Amamori Junna is Humid Volume 2 Chapter 6 — Akhir Musim Panas yang Terjalin Bersamamu

Perasaan itu sangat mirip dengan lari jarak jauh.

Kau berlari, dan terus berlari, menuju tujuan yang sudah ditetapkan.

Kau tak bisa berhenti di tengah jalan.

Kau juga tak boleh terlalu cepat, atau terlalu lambat.

Kau menjaga pace yang sesuai dengan dirimu, dengan tenang. Dengan mantap.

Kau menumpuk langkah-langkah kecil, lalu sedikit demi sedikit memangkas jarak yang terasa tak berujung itu.

Sambil melawan dirimu sendiri, yang terus tergerus setiap kali melangkah.

Kau hanya menatap ke depan—

dan terus bergerak.

“…!”

Begitu melewati garis finis, ketegangan yang terus menumpuk di dalam diriku langsung putus, dan tubuhku lemas seperti boneka marionette yang talinya dipotong. Rasa pencapaian dan rasa lelah.

Aku jatuh terduduk di kursi, mengembuskan napas panjang yang rasanya seperti jiwaku ikut keluar.

“S-Selesai…”

Jam di komputerku, di pojok kanan bawah layar, menunjukkan pukul lima pagi. Aku sendiri kaget sadar ternyata aku sudah bekerja tanpa henti lebih dari enam jam.

“………………”

Aku termenung cukup lama, lalu bangkit dan berjalan ke jendela.

Saat tirai kubuka, cahaya pagi yang menyatu dengan cahaya lampu kamar membakar retinaku dengan lembut.

Aku meregangkan tubuh, menarik napas dalam-dalam dari udara yang jernih.

Tulang-tulang di tubuhku berbunyi.

Suara burung berkicau. Kota yang masih setengah tertidur ini terasa sunyi, dan entah kenapa begitu murni.

Sepertinya hari ini akan jadi hari yang cerah dan indah.

“Kalau begitu.”

Aku menutup kembali tirai yang baru saja kubuka, lalu berbalik. Kumati­kan komputernya, dan—

“Waktunya tidur.”

Saat hendak memasang alarm, aku menyalakan ponselku—

“…!?”

Rasa kantuk, lelah, dan semuanya langsung lenyap.

Tersapu badai notifikasi di layar.

JUN: Shigure!

JUN: Aku nggak bisa tidur, jadi pengin ngobrol!

JUN: …Nggak bisa?

JUN: Shigure? Halo?

JUN: Aku tunggu sambil dengerin “Anminzai” dari yutori…

JUN: Shi—gu—re—!!

JUN: Kamu tidur ya…

JUN: Biasanya jam segini kamu masih bangun. Jangan-jangan ada apa-apa… aku khawatir…

JUN: Tengah malam. Shigure………

JUN: Nggak dibalas? Ya sudah.

JUN: Kalau kamu tidur, aku datang ke mimpimu saja.

Itu adalah pesan LINE yang masuk tepat setelah tadi malam aku mematikan ponsel demi fokus. Di akhir pesan ada stiker Geroppi sedang tidur dengan daun di atas kepala.

Aku buru-buru mengirim balasan.

Shigure: Maaf. Ponselku mati.

Setelah mengirimnya, aku baru ingat sekarang ini masih pagi sekali.

Sambil berpikir mungkin dia belum bangun, aku sedang mengetik pesan tambahan, “Masih pagi, jadi mungkin kamu masih tidur. Aku tadi begadang, tapi nanti kita ngobrol lagi setelah kamu bangun ya!”

Begitu pesanku ditandai sudah dibaca, telepon langsung masuk. Aku segera mengangkatnya.

“…H-Halo?”

“Higurye.”

Sepertinya dia memang baru bangun. Suara Junna terdengar pelo dan lembek.

“Funyu… pagi…”

“Pagi, si tukang tidur.”

“Kenapa ponselmu mati?”

Baru saja kukira dia masih ngantuk, eh tiba-tiba pertanyaannya keluar begitu jelas. Suaranya datar.

“Kamu… lagi ngapain sesuatu yang nggak mau aku tahu kalau aku menelepon?”

“Aku memang lagi ngelakuin sesuatu, sih, tapi—”

“………………”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan, ya?”

“…Hmm. Jadi bukan karena PR liburan? Kalau begitu—”

“Tunggu, memang itu yang kamu pikirkan!? PR… ya, mungkin mirip.”

“…Sesuatu yang mirip PR? Apa?”

“Rahasia.”

“Ehhh… aku jadi penasaran.”

Sambil mengobrol, aku melirik kalender. Agustus. Tanpa terasa, libur musim panas sudah masuk paruh kedua.

“Junna. Kapan kamu paling cepat kosong?”

“Hari ini.”

Jawabannya langsung. Aku mengangguk.

“…Oke. Kalau begitu, kita ketemu sore. Untuk tempatnya—”

“Rumahmu, Shigure.”

“………!”

Aku hampir menolak, tapi rasa bersalah karena membiarkan pesan-pesannya tak terbalas begitu lama, ditambah fakta bahwa kami belum bertemu sejak sesi rekaman itu, membuat mulutku tertutup.

Aku berpikir sebentar. Orang tuaku sedang bekerja, dan kakakku seharusnya ada kerja part-time sore ini. Berarti di rumah cuma aku sendiri. Kalau begitu—

“…Oke.”

“Eh?”

Junna malah kebingungan. Padahal dia sendiri yang usul.

“B-Boleh…?” tanyanya dengan hati-hati.

“Iya,” jawabku.

“Aku pikir kalau memang mau ketemu, lebih baik di tempat yang nggak terlalu banyak orang.”

“…!?”

Junna sampai terdiam.

Aku melanjutkan. Suaraku, dan tangan yang menggenggam ponsel, sama-sama mantap.

“Ada sesuatu yang mau kuberikan padamu.”

Aku sama sekali tak bisa tidur sampai jam yang dijanjikan.

Sore harinya, kami bertemu di pintu utara Stasiun Kichijouji, tempat yang sama dengan pertama kali kami jalan bersama.

Langit cerah. Junna memegang payung matahari warna hortensia, dan pakaiannya santai t-shirt raglan hitam, rok denim, dan sneakers putih. Di punggungnya ada tas Vivienne Westwood.

Aku yang datang lebih dulu mengangkat tangan dan berkata,

“Hai,” lalu mataku jatuh ke kakinya.

“…Kamu beli Chaosmiths itu?”

“Stan Smith. Itu bukan judul lagu ONE OK ROCK.”

Percakapan kami berjalan dengan peran terbalik seperti biasa, lalu Junna melihat ke kakiku.

“Aku pengin kembaran sama kamu, Shigure, makanya aku beli… tapi,” gumamnya pelan.

“Kenapa… malah sandal…”

“…Maaf. Soalnya ini di rumahku sendiri, jadi aku pilih yang santai.”

T-shirt putih lengan pendek, celana easy pants hitam, dan sandal olahraga polos. Dengan penampilanku yang seperti orang cuma keluar sebentar ke minimarket,

“Nggak apa-apa, kok.”

Junna tersenyum lalu berdiri di sampingku. Payung matahari yang langsung dibuka menahan cahaya musim panas.

“Artinya pertahananmu lengah. Ini saatnya aku menyerang.”

“…! Junna, jangan di bawah payung bareng—”

Saat aku berusaha menjauh karena tak tahan, Junna dengan cepat melingkarkan tangannya ke lenganku dan menarikku mendekat. Sesuatu yang lembut menyentuh bisepku, dan kata-kata bersama ludahku ikut tertelan.

Junna langsung menekan lebih jauh.

“Aku mandi sebelum berangkat dari rumah… ya?”

Suara dan aroma manis, seperti es krim yang meleleh karena panas.

Mungkin karena sudah lebih dari dua minggu kami tidak bertemu. Hari ini, Junna lebih agresif dari biasanya, benar-benar tipe infighter. Kalau aku lengah sedikit saja, habislah aku. KO seketika.

“Aku senang sekali…”

Junna menyandarkan kepala ke bahuku dan bergumam penuh harap.

“Soal hadiah darimu, Shigure.”

“………………Ini apa?”

Suara Junna dingin dan kering. Tak ada emosi di matanya saat dia menatapku, ekspresinya kosong. Padahal beberapa saat yang lalu,

“Jadi ini rumah keluargamu, Shigure. Rumah yang bagus.”

“Aku juga pengin tinggal di rumah begini… bukan sekarang sih, tapi nanti.”

“Nama anjingmu Saucy? Dari band Saucy Dog?”

“Ah!? J-Jangan dibuka kandangnya! A-Aku takut makhluk hidup!”

“Ayo ke atas. Ke kamarmu, Shigure. Kamu sudah masuk ke kamarku, jadi adil kalau sekarang giliranku.”

“Wah. Sederhana, tapi kamar yang bagus. Ada poster YOHILA di dinding… sama poster ENDY. Kamu selingkuh dua arah?”

“Aku maafin kalau kamu biarin aku nyemplung ke kasurmu.”

“…………Hah. tarik napas… Funyuu………… aku pengin terus begini selamanya.”

rasanya seperti semua antusiasmenya tadi bohong belaka.

Di kamarku. Junna duduk di zabuton yang kupakai sebagai kursi lesehan, sambil memelototi benda di atas meja rendah. Gelas mugicha-nya berkeringat.

Aku duduk seiza di seberangnya dan menjawab.

“Itu novel.”

Aku meluruskan punggung dan menatap mata Junna lurus-lurus.

“Novel panjang original pertama yang pernah kutulis.”

Aku mendeklarasikannya.

Naskah cetaknya total 154 halaman. Kira-kira setebal satu buku bunko.

Junna mengangkat tumpukan kertas tebal yang berat itu dengan kedua tangan, yang dijepit double clip, lalu memiringkan kepalanya.

“…Ini yang mau kamu kasih ke aku, Shigure?”

“Iya.”

Saat aku mengangguk, Junna bertanya lagi.

“Kamu mau aku membacanya?”

“…Iya.”

“………………Kenapa?”

Setiap pertanyaan disertai kepala yang miring ke kanan dan ke kiri, lalu aku pun mengatakan apa yang selama ini kupikirkan.

“Aku sudah lama khawatir. Tentang apakah aku ini orang yang pantas berada di sisimu, Junna… apakah aku memang orang yang layak berdiri di sampingmu. Soalnya aku nggak punya sesuatu yang istimewa. Aku terus mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa begitu.”

“…………”

Junna diam. Tak ada ekspresi, tak ada reaksi.

Tapi dia terus menatapku. Seolah berkata, lanjutkan.

Aku memejamkan mata lalu mengembuskan napas.

“Aku terus mencari, terus mencari… dan yang kutemukan di ujung pencarian itu adalah ‘novel’. Hobi lainku selain musik. Juga alasan kenapa aku bisa bertemu denganmu, Junna.”

Musiklah yang menghubungkan hati kami, tapi sebelum itu, novel yang terlupakan itulah yang mempertemukan kami.

“Aku merasa jawabannya ada di sana. Jadi—”

jadi aku memutuskan untuk mencoba menulis satu.

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuan sambil menatap tumpukan kertas yang kuberikan pada Junna.

“Genrenya memang beda, tapi kupikir kalau aku juga menciptakan sesuatu, mungkin aku bisa lebih mengerti dirimu, Junna… mungkin aku bisa sedikit lebih dekat denganmu. Setelah itu, aku cuma tinggal mati-matian. Mati-matian dan melemparkan diriku ke proses menulis.”

Aku menghadap komputer, sama seperti Junna di kamarnya, lalu mengetik liar di keyboard laptop.

Begitulah karya kreatif pertamaku dimulai, dan itu seratus kali lebih berat daripada yang kubayangkan.

Susah. Menyakitkan. Aku ingin menyerah.

Tapi alasan kenapa aku bisa terus maju adalah karena keinginanku menemukan “sesuatu yang spesial” dalam diriku, keinginanku berdiri di samping Junna dan juga, kurasa, karena percikan panas yang kuterima dari musik Junna, dari musik YOHILA.

Inspirasi yang diberikan lagu dan liriknya. Dengan itu sebagai penuntun, aku menulis cerita ini.

Di hari-hari saat tak ada latihan klub, dari pagi sampai malam. Sambil mengorbankan tidur, aku terus menulis tanpa henti.

“…Jadi itu alasan belakangan ini kamu nggak terlalu memperhatikanku?”

“Iya, maaf… aku benar-benar pengin menyelesaikannya sebelum libur musim panas berakhir. Semacam PR. Rasanya kalau ini belum selesai, aku nggak bisa maju… Ini sesuatu yang benar-benar harus kulakukan, supaya aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku pantas berdiri di sisimu, Junna.”

“Hmm…”

Reaksi Junna singkat. Tapi aku punya keyakinan.

Aku yakin karya ini akan mengguncang hatinya.

Bahkan mimpiku mulai membesar sampai menang penghargaan pendatang baru, jadi hit besar, lalu diangkat ke film. Dan kalau YOHILA bisa membawakan theme song-nya, itu pasti yang terbaik. Dengan begitu, aku akan pantas berada di sisinya. Jadi,

“Bacalah.”

Aku membungkuk ke depan. Tadi malam aku begadang, tapi sekarang aku sama sekali tak mengantuk. Hatiku melayang karena euforia telah menyelesaikan novel ini.

Aku menatap mata Junna yang dingin seperti danau beku, lalu mengembuskan napas panas.

“Karya pertama novelis Kurimoto Shigure, ‘Kisahmu yang Mekar’ aku ingin kamu jadi pembaca pertamanya, Junna!”

“Shigure-sensei.”

Sekitar tiga jam setelah aku mulai setengah melamun mengerjakan gunung PR musim panas yang menumpuk. Junna, yang sejak tadi diam membaca novelku sambil beberapa kali berganti posisi di atas kasur,

“…Aku selesai membacanya,” katanya sambil duduk tegak dan memanggilku.

“O-Oh…”

Aku meletakkan pen, meluruskan punggung, dan menyiapkan mental.

Junna yang duduk di tepi kasur tetap tanpa ekspresi seperti biasa. Matanya tampak sayu, dan ada sedikit kelelahan di sana. Di pangkuannya ada naskah yang sudah selesai dibaca.

Aku menenangkan jantungku yang berdebar, menarik napas dalam, lalu bertanya.

“Gimana?”

“…………”

Junna tidak langsung menjawab.

Dia menunduk, lalu setelah jeda seolah sedang memilih kata,

“Luar biasa.”

“…!”

“Luar biasanya…”

Dia menatapku dan berkata,

“membosankan.”

“…!?”

Adegan impian yang tadi kubayangkan aku dan Junna membuka buku bunko dengan pita bertuliskan “Film Adaptation Confirmed!”, sambil dia memperdengarkan demo baru buatannya—pecah berkeping-keping.

“…………………………..Maaf. Barusan kamu bilang apa?”

“Membosankan. Luar biasa, luar biasa membosankan.”

“…………Hmm?”

Aneh. Sepertinya aku mendadak susah mendengar. Apa aku jadi tuli gara-gara terlalu banyak denger musik?

Saat aku membeku dengan mata terbelalak, Junna melanjutkan tanpa ampun.

“Genrenya semacam supernatural? Romance? Cerita tentang cowok dan cewek yang punya ‘bunga’ di hati mereka, bunga yang mekar dengan memakan ingatan dan emosi manusia… idenya sih, yah, menurutku nggak buruk. Cara tiap kemampuan didasarkan pada sifat dan bahasa bunga itu menarik.”

“…! I-Iya, kan!? Menarik, kan!”

“Tapi sisanya sampah.”

“………………”

Begitu pendengaranku kembali, jantungku langsung dibunuh.

Aku membeku lagi.

“Maaf. Aku lupa membungkusnya dengan vibrato.”

Aku sudah tak punya ketenangan buat menimpali bahwa yang benar itu oblaat.

(TL/N: Oblaat adalah lembaran tipis yang bisa dimakan untuk membungkus obat pahit di Jepang, dan secara kiasan berarti “membungkus” kata-kata kasar supaya terasa lebih halus.)

“Biasa saja. Selera kita hampir selalu cocok dalam segala hal, Shigure… dan aku ini tipe cewek ‘Shigure selalu benar’, tapi bahkan untukku pun mustahil memuji ini sebagai ‘menarik’. Lebih spesifiknya—”

Selama kira-kira sepuluh menit berikutnya, aku sama sekali tak bisa mendengar apa pun.

“—kurang lebih begitu. …Shigure? Shigure, kamu dengar?”

Pipiku sedang ditepuk-tepuk. Ternyata Junna sudah turun dari kasur dan kini berdiri di depanku, mengintip wajahku. Aku menatapnya dengan mata kehilangan fokus lalu,

“Iya…”

“Kamu baik-baik saja? Mau susu?”

“Iya…”

“Rusak.”

Saat aku menjawab dengan suara kosong, Junna menghela napas lalu,

“…Shigure. Ya, ya.”

dia mulai menepuk-nepuk kepalaku.

“Ya, ya, Shigure. Maaf. Aku kebanyakan ngomong, ya?”

Hatiku yang tadi mati diracun Junna kembali hidup, dan cahaya pun kembali ke mataku.

“Maaf. Aku sudah nggak apa-apa sekarang.”

“Mm.”

Junna menarik tangannya. Aku mengembuskan napas panjang.

Jadi ini maksud Akagi waktu bilang “kalau karya seseorang terluka, rasanya sama seperti jiwanya sendiri yang terluka,” ya. Aku nyaris nggak bisa kembali dari itu, tahu?

“Aku kira… aku sudah menemukannya.”

Bahkan di telingaku sendiri, suaraku terdengar lemah dan menyedihkan.

“Ternyata bukan permata, cuma batu ya.”

Sekali lagi aku teringat kata-kata Akagi di mobil waktu itu, dan aku pun tertunduk lesu.

“…………Shigure,”

kata Junna setelah keheningan pendek.

“Kamu mau jadi novelis?”

“…Aku nggak tahu.”

Aku menggeleng lemah lalu bergumam.

“Aku cuma… pengin menemukan apa yang kumiliki… apa yang ‘istimewa’ dariku. Supaya bisa berdiri di sampingmu, Junna—”

“Berdiri di sampingku?”

“Iya.”

“………………”

Keheningan yang panjang. Tiba-tiba, kehadiran Junna menjauh.

“Shigure.”

Aku mengangkat wajah mendengar suaranya, dan kulihat dia sedang duduk di tepi kasur.

Dia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

“Sini. Ke sini.”

“Hmm. O-Oh…”

Aku berdiri dari kursi lesehan dan duduk di sampingnya.

Pada saat itu juga, Junna menutup jarak dan—

“Kita memang berdiri berdampingan.”

katanya, sambil menempelkan bahunya padaku.

“…Nggak,” aku menggeliat.

“Bukan itu maksudku…”

“Itu tepat sekali maksudku.”

Suara dan kata-kata Junna jernih.

Jernih, dan lurus.

“Kalau kamu memutuskan dengan kehendakmu sendiri, dengan dorongan kuat dari dalam dirimu, bahwa kamu memang ingin jadi novelis, maka aku nggak akan menyangkal itu. Menurutku kamu harus mengejarnya, tanpa patah semangat hanya karena kritik dan penilaian orang lain… tapi,”

Junna mendekat dan menatap mataku.

“kalau alasanmu adalah yang barusan kamu bilang, maka kamu nggak perlu mengejar itu. Karena meskipun kamu nggak jadi novelis, kamu sudah spesial, Shigure.”

“B-Bukan begitu—”

“Kalau kamu bilang nggak punya, dengarkan ini.”

Sambil berkata begitu, Junna menyelipkan satu earpiece ke telingaku. Yang berkabel.

Lagu pun mulai mengalun dari sana.

“…! Ini—”

“Master recording ‘Sorrow & Love’ yang kami rekam waktu itu.”

Kami berdua, Junna dan aku, mendengarkan musik itu dengan satu telinga masing-masing.

“Gimana?”

“…Lagu yang bagus.”

Itu kesan jujur dari lubuk hatiku.

“Sangat…”

Aku terguncang oleh musik ini. Sampai berpikir, apa orang sepertiku layak berada di sisi orang yang bisa menciptakan sesuatu seindah ini.

“Nah, kan?”

Junna setuju. Lalu,

“Itu ‘sesuatu yang spesial’-mu, Shigure.”

katanya sambil tersenyum. Kepadaku yang terpaku,

“Aku sudah bilang, kan? Itu suara yang kamu berikan padaku. Aku nggak menciptakannya sendirian. Lagu ini, karya ini, lahir karena kamu ada di sana.”

dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya sekarang sudah sangat jelas.

Ya. Sesuatu yang sudah sangat jelas.

“Waktu aku tanya alasanmu…”

Junna melirik naskah yang tergeletak di atas kasur lalu melanjutkan.

“kamu bilang sesuatu seperti, ‘kalau aku juga menciptakan sesuatu, mungkin aku bisa lebih mengerti dirimu, Junna… mungkin aku bisa sedikit lebih dekat denganmu.’ Tapi kamu sendiri sudah lama menciptakan sesuatu, Shigure.”

Musik itu terus mengalun.

Hal yang menghubungkan kami berdua.

“Karena kita sudah menciptakan lagu YOHILA yang baru bersama-sama.”

Sesuatu yang kami tenun dan kami buat bersama.

“Junna…”

Duduk rapat bahu menempel, akhirnya aku mengerti. Apa yang selama ini mati-matian kucari, kukejar, ternyata sudah ada di sana sejak awal.

“Ada satu hal yang kamu bilang tadi yang bikin aku benar-benar senang, Junna.”

Pemandangannya berpindah dari kamarku ke ruang tamu. Kami duduk berdampingan di meja, makan fruitcake yang tadi dibeli dalam perjalanan ke sini sambil mengobrol.

Junna makan rasa peach, aku campur buah. Junna yang tadi memasukkan garpunya ke mulut dan menyipitkan mata penuh bahagia, memiringkan kepala dengan ekspresi “?” lalu menoleh padaku.

“Waktu kamu baru mulai masuk sekolah seperti biasa, kamu pernah datang padaku buat minta saran, kan? Soal nggak bisa dapat teman, nggak bisa ngobrol sama anak-anak sekelasmu.”

“Iya. Itu setelah sekolah tanggal 4 Juli, kan?”

“…O-Oh.”

Aku sendiri tak ingat tanggal pastinya. Tapi—

“Waktu itu, kamu bilang ke aku ‘Tanpa kamu, Shigure, aku nggak bisa apa-apa.’

Kata-kata dari hari itu masih terpatri jelas dalam ingatanku.

“Waktu dengar itu, aku berpikir, ‘aku harus ada untuknya,’ dan aku senang karena rasanya kamu benar-benar membutuhkan aku… tapi,”

Junna dengan cepat akrab dengan Yamada sampai mereka saling memanggil nama depan, dan dia juga baik-baik saja saat mengobrol dengan Youjirou tanpa aku ikut terlibat. Dia jadi ranking satu di ujian, dan jadi bintang di festival olahraga—lalu lewat semua itu, dia memperdalam hubungan dengan teman-teman sekelasnya.

Dan di sesi rekaman, dia juga sama sekali tak mundur di hadapan para profesional dewasa, dengan percaya diri menyampaikan pikirannya sendiri. Di wilayah yang tak bisa kumasuki.

Itu menyilaukan, dan jauh.

“Kalau tanpa aku pun kamu sama sekali nggak ‘nggak bisa apa-apa’, kan, Junna? Saat kupikir begitu, aku mendadak jadi cemas.”

Karena alasan kenapa aku bisa dekat dengan Junna pada awalnya cuma karena kebetulan aku meninggalkan barang di hari hujan sepulang sekolah, kebetulan selera kami mirip, dan kebetulan aku sudah lebih dulu mendengarkan musikmu, musik YOHILA.

Semuanya cuma kebetulan. Karena itu—

(Kalau hal-hal sepele yang mempertemukan kami, apa berarti hal-hal sepele juga bisa memisahkan kami…?)

pikiran gelap itu tiba-tiba muncul, dan kurasa aku mati-matian mencari sesuatu untuk menekannya, agar itu tidak terjadi.

Singkatnya, aku kurang percaya diri. Percaya diri untuk berpikir bahwa aku adalah satu-satunya untuknya.

“Aku memang begitu, kok,” kata Junna sambil mengintip wajahku yang tertunduk.

“Tanpa kamu, Shigure, aku benar-benar nggak bisa apa-apa… Soalnya,”

dia menatapku dengan pandangannya yang bening, lalu—

“tanpa kamu, Shigure, aku mungkin sampai sekarang masih sendirian, masih pergi ke UKS, dan masih mengurung diri di duniaku sendiri. Kamu yang menggandeng tanganku dan membawaku keluar. Jadi, aku nggak akan melepasnya.”

gumamnya, lalu menggenggam tanganku erat.

“…Iya.”

Aku membalas genggamannya, seerat itu pula.

“Sekarang aku sudah tahu.”

Musik yang tadi dia perdengarkan padaku musik kami membuatku benar-benar merasakan ikatan yang pasti. Kecemasan gelap dan berisik itu sudah lama terusir.

“Shigure.”

Junna mendekatkan mulut ke telingaku dan berbisik.

Dengan napas manis yang masih berbau cake.

“Hancurkan aku lebih lagi.”

dia berkata.

“Bikin aku jadi cewek nggak berguna, nggak berguna sekali, yang nggak bisa hidup tanpa kamu.”

“…! Junna—”

“Sebagai gantinya,”

Dia menaruh tangan di dadaku, seolah memastikan jantungku yang berdebar, lalu tersenyum lembut,

“aku juga akan membuatmu nggak bisa hidup tanpaku.”

Suara dan ekspresinya sangat memikat, sampai membuatku gemetar.

“…!?”

Aku refleks ingin menjauh, tapi tangan kami yang saling menggenggam erat tak mengizinkannya. Senyum Junna lenyap, dan wajahnya berubah serius.

“Jadi,”

wajah Junna semakin dekat. Aku memejamkan mata.

………………………

“Ayo kencan setiap hari.”

Tapi sensasi yang kuharapkan tak kunjung datang, dan yang kuterima justru kata-kata.

Aku membuka mata dan menatap Junna. Junna yang sudah duduk tegak lagi di kursinya sambil memakan cake peach-nya,

“Setiap hari, sampai libur musim panas habis.”

“…S-Setiap hari?”

“Iya.”

Dia mengangguk dengan wajah datar. Tapi pipinya merah, dan telinganya yang putih pun bersemu pink.

“Itu hukuman karena kamu selingkuh dengan novel. Buat menebusnya.”

Libur musim panas tinggal sekitar dua minggu lagi. Memang benar aku terlalu sibuk dengan novel sampai mengurangi waktu untuk Junna, jadi aku pun menurut dengan patuh.

“Oke.”

“…Dan,”

Saat aku menyiapkan diri untuk apa lagi yang akan dia minta, Junna menjilat whipped cream di bibirnya lalu—

“Kue-mu, Shigure. Kasih aku satu gigitan… bilang ‘aaah’?”

dia membuat permintaan yang sederhana, dan benar-benar terlalu imut.

Aku tersenyum kecut lalu membawa cake yang penuh buah seperti kiwi, stroberi, dan jeruk mandarin itu ke mulut Junna.

Ekspresi datar Junna meleleh seperti sponge cake yang lembut.

“Mm. Enak… seratus gigitan lagi.”

“Nggak sebanyak itu. Dasar rakus.”

Setelah aku keluar rumah sebelum kakakku pulang dan mengantar Junna ke stasiun.

Mulai hari berikutnya, sesuai janji, aku menghabiskan hampir seluruh sisa libur musim panas bersama Junna. Bahkan di hari-hari saat ada latihan atletik saat Obon, kami tetap bertemu di Ikebukuro begitu latihan selesai.

“Maaf bikin nunggu, Junna. Hari ini kita ke mana?”

“Pertama, makan.”

“Benar. Habis itu?”

“Karaoke.”

“Oh, bagus. Kalau dipikir-pikir, kita memang baru sekali ke sana.”

“Aku juga mau main game.”

“Game center? Aku jago main UFO catcher. Kalau ada yang kamu mau, serahkan padaku.”

“Terus, aku juga mau nonton film.”

“Bioskop? Lagi tayang apa sekarang… Tapi kamu lumayan rakus juga.”

“Terus, mandi.”

“—Hah? Um… aku bau keringat ya? Kupikir tadi sudah kuurus.”

“Ada tempat yang bisa melakukan semua itu sekaligus.”

“…Dan itu?”

“Love hotel.”

“Ditolak.”

“…Hmph.”

Di hari-hari saat tak ada latihan, biasanya kami ada di salah satu rumah kami,

“Shigure. Hari ini, pokoknya—”

“PR, PR! Kalau begini kita nggak bakal selesai…”

“Itu karena kamu sibuk nulis novel. Novel busuk yang membosankan.”

“…Tahu nggak. Bisa nggak kamu berhenti mengorek luka yang belum sembuh total?”

“Kalau begitu, ajari aku belajar. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Kamu, ranking satu seangkatan, mau diajarin aku? Apa itu?”

“Pendidikan kesehatan dan jasmani—”

“Kita nggak punya PR buat pelajaran itu.”

“Hmph!”

dan kami terus membereskan gunung PR musim panas yang menumpuk.

Lalu, di hari-hari saat kami harus masuk sekolah—

“Hei, Shigure.”

“Lama tak jumpa, Youjirou. Kamu jadi lumayan gosong, ya?”

“Aku menikmati musim panas, ke pantai bareng cewek, barbecue, macam-macam. Tadi aku sempat mikir mau ngajak kamu juga, Shigure—”

“Kuzujirou-san, aku ada permintaan. Tolong putuskan hubungan pertemananmu dengan Shigure.”

“Iya. Aku memutuskan tidak mau, karena aku sudah tahu Amamori-chan bakal ada di sana. Jadi tolong izinkan kami tetap berteman!”

“Junna… kenapa kamu ada di kelas kami pagi-pagi begini?”

“Untuk menemuimu, Shigure. Dan juga… Haruka-san belum datang?”

“Haruka sepertinya absen hari ini.”

“—Absen? Yamada-san?”

“Katanya lagi nggak enak badan. Tapi kayaknya pura-pura… tahu sendiri kan, orang bodoh nggak masuk angin? Kemungkinan besar dia belum menyelesaikan PR musim panasnya sama sekali.”

“Begitu… sayang sekali. Tadinya aku mau mengajaknya karaoke sepulang sekolah.”

“Oh, kedengarannya hebat! Aku akan semangat mewakili jatah Haruka juga!”

“Oh, maaf. Kuzujirou-san sendirian no-go buatku.”

“Hah… T-Tidak mungkin!”

“Turut berduka, Youjirou.”

dan setelah pertukaran kata itu, aku dan Junna pergi karaoke berdua saja.

Sebagai catatan, saat kuhubungi, ternyata Yamada memang, persis seperti dugaan Youjirou, pura-pura sakit, dan dia frustrasi berat karena tak bisa karaoke bareng Junna tapi, lagi-lagi persis seperti dugaan Youjirou, PR musim panasnya juga benar-benar kacau, jadi kami memutuskan akan pergi lagi setelah liburan selesai.

Dan dalam perjalanan pulang hari itu.

Sinar matahari yang terik mulai melunak, dan langit sebelah barat di sore musim panas berubah jadi gradasi biru keunguan sampai merah muda, seperti hortensia.

“…Shigure.”

Di kota yang mulai senja, Junna mendadak berhenti berjalan.

Bayangan kami berdua memanjang di atas aspal. Dia meremas tanganku lalu menatapku ke atas dan berkata,

“Aku mau melakukan sesuatu yang terasa musim panas.”

Kalau memikirkan “hal yang terasa musim panas”, ada banyak sekali yang langsung terlintas.

Bermain di laut, pergi ke kolam renang, festival musim panas, barbecue, camping, memecahkan semangka, nagashi-soumen… dan masih banyak lagi.

Di antara semua itu, kalau aku ditanya mana headliner nomor satunya, aku akan menjawab begini.

“Festival musim panas.”

Maka, di akhir Agustus, saat libur musim panas hampir berakhir, aku membuat janji dengan Junna untuk pergi ke festival kembang api.

Festival kembang api Edogawa.

Biasanya diadakan di awal Agustus, tapi tahun ini tanggalnya berbeda, dan katanya akan diselenggarakan di Sabtu keempat bulan Agustus yakni akhir pekan ini.

Seolah dunia sedang membantu kami apa itu terlalu optimistis?

(…Sudah berapa tahun ya sejak terakhir aku pergi ke festival kembang api?)

Di dalam kereta yang bergoyang, dibalut yukata yang terasa asing di tubuhku, aku mengingat festival kembang api yang dulu kudatangi bersama keluargaku saat masih SD. Sebenarnya kami bisa saja datang dengan pakaian biasa, tapi karena ini momen spesial… kami sengaja menyisihkan satu hari persiapan dan memutuskan memakai yukata.

Meski begitu, aku ini tipe orang yang tidak punya preferensi khusus soal baju.

Karena jadwalku tak cocok dengan stylist pribadiku, Youjirou, akhirnya aku membeli yang murah dari internet. Yukata-nya polos sederhana berwarna abu tinta muda, obi perak abu-abu model velcro. Satu set murah yang sudah termasuk geta, kinchaku, dan kipas.

…Karena itu terdengar sedikit terlalu menyedihkan, aku setidaknya mengganti kipasnya dengan kipas kertas elegan warna indigo dari toko kipas khusus, juga beli online.

Kupikir kipas memang akan terpakai saat hari-hari panas, jadi tak masalah keluar sedikit lebih banyak untuk itu.

Di kereta ber-AC, aku mengeluarkan kipas mahal itu dengan penuh gaya dan mengipasi diri.

Karena dingin, aku buru-buru melipatnya kembali.

(Terakhir kali ke sana, yang kuingat cuma capek gara-gara lautan manusia…)

Festival kembang api di daerah metropolitan Tokyo memang selalu penuh sesak. Katanya padatnya sudah setara kereta jam sibuk, dan beli makanan di yatai pun sulit.

Kupikir kalau datang lebih awal mungkin akan sedikit lebih lengang, tapi semakin dekat ke stasiun tujuan, jumlah orang yang memakai yukata justru makin banyak—

Pukul empat sore. Stasiun Ichikawa, tempat kami turun, sudah cukup ramai. Kerumunan orang ber-yukata warna-warni itu seperti taman bunga.

Saat kucek LINE, ada pesan dari Junna.

JUN: Aku sudah di sini, tapi manusia musim panasnya gila banyak.

JUN: Bubar! Menyebarlah, manusia-manusia musim panas.

Shigure: Aku juga baru sampai, tapi kamu dengerin Yabai T-Shirts Yasan sambil pakai yukata?

Aku mengirim balasan itu, lalu baru mau mulai mencari Junna namun kemudian berhenti. Aku tak perlu mencarinya, karena mataku langsung tertarik padanya.

Di area gerbang tiket stasiun, tempat banyak orang sedang bertemu. Di salah satu sudut, ada setangkai hortensia yang mekar di luar musim.

“…………”

Motif hortensia pada kain berwarna ecru. Obinya ungu pucat, dan obi-himo hias dengan charm bunga begitu menonjol. Geta-nya kayu putih, dengan tali warna wisteria. Di ujung kakinya tampak pedicure biru keunguan.

Rambutnya ditata sanggul ke atas, dan inner color warna hortensia yang cerah itu jadi makin menonjol. Dia tidak memakai headphone.

“Junna.”

“Mm.”

Junna yang tadi menunduk mengangkat wajah. Pada saat itu, mata sayunya membelalak, lalu—

“Shigure, kamu pakai yukata…”

“Yah, kita sudah janji, kan. Kalau setelah janji pakai yukata aku malah datang pakai t-shirt atau tank top, itu baru kacau.”

Di depan Junna yang masih berkedip-kedip, aku memutar pergelangan tangan lalu membuka kipasku dengan gaya, dan mulai mengipasi diri.

“C-Cu—” suara Junna tersangkut di tenggorokan.

“Imut! Kamu yang pamer kipas mahal satu-satunya yang mungkin kamu punya, dengan gerakan yang pasti kamu latih mati-matian di rumah itu, imut banget!”

“Ini bukan lagi memalukan, ini sudah murni bikin mati malu! Kamu mau membunuhku dengan rasa malu?”

“Canda. Kamu keren, Shigure. Paling keren di dunia.”

“Y-Yah, itu juga cukup buat membunuhku dengan jenis malu yang lain… aku bakal mati karena malu.”

Aku menutupi senyumku yang kebobolan dengan kipas, lalu kembali menatap yukata Junna. Dari kepala sampai kaki, lekat-lekat. Dalam diam. Lalu, Junna mulai gelisah dan bergerak-gerak kecil.

“S-Shigure. Bilang sesuatu.”

“…………”

“Hei. Jangan cuma melotot kayak lagi menjilat aku, kasih komentarmu.”

“…………”

“Ugh. Hei, kubilang!”

“Imut.”

Aku akhirnya bicara, tepat saat ekspresi datar Junna nyaris hancur dan dia benar-benar sudah di ambang batas.

“Paling imut di alam semesta.”

“…Kamu mau membunuhku dengan kebahagiaan?”

Pada Junna yang kini menatapku dengan wajah merah padam, aku tertawa dan berkata,

“Balas dendam.”

Lalu aku menoleh ke benda yang dibawanya.

“Eh, kamu bawa payung?”

“Iya. Katanya malam ini mungkin hujan… jadi buat jaga-jaga? Aku beli yang cocok sama yukataku. Bisa jadi payung matahari juga.”

Setelah mengatakan itu, Junna membuka wagasa warna biru keunguan.

Tentu bukan yang asli, tapi payung vinyl bergaya wagasa, dan itu benar-benar cocok dengan yukatanya.

Ramalan cuacanya cerah sesekali berawan.

Saat ini memang sedang berawan, jadi tidak perlu payung matahari. Tapi,

“Aku yang pegang.”

Aku melipat kipasku lalu menyelipkannya ke obi, kemudian mengambil payung itu dari tangan Junna. Memang aku sadar akan tatapan orang-orang di sekitar, tapi keinginanku untuk membuat Junna senang jauh lebih kuat.

“…Mm. Makasih, Shigure.”

Kami pun mulai berjalan, merapat di bawah payung. Senandung Junna menumpang pada angin, bercampur dengan hiruk-pikuk antusias orang-orang dan bunyi ringan geta yang beradu.

Untuk beberapa waktu, kami hanya mengikuti arus manusia yang bergerak lambat.

Padahal waktu kembang apinya masih hampir tiga jam lagi, tapi tepi sungai yang kami datangi sudah penuh sesak oleh manusia. Deretan papan-papan yatai warna-warni memenuhi tanggul, dan antrean panjang terbentuk di depan masing-masing.

“Sudah kuduga sih, tapi ini gila…”

“…Kalau kita terpisah, aku bakal mati.”

Junna yang menempel di lenganku seperti pelampung gemetar.

Sebagai catatan, sisi seberang sungai itu Edogawa di Tokyo, sementara sisi ini Ichikawa di Chiba, dan total pengunjung dari kedua sisi katanya mencapai 1,4 juta orang. Bahkan festival rock terbesar di Jepang pun per hari cuma sekitar 50.000 orang, jadi ini memang skalanya luar biasa.

“Junna, di yatai kamu mau makan apa?”

Karena manusianya terlalu banyak, kami tak mungkin asal beli semua yang terlihat menarik, jadi kami memutuskan mempersempit pilihan. “Hmm,” Junna berpikir sementara aku membuka aplikasi memo di ponsel.

“Apel karamel. Aku suka Ringo-san, soalnya.”

“Kamu sempat bilang itu waktu pertama kali kita ketemu… baiklah, mari nikmati sebuah ‘festival yang panjang sekaligus singkat.’ Apa lagi?”

“Chocolate banana atau frankfurter. Atau lebih tepatnya, aku mau kamu yang nyuapin.”

“Jangan lakukan itu.”

“…Jahat.”

“Mungkin kakigori? Kamu mau rasa apa?”

“Aku nggak suka melon atau lemon.”

“Jangan ngomong kayak itu nama duo musik. Kayaknya aku mau Blue Hawaii.”

“Bagus. Terdengar seperti masa muda. Kalau begitu, aku mau ‘Purple Mukade’.”

“Itu lagu Syrup16g… Ada lagi? Kamu pengin makan apa? Yang agak seperti makanan berat.”

“Mac and cheese dengan makaroni bentuk pensil, atau melon pan yang enaknya bikin gila.”

“Aku cukup yakin, nggak, malah seratus persen yakin, nggak ada yatai dengan nama menu begitu.”

Maka kami pun mengobrol.

Setelah membeli semua yang kami inginkan, kami menuju tempat kami akan menonton kembang api.

Tempat duduk berpasangan berbayar yang sudah dipesan.

Aku sempat heran kami bisa mendapatkan itu, padahal baru memutuskan pergi belakangan… tapi ternyata Akagi yang memberikannya.

“Katanya tadinya dia mau pergi sama Kotegawa-san, tapi jadwal mereka nggak cocok. Dia kasih ini waktu menemaniku beli yukata.”

kata Junna saat kami duduk di atas plastik biru di lereng tanggul.

Letaknya di ujung, dan pemandangannya bagus sekali. Ini spot lumayan mantap, ya.

“…Kamu disayang banget.”

“Hm?”

“Nggak, nggak apa-apa.”

Bagian soal jadwal mereka nggak cocok itu mungkin bohong. Aku mengucapkan terima kasih dalam hati pada mereka berdua lalu duduk di sebelah Junna. Payungnya sudah dilipat.

Masih ada waktu cukup lama sebelum kembang api dimulai.

“Shigure. Bilang ‘aaah’, ya? Yang itu, bilang ‘aaah’…”

Karena terus dirayu, aku pun—

“Ya sudah, ya sudah.”

dengan lembut menyuapkan frankfurter berlumur saus tomat dan mustard itu ke mulut Junna yang terbuka, seperti anak burung.

“…Kira-kira bakal hujan nggak, ya.”

“Siapa tahu. Kalaupun hujan sedikit, seharusnya nggak dibatalkan.”

Setelah selesai makan jajanan yatai, kami santai menunggu kembang api dimulai, di bawah payung yang sama. Matahari sudah tenggelam di balik awan, dan senja mulai turun di tepi sungai.

Kami tidak banyak bicara. Hanya saling menempel dan memandangi cahaya kota di seberang sungai yang seperti kunang-kunang, dibalut bau rerumputan, tanah, dan air, aroma alam.

Junna memiringkan botol ramune-nya, dan kelereng yang terperangkap di dalamnya berbunyi, memainkan suara musim panas.

Mungkin karena kami ada di bawah payung berada di dalam bayangan bulat kecil ini, aku merasa seperti hanya kami berdua yang ada di dunia, terputus dari segalanya.

Bahkan keramaian festival itu sendiri terasa jauh.

“Oh. Sepertinya mulai.”

“Mm…”

Junna menggenggam tanganku dan meremasnya. Aku yang memegang payung dengan satu tangan, membalas meremasnya. Mungkin karena tadi dia sedang memegang ramune, tangannya dingin dan agak lembap.

Pengumuman hitung mundur pun menggema.

Aku dan Junna ikut menghitung bersama, suara kami menyatu dengan orang-orang di venue seperti paduan suara sing-along.

““Lima.””

Genggaman tangan kami menguat.

““Empat.””

Aku membalas menggenggam lebih erat.

““Tiga.””

Saat aku menoleh pada Junna,

““Dua.””

ternyata dia juga sedang melihatku.

““Satu.””

Kami tersenyum pada saat yang bersamaan.

Dan di saat itu, cahaya merah tiba-tiba menerangi profil wajah kami.

Serangkaian suara meledak, lalu merah itu berubah menjadi warna-warna terang yang beragam.

Saat aku menoleh kembali, satu kembang api yang mekar indah sudah memudar dengan fana.

“Wah. Aku kelewatan…”

“Aku juga…”

Kami saling menatap lagi, lalu berbagi senyum kecut.

“Kamu terus menatapku, Shigure, jadi aku terdistraksi.”

“Itu kata-kataku. Tadi yang lebih dulu lihat aku itu kamu.”

“…Fitnah.”

“Bukan.”

“Fitnah!”

“Bukan.”

Tepat saat kami beradu mulut, kembang api berikutnya dimulai, jadi kami sama-sama menutup mulut dan menoleh ke depan.

Kembang api melesat bukan hanya ke langit, tapi juga dari tepian sungai, dan cahaya menyilaukan serta asap mewarnai malam musim panas. Benar-benar masterpiece.

“W-Wah…”

“Iya.”

“Cahayanya memang luar biasa, tapi suaranya juga luar biasa. Benar-benar menggedor dada.”

“Iya. Kayak bass drum.”

Lalu musik mulai mengalun, dan kembang api pun naik mengikuti suara.

Merah, kuning, biru, hijau… langit malam diwarnai berbagai warna, dan bunga-bunga tak terhitung jumlahnya mekar lalu berhamburan.

Lalu hujan bunga api pun turun.

Hujan musim panas yang gemerlap.

Pemandangan yang membuat napas tercekat.

Dan tetap saja—

“…Wah.”

Tanpa kusadari, yang sedang kutatap bukan lagi bunga-bunga yang mekar di langit jauh, melainkan profil gadis tepat di sebelahku, yang senyum mekar di wajah datarnya.

Dia lebih indah daripada kembang api, pikirku, sederhana dan jujur.

Itu pemikiran yang biasa saja, cocok untuk cowok biasa sepertiku. Tapi kalau dia, orang paling istimewa di dunia ini, bisa menganggap cowok biasa sepertiku sebagai seseorang yang istimewa—

maka tak apa.

Rasanya aku bisa berpikir begitu.

“…?”

Mungkin dia merasakan tatapanku, karena di sela-sela jeda kembang api, Junna menoleh padaku. Aku buru-buru mengalihkan mata ke langit, tapi di sana tak ada apa-apa selain kanvas hitam.

Junna tertawa kecil.

“Kamu imut sekali, Shigure.”

“Jangan panggil aku imut.”

Pada diriku yang kesal sendiri, Junna menjawab dengan bersenandung. Curang sekali, karena kalau dia melakukan itu, aku malah jadi teringat rekaman dan tak bisa membalas apa-apa.

Aku menghela napas lalu mendengarkan melodi yang sedang dipintal hatinya, melodi miliknya tidak, melodi kami sambil menatap kembang api yang kembali naik ke langit.

Dengan bunyi whoosh, kembang api itu melesat ke langit, dan di tiap ledakannya, kenangan antara aku dan Junna mekar seperti bunga.

Banyak di antaranya melibatkan hujan.

Hal yang mempertemukan kami, dan membesarkan hubungan kami.

Mungkin karena itu—

“Ah.”

Di bagian akhir, saat kembang api mulai memasuki puncaknya. Aku sama sekali tidak terlalu terkejut saat hujan deras mendadak turun.

Tetesan hujan menghantam permukaan sungai yang memantulkan cahaya kembang api, dan orang-orang di sekitar mulai ribut, tapi kami yang tetap memayungi diri justru tenang, hanya saling merapat dalam diam.

Junna, dalam yukata hortensianya, menatap langit malam yang berasap lalu bergumam.

“Jangan-jangan aku rain woman, ya.”

“Entahlah. Bisa jadi aku rain man.”

jawabku sambil memegang payung warna hortensia itu.

Kami tertawa bersama, lalu dibalut suara dan aroma favorit kami, menikmati kembang api di tengah hujan.

Dalam perjalanan pulang, kami sengaja memutuskan berjalan sedikit lebih jauh. Alasannya untuk menghindari kerumunan begitu katanya, tapi alasan sebenarnya adalah karena aku ingin bersama Junna satu menit, satu detik lebih lama lagi.

Kami berjalan ke arah timur di sepanjang jalur Sobu Line, berdampingan di atas aspal basah bekas hujan dadakan. Senandung Junna menumpang angin malam yang bercampur bau hujan.

Dua pasang geta kami berdenting ringan, membentuk ritme yang memantul.

Tak lama kemudian, senandungnya berhenti, lalu—

“…Menyenangkan ya. Festival kembang api tadi.”

kata Junna.

“Iya,” aku mengangguk.

“Itu kegiatan yang paling ‘musim panas’.”

“Aku mau datang lagi tahun depan.”

“Kamu terlalu cepat melompat—”

“Dan tahun depannya lagi.”

“Kataku, kamu terlalu cepa—”

“Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi juga.”

“Kamu terlalu jauh melompat!”

“Seratus tahun lagi juga.”

Aku sempat ingin membalas, memangnya waktu itu kita masih hidup? tapi profil samping Junna terlihat terlalu serius, jadi aku menelan kata-kataku. Sebagai gantinya,

“…Iya.”

Aku mengangguk dan menggenggam tangannya. Payung itu sudah lama dilipat, tapi tangan kami masih saling menggenggam. Aku tak ingin melepaskannya.

Dan Junna langsung membalas menggenggam lebih erat. Dia menatap langit malam yang penuh bintang lalu berkata,

“Kita baru saling kenal kurang dari tiga bulan.”

“Tiga bulan… memang singkat. Tapi—”

“Rasanya panjang.”

“—Iya. Panjang, dan padat.”

Kalau waktu yang sudah mengalir dalam hidupku selama ini adalah air, maka waktu sejak bertemu Junna adalah madu. Hari-hari yang manis dan kental. Aku tak bisa tidak berharap waktu seperti ini terus mengalir sampai aku mati.

Entah Junna merasakan hal yang sama atau tidak.

Bukan hanya sekarang, tapi juga tahun depan.

Dan tahun depannya lagi, dan setelah itu.

Selamanya.

Tanpa berubah—

tapi itu cuma angan-angan.

Aku tahu.

Sama seperti tak ada hujan yang tak berhenti, tak ada malam yang tak berakhir, tak ada musim yang tak usai—tentu tak ada apa pun yang tak berubah. Si sinis dalam diriku melihatnya seperti itu.

Dan kenyataannya, perasaanku padanya pun memang telah berubah, dari saat pertama kali kami bertemu sampai sekarang, bahkan dari kemarin ke hari ini.

Perasaan itu terus mengembang, semakin besar dan semakin kuat.

Sampai terasa seperti akan meledak.

“Junna.”

Di bawah lampu jalan, aku menghentikan langkah.

Junna juga berhenti dan menatapku.

“………………………………”

Dalam diam, sungguh-sungguh.

Rasanya seperti keabadian telah berlalu.

Aku menarik napas dalam-dalam dari udara malam yang masih menyisakan sisa panas kembang api—

“Shigure.”

Suara Junna yang tenang memotong kata-kata yang hendak kuucapkan.

“Sedikit lagi saja.”

Dia menunduk, bulu matanya yang panjang menjatuhkan bayangan, lalu—

“Sedikit lagi saja…”

gumamnya, sebelum akhirnya berkata,

“…Begini saja dulu tidak apa-apa.”

Aku membeku dengan mulut setengah terbuka, menatapnya yang mendongak padaku,

“Kalau kita berubah, kita nggak akan bisa kembali lagi… jadi,”

kata-kata Junna, saat keluar dari bibirnya, terdengar negatif, seolah memandang ke belakang.

Tapi tidak.

Di mata Junna yang menatapku, cahaya memukau penuh warna, seperti kembang api di langit malam, sedang mekar sepenuhnya.

“Aku masih ingin menikmati ini.”

“Junna…”

Aku berkedip, menerima pandangan matanya yang tulus.

Aku menyesap kata-katanya.

Sebuah emosi yang tak bisa dijelaskan menggembung di dalam diriku.

Kalau harus kuibaratkan, mungkin seperti bau yang muncul saat bermain kembang api tangan, atau suara semi malam di waktu senja, atau menggosok lengan di tengah angin malam yang mulai sejuk perasaan manis dan sentimentil yang menggaruk bagian belakang hatimu di ujung musim panas.

Memikirkan apa yang ada di hati Junna, aku pun tersenyum.

“Begitu ya.”

“…Iya.”

“Kalau begitu, kita harus menikmatinya sepuasnya!”

“I-Iya!”

Dan dengan begitu, kami kembali berjalan.

Sambil membicarakan rencana untuk besok dan hari-hari setelahnya. Meskipun festival musim panas sudah selesai, musim panas sendiri belum selesai, dan libur musim panas juga masih tersisa.

Sayang sekali kalau tidak dinikmati.

“Ngomong-ngomong, kerjaanmu aman? Bukannya ini masa sibuk buatmu…”

“Aman. Sebagian besar yang harus kulakukan sudah selesai. Sisanya tinggal Kotegawa-san dan orang-orang dewasa lain yang mengurus.”

kata Junna enteng pada diriku yang khawatir.

“Belakangan ini, lagu yang meluap itu terlalu banyak sampai bingung sendiri. Bukan cuma EP, rasanya aku mungkin bisa bikin full album… sebulan sekali.”

“Belasan lagu dalam sebulan? Pace yang gila.”

“Berkat kamu, Shigure.”

Junna menyandarkan tubuh ke arahku.

Terlalu dekat untuk ukuran belum jadi kekasih tapi memang begini jarak kami.

“Shigure, kamu pernah dengar istilah ‘comping’?”

“…Comping?”

“Itu istilah musik. Saat bagian-bagian bagus dari beberapa take diambil lalu digabungkan. Lalu dijadikan satu lagu. Itu kerjaannya engineer.”

“Oh…”

Aku memang tak tahu istilahnya, tapi itu yang sempat Akagi jelaskan saat sesi rekaman. Kristal dari momen-momen, tersusun dari begitu banyak momen yang dikumpulkan.

“Cara aku bikin lagu juga sama. Aku ambil bagian-bagian bagus dari banyak suara yang lahir setiap hari, lalu kugabungkan, dan kujadikan lagu.”

Lalu dia berkata—

“Mulai sekarang, ayo sering-sering bersama, ya?”

dengan mata yang berkilau, dan senyum lebar mekar di wajahnya.

“Seperti menumpuk banyak take, mari kita juga menumpuk banyak hari dan kenangan… lalu menenun nada-nada yang meluap. Ayo bikin banyak lagu, satu album penuh lagu, untuk kita berdua.”

“…………Iya.”

Saat mendengar kata-kata itu, saat melihat ekspresi itu, aku berpikir.

Tak ada sesuatu yang tak berubah.

Meski begitu—

meskipun nanti hubungan kami berubah, dan perasaan kami satu sama lain juga berubah,

“Janji.”

kebahagiaan terang dari saat ini akan tetap tinggal dalam hidupku sampai mati, dan musik yang lahir darinya akan tetap utuh, selamanya.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa