“Tidak, saya tidak akan menyetujui pendaftaran klub ini.” (Guru)
Pada hari Rabu pertama di bulan Oktober, Sophia menyerahkan formulir pendaftaran klubnya kepada wali kelasnya di ruang guru, tetapi langsung ditolak tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi.
Matanya bergetar saat ia menoleh kepadaku, meminta bantuan.
Karena itu, aku melangkah ke sampingnya dan lebih dulu berbicara kepada wali kelas tahun pertama Kelas Persiapan Khusus.
“Aku tidak mengerti. Entah dia siswa Kelas Persiapan Khusus atau penerima beasiswa, tidak ada aturan sekolah yang melarangnya bergabung dengan klub. Jadi, apa masalahnya?” (Kento)
“Kamu... kalau tidak salah...” (Guru)
“Aku Kento Shirakawa dari Kelas Olahraga 1-B. Aku kakak Sophia.” (Kento)
Saat memperkenalkan diri, guru itu mendorong kacamatanya dengan jari telunjuk lalu menatapku dengan pandangan merendahkan.
“Siswa dari kelas yang hanya unggul dalam olahraga sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan Kelas Persiapan Khusus.” (Guru)
“!?” (Sophia)
Ucapan guru itu membuat wajah Sophia langsung berubah.
Meski yang dihina bukan dirinya, wajahnya dipenuhi amarah.
Aku meraih tangannya lalu dengan lembut mengajaknya berdiri di belakangku.
Tentu saja ia mendongak dengan wajah tidak puas, tetapi aku menggeleng pelan, memberi isyarat agar ia tetap diam.
Guru ini memang sengaja mencoba memancing kami.
Kalau kami terpancing marah atau menunjukkan rasa kesal, dia pasti akan dengan senang hati menyebut kami sebagai siswa bermasalah.
Lalu, dengan alasan itu, dia akan menolak permohonan Sophia.
Menghadapi orang seperti ini, kami harus tetap tenang.
Biasanya aku yakin Sophia mampu menghadapi orang seperti dia karena ia cenderung tetap tenang meski sedang kesal. Namun saat ini emosinya sudah terlalu memuncak, jadi itu bukan pilihan yang baik.
Meski begitu, aku juga tidak bisa menyalahkannya. Dia marah demi membelaku.
“Meski aku berasal dari kelas yang berbeda, Sophia adalah adik yang sangat berharga bagiku. Sebagai kakaknya, aku ingin menghormati keinginannya.” (Kento)
“Mungkin karena kamu masih anak-anak, kamu tidak mengerti, tetapi menghormati keinginan seseorang tidak selalu merupakan pilihan terbaik bagi mereka. Sophia disebut sebagai jenius terbesar yang pernah dimiliki sekolah ini, dan sekolah menaruh harapan yang sangat besar padanya. Bagaimana kalau dia bergabung dengan klub bisbol lalu nilainya menurun? Siapa yang akan bertanggung jawab? Membuang bakat yang hanya datang sekali seumur hidup demi emosi sesaat adalah tindakan yang benar-benar bodoh.” (Guru)
Hebat juga, dia bisa mengucapkan hinaan seperti itu dengan begitu lancar.
Pasti dia memang terbiasa merendahkan orang lain.
“Dengan segala hormat, Sophia tidak bersekolah di sini demi kepentingan sekolah. Dia bersekolah di sini demi dirinya sendiri. Bukankah seharusnya dia bebas melakukan apa yang diinginkannya?” (Kento)
“Dia adalah penerima beasiswa. Karena sekolah menanggung seluruh biaya pendidikannya, dia punya kewajiban memenuhi bagiannya dalam kesepakatan.” (Guru)
“Dia akan melakukan semua yang dia bisa untuk mempertahankan nilainya. Dan kalau pun nilainya benar-benar turun, tanggung jawab itu menjadi miliknya sendiri. Selama dia siap bertanggung jawab atas dirinya sendiri, aku tidak melihat adanya masalah. Menurut Anda bagaimana?” (Kento)
Kalau nilai Sophia turun, beasiswanya akan dicabut.
Itulah arti bertanggung jawab.
Karena sejak awal memang tidak pernah ada aturan yang melarang siswa penerima beasiswa bergabung dengan klub, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengeluh.
Tentu saja, seperti yang kukatakan tadi, Sophia akan berusaha semaksimal mungkin mempertahankan nilainya. Berdasarkan kesanku saat melihatnya belajar bersama Jessica-san, aku yakin dia mampu melakukannya tanpa membuat nilainya menurun.
“Kalau dia bergabung dengan klub bisbol yang merupakan tim elit khusus, dia pasti tidak akan punya waktu untuk belajar dan nilainya sudah pasti turun...! Apa kamu terlalu bodoh sampai tidak mengerti hal sesederhana itu...!?” (Guru)
“!!” (Sophia)
Ucapan guru yang penuh emosi itu langsung dibalas dengan aura panas yang sama kuatnya dari belakangku.
Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu.
Sophia benar-benar marah.
Aku sedikit mempererat genggamanku pada tangannya, mencoba menenangkannya.
Sebagai balasan, Sophia menggenggam balik tanganku dengan sangat kuat.
Kekuatan genggamannya menunjukkan betapa marahnya dia.
Aku kembali menggenggam tangannya dengan lembut, lalu menatap lurus ke arah guru itu dan mulai berbicara.
“Nadeshiko Kujouin-san dari Kelas Umum tahun kedua mampu menyeimbangkan tugasnya sebagai manajer klub bisbol sambil mempertahankan prestasi akademik yang setara dengan Kelas Persiapan Khusus. Bukankah itu membuktikan bahwa belajar dan kegiatan klub bisa dijalani bersamaan? Dan menurutku Sophia juga memiliki kemampuan yang sama.” (Kento)
“!?” (Guru)
Begitu aku menyebut nama Kujouin-san, ekspresi guru itu langsung berubah.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bukan sekadar berpura-pura. Dia benar-benar kesal.
Aku yakin dialah guru yang dulu mengeluhkan bahwa semuanya akan berbeda seandainya Sophia lahir setahun lebih awal.
“Tidak ada jaminan Shirakawa bisa melakukan hal yang sama seperti Kujouin...!?” (Guru)
“Kalau begitu, apakah maksud Anda kemampuan akademik Sophia lebih rendah daripada Kujouin-san?” (Kento)
Guru itu kembali terdiam mendengar pertanyaanku.
Padahal bukankah itu memang yang sedang dia katakan?
Kalau dia menganggap sesuatu yang bisa dilakukan Kujouin-san mustahil dilakukan Sophia, padahal dia sendiri menyebut Sophia sebagai jenius terbesar sejak sekolah ini berdiri, bagaimana dia akan menjelaskan kontradiksi itu?
“Cih... Bocah...!” (Guru)
Karena sudah tidak punya bantahan lagi, guru itu menatapku dengan penuh kebencian.
Orang yang senang memancing orang lain ternyata tidak tahan saat dirinya dipancing.
Padahal usianya tidak jauh berbeda dengan pelatih kami, tetapi sikap mereka sebagai manusia benar-benar bertolak belakang.
Meski begitu, orang seperti dia memang merepotkan.
Tipe yang yakin dirinya selalu benar dan tidak mau mendengarkan siapa pun yang dianggap lebih rendah.
Kalau saja tidak ada aturan yang mengharuskan persetujuan wali kelas untuk bergabung dengan klub, kami tidak perlu bersusah payah seperti ini.
Mungkin sebaiknya kami melewati dia saja dan membawa masalah ini kepada orang yang lebih tinggi.
Saat aku sedang memikirkan itu...
“Bukankah agak ironis seorang guru yang justru kehilangan kendali emosi, sementara muridnya tetap tenang dan berusaha berdiskusi secara rasional?” (?)
Sebuah suara yang akrab dan menyenangkan memotong percakapan kami dengan nada teguran yang lembut.
Saat aku menoleh, ada dua orang berdiri di pintu masuk ruang guru.
Salah satunya adalah orang yang baru saja kami bicarakan, Kujouin-san, berdiri anggun dengan senyum ramah.
Dan di sampingnya berdiri pelatih kami.
“Kujouin-san, dan Pelatih...? Kenapa kalian berdua ada di sini...?” (Guru)
Pelatih berasal dari Kelas Olahraga, sedangkan Kujouin-san dari Kelas Umum, jadi gedung sekolah mereka berbeda dengan gedung ini.
Mustahil mereka hanya kebetulan lewat.
“Aku dengar kalian akan menyerahkan formulir pendaftaran klub saat istirahat makan siang hari ini. Jadi kupikir hasilnya akan seperti ini.” (Pelatih)
“Lagipula kami memang sering mendengar berbagai rumor.” (Nadeshiko)
Sepertinya pelatih dan Kujouin-san sudah memperkirakan kami akan mengalami masalah.
"Rumor" yang dimaksud mungkin tentang guru ini.
Kemungkinan Kujouin-san yang memberi tahu pelatih sehingga mereka datang ke sini.
“Sekarang malah makin banyak orang luar yang ikut campur...!” (Guru)
Wali kelas Sophia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya.
Terutama terhadap Kujouin-san.
Dia adalah satu-satunya orang yang pernah mengungguli Kelas Persiapan Khusus sekaligus menolak ajakan mereka bergabung, jadi tidak aneh kalau dia membencinya.
“Ara ara... sepertinya Anda sangat membenciku.” (Nadeshiko)
Kujouin-san meletakkan tangan di dekat mulutnya sambil menatap wali kelas Sophia dengan mata yang sama sekali tidak tersenyum.
Aku tidak tahu seberapa banyak percakapan tadi yang sempat ia dengar, tetapi bagi orang seperti dirinya sampai berbicara dengan nada sesopan itu secara berlebihan, berarti dia benar-benar sedang kesal.
“Kuzumine-sensei, mari kita berdiskusi dengan lebih membangun.” (Pelatih)
Saat Kujouin-san terus memberikan tekanan tanpa berkata apa-apa, pelatih maju dan berdiri di depan kami.
“Hijima-sensei... Orang seperti Anda justru yang paling saya benci.” (Guru)
Mendengar itu, wali kelas tersebut, Kuzumine-sensei, langsung menunjukkan rasa tidak sukanya.
Apa pernah terjadi sesuatu di antara mereka?
“Sudahlah, tidak usah berkata begitu. Masalah ini menyangkut klub bisbol, bukan? Sebagai orang yang bertanggung jawab atas klub itu, aku tidak bisa tinggal diam.” (Pelatih)
“Bagaimanapun juga, tidak ada keuntungan bagi sekolah jika Shirakawa bergabung dengan tim bisbol. Karena itu, saya tidak berniat menyetujui permohonannya.” (Guru)
Kuzumine-sensei jelas ingin mengakhiri pembicaraan secepat mungkin.
Alasannya, bahwa sekolah tidak mendapat keuntungan, benar-benar membuat kesal. Namun untuk saat ini, sebaiknya biarkan pelatih yang menangani semuanya.
Aku memusatkan perhatian untuk menenangkan Sophia agar emosinya tidak meledak.
“Itu belum tentu benar. Setidaknya menurutku, bergabungnya Shirakawa Sophia ke klub bisbol akan membawa manfaat bagi sekolah.” (Pelatih)
“Hah? Memangnya bagaimana caranya?” (Guru)
Kuzumine-sensei mendengus sambil memiringkan kepala dengan nada mengejek.
Aku mulai khawatir pelatih benar-benar akan memukulnya.
“Kalau tim bisbol berhasil mengharumkan nama sekolah di Koshien, itu akan menjadi promosi yang luar biasa bagi sekolah.” (Pelatih)
“Hah...! Kukira Anda mau mengatakan sesuatu yang masuk akal. Seorang manajer yang bahkan tidak bisa bermain di pertandingan sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Konyol.” (Guru)
Kuzumine-sensei kembali mengejek pelatih.
Aku benar-benar berharap suatu hari nanti dia mendapat balasan yang setimpal.
“Manajer yang mendukung tim dari balik layar adalah sosok yang tak ternilai. Bahkan lebih dari itu, menurutku gadis ini adalah dewi kemenangan kami. Benar begitu, Kento?” (Pelatih)
Entah kenapa pelatih tiba-tiba menoleh kepadaku. Sebenarnya dia sedang merencanakan apa?
Namun hanya dengan sekali tatapan darinya, aku langsung mengerti apa yang dimintanya.
“Ya, aku juga berpikir begitu.” (Kento)
Mengikuti alur pembicaraan adalah pilihan yang tepat, jadi aku langsung mengangguk.
Namun Kuzumine-sensei hanya mengangkat bahu sambil menatap kami dengan wajah jengah.
“Apa dasar kalian mengatakan itu?” (Guru)
Dan seolah sudah menunggu pertanyaan itu, pelatih langsung memperlihatkan senyum licik.
“Pada pertandingan berikutnya, babak ketiga turnamen prefektur, anak ini akan memukul tiga home run. Kalau dia berhasil melakukannya, apakah Anda bersedia menyetujui keanggotaan Shirakawa Sophia? Kalau gagal, kami akan membatalkan permohonannya.” (Pelatih)
“Hah!?” (Kento)
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan pelatih.
Dia mengajukan syarat yang benar-benar tidak masuk akal!
Tiga home run dalam satu pertandingan!?
Mana mungkin itu bisa dilakukan...!
“Haha, bahkan orang sepertiku yang hampir tidak tahu apa-apa soal bisbol juga tahu itu mustahil!” (Guru)
Kuzumine-sensei bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun kali ini, dia memang benar.
“Kalau begitu, negosiasinya selesai?” (Pelatih)
“Tunggu sebentar. Menentukan masa depan seorang murid berdasarkan hal seperti itu, bagaimana pun dilihat...” (Guru)
Saat pelatih hendak memastikan kesepakatan itu, tampaknya Kuzumine-sensei menyadari sesuatu dan sikapnya tiba-tiba berubah.
Karena pelatih begitu percaya diri, mungkin dia merasa ada yang aneh dan mulai ragu.
Aku merasa lega karena kesepakatan itu belum jadi, tetapi tepat ketika aku berpikir begitu...
“Kalau dia gagal, aku juga akan pindah ke Kelas Persiapan Khusus kapan pun Anda inginkan, selain syarat yang tadi.” (Nadeshiko)
“Eh!?” (Kento)
Saat Kuzumine-sensei mulai ragu, seseorang justru mendorong keadaan semakin jauh.
Orang yang mengusulkan itu tidak lain adalah Kujouin-san sendiri, orang yang selama ini terus menolak ajakan masuk ke Kelas Persiapan Khusus.
“Kujouin-san masuk ke Kelas Persiapan Khusus...!? Itu...!” (Guru Lain)
“Kuzumine-sensei, ini kesempatan yang sangat besar...!” (Guru Lain)
“Benar! Lagi pula tiga home run itu mustahil!” (Guru Lain)
Dengan usulan tak terduga dari Kujouin-san, para guru Kelas Persiapan Khusus yang sejak tadi hanya mengamati langsung ikut menyela.
Sebegitu berharganya dia bagi mereka.
Dengan prestasinya yang luar biasa, akan jauh lebih mudah baginya mempertahankan nilai di Kelas Persiapan Khusus. Selain itu, peluangnya masuk salah satu universitas terbaik di Jepang juga sangat besar.
Itu akan menjadi pencapaian besar bagi sekolah dan kemungkinan besar juga berdampak langsung pada penilaian kerja, bahkan gaji para guru.
Saat ia naik ke tahun ketiga nanti, aku bisa membayangkan mereka berebut menjadi wali kelasnya.
Yang terpenting, mereka tidak perlu lagi khawatir Kelas Persiapan Khusus dikalahkan oleh Kelas Umum.
Situasi ini benar-benar berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa...
Tentu saja, dihadapkan pada kesempatan semenggiurkan itu, ditambah dorongan dari para guru di sekitarnya, Kuzumine-sensei pun...
“Baik. Aku terima tawaran itu!” (Guru)
Dia mengangguk dengan senyum cerah seolah baru saja memenangkan sebuah kemenangan.
Padahal sebelumnya dia tampak sangat membenci Kujouin-san, tetapi sekarang sepertinya dia mulai membayangkan bagaimana mengambil jasa karena berhasil membawa Kujouin-san masuk ke Kelas Persiapan Khusus.
Situasi ini benar-benar menjadi semakin besar...
◆
“Pelatih!” (Kento)
Setelah keluar dari ruang guru, aku memanggil pelatih yang hendak berjalan menyusuri koridor.
“Ada apa? Kenapa berteriak?” (Pelatih)
Pelatih menoleh dengan ekspresi sedikit kesal, jelas berusaha bersikap santai.
“Aku berterima kasih karena sudah membantu, tapi kenapa Anda membuat syarat yang begitu tidak masuk akal...!? Dan Kujouin-san juga, kenapa Anda melakukan itu...!?” (Kento)
“Haha, baru kali ini aku melihatmu semarah ini, Kento!” (Pelatih)
“Yah, aku memang sudah menduga Anda akan melakukan sesuatu seperti ini, tapi tetap saja...” (Kento)
Pelatih tertawa riang, bahkan Kujouin-san juga ikut terkekeh.
Bagaimana mereka masih bisa tertawa dalam situasi seperti ini?
“Tiga home run dalam satu pertandingan? Itu benar-benar keterlaluan...! Taruhannya adalah Sophia bisa masuk klub dan Kujouin-san harus pindah kelas...!” (Kento)
“Tenanglah, Kento. Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang menurutku mustahil.” (Pelatih)
Menanggapi keluhanku, pelatih berbicara dengan suara yang sangat tenang.
Entah bagaimana, wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah serius, matanya dipenuhi tekad yang kuat.
“Jadi Anda benar-benar tidak menganggap itu mustahil...? Anda serius?” (Kento)
“Lapangan tempat kita bermain nanti punya garis luar yang sempit dan pagar yang rendah. Lawan kita juga sudah ditentukan, dan mereka hanya sekolah papan tengah. Ini situasi yang sempurna untuk tantangan ini.” (Pelatih)
Dengan kata lain, kondisi lapangan sangat mendukung untuk memukul home run, dan pelempar utama lawan juga merupakan tipe yang cocok dihadapi.
Meski begitu, tetap sulit bagiku untuk langsung setuju.
“Meski begitu, hanya monster yang bisa memukul tiga home run dalam satu pertandingan! Bagaimana pun juga...” (Kento)
“Oh? Berarti kamu mengerti. Benar. Yang harus kamu lakukan hanyalah menjadi monster itu.” (Pelatih)
“Hah...?” (Kento)
Aku terdiam mendengar jawabannya yang sama sekali di luar dugaan.
Menjadi monster...?
“Kamu adalah pemukul keempat dari tim yang menargetkan juara Koshien. Kalau begitu, kamu harus menjadi pemain yang disebut monster oleh orang-orang. Memukul tiga home run seharusnya bukan masalah bagimu.” (Pelatih)
“......” (Kento)
“Lagipula, kalau aku tidak mengajukan syarat seekstrem itu, Kelas Persiapan Khusus tidak akan pernah menyetujui permohonan Shirakawa Sophia.” (Pelatih)
“Itu... mungkin benar, tapi...” (Kento)
Mungkin memang tidak banyak murid yang memiliki kemampuan akademik seperti Sophia.
Karena itulah, sekarang setelah dia ada di sekolah ini, mereka ingin dia masuk ke salah satu universitas terbaik Jepang demi menambah prestasi sekolah.
Wajar saja kalau Kelas Persiapan Khusus tidak mau melepaskannya begitu saja.
Saat aku masih ragu, pelatih menepuk bahuku dengan kuat.
“Ini demi adikmu yang berharga, kan? Tunjukkan pada mereka kemampuanmu. Meski begitu, aku memang sedikit merasa bersalah karena maskot klub kami ikut terseret dalam semua ini.” (Pelatih)
“Pelatih~? Jangan bertingkah seolah-olah Anda tidak ikut terlibat~ Bukankah kita sudah membicarakan semuanya dan memutuskannya bersama~?” (Nadeshiko)
Begitu pembicaraan mulai mengarah seolah-olah pelatih tidak ada hubungannya dengan keterlibatan Kujouin-san, dia langsung menghentikannya.
Dengan kata lain, bahkan dirinya ikut menjadi taruhan pun memang sudah menjadi bagian dari rencana mereka sejak awal.
“Haha... tetap saja mengerikan seperti biasanya. Pokoknya begitulah. Sisanya kuserahkan padamu.” (Pelatih)
Setelah berkata begitu, pelatih berbalik lalu berjalan sendirian menuju gedung Kelas Olahraga.
Dia mungkin kabur.
“Kujouin-san, aku benar-benar minta maaf karena menyeretmu ke dalam semua ini...” (Kento)
Setelah pelatih pergi, aku menundukkan kepala kepada Kujouin-san karena merasa bersalah telah melibatkannya.
Sophia yang sejak tadi diam mendengarkan juga segera ikut membungkuk, tetapi...
“Tidak apa-apa. Aku melakukannya karena memang ingin.” (Nadeshiko)
Kujouin-san hanya tersenyum dan menganggapnya bukan masalah.
“Tapi tidak ada keuntungan apa pun bagimu dalam semua ini, Kujouin-san...” (Kento)
“Hmm, tidak juga. Kalau Sophia-chan bergabung dengan klub bisbol, menurutku Seijou High bisa meraih pencapaian yang lebih besar.” (Nadeshiko)
Ternyata Kujouin-san juga mempercayai apa yang dikatakan pelatih.
Pada akhirnya, sama seperti Shuuto, dia percaya pada pelatih.
Tidak, sekarang kupikir-pikir lagi, seluruh anggota tim bisbol memang seperti itu.
Semua mengikuti pelatih karena mereka percaya padanya.
Aku tidak boleh menjadi satu-satunya yang tidak percaya.
“Aku percaya padamu, Kento-kun. Kamu pasti akan memukul tiga home run itu, kan? Tapi jangan khawatir, aku akan membantumu sebisa mungkin. Nanti saat latihan kita pelajari lagi data pelempar lawan.” (Nadeshiko)
Meski percaya padaku, dia tidak lantas menyerahkan semuanya kepadaku.
Dia benar-benar melakukan apa yang bisa dilakukannya untuk mendukungku agar kami bisa bertarung bersama.
“Terima kasih...” (Kento)
Dia bukan hanya menjadi teman bicara Sophia dan mempertaruhkan dirinya demi membantu Sophia masuk ke tim, tetapi juga bersedia bertarung bersama kami.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam kepada senpaiku.
“Simpan ucapan terima kasihmu sampai semuanya berhasil. Kalau begitu, aku harus kembali sekarang. Sampai nanti.” (Nadeshiko)
Karena waktu istirahat makan siang hampir habis, Kujouin-san melambaikan tangan lalu pergi.
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikannya...
“Nadeshiko-senpai benar-benar orang yang baik...” (Sophia)
Mungkin karena menyadari betapa banyak masalah yang terjadi karena dirinya, Sophia akhirnya angkat bicara.
“Ya, dia memang baik sekali. Aku harus melakukan yang terbaik supaya tidak mengkhianati kepercayaannya.” (Kento)
Ini bukan lagi hanya soal aku dan Sophia.
Syaratnya memang benar-benar gila, tetapi karena tidak ada jalan lain, aku hanya bisa mewujudkannya.
“...Maaf...” (Sophia)
“Sophia?” (Kento)
Mendengar suaranya yang bergetar, aku menoleh ke arahnya.
Air mata menggenang di matanya sementara ia menggigit bibirnya.
Mungkin dia merasa bersalah karena menyeret semua orang ke dalam masalah ini, sekaligus frustrasi karena tidak bisa melakukan apa pun sendiri.
“Semua ini terjadi karena aku...” (Sophia)
“Tidak apa-apa. Selama ini kamu sudah bekerja keras, bukan cuma dalam belajar, tapi juga berusaha akrab dengan semua orang. Berkat itu, kita bisa sampai sejauh ini. Jadi sekarang, serahkan sisanya padaku.” (Kento)
Kalau dipikir-pikir, selama ini aku hanya membantu menyiapkan keadaan agar semuanya berjalan baik untuknya. Aku belum benar-benar melakukan sesuatu secara langsung demi dirinya.
Sekarang aku mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuanku dengan tanganku sendiri.
Aku pasti akan menjawab perasaannya.
Dengan tekad itu, aku perlahan meletakkan tanganku di atas kepalanya dan dengan lembut mengusap rambutnya.