Amamori Junna is Humid Volume 2 Interlude 5

Distortionalize

“…Belakangan ini Shigure nggak terlalu memperhatikanku.”

Aku mengeluh dengan suara gelap dan tenggelam. Ke speakerphone smartphone-ku.

“Balasan LINE-nya lama, terus kami cuma bisa ngobrol dua atau tiga jam sehari. Soal ketemu langsung… ya memang nggak bisa diapa-apakan karena aku dan dia sama-sama sibuk kerja dan kegiatan klub, tapi tetap saja, ini sudah hampir dua minggu, tahu? Menurutmu sekarang dia benci aku?”

“N-Nggak…”

Saat aku mengeluarkan komentar pesimistis itu, lawan bicaraku, Haruka-san, menjawab sambil mengerang.

“Kalau tiap hari kalian masih ngobrol dua atau tiga jam, menurutku itu sudah banyak banget—”

Itu nggak benar! Dulu kami ngobrol lebih dari dua kali lipat dari itu!

Aku hampir berteriak, tapi kutahan. Tenang dulu, diriku.

“Dan kalau jadwal kalian nggak cocok, ya memang nggak bisa dibantu. Apalagi kamu, Jun-chan, sekarang sedang ada di masa yang berat dan penting banget, kan? Mungkin Kurimoto-kun cuma sedang berusaha perhatian padamu.”

“…Semoga saja.”

Di kursi meja kerjaku, aku menopangkan dagu di lutut sambil cemberut. Mungkin Haruka-san benar. Mungkin aku cuma terlalu banyak mikir. Tapi,

Sebuah melodi meluap, dan aku mulai bersenandung.

“Hah?” suara Haruka-san terdengar kaget. Dia mungkin bingung kenapa aku malah bersenandung di tengah percakapan gelap begini.

Kalau dipikir-pikir, aku memang belum pernah cerita ini ke Haruka-san. Ya sudah, sekarang kuceritakan saja.

Bahwa musikku dipintal dari emosiku.

Cerita tentang bagaimana YOHILA bisa menjadi YOHILA yang sekarang, dan apa yang menopang musikalitasnya.

Satu pemicu yang melahirkan lead track kami sekarang, “Sorrow & Love.”

“…Itu adalah rasa cemburu padamu, Haruka-san.”

Aku mengakuinya sambil tersenyum kecut di tengah cerita.

Lalu aku membukanya.

Nada tak tergantikan dan indah yang dia ciptakan untukku, yang kupelintir, kuhancurkan, kubunuh, lalu kupintal kembali—puisi keputusasaan yang kutulis sambil membayangkan kehilangan. Begitulah lagu itu tercipta. Alasan aku mengundang Haruka-san ke sesi rekaman itu juga karena, dalam kadar yang tidak kecil, dia ikut terlibat dalam kelahiran lagu itu.

Setelah mendengar ceritaku, Haruka-san menjawab, “…………O-Oh…?” suaranya bergetar,

“J-Jadi begitu… oh………………………………”

dan setelah gumaman pelan itu, dia terdiam.

Ini bukan reaksi yang kubayangkan.

Kupikir dia bakal lebih kaget, lebih heboh dan tepat saat aku memikirkan itu.

“…Ehehe… Uhehehehe… Uehehehehe…”

“Jijik.”

Tawa otaku creepy yang kubayangkan tadi akhirnya terdengar juga, dan aku merasa lega. Meski yang keluar dari mulutku tetap racun tajam.

Haruka-san terdengar sangat—

“Maaf, maaf! Begitu tahu kalau aku bahkan sedikit saja ikut terlibat dalam lahirnya musik seindah itu…”

katanya, dengan suara yang terdengar sangat bahagia.

“Rasanya aku bisa jadi gila.”


Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa