Kirei na Onee-san ni Yashinawaretaku Nai Otokonoko nante Iru no? Volume 3 Chapter 1 — Onee-san Akan Merilis Buku Foto

Dua minggu setelah aku mulai menjadi manajer Onee-san...

Saat itu adalah suatu pagi, seminggu setelah libur musim panas dimulai.

"Ugh..."

Aku terbangun karena cahaya matahari pagi yang terang menyelinap masuk melalui celah tirai.

Alarm yang kusetel pukul 06.30 belum berbunyi, jadi pasti masih terlalu pagi. Dengan mata yang masih berat, aku membuka mata dan melirik ponsel di meja samping tempat tidur. Waktu baru menunjukkan lewat sedikit dari pukul enam.

Sekarang matahari terbit lebih awal, jadi belakangan ini aku sering terbangun seperti ini karena silau cahayanya.

Rasanya seperti matahari mencuri sebagian waktu tidurku, cukup menyebalkan memang... tapi aku tidak punya kemewahan untuk tidur lagi.

Pagi ini aku ada rapat di agensi bersama Chika-san untuk membahas rencana ke depan.

Baru saja aku memutuskan untuk bangun dan membalikkan badan di tempat tidur...

"Hah...?"

Tanpa sadar aku terkesiap, dan tubuhku membeku karena terkejut.

Yang langsung terlihat di hadapanku adalah wajah Onee-san yang sedang tertidur pulas di sampingku.

"Ah... lagi ya."

Meski sempat terkejut, pemandangan ini sudah cukup sering kulihat hingga aku mulai terbiasa.

Semuanya bermula beberapa minggu lalu, saat terjadi insiden Onee-san sempat menghilang.

Untungnya dia segera ditemukan, jadi pada akhirnya semuanya berakhir dengan baik...

Namun malam itu, dia datang ke kamarku sambil gelisah dan memintaku tidur bersamanya karena dia tidak bisa tidur. Sejak saat itu, hampir setiap malam dia diam-diam menyelinap ke tempat tidurku.

Kalau hanya tidur di sampingku mungkin tidak masalah, tetapi terkadang saat tidur dia memelukku, menggenggam tanganku, bahkan memelukku erat seolah-olah aku adalah guling.

Sebagai remaja laki-laki, semua itu benar-benar terlalu berat bagiku, dan entah sudah berapa kali aku harus mati-matian menahan perasaanku.

...Aku benar-benar harus memuji diriku sendiri karena tidak pernah melakukan hal yang salah.

Jadi meskipun sudah terbiasa, bukan berarti aku tidak lagi terkejut.

"Meski begitu... wajah tidurnya memang cantik sekali..."

Walaupun sudah berkali-kali melihat wajah tidurnya, aku kembali dibuat terpikat.

Raut wajahnya yang indah, bulu mata panjang yang menghiasi kelopak matanya yang tertutup. Kulit putih mulus tanpa cela dan bibir merah mudanya yang memberi warna lembut pada wajahnya. Saat melihatnya tertidur seperti ini, kecantikannya terasa semakin memikat.

Tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya dengan punggung jariku...

"Nnngh..."

Onee-san menggeliat pelan di balik selimut, lalu perlahan membuka matanya.

"...Selamat pagi, Eita-kun."

"Selamat pagi. Apa aku membangunkanmu?"

"Bukan, bukan. Tidak apa-apa."

Masih berbaring begitu dekat denganku, Onee-san tersenyum lembut.

Senyumnya yang masih mengantuk membuat dadaku berdebar.

"Nanti kalau sarapan sudah siap aku akan memanggilmu, jadi kalau mau tidur lagi tidak apa-apa."

Aku berusaha bangkit sambil mati-matian menahan dorongan yang muncul dalam diriku.

"Sudah waktunya bangun?"

"Belum. Kita masih punya waktu sekitar tiga puluh menit."

"Begitu ya..."

Onee-san menggenggam lengan bajuku erat, tidak mau melepaskannya.

"Kalau begitu... mari tetap berbaring hangat-hangatan sebentar lagi."

Aku tidak mampu melawan tarikannya dan kembali rebah di tempat tidur.

Lalu dia merapatkan tubuhnya ke tubuhku.

"O-Onee-san...?"

"Begini... rasanya sangat menenangkan..."

"S-Syukurlah kalau begitu..."

Aku memang menjawab begitu, tetapi yang kurasakan sama sekali bukan ketenangan.

Justru sebaliknya. Diselimuti kehangatan tubuh Onee-san yang lembut seperti ini sama sekali tidak membuatku tenang. Yang ada hanya rasa gugup dan jantung berdebar. Aku benar-benar berharap dia sedikit memikirkan posisiku yang terus berusaha menahan dorongan dalam diri.

Ada pepatah yang mengatakan pria tidak boleh menolak hidangan yang sudah tersaji di depan mata, tetapi situasi ini terasa seperti ujian yang terus menguji pengendalian diriku.

Jangan-jangan... dia memang sengaja menggodaku?

Aku tidak bisa tidak berpikir begitu karena setiap hari dia terus membuatku menggantung seperti ini.

Meski begitu, kalau kejadian seperti ini berlangsung setiap hari, lama-kelamaan aku menemukan cara untuk menekan hasratku.

Caranya adalah... ya, membayangkan wajah Chika-san.

"Kau tahu apa yang akan terjadi kalau berani menyentuhnya, kan...?"

Hanya dengan membayangkan Chika-san mengatakan itu dengan wajah sedingin es, nafsuku langsung anjlok seperti harga saham yang jatuh bebas. Efeknya begitu luar biasa sampai-sampai reaksi fisiologis tubuhku di pagi hari pun langsung ciut ketakutan.

"Onee-san...?"

"Nn... zzz..."

Setelah pikiranku kembali tenang, aku melihat wajah Onee-san dan ternyata dia sudah memasuki ronde kedua tidurnya.

Ya... aku bahkan bisa menghitung dengan jari berapa kali Onee-san benar-benar bangun hanya dengan sekali dibangunkan.

Aku diam-diam turun dari tempat tidur agar tidak membangunkannya, lalu mulai menyiapkan sarapan.

Belakangan ini rasanya Onee-san benar-benar jadi sangat manja.

ω ω ω

Sedikit lewat pukul sepuluh pagi...

Kami berada di kantor agensi Second House.

Ini adalah agensi tempat Chika-san dan Onee-san bekerja, sekaligus agensi yang dulu didirikan oleh ibuku.

Saat aku setuju menjadi manajer Onee-san, Chika-san memberitahuku sebuah fakta yang sangat mengejutkanku.

Ternyata ibukulah yang dulu merawat Onee-san setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.

Ibuku menjadi wali Onee-san, mereka tinggal bersama, lalu mendirikan Second House agar Onee-san bisa terus berkarier sebagai aktris. Setelah Onee-san berusia dua puluh tahun, ibuku menghilang, dan sampai sekarang tidak ada seorang pun yang bisa menghubunginya.

Entah kenapa rasanya seperti permainan takdir yang aneh.

Kalau aku bekerja di sini sebagai manajer Onee-san, mungkin suatu hari nanti aku bisa bertemu ibuku lagi.

Dengan harapan kecil itu di dalam hati, aku mulai bekerja sebagai manajernya, tetapi...

Sejujurnya, menjalani peran sebagai pengurus sekaligus manajer Onee-san benar-benar melelahkan.

Aku membangunkannya setiap pagi, menyiapkan sarapan, membantu Onee-san yang masih mengantuk bersiap-siap, lalu langsung berangkat ke lokasi syuting.

Di sela-sela syuting drama, wawancara, dan rapat, jadwalnya benar-benar padat, sesuai dengan seorang aktris populer. Hanya mendampinginya ke semua tempat itu saja sudah seperti pekerjaan penuh waktu.

Setelah pulang ke rumah, aku memasak makan malam, kami makan bersama, lalu saat Onee-san mandi aku mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Hari-hariku benar-benar dipenuhi pekerjaan.

Meski begitu, aku senang bisa membantu Onee-san.

Yang paling penting, aku menikmati tantangan melakukan sesuatu yang baru.

Setidaknya, pekerjaan ini jauh lebih memuaskan daripada pekerjaan paruh waktuku dulu di minimarket yang kulakukan hanya demi uang.

Begitulah, saat aku mulai terbiasa dengan pekerjaanku, Chika-san memanggilku dan Onee-san ke kantor.

"Selamat pagi."

"Chika-chan, selamat pagi!"

Kami tiba di kantor dan membuka pintu.

"...Pagi."

Di sana Chika-san sedang terduduk lesu di balik mejanya.

Beberapa kaleng minuman energi kosong berserakan di sekitar komputernya. Wajahnya tampak sangat kelelahan, seperti baru begadang semalaman.

"A-Ada apa?"

"Aku sudah beberapa hari tidak pulang."

"Tidak pulang? Kenapa?"

Chika-san tersenyum pahit sambil wajahnya sedikit berkedut.

"Awalnya kupikir setelah Eita-kun bergabung aku akan punya lebih banyak waktu luang, jadi aku mulai menerima pekerjaan baru. Tapi tiba-tiba tawaran pekerjaan datang dari mana-mana. Aku tidak punya cukup waktu untuk memeriksa semua proposal sambil tetap mengurus pekerjaan yang sedang berjalan, jadi bahkan pulang ke rumah pun tidak sempat. Yah... ini juga bukti betapa populernya Saori, jadi kurasa ini masalah yang membahagiakan."

Begitu rupanya...

"Kalau ada yang bisa kubantu, aku akan membantu."

"Tidak apa-apa. Tinggal sedikit lagi selesai."

Meski dia berkata begitu, aku tidak tega melihat Chika-san yang terlihat kelelahan secara fisik maupun mental.

Andai saja ada yang bisa kulakukan... Tepat ketika aku memikirkan itu...

"Aku tahu, Chika-chan! Suruh saja Eita-kun memijatmu!"

"Memijat?"

Onee-san berseru seolah mendapat ide cemerlang.

Aku punya firasat yang sangat buruk.

"Pundakmu pasti pegal karena terus duduk bekerja, kan? Eita-kun jago sekali memijat. Dia sering memijatku, dan pijatannya begitu hebat sampai terapis profesional pun pasti kabur sambil telanjang!"

Harusnya "kabur terbirit-birit."

Kalau kabur sambil telanjang, nanti malah diamankan polisi seperti Akane-san saat memakai kostum.

"Begitu ya? Kalau begitu, karena kau sudah menawarkan, mungkin aku akan mencobanya."

"Tentu saja. Kalau itu bisa membantu."

Aku berdiri di belakang kursi Chika-san, lalu setelah meminta izin, aku meletakkan kedua tanganku di pundaknya.

Hanya dengan menyentuhnya sedikit saja aku langsung tahu kalau lehernya benar-benar kaku.

"Ini lumayan parah... Bagian mana yang paling sakit?"

"Dari leher sampai pundak... mungkin karena terlalu kaku juga, kadang aku sampai sakit kepala."

"Mungkin juga karena matamu lelah terus melihat komputer. Lain kali akan kubelikan masker mata hangat."

Ini sepertinya butuh usaha besar untuk mengendurkannya.

"Baik, aku mulai ya. Tolong abaikan aku dan lanjutkan rapatnya saja."

"Terima kasih. Langsung ke intinya saja, alasan aku memanggil kalian hari ini adalah... nnngh!?"

Terjadi tepat saat aku menekan pundaknya sedikit lebih kuat.

Di akhir kalimat Chika-san terdengar suara manis yang nyaris seperti erangan.

"Apa terlalu sakit?"

"B-Bukan, aku tidak apa-apa... lanjutkan saja."

...Benarkah dia baik-baik saja?

Dengan ragu aku melanjutkan pijatan.

"Alasan aku memanggil kalian... adalah tentan... aaah! T-Tunggu... di situ... ja-jangan!"

Firasat burukku benar-benar tepat.

Itu bukan imajinasiku... Chika-san benar-benar mengeluarkan suara-suara manis yang nyaris seperti erangan.

Persis seperti saat aku memijat Onee-san. Suaranya benar-benar terdengar seperti sesuatu yang hanya muncul dalam situasi tertentu.

Aku memang sudah menduga akan begini.

"Kau benar-benar tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja, tapi... kau memang sangat pandai memijat. Aku cukup terkejut."

"Benar, kan?! Pijatan Eita-kun memang yang terbaik!"

Onee-san berkata dengan wajah bangga, tetapi apa benar aku boleh melanjutkannya?

"Tolong lanjutkan."

"Baik..."

Karena dia memintaku melanjutkan, aku tidak mungkin berhenti.

Aku pun kembali memijatnya...

"Tentang pekerjaa... nn-hff! Ra... rapa... kuuuuh!"

Tiba-tiba tubuh Chika-san bergetar.

Melihatnya mulai terengah-engah, akhirnya aku menghentikan tanganku.

...Sepertinya Chika-san, sama seperti Onee-san, sangat sensitif.

Tidak, Onee-san masih lebih bisa mengendalikan diri. Chika-san mungkin malah lebih sensitif darinya.

Sebenarnya apa yang sedang kulakukan pagi-pagi begini...?

"A-Ada apa? Lanjutkan."

"Umm... bagaimana kalau kita lanjutkan dengan benar setelah rapat selesai?"

Kalau begini aku tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan dengan tenang.

"Begitu ya? Baiklah kalau begitu."

Tolong jangan menatapku dengan wajah kecewa seperti itu.

Sejak pagi aku sudah dibuat menggantung oleh Onee-san.

"Ehem, pokoknya, alasan aku memanggil kalian hari ini adalah soal pekerjaan baru."

"Pekerjaan baru?" "Pekerjaan baru?"

Chika-san mengangguk dengan wajah serius.

Lalu dia meletakkan sebuah buklet di atas meja.

Di sampul proposal itu tertulis "Photo Book".

"Seperti yang kalian lihat, Saori mendapat tawaran untuk membuat buku foto. Lokasi pemotretannya di Karuizawa, dan kami sudah menjadwalkan tiga hari mulai minggu depan. Mumpung ada kesempatan, kami juga berencana tinggal di sana selama seminggu sekalian sebagai liburan musim panas."

Dia bahkan sudah menentukan pekerjaan barunya dan menyiapkan semuanya. Memang khas Chika-san.

Buku foto, ya...

Dengan popularitas Onee-san, pasti banyak orang yang menantikannya. Onee-san juga suka memotret, jadi kurasa pekerjaan ini cocok untuknya di luar dunia akting.

Begitulah pikirku, tetapi...

"B-Buku foto?"

Wajah Onee-san langsung menunjukkan penolakan yang sangat jelas.

"Onee-san, ada apa?"

Dia terlihat begitu murung sampai aku tanpa sadar bertanya.

Bahkan lebih dari murung, dia memancarkan aura putus asa yang nyaris seperti sedang menghadapi tragedi.

"Saori memang tidak suka pemotretan gravure ataupun poster."

"Tidak suka?"

Itu cukup mengejutkanku.

Padahal waktu kami pergi berlibur dia tampak sangat menikmati saat berfoto.

"Lebih tepatnya bukan karena dia tidak suka pekerjaan selain akting. Dia hanya memang tidak pandai diam di satu posisi. Katanya saat sedang fokus berakting dia tidak masalah, tapi dia tidak suka difoto sambil terus sadar ada kamera yang mengarah kepadanya. Karena itulah sampai sekarang kami selalu menolak semua pekerjaan selain drama dan film."

"Begitu..."

Jadi kegemaran Onee-san memotret benar-benar hanya hobi pribadi.

Dalam pemotretan profesional pasti diambil lebih dari seratus foto. Harus terus sadar terhadap kamera selama itu pasti berat bahkan bagi seorang profesional.

Aku juga pernah mendengar kalau rekaman acara televisi bisa berlangsung berjam-jam, jadi bagi orang yang tidak bisa diam seperti Onee-san, itu mungkin benar-benar seperti neraka.

Kalau dipikir-pikir lagi, memang aku belum pernah melihat Onee-san muncul selain di drama atau film.

"Kalau begitu, alasan Onee-san tidak pernah tampil di acara varietas juga sama?"

"Itu karena aku yang menolaknya supaya kebodohannya tidak ketahuan."

"Jahat sekali! Aku tidak bodoh!"

"Citra seorang aktris itu penting, bukan?"

Onee-san langsung menggembungkan pipinya seperti ikan buntal.

Namun Chika-san mengabaikannya dengan santai dan melanjutkan.

"Meski begitu, kau tidak mungkin selamanya hanya mengandalkan drama dan film, kan? Kalau hanya punya satu jenis pekerjaan, begitu pekerjaan itu berkurang maka kariermu sebagai artis juga selesai. Kita tidak bisa terus mengambil risiko seperti itu, jadi sudah waktunya kau mulai mencoba pekerjaan lain. Buku foto ini adalah langkah pertamanya."

"Begitu..."

Memang sesulit itu ya hidup hanya sebagai aktris sekarang?

Aku memang tidak terlalu paham, tetapi sekarang memang banyak aktris yang aktif tampil di acara varietas. Kurasa memperluas jenis pekerjaan memang penting.

Tapi dia tadi bilang pekerjaan lain...

"Dulu Onee-san pernah menjadi model untuk merek kosmetik, kan? Aku pernah melihat posternya."

Saat kutanya, Chika-san memasang wajah seolah teringat sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Itu benar-benar hasil keajaiban..."

"Hasil keajaiban...?"

"Dia sama sekali tidak bersemangat saat pemotretan. Kami membuang ratusan foto... Butuh tiga hari pemotretan tanpa henti sampai akhirnya berhasil mendapatkan satu foto dengan senyum yang benar-benar tulus. Dan lebih parahnya lagi, senyum itu muncul tepat saat kubilang setelah selesai aku akan mengajaknya makan jingisukan. Tidak kusangka senyum karena diiming-imingi makanan justru menjadi hasil terbaik..."

"A-Anda benar-benar sudah bekerja keras..."

Memang benar, senyum terbaik Onee-san selalu muncul saat dia sedang memakan masakan buatanku.

Aku bisa membayangkan Onee-san langsung tergoda karena makanan, sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.

"Pokoknya aku tidak mau membuat buku foto!"

Onee-san berteriak dengan wajah penuh ketidakpuasan.

"Ini bukan soal mau atau tidak. Kita sudah menerima tawarannya, jadi sekarang tidak bisa dibatalkan."

"Kenapa tidak bilang dari awal!? Kalau bilang lebih cepat, pasti akan langsung kutolak!"

"Itulah kenapa aku sengaja diam sampai saat terakhir."

"Jahat sekali, Chika-chan!"

Onee-san hampir menangis.

"Sudah, sudah... Chika-san juga bukan sengaja bersikap jahat."

"Ugh..."

"Bagaimana kalau dicoba saja? Aku juga penasaran."

"Hah? Eita-kun juga ingin melihat buku foto Onee-san...?"

Mata Onee-san langsung dipenuhi harapan.

Oh? Mungkin ini berhasil.

"Iya. Pemotretan di Karuizawa pasti menghasilkan foto-foto yang indah dikelilingi alam hijau. Lagipula ini juga sekalian liburan musim panas, jadi aku juga menantikan kenangan indah yang akan kita buat bersama."

"Liburan musim panas di Karuizawa... kencan dengan Eita-kun di kota resor... kenangan musim panas berdua..."

Mata Onee-san mulai kosong sambil bergumam seperti sedang bermain asosiasi kata.

Melihat matanya berbinar dan senyum lebarnya, sepertinya dia sudah tenggelam dalam dunia khayalannya sendiri tentang kehidupan di Karuizawa. Tinggal sedikit lagi.

"Aku juga akan membantumu mendapatkan foto-foto yang bagus, jadi mari kita berusaha bersama."

"Kalau Eita-kun bilang begitu... kurasa Onee-san akan mencobanya!"

Semangat Onee-san langsung kembali.

Melihat kami, Chika-san tersenyum puas.

Sepertinya dia memang menerima pekerjaan ini karena sudah menduga hasilnya akan seperti ini.

Rasanya seperti aku dimanfaatkan Chika-san, tetapi aku memang ingin melihat buku foto Onee-san, jadi kurasa tidak masalah.

"Kalau begitu rapatnya selesai. Saori, sore ini kau masih ada syuting, kan? Sebaiknya berangkat lebih awal."

"Baik. Eita-kun, bagaimana kalau kita makan sesuatu di jalan?"

"Hari ini Eita-kun akan membantuku bekerja seharian."

"Eeh!? Jadi aku harus pergi sendirian!?"

"Selama ini kau juga selalu pergi sendirian. Hari ini tahan saja."

"Ugh..."

Onee-san cemberut sambil memajukan bibir bawahnya.

"Kalau begitu Onee-san berangkat dulu... Eita-kun, sampai jumpa di rumah."

"Baik. Semangat."

Onee-san pergi meninggalkan kantor dengan langkah lesu.

Aku sedikit merasa kasihan padanya, tetapi ini pekerjaan, jadi memang tidak bisa dihindari.

Setelah mengantarnya pergi, aku kembali menoleh ke arah Chika-san.

"Jadi... apa yang bisa kubantu?"

Saat kutanya, entah kenapa ekspresi Chika-san menjadi serius.

"Sebenarnya alasan aku bilang butuh bantuan pekerjaan hanya alasan saja. Aku menyuruhmu tetap di sini karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

"Sesuatu yang ingin ditanyakan...?"

Sesuatu yang cukup penting sampai Onee-san sengaja disuruh pergi sendiri.

Artinya kemungkinan besar ini sesuatu yang tidak ingin didengar Onee-san.

"Langsung saja. Ini tentang Saori. Akhir-akhir ini aku merasa tingkah lakunya sedikit aneh. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Tingkah lakunya...?"

"Karena kau tinggal bersamanya, apa kau menyadari sesuatu?"

Aku berpikir sejenak... setidaknya di depanku dia terlihat sama seperti biasanya.

Tidurnya nyenyak, makannya lahap, dan dia tetap ceria seperti biasa.

Memang dia sering lelah karena pekerjaan, tetapi rasanya bukan itu yang dikhawatirkan Chika-san.

Kalau ada perubahan, mungkin hanya karena belakangan ini Onee-san sering menyelinap ke tempat tidurku, tetapi jelas bukan itu maksudnya... dan aku juga tidak mungkin menceritakannya kepada Chika-san.

"Kenapa Anda berpikir begitu?"

Karena sama sekali tidak mengerti maksudnya, aku balik bertanya.

"Ada anggota kru yang cukup dekat dengannya memberitahuku. Saat syuting dia tetap seperti biasa, tapi ketika sedang istirahat dia sering melamun atau tenggelam dalam pikirannya. Setelah mendengarnya, aku mulai memperhatikan, dan memang ada beberapa kali dia seperti itu."

"Begitu..."

"Saori memang sejak dulu emosinya mudah berubah, tetapi kali ini rasanya berbeda."

Memang benar suasana hati Onee-san sering berubah drastis.

Kalau sedang senang dia polos seperti anak kecil. Kalau marah dia menakutkan, meski tidak semenakutkan Chika-san. Dan kalau sedang sedih dia akan murung seperti anak kecil yang dimarahi.

Namun kali ini mungkin berbeda dari semua itu.

"Sekarang Saori memang baik-baik saja, tapi dulu... saat Misaki-san menghilang, keadaannya benar-benar buruk. Aku hanya khawatir ada sesuatu yang memicunya lagi dan dia kembali seperti waktu itu..."

Dia memang pernah menceritakannya. Setelah ibuku menghilang, Onee-san tidak bisa bekerja selama beberapa tahun.

Karena aku baru mengenalnya setelah itu, aku sama sekali tidak tahu seperti apa dirinya saat itu.

"Kalau tidak keberatan, bolehkah Anda menceritakannya?"

"Kalau harus mengatakannya dengan jujur, dia benar-benar hancur."

...Hancur...

"Dia begitu terpukul sampai mengurung diri di rumah dan tidak mau keluar. Bahkan ketika berhasil kubawa bekerja pun dia tidak bisa lagi berakting, padahal itu yang paling dicintainya... Aku sadar memaksanya bekerja hanya akan semakin menyakitinya, jadi akhirnya kuputuskan menghentikan semua aktivitasnya sementara."

"Begitu..."

"Sejujurnya, aku bahkan tidak sanggup melihat kondisi Saori waktu itu..."

Chika-san memandang ke kejauhan.

"Beberapa tahun kemudian akhirnya dia pulih dan bisa bekerja lagi, tetapi kemampuan aktingnya sudah tidak seperti dulu. Pekerjaannya berkurang, dan saat itu aku bahkan berpikir untuk menutup agensi. Lalu Saori bertemu denganmu dan perlahan membaik. Berkat itu pekerjaannya kembali meningkat, sampai akhirnya menjadi seperti sekarang."

Chika-san berbicara seolah sedang mengenang masa lalu yang rumit.

Memang sekarang Onee-san baik-baik saja, tetapi hanya Chika-san yang mengetahui bagaimana dirinya saat berada di titik terendah itu. Mungkin dia menyesal karena dulu tidak mampu menopang Onee-san sendirian.

Karena itulah dia begitu peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada suasana hati Onee-san.

Dia tidak ingin mengalami hal seperti itu lagi.

"Salah satu alasan aku menerima pekerjaan baru ini juga karena aku ingin Saori mencoba berbagai pengalaman. Kupikir kalau sedikit demi sedikit jenis pekerjaannya bertambah, itu akan baik untuknya, meskipun suatu saat nanti dia tidak bisa lagi bekerja sebagai aktris seperti dulu."

Begitu rupanya. Chika-san memang benar.

Sebagai manajernya, aku juga harus benar-benar memperhatikan hal itu.

"Untuk saat ini aku tidak terpikir apa pun, tetapi kalau nanti ada sesuatu, aku akan segera melaporkannya."

"Itu sangat membantuku. Aku yakin ada hal-hal yang sulit dia bicarakan kepadaku. Kalau saat seperti itu datang, aku ingin kau ada di sisinya dan mendengarkannya."

"Aku mengerti. Itu juga bagian dari tugas seorang manajer, kan?"

"Tentu saja, akan lebih baik kalau semua ini ternyata hanya kekhawatiranku yang berlebihan."

Setelah pembicaraan mereda, Chika-san kembali membuka dokumen-dokumennya.

"Kalau begitu, lanjutkan yang tadi."

"Lanjutkan?"

"Pijatannya."

Ah... jadi memang harus kulanjutkan, ya?

"Badanku benar-benar sudah tidak tahan. Setidaknya sampai aku selesai membaca dokumen-dokumen ini."

"...Baik."

Begitulah aku kembali mulai memijatnya.

Omong-omong, bagaimana akhirnya setelah itu...

Benar-benar mengerikan.

Suara manis Chika-san terus bergema di kantor yang hanya berisi kami berdua. Suaranya bahkan terdengar begitu keras sampai-sampai aku sempat berpikir penghuni lantai lain mungkin bisa mendengarnya.

Ini sebenarnya apa, penyiksaan?

Bagi anak SMA yang sehat, tidak ada situasi yang lebih kejam daripada ini.

Dan begitulah aku terus bertarung melawan pengendalian diriku sendiri selama satu jam penuh sambil memijatnya.

☆Buku Harian Onee-san☆

Jahat sekali, Chika-chan! Masa menerima pekerjaan tanpa bertanya kepadaku dulu!

Pekerjaan buku foto, ya... Aku tidak mau... Rasanya benar-benar menyedihkan...

Kalau boleh memilih, aku ingin terus mengambil pekerjaan akting saja. Tapi aku juga mengerti apa yang dikatakan Chika-chan, dan aku tahu aku tidak bisa terus lari dari pekerjaan yang tidak kuasai selamanya.

Karena Eita-kun juga menantikannya, kurasa aku akan berusaha sebaik mungkin.

Meski begitu, pergi ke Karuizawa... Aku benar-benar tidak sabar.

Sudah lama sejak perjalanan terakhirku ke Nagano, dan kali ini Chika-chan juga ikut bersama kami, jadi pasti akan menyenangkan!

Aku juga sudah mencari-cari informasi sedikit, dan ternyata di sana banyak sekali tempat wisata. Semoga saja aku bisa menikmati kencan dengan Eita-kun! Rasanya benar-benar seperti kenangan musim panas yang klasik!

Lalu, lalu... kalau suasananya mendukung, mungkin aku juga akan mendapatkan jawaban atas pernyataan cintaku!

Sejak malam itu kami memang belum pernah membicarakannya lagi, tetapi dia pasti memikirkannya... kan?

Masih banyak hal yang membuatku khawatir... tetapi aku berharap perjalanan ini bisa membuatku sedikit lebih dekat dengan Eita-kun.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa