulai terasa panas, dan tak lama kemudian aku menyadari tubuhku mulai mengeluarkan keringat dingin.

“Oi, oi, ini beneran...? Hari ini dia duduk deket banget!”

Dia membungkuk lalu duduk di barisan depan yang letaknya dekat dengan kami. Aku tak melihat siapa pun yang tampak seperti temannya, jadi sepertinya dia datang ke kelas sendirian.

“Wah, keberuntungan macam apa ini! Jarang banget ada kesempatan lihat dia dari dekat.”

“...N-ngomong, gadis itu terkenal, ya?”

Aku berbisik serendah mungkin pada Hirofumi yang jelas-jelas sedang bersemangat.

“Jangan bilang, Shinsuke, kamu bahkan nggak kenal Kotosaka-san...? Bahkan di antara mahasiswi tahun kedua Fakultas Pendidikan, dia termasuk kelas atas soal lucunya, dan katanya kalau ikut kontes kecantikan, peringkat atas udah pasti.”

“Kotosaka-san...? Kayaknya aku pernah dengar nama itu entah di mana...”

“Ya, dia memang cukup terkenal sampai kamu setidaknya pernah dengar namanya... Eh, bentar? Ah... iya, iya, itu dia! Cewek yang kemarin aku omongin di kamarmu!”

“Ah, iya...”

Begitu dia bilang itu, aku langsung teringat.

Selfie yang diunggah di internet. Gadis yang wajahnya sangat mirip dengan yang disebut Hirofumi, apa itu dia yang ada di foto?

“Kalau dilihat dari dekat, memang mirip banget.”

Hirofumi mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu membuka Twitter, kemudian memiringkan layarnya agar aku bisa melihat fotonya.

“Kamu sampai nge-like fotonya segala...”

“Soalnya lucu, terus tanpa sadar kepencet like.”

Hirofumi tertawa cekikikan sambil menggaruk kepalanya, lalu menatapku dengan ekspresi mesum.

Aku tidak menanggapi tingkah Hirofumi yang menyebalkan itu dan kembali melihat foto tersebut.

Aku membandingkan wajah Kotosaka-san yang barusan kulihat dengan perempuan dalam foto itu.

“...Memang, wajah mereka cukup mirip.”

“Kan, kubilang juga! Tapi kalau dibanding dunia nyata, Kotosaka-san jauh lebih imut daripada cewek di foto ini.”

“Oi, kecilin suaramu!”

Aku menempelkan telunjuk di depan hidungku, sementara sosoknya tetap kutahan di sudut penglihatanku. Beberapa detik lamanya, aku mengamati penampilannya sambil mengingat-ngingat suasana kelas-kelas sebelumnya.

“...Aku mau tanya, Kotosaka-san memang pernah ikut kelas ini sebelumnya?”

“Hah? Maksudmu?”

“Walaupun aku nggak terlalu memperhatikan sekitar, kalau ada cewek dengan pakaian semencolok itu dan warna rambut seperti itu di kelas, harusnya aku sadar...”

“Ah, kurasa hari ini mungkin pertama kalinya dia masuk kuliah etika.”

“...? Hari ini pertama kali...?”

“Katanya dia suka ganti warna rambut sesuai mood. Biasanya sih putih, tapi kalau lagi pengin, dia semprot jadi hitam.”

“Begitu...”

Kalau selama ini dia selalu berambut hitam saat masuk kelas, wajar kalau aku tidak menyadarinya.

Tapi tetap saja, aku tidak pernah menyangka ada orang yang mengganti warna rambut pakai spray sesuai suasana hati. Apalagi aku sendiri memang tidak tertarik pada fashion...

“Hebat, ya? Sebagai orang Jepang, rambut hitam jelas cocok buat dia, tapi bahkan warna rambut seglamor itu pun tetap pas di dia.”

Hirofumi menyilangkan tangan sambil menatap Kotosaka-san dengan kagum.

Fashion dan makeup-nya juga selaras dengan warna rambutnya. Itu memang berpengaruh, tapi penampilan aslinya sendiri memang sudah sangat cantik. Saking sempurnanya, sampai-sampai membuatku terpikir soal boneka.

“Maksudku, Shinsuke, gimana kalau cewek ini orang yang sama dengan yang di Twitter?”

“Mana mungkin kebetulan semiracle itu terjadi?”

“Tapi coba lihat baik-baik. Cewek di foto ini juga tinggal di Tokyo, jadi bukan nggak mungkin!”

“Memangnya kamu kira ada berapa banyak orang yang tinggal di Tokyo?”

Lagipula, belum tentu tempat tinggal Kotosaka-san memang di Tokyo. Bisa saja dia kuliah di sini, tapi berasal dari prefektur sekitar.

“Nama akunnya ‘Kotone’, kan?”

Hirofumi memegang ponsel di depan wajahnya dengan ekspresi bingung, bergantian menatap foto dan postingannya.

Kotone di foto itu memakai seragam sailor serba hitam. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, dan makeup naturalnya menciptakan kesan bening sekaligus serius.

Di postingan itu juga ada tag seperti #Tokyo住み #17歳 #JK #美少女 #募集彼氏 #募集パパ

(TL Note: #Tokyo住み = tinggal di Tokyo, #17歳 = 17 tahun, #JK = joshi kousei/siswi SMA, #美少女 = gadis cantik, #募集彼氏 = sedang mencari pacar/cowok, #募集パパ = sedang mencari “papa” alias sugar daddy.)

Postingan itu mendapat cukup banyak like, dan di kolom balasannya ada beberapa komentar. Tapi jelas sekali komentar-komentar itu semuanya datang dari laki-laki yang lebih tua darinya.

Ada kesan kriminal memang, tapi aku juga kaget melihat kontras antara penampilan dan tindakannya, sampai tanpa sadar berpikir, “Cewek ini juga cari papa?”

“Kalau dilihat dari postingannya, cewek ini anak SMA. Berarti kemungkinan besar dia bukan Kotosaka-san sendiri.”

“Ya, mungkin memang begitu. Tapi, tahu nggak, Kotosaka-san itu kelihatannya nggak punya teman. Dia selalu datang ke kelas ini sendirian.”

“Serius? Begitu ya?”

“Di sebelah Kotosaka-san ada kursi kosong. Mumpung langka, ayo pindah ke sana bareng! Aku pengin pakai kesempatan ini buat lebih dekat dengannya...!”

“Aku tunggu kamu di sini aja. Semangat, Hirofumi.”

Aku menolak dingin Hirofumi yang sudah berdiri dari kursinya.

“Kelihatannya kamu benar-benar nggak tertarik. Kalau nggak mau ngapa-ngapain juga nggak apa, pokoknya ikut aja. Temenin aku!”

Kalau bahkan tidak melakukan apa-apa pun tetap boleh, maka alasanku untuk ikut justru makin tidak ada.

“Maaf. Nanti lain kali aku bantu.”

“Kamu tiap kali selalu bilang begitu, tapi nggak pernah nemenin aku!”

“Benarkah?”

Aku memiringkan kepala seakan polos menanggapi ekspresinya yang kikuk.

“Pokoknya, kali ini benar-benar nggak bisa.”

Aku menopang pipiku di atas tangan sambil melirik punggung Kotosaka-san. Lalu, tiba-tiba dia menoleh ke belakang, dan tanpa sengaja mata kami bertemu.

“...Shinsuke, kamu nggak enak badan?”

Aku buru-buru menundukkan kepala. Hirofumi yang menyadarinya langsung bertanya.

“Nggak, badanku nggak apa-apa. Maksudku, ya, nggak ada yang salah...”

Walaupun saat dia masuk ke dalam pandanganku, tubuhku memang mengalami perubahan.

Detak jantungku bertambah cepat, dan aku bisa merasakan keringat dingin mulai muncul. Alasan reaksi ini cuma mungkin satu.

Dia mengingatkanku pada pacar pertamaku di tahun pertama SMP, dan keberadaan gadis itu seolah kembali membayang di dalam pikiranku.

“Tipe seperti itu... aku nggak sanggup.”

Kotosaka-san, mahasiswi dengan fashion jirai-kei.

(TL Note: jirai-kei secara harfiah berarti “tipe ranjau”; biasanya merujuk pada gaya cewek yang terlihat manis dan menarik, tapi memberi kesan emosional, berat, dan rawan bikin hubungan jadi rumit.)

Trauma psikologis yang terkubur jauh di dalam hatiku mulai meluap sedikit demi sedikit.

Naluri dalam diriku seakan memperingatkanku untuk tidak terlibat dengannya.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa