Saat itu hari Kamis di akhir Juli.
Lewat beberapa menit dari jam empat sore. Panasnya musim panas sudah sedikit mereda dibandingkan saat tengah hari.
Aku, Aigaki Shinsuke, pulang ke Saitama untuk menghadiri pesta ulang tahun adik perempuanku.
"Sejak libur musim semi... sudah empat bulan, eh, mungkin lima bulan yang lalu ya?"
Setelah sekitar dua jam di kereta, aku turun di stasiun terdekat dari rumah orang tuaku, melewati gerbang tiket, dan melangkah keluar. Pemandangan yang familier terhampar di hadapanku.
Ada supermarket, restoran, toko pakaian, toko buku, dan fasilitas hiburan. Hampir semua yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari berpusat di sekitar stasiun. Tapi tidak seperti pusat kota Tokyo, hampir tidak ada gedung tinggi di sini.
Tempat ini tidak bisa dibilang pedesaan, tapi juga jauh dari kesan perkotaan. Jalan sedikit saja dan kamu akan menemukan jalanan dengan hamparan sawah. Ini adalah kota biasa yang tenang. Ini adalah kampung halamanku, ralat, kampung halaman kami.
"Wah, lihat deh! Bukannya di sebelah sana ada izakaya baru!?"
Seorang mahasiswi bergaya street fashion dengan rambut hitam yang sebagian besar tersembunyi di balik topi, warna teal di bagian dalam, dan mengenakan kaus kebesaran yang dipadukan dengan celana pendek. Kujo Chitose, teman masa kecilku yang tumbuh besar bersamaku di kota ini, tiba-tiba menggandeng lenganku secara paksa sambil menunjuk ke arah pintu masuk jalan perbelanjaan.
"Chitose, berhenti menempel di lenganku di tempat seperti ini. Bisa saja ada orang yang kita kenal di sekitar stasiun."
"Justru itu malah makin bagus, kan? Ayo kita tunjukkan ke semua orang kalau cowok kota besar kayak Shin-chan sekarang udah punya cewek yang nempel terus sama dia!"
"Kamu ini... apa kamu lupa seberapa cepat rumor menyebar di kota kecil...?"
Di daerah pedesaan yang masyarakatnya sangat rukun, gosip menyebar dengan kecepatan yang mengerikan.
Apalagi kalau soal Chitose, dia selalu aktif di festival lokal dan acara olahraga, jadi dia praktis sudah seperti selebritas di kalangan generasi kami. Waktu SMP, cowok-cowok dari sekolah lain sampai rela menunggu di gerbang sepulang sekolah cuma buat melihatnya sekilas. Dia setidaknya punya penggemar sebanyak idola kampus, atau bahkan mungkin lebih.
Meskipun sudah bertahun-tahun sejak kami lulus, kalau orang-orang melihatnya menggandeng lenganku, beberapa penggemar fanatiknya mungkin bakal mencoret-coret rumah kami dengan pesan kebencian.
"...Kujo-senpai, menjauh dari Shinsuke sekarang juga."
Ditambah lagi kali ini kami membawa tamu, jadi aku benar-benar tidak ingin menarik perhatian.
"Mou~ Kamu nggak perlu narik aku sampai kayak gitu juga kali!"
Ditarik dari lenganku, Chitose melepaskan gandengannya dariku, menoleh ke arah si pelaku, dan cemberut dengan dramatis.
"Jadi... Shizune, gimana pendapatmu tentang tempat ini? Kesan pertama?"
"Di sekitar stasiun ternyata lebih maju dari dugaanku, dan orang-orangnya juga lebih banyak. Kukira tempat ini bakal sekosong pantai di pertengahan musim dingin."
"...Bayanganmu tentang tempat ini lumayan sepi ya."
Saitama bahkan tidak punya laut, dan aku belum pernah berenang di musim dingin, jadi aku tidak tahu seberapa kosong sebenarnya perumpamaan itu.
Pokoknya, aku lega bisa membawanya ke sini.
Rambut abu-abu pucat yang diikat half-twintails, perona mata merah di sekitar mata, dan berbalut pakaian bernuansa hitam gaya jirai-kei andalannya. Aku melirik Kotosaka Shizune dari samping dan menghela napas lega pelan.
Awalnya hal ini terasa mustahil, tapi berkat siasat Chitose, aku berhasil membawa Shizune pulang bersamaku.
Di hari Chitose memaksa mengambil foto berdua itu, Shizune pulang dan langsung bernegosiasi dengan orang tuanya. Entah bagaimana, dia berhasil mendapat izin untuk menginap di hari itu juga.
Rupanya awalnya mereka curiga dan bertanya apa orang bernama Chitose ini benar-benar temannya, tapi memperkenalkannya sebagai "teman perempuan pertamaku dari kampus" sepertinya berhasil meyakinkan mereka.
Apa pun itu, fakta bahwa kami semua ada di sini bersama-sama menjadikan hal ini sebagai akhir yang bahagia.
"Tetap saja, nggak ada yang bisa ngalahin kru biasa kita! Kumpul bareng di kampung halaman itu rasanya luar biasa!"
"...Tolong masukkan Hirofumi ke dalam 'kru biasa' itu juga..."
Aku menambahkan komentar setengah hati pada deklarasi Chitose yang berseri-seri.
Sesuai rencana, Yagiyu Hirofumi saat ini sedang berada di kampus mengikuti kelas remedial.
Shizune dan Chitose berkumpul di apartemenku dulu sebelum pergi ke stasiun, dan sampai saat kami berangkat, Hirofumi terus mencoba bolos kelas dan ikut kami. Tapi kalau dia terus begitu dia benar-benar terancam tidak lulus, jadi kami menyeretnya paksa ke kampus lalu kabur naik kereta.
"Jadi, Shin-chan, rencananya apa sekarang? Mau mampir ke beberapa izakaya dulu?"
"Pergi saja sendiri kalau kamu mau..."
"Kamu tega ngebiarin gadis kecil tak berdaya sepertiku minum sendirian sepagi ini? Sedih dan kesepian banget tahu?"
"Gadis kecil tak berdaya nggak bakal masuk ke izakaya! Lagipula usiamu udah kelewat jauh dari masa-masa pakai popok."
"Nggak, nggak, siapa yang tahu~? Alkohol bikin aku gampang kebelet pipis, jadi aku beneran mempertimbangkan buat mulai pakai popok sebelum minum."
"Jangan merencanakan jadwal minummu berdasarkan potensi ngompol..."
"Kalau aku lagi minum minuman keras kadar tinggi, aku bisa lari sprint ke kamar mandi setiap lima belas menit sambil nenggak sebotol isshoubin (botol sake besar)."
Selama sepersekian detik aku membayangkan Chitose memakai popok sambil memegang botol sake raksasa, lalu aku segera menggelengkan kepalaku kuat-kuat untuk menghapus bayangan brutal itu.
"Kamu nggak bener-bener butuh popok buat hal kayak gitu."
"Kamu yakin? Bahkan kalau aku ngompol secara spektakuler di rumah orang tuamu?"
"Kunci saja dirimu di kamar mandi dan minumlah di sana!"
Membuatnya muntah di apartemenku saja sudah cukup buruk. Aku tidak butuh dia mengompol saat minum di rumah keluargaku.
Ini kan pesta ulang tahun adikku, tapi gadis ini malah sepenuhnya masuk ke mode pesta gila-gilaan...
Chitose dan aku punya pakaian ganti di rumah, jadi normalnya satu ransel saja sudah cukup untuk tiga hari dua malam.
Tapi dia malah membawa dua kantong kertas besar, yang satu jelas-jelas berisi minuman keras yang sepertinya sengaja dia bawa khusus untuk minum bareng ayahku.
"Ngomong-ngomong soal itu, kantong yang satunya lagi isinya hadiahmu buat adikku, kan?"
Aku mengalihkan pandanganku ke kantong tanpa alkohol di tangannya.
"Yap, yap. Isinya masih rahasia~"
"Setidaknya kamu bisa kasih tahu kami."
"Nggak ah, perasaanku bilang aku bakal dimarahin..."
"...Jangan bilang yang itu isinya alkohol juga...?"
"Tepat sekali! Ah, Shizu-chan, kamu ngasih hadiah ulang tahun apa!?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan sejelas itu!"
Dia nggak mungkin beneran bawa minuman keras sebagai hadiah... kan?
Yah, kalau Chitose benar-benar melakukannya, aku akan mengurusnya nanti. Aku juga penasaran hadiah apa yang Shizune siapkan untuk adikku.
"...Aku memang menyiapkan sesuatu, tapi aku nggak yakin dia bakal suka."
Dia menjawab pertanyaan Chitose dengan bergumam.
Mulai pagi hari setelah rencananya menginap dikonfirmasi, dia terus bertanya kepadaku berulang kali tentang hadiah ulang tahun apa yang bagus dan memikirkannya semaksimal mungkin.
Chitose sudah kenal dengan adikku, tapi Shizune dan Yuno bahkan belum pernah bertemu. Normalnya kamu pasti tidak tahu harus memberi apa untuk orang seperti itu.
"Jadi pada akhirnya kamu beli apa, Shizune?"
"...Rahasia."
"Kamu juga...?"
"Aku nggak pengin Shinsuke tahu... Soalnya memalukan."
Shizune memeluk kantong kertas itu dengan lembut ke dadanya, pipinya sedikit merona merah.
Sekarang aku jadi makin penasaran...
"Dan bagian yang paling penting, kamu mau ngasih dia apa, Shin-chan?"
"Kalau kalian berdua nggak mau ngasih tahu, bukannya lebih baik kalau aku merahasiakan milikku juga sampai waktunya tiba?"
"Hmm, aku sih pengin lihat sekarang, tapi... ya sudahlah. Aku bakal nunggu Shin-chan memamerkannya nanti~"
"Sebenarnya kamu pikir aku bakal memamerkan apa!?"
"Eh, adik kecil-mu, jelas?"
"Dia bakal menendangku sampai mati!"
Lelucon jorok sebagai hadiah ulang tahun adalah hal terburuk yang mungkin dilakukan oleh seorang kakak laki-laki.
☆
Setelah obrolan soal hadiah mereda, kami bertiga menuju ke rumah keluarga Aigaki, memotong jalan melewati area perbelanjaan dan terus berjalan.
Jarak dari stasiun ke rumah kira-kira sekitar dua puluh menit jalan kaki.
Ibu seharusnya menjemput kami dengan mobil, tapi rupanya dia sibuk menyiapkan makanan dan tidak bisa pergi.
Berjalan di bawah terik matahari memang berat, tapi karena aku mengobrol dengan teman-teman, rasanya sedikit lebih baik daripada sendirian.
"Kita sampai, ini rumahnya. ...Kamu nggak apa-apa?"
Saat kami tiba di gerbang, aku memanggil Shizune. Kelelahan karena terik matahari, dia menumpukan tangan di lututnya sambil terengah-engah.
"...Aku nggak apa-apa. Cuma kepanasan... sedikit kelelahan."
"Ya, pakaianmu jelas lebih bikin gerah daripada pakaian kami..."
Meskipun ini sedang puncak musim panas, Shizune mengenakan pakaian gaya jirai-kei bernuansa hitam andalannya, lengkap dengan lengan panjang.
Warna hitam menyerap sinar matahari, dan lengan panjang membuat panas sulit keluar. Di hari seperti ini, pakaiannya adalah pilihan yang paling buruk.
Tapi dia jelas punya keterikatan yang kuat dengan gayanya dan tetap memilih untuk memakainya meskipun panas begini, jadi aku tidak punya hak untuk protes.
"Ayo cepat masuk. Kita bisa mendinginkan diri di dalam."
Dia mengangguk, menstabilkan napasnya, dan menatap rumah itu. Matanya membelalak saat dia memindai rumah itu dari atas ke bawah dengan sedikit antusiasme yang terlihat.
"...Rumahnya besar dan kelihatan kayak ryokan (penginapan tradisional) modern yang mewah."
"Itu agak berlebihan..."
Tapi dia juga tidak sepenuhnya salah.
Rumah dua lantai ini dirancang sendiri oleh ayahku yang seorang arsitek, dibangun dengan perhatian cermat pada setiap detail layaknya desainer rumah sejati.
Gaya yang disebut "wafuu-modern" ini memadukan estetika Jepang dengan sentuhan Barat, memancarkan suasana yang trendi namun entah mengapa terasa menenangkan.
Masih berlebihan sih, tapi rumah ini memang terlihat mengesankan.
"Baiklah, ayo masuk. Kuncinya ada di..."
Aku melewati gerbang lebih dulu, menuju pintu depan, mengayunkan ranselku ke depan, dan merogoh ke dalamnya. Dan saat itulah hal itu terjadi.
"Aduh!?"
Pintu itu tiba-tiba terbuka dengan keras dan menghantam tepat di dahiku dengan bunyi debuk yang tumpul.
"...Ah! Onii-chan, maaf. Eh, tunggu! Aniki, kenapa kamu malah berdiri di situ kayak orang bodoh!?"
"Jangan tarik lagi permintaan maafmu!"
"Lagian dari awal aku nggak minta maaf! Berpikir kalau orang sepertimu pantas dapat permintaan maaf itu bener-bener puncak narsisisme!"
"Aku bener-bener khawatir sama adik perempuan yang memperlakukan kakak kandungnya sendiri kayak manusia rendahan!"
Sambil mengusap dahiku yang perih, aku balas berteriak ke arah sosok yang berdiri di ambang pintu yang terbuka.
Rambut hitam ikal alami, mengenakan seragam yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Dia masih membawa kepolosan kekanak-kanakan yang tak terbantahkan.
Aigaki Yuno. Adik perempuanku yang merupakan siswi kelas satu SMA dan sedang berada di puncak masa puber. Reuni pertama kami setelah berbulan-bulan.
"Gadis yang berulang tahun keluar sendiri buat menyambut kita. Sambutan yang cukup antusias ya!"
Chitose menyilangkan tangan, mengangguk penuh nostalgia melihat interaksi kami, lalu melangkah lebih dekat.
Tapi Yuno buru-buru bersembunyi di belakangku sambil mencubit ringan lengan bajuku.
"C-Chi-chan...! S... selamat datang..."
"Hei hei, Yuno-chan. Kamu udah makin besar aja sejak terakhir kali kita ketemu~?"
"Kamu kedengaran kayak tante-tante yang cuma muncul beberapa tahun sekali."
"Terutama... yah, boing! Perkembangan yang sangat luar biasa."
"Berhenti ngomong kayak om-om mesum di acara kumpul keluarga!"
Kami sebenarnya tidak punya kerabat yang suka melakukan pelecehan seksual seperti itu.
"Ngomong-ngomong... Yuno. Kamu berumur enam belas tahun hari ini, kan? Masih aja pemalu kalau ketemu orang? Dia itu Chitose, bukan orang asing."
"Beresik, Aniki bodoh! Wajar kan kalau jadi kaku pas ketemu seseorang yang udah lama nggak kita temui! Cuma orang aneh yang bisa langsung ngobrol normal, jadi berhenti menyamakanku sama orang aneh kayak kamu!"
Aku sangat berharap dia juga bisa memperbaiki sikap agresif-yang-hanya-ditujukan-pada-kakaknya itu.
Dulu waktu SD, Yuno adalah adik perempuan menggemaskan yang selalu mengikutiku ke mana-mana sambil memanggil "Onii-chan, Onii-chan!" Tapi tepat setelah masuk SMP, dia masuk ke mode pemberontakan penuh, dan bahkan sekarang di SMA pun masih sama saja.
Meski begitu, di balik kata-kata kasarnya padaku, dia sebenarnya anak yang serius dan rajin. Kabarnya dia menghabiskan hari-harinya di klub kerajinan tangan SMA untuk membuat berbagai hal.
"...Terus, Aniki...?" Yuno, yang sedetik lalu penuh energi, kini berbisik dari balik punggungku. "Um, cewek yang di sana itu... apa dia orang yang kamu ceritakan...?"
"Iya. Shizune, sini. Aku akan memperkenalkanmu."
"...Mengerti."
Mendengar kata-kataku, Shizune berjalan ke arah kami. Ia terlihat tegang tak seperti biasanya dan sedikit cemas saat menatap ekspresi Yuno.
"Um... gadis yang sembunyi di belakangku ini adikku, Yuno. Dan perempuan di sini ini temanku dari kampus, Kotosaka Shizune. Aku udah ngasih tahu nama kalian berdua sebelumnya, jadi kalian ingat, kan?"
Hening.
Selama beberapa detik, Shizune dan Yuno hanya saling tatap tanpa bicara.
Yuno kembali mencengkeram lengan bajuku dan menarik dirinya lebih dekat.
Suasananya terasa berat dan bahkan aku sempat membeku sejenak. Sebagai orang yang membawa Shizune jauh-jauh ke sini, aku tahu aku harus memecahkan suasana...
"Um...!"
Tepat saat ketegangan itu hampir mencekik kami, Yuno tiba-tiba meninggikan suaranya.
Adik perempuanku yang sangat pemalu mencoba bicara lebih dulu. Aku langsung merasakan perkembangannya dan mataku memanas karena terharu.
Cengkeramannya di lengan bajuku mengerat dan aku bisa merasakan kegugupannya yang luar biasa. Kemudian, dengan menguatkan diri, Yuno menarik napas dalam-dalam.
"Shizune-san... apa kamu dan kakakku sudah... melakukannya...!?"
"A—APA!?"
Aku berteriak mendengar pertanyaan konyol yang baru saja dia lontarkan pada Shizune.
"Yuno! Pertanyaan macam apa yang kamu tanyain ke orang asing yang baru pertama kali kamu temui!?"
"T-Tapi...! Kamu selalu bilang benci sama cewek jirai-kei...! Tapi kamu malah bawa cewek pulang ke rumah selain Chi-chan...!"
Dia terbawa emosi selama sedetik, lalu suaranya perlahan mengecil.
Tapi aku mengerti kenapa dia terguncang.
Aku memang tidak pernah memberitahunya secara langsung, tapi entah bagaimana Yuno tahu aku punya kebencian yang kuat terhadap gadis dengan dua ciri khusus: "jirai-kei fashion" dan "bekas luka yang terlihat akibat menyakiti diri sendiri". Dia juga tahu aku pada umumnya menghindari perempuan.
Satu-satunya perempuan selain keluarga yang pernah dekat denganku hanyalah Chitose. Dan sekarang aku tiba-tiba membawa pulang seorang gadis. Berpakaian jirai-kei dari atas sampai bawah pula.
Tentu saja dia bingung dan tidak bisa langsung menerimanya.
Melihat Yuno seperti ini, Shizune dengan tenang melangkah lebih dekat.
"...Aku belum pernah melakukan pengalaman semacam itu dengan Shinsuke."
Dia menjawab pertanyaan Yuno dengan santai.
"Tapi aku nggak bisa percaya itu... Kamu pasti punya semacam kartu as buat mengancamnya... Kalau nggak, mana mungkin..."
"Hei, Yuno. Itu terlalu nggak sopan buat seorang tamu—"
"Onii-chan, diam!"
—Guh!
Yuno memotong ucapanku dan menghantamkan lututnya tepat ke pahaku tanpa ampun. Rasa sakitnya terasa seperti menembus otot dan aku langsung tersungkur ke lantai saat itu juga.
"...Aku nggak punya ancaman apa pun buat Shinsuke. Atau lebih tepatnya, apa Shinsuke bahkan punya kelemahan?"
"Uh... kalau kamu bilang begitu, nggak ada yang langsung terlintas di pikiranku sih..."
"Sama. Aku nggak kepikiran apa-apa."
Shizune berjongkok, dengan lembut mengusap pahaku sambil melanjutkan.
"...Shinsuke itu benar-benar baik dan memperlakukanku... memperlakukan teman-temannya... seperti keluarga. Aku nggak bisa membayangkan dia punya hal yang membuatnya merasa bersalah."
Kata-katanya terdengar sangat memalukan sampai-sampai aku memalingkan muka untuk menyembunyikan wajahku.
Sepertinya dia benar-benar memercayaiku... Sebuah senyuman lolos sebelum aku bisa menghentikannya.
"...Kamu benar-benar memperhatikan kakakku dari dekat, ya."
Mendengar kata-kata Shizune sepertinya sedikit meruntuhkan pertahanan Yuno. Dia menjadi lebih tenang dan berbicara lebih pelan.
Shizune dan Yuno sama-sama punya kepribadian yang kuat, jadi awalnya aku sempat khawatir... tapi kalau begini terus, mungkin saja mereka bisa akrab.
"Dan dia sudah pernah menolakku sekali."
"...Hah?"
Tepat setelah aku berpikir begitu, Shizune menjatuhkan bom lainnya dan aku mengeluarkan suara bodoh.
"Menolakmu...?"
Yuno mengulangi, tampak curiga.
"Aku pernah telanjang sampai cuma pakai pakaian dalam dan menyerahkan diri padanya, tapi dia keras kepala menolak."
"A-Apa...?"
Mata Yuno membulat menatapku yang sedang memegangi paha.
"Dan dia juga sudah pernah melihatku benar-benar telanjang. Tapi dia sama sekali nggak pernah menyerangku."
Mata Yuno berkedut saat dia menatapku dengan tatapan jijik yang terang-terangan.
"Jadi tenang saja. Bahkan dalam 'situasi seperti itu', Shinsuke nggak akan pernah, nggak akan pernah melakukan apa pun denganku kecuali kami benar-benar berpacaran—"
Tepat setelah Shizune selesai bicara, kaki Yuno menghantam pinggangku dengan kekuatan yang mengerikan.
Ada hal-hal yang bahkan aku sendiri tidak ingin keluargaku tahu...
☆
"Kamu nggak perlu nendang sekencang itu kan... Kita nggak pernah ngelewatin batas..."
"Menciptakan 'situasi seperti itu' dari awal aja udah jadi masalah besar!"
Masih menahan sakit di pinggang, aku berjalan menyusuri lorong di sebelah Yuno, memandu Shizune dan Chitose ke kamar tamu tempat mereka akan menaruh tas.
Menggeser pintu fusuma memperlihatkan ruangan bergaya Jepang murni dengan lantai tatami. Cukup besar untuk empat futon dengan sisa ruang yang lapang, lengkap dengan TV dan meja pendek. Sama seperti yang Shizune bilang soal bagian luarnya, tempat ini benar-benar terasa seperti ryokan.
"Wah... udah lama aku nggak ke sini. Masih super nyaman~"
Chitose melemparkan tasnya ke sudut, menjatuhkan diri ke tatami, dan mulai berguling-guling seperti sedang mencoba menyerap aroma rumput igusa.
"Kalian berdua bakal tidur di sini malam ini. Futon ada di lemari itu, ambil saja yang kalian butuhkan."
Kami akan menginap dua malam tiga hari, tapi Shizune dan Chitose hanya akan tidur di sini malam ini.
Sehari setelah diputuskan bahwa Shizune akan ikut dengan kami, dia memberitahuku, "Aku merasa nggak enak kalau harus numpang di keluarga Aigaki selama dua malam penuh." Mempertimbangkan perasaannya, kami memutuskan: malam pertama di rumahku, malam kedua di rumah Chitose.
Dan sejujurnya, itu keputusan yang cukup bagus.
Dia bilang ke orang tuanya kalau dia menginap di "rumah Chitose," jadi kalau mereka mengambil beberapa foto di kamar Chitose, itu akan jadi bukti kalau dia benar-benar menginap dengan seorang perempuan.
"Hei, hei. Shin-chan, kamu nggak tidur di sini sama kami malam ini?"
"Aku tidur di kamarku sendiri. Kalau aku tidur sekamar sama kalian berdua di rumah orang tuaku, pasti ada yang bakal ngebunuh aku."
Aku melirik Yuno dan dia memberiku senyuman mengerikan yang jelas-jelas berarti "tentu saja."
"Yah~ Kamu nggak asyik. Kita kan akhirnya bisa ke sini, ayo bagi futon! Aku bahkan bakal jadi futonnya dan menghangatkanmu sendiri gimana?"
"Kemungkinan persis kayak gitu yang bikin aku tidur di kamarku sendiri..."
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa~ Kamarnya gede kok! Kalau cuma kita berdua aja bakal banyak ruang kosong. Kan, Shizu-chan?"
"...Iya. Aku juga lebih suka bareng Shinsuke."
"Tuh kan? Shizu-chan aja bilang gitu! Hei, Yuno-chan, kenapa kamu nggak tidur di sini juga? Kalau kamu khawatir soal apa yang bakal kulakuin sama Shin-chan, kamu bisa jadi pengawasnya!"
"Eh... t-tapi... aku ada urusan di kamarku malam ini..."
Yuno gelisah, menolak ajakan itu dengan canggung.
...Ada yang terasa aneh.
Setiap kali dia bertemu lagi dengan Chitose setelah sekian lama, Yuno selalu sedikit menjaga jarak pada awalnya, tapi dia sebenarnya sangat terbuka padanya.
Normalnya dia pasti akan langsung menerima undangan semacam itu dalam sekejap.
Aku memiringkan kepala, menatap Yuno, dan tiba-tiba menyadari sesuatu yang aneh dengan pakaiannya.
"Hei, nanya dikit ya."
"Hm? Ada apa, Aniki?"
"SMA lama kita harusnya udah libur musim panas sekarang, kan? Terus kenapa kamu pakai seragam, Yuno?"
SMA tempat dia sekolah adalah SMA yang sama dengan yang didatangi Chitose dan aku.
Aku tidak tahu soal sekolah lain, tapi seingatku, libur musim panas sudah dimulai, dan klub kerajinan tangan jarang sekali ada kehadiran wajib selama liburan.
"Uh... i-itu... yah..."
Sesaat setelah aku bertanya, wajah Yuno perlahan memucat. Dia memaksakan senyum dan berkedip cepat untuk menyembunyikannya.
Kepanikan ekstrem ini... jangan bilang...
"Jangan-jangan kamu..."
"Jangan bilang! Ini persis kayak yang kamu pikirin, oke!?"
Air mata menggenang, Yuno menghentakkan kakinya ke tatami dengan keras, memotong ucapanku.
"Udah kuduga..."
Jadi alasan dia pakai seragam persis seperti yang kucurigai. Chitose, melihat reaksinya, mengeluarkan suara "Ah..."
Shizune, satu-satunya yang tidak paham, menatapku kosong, diam-diam meminta penjelasan.
"Yah... intinya, kelas remedial."
"Hei, kenapa kamu malah ngomong!? Sekarang mereka bakal mikir aku ini bodoh!"
"Chitose udah sadar kok. Shizune cuma nggak tahu apa yang terjadi. Kalau aku biarin, dia bakal jadi satu-satunya yang kebingungan."
"Aku nggak butuh dia buat ngerti!"
Sebelum libur musim panas, ada ujian akhir. Siswa yang gagal harus mengikuti kelas remedial sebelum liburan dimulai, dan pada hari terakhir ada ujian susulan.
Kalau kamu gagal di ujian susulan itu juga, kamu terpaksa ikut kelas remedial tambahan selama libur musim panas.
Ujian susulan itu lebih mudah daripada ujian biasa. Kalau kamu benar-benar memperhatikan di kelas remedial, kamu seharusnya bisa lulus dengan mudah. Tapi Yuno tetap saja gagal.
Siswa yang ikut remedial musim panas harus menyerahkan tugas tambahan selain PR biasa.
Itu mungkin alasannya menolak ajakan Chitose. Dia harus mengerjakan semua tugas itu di kamarnya pada malam hari.
"..."
Shizune menatap diam Yuno yang menundukkan kepala karena frustrasi. Setelah beberapa saat, dia angkat bicara.
"Hei... Yuno, apa kamu payah dalam belajar?"
"Eh...? I-Iya..."
Pertanyaan yang sangat blak-blakan itu membuat Yuno bingung, tapi dia menjawab jujur.
"Apa kamu benci belajar?"
"N-Nggak... Aku nggak membencinya... Aku cuma nggak menyukainya juga..."
"Tapi kamu pengin jadi lebih baik?"
"...Iya."
Mendengar jawaban itu, Shizune dengan lembut berjalan mendekat. Yuno tersentak, meraih lenganku, dan bersembunyi di belakangku lagi.
Tapi Shizune mengabaikannya dan menatap matanya.
"Kalau begitu... belajarlah bersamaku." Dia mengangkat sudut bibirnya sedikit dan menawarkan dengan ramah. "Aku sedang kuliah buat jadi guru. Aku mungkin bisa membantumu."
Aku terkejut melihat Shizune berbicara dengan Yuno seperti ini.
Dia sudah mulai menunjukkan lebih banyak emosi di sekitarku dan Chitose, tapi aku bisa menghitung dengan satu tangan berapa kali aku melihatnya tersenyum pada orang lain.
Aku tidak tahu apakah ini tidak sadar atau disengaja, tapi dia memberikan Yuno senyuman yang lembut dan ramah.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang pernah dia katakan.
Pekerjaan seorang guru SD bukan hanya mengajar akademis. Kamu harus menghadapi masalah individu setiap anak.
Yuno tidak lagi di SD dan tidak punya masalah besar, tapi dia sangat pemalu dan kesulitan berkomunikasi dibandingkan yang lain.
Tapi bagiku, sepertinya Shizune sedang menghadapi kepribadian Yuno secara langsung, mencoba yang terbaik untuk terhubung dengannya.
Dia bertindak atas kemauannya sendiri, karena dia ingin Yuno membutuhkannya.
"Itu ide yang bagus! Terus Shin-chan bisa tidur di sini tanpa masalah, dan Yuno-chan bisa nongkrong sama kita. Semuanya berjalan lancar!"
Chitose setuju dan mendesak Yuno dengan "Kan? Ayo kita lakukan!"
"Menurutku itu ide yang bagus juga... tapi Shizune, kamu kan bercita-cita jadi guru SD, kan? Materi anak kelas satu SMA itu lumayan beda, lho?"
"Nggak apa-apa. Aku nggak pernah bolos kelas waktu SMA dan banyak belajar buat ujian masuk universitas, jadi aku bisa ngajarin sebagian besar materinya. ...Dan kalau ada yang aku nggak tahu, kita bisa belajar bareng."
"...Mengerti."
Lega dengan sikap positifnya, aku mengangguk.
Yuno mengintip dari belakangku, bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, pipinya masih merah.
"Kalau kamu lebih suka belajar sendiri dan itu lebih efisien, kamu boleh menolak. Aku nggak akan maksa, setiap orang punya cara belajarnya sendiri."
Shizune bahkan memberinya jalan keluar sebelum menatap matanya lagi.
"...Aku ini bener-bener lambat dalam mengingat sesuatu... kamu mungkin bakal menyesal...?"
"Nggak apa-apa. Aku nggak akan menyesal."
"...Kalau begitu..."
Yuno melangkah keluar dari belakangku dan menghadap Shizune secara langsung untuk pertama kalinya.
Dia menunduk sekali, menautkan jari-jarinya untuk menenangkan diri, lalu dengan takut-takut mengangkat wajahnya.
"Sh-Shizune-san... maukah kamu mengajariku...?"
Dia mengulurkan tangannya seperti sedang melamar. Shizune tersenyum hangat pada Yuno yang gugup dan dengan lembut membungkus kedua tangannya di atas tangan Yuno.
"...Serahkan padaku."
Pada saat itu, jarak antara hati mereka terasa sedikit lebih dekat.
Kalau begini terus, semua kekhawatiranku mungkin ternyata tidak perlu.
☆
"Shizune dan Chitose itu tamu, dan Yuno yang berulang tahun. Kamu bisa aja nunggu di kamar tamu sampai semuanya siap lho."
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa! Nyisain semua masak dan bersih-bersih buat Mama-chan dan Shin-chan rasanya nggak bener~"
"Kamu udah berencana nyisain makanan. Habiskan semuanya."
Setelah Shizune dan Yuno berjanji untuk belajar bersama, kami berempat pergi ke ruang keluarga untuk menyiapkan pesta.
Awalnya cuma aku dan Ibu yang ngurusin makanan dan dekorasi, tapi ketiga gadis itu mau membantu, jadi sekarang semuanya ikut turun tangan.
Rasanya aneh membiarkan tamu dan gadis yang berulang tahun ikut bekerja, tapi kalau itu yang mereka mau, nggak ada alasan buat melarang mereka.
"Mmm~, wanginya enak banget!"
Saat kami membuka pintu ruang keluarga, aroma manis yang lembut dari kue ulang tahun tercium ke lorong. Chitose mengendus dengan dramatis dan tersenyum lebar.
"Oh, semuanya datang buat bantu-bantu?"
Ibu, yang sedang membuat kue di dapur, terkejut mendengar suara Chitose dan berbalik.
"...Ah!"
Mata Shizune bertemu dengan mata Ibu dan dia buru-buru menunduk. Ibu cuma tersenyum lembut dan melambai menyambut.
Kami memang sudah memperkenalkan mereka secara singkat saat aku menunjukkan kamar tamu, tapi bahkan Shizune pun jadi gugup saat berada di dekat orang tua seseorang.
Melihat sisi baru dan gugupnya ini membuatku tertawa kecil.
"Mama-chan, ada yang bisa aku bantu~?"
Setelah saling menyapa, Chitose melangkah mendekat dan meminta tugas.
"Hmm... Kuenya sebentar lagi matang, setelah itu tinggal gratin dan salad... Chitose-chan, kamu bisa ngurusin dekorasi ruangan nggak?"
"Ehhh~ Aku padahal pengin banget bantu masak hari ini soalnya udah lama nggak masak."
"Tapi kalau kamu terluka kan bahaya..."
"Nggak nggak, Mama-chan, jangan ngeremehin aku! Aku udah berkembang kayak tokoh utama manga shonen sejak ulang tahun Shin-chan tahun lalu!"
"Oh, ya?"
"Bu, jangan tertipu. Dia pasti nggak pernah latihan masak sama sekali."
"Itu nggak benar~ Aku udah bisa bikin ramen sungguhan sekarang, gampang!"
"Maksudmu mi instan cup."
"Aku bahkan masukin bumbunya lho, kadang-kadang juga tambah topping!"
"Itu tetap mi instan cup."
Jangan sebut itu "ramen sungguhan." Itu kejahatan!
Mengingat ulang tahunku tahun lalu, Chitose berdiri berdampingan dengan Ibu di dapur ini mencoba memasak untukku.
Hari itu dia mencipratkan telur ke mana-mana, hampir membakar wajan, dan jarinya hampir saja teriris. Nggak ada satu detik pun aku bisa santai.
Ibu dan aku sama-sama punya trauma yang terukir di ingatan kami, jadi kami benar-benar nggak mau Chitose dekat-dekat dapur.
"Tolong, dari aku juga. Fokus saja ke dekorasi buat sekarang."
"Mou~ Kalian berdua keras kepala banget nggak ngebolehin kakak cantik ini ke dapur... Apa kalian takut bakal jatuh cinta sama aku begitu lihat aku masak?"
"Kalau cuma itu syaratnya buat hari ini sih, boleh aja..."
"Kamu nggak blak-blakan banget ya~ Tapi aku beneran latihan lho. Aku bahkan udah bisa mecahin telur sekarang. Kamu bakal ngerasain hasil latihan jadi pengantin idaman dariku nanti!"
Tolong tuangkan ke nasi saja ya. Aku mohon.
Aku menenangkan Chitose dan menyeretnya ke meja ruang keluarga, memberikannya balon-balon dekorasi.
"Um... Mama-san."
Saat Chitose dan aku melangkah menjauh dari dapur, Shizune mendekati Ibu sendirian.
"Iya? Ada yang kamu butuhkan, Shizune-san?"
Shizune jelas-jelas ingin mengatakan sesuatu. Ibu menunggunya untuk mendengarkan dengan ramah. Shizune menelan ludah, dengan kedua lengan yang bertaut karena gugup.
"...Bolehkah aku... membantu masak?"
Suaranya sedikit bergetar saat dia bertanya.
"Tentu saja!"
Ibu tersenyum lembut padanya.
"Apa kamu pintar masak, Shizune-san?"
"...Lumayan. Aku udah biasa bikin makan malam sejak SMP."
"Oh... begitu ya. ...Kamu sudah bekerja keras ya."
"...Iya."
Mata Shizune membelalak sedetik; dia mengangguk seolah meresapi kata-kata Ibu.
Setelah mendapat izin, Shizune membuka lipatan barang yang sedari tadi dipeluknya—celemek putih bersih ala istri idaman. Ia memasukkan kedua tangannya, dan dengan hati-hati mengikat tali pinggangnya.
"Wah, celemek yang imut sekali! Kamu jadi kelihatan kayak maid (pelayan)."
"Shinsuke yang memberikannya padaku... Ini celemek kesukaanku."
"Heh... Shinsuke, ya?"
Ibu melirikku, menyeringai di balik tangannya seolah ingin berkata, "Jadi itu fetish-mu?"
"...B-Berhenti menatapku kayak gitu."
Sepertinya aku sudah salah paham...
Maid, ya.
Semenjak kami membuat kontrak istri singgah dan aku memberinya celemek itu sebagai simbol, dia hampir selalu memakainya selama berada di tempatku, dengan rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
Selama ini aku cuma menganggapnya sebagai "istri singgah", tapi dari sudut pandang lain, memang kelihatannya aku punya maid pribadi.
Maid pribadi... yah, nggak buruk juga.
"Shin-chan, kamu senyum-senyum terus deh."
"Itu cuma perasaanmu aja. Kamu juga jangan ngeliatin aku terus."
Komentar Chitose menyadarkanku dan aku langsung membuang fantasi itu jauh-jauh.
"Nah, karena Shizune udah punya tugasnya, ayo mulai mendekorasi. Ayah harusnya pulang cepat hari ini, jadi aku pengin cepet selesai."
"Iya! Ayo bikin suasananya super imut dan kasih kejutan ke Yuno-chan!"
"Dia ada di sini lho, jadi nggak mungkin ada kejutan. ...Ngomong-ngomong, kamu lagi ngapain, Yuno?"
Aku mengalihkan pandangan dari balon dan melihat ke sekeliling.
"Ah... um..."
Yuno berdiri mematung, bingung harus berbuat apa.
"Ini ulang tahunmu. Kamu nggak perlu maksa diri buat bantu. Santai aja di kamarmu sampai pestanya mulai."
"Bukan itu masalahnya! Semua orang kerja buat aku, aku nggak bisa cuma duduk diam dan nunggu!"
Aku merasa seperti mendengar kalimat itu setiap tahun...
Tapi aku ngerti sih. Saat orang-orang melakukan sesuatu buat kamu, rasa bersalah bikin kamu pengin ikut membantu.
Tapi nggak banyak hal tersisa yang bisa Yuno lakukan secara langsung.
Chitose dan aku bisa dengan mudah menyelesaikan dekorasi sebelum makan malam. Urusan dapur, satu orang tambahan saja sudah cukup.
Ibu dan Shizune pasti bisa memasak dengan baik, dan Yuno lagipula hampir nggak punya pengalaman memasak.
Aku menyapu seluruh ruangan mencari sesuatu yang bisa dilakukannya. Lalu aku melihat Shizune berjalan dari dapur ke arah Yuno.
"Yuno, kamu biasanya masak nggak?"
"...N-Nggak... Malu aku ngakuinya..."
"Nggak apa-apa kalau nggak bisa masak. Tapi apa kamu tertarik?"
"S... sedikit... Tapi aku ini canggung banget..."
"Begitu ya. Syukurlah kamu tertarik."
Shizune bilang "tunggu sebentar", bergegas meninggalkan ruang keluarga, dan kembali hampir seketika.
Di pelukannya ada hadiah yang dibungkus dengan indah.
"Awalnya aku berniat ngasih ini setelah pestanya dimulai, tapi..."
"Kamu nyiapin sesuatu buat aku... padahal kita baru ketemu hari ini...?"
"Tentu saja. Aku datang ke sini hari ini untukmu, Yuno."
Yuno menerima hadiah itu dengan gugup dan menatapnya.
"...Terima kasih. Um... boleh kubuka...?"
"Iya. Silakan."
Dengan izin itu, Yuno membuka bungkusnya dengan hati-hati.
"Aku belum pernah milihin hadiah ulang tahun buat siapa pun sebelumnya, jadi aku nggak yakin... tapi aku mutusin buat ngasih sesuatu yang bikin aku seneng banget waktu aku menerimanya." Shizune menambahkan, "Tapi aku nggak tahu apa kamu bakal suka," sambil terlihat sedikit khawatir.
Di dalam bungkusan itu ada sebuah celemek bermotif kotak-kotak hitam-putih dengan saku depan besar dan ruffles hitam di sepanjang tepinya.
"Wah, imut banget... Celemek ini lucu sekali!"
"...Syukurlah. Aku lihat fotomu dari Shinsuke dan keliling toko nyari yang cocok buat kamu."
"Kamu sampai repot-repot... Aku bener-bener menyukainya!"
Yuno mengangkat celemek itu tinggi-tinggi, melompat-lompat kegirangan. Melihat itu, bahu Shizune menjadi lebih rileks seolah beban berat telah terangkat.
"...Hei, hei, Shin-chan."
Chitose, yang diam-diam memperhatikan, tiba-tiba menusuk punggungku dan berbisik di telingaku.
"Shizu-chan bener-bener berubah, ya."
"Kamu juga mikir gitu, Chitose?"
"Tentu saja. Kelihatan banget kalau dia jadi jauh lebih proaktif, dalam artian baik."
Dia mundur sedikit, menatap Shizune lagi, dan tersenyum lembut seperti orang tua yang bangga melihat perkembangan anaknya.
"Dulu dia ngelakuin kencan berbayar, ngusulin kontrak istri singgah ke kamu, muncul bawa payung di tengah hujan padahal kamu bilang nggak bakal ngebiarin dia masuk... Baik atau buruk, dia selalu mengandalkan tindakan nyata, tapi sekarang jelas beda."
"Dia mulai peduli sama orang lain... kan?"
"Tepat sekali. Dulu, dia bertindak cuma buat dirinya sendiri atau buat kamu. Sekarang dia memikirkan orang lain dan bergerak demi mereka."
Chitose meletakkan tangannya di pinggul, mengintip wajahku, dan menggoda, "Mungkin ada pengaruh seseorang yang menular ke dia?"
"Kalau iya, secara nggak langsung itu juga pengaruhmu."
"Eh, gimana bisa?"
Dia memiringkan kepalanya kebingungan.
"Aku mulai bertindak buat orang lain cuma karena pengaruh seseorang."
"...Heh, kamu beneran ngerasa gitu? Kita udah bareng sejak kamu lahir dan aku nggak pernah nyadar." Chitose menggaruk pelipisnya malu-malu dengan satu jari lalu melanjutkan. "...Tapi menurutku itu salah paham. Aku nggak bergerak buat orang lain. Aku bergerak buat diriku sendiri. Beda sama kamu, di lubuk hatiku aku ini lumayan egois."
"Kelihatannya nggak gitu deh."
"Aku selalu mengharapkan balasan, sekecil apa pun itu."
"Kalau kamu bilang begitu, aku juga pengin dibutuhin. Jadi bisa dibilang aku mengharapkan 'dibutuhkan' sebagai balasanku."
"Ah, bener juga, tergantung dari sudut pandang mana itu bisa dihitung sebagai balasan... Tapi tetep aja, kamu dan aku itu beda. Aku... dengan serakahnya menginginkan sesuatu sebagai balasan." Dia menunduk, suaranya diwarnai kesedihan seiring dengan kenangan yang muncul. "Di lubuk hatiku aku selalu berharap, 'kalau aku ngelakuin ini, orang itu bakal bantuin aku waktu aku lagi menderita.' Orang yang bisa mengulurkan tangan ke siapa aja kayak kamu itu langka banget."
Dia mengangkat tatapannya lagi dan dengan lembut menikmati pemandangan mereka bertiga berdiri berdampingan di dapur lalu melanjutkan.
"Tapi... sekarang, Shizu-chan kelihatan kayak lagi berusaha jadi salah satu 'orang langka' itu."
Sekitar satu setengah jam berlalu, persiapan sedang berjalan lancar.
Cahaya yang masuk dari jendela telah berubah warna menjadi jingga hangat. Pemandangan yang akrab ini membuatku dipenuhi rasa nostalgia.
"Mmm, wanginya enak banget~"
Tak lama setelah jam enam, pintu ruang keluarga perlahan terbuka.
"Udah lama nggak ketemu, Paman."
"Oh, Shinsuke! Kamu udah di sini!"
Normalnya Ayah baru pulang lewat jam delapan, tapi hari ini dia pulang kerja lebih awal demi menghadiri pesta.
"Papa-chaaan! Aku bawa oleh-oleh. Ayo minum bareng~?"
"Selamat datang, Chitose-chan. Kamu udah cukup umur buat minum sekarang, ya."
Sambil duduk, Ayah melipat tangan dan mengangguk nostalgia saat Chitose mengayunkan botol sake besar di atas kepalanya seperti pentungan oni.
"Jadi... perempuan yang duduk di sebelah Chitose-chan ini—"
"...Kotosaka Shizune. Terima kasih sudah menerima saya."
Pandangan Ayah beralih ke Shizune; ia membungkuk sopan dari tempat duduknya.
"Ya, selamat datang. Shinsuke sudah cerita tentangmu."
"Shinsuke... cerita?"
"Meskipun memalukan, aku tetap khawatir pada anakku tidak peduli berapa pun umurnya. Aku masih sering menghubunginya sekarang dan nanti untuk mengecek keadaannya. Dan dia bilang dia mendapat teman perempuan yang sangat baik..."
"...Begitu ya."
Shizune melirikku di sebelahnya dan tersenyum tipis.
"Kamu bahkan telah membantunya latihan ilustrasi. Terima kasih, dia berhutang budi padamu."
"Tidak... Akulah yang selama ini dibantu..."
Ayah berdiri, mengulurkan tangannya pada Shizune untuk berjabat tangan.
"Tolong terus berteman baik dengan putraku."
"...Iya."
Dia menyambut tangan ayahku dan menjawab dengan lembut.
"Semuanya kelihatan ekstra mewah hari ini. Itu celemek baru... apa Yuno juga ikut bantu masak?"
Setelah menyapa Shizune, Ayah berjalan menghampiri Yuno. Yuno melompat berdiri dan dengan bangga memegang ujung celemeknya.
"Shizune-san yang ngasih celemek ini sebagai hadiah! Jadi aku juga ikut bantu masak!"
"Bagus, bagus. Celemek itu sangat cocok untukmu. Dan makanannya kelihatan lezat."
Ayah menepuk pelan kepala Yuno, tersenyum bahagia.
"Shizune-chan, terima kasih atas hadiah untuk putriku. Nanti aku harus berterima kasih dengan pantas padamu."
"T-Tidak, sungguh..."
Tiba-tiba dipanggil oleh ayahku, bahu Shizune tersentak.
Ada yang terasa aneh.
Matanya tampak kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. Dia menundukkan pandangannya sedikit dan meletakkan tangan di dadanya.
"...Kamu nggak apa-apa?"
Aku menyentuh bahunya dan menatap wajahnya.
"...Bukan apa-apa. Sungguh, jangan khawatir."
Tiba-tiba dia berdiri dan pergi ke lorong. Tindakannya yang mendadak membuatku terpaku. Chitose, yang masih memeluk botol sakenya, memperhatikannya pergi dan bergumam memikirkan sesuatu.
"Mungkin Shizu-chan beneran kebelet pipis~?"
"...Hah?"
Sementara seluruh keluarga tampak kebingungan, Chitose berbicara santai kepadaku.
"Shin-chan, susul dia. Kita belum ngasih tahu di mana letak kamar mandinya, kan?"
"Ah... iya. Bener juga."
Dia pasti menyadari ada sesuatu yang tidak beres, dia berhati-hati memilih kata-katanya agar suasananya tetap ringan sambil menyuruhku menyusul.
Aku berdiri dan meninggalkan ruang keluarga menyusul Shizune.
"Ke mana dia pergi...?"
Aku menuju kamar mandi terlebih dahulu, tapi lampunya mati dan dia tidak ada di sana. Aku juga tidak mendengar pintu depan terbuka, jadi dia pasti masih ada di dalam.
Kalau begitu cuma ada satu tempat yang mungkin dia tuju. Batinku.
"...n... nn..."
Kamar tamu gelap. Pintu fusuma yang kututup sebelumnya terbuka, dan suara isak tangis pelan terdengar dari dalam kamar.
"Sudah kuduga..."
Aku melangkah masuk, menyalakan lampu, dan menemukan Shizune meringkuk memeluk lututnya, bahunya bergetar hebat.
Aku berjongkok di depannya agar pandangan kami sejajar.
"...Shizune, ada apa?"
"Maaf... Aku nggak apa-apa, sungguh..."
Dia terus menundukkan wajahnya, suaranya serak.
"Nggak apa-apa...? Kamu jelas-jelas nggak kelihatan begitu."
"Nggak, aku beneran nggak apa-apa... Aku cuma... nggak bisa berhenti menangis..."
Menangis tanpa alasan? Itu nggak normal...
Tapi mengingat kembali apa yang baru saja terjadi di ruang keluarga, aku nggak bisa kepikiran hal apa yang membuatnya menangis.
Dengan bingung, aku mengusap punggungnya dengan lembut dan menunggu di sampingnya sampai dia tenang. Perlahan-lahan getarannya mereda, dan dia kembali menguasai diri.
"...Ada bayangan kenapa ini bisa terjadi?"
“Aku tidak tahu... tapi dadaku terasa hangat... dan sakit sekali.”
“Hangat... dan sakit...?”
Shizune mengusap matanya yang merah terang, menggeleng, lalu dengan susah payah memaksakan kata-katanya keluar. “Aku tidak tahu... aku benar-benar tidak tahu apa-apa...”
“...Maaf. Sudah, nggak apa-apa. Benar, nggak apa-apa...”
Aku menyentuh bahunya dan memintanya berhenti memikirkannya.
Saat ini, ketika bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa dia menangis, yang bisa kulakukan hanyalah tetap berada di sisinya. Tak mungkin aku bisa menyelesaikan gejolak di dalam hatinya sampai ke akar-akarnya.
Di hadapan ketidakberdayaanku sendiri, aku hanya terus memeluknya.
☆
Setelah kami tetap berada di kamar tamu sampai Shizune tenang, kami kembali ke ruang keluarga seolah tidak terjadi apa-apa dan bergabung dengan pesta ulang tahun yang sudah dimulai.
Semua orang awalnya khawatir dengan kondisi Shizune, tapi supaya suasana tidak rusak kami tidak mengatakan yang sebenarnya. Entah bagaimana kami mengelaknya, lalu lanjut makan bersama.
Pestanya berlangsung sekitar satu jam. Setelah selesai, aku dan Shizune membereskan semuanya menggantikan orang tua kami dan Chitose yang sudah tumbang karena mabuk, lalu kembali ke kamar tamu.
“Uuu...”
“Uuu... ue, ugh...”
Sekitar belasan menit setelah kami membuka pintu geser fusuma, dua suara erangan bergema di dalam kamar, seolah saling bersahutan.
Di meja pendek di tengah ruangan terhampar buku pelajaran SMA milik Yuno, buku catatan, dan perlengkapan belajar lainnya.
“Kalau soal fungsi kuadrat ini, pertama gambar dulu grafiknya. Biar lebih gampang kebayang. Habis itu tinggal masukin ke rumus dasar yang barusan kita pelajari, lalu coret simbol yang bikin perhitungannya ribet...”
Yuno memegangi kepalanya, menatap buku pelajaran dengan putus asa sambil menyimak setiap kata penjelasan Shizune.
Sejak kembali ke kamar tamu, Shizune duduk tepat di samping Yuno dan membantunya mengerjakan tugas remedial. Saat ini mereka sedang mengerjakan soal Matematika I.
Dia menggunakan kedekatan yang sama seperti saat mengajariku menggambar, pertama-tama menjelaskan alur pikirnya, lalu langsung memberi arahan setiap kali Yuno tersendat.
Kalau dilihat orang lain, ini benar-benar tampak seperti les privat. Tiba-tiba aku sadar, beginilah caranya dia mengajariku setiap hari.
Kalau dipikir-pikir lagi, semua yang Shizune lakukan untukku itu gampang sekali dihargai puluhan ribu yen per bulan... dan seketika aku merasa sangat bersalah.
“...Shizune, maaf. Aku yang mengundangmu ke sini, tapi malah kamu yang bantu persiapan pesta, beres-beres, sekarang bahkan PR adikku juga...”
Aku menunggu sampai dia berhenti menjelaskan sejenak, lalu menyela.
“Jangan dipikirkan, aku melakukannya karena aku mau. Dan... mengajari orang itu ternyata memang menyenangkan. Bahkan orang sepertiku pun bisa merasa berguna.”
“...Begitu, ya.”
“Yah. ...Tapi meski begitu, aku kesal waktu dia malah jadi penghalang saat beres-beres.”
Dia melirik Chitose yang terbaring mengenaskan agak jauh dari meja, lalu mengernyit.
Saat pesta berlangsung, Chitose menenggak habis botol satu shou yang dia bawa tanpa peduli batasnya sendiri. Hasilnya, Chitose yang mabuk berat itu terus menggosok-gosokkan pipinya ke Shizune saat kami membereskan, memeluk kakinya, dan benar-benar jadi gangguan besar. Lalu begitu kami kembali ke kamar tamu, beginilah keadaannya.
Belum lagi ayah dan ibu juga minum dalam jumlah banyak, karena setiap kali gelas mereka kosong Chitose terus menuangkannya lagi. Keduanya memang tidak tahan alkohol, jadi mereka tumbang cepat.
Tak masalah kalau Yuno yang sedang ulang tahun tidak ikut beres-beres, tapi fakta bahwa akhirnya hanya aku dan Shizune yang melakukannya itu hampir sepenuhnya salah Chitose.
“Jadi, masih berapa lama lagi selesai? Sudah lumayan lama, loh.”
“Diam, aniki! Duduk manis aja!”
“Kalau begitu aku balik ke kamarku.”
“...Nggak boleh. Jarang-jarang menginap bareng.”
Begitu aku sedikit mengangkat pinggulku, Shizune langsung menarik ujung bajuku untuk menghentikanku.
Sebenarnya aku sempat berpikir untuk latihan menggambar di sini, tapi meja sudah dipakai untuk belajar dan dari sisi dinding terdengar suara erangan orang mabuk, jadi mustahil aku bisa konsentrasi.
“Tinggal beberapa soal lagi. Tunggu di sini.”
“Ya, nunggu sih nggak apa-apa... tapi selama di sini ada yang bisa kulakukan nggak?”
“Kalau nggak ada yang bisa dilakukan, berarti kamu nggak mau tetap di sampingku?”
“B-Bukan... bukan begitu maksudku...”
“...Syukurlah. Dan ada kok. Begitu Kujo-senpai bangun, kita harus bahas rencana buat besok. Kita masih belum tahu hari kedua mau ngapain.”
“Ah... iya, benar juga.”
Ekspresinya yang cemas membuatku langsung gugup dan memalingkan wajah. Begitu aku sadar akan hal itu, pipiku mendadak panas, dan untuk beberapa saat aku bahkan tidak bisa menatap matanya.
Mungkin dia sendiri tidak bermaksud apa-apa. Dia benar-benar tidak sadar. Tapi rupanya aku memang sangat lemah terhadap sikap manja seperti ini.
“Ehm... Shizune-san.”
“...? Kamu nemu bagian yang nggak dimengerti?”
“B-Bukan, bukan soal PR... Apa kalian berdua benar-benar... nggak pacaran...?”
Mendengar percakapan kami, Yuno menghentikan pensil mekanisnya, menggeliat gelisah, lalu bertanya pada Shizune.
“Waktu pertama kali ketemu, aku sama sekali nggak bisa ngebayangin onii... aniki bakal punya pacar, jadi aku malah nanya apa kalian sudah pernah tidur bareng. Itu juga salah... tapi hubungan kalian tetap nggak kelihatan kayak cuma teman... Jangan-jangan sebenarnya kalian pacaran dan bohongin aku...?”
“Memang sih, mungkin bukan cuma teman. Buatku, Shinsuke itu orang yang sangat berjasa.”
“Aniki adalah orang yang... berjasa bagimu?”
“Iya. Waktu aku hampir tersesat, Shinsuke datang menolongku... Satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangan pada orang sepertiku... jadi buatku dia orang yang tak tergantikan, sangat berharga.”
“Orang yang tak tergantikan, sangat berharga... Jadi walaupun kalian nggak pacaran, Shizune-san, kamu punya perasaan romantis ke dia...!?”
“!? Hei, Yuno...!”
Pertanyaannya yang terlalu blak-blakan membuatku panik dan refleks meninggikan suara.
Aku ada di sini, tahu! Dia ini ngomong apa sih!?
“...”
Shizune terdiam selama beberapa detik, mempertimbangkan jawabannya.
Tik, tik, tik... Suara jarum detik jam dinding terdengar jelas sekali, dan setiap detiknya membuat ketegangan aneh merambat di tubuhku.
“Aku...”
Dan akhirnya, tepat saat dia membuka mulut untuk memecah keheningan itu...
“Nngh, syukurlah... Di dunia nyata aku nggak muntah... eh, bentar, aku nggak muntah, kan?”
Chitose yang pingsan mendadak terbangun dan memotong jawaban Shizune.
“C-Chitose! Gimana rasanya!?”
Putus asa agar kesempatan ini tidak terlewat, aku dengan terang-terangan meninggikan suara dan mengalihkan topik kepadanya.
“...Shin-chan semangat banget ya buat malam hari. Atau justru karena sekarang malam?” Chitose mengusap iler di sudut mulutnya dengan punggung tangan, lalu perlahan duduk berlutut. “Mmm, rasanya ya begitu-begitu aja? Mualnya sih hampir hilang, tapi aku mimpi muntah ke mulut Shin-chan, jadi ini cara bangun paling parah.”
“Jijik banget, baru bangun malah ngomong begitu!”
Seberapa sial sebenarnya diriku di dalam mimpi itu?
“Yah, sudahlah... Shizune, sekarang Chitose sudah bangun, mau lanjut ngerjain sisa PR Yuno sambil bahas rencana besok?”
“Hah? Shin-chan, ini soal besok apa?”
“Rencana besok. Kita pulang bareng Shizune, tapi kita masih belum mutusin mau ngapain, kan?”
“Oh, aku belum bilang, ya?”
“Hah? Kamu belum...?”
“Iya, kelupaan total. Rencana besok sebenarnya sudah diputuskan oleh wewenang tunggalku. Persiapannya juga sempurna~”
Chitose memberi jempol dan mengedipkan mata, lalu berdiri dengan penuh semangat dari atas tatami dan bergegas ke kantong-kantong kertas di sudut ruangan.
Dia mengobrak-abrik isinya dengan kedua tangan, lalu mengeluarkan tiga kantong berbungkus hadiah, menyerahkannya satu per satu kepada Yuno, Shizune, lalu aku, sambil membusungkan dada dengan bangga.
“Taraaa! Hadiah ulang tahun yang sudah lama dinanti untuk Yuno-chan~”
“Ini ulang tahun Yuno, kenapa aku dan Shizune juga dapat?”
“Sekalian aja, kupikir sekalian kubelikan juga buat kalian.”
“Itu masih bisa disebut hadiah ulang tahun...?”
“Nggak usah ribet soal detail! Ulang tahun itu waktunya berbagi kebahagiaan ke semua orang, kan?”
Chitose melambaikan tangannya seolah mendesak, “Cepat buka~” dan dengan bingung kami pun membuka bungkus hadiah itu dengan hati-hati.
“Ini... baju renang, ya?”
Di dalam hadiahku ada celana renang motif garis-garis.
“...Punyalah juga baju renang.”
“Ah, lucu...! Tapi ini agak terlalu seksi, nggak sih...!?”
Yang lain pun juga menerima baju renang.
Shizune mendapat bikini hitam berenda putih dengan hiasan frill, benar-benar cocok dengan estetika jirai-kei miliknya.
Yuno mendapat bikini putih dengan kesan dewasa. Jauh sekali dari gaya biasanya, dan bahkan saat belum dipakai pun sudah terlihat sangat seksi.
“Yep yep, musim panas berarti baju renang! Aku benar-benar serius waktu milihnya. Punyan Shin-chan itu keren-imut, punya Shizu-chan itu emo-imut, dan punya Yuno-chan tipe yang bakal bikin semua cowok di kelasnya langsung tegang. Super mega cabul!”
“Kamu mau ngekspos adikku, ya!?”
“Yuno-chan sekarang sudah jadi anak SMA yang layak! Dan cewek yang biasanya serius tapi ternyata seksi di luar sekolah itu gap moe terbaik.”
Dari sudut pandang cowok sih memang terbaik, tapi sebagai kakaknya rasanya sangat rumit.
“Yah, bagaimanapun... makasih buat hadiahnya. Mau kupakai atau nggak itu urusan lain, tapi akan kuterima baik-baik.”
“Ehhh, aku sudah susah-susah beli loh. Besok ayo kita semua pakai dan main! Mau ke kolam renang yang dulu sering kita datangi waktu kecil? Sudah lama banget, kan?”
“Kita memang sudah bertahun-tahun nggak ke sana... Aku sih nggak keberatan kalau mau lihat lagi...”
Aku mengangkat wajah dari celana renang di tanganku, lalu memperhatikan reaksi Shizune dan Yuno.
“A-Aku mau ke kolam renang...! Baju renang ini memang agak bikin malu, tapi...”
Yuno mengangkat tangan dengan tegas tanda setuju, meskipun tangannya itu perlahan melemas ketika membayangkan dirinya memakainya.
Meski begitu, keinginannya untuk pergi tidak berubah. Dia tetap mengangkat tangannya setengah-setengah, seolah memohon persetujuan kami.
“Aku juga mau pergi... Kalau itu tempat yang dulu sering kamu datangi, Shinsuke, aku ingin ke sana dan mengenalmu lebih banyak lagi.”
Sambil lembut menyentuh pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanan, Shizune berbicara dengan suara pelan. Mendapat persetujuan dari mereka berdua, Chitose menjentikkan jari dengan riang sambil berseru, “Yes!”
“Kalau begitu sudah diputuskan. ...Kayaknya aku balik ke kamarku dulu.”
“Eh... Shin-chan, secepat itu? Ini kesempatan langka, loh. Aku tadinya mau bikin acara ngobrol cewek semalaman.”
“Jangan asal masukin aku ke kelompok cewek.”
Meski Chitose mencoba menghentikanku, aku tetap berdiri dari tatami.
“Sudah malam, jadi sekalian aku siapin air mandi di jalan. Nanti Ayah sama Ibu pasti mau pakai juga, jadi kalau bisa kalian masuk duluan sebelum mereka.”
“Nggak apa-apa sih, tapi bukannya bak mandinya terlalu kecil buat berempat?”
“Kenapa kamu secara alami masukin aku juga... Bertiga saja sudah sesak. Mandi gantian aja kayak biasa.”
“Kalau mandi sendirian, kita nggak bisa nyentuh payudara siapa-siapa! Harus ngeremas payudara sendiri buat mengisi kekosongan itu adalah sesuatu yang sama sekali nggak bisa kutahan!”
Sebenarnya gimana dia bisa bertahan hidup lebih dari dua tahun tinggal sendirian...
Tapi tetap saja, aku paham keinginan Chitose buat mandi bareng teman.
Aku punya kenangan bagus soal pergi ke pemandian saat study tour atau kamp latihan. Rasanya spesial dan menyenangkan, dan kenangan itu sampai sekarang pun masih membekas jelas.
Mungkin karena itu dia ingin menciptakan kenangan sebanyak mungkin bersama teman-temannya sekarang, meskipun keluarnya selalu dalam bentuk mesum seperti ini.
“...E-Ehm...!”
Tepat saat itu, Yuno yang dari tadi mendengarkan percakapan kami mendadak meninggikan suara. Mata kami semua langsung tertuju padanya.
“Ehm... kalau nggak keberatan... gimana kalau kita semua pergi ke onsen sekarang...!?”
“Ohh! Yuno-chan, itu ide yang bagus, maksudku tubuh!”
“Ide, bukan tubuh.”
Karena gugup akibat perhatian mendadak itu, Yuno mengusulkan sesuatu, dan Chitose langsung mengacungkan jempol setuju.
“Onsen” yang dimaksud Yuno adalah pemandian air panas alami terkenal di daerah sini yang bisa dikunjungi sehari pulang-pergi.
Keluargaku pernah pergi ke sana bersama, dan waktu SMP tempat itu juga sering kami pakai untuk merayakan kemenangan setelah pertandingan atau festival olahraga, jadi itu tempat yang akrab bagiku.
Sekalian bisa juga jadi perkenalan yang bagus buat kampung halaman kami. Kalau dipikir-pikir, ini ide yang sangat bagus.
“Onsen... iya, aku ikut. ...Shizune, gimana menurutmu?”
“Aku ikut. Aku belum pernah ke onsen sebelumnya... jadi aku menantikannya.”
Mata Shizune berbinar saat dia mengangguk.
“Belum pernah ke onsen? Itu jarang banget, ya~”
“Aku nggak punya siapa-siapa buat diajak pergi, dan juga nggak pernah kepikiran pergi sendirian. Bahkan sebenarnya... aku juga nggak ingat pernah main di kolam renang...”
Mengingat masa lalunya, Shizune menunduk.
Tapi ekspresinya sama sekali tidak terlihat sedih.
“Tapi... bisa mengalami semua pengalaman pertama itu bersama kalian membuat semuanya terasa sempurna.”
Pipi Shizune sedikit mengendur, dan suaranya terdengar ringan bergetar.
☆
Setelah remedial Matematika I akhirnya selesai, aku meminjam kunci mobil ibu, menggenggam setir untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lalu menyetir di jalanan pedesaan pada malam hari.
Dari rumah ke onsen perlu waktu beberapa puluh menit.
Kami memarkir mobil, masuk ke fasilitasnya, menentukan jam bertemu di meja depan, lalu berpisah berdasarkan gender dan melewati tirai noren masing-masing.
“Haaah...”
Setelah melepas pakaian dan membersihkan badan, aku langsung menuju pemandian terbuka dan menenggelamkan diri sampai sebahu di bak besar yang ada di tengah.
Biasanya aku menikmati onsen sambil ngobrol santai dengan seseorang, tapi ternyata sendirian pun tidak buruk.
Tubuhku menghangat sampai ke inti, dan rasa lelah sehari-hari seperti meleleh begitu saja.
Uap putih yang diterangi lampu naik tebal ke langit malam. Aku mengikutinya dengan mata, lalu menatap bintang-bintang yang berkelip tersebar di atas sana.
“...Shizune sedang berusaha berubah, ya.”
Malam hari di hari kerja, tamu sedikit. Sambil mengenang kejadian hari ini, aku bergumam pelan.
Berkat “kontrak istri komuter” itu, Shizune tampaknya perlahan mulai membuka diri bukan hanya kepadaku dan dirinya sendiri, tapi juga kepada orang lain.
Untuk saat ini memang baru sebatas orang-orang yang dekat denganku, tapi kalau dia terus membangun hubungan baik seperti ini, dia pasti akan berkembang sangat pesat.
Pengalaman-pengalaman ini akan langsung menjadi bahan bakar pertumbuhannya, dan kelak menjadi penopang besar ketika dia mewujudkan impiannya menjadi guru SD.
Tapi sebelum itu, masih ada satu hal yang menggangguku.
Sebenarnya, apa yang membuatnya menangis?
Dia keluar saat Yuno dan Ayah sedang berbicara, jadi kalau memang ada alasannya, petunjuknya pasti ada dalam percakapan itu...
Dadaku terasa hangat, dan sakit sekali.
Tak peduli berapa kali aku mengulang kata-kata itu di dalam kepala, aku tetap tidak bisa memahaminya.
Kemungkinan terbesar adalah mendengar pembicaraan Yuno dan Ayah membuatnya membandingkannya dengan keluarganya sendiri, tapi kalau aku mengatakannya langsung mungkin justru akan melukainya.
Lagipula, kondisi mentalnya selama beberapa minggu terakhir relatif stabil, jadi tidak perlu sengaja menggali emosi negatifnya.
Untuk sekarang, sebaiknya aku jujur saja merayakan kenyataan bahwa dia mulai terhubung dengan Yuno, lalu memandang masa depan secara positif.
“...Kalau aku perempuan, aku pasti lagi berendam bareng mereka di onsen sekarang, ya.”
Aku tanpa sadar melontarkan pengandaian mustahil itu, lalu menghela napas.
Berendam sendirian di onsen memang agak membosankan.
☆
“Wah...! Astaga, astaga, barang yang kamu punya bagus juga, ya!”
“Sudah, tolong... ngh, berhenti, berhentiii...!”
Lewat pukul 22.00. Di pemandian indoor yang airnya terus mengalir, muncul seorang tersangka mencurigakan yang melontarkan kalimat ala om-om, lalu mulai meraba-raba payudara seorang gadis SMA.
“Kujo-senpai, berisik.”
Kesal dengan keributan Chitose, Shizune menyipratkan air ke wajahnya.
“Uwaff... hei, masuk ke telingaku! Ini onsen, loh. Nggak sopan begitu! Nanti ganggu tamu lain!”
“Uuu... Kalau kamu bisa mikirin orang lain, ya jangan remas payudaraku...!”
“Nggak, nggak, Yuno-chan, santai aja. Sekarang memang nggak ada orang lain di sini.”
“Itu logikanya kebalik total...”
Yuno yang menjadi korban pelecehan itu tersandar lemas di tepi bak, bahunya gemetar, suaranya melebur tak bertenaga.
Onsen ini adalah tempat yang pasti pernah dikunjungi setidaknya sekali oleh setiap warga lokal, tapi jam segini pengunjungnya memang sudah jauh berkurang.
Masih ada beberapa orang, tapi semuanya berada di pemandian terbuka atau sauna, jadi secara praktik pemandian indoor benar-benar seperti disewa khusus oleh mereka bertiga.
“Kalau begitu... selanjutnya, mari kita nikmati payudara Shizu-chan yang segar dan kenyal~?”
Chitose menggoyang-goyangkan jarinya dengan mesum sambil perlahan mendekat.
“...Silakan.”
“S-Shizune-san!? Kamu benar-benar nggak apa-apa dengan itu!?”
“Eh? Bukannya di onsen saling meraba payudara itu hal yang normal?”
“Tentu saja tidak normal!”
Mendengar reaksi tak terduga dari Shizune, Yuno menepuk air dengan keras.
“Tapi di anime, kalau para cewek pergi ke onsen, mereka selalu saling meraba payudara, kan?”
“Itu karena itu anime! Kalau di dunia nyata, hal begitu... ya paling cuma kadang-kadang! Waktu study tour nggak ada yang saling meraba semua payudara orang, kan!?”
“Aku belum pernah ikut study tour, jadi aku nggak tahu.”
“Eh... a-aku minta maaf, aku nggak tahu...”
“Nggak apa-apa. Aku nggak keberatan.”
Yuno menutup mulut, merasa salah bicara, tapi Shizune benar-benar tampak tidak peduli. Dia menenggelamkan diri sampai ujung hidung ke dalam air dan menyipitkan mata dengan nyaman.
“Ehm... Shizune-san.”
“Mm... ada apa?”
Shizune mengangkat mulutnya dari permukaan air dan memiringkan kepala sedikit.
“Pertanyaan yang tadi kutanya waktu belajar... Karena Chi-chan keburu bangun, aku jadi nggak dapat jawabanmu, tapi... boleh kutanya lagi...?”
“...Ah, itu.”
“Eh, apa apa? Emangnya ada apa waktu aku tidur?”
Chitose melingkari tubuh Shizune dari belakang, memeluknya dengan kasar, lalu memunculkan wajahnya dari atas bahu Shizune, telinganya seolah tegak penuh rasa ingin tahu.
Pertanyaan polos yang Yuno ajukan pada Shizune saat sesi remedial tadi. “Apa Shizune suka pada Shinsuke?”
Karena waktunya buruk, tadi Shizune tidak sempat menjawab. Sejak itu Yuno gelisah, menunggu kesempatan lain untuk menanyakannya lagi.
“Kamu bilang aniki-ku itu orang yang tak tergantikan, sangat berharga... Bukannya itu artinya kamu men... menyukainya...?”
“Iya, aku menyukainya.”
“Eh...”
Yuno sudah menduga Shizune akan mengelak, jadi pernyataan kasih yang terus terang terhadap kakaknya itu membuatnya kebingungan.
“Suka... maksudmu secara romantis, bukan cuma sebagai teman?”
“Iya, secara romantis. Sebagai teman juga aku suka.”
“Itu... terus terang sekali ya...”
Berhadapan langsung dengan seorang gadis yang jatuh cinta pada kakaknya, Yuno menempelkan satu tangan ke dadanya yang berdebar, dan dengan tangan satunya mengipas-ngipas wajahnya yang memerah.
“Ehm... kalau perasaanmu sebesar itu... Shizune-san, kamu nggak ingin menyatakan perasaanmu dan pacaran dengannya?”
“Aku ingin. Aku sangat ingin menyatakan perasaanku... dan menjadi pacar Shinsuke.”
Sekali lagi Shizune menjawab dengan jujur, matanya jernih dan lurus.
Yuno sempat hendak berkata, “Kalau begitu...”, tetapi dia menangkap sesuatu dari ekspresi Shizune dan menghentikan dirinya.
“...Aku baru akhirnya bisa menggenggam masa kini... dan aku sangat takut hubungan ini berubah.”
Di masa lalu, Shizune pernah menyampaikan perasaannya kepada Shinsuke.
Namun pengakuan itu keluar saat emosinya tidak stabil. Dia belum pernah mengungkapkan perasaannya yang sekarang, yang murni dan sesungguhnya.
Hari itu, saat dia melepaskan pakaiannya dan menyerahkan diri padanya, tidak ada kebohongan dalam pengakuannya. Menawarkan tubuhnya kepada Shinsuke juga dilakukan dengan tulus.
Tapi sekarang, di dalam hubungan “saling bergantung” mereka, mengatakan lagi “aku ingin jadi pacarmu” terasa begitu menakutkan.
Sambil menunduk, Shizune perlahan mulai menyusun perasaannya dengan suara pelan.
“Mungkin kalian tahu, mungkin juga tidak, tapi karena trauma pacaran di masa lalu, Shinsuke awalnya menghindari gadis sepertiku.”
“Iya... aku kurang lebih tahu itu.”
Trauma dari tiga hubungan sebelumnya. Rasa jijik terhadap gadis dengan gaya jirai-kei dan bekas self-harm yang tampak jelas.
Itulah alasan Yuno sangat bingung saat pertama kali mereka bertemu.
“Dia bilang, ‘Aku sudah nggak trauma lagi terhadap menhera,’ tapi... tetap saja, kenyataannya dulu memang pernah ada masa dia menghindariku...”
Suara Shizune mulai bergetar, perlahan menjadi makin pelan.
“Dan meskipun aku mengaku, lalu kami pacaran... bayangan kalau aku justru akan membuatnya mengingat masa lalu itu lagi... karena itu aku nggak bisa memberitahukan perasaanku.”
“...Sejujurnya, sampai sekarang aku memang agak curiga pada dirimu, Shizune-san.”
“Curiga...?”
“Aku sempat berpikir jangan-jangan kamu menipu aniki-ku, jangan-jangan dia cuma akan dimanfaatkan lagi dan menderita... Tapi setelah mendengar ini, aku benar-benar lega dari lubuk hatiku.”
Yuno tersenyum cerah dan berbicara pada Shizune.
“Terima kasih... karena begitu peduli pada aniki-ku.”
“...Iya.”
Shizune memperlihatkan senyum kecil mendengar ucapan terima kasih itu.
“Jadi... ehm, kalau Chi-chan gimana...?”
“Eh, aku?”
Topik itu mendadak dilempar padanya, dan Chitose menunjuk dirinya sendiri, sedikit gugup.
“Aku dari dulu selalu berpikir kamu dan aniki suatu saat bakal pacaran... Jadi... aku juga ingin tahu perasaanmu.”
Sejak Yuno bisa mengingat, Shinsuke dan Chitose selalu tampak seperti pasangan yang ideal baginya.
Tapi selama SD, SMP, sampai SMA, keduanya tidak pernah jadian. Sebaliknya, Shinsuke malah pacaran dengan tiga gadis lain, membuat Yuno sebagai adiknya benar-benar tidak habis pikir.
Saat tahu Shinsuke akan kuliah di universitas yang sama dengan Chitose, dia berharap hubungan masa kecil mereka akhirnya maju setelah jauh dari rumah, tapi ternyata tidak juga.
Dia memang belum pernah bertanya langsung apakah Chitose mencintai Shinsuke, tapi sekarang dia ingin jawaban yang jelas.
“Ahaha... ketahuan juga ya.”
Chitose mengernyit kesulitan dan menggaruk pipinya. Dia menatap langit-langit selama beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Yuno.
“Maaf kalau selama ini bikin salah paham, tapi kalau soal aku pacaran sama Shin-chan... sayangnya, itu mungkin nggak akan pernah terjadi, bahkan di masa depan.”
“Tapi kamu selalu bilang hal-hal yang mirip lamaran nikah, ngomong cabul, ngajak dia nginap...?”
“Aduh, Yuno-chan, kamu serius banget... Semua itu cuma becanda, kok. Shin-chan juga tahu.”
“Aku memang tahu itu becanda... tapi kupikir itu tipe candaan yang dipakai buat nutupin perasaan sendiri karena malu waktu suka sama seseorang...”
“Hmm, tebakanmu salah. Sebagai teman masa kecil... sebagai kakak perempuannya, aku sayang banget sama dia sampai rasanya pengin menjilat seluruh tubuhnya.”
Sambil berkata begitu, Chitose perlahan melepaskan Shizune dan menaruh kedua tangannya di lantai bak.
“Tentu saja, kalau seandainya ada keajaiban lalu Shin-chan malah menyatakan cinta padaku, aku bakal mempertimbangkannya, ya? Tapi kakak perempuan yang mencoba merayu adik laki-lakinya sendiri... itu jelas nggak semestinya terjadi.”
“...Begitu, ya...”
Ada sesuatu dalam cara Chitose mengatakannya yang terasa janggal bagi Yuno, tapi mungkin walau didesak lebih jauh pun jawabannya tidak akan berubah. Untuk saat ini, dia harus menerima kata-katanya.
“...Ngomong-ngomong, Yuno.”
“Iya...? Ada apa, Shizune-san?”
“Kamu terus bilang hal-hal seperti itu, tapi sebenarnya kamu sendiri bagaimana memandang Shinsuke?”
“Eh!? T-Tidak mungkin! Aku dan onii... aniki itu saudara kandung betulan!”
“Bukan secara romantis. Aku cuma penasaran bagaimana perasaanmu padanya sebagai adik. Di depan wajahnya kamu galak, tapi dari yang kudengar, sebenarnya kamu sangat memedulikannya.”
Shizune menjelaskan dengan tenang kepada Yuno yang panik. Setelah akhirnya paham, Yuno mengangguk kecil sambil berkata, “A-Ah...”
“...Aku sih nggak terlalu peduli sama dia atau apa. Cuma... aku khawatir.”
Dengan bibir cemberut, Yuno menumpahkan isi hatinya dengan kesal.
“Dia itu terlalu lembek dan nggak ada harapan... Aku nggak bisa begitu saja membiarkannya. Rasanya suatu hari nanti dia bakal terseret ke sesuatu yang buruk, atau tiba-tiba pergi jauh sekali...”
Suaranya perlahan makin sulit didengar, sampai nyaris hilang sama sekali. Lalu tiba-tiba dia berdiri tegak.
“Pokoknya... fakta bahwa dia bikin adik kandungnya khawatir sampai segini aja sudah cukup membuktikan kalau dia gagal sebagai kakak!”
Kecemasannya ia ubah menjadi keluhan, lalu dia meluapkannya dengan emosi panas.
“Dia selalu saja mengkhawatirkan orang lain, selalu punya masalah, biasa-biasa saja dalam pelajaran maupun olahraga, nggak keren sama sekali! Bajunya polos dan membosankan, dan dia sama sekali nggak punya selera soal hadiah!”
Sedikit kehabisan napas, dia tercebur kembali ke dalam air.
“Tapi... dia lebih mengerti aku daripada siapa pun, jadi... aku nggak membencinya.”
“...Begitu.”
Memahami perasaan tsundere Yuno, Shizune tersenyum lembut.
“Oh iya! Shin-chan ngasih kamu hadiah apa sih, Yuno-chan?”
“Kamu tadi juga ada di sana, Chi-chan... ingat, kan?”
“Hmm, memang iya?”
Yuno menerima hadiah dari Shinsuke menjelang akhir pesta.
Saat itu ingatan Chitose sudah kabur karena alkohol, jadi walaupun dia ada di sana, dia tidak punya ingatan sama sekali tentang isinya.
“Yah, detail kecil nggak penting! Jadi, apa yang dikasih Shin-chan?”
“...Buku. Sebuah buku.”
“Eh...? Buku? Jangan bilang buku latihan?”
“Bukan, syukurlah bukan buku latihan... tapi cukup dekat...”
Chitose memiringkan kepala sambil menggumam, “Cukup dekat, ya...” dan berpikir keras. Karena tetap tidak bisa menebak, akhirnya dia mendengar jawaban langsung dari Yuno.
“Ahh, iya... kalau buat hadiah ulang tahun adik perempuan, itu memang jelas nggak punya selera.”
“...Benarkah? Menurutku sih nggak masalah.”
“Yah, itu memang menunjukkan kalau dia sangat paham Yuno-chan.”
Setelah tahu isi hadiahnya, Chitose mendekati Yuno dengan riang dan membelai rambutnya pelan.
“Jaga baik-baik hadiah itu, Yuno-chan.”
☆
“Haaah... akhirnya.”
Setelah melambaikan tangan di depan wajah Chitose yang memejamkan mata untuk memastikan dia benar-benar tertidur, aku perlahan bangkit dari futon.
Sepulang dari onsen, kami kembali ke kamar tamu, menggelar tiga futon di atas tatami, lalu bersiap tidur.
Tapi begitu semuanya selesai, Chitose malah keras kepala membuka lagi botol satu shou yang lain, memaksaku, Shizune, dan Yuno meladeni kemabukannya sampai larut.
Yuno tertidur sekitar tengah malam, Shizune menyusul tak lama kemudian, jadi pada akhirnya hanya aku yang tersisa mendengarkannya.
“Sekarang jam berapa...”
Aku melirik jam dinding. Lewat pukul 2.30. Rupanya aku sudah lebih dari dua jam terjebak mendengarkan ocehan Chitose yang mabuk.
Berhati-hati agar tidak membangunkan tiga gadis yang sedang tidur, aku berjalan menyusuri dinding, membuka fusuma dengan pelan, lalu menuju kamarku sendiri.
Meja yang kupakai sejak SD, ranjangku, rak buku yang dijejali buku pelajaran SMP dan SMA serta manga. Begitu pintu kubuka, pemandangan yang sangat akrab itu menyambutku.
Aku menyalakan lampu, duduk di kursi meja belajar, lalu mengambil sketchbook dan pensil yang kubawa dari Tokyo.
Kalau bisa aku ingin berlatih menggambar setiap hari. Tanggalnya memang sudah berganti, dan jam segini aku tak akan sempat banyak menggambar, tapi lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali.
Aku memejamkan mata, mencoba membayangkan apa yang ingin kugambar.
Tok tok.
Tiba-tiba, ketukan pelan bergema di dalam kamar.
Terkejut, aku menoleh ke belakang dengan hati-hati.
“...Ternyata kamu.”
Di sana berdiri Shizune dengan piyama hitam.
“Memangnya kamu kira hantu?”
“Karena kesal, sejak awal aku sudah memutuskan untuk tidak percaya pada hal-hal yang lebih menakutkan daripada hantu. Aku cuma kaget gara-gara suara mendadak itu.”
“Kalau begitu mungkin ada stalker yang menyusup ke kamarmu?”
“Itu sama menakutkannya dengan hantu, malah mungkin lebih parah...”
“Stalkernya sudah ada di dalam kamar sebelum aku datang.”
“Hah, maksudmu apa... tunggu, maksudmu aku!?”
Memang benar, beberapa minggu lalu aku sempat melakukan hal yang mirip stalker, mencari tahu dari Twitter kalau Shizune akan datang ke acara minum-minum circle “Yunomi”, lalu muncul di tempat itu.
Melihat reaksiku, Shizune menutupi mulutnya dan terkikik jahil.
“Pokoknya, jangan cuma berdiri di situ. Masuklah.”
“Oke.”
Dia mengangguk lalu melangkah masuk.
“Apa aku membangunkanmu karena keluar dari kamar tamu tadi?”
“Bukan. Aromamu hilang, jadi aku bangun.”
“Hidung macam apa itu...”
“Bercanda. Sebenarnya aku bangun karena suara fusuma dibuka.”
“...Begitu. Maaf sudah membangunkanmu selarut ini.”
“Nggak apa-apa. Berkat itu, aku jadi punya alasan buat datang ke kamarmu.”
Kalau dipikir-pikir, tadi saat mengantar mereka aku memang menunjukkan di mana kamarku, tapi belum pernah mengizinkannya masuk... padahal kalau mau, dia tinggal minta biasa saja.
Shizune menutup pintu, lalu melihat sekeliling kamar dengan penuh minat, dari dinding sampai perabotannya.
“Kurasa kamu nggak akan menemukan sesuatu yang terlalu menarik.”
“Rasanya seperti sedang mengunjungi cagar budaya bersejarah. Menarik.”
“Itu kebesaran banget.”
Ini cuma kamar rumah biasa.
“Entah kenapa... berada di sini membuatku merasa lebih dekat denganmu.”
“Lebih dekat...? Kita kan hampir setiap hari sudah bersama.”
“Benar, tapi jadi lebih dekat lagi... seperti aku mulai menjadi dirimu.”
“...Aku sama sekali nggak ngerti maksudmu...”
“Dengan menyentuh ‘keseharianmu’ seperti ini, aku merasa bisa memahami dirimu lebih dalam dari sebelumnya... maksudku begitu. Kamar ini penuh dengan gaya hidupmu dan hal-hal yang kamu sukai.”
Shizune menjelaskan sambil menatap rak buku.
“Kamu mau latihan menggambar sekarang, kan?”
Setelah beberapa saat, dia berjalan dari rak buku ke arah kursiku dan mengintip sketchbook yang masih kosong.
“...Boleh aku bantu?”
“Tentu saja. Cuma alat di sini nggak banyak, jadi paling cuma yang sederhana.”
“Kalau begitu, hari ini kamu mau gambar apa?”
Aku menggenggam pensil lebih erat dan memutar otak.
“...Kurasa aku akan balik ke dasar lagi dan latihan menyalin gambar.”
“Bagus. Rasanya seperti aku sedang melihat Shinsuke sebelum aku mengenalmu.”
Aku berdiri, menarik satu volume manga favorit dari rak, meletakkannya di samping sketchbook, lalu mulai menyalin bentuk cover-nya secara kasar.
Sejak saat itu sampai rasa kantuk menyerang, kami mengurung diri di kamarku dan menghadapi gambar seperti biasa.
Tempatnya memang berbeda, tapi Shizune tetap berada tepat di sampingku, seperti biasanya.
Hanya fakta itu saja entah kenapa sudah cukup menenangkan hatiku.
“...Aku juga ingin lebih mengerti.”
Sama seperti dia yang berusaha mengenalku lebih dalam lagi, aku pun ingin mengenalnya lebih jauh daripada sekarang.