Kirei na Onee-san ni Yashinawaretaku Nai Otokonoko nante Iru no? Volume 3 Chapter 2 — Onee-san dan Aku Pergi ke Karuizawa

Lalu, pada minggu berikutnya...

Hari untuk berangkat ke Karuizawa akhirnya tiba.

Kami dijadwalkan menginap di Karuizawa selama seminggu, dengan sesi pemotretan berlangsung pada hari ketiga sampai hari kelima.

Selain itu, jadwal kami ternyata kosong, jadi rasanya lebih seperti liburan musim panas daripada perjalanan untuk pemotretan.

Sejak perjalanan ke Nagano yang hanya berdua dengan Onee-san, aku jadi tahu betapa menyenangkannya mengunjungi tempat-tempat baru. Karena terlalu bersemangat, semalam aku hampir tidak bisa tidur.

Rasanya seperti anak kecil yang menunggu hari studi wisata, tapi karena ini satu-satunya jalan-jalanku selama liburan musim panas, semangatku benar-benar tinggi.

"Onee-san! Apa sudah siap?"

"Ah, sebentar lagi!"

Aku memanggil sambil menyiapkan sarapan, dan suara panik yang bertolak belakang dengan ucapannya terdengar dari dalam.

"Sepertinya dia sama sekali belum ada kemajuan..."

Aku teringat pagi saat kami berangkat ke Nagano, ketika Onee-san menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih pakaian. Tidak, bukan cuma beberapa jam. Sejak malam sebelumnya dia sudah kebingungan memilih dan tetap tidak bisa memutuskan.

...Apa dia akan baik-baik saja? Aku mulai agak khawatir.

Kami berencana pergi ke Karuizawa dengan mobil Chika-san, dan dia akan menjemput kami di apartemen.

Sekitar satu jam yang lalu dia menghubungiku dan berkata, "Aku sedang menuju ke sana," jadi kurasa dia akan segera tiba... Aku jadi penasaran, mana yang lebih dulu selesai, persiapan Onee-san atau kedatangan Chika-san.

Saat aku masih memikirkan hal itu dan selesai menyiapkan sarapan...

Bel apartemen berbunyi, lalu terdengar suara pintu depan terbuka.

"Selamat pagi."

"Chika-san. Selamat pagi."

Aku menoleh dari dapur ke arah pintu ruang tamu dan melihat Chika-san mengenakan pakaian kasual.

Rambut panjangnya yang biasanya diikat menjadi satu ekor kuda kini ditata rapi, dan dia mengenakan atasan tanpa lengan bernuansa musim panas dipadukan dengan celana denim berwarna terang, menciptakan penampilan yang dewasa sekaligus keren.

Selama ini aku hanya pernah melihatnya memakai setelan jas, jadi penampilannya terasa sangat segar.

Gayanya memancarkan pesona orang dewasa yang berbeda dari Onee-san.

"...Apa? Kenapa menatapku begitu?"

"Maaf. Ini pertama kalinya aku melihat Chika-san memakai pakaian kasual..."

"Begitu ya? Kalau begitu, karena ini kesempatan spesial, mungkin aku akan meminta pendapatmu."

Sudut bibir Chika-san terangkat membentuk senyum jahil.

Harus bagaimana... Aku tidak tahu jawaban yang benar.

"Kelihatannya bagus dan cocok untuk musim panas."

"...Lima poin."

"Lima poin!?"

Chika-san mengatakannya dengan wajah yang sangat tidak puas.

"Ngomong-ngomong, dari berapa poin?"

"Dari seratus, tentu saja."

Rendah sekali!

"Kalau memuji perempuan, kamu harus spesifik. Perempuan, sampai batas tertentu, berdandan karena ingin terlihat cantik. Apalagi ini pertama kalinya kamu melihatku berpakaian kasual, jadi kamu harus memujinya dengan lebih sungguh-sungguh. Sebagai manajer seorang aktris, kamu harus belajar cara memberi pujian yang bisa memotivasi orang."

"Benar juga..."

"Baiklah. Sekarang, untuk latihan, ulangi lagi."

"Ulangi lagi!?"

Harus bagaimana... Rasanya standar penilaiannya langsung naik.

Tapi sepertinya dia tidak akan puas kalau aku tidak mengatakan sesuatu.

"Kalau begitu... Chika-san punya tubuh yang bagus, jadi perpaduan atasan tanpa lengan yang pas di badan sehingga memperlihatkan lekuk tubuhmu dengan celana denim itu benar-benar cocok. Rambutmu juga diikat ke atas, jadi kesannya berbeda dari biasanya. Sekarang setelah kulihat lebih teliti, riasanmu juga memakai warna yang lebih cerah dari biasanya. Rasanya seperti aku mendapat perlakuan istimewa karena bisa melihat sisi pribadimu."

"Lupakan soal pakaiannya, fakta kalau kamu bisa melihat perbedaan riasanku itu cukup mengesankan."

"T-Terima kasih..."

"Memangnya benar-benar secocok itu denganku?"

Chika-san bertanya dengan sedikit ragu.

"Iya. Menurutku terlihat sangat dewasa dan bagus."

Saking bagusnya, kalau Kishō ada di sini, dia mungkin sudah menangis terharu sambil bersujud.

"Hmph... ya sudahlah, anggap saja tiga puluh poin."

Tiga puluh poin... Kalau cuma segitu, kenapa dia malah terlihat gelisah sekaligus senang?

Aku tidak bisa menghilangkan perasaan kalau sebenarnya Chika-san cuma ingin dipuji... tapi kalau aku mengatakannya, dia pasti marah, jadi anggap saja itu cuma perasaanku.

"Ngomong-ngomong, Saori di mana?"

"Masih bersiap di kamarnya. Nanti kita sarapan setelah dia selesai."

"Kamu juga menyiapkan sarapan untukku?"

"Iya. Aku dengar Chika-san datang menjemput kami pagi-pagi, jadi kupikir pasti belum sempat makan."

"Perhatian sekali."

Chika-san tersenyum lalu duduk di meja makan.

Sarapan hari ini sederhana, telur mata sapi, ikan panggang, dan salad campur dari sisa sayuran. Aku menghangatkan kembali sup miso, membawanya bersama nasi ke meja, lalu menunggu Onee-san keluar.

Namun, tidak peduli berapa lama kami menunggu, Onee-san tetap tidak keluar dari kamarnya.

"Lama sekali ya..."

"Iya..."

Kamar Onee-san yang tadi masih dipenuhi suara berisik kini benar-benar sunyi.

...Aku punya firasat yang sangat buruk.

"Aku pergi lihat dulu."

"Aku ikut."

"Tidak, aku bisa sen..."

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatku, Chika-san sudah berdiri dari kursinya dengan wajah yang jelas-jelas kesal.

Aku mengikuti Chika-san yang berjalan di depan, lalu membuka pintu kamar Onee-san.

Yang langsung terlihat di depan mataku adalah pemandangan yang sama seperti saat perjalanan terakhir kami. Kamar itu berantakan, pakaian berserakan di mana-mana sampai nyaris tidak ada tempat untuk berpijak. Rasanya seperti habis dibobol pencuri.

Satu-satunya perbedaan dari sebelumnya adalah, entah kenapa Onee-san sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.

Detik berikutnya, terdengar suara berdenyut dari sekitar pelipis Chika-san.

"Saori! Apa yang kamu lakukan malah tidur nyenyak begini!"

"Ch-Chika-chan!?"

Onee-san langsung bangun dengan wajah penuh ketakutan.

Dari belakang Chika-san aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi aku yakin di mata Onee-san, yang berdiri di depannya pasti tampak seperti iring-iringan seratus iblis.

"Kamu sadar tidak kalau kita sudah mau berangkat?"

"A-Aku tahu. Makanya tadi aku buru-buru siap-siap, tapi capek karena tidak bisa memutuskan mau pakai baju yang mana, jadi kupikir istirahat sebentar di tempat tidur lalu... ehehe."

"Ini bukan waktunya bilang 'ehehe'!"

Raungan marah Chika-san kembali menggema di seluruh ruangan.

Rencana Onee-san untuk menganggapnya sebagai lelucon benar-benar gagal.

"Seharusnya kamu sudah siap sejak kemarin!"

"Aku memang sudah siap-siap! Cuma belum selesai!"

"Itu namanya belum siap!"

Tidak, Chika-san, itu tidak benar... Onee-san memang sudah mulai bersiap sejak kemarin, hanya saja dia tidak bisa memutuskan pakaian sampai akhirnya ketiduran. Tolong akui setidaknya usahanya.

Tapi sudah jelas kalau aku mencoba menjelaskan, api kemarahannya hanya akan semakin besar.

Lebih baik diam saja. Sepertinya itu jawaban yang paling tepat.

"Pertama-tama, kamu..."

Setelah itu, ceramah Chika-san berlangsung selama tiga puluh menit.

Onee-san tampaknya benar-benar terpukul karena di akhir ceramah dia sudah melamun, seolah-olah jiwanya hampir keluar dari mulut.

Saat pertama kali bertemu Chika-san, aku mengira hubungan mereka seperti kakak beradik karena akrab sekali... tapi melihat mereka sekarang, mereka lebih mirip ibu yang cerewet dan anak perempuan yang sedang dimarahi.

Akhirnya aku menghibur Onee-san yang murung sambil membantunya bersiap.

ω ω ω

Pada akhirnya, Onee-san baru selesai bersiap satu jam setelah waktu keberangkatan yang dijadwalkan.

Setelah kami bertiga menghabiskan sarapan yang sudah dipanaskan kembali, kami berangkat menuju Karuizawa dengan mobil Chika-san.

Tujuan kami berjarak sekitar tiga jam lewat jalan tol, jauh lebih dekat dibanding perjalanan ke Nagano. Kami membeli camilan dan minuman di minimarket terdekat, lalu masuk ke jalan tol dari gerbang terdekat.

Aku sempat khawatir karena sedang musim libur Obon, tetapi jalanan ternyata sangat lengang.

"Aku senang sekali akhirnya ke Karuizawa, Eita-kun!"

"Aku juga. Makin tidak sabar."

"Liburan musim panasnya memang sebentar, tapi kita harus menikmatinya sepuas mungkin!"

Onee-san terlihat sangat bersemangat, seolah-olah sudah benar-benar melupakan omelan Chika-san tadi. Dia mengunyah keripik kentang yang dibeli di minimarket sambil meneguk minuman bersoda.

Melihatnya seperti itu, kekhawatiran Chika-san dan aku beberapa hari lalu rasanya jadi sia-sia.

Selama beberapa hari terakhir aku terus memperhatikan Onee-san, tapi tidak ada yang terlihat berbeda darinya.

"Bersenang-senang boleh saja, tapi jangan lupa tujuan utama kita datang ke sini."

"Ugh... pemotretan buku foto itu benar-benar bikin sedih."

Peringatan dari Chika-san langsung membuat suasana hati Onee-san merosot.

Perubahan emosinya memang ekstrem, tapi justru karena itulah terasa sangat khas dirinya dan entah kenapa malah membuatku lega.

"Sudahlah. Aku akan mendukungmu, jadi ayo kita sama-sama berusaha."

"O-Oke... Aku mengandalkanmu."

"Aku juga tidak sabar melihat buku fotonya nanti bakal seperti apa."

"Kalau Eita-kun menantikannya, Onee-san juga akan berusaha."

Katanya sambil mengepalkan tangan, tetapi sama sekali tidak terasa semangatnya.

Dia memang benar-benar tidak tertarik pada pekerjaan selain akting, atau terus terang saja, mungkin dia memang membencinya.

"Ngomong-ngomong, Chika-san."

"Ada apa?"

"Kita langsung ke Karuizawa?"

"Tidak. Kita akan keluar dulu di tengah jalan untuk membeli bahan makanan selama seminggu."

Mendengar itu, aku tanpa sadar menghela napas lega.

"Syukurlah. Aku sempat khawatir soal makanan nanti."

"Setelah pemotretan buku foto selesai, aku berencana mengadakan pesta penutupan bersama seluruh staf. Biayanya akan diambil dari anggaran, jadi silakan beli apa pun yang diperlukan dengan mempertimbangkan itu."

"Ah, berarti itu tugasku."

"Tentu saja. Aku maupun Saori tidak bisa memasak."

Kalau Onee-san aku bisa mengerti, tapi Chika-san juga tidak bisa memasak...?

Ini tanggung jawab yang besar.

Selain makanan selama seminggu, aku juga harus menyiapkan bahan untuk pesta penutupan. Jumlahnya pasti banyak. Aku tidak bisa sembarangan membeli sampai akhirnya terbuang sia-sia. Aku harus benar-benar merencanakan pembelian bahan-bahannya.

Setelah satu setengah jam di jalan tol...

Kami tiba di sebuah toko ritel bergaya gudang milik perusahaan asing di Prefektur Gunma.

Konsep tokonya, singkatnya, adalah "besar dan murah," dan semua barang yang dijual konon berukuran luar biasa besar. Seolah membuktikannya, ukuran bangunan tokonya sendiri benar-benar sangat besar.

Aku memang sudah lama ingin datang ke tempat seperti ini, tapi ketika benar-benar melihatnya sendiri, rasanya agak mengintimidasi.

"Rasanya seperti gudang perusahaan raksasa..."

Siapa pun pasti berpikir begitu hanya dari melihat bagian luarnya.

"Ayo cepat selesaikan belanja kita. Gara-gara seseorang, kita sudah terlambat."

"Aku kan sudah minta maaf berkali-kali!"

Chika-san mengabaikan protes Onee-san dan langsung masuk ke dalam.

Aku mengambil troli besar di pintu masuk, dan begitu melangkah masuk, aku langsung terdiam.

Tempat ini memang besar... atau lebih tepatnya, semuanya terlalu besar.

Tingginya langit-langit lebih dari sepuluh meter, dan panjang toko ini sepertinya jauh lebih dari seratus meter.

Rak-rak yang jauh lebih tinggi dariku dipenuhi barang, sementara berbagai produk juga dipajang di atas palet yang tersebar di sepanjang lorong.

Pilihan barangnya juga luar biasa, mulai dari makanan, kebutuhan sehari-hari, peralatan rumah tangga, perlengkapan luar ruangan, sampai perlengkapan hewan peliharaan. Jumlah pengunjungnya pun sangat banyak, sebanding dengan ukuran tokonya.

Sesuai dugaan dari toko yang berkantor pusat di Amerika, benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan supermarket Jepang.

"Aku serahkan urusan bahan makanan padamu. Aku mau melihat-lihat yang lain."

"Baik."

"Onee-san akan melihat bahan makanan bersama Eita-kun!"

"Kalau begitu, ayo."

Begitulah, Onee-san dan aku menuju bagian bahan makanan, tapi... tempatnya tetap saja sangat besar.

Tidak, sebenarnya aku sudah menduganya.

Kalau bagian lain saja sebesar itu, bahan makanannya juga pasti begitu.

Hanya saja, pemandangan di depan mataku jauh melampaui bayanganku.

Pertama-tama, daging hanya dijual per kilogram. Biasanya kan per gram?

Di bagian ikan segar, ikan besar dijual utuh, bukan dalam bentuk potongan fillet, lalu beras hanya dijual dalam karung sepuluh kilogram atau lebih. Yang lebih mengejutkan lagi, saat kuhitung harga per gramnya, semuanya benar-benar murah sekali.

Aku bahkan tidak percaya saat melihat seekor babi utuh dijual.

Apa memang harus dibungkus daun pisang lalu dipanggang utuh begitu?

"Tidak... sebanyak ini untuk setiap barang benar-benar..."

Kami memang perlu membeli cukup banyak untuk seminggu ditambah pesta penutupan, tapi tetap saja tidak mungkin semuanya habis. Kalau asal membeli, pasti akan banyak yang terbuang.

Saat aku sedang pusing memilih...

"Eita-kun, lihat!"

Aku menoleh mendengar suara Onee-san yang penuh semangat.

"Pizza super besar!"

Di sana Onee-san berdiri sambil memegang pizza yang diameternya lebih dari satu meter.

"U-Ukuran itu benar-benar gila."

"Kira-kira di Amerika memang normal ya?"

Tidak, kurasa tidak normal... tapi entahlah.

Orang Amerika memang rata-rata lebih besar daripada orang Jepang, jadi mungkin pola makan mereka ada hubungannya. Kalau dipikir begitu, mungkin porsi sebesar ini memang biasa?

Tidak, tidak. Aku belum pernah melihat ataupun mendengar ada oven yang bisa memanggang pizza sebesar ini.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Onee-san langsung melemparkan pizza itu ke dalam troli.

"Kita beli ini!?"

"Iya. Kelihatannya enak!"

Memang mungkin enak, tapi tidak mungkin kita bisa menghabiskannya.

Sebelum sempat mengatakan apa pun, Onee-san mulai memasukkan semua bahan makanan yang dilihatnya ke dalam troli. Daging, sayuran, kue, sampai puding favoritnya yang dijual dalam wadah sebesar ember membuat matanya berbinar.

Dalam waktu singkat, troli itu sudah penuh sesak sampai aku tidak bisa melihat ke depan.

"Kurasa segini cukup~♪"

"..."

Ini sudah jauh melampaui sekadar belanja besar-besaran.

Aku memang tahu Onee-san sering kalap membeli pakaian, tapi ternyata bukan cuma pakaian saja.

Tidak kusangka status selebritas Onee-san sampai terlihat bahkan di tempat seperti ini.

"Baiklah. Sekarang beli alkohol."

"Alkohol? Onee-san, sebaiknya jangan minum terlalu banyak..."

Aku teringat kejadian saat perjalanan ke Nagano.

Kalau waktu itu Chika-san tidak segera datang, pasti sesuatu benar-benar akan terjadi.

Kali ini Chika-san ikut bersama kami, jadi kurasa hal seperti itu tidak akan terjadi... tapi bagaimanapun juga, lebih baik kalau Onee-san tidak minum. Meski agak disayangkan.

"Tenang saja, bukan aku yang akan meminumnya."

"Oh, untuk staf saat pesta penutupan?"

"Itu juga, tapi ini buat Chika-chan."

"Buat Chika-san?"

"Kalau aku bikin dia mabuk sampai pingsan... maksudku, dia selalu bekerja keras, jadi aku ingin dia benar-benar bersantai selama perjalanan ini!"

Apa pendengaranku salah... Rasanya aku baru saja mendengar kata-kata yang sangat mengkhawatirkan.

Iya... pasti aku cuma salah dengar.

Kami menuju bagian minuman beralkohol, dan Onee-san mulai memasukkan minuman dengan kadar alkohol tertinggi ke dalam troli.

Whiskey, vodka, tequila... Rasanya dia memilih berdasarkan kadar alkohol tertinggi, dan aku yakin itu bukan cuma imajinasiku.

Apa Chika-san memang peminum berat?

"Bagaimana di sana?"

"Chika-san, itu..."

Troli yang didorong Chika-san saat kembali dipenuhi segunung camilan.

Jumlah camilan berbahan cokelatnya terutama benar-benar luar biasa.

"Semua itu dibeli...?"

"Iya. Untuk seminggu, sebanyak ini seharusnya cukup."

Tidak, tidak... Ini cukup untuk beberapa bulan, bukan seminggu.

"Chika-chan memang tipe orang yang efisiensi kerjanya turun kalau tidak makan camilan saat bekerja."

"Karena pekerjaannya banyak menguras otak, mungkin gula darahnya jadi cepat turun."

Mereka berdua melanjutkan percakapan seolah pembelian dalam jumlah sebesar itu benar-benar biasa.

Bagiku jumlahnya benar-benar tidak masuk akal, tapi bagi mereka rupanya itu normal.

Apa memang begini kalau selebritas dan presiden agensi artis...? Cara mereka memandang uang benar-benar berbeda.

"Yang tersisa tinggal perlengkapan barbeque."

"Aku tadi lihat di sana!"

"Oh ya? Kalau begitu ayo."

Aku mengikuti mereka yang mendorong troli, tapi aku benar-benar tidak percaya melihat mereka terus memasukkan makanan yang terlihat di sepanjang jalan menuju sudut perlengkapan barbeque.

Rasanya aku sudah mulai mual bahkan sebelum sempat makan.

Aku benar-benar tidak menyangka hanya belanja di awal perjalanan saja sudah bisa membuatku selelah ini...

ω ω ω

Setelah selesai berbelanja, kami kembali berkendara satu setengah jam di jalan tol.

Kami makan siang di area istirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Karuizawa.

Saat kami keluar dari jalan tol di dekat tujuan, waktu sudah lewat sedikit dari pukul dua siang.

Dari sana kami menyusuri jalan besar sebentar, lalu begitu berbelok ke jalan kecil, pemandangannya langsung berubah total.

Dari kota yang tertata rapi, kami masuk ke tempat yang terasa seperti jauh di dalam hutan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hutan cedar. Setelah berkendara beberapa saat lagi, beberapa cottage mulai terlihat.

Chika-san memarkir mobil di area parkir cottage yang paling jauh masuk ke dalam hutan.

"Kita sudah sampai."

Mengikuti Chika-san keluar dari mobil, aku dan Onee-san juga turun.

Udara terasa sangat sejuk meski sedang musim panas.

Mungkin karena hutan cedar menghalangi sebagian besar sinar matahari, tapi perbedaan suhunya sangat terasa dibanding kota tempat kami tinggal. Kaus lengan pendek yang kupakai bahkan terasa sedikit dingin.

Mungkin selisih suhunya sekitar sepuluh derajat... Tidak heran tempat ini terkenal sebagai lokasi wisata musim panas.

Di depan kami berdiri cottage kayu dua lantai yang akan menjadi tempat kami menginap.

"Mulai hari ini kita akan menginap di cottage ini."

"Cottagenya bagus sekali. Suasananya juga luar biasa."

"Onee-san juga berpikir begitu!"

Mata Onee-san berbinar seperti anak kecil.

"Ayo keluarkan barang bawaan."

Kami mengambil tas masing-masing lalu masuk ke dalam cottage.

"Wah..."

Aku mengikuti Chika-san dan Onee-san masuk, dan tanpa sadar menghela napas kagum.

Bagian dalam cottage itu merupakan ruangan bergaya elegan yang didominasi kayu berwarna terang.

Pencahayaan bernuansa hangat menciptakan suasana yang tenang dan nyaman.

Karpet serta sofanya juga menggunakan warna senada agar sesuai dengan keseluruhan ruangan. Meja kayu persegi panjang yang dibuat dari satu batang kayu utuh menjadi pelengkap yang sangat menarik.

Yang paling menarik perhatianku adalah tungku kayu di sudut ruangan.

Memang tidak akan digunakan saat musim panas, tapi benda seperti itu benar-benar membuat orang bermimpi.

Rasanya berbeda dengan perjalanan kami ke Nagano. Tempat ini memberi kesan seperti markas rahasia yang tersembunyi.

"Di lantai dua ada tiga kamar tidur, jadi masing-masing pilih satu."

"Hah?"

Onee-san berseru kaget.

"Aku tadinya mau sekamar dengan Eita-kun."

Dia mengatakannya seolah itu hal yang paling wajar di dunia, seperti bertanya, "Bukannya memang begitu? Memangnya ada masalah?"

"Kan tidak harus selalu bersama meskipun kita sudah sampai sejauh ini."

"Tidak! Aku mau tetap bersama!"

Onee-san mulai merengek.

Belakangan ini dia memang sering seperti ini. Kesan awalnya yang tenang dan dewasa sudah benar-benar hilang.

Kurasa itu bukti kalau hubungan kami memang semakin dekat dan dia sudah membuka hatinya kepadaku... tapi rasanya dia jadi agak cengeng, atau mungkin seperti anak kecil yang mudah kesepian.

"Ayo."

"Tidakkkk!"

Onee-san diseret menuju kamarnya sambil ditarik lengannya oleh Chika-san.

Aku memang sedikit kasihan padanya, tapi kali ini tolong bersabar saja.

☆Buku Harian Onee-san☆

Akhirnya kami sampai di Karuizawa!

Pemotretan buku foto memang menyedihkan, tapi... aku harus menikmati perjalanan ini sepenuhnya!

Sayang sekali Chika-chan jahat dan aku tidak bisa sekamar dengan Eita-kun, tapi kami tetap akan tinggal serumah selama seminggu. Waktunya masih banyak, jadi tidak perlu terburu-buru.

Satu-satunya masalah adalah... Chika-chan.

Aku harus memikirkan cara supaya Chika-chan tidak terus mengganggu. Kalau tidak, meski sudah jauh-jauh datang ke Karuizawa, aku tidak akan bisa bermanja-manja dengan Eita-kun! Aku harus bersenang-senang bersama Eita-kun supaya punya semangat menjalani pekerjaan yang kubenci ini!

Untuk sementara, aku sudah menyiapkan satu rencana.

Rencananya begitu sempurna sampai-sampai aku sendiri kagum. Bahkan Chika-chan seharusnya tidak akan bisa mengganggunya. Malah, aku bisa terus menempel pada Eita-kun tanpa dia sadari!

Hehehe... Maafkan aku ya, Chika-chan.

Semua ini demi supaya aku bisa berusaha sebaik mungkin dalam pekerjaanku!

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa