Minggu berikutnya, aku kembali datang ke Nakameguro.
Cuacanya hujan. Cocok sekali untuk hari ini, pikirku, sambil menatap langit yang muram, kota kelabu yang kuyup diguyur hujan, dan tetes-tetes air yang terbawa angin, semuanya terbentang di balik jendela kereta.
BGM-nya adalah “Hydrangea & Ghost” milik YOHILA. Kontras antara gitar distorsi dan piano yang bening, lirik yang sakit dan vokal yang indah, entah sudah berapa kali kudengar pun selalu berhasil mencengkeram hatiku.
Kereta pun tiba di peron, dan pintunya terbuka.
Aroma hujan, yang menyingkirkan bau musim panas, menyambutku.
Malam di hari saat aku datang ke rumah Junna itulah dia mengundangku untuk menonton sesi rekaman YOHILA.
Waktu itu, meski dalam hati aku lega dengan kemunculan Akagi, aku juga merasa bersalah dan tidak puas karena harus pulang di tengah jalan, jadi aku langsung menjawab penuh semangat, “Aku ikut.”
Bahkan tanpa itu pun, ini adalah rekaman live dari band favorit mutlakku.
Mustahil aku tidak datang.
Dan dia mungkin merasakan hal yang sama—
“Maaf, nunggu lama?”
Di bawah rel layang yang remang-remang, aku mengangkat tangan dan menyapa orang yang ternyata datang lebih dulu dariku.
Seorang gadis dengan outfit yang segar: shirt dress bergaris putih dan biru muda, short rain boots warna oak, dan shoulder bag bening.
Ponytail cokelat mudanya bergoyang.
“Oh, Kurimoto-kun. Hai.”
Payung lipat yang dibawanya berwarna biru pastel. Gadis yang bahkan di hari hujan pun tetap terlihat cerah seperti langit biru, Yamada, melambaikan tangan dengan riang.
“Gila, ini kota stylish banget. Bahkan toko bukunya saja begini…”
Dia menoleh ke toko buku berdinding kaca itu, lalu menggaruk pipinya dengan tangan yang memakai gelang persahabatan biru muda.
Di dalam tas transparan bernuansa musim panas itu, ada buku bunko bersampul gingham biru, kemungkinan light novel.
“Sebaliknya, kamu justru blend in banget sama kota stylish ini. Kamuflase yang sempurna.”
“Kamuflase, ya? Yah, nggak salah juga sih.”
Setelah tersenyum kecut, Yamada menatapku dari atas ke bawah. Polo shirt navy, celana chino tapered beige, dan sneakers hitam tahan air.
“Kamu juga keren, lho, Kurimoto-kun. Simpel, tapi tetap kelihatan berkelas—”
“Youjirou yang pilihkan.”
“Maaf, kayaknya jadi agak aneh. Malah kelihatan terlalu niat.”
“Kamu ganti penilaian terlalu cepat!”
Ini sudah hampir seperti reaksi alergi. Tapi memang, karena aku sendiri nggak terlalu tertarik atau punya selera khusus soal baju, aku sering mengandalkan pendapat Youjirou yang jauh lebih paham.
“…Yah. Ayo pergi?”
Beda dengan tas Yamada, aku membuka pengait payung vinyl beningku, yang kupakai bukan karena stylish, tapi karena murah.
“Dari stasiun ke sana mungkin jalan sekitar lima belas menit.”
Aku melangkah keluar dari bawah rel layang. Di bawah payungnya, Yamada gelisah sendiri.
“A-Aku gugup banget! Bisa lihat langsung sesi rekaman JUN-sama, YOHILA… ini kehormatan yang terlalu besar!”
“Suaramu kekencangan.”
☂
Yang kami datangi adalah rumah bergaya modern dengan eksterior hitam yang chic. Sekilas ini tampak seperti rumah tinggal biasa, bukan studio musik, tapi tidak salah lagi, ini tempatnya.
Di halaman utama situsnya tadi terpampang gambar cover para musisi yang sepertinya pernah rekaman di sini. Di antaranya ada album yang kusuka.
Dengan canggung, kami menekan bel lalu menunggu beberapa lama, sambil sama-sama menegang.
“Maaf membuat kalian menunggu.”
Tepat saat kami mulai berpikir apa perlu membunyikan bel lagi, pintu depan terbuka dan seorang wanita muda menyambut kami.
Kesan pertamaku yang jujur adalah—“kecil.”
Tingginya bahkan kurang dari 150 sentimeter. Rambut bob hitam panjangnya berponi rata, dan matanya yang bulat besar menatap kami dari bawah. Bahkan makeup-nya yang sangat tipis dan natural pun terasa agak tidak cocok dengan wajah bayi yang imut itu.
Di sebelahku, aku merasa Yamada menarik napas.
“Kalian teman-temannya JUN-san, kan? Silakan, masuk.”
“I-Iya…”
“Pe-Pe-Pe-Pe-Permiii—permisi!”
Yamada, kamu terlalu parah gagapnya. Saat kami melipat payung, melepas sepatu, dan berganti sandal, wanita itu berbicara pada kami.
“Lantai satu dipakai untuk rekaman, dan seluruh lantai dua adalah lobi. Saat ini JUN-san sedang meeting dengan engineer… jadi untuk sementara kita naik dulu, ya? Di sana nanti kalian bisa sekalian menyapa.”
“…Baik.”
Sambil mengikuti wanita itu, aku melirik ke bagian belakang.
Denahnya sudah kulihat sebelumnya. Di balik pintu kedap suara di sebelah kiri ada booth rekaman dan control room.
Rasanya itu seperti ruang suci yang tak seharusnya dimasuki orang biasa seperti kami seolah sedikit saja suara keluar akan menjadi noise. Tanpa sadar aku menahan napas.
Aku bahkan menahan bunyi langkah kakiku dan naik tangga sepelan mungkin.
Lobi di lantai dua adalah ruangan sekitar dua puluh tatami dengan beberapa meja, kursi, dan sofa. Dinding serta lantainya bermotif serat kayu, dengan tema natural wood dan putih, membuat suasananya terasa lembut dan menenangkan.
“Di TV dan speaker sana, kalian bisa lihat apa yang sedang terjadi di booth lantai satu. Tapi sekarang masih dimatikan.”
“O-Oh…”
“Keren banget.”
Anehya, selain kami, tak ada orang lain di sana. Aku sempat bertanya-tanya apa mereka sedang di lantai rekaman, atau memang jumlah orang yang terlibat sengaja dibatasi oleh Junna.
Wanita itu lalu berbalik menghadap kami saat kami sedang melihat-lihat ruangan.
“Kalau begitu, izinkan saya memperkenalkan diri dengan benar.”
Saat menghadapnya, aku kembali berpikir, kecil banget ya dia—
Outfit-nya, atasan putih polos model cut-and-sew dengan setup formal hitam, memberi kesan perempuan profesional yang cekatan, tapi…
“Saya adalah perwakilan dari agensi tempat JUN-san bernaung… dan sekaligus manajer JUN-san.”
Kartu nama yang dia sodorkan dengan salam sopan itu tertulis nama perusahaan “YALEVANA” dan jabatan “President and Representative Director.” Serta nama Kotegawa Yo.
Yamada, yang menerima kartu nama itu dengan dua tangan, mulai gemetar.
“T-T-T-T-Tunggu… K-K-K-K-Kotegawa-san ini, jangan-jangan… bukan…”
Dia menelan ludah lalu bertanya.
“A-Apakah Anda… YO-san dari… ENDY? Gitarisnya?”
“Iya.” Kotegawa tersenyum sambil menyentuh dadanya. Jari-jarinya penuh cincin perak. Cincin yang paling besar di jari tengahnya sepertinya Chrome Hearts.
Taring ganda yang tajam seperti binatang buas tampak di sela bibirnya.
“Pernah ada masa seperti itu.”
“Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!?”
Yamada menjerit. Persona gyaru-nya langsung terkelupas, dan otaku creepy di dalam dirinya pun keluar.
“A-A-A-A-Aku fans berat! Aku dengar semua albumnya! Maksudku, aku punya semuanya! DVD tur, t-shirt, wristband, dan banyak merch lain juga… Ya Tuhan, ya Tuhan. Aku harus gimana!”
“Ahaha, terima kasih.” Kotegawa tetap tersenyum, sama sekali tak terguncang oleh transformasi Yamada yang tampak sebentar lagi bakal pingsan karena terlalu heboh, sambil merentangkan tangan yang penuh cincin.
“Mau berjabat tangan?”
“Eh, aku bakal mati. Tolong bunuh aku.”
“Fufu. Kalau begitu, akan kulakukan dengan lembut supaya kamu tidak mati—nih.”
“…! Ah… ya ampun… ini gila… aku mau pingsan.”
“Kalau kamu bagaimana? Kurimoto Shigure-san.”
Kotegawa mengalihkan pandangannya dari Yamada yang nyaris naik ke surga karena berjabat tangan, lalu menatapku.
“Eh… iya. Kalau boleh, dengan senang hati.”
Dia seharusnya belum tahu namaku. Dan kenapa nama lengkap? Aku bingung, tapi karena aku juga fans berat, aku langsung mengulurkan tangan tanpa ragu.
Tangannya yang kecil dan penuh cincin menggenggam tanganku dan seketika itu juga mencengkeram seperti ragum.
“Aw-aw-aw-aw-aw! Sakit! Sakit, tahu!?”
“Terima kasih karena sudah menjaga… JUN-san dan Eimi. Fufu.”
Senyum. Matanya juga tersenyum, tapi cengkeramannya begitu kuat sampai terasa seperti tulangku berderit. Dan makin lama makin kuat.
“Aw-aw-aw-aw-aw-aw!”
“…Eimi?”
Yamada tampak bingung.
“Itu—”
“Yo.”
Sebuah suara metalik yang serak memanggil nama Kotegawa.
Mungkin tadi dia ada di ruang istirahat, karena Akagi berdiri di pintu masuk sambil memegang cangkir kopi dan menatap kami.
“Jangan cemburu pada bocah begini.”
Akagi, di hari liburnya, tidak memakai masker. Tank top cropped merah, cargo pants hitam, dan sheer shirt putih yang dipakai terbuka di luarnya. Ear cuff perak berkilau di telinganya, dan aksesori seperti flair ala Chrome Hearts menggantung di dadanya.
Kotegawa mengendurkan tangannya, melepaskan genggamannya, lalu memiringkan kepala.
“…Aku nggak cemburu, kok? Bisa tolong berhenti bikin tuduhan palsu?”
“Sama seperti makeup dan baju dewasa, setelah sekian lama, bahasa formal juga tetap nggak cocok sama shorty sepertimu.”
“Masuk neraka sana.”
“Oops.”
Akagi dengan anggun menghindari pukulan bertinju cincin yang diarahkan ke samping wajahnya.
Dia menyeruput kopi yang nyaris tumpah itu lalu berkata, “…Jangan sampai kalian jadi orang dewasa seperti ini ya, anak-anak. Orang dewasa barbar yang gampang panas lalu langsung main kekerasan.”
“Aku nggak marah, kok. Ini cuma main-main.”
“Cara mainmu sudah kayak binatang buas. Kalau bukan aku, orangnya sudah mati.”
“Aku memang nggak berniat main sama siapa pun selain Eimi, jadi aman.”
“Tapi aku nggak aman.”
Akagi tampak muak melihat Kotegawa yang menyeringai memperlihatkan taring gandanya.
Lalu dia menoleh padaku dan,
“Oh, Kurimoto. Maaf soal minggu lalu… soal ganggu itu.”
“Nggak, Sensei justru nolong aku.”
“Terus—”
Dia menoleh ke Yamada lalu mengernyit.
“Yang itu teman sekolahmu? Namanya aku nggak tahu, tapi wajahnya familiar… Sial. Nggak nyangka Amamori punya teman selain Kurimoto. Di luar dugaan.”
“U-Um! A…Akagi-sensei, kan? Guru UKS…”
Yamada, yang sejak Akagi muncul sudah megap-megap seperti ikan kehabisan air, gemetar dalam suara maupun tubuhnya. Akagi menjawab seolah sudah pasrah.
“Iya.”
“A-Dan Anda… EIMEE-san dari ENDY, ya? Vokalisnya.”
“…Iya.”
“…………Aku bakal pingsan—”
Getaran tubuh Yamada berhenti. Matanya berputar ke atas, tubuhnya limbung.
Lalu dia jatuh ke belakang. Dia pingsan karena terlalu syok.
Aku buru-buru menopangnya.
“Y-Yamada-saaaaaaaaaaaaan!?”
“Ya ampun…”
☂
“…Sedang apa sih, Haruka-san?”
Junna menatap Yamada yang terbaring di sofa dengan wajah jengkel. Meeting sebelum rekaman sudah selesai, dan dia datang untuk menyapa kami.
Hoodie Geroppi biru keunguan. Mungkin dia ingin santai, jadi memakai baju rumah biasa.
“Seperti Shigure, kamu juga terlalu heboh sama Sensei. Selingkuh.”
“…Ugh. T-Tapi…”
“Cara ngomongmu itu jelas ada salah paham dan niat jahat, ya?”
“Yo. Jangan keprek-keprekin buku jarimu.”
Perempuan ini menakutkan. Kotegawa, yang ditegur Akagi, mengeluarkan smartphone dengan layar retak lalu,
“Kalau begitu, sesuai rencana, rekaman kita mulai jam 10. Pertama gitar. Setelah itu keyboard. Kalau sudah selesai atau ada jeda yang bagus, kita istirahat makan siang,” katanya, kembali jadi manajer.
“Baik,” Junna mengangguk.
Sebagai catatan, instrumen lain seperti bass dan drum sudah direkam lebih dulu oleh studio musician di bawah arahan Junna secara remote, jadi hari ini hanya untuk bagian-bagiannya Junna.
Rencananya dia akan merekam empat lagu dalam dua hari, hari ini dan besok.
“Bukan single?”
“Awalnya begitu, tapi lagunya jadi banyak, jadi mereka memutuskan untuk menjadikannya EP.”
Aku dan Junna sedang mengobrol di dekat jendela yang menghadap ke veranda, sambil memandangi hujan deras di luar.
“Jadi sambil ranking satu di ujian, kamu juga ngebut bikin lagu… hebat.”
“Cuma pujian?”
Junna melepas hood yang dipakainya. Dia menatapku dari bawah dengan ekspresi memelas.
Meski sadar ada orang-orang di sekitar, aku tetap mengelus kepalanya. “Mm…” Mata Junna menyipit puas.
“Charge selesai. Aku pergi tampil.”
“Iya. Aku bakal lihat.”
“…………Sekarang aku malah jadi gugup…”
☂
Aku dan Yamada menonton sesi rekaman Junna lewat TV.
JUN sudah melepas hoodie-nya dan sekarang memakai t-shirt lengan pendek dan dolphin shorts. Dia bertelanjang kaki.
Dia duduk di atas stool, membungkuk seperti memeluk gitar listrik surf green-nya. Di kepalanya terpasang monitor headphones hitam.
Dari sudut ini, wajahnya tak terlihat.
“…Kalau sudah siap, kabari ya,” terdengar suara lelaki samar, mungkin suara engineer.
JUN memetik senarnya beberapa kali seperti mengecek, dan suara keluar dari speaker di samping TV.
Ini bukan suara yang benar-benar terdengar di booth utama tempat JUN berada, melainkan suara dari booth lain yang lebih kecil, tempat amplifier diletakkan.
Suara dari amp ditangkap mikrofon lalu dikembalikan secara real time ke headphone JUN, tapi dunia yang sedang dia selami pasti adalah keheningan berat, seperti ketenangan sebelum badai. Bahkan atmosfer itu pun seolah merembes keluar dari balik layar.
Setelah sekali melepas lalu memasang kembali headphone-nya, JUN memberi tanda “OK” dengan jari.
“Oke, take one. Silakan.”
Begitu tanda itu diberikan, track drum dan bass yang sudah direkam lebih dulu mulai diputar. Suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Lalu gitar JUN masuk menumpuk di atasnya. Itu adalah gitar yang sama yang pernah kudengar bersama Yamada di ruang AV waktu kuis intro lagu. Di sebelahku, Yamada mengeluarkan suara kecil, “Fwaah…”
Mataku membelalak kaget.
Ini bukan sekadar penjumlahan. Ini perkalian.
Gitar JUN yang sendirian saja sudah luar biasa, kini menumpang pada groove badai yang dibangun rhythm section, drum dan bass, dan dari satu menjadi sepuluh, seratus.
Aku benar-benar ditelan. Dihancurkan besarnya.
“G-Gila…”
“…Gila.”
Saat performanya selesai, aku dan Yamada sama-sama terpana.
Dengan latar percakapan teknis antara JUN dan engineer setelah take pertama, kami saling mengungkapkan kesan.
“Gila, barusan benar-benar… gila.”
“I-Itu gila…”
Kosakataku habis.
“Kalau didengar telinga amatir seperti kita, rasanya kualitasnya sudah cukup banget buat sekali take, ya?”
“Take two.”
“Take three.”
“Take four—”
“…………Dia ngerekam banyak banget, ya?”
JUN rupanya masih belum puas, dan terus mengambil banyak take. Sambil terus bertukar kata dan pendapat dengan engineer,
“Dan dia detail banget.”
Bukan cuma satu lagu utuh, tapi bagian-bagiannya, bahkan bukan cuma satu frasa, satu nada pun diulang dalam take tersendiri.
“Kenapa begitu?”
“E-Ehm…”
Saat kami bertanya-tanya, Akagi yang duduk agak jauh di meja ikut angkat suara.
“Nanti dipotong tempel.”
Kotegawa sudah tidak ada di sini. Dia berada di control room lantai satu, memberi dukungan dan arahan.
Akagi melanjutkan, “Dari sekian banyak take yang direkam, nanti diambil bagian-bagian yang paling bagus, dipotong, lalu disambung menjadi satu lagu. Hampir semua lagu di album yang kalian dengar setiap hari kebanyakan adalah kristal dari potongan momen, hasil kumpulan begitu banyak momen.”
“…Wah!”
Mata Yamada berbinar polos.
“Begitu ya! Aku benar-benar nggak tahu… sama sekali nggak sadar.”
“Itu karena sambungannya halus sekali. Kalau cuma dengar biasa, kalian mungkin nggak bakal sadar. Selain itu, volume, kualitas suara, tekanan suara, sampai posisi suara semuanya juga disesuaikan secara detail oleh tangan engineer. Kalau data rekamannya diibaratkan bahan masakan, maka mixing yang menggabungkannya itu seperti memasak saking pentingnya sampai sering dibandingkan begitu. Dan JUN jelas bukan koki level profesional.”
Jadi—
“dia meminta koki kelas atas untuk menyelesaikan bahan-bahan terbaik yang sudah JUN siapkan dengan cara terbaik… Fasilitas studio ini, peralatannya, semuanya kelas atas. Hal hebat dari major label adalah bisa mengeluarkan uang untuk hal-hal seperti itu.”
Kalau musisi kelas atas seperti Akagi sampai menyebut seseorang profesional kelas atas, berarti orang itu pasti memang the real deal.
Dan JUN, yang bisa menyiapkan bahan-bahan yang membuat profesional kelas atas itu ingin unjuk kemampuan, juga the real deal.
“…Nggak. Bukan begitu.”
“Kalau itu… aku punya cara sendiri dalam memikirkannya, jadi…”
“Mm. Oh, kalau itu memang niatmu… paham. Akan kucoba.”
“…………Dia luar biasa. Benar-benar.”
JUN yang berdebat bolak-balik dengan orang dewasa profesional lewat talk mic tanpa mundur sedikit pun terlihat sangat hebat di mataku.
☂
Setelah itu pun JUN terus merekam dengan tekun, dan saat gitar serta keyboard untuk dua lagu selesai, waktu sudah lewat jam dua.
Kami berkumpul di lobi dan makan siang yang dibuat Akagi. Di tengah itu—
“………………”
Junna diam saja. Dia memakai headphone kabel hitam yang berbeda dari biasanya dan sedang mendengarkan rough mix. Jarak duduknya dariku, padahal di sebelah, juga lebih jauh dari biasanya.
“Awalnya kukira jadwalnya bakal ketat, tapi ternyata sama sekali nggak masalah.”
“Iya, ya? Sebagian tentu karena performa JUN-san memang sangat bagus, tapi Kuma-san juga benar-benar bisa diandalkan. Padahal baru pertama kali ketemu, tapi dia jago sekali mengeluarkan yang terbaik darinya.”
Kotegawa yang duduk tepat di depanku, berbicara dengan Akagi di sampingnya sambil melihat serong ke belakang.
Di sana ada engineer itu, pria paruh baya besar dan kekar bernama Okuma. T-shirt warna kuning madu, jeans hitam, dan dreadlocks yang diikat jadi ponytail tunggal.
Penampilannya memang menyeramkan, tapi sifatnya lembut, dan sekarang dia, seperti Junna, sedang duduk di sofa makan onigiri daging buatan Akagi sambil bergumam sendiri dengan headphone terpasang.
“Masakan rumahan Eimi enak.”
Kotegawa, yang juga memegang onigiri berbungkus satuan dengan kedua tangan dan menikmatinya, bergumam bahagia. Kalau Okuma itu beruang, maka Kotegawa seperti tupai.
“Yo. Ada nasi nempel di pipimu… kamu anak kecil, ya?”
Akagi mengambil butir nasi yang menempel di pipi Kotegawa lalu menyodorkannya ke mulutnya. “Nih.”
Kotegawa membuka mulut lalu menggigit jari Akagi.
“Gigit!”
“Gah!? J-Jangan gigit! Taring gandamu nusuk—Ugh!? B-Berhenti nyedot!”
“Kalian akrab banget.”
kataku sambil memakan kinpira-ku.
Yamada yang duduk di “kursi ulang tahun” di antara aku dan Akagi memasang wajah “guhehehe…” sambil sepenuhnya menikmati masakan rumahan Akagi dan flirting akrab mereka.
“…Padahal first impression-ku ke dia dulu paling buruk.”
Akagi menjilat jarinya yang berdarah dan mencibir, membuat wajah tampannya terlihat kesal.
“Pendek, emosian, kasar, tipe orang yang paling nggak mau kuurusi.”
“Aku juga awalnya nggak suka kamu, tahu.”
Kotegawa langsung membalas. Katanya mereka satu SMP dulu.
“Kamu dingin banget, nggak nyambung sama orang lain. Cuma gara-gara half dan anak pulang dari luar negeri, gayamu tinggi banget.”
“…Kamu cuma iri dan dengki. Bukan aku yang tenggelam, tapi kalian semua sampah.”
“Itu dia cara ngomong Eimi-chan☆”
Kotegawa membalas dengan nada yang seolah ada simbol bintangnya di akhir.
“Kamu dari Inggris, kan?”
Mendengar pertanyaanku,
“Iya. Ngomong-ngomong, ini off the record, tapi,” Kotegawa menyeringai.
“Middle name-nya Eimi itu—”
“Kalau kamu lanjutin, aku nggak akan pernah masak buatmu lagi.”
“Saya sungguh-sungguh minta maaf. Mohon maafkan saya, Eimi-sama.”
Kotegawa langsung meluruskan punggung lalu menunduk dalam. Itu permintaan maaf textbook ala orang dewasa pekerja. Melihat hubungan mereka, pipiku ikut mengendur seperti Yamada.
Sementara itu, Junna tetap memejamkan mata, fokus pada suara di telinganya.
Keheningan itu berlanjut cukup lama.
“…Musik memang hal yang indah, ya.”
Yang bergumam dalam samar suara hujan itu adalah Kotegawa. Kata-katanya adalah, “Kalau bukan karena musik, aku nggak akan pernah bisa terhubung sedalam ini, sekuat ini, dengan Eimi dan yang lain. Musik yang menghubungkan kami.”
Kepada orang di sampingnya, kepada orang yang telah meninggalkan musik.
“Itulah kenapa aku mencintai musik.”
Sama, pikirku.
Musik jugalah yang menghubungkanku dengan Junna. Tapi, “Kamu juga dulu berpikir begitu, kan, Eimi?”
Dulu.
Bentuk lampau.
Sedih, sepi, nostalgia, dan melankoli.
Seolah menghancurkan harapan samar yang ada di dalam kata-kata itu,
“…Iya.”
Akagi menjawab, “Dulu sekali,” dengan suara kering. Tanpa ekspresi yang bisa disebut ekspresi. Sosoknya bertumpuk dengan gadis di sebelahnya, dan aku merasakan sakit yang tajam jauh di dalam dada.
☂
“Tolong biarkan aku menyelesaikannya dalam satu take.”
Setelah makan siang. Hal pertama yang dikatakan JUN begitu kembali ke booth utama adalah itu. Tanpa menunggu jawaban dari Okuma sang engineer,
“Dua lagu ini, semuanya akan kutuangkan ke dalam first take, akan kutumpahkan habis-habisan… Aku nggak bisa ambil take kedua,” katanya. Suaranya pelan, tapi nadanya tegas.
Tak ada jawaban dari Okuma. Setelah beberapa saat, “…………Oke.” akhirnya dia menjawab. Suaranya menyimpan ketegangan, atau mungkin gairah, yang sedang dia tahan.
“Kalau sudah siap, beri tahu.”
Di dalam booth, mereka mungkin bisa saling melihat lewat dinding transparan. Menanggapi kata-kata Okuma, JUN mengangguk lalu mulai stretching dan warming up.
Dia memutar lehernya, menggerakkan bahunya, melonggarkan otot lengan dan punggung. Dia bersenandung, membuat bibirnya bergetar, lalu mengeluarkan suara sambil meletakkan tangan di perutnya.
Seperti menyetem gitar, dia sedang menyetem instrumen bernama tenggorokannya.
Dia meneguk air dari botol plastik, memakai monitor headphones hitam yang tadi tergantung di lehernya, lalu berdiri di depan condenser microphone besar dan menarik napas dalam.
Di lobi, kami semua menahan napas menatap JUN.
Yamada gelisah.
Akagi berdiri sambil melipat tangan.
Kotegawa sedang di lantai satu, jadi sekarang tidak ada di sini.
“………………”
Dari suatu tempat, rasanya aku mendengar suara badai dari kejauhan.
Suara topan dari waktu itu.
Seakan memegang pick gitar, JUN mengangkat tangan kanannya.
Itu adalah “sinyal.”
Gitar, bass, drum, piano.
Suara-suara yang tak sempat kudengar pada hari itu, pada waktu itu, quartet YOHILA, meluap dari speaker, menggetarkan udara yang lembap. Menyetrumnya.
Itu musik yang membuat bulu kuduk berdiri.
Padahal sebelumnya aku sudah mendengarnya waktu sesi rekaman tadi, tapi sekarang aku kembali terpaku saking terguncangnya. Suara ensemble yang tadinya sudah berlipat ganda itu kembali mengamuk.
“…!”
Saat kami semua menahan napas, JUN menarik napas dalam.
Lalu, dia bernyanyi.
Pada detik itu, guncangan seperti petir menembus otakku, dan waktu ditarik mundur ke masa lalu.
Atap sekolah di bawah hujan badai.
Junna mengaum dengan suara serak.
Perasaannya, yang tertanam dalam lagu dan lirik yang meraung itu.
Aku—
(...Oh, begitu.)
bukan lagi diriku sendiri.
(Jadi beginilah perasaannya… saat dia bernyanyi…)
Aku sedang melihat dunia lewat matanya.
Perasaan kuat terhadap sesuatu yang berharga, dan karenanya pula, emosi gelap yang tak terelakkan. Ketakutan akan kehilangan, keputusasaan. Kecemasan.
Semua itu bertumpuk, dan beresonansi menyakitkan di dalam hatiku.
Lebih keras dan lebih ganas dari tetesan hujan, semuanya memukuli diriku.
Aku merasakan dorongan luar biasa untuk berteriak sekeras-kerasnya.
(Aku ini—)
Pada akhirnya, suaranya berhenti, dan musiknya berhenti, tapi hujannya tidak. Hatiku tetap kuyup, terus berdiri di bawah langit yang seolah menangis selamanya.
☂
Hujan membasahi gugusan gedung-gedung tinggi, dan ban mobil yang lalu-lalang di jalan raya besar menciprati genangan air di atas aspal.
Kami sedang dalam perjalanan pulang dari studio. Aku dan Yamada sama-sama diam. Kami masih tenggelam dalam sisa panas dan afterglow dari suara dan nyanyian yang baru saja dibawakan JUN, gema seperti denging telinga setelah live.
“…Rasanya seperti waktu yang ada di mimpi, ya,” gumam Yamada sambil memutar-mutar payung pastel birunya.
“Momen yang bikin nggak percaya aku benar-benar ada di tempat itu, di ruang itu.”
Aku juga merasakannya.
Kontur dunia terasa buram, seperti saat bangun pagi dari mimpi. Hatiku yang masih terasa terlepas dari tubuh seolah melayang di antara kenyataan dan mimpi.
Yang terus replay tanpa henti di kepalaku adalah dua lagu YOHILA yang barusan dinyanyikan dan dimainkan JUN.
“Sorrow & Love”
Lagu utama dari EP debut major mereka, lagu signature baru yang tak berlebihan kalau dibilang memuat seluruh pesona band YOHILA.
“Youth & Cyanide”
Track pembunuh dengan sound yang membuatmu membayangkan langit musim panas yang biru jernih namun beracun, lagu yang tidak biasa cerah untuk YOHILA, tapi liriknya tetap gelap dan dibubuhi racun khas JUN.
Keduanya luar biasa, dan bahkan sebelum sentuhan mixing dan mastering profesional pun sudah tampak seperti masterpiece yang ditakdirkan menjadi lagu YOHILA nomor satu dan dua favoritku.
Besok dua lagu sisanya direkam. Aku penasaran lagu seperti apa mereka nanti. Aku sudah tak sabar. Tapi,
“Aku tahu ini rakus, mikir ‘aku pengin lihat besok juga’…”
kami hanya diizinkan menonton pada hari pertama, hari ini saja.
Menurut Kotegawa, hari kedua akan susah karena beberapa petinggi label dan orang-orang promosi akan datang.
Sekali lagi, aku dibuat menyadari.
Betapa banyak orang yang terlibat dalam debut major YOHILA.
Bahwa pesona JUN, bakatnya, benar-benar menggerakkan orang-orang dewasa ini.
Betapa besarnya semua itu.
Tapi ini bahkan masih baru permulaan. Bahkan belum prolog.
Setelah melihat sesi rekaman hari ini, aku yakin mulai sekarang YOHILA, JUN, akan menggerakkan jauh lebih banyak orang lagi. Hati yang tak terhitung jumlahnya.
Dan saat itu, aku—
Masih bisakah aku tetap berada di sisinya?
Masih diizinkankah aku berada di sisinya?
Orang sepertiku—
“Yamada-san.”
Aku berhenti berjalan lalu memanggilnya.
Setelah rekaman vokal kedua lagu itu selesai dalam satu take, persis seperti yang dia deklarasikan.
Kurasa ini pertama kalinya aku bicara sejak berpisah dengan Junna, yang memilih mengurung diri di booth sampai detik terakhir demi menyempurnakannya, lalu aku pulang meninggalkan studio bersama Yamada.
Yamada berbalik, “Hmm?” Aku menatap matanya lurus-lurus lalu,
“…Kamu masih ada waktu setelah ini?”
kataku to the point.
“Aku butuh konsultasi cinta.”
☂
“Begitu ya,” kata Yamada, setelah mendengar ceritaku. Dia menyesap teh pir La France miliknya lalu mengaduk puree pir dengan sedotannya sambil tenggelam dalam pikirannya.
Sebuah kafe di Nakameguro. Di meja, ada juga sepiring crepe dengan mentega, gula melimpah, dan es krim vanila. Traktiranku, sebagai biaya konsultasi untuk Yamada.
“Jadi, dengan kata lain, Kurimoto-kun sekarang mikirnya,”
kata Yamada sambil memotong crepe dengan anggun memakai pisau dan garpu, lalu memasang ekspresi murung.
“‘Apa aku ini benar-benar pantas buat Junna…?’”
“…Iya.”
Aku memutuskan untuk tidak menyinggung bahwa cara dia menirukan aku sama sekali tidak mirip, dan bahwa tangan yang memegang pisau-garpunya ternyata tertukar, mungkin karena dia gugup di tempat stylish begini.
Aku membasahi lidah dengan lemonade-ku lalu, “Akhir-akhir ini, aku punya perasaan samar,”
aku mengembuskan napas dingin.
Misalnya saat kabar soal aku dan Junna menyebar ke seluruh sekolah dan jadi topik panas.
Misalnya saat aku mendengar murid-murid lain, terutama para cowok, membicarakanku.
Misalnya saat Junna, yang kupikir “ada di bawahku”, justru mendapat ranking satu seangkatan saat ujian.
Dan saat aku melihat Junna, yang dulu datang padaku untuk konsultasi karena tidak bisa menyatu dengan kelasnya, dipuji oleh teman-teman sekelasnya setelah aksi hebatnya di festival olahraga.
Dan saat aku melihat punggung Junna yang menghadap komputer, menghadap musiknya, di kamarnya sendiri.
Setiap kali itu terjadi, aku selalu dihantam perasaan bahwa jarak antara aku dan Junna sedang melebar.
Karena Junna terlalu terang.
Dan sebuah bayangan pun lahir di hatiku.
“Aku mulai merasa takut. Orang biasa sepertiku… apa bisa terus berada di sisinya… apa dia bisa terus merasakan hal yang sama terhadapku?”
Dan menyaksikan sesi rekaman JUN hari ini membuatku merasakannya lebih kuat lagi.
“…‘Biasa’?”
“Aku nggak punya kelebihan besar, tapi juga nggak punya kekurangan besar… mungkin begitu. Untuk diriku.”
jawabku pada pertanyaan Yamada.
Biar aku bicara sedikit soal diriku.
Aku lahir dan dibesarkan di keluarga kelas menengah.
Karena kedua orang tuaku bekerja, secara ekonomi kami cukup berkecukupan, tapi di sisi lain, interaksi antaranggota keluarga tidak terlalu banyak. Meski begitu, hubungan keluarga kami juga tidak baik ataupun buruk, cuma sangat normal.
Kemampuan akademikku cukup tinggi, tapi kemampuan fisikku di bawah rata-rata, dan aku memilih atletik dengan alasan pasif bahwa lari adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Catatan lari jarak menengahku juga biasa saja.
Cara hidupku juga tidak terlalu rajin maupun terlalu sembrono.
Aku tidak pandai bergaul, tapi bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali, dan aku tak pernah merasa kesepian atau tidak puas hanya karena temanku sedikit. Aku menjalani hidup yang cukup menyenangkan, dan cukup melankolis.
Kurasa kepribadianku agak sinis dan emosi negatifku sedikit lebih kuat daripada orang lain tapi juga tidak sampai level gangguan mental. Mental fortitude-ku juga kuat. Meski itu pun setengah-setengah.
Plus dan minus, kalau dijumlah hasilnya nol.
Tak ada satu pun hal yang bisa kukatakan tidak normal—atau istimewa.
Alasan kenapa aku suka hal-hal yang tidak biasa seperti depression rock mungkin karena aku ingin sedikit saja punya perbedaan dari orang lain.
Mungkin rasa “suka” itu sendiri tidak sepenuhnya murni.
“Karena aku cowok yang membosankan begini—”
“Wachaah!?”
Yamada mengeluarkan teriakan aneh lalu menjatuhkan pisau dan garpunya. Pikiran gelap berkabut yang tadi menyelimuti kepalaku langsung buyar.
“…………Permisi.”
Aku mengangkat tangan memanggil pelayan. Yamada terlihat malu.
“M-Maaf…”
“Nggak apa-apa. Kamu kidal, kan, Yamada-san? Dari tadi pisau dan garpumu kebalik.”
“…………Oh. Pantesan rasanya susah banget dipakai… Payah! Aku payah banget!”
Wajah Yamada memerah sampai ke telinga, lalu dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Aku tak bisa menahan tawa. Andai aku punya sisi kikuk-imut seperti itu.
“Jadi, ehm… aku tadi lagi bilang apa?”
Setelah kini memegang alat makannya dengan benar, Yamada menenangkan diri lalu melanjutkan.
“Karena terlalu membosankan, aku jadi lupa.”
“Y-Yah, terus terang banget… Jangan-jangan racun yang biasanya kamu simpan buat Youjirou malah bocor ke sini?”
“Canda, canda.”
Sambil membuatku melongo, Yamada santai saja melanjutkan makannya lalu berkata,
“Aku nggak merasa kamu itu ‘biasa’ atau ‘membosankan’, Kurimoto-kun. Dan kurasa Jun-chan juga nggak berpikir begitu. Soal kalian cocok atau tidak.”
Dia menjilat gula bubuk yang menempel di bibirnya, lalu
“Tapi yah, kalau kamu memang merasa begitu, Kurimoto-kun… berarti tinggal dicari, atau diusahakan, kan? Sesuatu yang bisa jadi sumber percaya dirimu!”
katanya sambil tertawa. Cerah seperti matahari, sulit dipercaya dari mantan gloomy otaku.
“Begitulah aku bisa berubah.”
☂
“Sumber percaya diri… ya.”
Malam itu juga. Aku berbaring di atas kasur di kamarku, memikirkan kata-kata Yamada.
Sesuatu yang bisa membuatku berdiri tegak dan dengan yakin berada di sisi Junna.
Apa ya itu? pikirku.
Hal pertama yang terpikir adalah perasaanku pada YOHILA, JUN, dan Junna, tapi itu terasa seperti fondasi yang rapuh.
Aku memang fans berat YOHILA, dan aku yakin rasa sukaku pada mereka tak kalah dari siapa pun, tapi itu saja mungkin masih belum cukup.
Bahwa tak masalah kalau aku ada di sisinya.
Bahwa aku layak ada di sisinya.
Aku merasa harus menemukan sesuatu yang kokoh, sesuatu yang bisa membuatku percaya kuat pada itu.
“………………”
Angin malam yang lembap masuk dari jendela kamarku yang terbuka. Furin logam yang kugantung untuk musim panas berdenting, suaranya bertumpuk dengan bunyi hujan deras di luar.
Bahkan belum sampai dua bulan, tapi kenangan itu sudah terasa seperti awal mula yang sangat jauh saat aku mengingatnya kembali.
Suatu hari di bulan Juni, di ruang AV sepulang sekolah pada hari hujan.
Di sudut dunia yang pudar menjadi kelabu, dia sendirian, melankolis—
diam-diam membalik halaman buku.
☂
Matahari pertengahan musim panas membakar kulitku seperti cap panas. Saat aku menatap langit, gradasi biru laut yang indah terbentang di atas sana. Hari yang sempurna untuk atletik.
“Hei, hei, Kurimoto.”
Latihan klub di libur musim panas. Saat aku sedang berlari memutari rute yang sudah ditentukan di dalam area sekolah, seorang anak laki-laki seangkatan dengan aura enteng berlari di sampingku dan mulai mengajakku bicara.
Nama belakangnya Nakano. Dia suka karaoke dan sering mengajak semua orang pergi setelah latihan klub.
“Belakangan kamu gimana?”
“Gimana apanya… biasa aja. Selain latihan, aku cuma mengurung diri di kamar ber-AC.”
“Sama Amamori-san?”
“…Sendirian,”
kataku sambil mendorongnya menjauh, lalu menambah kecepatan. Tapi Nakano keras kepala dan tetap mengejarku.
“Selama liburan musim panas ini kamu sama sekali nggak ketemu dia?” tanyanya. Waktu topik soal Junna pertama kali muncul, aku memang sempat dihujani pertanyaan seperti ini, tapi ternyata dia masih belum bosan juga.
Aku menyerah dan memperlambat lari. Kuputuskan mengobrol sebentar saja.
“…Pernah ketemu beberapa kali. Tapi belakangan nggak.”
Terakhir kali aku bertemu Junna adalah dua minggu lalu, saat datang menonton sesi rekamannya.
Sejak itu, frekuensi dan lamanya percakapan LINE kami juga menurun.
Alasannya, Junna sedang sibuk kerja.
Dan—
“Hmm. Eh, kamu kelihatan pucat deh?”
Nakano mengintip wajahku saat aku berlari sambil sedikit menunduk, lalu
“Kamu kelihatan nggak sehat, kayak nggak bertenaga. Dan kamu kurusan ya?” katanya dengan nada khawatir. Atau jangan-jangan dari awal dia memang bukan ingin mengorek soal Junna, tapi menyapaku karena memang khawatir aku kelihatan sakit.
Kalau begitu, dia orang yang lumayan baik juga.
“Jangan-jangan kamu dicampakkan!? Kamu dicampakkan Amamori-san, Kurimoto?” desaknya, wajahnya langsung cerah. Aku hampir menjegalnya, tapi berhasil kutahan. Aku tarik ucapanku tadi. Aku melotot pada Nakano dengan mata berlingkar hitam dan,
“…Aku belum dicampakkan.”
“Belum? Berarti kamu sedang bersiap bakal dicampakkan!?”
Wajah Nakano jadi makin bersinar setelah mendengar jawabanku. Kenapa kamu malah senang… Mungkin harusnya tadi memang aku jegal saja.
“Kalau saat itu tiba,”
Nakano mengacungkan jempol.
“Yuk karaoke! Kita nyanyi lagu galau putus cinta sampai puas. Kayak ‘Pretender’ dari HIGE DANdism, atau ‘Happy End’ dari back number.”
“‘Ame to Boku no Hanashi’ dari back number juga cocok sekalian—eh, nggak deng! Hari itu nggak akan pernah datang.”
Aku membuang kalimat itu dengan kasar, lalu mendadak mempercepat langkah. Aku meninggalkan Nakano di belakang.
Aku juga menyalip yang lain dan berlari paling depan.
Tak lama kemudian napasku mulai terengah, dan keringat mengucur deras. BPM jantungku meningkat, berdegup keras di telingaku.
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Sama seperti saat itu, di dalam badai.
Tapi—
“…hah… hah…”
langit sedang cerah, dan yang keluar hanyalah napas compang-camping berasa darah.
Tanpa kusadari, kakiku melambat, dan Nakano serta yang lain yang tadi kusalip mulai menyalipku balik.