Kokou no Hana to Yobareru Eikoku Bishoujo, Gimai ni Nattara Fukiyou ni Amaete Kita Volume 1 Chapter 3 Part 5

5

“Baiklah, kalau begitu kita ganti topik. Aku yang akan menjemur cucian dari mesin cuci. Toh pakaian dalammu juga tidak ada di situ, jadi kamu tidak keberatan kalau aku yang mengurusnya, kan?” (Kento)

Hari sudah larut, dan hari ini Frost-san mandi jauh lebih lama dari biasanya. Kalau terus ditunda, waktu tidurnya akan semakin berkurang. Mengingat dia sudah mencuci pakaian latihanku, setidaknya aku ingin membantu urusan mencuci.

Lagipula, besok pagi dia juga akan membuat sarapan.

“Tidak apa-apa, hanya saja... besok kamu latihan pagi, kan? Aku berangkat lebih siang darimu, jadi mungkin sebaiknya aku saja yang mengurusnya.” (Sophia)

“Meski berangkat lebih siang, kamu selalu bangun pagi untuk membuat sarapan, kan? Artinya besok kamu harus bangun lebih awal lagi kalau memasak untukku.” (Kento)

“Tenaga yang kamu keluarkan untuk menggerakkan tubuhmu jelas berbeda dengan aku yang seharian hanya duduk di kursi, jadi tidak usah mengkhawatirkanku.” (Sophia)

Jangan-jangan dia sebenarnya tipe yang perhatian? Atau mungkin dia memang tidak pandai mengandalkan orang lain.

Padahal dia bisa menyerahkan sebagian pekerjaan kepadaku, tapi dia malah berusaha mengerjakan semuanya sendiri.

“Kamu tidak mengantuk saat pelajaran?” (Kento)

“Jangan meremehkanku. Aku tidak seperti kalian.” (Sophia)

“Yah... itu memang benar...” (Kento)

Murid kelas Persiapan Khusus sepertinya memang mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh.

Sebaliknya, di kelas Olahraga, melihat murid mengantuk saat pelajaran sudah menjadi hal yang biasa.

Tentu saja, kalau ketahuan tidur, mereka akan dilaporkan kepada pelatih atau guru pembimbing dan dimarahi, jadi semua orang berusaha mati-matian untuk tetap terjaga.

Meski begitu, tetap terjaga saat pelajaran yang membosankan memang sulit. Tanpa sadar, kesadaran perlahan mulai memudar.

“Lagipula, nanti malam aku masih harus belajar.” (Sophia)

“...Serius? Setelah capek belajar di bimbel, kamu masih mau belajar lagi?” (Kento)

Aku pernah mendengar dari Jessica-san kalau alasan dia hampir selalu berada di kamarnya adalah karena belajar.

Aku tahu dia masih belajar setelah pulang dari bimbel, tapi aku tidak menyangka sampai selarut ini.

Karena dia hampir tidak pernah keluar dari kamarnya, aku juga tidak pernah benar-benar tahu jam berapa dia biasanya tidur.

“Sudah peringkat satu, tapi tidak sombong dan tetap belajar keras. Itu benar-benar mengagumkan.” (Kento)

Aku menghormati siapa pun yang mau berusaha keras, entah itu di olahraga maupun di akademik.

Kalau seseorang berprestasi tanpa menjadi tinggi hati, itu bahkan lebih mengagumkan. Tapi kalau mereka bangga dengan hasil kerja kerasnya dan menceritakannya kepada orang lain, menurutku itu juga wajar.

“...Hanya saja aku memang lambat memahami pelajaran... Kalau aku tidak memaksakan diri sebanyak ini, aku tidak akan bisa tetap berada di posisi teratas...” (Sophia)

Namun entah kenapa, ekspresinya menjadi muram dan dia tersenyum pahit merendahkan dirinya sendiri.

Apa dia sedang memikirkan sesuatu?

“...Terus berusaha tanpa henti bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang.” (Kento)

Aku tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja dia gumamkan atau kenapa dia terlihat begitu murung. Tapi melihat senyum pahitnya, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Apa maksudmu...?” (Sophia)

Tentu saja, Frost-san menatapku dengan bingung dan heran karena ucapanku tiba-tiba saja muncul.

“Ada orang yang memang benci berusaha, ada juga yang ingin berusaha tapi tidak sanggup bertahan. Ada pula yang sudah berusaha mati-matian tapi menyerah karena hasilnya tidak kunjung datang. Tapi meski begitu, Frost-san, menurutku kamu luar biasa karena bisa terus bertahan.” (Kento)

Aku tidak mengatakan itu untuk menjilat atau mendekatinya.

Itulah yang benar-benar kurasakan.

“Kalau dalam kasusku, hasilnya memang keluar...” (Sophia)

“Karena kamu tidak pernah berhenti berusaha, kan?” (Kento)

“!” (Sophia)

Dia membeku sambil menarik napas pendek mendengar ucapanku.

Sepertinya dia memahami apa yang sedang kubicarakan.

Melihat bagaimana dia memaksakan diri sampai hampir tidak normal, aku berpikir mungkin dia memang merasa harus terus berusaha.

Orang-orang seperti itu sering kali percaya bahwa satu-satunya cara mendapatkan hasil adalah dengan terus bekerja keras.

Mungkin karena aku juga orang seperti itu, aku merasa sedikit mengerti cara berpikirnya.

“Belum tentu kalau seseorang mendapatkan hasil itu memang karena usahanya, kan...?” (Sophia)

Entah disengaja atau tidak, dia mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

Namun karena dia sendiri yang mengatakannya, berarti dia pasti memedulikan apa yang sedang kubicarakan.

Karena itu, aku merasa harus menjawabnya.

“Tentu saja, memang ada beberapa 'monster' langka di dunia ini yang bisa mendapatkan hasil tanpa banyak berusaha.” (Kento)

Di dunia olahraga pun mereka ada.

Ada orang-orang yang membenci kerja keras, mengejeknya, tapi tetap meraih hasil hanya dengan mengandalkan bakat luar biasa mereka.

Bukan cuma di olahraga.

Di bidang apa pun, selalu ada 'monster' yang bisa mencapai hasil dengan usaha yang sangat sedikit, bahkan nyaris tanpa usaha.

“Tapi bagi kebanyakan orang, mereka tidak bisa mendapatkan hasil tanpa berusaha. Jadi kalau seseorang berhasil mendapatkan hasil, menurutku itu karena dia memang sudah berusaha.” (Kento)

Hanya segelintir orang yang benar-benar bisa berhasil hanya dengan bakat.

Sebagian besar orang, setidaknya harus berusaha agar bisa mencapai posisi mereka sekarang.

Memang, jumlah usaha yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung bakat masing-masing, tapi itu bukan berarti usaha menjadi tidak diperlukan.

Dan yang terpenting...

“Kalau dua orang memiliki tingkat bakat yang sama, yang menang pasti orang yang berusaha lebih keras.” (Kento)

Bahkan anak kecil pun bisa memahami hal itu. Kalau bakat keduanya sama, orang yang lebih banyak berusaha akan memiliki keunggulan karena pengalamannya lebih banyak.

Misalnya, melatih kekuatan fisik memang penting, tapi pengalaman juga memegang peranan besar.

Kemampuan mengambil keputusan dalam situasi genting, pengetahuan tentang pertandingan dan cabang olahraga, sampai strategi, semuanya diasah melalui pengalaman.

Memang tidak ada jaminan menang, tapi tidak diragukan lagi bahwa pengalaman memberikan keuntungan yang sangat besar.

Kalau melihat kemungkinan secara statistik, orang yang berusaha lebih keras memiliki peluang menang yang lebih tinggi.

“Kamu sampai bersemangat sekali membicarakannya... tidak seperti biasanya.” (Sophia)

“Memangnya aku terdengar begitu bersemangat...?” (Kento)

Aku sendiri tidak berniat berbicara sampai seheboh itu...

“Kamu terlalu berusaha menyemangatiku. Menyeramkan.” (Sophia)

“H-Hoi!?” (Kento)

Memang aku ingin dia menyadari betapa berharganya usahanya sendiri, tapi aku sama sekali tidak berniat menjilatnya.

“Pembicaraan kita sudah melenceng sejak tadi.” (Sophia)

“Yang mengubah topik justru kamu...!” (Kento)

“Hehe... tapi aku sedikit senang mendengarnya.” (Sophia)

“!?” (Kento)

Dia tiba-tiba memperlihatkan senyum manis.

Deg.

Jantungku langsung berdebar.

“A-Apaan itu barusan...?” (Kento)

Aku bergumam untuk menyembunyikan wajahku yang mulai terasa panas.

Karena serius... itu curang.

“Sedikit saja. Mungkin cuma segini.” (Sophia)

Dia membuat celah kecil di antara ibu jari dan telunjuknya untuk menegaskan ucapannya.

Mungkin dia ingin menunjukkan kalau rasa senangnya memang hanya sebesar celah kecil itu.

Tapi... itu hampir tidak ada jaraknya, kan?

“Perlu sekali ya sampai diperagakan begitu...?” (Kento)

“Aku cuma tidak mau kamu salah paham atau jadi berharap yang aneh-aneh. Sekalipun kamu mencoba mendekatiku, itu tidak akan berhasil.” (Sophia)

Sejak kapan aku mencoba mendekatinya?

Ini tuduhan yang benar-benar tidak berdasar...!

“Aku memang tidak berniat mendekatimu...” (Kento)

“Siapa yang tahu?” (Sophia)

Dia memiringkan kepalanya dengan manis sambil menatap wajahku lekat-lekat.

Apa dia benar-benar mengira aku sedang mendekatinya?

...Tidak mungkin.

“Tidak mungkin, jadi berhentilah mengkhawatirkan hal itu.” (Kento)

Memang ada saat-saat ketika aku berpikir dia terlihat imut.

Tapi sampai berniat mendekatinya? Aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu.

Lagipula, aku juga tidak punya pengalaman menghadapi perempuan sampai bisa melakukan hal seperti itu.

Apalagi terhadap orang seperti Frost-san, jelas tidak mungkin.

“Apa maksud tatapanmu yang seperti bilang 'aku tidak tertarik' itu...?” (Sophia)

Entah kenapa dia malah menatapku dengan wajah tidak puas.

Aneh sekali.

Kenapa justru aku yang ditatap seperti itu...?

Aku baru saja bilang kalau aku tidak berniat mendekatinya. Bukankah seharusnya dia malah merasa lega...?

Menghadapi perempuan memang rumit...

Bagaimanapun juga, aku harus mengubah suasana.

“Ngomong-ngomong, berusaha memang bagus, tapi kalau berlebihan juga tidak baik.” (Kento)

Karena ingin lolos dari tatapan tajamnya, aku memutuskan mengembalikan pembicaraan ke topik sebelumnya.

“Padahal tadi kamu bilang berusaha itu hal yang baik.” (Sophia)

Mendengar itu, dia kembali menunjukkan wajah tidak puas.

Namun, tatapan yang dia berikan bukan penuh permusuhan, melainkan lebih seperti tidak setuju, jadi aku tidak terlalu terganggu.

“Ada istilah kerja berlebihan, kan? Entah latihan ataupun belajar, kalau berlebihan tetap tidak baik.” (Kento)

Latihan yang berlebihan bisa menyebabkan cedera, yang akhirnya justru mengurangi waktu latihan atau membuatmu harus beristirahat sehingga menghambat perkembangan.

Apa pun yang dilakukan secara berlebihan bisa membawa dampak buruk.

“Kalau latihan memang begitu, tapi belajar berbeda, kan? Semakin banyak belajar, semakin baik.” (Sophia)

“Walaupun harus mengorbankan waktu tidurmu?” (Kento)

Sebenarnya aku tidak berniat membahas ini.

Aku tahu kalau topik ini pasti akan berujung pertengkaran.

Tapi melihat betapa dia tidak menyadarinya, aku tidak bisa menahan diri dan akhirnya mengatakannya.

“...Aku tetap tidur dengan cukup.” (Sophia)

Dia gadis yang pintar, jadi tanpa perlu kujelaskan panjang lebar pun dia pasti mengerti maksudku.

Fakta bahwa dia memalingkan wajah sudah cukup menjadi bukti kalau ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Melihat hari sudah selarut ini sementara dia masih berniat belajar, itu memang tidak mengherankan.

“Kalau kamu sampai tumbang, semuanya akan sia-sia.” (Kento)

“Tidak usah ikut campur. Kamu tidak tahu apa-apa.” (Sophia)

Kali ini dia menatapku dengan mata yang dipenuhi permusuhan yang jelas.

Tatapan itu sama seperti saat kami baru menjadi satu keluarga dulu, tatapan yang sengaja dibuat untuk menjaga jarak dengan orang lain.

Di antara semua tatapan tajamnya belakangan ini, yang satu ini terasa paling menusuk.

Jelas sekali kalau ini adalah topik yang sama sekali tidak ingin dia bicarakan.

“Maaf. Tapi tolong jangan terlalu memaksakan diri.” (Kento)

“Bukan urusanmu.” (Sophia)

Tidak, begini tidak akan ada habisnya.

Dia benar-benar keras kepala dan sama sekali tidak mau mendengarkan.

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Itulah kenapa tadi aku berusaha untuk tidak mengatakannya...

“Aku tidak akan ikut campur soal belajarmu. Tapi pekerjaan rumah sebaiknya kita bagi. Dengan begitu kamu bisa punya waktu untuk tidur, kan?” (Kento)

Aku mengerti betapa pentingnya belajar baginya, dan kalau dia sudah sekukuh ini, mustahil membujuknya.

Lebih baik mengurangi bebannya di hal lain.

“Aku yang akan mencuci.” (Sophia)

“Dasar gadis keras kepala...” (Kento)

Aku benar-benar merasa setidaknya dia bisa membiarkanku mengerjakan sesuatu.

Kalau begini terus, pembicaraan kami tidak akan ke mana-mana.

“Kalau begitu, sarapan...” (Kento)

“Aku yang buat.” (Sophia)

“...............” (Kento)

Apa dia sedang ngambek sekarang?

Apa karena sedang ngambek dia jadi semakin keras kepala?

“Bagaimanapun juga, kamu memang tidak bisa membuat sarapan, kan?” (Sophia)

“Yah, memang tidak bisa... Tapi setelah selesai mandi, aku tinggal pergi ke minimarket beli roti atau semacamnya.” (Kento)

Aku tidak terlalu terpaku pada masakan rumahan, dan sejujurnya roti saja juga sudah cukup.

Sarapan hanya dengan roti juga bukan sesuatu yang aneh bagi anak SMA.

Namun...

“Tidak, itu tidak boleh. Kamu masih dalam masa pertumbuhan, jadi kamu harus makan makanan yang bergizi seimbang.” (Sophia)

Komentar itu terdengar sangat keibuan, sesuatu yang tidak biasa keluar dari mulut Frost-san.

Apa dia sedang berbicara tentang dirinya sendiri, atau memang mengkhawatirkan kesehatanku?

Apa pun itu, dia benar-benar keras kepala.

Kalau dia tetap tidak mau mengalah, terus membujuknya hanya akan membuang waktu.

Jadi, kali ini aku memutuskan mengalah.

Sebagai gantinya, aku akan membuatnya berkompromi di bagian lain.

“Baiklah, kalau begitu aku yang memasak nasi...” (Kento)

“Aku yang melakukannya.” (Sophia)

“Kamu memang berniat mengerjakan semuanya!?” (Kento)

Aku tidak bisa menahan diri untuk meninggikan suara melihat keras kepalanya.

Sampai di titik ini, aku tidak bisa lagi hanya diam. Kesabaranku benar-benar mulai habis.

“Memasak nasi juga bagian dari membuat sarapan, kan?!” (Sophia)

Frost-san tampak terkejut dengan suaraku. Dia mundur selangkah kecil sebelum memberikan penjelasannya.

Aku memang merasa bersalah karena membuatnya kaget, tapi tetap saja...

“Tadi kita sepakat membagi pekerjaan, kan? Kenapa kamu tetap bersikeras mengerjakan semuanya sendiri?” (Kento)

“Karena tidur itu penting bagi atlet...” (Sophia)

“Jadi kamu mau mengorbankan waktu tidurmu sendiri demi memastikan aku bisa tidur cukup?” (Kento)

Mendengar itu membuatku berpikir bahwa pada dasarnya Frost-san memang orang yang baik. Meski dia mungkin tidak menyukaiku, dia tetap memprioritaskanku. Tapi itu sudah keterlaluan.

“Tidur itu penting untuk semua orang, bukan cuma atlet. Penting bagi orang dewasa, apalagi untuk anak-anak seperti kita. Artinya, tidur juga sama pentingnya untukmu, Frost-san.” (Kento)

“Yah, mungkin memang begitu, tapi...” (Sophia)

Sepertinya dia mulai mengerti maksudku, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

“Kalau soal prioritas, kamulah yang melakukan aktivitas fisik berat... jadi bukankah kamu yang harus didahulukan?” (Sophia)

“Kita seumuran dan kedudukan kita sama. Tidak ada yang namanya prioritas di antara kita. Ayah dan Jessica-san pasti akan marah kalau mendengar ucapanmu itu.” (Kento)

Mereka berdua, meski kami tidak semuanya memiliki hubungan darah, tidak pernah memprioritaskan salah satu dari kami. Mereka selalu memperlakukan kami berdua dengan kasih sayang yang sama seperti anak kandung mereka sendiri.

Memang ada sedikit perbedaan perlakuan karena kami laki-laki dan perempuan, tapi bukan karena salah satu berolahraga sementara yang lain belajar.

“Mereka berdua tidak ada hubungannya dengan ini...” (Sophia)

“Justru kamu yang bicara aneh. Di antara kita tidak ada yang lebih diprioritaskan daripada yang lain. Bukankah itu sudah cukup?” (Kento)

Dulu dia selalu bersikap seolah tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Jadi kenapa sekarang dia malah mengatakan hal seperti ini?

Kalau memang ada sesuatu dalam dirinya yang berubah, itu memang hal yang baik. Tapi bukan berarti dia boleh mengabaikan dirinya sendiri.

“...Memangnya kamu bisa memasak nasi?” (Sophia)

Sepertinya karena sudah kehabisan bantahan, dia mulai mencari-cari kelemahanku.

“Aku jelas pernah memasak nasi, jadi tenang saja.” (Kento)

Kalau belum pernah, aku tidak mungkin bersikeras sampai sejauh ini.

Kalau sudah sesumbar begini lalu ternyata bahkan tidak bisa memasak nasi, itu benar-benar akan jadi bahan tertawaan.

“Begitu ya...” (Sophia)

Frost-san terdiam sejenak sambil berpikir.

Apa dia masih ingin membantah?

Untuk sementara, aku menunggu sampai dia mengambil keputusan.

“...Baiklah. Kalau begitu, urusan memasak nasi kuserahkan kepadamu.” (Sophia)

Sepertinya dia akhirnya memahami maksudku dan mengalah.

Lama sekali akhirnya dia mau menyerah... itulah yang kurasakan.

“Iya, serahkan padaku.” (Kento)

Begitulah akhirnya aku mendapat tugas memasak nasi keesokan harinya.

Setelah mandi dan selesai mencuci, diam-diam aku juga membantu menjemur pakaian.

Tentu saja dia sempat mengeluh, tapi akhirnya aku berhasil meyakinkannya kalau mengerjakannya bersama akan lebih efisien dan pembagian tugasnya juga terasa lebih adil.

Dan keesokan paginya...

Dia malah tidak bangun tepat waktu.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa