Amamori Junna is Humid Volume 2 Interlude 4

Duduk Ikut, Sial!

“Gimana kalau kamu sudahi saja ngambeknya?”

Headphone-ku tiba-tiba diangkat dan diambil.

Aku yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memeluk lutut dalam diam dan memutar kencang “Zettai Korosu Man” dari Hysteric Panic, menatap Sensei dari bawah dengan tatapan penuh protes.

“Kalau mau dengar musik di rumah, pakai speaker, jangan headphone, ya? Nggak bagus buat telinga. Apartemen ini kan kedap suara, jadi—”

“Sensei,”

aku membuka mulutku yang terkatup cemberut untuk memotong ceramahnya.

“Sensei ini semacam karakter yang dipanggil setiap kali aku dan Shigure lagi dapat momen, cuma buat mengganggu, ya?”

“…Aku sih nggak berniat mengganggu, tahu.”

Sensei punya kunci cadangan rumahku. Aku memang salah karena tidak memasang pengaman pintu. Salah besar, fatal. Tapi tetap saja, kalau lihat ada sepatu di pintu masuk, jelas ketahuan kan ada orang (dia) di dalam kamarku, jadi harusnya mundur di situ juga, kan?

“Aku cuma nggak bisa menahan rasa penasaran… begitu.”

“Sensei bodoh. Aku benci.”

“Ya ampun…”

Sensei menghela napas lalu mengangkat bahu. Tanpa masker, bahkan gerakan kecil seperti itu pun tetap kelihatan sempurna, dan itu curang. Benar-benar pelanggaran.

Bahkan celemek abu-abu arang yang dia pakai di atas baju santainya pun terlihat seperti sesuatu yang keluar dari pemotretan majalah fashion.

Semacam, “Masakannya keren, tapi rasanya lembut penuh kasih.”

“Untuk sekarang, aku sudah menimbun lauk buatmu selama seminggu. Pastikan kamu habiskan semuanya, ya?”

“Mm…”

Alasan Sensei datang ke rumahku adalah untuk menyiapkan makananku.

Ada lauk yang dia masak dulu di rumah, ada juga yang dia buat langsung di dapurku. Ini semacam pengganti bento-ku, karena sekarang sedang libur musim panas.

…Menurutku Sensei terlalu memanjakanku, tapi itu tetap tidak menghapus dosanya yang membuat dia pulang di tengah-tengah kencan kami.

“…Makasih.”

Aku menyembunyikan wajah di lutut dan bergumam mengucapkan terima kasih.

“—Hm?” kata Sensei sambil menangkupkan tangan ke telinga.

“Itu tadi kutukan buatku?”

“Iya.”

“Heh heh, yah, siapa tahu itu membantu penulisan lagumu.”

Bahkan kata-kata beracunku sama sekali tidak berefek pada Sensei. Justru karena itu aku bisa mengatakannya tanpa ragu, tapi aku juga tahu itu bukan hal yang baik. Iya, aku tahu.

“Rekaman minggu depan,” kata Sensei pada diriku yang masih tetap ngambek, lalu menyodorkan headphone yang tadi disitanya.

“Mau sekalian ajak Kurimoto juga?”

“………… Bukannya orang luar nggak boleh ikut?”

“Kalau dibilang ‘terlibat’, dia cukup terlibat, bukan?”

Sensei menatap balik padaku yang mendongak, lalu sudut bibirnya melengkung.

“Walaupun sebenarnya dilarang, kalau aku yang bicara, aturan itu masih bisa sedikit dibelokkan. Mau ajak satu dua teman juga terserah kamu.”

“Sensei—”

Mata gelapku yang muram langsung menyala.

“Aku cinta Sensei.”

“Ya ampun…”

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa