"Shizu-chan, kamu beneran nggak bisa ikut sama kami~?"
Di sebuah apartemen lantai enam tepat di luar dua puluh tiga distrik Tokyo. Teman masa kecilku yang sudah kuanggap seperti kakak perempuan sendiri, Kujo Chitose, berbaring di lantai sambil menggembungkan pipinya. Rambut hitam sebaknya dihiasi warna teal di bagian dalam.
"...Mau bagaimana lagi."
Berbalut pakaian bernuansa hitam gaya jirai-kei andalannya dan mengenakan celemek putih yang entah kenapa memberikan kesan "istri idaman", gadis menhera bernama Kotosaka Shizune menjawab dengan nada kesepian. Ia duduk bersimpuh, melipat pakaian dengan rapi di pangkuannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah wajah cemberut Chitose.
Saat itu pertengahan Juli, tepat sebelum liburan musim panas.
Di saat sebagian besar mahasiswa sibuk menyelesaikan laporan dan belajar mati-matian untuk ujian, tiga tamu malah berkumpul di apartemenku, Aigaki Shinsuke. Mereka duduk mengelilingi meja pendek.
"Uwaaaaa! Gawat, mau dihitung kayak gimana pun aku bakal gagal di mata kuliah wajib ini!"
"Haa... Chitose, berhentilah egois. Kamu bikin Shizune jadi nggak enak hati tuh."
"Kalian bener-bener mengabaikan penderitaanku, ya!?"
"Kamu tidur terus di setiap kelas. Ini namanya karma, Hirofumi."
"Aku bahkan nggak bisa membantah!"
Aku mengabaikan Yagiyu Hirofumi dengan dingin karena dia saat ini sedang pusing tujuh keliling dengan laporan mata kuliah wajibnya. Aku lalu mengalihkan pandangan ke arah Shizune yang sedang rajin mengerjakan pekerjaan rumah.
Sekitar dua minggu telah berlalu sejak kami membuat "kontrak" itu.
Dia datang ke sini setiap hari tanpa absen dan membantu mengurus pekerjaan rumah.
Kontrak layaknya istri singgah, mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan semua urusan rumah tangga lainnya, ditambah mendukung impianku menjadi seorang ilustrator. Sebagai imbalannya, aku memberinya akses bebas ke apartemen ini.
Shizune yang dulu suka merusak diri sendiri dan sering melakukan papakatsu kini telah tiada. Sekarang, dia kembali mengejar cita-citanya menjadi guru SD dan berencana untuk tinggal sendiri setelah lulus. Ia sedang belajar keras untuk mencapai tujuan itu.
Pasti sangat melelahkan untuk belajar dan mengurus rumah setiap hari. Aku sudah berkali-kali bilang padanya, "Kamu nggak perlu datang setiap hari," tapi dia keras kepala dan menolak untuk merusak rutinitas ini.
Rasanya seolah-olah dia berpegang teguh pada peran yang diberikan kepadanya. Dia enggan melepaskan hubungan saling ketergantungan yang menjadi dasar kontrak kami.
Meski begitu, dia sendiri tampaknya sangat menghargai hari-hari ini lebih dari apa pun. Sesekali, dia menunjukkan ekspresi yang benar-benar puas dan bahagia kepadaku.
Namun, sebahagia apa pun hari-hari ini, datang setiap hari pada akhirnya akan menemui batasan praktis.
Dan saat ini, kami sedang menghadapi situasi di mana rekor kehadiran sempurna Shizune sejak menandatangani kontrak itu akan segera terputus dalam beberapa hari.
"Aku juga ingin sekali berkunjung ke kampung halamanmu kalau bisa, Shinsuke, tapi..."
Shizune berhenti melipat pakaian dan berbicara dengan suara lemah.
Pada akhir bulan Juli, setelah semester musim semi berakhir, aku akan pulang ke rumah keluargaku di Saitama selama dua malam tiga hari untuk merayakan ulang tahun adik perempuanku.
"...Apa orang tuamu mengatakan sesuatu?"
"Aku belum memberitahu mereka."
Dia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaanku.
"Kalau begitu, kenapa nggak coba tanya saja dulu? Bilang saja 'Aku mau menginap di rumah teman'. Mereka mungkin saja mengizinkan."
"...Itu nggak mungkin terjadi. Kalau semudah itu, aku nggak akan sebingung ini."
Shizune mematahkan optimisme Chitose dan menggaruk pahanya dengan kuku.
Tentu saja sulit baginya untuk meminta izin kepada orang tuanya. Kalau dipikir-pikir hal itu sudah jelas.
Dari sudut pandang orang tua normal, membiarkan anak perempuan mereka menginap di rumah keluarga seorang cowok padahal mereka bahkan tidak berpacaran pasti akan membuat siapa pun waspada. Orang tua yang dengan senang hati mengizinkan justru sangat langka.
Chitose bisa dengan santai menginap di rumahku karena kami sudah berteman sejak kecil dan orang tua kami sangat dekat, tapi sebagian besar keluarga tidak seperti itu.
Dan yang lebih penting, hubungan Shizune dengan orang tuanya sendiri bisa dibilang jauh dari kata baik. Aku tidak terlalu tahu detailnya, tapi aku bisa melihat ada masalah besar di sana. Itulah tepatnya alasan dia selalu melarikan diri ke tempatku.
"Hmm, apa nggak ada cara lain~? Kita akhirnya bisa sedekat ini, dan aku beneran pengin nunjukin ke kamu kota tempat aku dan Shin-chan tumbuh besar!"
"Mengesampingkan hal itu, kalaupun aku bisa pergi ke kampung halaman Shinsuke, apa benar-benar tidak masalah kalau aku ikut berkumpul di sana? Bagi adikmu, aku ini orang asing."
"Kalau soal itu sih gampang! Aku dan Shin-chan bakal ngurus semuanya. Lagipula, kalau kamu bawa hadiah, dia pasti langsung luluh padamu!"
"Adikku nggak segampang itu."
"Masa sih? Dia itu sangat jujur dan polos. Kalau Shizu-chan menunjukkan kasih sayang yang tulus, kurasa mereka bakal langsung akrab~"
"Mencoba mengambil hati seseorang dengan hadiah bukanlah kasih sayang yang tulus."
Chitose juga akan datang ke pesta ulang tahun adikku.
Ini sudah menjadi tradisi tahunan sejak ulang tahun pertamanya. Tahun lalu kami berdua juga pulang untuk merayakannya.
Sama sepertiku, adikku juga menganggap Chitose lebih seperti kakak perempuan tertua daripada sekadar teman masa kecil.
Tapi Shizune bahkan belum pernah bertemu dengan adikku. Normalnya pasti aneh kalau dia tiba-tiba muncul di pesta ulang tahun keluarga.
Meski begitu, menurutku membiarkannya sendirian di Tokyo jauh lebih buruk daripada mengajaknya ikut serta.
Selama aku pergi, dia tidak akan punya tempat tujuan. Memang hanya tiga hari, tapi bagiku rentang waktu itu terasa sangat mengkhawatirkan.
Kalau emosinya menjadi tidak stabil saat aku tidak ada di sini, aku tidak akan bisa segera merespons.
Sejak kontrak itu dibuat, kondisi mentalnya cukup stabil, dan selama tidak ada hal ekstrem yang terjadi dia seharusnya baik-baik saja.
Namun, ketika kehidupan sehari-harinya yang stabil sangat terguncang, hal itu masih bisa mempengaruhi perasaannya. Kepulanganku selama dua malam tiga hari ini mungkin saja menjadi pemicu semacam itu.
Shizune sendiri bilang dia ingin ikut kalau orang tuanya mengizinkan, jadi aku benar-benar ingin mencari solusinya...
"Hei, hei, Shinsuke. Kenapa wajahmu suram begitu?"
"Diem, cowok kelas tambahan."
"Kejam banget!"
Aku mendorong wajah Hirofumi yang mengintip ke arahku dan menghela napas panjang.
Aku sebenarnya mengundang Hirofumi ke pesta ulang tahun itu juga, tapi sayangnya dia tidak bisa datang.
Dia gagal total dalam kuis di kelas dan harus mengikuti kelas remedial pada hari pesta dan keesokan harinya.
"Kamu pasang wajah kayak dunia mau kiamat gitu pasti karena khawatir ninggalin Shizu-chan sendirian, kan?"
Apa wajahku kelihatan separah itu...?
Tapi tebakannya tepat sasaran. Seperti yang diharapkan dari teman yang paling banyak menghabiskan waktu kuliah denganku. Aku mau tidak mau merasa terkesan.
"Aku memang nggak bisa pergi ke pesta, tapi di saat-saat begini lah kamu harus mengandalkan teman!"
"Maksudnya?"
"Aku akan menjadi dirimu."
Kumat lagi. Tiba-tiba ngomong hal absurd dari entah berantah.
"Sebenarnya apa maksudmu?"
"Persis seperti yang kubilang. Selama kamu pergi, aku akan tinggal di sini, di apartemen bersama Shizu-chan. Sebagai suaminya, tentu saja!"
"Ditolak mentah-mentah!"
"Ehh, menurutku itu ide yang bagus~? Shizu-chan bisa hidup normal, dan aku bisa menghabiskan waktu berduaan sama cewek."
"Kamu cuma mau berduaan sama cewek aja..."
"Terus kenapa! Kamu bakal dikelilingi dua cewek cantik, adikmu dan Chitose-senpai, jadi nggak boleh ya aku pinjam Shizu-chan selama tiga hari!?"
Saking blak-blakannya dia, rasanya malah menyegarkan.
"Mengesampingkan Chitose, memperlakukan adik kandungku sendiri seperti piala itu nggak mungkin. Dan berhentilah membicarakan Shizune seolah-olah dia itu barang. Aku nggak akan meminjamkannya."
"Ayolah, please! Aku juga pengin ngerasain hidup dengan istri singgah! Aku bahkan bakal bayar ekstra buat paket itu!"
"Aku nggak pernah nawarin paket kayak gitu!"
Orangnya ada di sini lho. Sembunyikan sedikit nafsumu, kawan.
Namun, ada satu orang yang mengangguk penuh arti mendengar kata-kata Hirofumi.
"...Hmm. 'Aku akan menjadi dirimu'... ya."
Chitose mengusap dagunya dengan ekspresi serius lalu mengulangi kalimatnya.
"Ada apa, Chitose? Punya ide?"
"Nggak, aku cuma berpikir... kalau aku yang jadi penggantinya Shin-chan, mungkin semuanya bakal berjalan lancar..."
"Jangan ikut-ikutan ngomong hal bodoh..."
"Nggak, nggak, aku selalu serius lho."
Chitose menatap Shizune dan bertanya.
"Kamu belum bilang ke orang tuamu kalau kamu sering datang ke tempat Shin-chan, kan, Shizu-chan?"
"...Benar. Sampai sekarang pun, aku bilangnya sedang belajar di kampus atau di kafe."
"Jadi orang tuamu membatasi tindakanmu tapi ngasih jam malam yang lumayan longgar."
Dia menatap langit-langit sambil berpikir lebih jauh.
"Apa orang tuamu pernah melarangmu 'nongkrong sama teman'?"
"...Beberapa kali."
"Cowok?"
"Bisa cowok bisa cewek. Meskipun... aku nggak yakin apa mereka bisa disebut 'teman'."
"...? Apa maksudmu?"
Bingung dengan komentar tambahan itu, aku pun bertanya padanya.
"Kami jadi dekat di Twitter, tapi kontak kami tiba-tiba terputus. Aku sudah bikin ulang akunku beberapa kali, jadi aku nggak tahu apa yang mereka lakukan sekarang."
"Ah, begitu ya."
Dia sangat payah dalam bersosialisasi sehingga satu-satunya orang yang bisa dia sebut teman di kampus hanyalah kami bertiga di sini.
Dia rupanya tidak pernah punya teman sejak SD, SMP, atau SMA. Tapi setidaknya ada masa ketika dia punya teman mengobrol di dunia maya.
"Kalau begitu, kamu belum pernah bilang ke mereka 'Aku mau main sama teman kampus', kan?"
Chitose mengeluarkan senyuman "fufu" yang penuh harapan.
"Dari yang kudengar, orang tuamu nggak mengurungmu sepenuhnya. Buktinya mereka membiarkanmu belajar di luar sampai larut malam."
Kalau dia bilang begitu, mungkin itu benar. Mereka jelas membatasinya, tapi mereka tampaknya juga cukup menghargai kemandiriannya sampai batas tertentu.
"Apa orang tuamu pernah menanyakan soal teman saat ngobrol? Kayak, 'Apa kamu sudah punya teman di kampus?' gitu?"
"Belakangan ini kami jarang ketemu, jadi nggak... Tapi tepat setelah aku masuk kuliah, mereka sempat bertanya beberapa kali."
"Itu artinya mereka peduli apa kamu punya teman atau nggak!" Chitose tiba-tiba duduk tegak, bergeser mendekati Shizune, dan melanjutkan. "Aku berani taruhan, orang tuamu cuma ingin kamu memilih teman dengan hati-hati. Berteman secara online itu wajar di zaman sekarang, tapi beberapa orang tetap nggak menyukainya. Terus juga selalu ada risiko terlibat kejahatan."
Sambil mengatakan hal ini, dia meraih ponselnya di atas meja dan dengan lincah membuka kamera depan tanpa melihat ke arah layarnya.
"Eh, tunggu, kamu mau ngapain."
"Ayo, ayo, jangan kabur! Aku nggak bakal ngejilat kamu atau apa pun kok, tenang aja~"
Chitose menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirnya secara teatrikal sambil mendekat. Merasakan bahaya, Shizune panik dan mencoba berdiri.
Tapi percuma. Chitose meraih bahunya dengan refleks yang mengerikan dan menariknya mendekat secara paksa.
"Shizu-chan, senyum yang lebih lebar dong! Kalau kamu pasang wajah setengah hati gitu, fotonya bakal sia-sia!"
Sia-sia...? Sebenarnya apa yang dia rencanakan...?
Chitose menempelkan pipinya tepat di pipi Shizune lalu mengambil foto. Shizune tampak kerepotan tapi dengan canggung mengangkat jarinya membentuk simbol kedamaian.
"...Hei, Chitose. Apa yang mau kamu lakuin dengan foto dadakan itu?"
"Aku akan menggunakannya untuk bernegosiasi supaya kamu bisa menginap."
Dia mengecek galerinya sekali, lalu dengan lancar membuka aplikasi LINE dan mengirimkan foto itu ke Shizune.
"Kalau anak perempuan seumuran kalian mau tidur di rumah cowok tak dikenal, mereka hampir pasti bakal menolak. Tapi kalau orang tuamu pengin kamu punya teman, dan kamu bilang 'Aku mau menginap di rumah temanku, Chitose,' mereka mungkin bakal mengizinkannya, kan?"
"...Aku mengerti."
Jadi itu yang dia maksud dengan "Aku yang akan jadi pengganti Shin-chan."
Kalau kami mengubah ceritanya dari "rumah keluarga Shinsuke" menjadi "rumah keluarga Chitose", peluang untuk mendapatkan izin akan melonjak drastis.
Karena Shizune belum pernah punya teman kuliah sebelumnya, tiba-tiba minta izin menginap mungkin akan menimbulkan kecurigaan. Tapi foto mereka berdua bersama akan menambah kredibilitas alasannya.
"Tapi... itu memang ide yang bagus. Apa beneran bakal selancar itu?"
"Itu tergantung pada pola pikir orang tuamu dan kemampuan persuasimu. Tapi kita kan memang beneran teman, jadi kalau kamu nambahin sedikit cerita pertemanan yang manis dan merayu mereka, ini pasti berhasil!"
"Jaga bicaramu. Kamu terdengar seperti penipu."
Apa mereka punya cerita pertemanan yang manis?
"Sialan... jadi cuma aku satu-satunya yang kesepian selama waktu itu..." Hirofumi ikut menimpali.
"Kamu nggak bakal kesepian kok. Kan kamu bakal menghabiskan waktu dua hari penuh sama dosenmu."
"Itu sama aja bohong!"
"Ya sudah, kalau aku lagi mood aku bakal kirim fotonya, jadi jangan kelihatan murung gitu."
"Kalau kamu ngirim foto bareng tiga cewek sementara aku terjebak di neraka remedial, layar ponselku bisa retak gara-gara iri dengki tahu...?"
"Itu namanya bukan kebaikan. Itu perang psikologis. Jangan salah paham."
"Layarku udah pasti retak! Jangan berani-beraninya ngirim apa pun!"
Berusaha melarikan diri dari rengekan bising Hirofumi, aku menutup telingaku dan memalingkan pandangan.
"...Shizune?"
Di sudut pandanganku, dia menundukkan kepalanya, menatap tajam ke layar ponselnya.
"Nggak, bukan apa-apa... Ini cuma... baru pertama kalinya."
Pipinya sedikit merona, ia lalu menyipitkan matanya sedikit.
"...Difoto bareng teman... rasanya menyenangkan juga ya."
Dia dengan lembut menempelkan ponsel itu ke dadanya dan memberikan senyuman malu-malu.