“Haa... haa... tidak kusangka dia akan kembali... Aku malah kabur begitu saja tanpa berpikir...” (Sophia)
Di ruang ganti, aku menempelkan tangan ke dadaku sambil berusaha menenangkan diri.
Jantungku berdetak begitu keras, sampai rasanya hampir tak tertahankan.
Apa ini karena aku berlari, atau karena hal lain...?
“...Ini semua salah pakaian ini...! Pakaian ini... mengeluarkan aroma yang... enak sekali!” (Sophia)
Aku menunduk melihat pakaian latihan yang kupeluk.
Meski sudah basah oleh keringat dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat, entah kenapa semakin kuendus, semakin aku tidak bisa berhenti.
Aneh.
Ini jelas tidak benar.
Apa ini benar-benar cuma bau keringat...?
Sejujurnya, kukira aku akan merasa lebih jijik.
Tapi justru bau ini membuat jantungku berdebar dan tubuhku terasa semakin panas.
“Kalau dipikir-pikir, aroma ini... tadi juga samar-samar tercium dari tubuhnya...” (Sophia)
Dia memang belum mandi, jadi keringat yang mengering masih menempel di tubuhnya.
Sepertinya dia sempat mencoba menutupi baunya dengan semacam semprotan, tapi tetap saja masih ada sedikit aroma yang tertinggal.
Apa mungkin karena itu...?
Tidak, tidak, tidak mungkin!
Mana mungkin aku jadi berdebar hanya karena aroma tubuhnya... Hal seperti itu tidak mungkin terjadi!
Aku menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.
Karena sama sekali tidak mungkin... itu yang sebenarnya terjadi...
“Pokoknya, aku harus mencuci ini...” (Sophia)
Sesaat aku sempat berpikir sayang kalau pakaian ini dicuci, tapi itu pasti hanya perasaanku saja.
Aku bukan orang seperti itu... atau setidaknya seharusnya bukan.
Benar... aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sekalipun.
Kalau dipikir secara normal, hal ini mustahil.
Aku terus mengingatkan diri sendiri akan hal itu dan memaksa mengubah pola pikirku.
“Oke, sekarang bagaimana ya...?” (Sophia)
Aku mulai membersihkan tanah dan pasir dari pakaian latihannya, mengingat-ingat bagaimana ibu biasa mencuci pakaian.
Setelah sebagian besar kotorannya terlepas, aku membilasnya dengan air agar sisa-sisanya ikut hilang.
Meski hanya meniru apa yang pernah kulihat, aku mulai menggosoknya hingga bersih.
Semuanya kulakukan sambil berusaha mengabaikan detak jantungku yang terus berdentam liar.
◆