Amamori Junna is Humid Volume 2 Chapter 4 — Tenggelam dalam Musim Panas yang Berkilau

Berdiri di dekat pintu, aku mendengarkan musik lewat earphone sambil memandangi langit biru yang mencolok dan awan cumulonimbus yang melayang di luar jendela kereta. “Ao to Natsu” milik Mrs. GREEN APPLE. Bahkan orang sinis sepertiku kadang juga memilih lagu masa muda yang sejujur ini.

Bukan berarti gara-gara dua hari lalu, waktu aku mengajak Junna main sepulang sekolah dan dia menolakku mentah-mentah dengan bilang, “Hari ini aku pergi main sama anak-anak kelasku,” aku jadi murung, lalu setelah itu mendapat pesan bahagia darinya dan sekarang hatiku jadi berdebar-debar menantikan rencana kami hari ini, sampai kebawa suasana atau apa pun juga.

Suara lonceng angin berdenting di dalam kepalaku, dan ponsel di sakuku bergetar.

JUN: Maaf, kayaknya aku bakal telat!

Shigure: Jarang-jarang. Oke.

Tepat setelah kubalas, kereta sampai di stasiun tujuan kami dan pintunya terbuka. Gelombang panas langsung menyelimuti tubuhku, dan bau beton yang terpanggang memenuhi hidungku.

Bau musim panas Tokyo.

“…Panas.”

Tokyu Toyoko Line, Stasiun Naka-Meguro. Mungkin ini pertama kalinya aku turun di sini.

Katanya daerah ini jadi tempat tinggal banyak selebritas, dan sebuah gedung pencakar langit 45 lantai menjulang di dekat stasiun, menatap rendah rakyat jelata dari atas. Aku sempat berpikir apa dia tinggal di sana… sambil menuruni tangga dan mulai berjalan.

Begitu keluar dari gerbang tiket, aku berada di bawah bayangan rel layang, yang entah kenapa mengingatkanku pada Junna sampai aku tak bisa menahan tawa kecil. Tempat janjian kami adalah di depan toko buku bergaya modern dengan dinding kaca.

Aku melepas earphone dan baru mau mengirim pesan, “Aku sudah di sini,” ketika,

“M-Maaf telat!”

seseorang memanggilku. Aku mengangkat wajah dari ponselku dan,

“Oh. Aku juga baru sampai kok—”

ucapanku terputus.

“…Shigure?”

Blus putih transparan dengan lengan menggembung dan rok flare warna lilac. Di kakinya ada sandal yang terlihat sejuk, dan kuku kakinya dicat warna biru keunguan.

Gadis cantik yang tampak seperti ojou-sama sungguhan itu berdiri di depanku dan menatapku dari bawah.

“Kamu… marah karena aku telat?”

“N-Nggak,”

jawabku pada gadis cantik itu, pada Junna, sambil menggaruk pipi.

“Aku nggak marah. Ini juga masih lima menit sebelum jam janjian. Aku cuma kaget karena pakaianmu… beda dari yang kubayangkan.”

“………………Aneh?”

“Nggak mungkin. Cocok banget di kamu.”

Dibanding terakhir kali saat kesannya lebih boyish, kali ini dia jauh lebih feminin. Nuansa punk-nya juga hampir nggak ada. Tapi tetap cocok sekali.

“Kamu cat kuku.”

“Iya. Cuma buat libur musim panas. Warnanya sama seperti inner color-ku, hortensia yang sudah lewat musim.”

“Bagus. Terasa banget ‘Junna’-nya.”

“Mm…” Junna tersenyum lalu gelisah sendiri. Setelah itu dia memeriksa penampilanku dari atas ke bawah dan,

“…Kamu juga, Shigure. Cocok banget banget banget banget,” katanya. Aku sendiri memakai t-shirt biru pucat, celana jogger denim warna indigo, sepatu sneakers putih favoritku, dan tas sacoche hitam yang tersampir di bahu.

“Kamu suka Aerosmith, ya?”

“Stan Smith. Jarang-jarang kamu bawa referensi musik barat… Memang kamu biasa dengar apa?”

“Nirvana, Radiohead, Nine Inch Nails. Aku suka Kurt Cobain, Thom Yorke, sama Trent Reznor.”

“Begitu. Versi musik baratnya depression rock, ya.”

“Mm… sekarang kamu bilang begitu, mungkin juga ya? Soalnya aku nggak sadar mikir sejauh itu.”

Di bawah rel layang yang agak gelap. Di kota yang asing, tapi percakapan kami tetap sama seperti biasanya. Aneh, tapi menenangkan dan bikin nyaman. Bahkan angin hangat yang bercampur bau asap kendaraan pun terasa begitu.

“Tapi tetap saja, Naka-Meguro. Tempat tinggalmu keren juga… sewanya pasti mahal, ya?”

“Iya. Tapi kantorku menanggung sebagian, dan aksesnya juga bagus. Sensei tinggal dekat sini juga.”

“Oh, serius?”

Sesuai dugaan mantan vokalis band superpopuler. Kalau Akagi tinggal di menara itu pun rasanya tak aneh, tapi sekarang dia cuma guru UKS, jadi mungkin tidak.

“…Iya. Pokoknya ayo jalan. Panas.”

Junna mulai berjalan lalu membuka payung.

Hari sedang cerah, tapi dia buka payung?

“Ini payung matahari.”

Payung matahari yang dibuka Junna warnanya sama seperti payung hujannya, biru keunguan, tapi sedikit lebih terang dan ada renda berlubang di tepinya. Cocok dengan outfit-nya, dan saat dia memegangnya, dia benar-benar terlihat seperti boneka. Penampilannya begitu memikat sampai bahkan orang-orang di kota yang mungkin sudah biasa lihat selebritas pun tetap menoleh.

“Mau masuk?”

“…Nggak, nggak.”

“Ayo.”

“Berbagi payung matahari itu agak…”

“Masuk.”

“Itu barusan perintah!?”

Sambil saling lempar canda seperti duo manzai, kami pun menuju tempat tujuan.

Hari ini, belum lama sejak libur musim panas dimulai, adalah “kencan rumahan” yang diminta Junna.

JUN: Aku mau kamu datang ke rumah terus masakin buatku!!

Itulah permintaan Junna. Karena ini janji untuk mengabulkan satu permintaan apa pun, satu-satunya jawaban yang boleh kuberikan hanyalah “iya.”

Tapi buatku yang sudah menyiapkan mental membayangkan “sesuatu yang jauh lebih gila”, perasaan jujurku malah, cuma itu doang…?

Meski begitu, tetap saja ini adalah kunjungan ke rumahnya. Ke rumah seorang cewek yang tinggal sendirian.

Berkat itu, tadi malam aku hampir tak tidur sama sekali. Aku menahan menguap saat aku dan Junna melewati pintu otomatis.

Udara dingin membawa aroma yang familiar. Aroma yang kusukai hampir sama seperti bau toko buku: bau supermarket.

“…Shigure. Kamu sudah tahu mau beli apa?”

“Iya,” jawabku pada Junna yang memegang keranjang dan bertanya padaku. Aku membuka aplikasi memo di ponsel dan,

“Coba tebak aku mau masak apa dari bahan-bahan yang kupilih.”

aku mulai mencari barang-barang yang tertulis di sana.

Pertama-tama, kol.

“Shogayaki.”

“…Bisa nggak jangan nebak secepat itu?”

Aku menghela napas lalu mengambil jahe. Jahe segar yang sedang musim.

“Yah,” gumam Junna, “kol berarti kol iris, kol iris berarti shogayaki… kukira kamu suka hal-hal yang aneh, Shigure, tapi kalau masak ternyata klasik banget.”

“…Kamu nggak suka?”

“Nggak. Aku suka.”

“Nah, kan? Aku suka masakan klasik yang dikasih sedikit sentuhan.”

Aku mulai memasukkan bahan-bahannya. Tauge, myouga, daun shiso, kaiware, bawang bombai—

“Kamu pakai perut babi?”

“Bisa pakai loin atau sisa potongan juga, tapi kali ini yang ini.”

Aku memasukkan irisan tipis pork belly ke dalam keranjang yang dipegang Junna, lalu kami keluar dari bagian sayur segar.

“Bumbu dasar ada semua, kan?”

“Iya. Soalnya kadang ada orang datang buat masakin aku…”

“Akagi-sensei? Baik juga dia.”

“Jangan sebut nama perempuan lain waktu kencan kita.”

“Curang banget kalau konteksnya begini!”

“Rifujin… fujin? Belanja bareng begini, kita kayak suami istri. Rasanya kayak tinggal serumah.”

(TL/N: Ini permainan kata. 理不尽 (rifujin) berarti “nggak adil / nggak masuk akal”, sedangkan 婦人 (fujin) berarti “wanita”. Junna sedang mengasosiasikan bunyi “fujin” dari ucapan Shigure sehingga rantainya jadi: nggak adilwanitaistri.)

“Bisa dibilang begitu sih.”

“Itu jawaban setengah hati. Tambah sepuluh ribu Depression Points.”

“Angkanya sudah keterlaluan. Dan sudah lama banget istilah itu nggak keluar.”

Aku memalingkan wajah pura-pura mencari barang lain. Aku berharap dia tidak usah bicara soal “kayak suami istri” atau “kayak tinggal serumah” dengan wajah datar seperti itu.

“…Hmph.”

Junna sengaja mendengus begitu, lalu berjalan duluan. Aku mengambil sekaleng jagung lalu buru-buru mengejarnya.

“Hei, tunggu! Jangan bawa keranjangnya!”

“Yang ini.”

Di tempat dia berhenti, Junna sedang memegang sikat gigi warna biru.

“Buat kamu, Shigure.”

“Memangnya kita tinggal serumah!?”

“Setelah makan nanti kamu pasti pengin gosok gigi, kan?”

“…Ya sih.”

“Dan, hal lain yang dibutuhkan kalau hidup bersama itu—”

“Jangan kejauhan. Bukan berarti kita langsung mulai tinggal bareng sekarang.”

“Sekarang? Hmm.”

“A-Apa maksudmu…”

“Kurang dua puluh ribu Depression Points.”

“Kan kubilang perubahan emosimu terlalu ekstrem.”

Sambil mengobrol seperti itu, kami akhirnya berhasil mengumpulkan semua barang yang diperlukan. Tapi sejak tadi Junna masih berkeliaran di dalam toko, melihat ke sana-sini dengan gelisah.

“Kamu cari apa?”

tanyaku, dan dia pun berbalik. Dengan wajah datar, dia menjawab,

“Kondom.”

“…!? Kamu—”

Tepat pada saat itu, sepasang muda-mudi yang tampaknya mahasiswa lewat di belakang Junna.

Saat melewati kami, si cowok menatap Junna dengan wajah terkejut, dan si cewek terkikik seolah berkata, oh my~.

Wajah Junna, sampai ke telinganya, langsung memerah terang.

“A-A-A-A-A-Aku cuma bercanda!” teriaknya cukup keras sampai pasangan tadi juga bisa dengar, lalu dia menunduk dan berjalan cepat ke kasir. Saat aku memandangi rok selututnya bergoyang dan punggungnya menjauh,

“…Meledak karena ulah sendiri. Obat yang mujarab.”

Aku tersenyum kecut lalu mengangguk kecil membalas pasangan yang menoleh ke arah kami.

“Kalau musim semi, bunga sakuranya cantik.”

Setelah selesai belanja di supermarket, kami berjalan berdampingan menyusuri Sungai Meguro. Daun-daun sakura hijau lebat yang bergoyang di atas kepala kami membawa aroma hijau tua di atas angin.

“Nanti kita ke sini lagi pas sakuranya mekar, ya, Shigure?”

“Itu masih lama banget…”

Aku membetulkan peganganku pada kantong belanja yang terasa cuma setengah berat seharusnya, lalu menjawab.

“Yah, boleh juga sih.”

“Mm… janji, ya. Deal.”

“Kamu terlalu cepat ambil langkah!”

“Dan sudah kurekam juga, buat jaga-jaga.”

“…Kamu bercanda, kan?”

Junna tidak menjawab, malah mulai bersenandung. Paduan suara latarnya adalah suara jangkrik.

Sambil mendengarkan melodi yang suatu hari mungkin akan menjadi lagu YOHILA itu, aku sempat bertanya-tanya bagaimana perubahan kami saat musim semi tahun depan lalu berhenti.

Rasanya terlalu jauh. Perasaan seperti tersedot ke langit biru tak berujung yang terbentang di balik dedaunan hijau yang bergoyang.

Kami yang tak bisa terbang ini, pada akhirnya cuma bisa mati-matian berjalan di atas tanah nyata yang ada di hadapan kami. Singkatnya, “Rumahku agak jauh jalan kaki dari stasiun.”

Saat ini aku lebih gugup daripada sebelumnya. Tentang masa depan yang ada tepat di depan mata. Tentang event besar pertamaku dalam hidup: berkunjung ke rumah seorang gadis.

“O-Oh… gitu ya?”

Telapak tanganku mulai berkeringat.

“Iya,” Junna mengangguk, lalu membetulkan pegangan di sisi kantong yang satunya.

“Sebetulnya lebih enak naik sepeda, tapi kalau begitu aku nggak bisa dengar musik.”

“Benar.”

“Aku juga nggak suka pakai jas hujan saat hari hujan.”

“Iya…”

Junna melirikku dari samping.

“Shigure? Kamu agak melamun… panas? Kalau iya, aku buka payung mataharinya—”

“…Nggak, aku nggak apa-apa. Cuma agak kurang tidur.”

Payung matahari Junna sekarang sedang tertutup. Soalnya aku menolak berbagi dengannya. Meski begitu, “Hmm… kamu nggak bisa tidur semalam? Sebelum first time?”

“First time ke rumah cewek, maksudmu?”

“Di dalamnya ada cewek, jadi first time masuk ke dalam?”

“Apa otakmu meleleh gara-gara kepanasan!? Jokes mesummu hari ini lebih parah dari biasanya!”

Berjalan berdua sambil membawa satu kantong di antara kami saja sebenarnya sudah cukup memalukan. Aku tadi sudah berusaha membawanya sendiri, tapi Junna keras kepala sekali mau ikut pegang.

Akibatnya, rasanya seperti kami sedang bergandengan tangan dengan kantong belanja di tengah.

Junna menatap isi kantong, tempat sikat gigi biru tadi ada di bagian atas, lalu berkata,

“Eh, apa kita sekalian beli kondom aja? Di minimarket atau apa.”

“Sial, obatnya nggak mempan!”

Aku sudah jengah, tapi justru karena topiknya seblak-blakan begini, efeknya malah membunuh suasana aneh dan mengurangi keteganganku. Saat kami menyeberangi jembatan biru di atas sungai, melewati terowongan hijau, lalu masuk ke kawasan perumahan, aku sudah sepenuhnya pulih.

“Shigure. Badanmu merah semua…”

“Iya, iya, panas. Nanti begitu sampai rumahmu kita nyalakan AC.”

“Sudah nyala. Tinggal masukin aja.”

“Aku? Masukin aku ke rumahmu? Iya, iya.”

“Jangan pakai ‘iya, iya’.”

“Aku berhenti kalau kamu berhenti bikin jokes.”

“…Nggak bisa. Aku bisa mati.”

“Kamu ini ikan tuna atau apa, nggak bisa hidup kalau nggak terus berenang…”

“Aku bukan tipe pasif, lho. Kayaknya aku cukup aktif.”

“Iya, iya.”

“Kataku jangan ‘iya, iya’.”

“Kalau mau aku berhenti, berhenti dulu dengan jokes mesum.”

“Iya, iya.”

“Jangan balikin ‘iya, iya’-ku.”

Aku terus menangkis hujan deadpan joke Junna dengan cekatan.

Alasan kenapa Junna lebih banyak bicara dari biasanya mungkin karena dia juga segugup aku… pikirku sambil tersenyum kecil.

Itu apartemen rapi lima lantai. Eksteriornya beton ekspos, dengan aura designer apartment yang masih baru dan jelas terasa.

Kamar Junna ada di unit pojok lantai paling atas. Kami naik lift, menyusuri lorong dalam dengan lantai bermotif ubin elegan, lalu sampai di depan pintu yang terasa seperti pintu hotel.

“Masuklah.”

“O-Oh. Permisi…”

Sambil membawa kantong belanja dari supermarket, aku masuk dengan gugup. Aroma floral dari pengharum ruangan menggelitik hidungku. Ada pintu di sebelah kiri, dan lorong pendek berbentuk L memanjang ke depan.

“Ruang tamunya di kiri, dapur dan kamar mandi ada di kanan belakang.”

“…Oke. Untuk sekarang, aku simpan dulu belanjaannya ke kulkas, ya?”

Sambil melirik payung biru keunguan di tempat payung, aku melepas sepatu lalu naik ke lantai rumahnya.

Di lantainya tergelar keset Geroppi. Rasanya benar-benar seperti rumah Junna.

“Area kerjanya agak sempit, jadi mohon dimaklumi.”

“Nggak masalah. Kompornya dua tungku.”

Dapurnya memakai kompor IH. Lebih compact daripada yang kubayangkan, tapi ya begitulah apartemen orang yang tinggal sendiri. Aku mulai memasukkan bahan-bahan belanjaan kami ke dalam kulkas hitam yang masih terlihat baru.

“…Kulkasmu ini energy drink-nya banyak banget?”

“Kebanyakan beli waktu belajar buat ujian.”

“Jangan terlalu banyak minum itu, ya? Nggak bagus buat tubuhmu.”

“Jangan ngomong kayak guru…”

Belanjaan kami memang tidak terlalu banyak, jadi aku cepat selesai merapikannya.

Baiklah. Berikutnya, aku perlu cek bumbu dan peralatan.

“Aku buka ini ya,” kataku, lalu saat sedang membongkar penyimpanan dapur, Junna memanggilku sambil memegang pintu di belakang kitchen counter, dengan sikat gigi biru di tangannya yang lain.

“Shigure.”

“Iya.”

“Aku mau mandi.”

“Iya.”

………………Mandi?

“Terserah pakai bumbu atau alat apa pun yang kamu butuhkan—”

“Tunggu, tunggu.”

“…Hm?”

“Bukan ‘hm’. Kenapa kamu mandi?”

“Karena aku berkeringat.”

Wajah Junna tampak tetap sejuk. Dia bahkan tak terlihat berkeringat.

“Itu karena kamu nggak mau masuk ke payung matahariku, Shigure.”

“Kamu kan bisa pakai sendiri.”

“………… Jadi, aku serahkan padamu.”

“Hei, tunggu! Jangan—”

Bam, klik!

Junna sudah kabur. Suara pintu menutup dan terkunci.

Tertinggal sendirian, aku menggaruk belakang kepala dengan tangan yang terjulur dan menggerutu.

“Mentang-mentang ini rumahmu sendiri, jadi seenaknya…”

“Shigure.”

Junna bicara dari balik pintu. Terdengar suara kain bergesekan.

“Mau mandi bareng? Kalau iya, akan kubuka kuncinya—”

“Mana mau aku!”

Aku berteriak lalu menyalakan ventilasi dapur. Setelah itu, demi fokus memasak, aku mengeluarkan celemek dari sacoche-ku.

Memakai celemek yang sudah sangat akrab dipakai (dengan applique yang dijahitkan kakakku), aku berdiri di dapur.

Di atas talenan yang melintang di bak cuci, aku menyiapkan makanan dengan cekatan.

Aku mengiris tipis hanya bagian daun luar kol yang lembut, menghindari bagian bonggolnya. Setelah direndam dalam air dingin agar renyah, aku mencampurnya dengan myouga cincang, daun shiso, dan kaiware. Begitu airnya ditiriskan dan semuanya dimasukkan ke kulkas, side dish-nya selesai.

Saat sedang mengiris tipis bawang bombai, air di panci mulai mendidih, jadi aku memasukkan bonggol kol yang sudah dipotong kasar. Dashinya simpel, cukup shiro-dashi. Aku bukan tipe yang sampai membuatnya sendiri dari nol, beginilah masakan cowok yang serba praktis.

Earphone yang terpasang di telingaku memutar musik secara acak dari playlist.

Lalu salah satunya tiba-tiba ditarik keluar.

Aroma sabun yang kuat langsung mengalir mendekat. Junna, dengan salah satu earphone terpasang di telinganya,

“‘Kanpeki na Niwa’ dari People In The Box… bagus. Aku suka,” gumamnya, membagi musik itu tanpa izin. Jangan santai-santai bilang “aku suka”.

Aku berhenti mencincang jahe dan, “…Itu baju rumahmu?” tanyaku.

Junna yang sudah selesai mandi telah berganti dari pakaian perginya ke sesuatu yang lebih santai hoodie biru keunguan. Di kepalanya ada hood dengan mata menonjol seperti kodok.

“Iya. Ini roomwear Geroppi favoritku. Kero, kero.”

“Imut banget, sial!” Aku kembali mencincang jahe dengan fokus total.

Rambutnya yang masih sedikit lembap keluar dari dalam hood, kulitnya yang memerah samar sehabis mandi, dan pahanya yang montok memanjang dari bawah ujung baju semuanya terlalu menggoda.

“Ngomong-ngomong, di bawahnya—”

“Itu celana pendek, kan? Aku bisa tahu tanpa lihat. Jangan tunjukkan.”

“…Hmph.”

Setengah jahe dicincang, setengah lagi diparut. Saat aku memusatkan perhatian pada pekerjaanku, Junna cemberut. Dia melepaskan tangannya dari ujung hoodie, lalu

“Ngomong-ngomong,” katanya sambil mengintip dari samping, seolah menutupi pandanganku.

“Aku nggak pakai makeup.”

Kalau Junna begini, aku benar-benar nggak bisa kerja.

“…Menurutmu?”

Aku mengalihkan mata dari tatapannya yang intens lalu menjawab,

“C-Cantik… iya.”

“Lihat aku yang benar.”

Aku dimarahi, jadi aku menatapnya lagi.

Kulitnya tetap indah, mulus, dan agak kemerahan.

Aroma sampo dan kondisioner yang menguar darinya nyaris melarutkan kewarasanku, tapi entah bagaimana aku tetap berhasil memeras kata-kata keluar.

“…Kamu tanpa makeup juga cantik.”

“Detailnya.”

“…………Jujur, aku nggak terlalu tahu bedanya. Kalau harus dibilang, kamu kelihatan sedikit lebih muda? Makeup cocok dengan outfit yang tadi kamu pakai, dan no makeup cocok dengan outfit yang sekarang. Jadi kesimpulannya, dua-duanya bikin kamu cantik… puas? Dasar kamu butuh banget dipuji.”

“~~~~~~~~~~!”

Wajah Junna langsung merah, dan bibirnya yang terkatup rapat bergetar. Seolah dia sedang menahan sesuatu.

Saat aku berpikir, wah, bentar lagi meledak Junna menunduk lalu mengalihkan wajah.

Sambil mengipasi pipinya yang merah dengan tangan, dia berkata dengan suara nyaris seperti bisikan,

“L-Lulus…”

Panci mendidih sampai meluap.

“…!?”

Aku buru-buru memindahkan panci dari kompor IH dan mematikan dayanya.

“W-Wow, nyaris saja…”

Ada sesuatu dalam diriku juga yang nyaris meledak dan meluap.

“M-Maaf. Aku keterlaluan.”

Junna meminta maaf saat aku mengelap cairan yang tumpah dengan lap, hati-hati supaya tak kena panas. Aku menghela napas dan mengembalikan panci ke tempatnya.

“…Ya ampun. Tapi ya sudahlah, kalau kamu minta maaf. Aku lagi masak, jadi tolong tahan diri. Apalagi saat aku pegang api dan pisau.”

Sambil menunggu IH-nya sedikit dingin, aku memotong daging perut babi. Jantungku masih berdebar, dan musik yang diputar acak di satu telingaku berganti lagi.

“Mariage” dari Bungei Tengoku—

Junna yang tadi menunduk, mengangkat wajah.

“Shigure…”

Sambil mengangkat ponselnya, dengan lensa dan mata yang sama-sama berkilat,

“Boleh aku foto kamu pakai celemek? Sekalian video pas lagi masak?”

“Iya, kamu sama sekali nggak merasa bersalah.”

Aku membawa masakan yang sudah jadi ke ruang tamu dan meletakkannya, masih di atas nampan kayu ala kafe, di atas tatakan piring. Dari mangkuk nasi sampai tatakan sumpit, semua perlengkapannya sudah lengkap untuk dua orang.

“Aku beli ini buat jaga-jaga kalau suatu hari terjadi sesuatu seperti ini,”

kata Junna sambil duduk di kursi meja makan di ruang tamu yang kira-kira seluas delapan tatami, sambil memeriksa foto dan video yang baru saja diambilnya.

“Satu set pasangan. Aku pilih dari daftar hadiah pernikahan yang populer.”

“…Aku tadi lupa cek kamu punya perlengkapan buat dua orang atau nggak, jadi ini membantu banget. Pembelian yang bagus.”

Bagian soal hadiah pernikahan kuabaikan. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

Junna mengangkat ponselnya.

“Kelihatan enak.”

Setelah cepat-cepat memotret makanannya, dia mengarahkan kamera ke aku dan berkata, “Shigure. Coba pasang wajah ‘pengantin baru’?”

“Wajah macam apa itu…”

Sambil menatapnya jengah, aku difoto berkali-kali. Kenapa dia pakai burst mode sih?

“…Mm. Makasih.”

Sambil menuangkan mugicha ke dalam gelas Junna,

“Eh, kenapa kamu ganti baju lagi?”

“Aku nggak ganti. Cuma lepas hoodie.”

Junna yang sekarang tinggal memakai t-shirt sederhana menjawab begitu sambil meletakkan ponselnya di meja. Ini sudah transformasi ketiganya. Apa dia memang niat sampai tujuh bentuk?

“Pas aku duduk di seberang kamu di meja, suhu tubuhku rasanya naik dan jadi panas…”

“Nggak usah dilepas juga, tinggal turunkan suhunya. Setelan AC-nya—Ow.”

Saat aku berusaha mengalihkan, dia menendang tulang keringku dari bawah meja.

Junna menatapku. “…Darling. Menu hari ini apa?”

“Pork belly shogayaki, kol iris campur rempah-rempah, dan sup miso jagung mentega,” jawabku sambil menuangkan mugicha ke gelasku sendiri.

Ini juga satu set gelas pasangan. Waktu kosong memang susah dibedakan, tapi ketika teh dituangkan, di permukaannya muncul tulisan “Wife’s ♡” dan “Husband’s ♡”.

Aku tidak akan mengomentari itu.

“Karena kuberi tambahan rempah-rempah yang sedang musim ke kolnya, rasanya jadi lebih segar dan nggak gampang bikin bosan.”

“Darling?”

“Aku pakai pork belly karena rasa gurihnya cocok dengan hidangan pendamping ini. Aku juga sediakan mayones dan doubanjiang buat variasi rasa. Kalau kamu nggak terlalu suka pedas, bisa dicampur.”

“Darling…”

“Sup miso jagung mentega ya persis seperti namanya, sup miso dengan jagung dan mentega. Kaya rasa dan enak. Paling cocok sih di musim dingin, tapi musim panas juga tetap enak.”

“Eh, Darling—”

“Berhenti panggil aku begitu.”

Akhirnya aku tak tahan dan membalas. Mata Junna menyipit, dan dia tampak senang.

“…Shigure. Kamu malu ya?”

“Aku nggak malu.”

“Bohong. Kalau kamu bilang ‘nggak’, biasanya kamu memang malu.”

“…Ayo makan. Nanti keburu dingin.”

“Oh, dia kabur.”

“Itadakimasu.”

“…Itadakimasu.”

Kami menyatukan tangan lalu mengangkat sumpit. Aku memperhatikan Junna saat kami mulai makan.

Junna mengangkat mangkuknya ke bibir lalu menyeruput sup miso.

Setelah itu, wajah datarnya yang biasa pecah menjadi senyum lembut.

“Enak.”

Gigitan berikutnya. Kali ini dia memasukkan tauge, kol, dan tahu ke mulutnya, lalu

“Enak banget… enak banget…” katanya, menikmati rasanya.

Aku juga tak bisa menahan senyum.

Padahal aku sendiri belum menyentuh sup misonya, tapi dada ini sudah terasa hangat.

Gigitan ketiga kami makan bersama.

Ya. Lumayan enak juga, kalau aku boleh bilang. Aku sengaja memasukkan lemak dari hasil menumis pork belly, dan ternyata itu memang memperdalam rasanya.

“…Rasanya seperti kebahagiaan.”

Setelah bergumam begitu, Junna mulai bersenandung.

Melodi dari “kebahagiaan” yang sedang dia rasakan.

Melodi yang manis, dan waktu yang manis, pun mengalir.

“Shogayakinya juga enak. Cocok banget sama makanan pendamping-nya.”

“Syukurlah.”

“Kayak aku dan kamu, Shigure.”

“…Iya.”

Jarum jam terus bergerak maju sementara kami terus mengulang siklus makan, mengobrol, dan bersenandung.

Dan pada saat yang sama, aku yakin hubungan kami juga begitu.

Aku berdoa semoga masa depannya dipenuhi hari-hari seperti ini.

“Shigure? Kenapa, kamu bengong.”

“…Nggak, nggak apa-apa.”

Aku kembali menggerakkan sumpitku yang tadi berhenti tanpa kusadari, lalu memusatkan pandanganku lagi.

Di gelas pasangan yang isinya sudah tinggal sedikit dan hanya menyisakan simbol “♡”, es yang mulai mencair berbunyi nyaring dan jernih.

Shuko, shuko, shuko, shuko.

Aku menggerakkan sikat gigi di depan cermin. Sikat gigi baru itu masih terasa kaku.

Shuko, shuko, shuko, shuko.

Di sampingku, Junna yang masih memakai baju rumahnya menggerakkan sikat gigi biru keunguan miliknya dengan ritme yang sama. Bahkan barang kecil dan sehari-harinya pun serba warna hortensia selera estetikanya memang kuat sekali.

“…………”

Sambil menggosok gigi, mata kami bertemu lewat cermin.

Kami berdua sama-sama tanpa ekspresi. Entah kenapa rasanya kalau aku mengalihkan pandangan, aku bakal kalah, jadi lama-lama ini berubah jadi semacam lomba adu tatap.

Shuko, shuko, shuko, shuko, shuko, shuko, shuko, shuko.

“…………!……… ”

Yang kalah duluan justru Junna.

Matanya menyipit saat wajahnya pecah jadi senyum, lalu dia memuntahkan busa putih yang sudah terkumpul di mulutnya.

Setelah membilas sikat giginya sebentar dan mengembalikannya ke tempat, dia mengambil air dari gelas yang warnanya juga biru keunguan, lalu berkumur. Kuchu, kuchu, kuchu.

“…………”

Dia tidak langsung memuntahkannya, malah terus berkumur sambil menatapku lewat cermin.

Pipinya mengembung dan mengempis bergantian di kanan kiri. Pemandangan itu lucu sekali sampai aku tak sengaja memuntahkan busaku juga.

Pada saat itulah, Junna mendekatkan wajahnya ke samping wajahku di atas wastafel, lalu dengan “npeh” dia membilas busaku dengan air yang baru saja dia muntahkan keluar. Setelah itu dia mengusap bibir basahnya dengan tangan, lalu

“Mm.”

dia menyerahkan gelas yang masih berisi sedikit air kepadaku saat aku sedang membilas sikat gigi.

“Makasih.”

Aku meletakkan sikat gigiku di tempatnya lalu berkumur memakai air dari gelas yang tadi dia berikan.

Saat gelas itu menyentuh bibirku, kejadian di toko hamburger saat sesi belajar dulu terlintas di kepala, dan aku sempat membeku tapi karena aku tak bisa tahu Junna tadi menyentuh bagian yang mana, aku memutuskan untuk tak memikirkannya dan memuntahkan rasa malu samar yang tumbuh di dadaku bersama air itu.

“Shigure—”

Junna memanggilku saat aku sedang mengelap mulut dengan saputangan dari saku belakang celanaku. Aku mencoba menebak apa yang akan dia katakan.

“Ini benar-benar terasa kayak kita tinggal bareng.”

“Kita ciuman tidak langsung lagi…”

“Boleh pinjam saputangannya?”

“Untuk makan malam nanti—”

“Barusan kita selesai makan siang!?”

Pertanyaannya benar-benar di luar dugaan.

Aku menggeleng sambil menyimpan kembali saputangan.

“Sayangnya, aku belum memikirkan menu makan malam.”

Semua bahan yang kami beli tadi kupakai sekaligus. Aku sengaja merencanakan menunya begitu karena kalau ada sisa, rasanya malah merepotkan dia, mengingat dia tidak masak sendiri.

“Ehhh,” Junna cemberut.

“Perencanaanmu naif sekali, Shigure. Kalau ke rumah cewek, menginap itu perkembangan yang paling alami. Dan kalau begitu, ya jelas kita butuh makan malam juga… Jadi. Ayo belanja lagi, ya?”

“Aku cuma mengabulkan satu permintaan.”

kataku tegas, lalu berbalik dari wastafel tempat sikat gigi biru dan biru keunguan berjajar.

Aku pergi ke dapur dan mulai mencuci piring kami berdua.

Junna mengikutiku dan berdiri di samping. Dia mengambil lap piring yang bersih, lalu

“Y-Yah, memang sih, tapi… kamu nggak mau menginap, Shigure?”

“…Bukan nggak, bukan bukan bukan bukan bukan bukan nggak mau.”

“Negasinya genap. Berarti kamu ‘mau’? Cara ngomongmu muter sekali. Imut ya, Shigure.”

“Aku nggak mikir sedalam itu, dan jangan ngitung serapi itu.”

“Keluar lagi tuh ‘nggak’-nya. Kamu malu ya?”

“Aku bukan nggak, bukan bukan bukan bukan bukan nggak malu.”

“Kali ini ganjil… berarti artinya ‘aku nggak malu’, tapi kamu jelas malu, kan, Shigure? Imut banget.”

“Jangan pakai ‘imut’.”

“Aku berhenti kalau kamu menginap sama aku.”

“Kalau gitu nggak usah berhenti.”

“…Hmph.”

Sambil adu mulut seperti itu, aku mencuci piring dan menyerahkannya ke Junna. Dia langsung menerimanya dan mengelapnya dengan cekatan.

Seolah sudah bertahun-tahun melakukannya.

Kerja sama yang sangat selaras.

Setelah Junna terdiam dengan wajah cemberut, kami berdua juga sama-sama hening cukup lama, tapi entah kenapa itu tak terlalu menggangguku.

Suara piring beradu, suara air. Anehnya menyenangkan, geli, dan nyaman tenggelam dalam suara-suara keseharian seperti ini bersama Junna.

Aku benar-benar nggak mau pulang.

Pikiran itu muncul begitu saja.

“…Shigure-san yang imut, hari ini kamu akan tinggal sampai jam berapa?”

tanya Junna. Aku juga tak tahu kenapa dia tiba-tiba pakai bahasa formal, tapi, “Mungkin sampai sekitar jam empat atau lima sore,”

jawabku. Tepat saat aku selesai mencuci semua piring,

“Mm, paham. Kalau begitu.”

Junna menggantung lap piring yang masih basah di hanger lalu berkata, “Mau lihat JUN dari YOHILA… sedang bekerja?”

Aku benar-benar sudah dipancing habis-habisan, pikirku.

Di bagian belakang ruang tamu ada pintu geser sekat. Di baliknya, pada ruangan sekitar empat setengah tatami, ada tempat tidur selain meja kerja.

“Ini ruang kerjaku… sekaligus kamar tidurku.”

Seprai putih, sarung bantal dan sarung selimut warna biru keunguan muda.

Tirai blackout biru keunguan juga tertutup, dan cahaya langit-langit berwarna putih kebiruan pucat menerangi ruangan kecil itu.

“Praktis, karena kalau capek aku bisa langsung rebahan.”

Sambil berkata begitu, Junna berjalan ke bagian belakang ruangan. Karena dia sudah melepas hoodie dan hanya memakai t-shirt, bagian bawah yang dia kenakan jadi terlihat jelas, dan ujungnya memang jauh lebih pendek dari celana pendek biasa.

Itu adalah pakaian olahraga yang biasa disebut dolphin shorts, berbahan longgar dan punya slit di bagian luar paha supaya lebih mudah bergerak.

Dan itu, yah, sangat buruk untuk kesehatan mentalku.

Pahanya yang bukan cuma setengah, tapi hampir dua pertiganya terbuka benar-benar racun bagi mataku.

“Shigure. Kamu bakal lihat, kan? Masuklah…”

Bahkan kalau pun aku berkunjung ke rumah Junna, aku sudah bertekad untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki ke kamar tidurnya.

Tapi pada akhirnya, aku malah dipancing dengan “umpan” yang digantung di depan mataku dan langsung menyambarnya tanpa pikir panjang…

Tak ada kata lain selain kesalahan fatal.

“Tutup pintunya.”

“…Nggak apa-apa kalau dibiarin terbuka, kan?”

“Nggak. Aku selalu menutupnya, jadi tutup. Kalau lingkungannya berubah, aku jadi nggak fokus.”

kata Junna sambil menyalakan komputer dan menggerakkan mouse.

“…Oke,” jawabku patuh, lalu menutup pintu ruang kerja itu (dan kamar tidurnya).

Lalu saat aku menoleh kembali ke dalam ruangan, Junna yang berdiri di depan meja sedang membungkuk dengan bokong menghadap ke arahku.

Karena di depannya ada kursi meja besar, tubuhnya jadi miring.

“…………Bisa tolong duduk di kursinya?”

Junna melirikku.

“Lihat ke mana sih. Mesum.”

“…!? Hah—”

“Bukan ke aku. Lihat ke sini.”

Junna menunjuk meja dengan jari lalu duduk. Aku menelan balik protesku dan mendekat.

Sesuai katanya, aku mengalihkan pandanganku ke meja.

Pertama kalinya aku melihat ruang kerja seorang musisi.

Di tengah ada komputer desktop, dengan speaker hitam besar di kanan kirinya. Mesin dengan deretan knob kecil itu mungkin audio interface.

Keyboard ditata membentuk huruf L, dan di bawah meja ada amplifier dan pedalboard efek. Banyak kabel menjalar di lantai, salah satunya tersambung ke mikrofon yang dipasang pada stand.

Di sepanjang dinding ada beberapa gitar. Gitar listrik surf green yang sudah kukenal, gitar listrik putih, dan gitar akustik hitam.

Jenis debar yang sama sekali berbeda dari sebelumnya kini membakar hatiku.

“…Jadi di sini kamu nulis lagu dan merekam semuanya.”

“Iya. Tapi baru demo-nya saja.”

kata Junna sambil menjalankan semacam software.

“Aku rekam gitarnya pakai mic itu… Ada juga metode yang namanya line recording, di mana sinyal suaranya ditangkap langsung, dan kualitas suaranya memang lebih jelas dan stabil. Tapi karena YOHILA nggak main live, aku justru ingin suaranya tetap terasa seperti suara band yang mentah, seminim mungkin nuansa digitalnya. Jadi bahkan untuk demo pun, aku dasarnya tetap rekam pakai mic. Menurutku suara dan atmosfer, ambience, dari amp itu nggak bisa direproduksi sempurna oleh simulator. Rasanya kayak suaranya nggak punya darah.”

Kata-katanya mengalir cepat khas otaku. Ada beberapa bagian yang tidak sepenuhnya kupahami, tapi—

“Kamu detail sekali soal itu.”

“…Iya. Cintaku pada musik juga berat.”

jawab Junna tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Profil sampingnya yang serius membuatku sadar sekali lagi bahwa dia benar-benar adalah JUN dari YOHILA.

“Boleh aku fokus sebentar?”

tanya Junna sambil mengambil headphone yang tergantung di hook.

Itu headphone kabel, bukan wireless, dan mereknya juga beda. Mungkin dia memang membedakan headphone untuk produksi musik dan untuk mendengarkan biasa.

“Tentu.” Aku mengangguk.

“Anggap saja aku angin.”

“Angin… ya. Dalam arti kalau nggak ada itu aku bakal mati, iya. Tapi kalau kamu berdiri sedekat itu, mustahil nggak sadar.”

kata Junna santai.

“Kasur. Duduk di sana.”

“Oke.”

Sekali lagi aku patuh dan berpindah ke sisi seberang meja.

Entahlah. Aku merasa menyedihkan karena sampai terbawa suasana dan masuk ke ruangan tempat Junna tidur. Begitu mudah dipancing…

“…………”

Junna, tanpa memperhatikanku yang duduk di kasur, menghadap ke komputernya.

Aku terus menatap sosoknya yang begitu tekun dan tulus.

Bukan sebagai angin, melainkan sebagai objet d’art.

Gadis yang barusan terasa begitu dekat itu kini mendadak terasa sangat jauh.

Sekitar satu jam setelah dia mulai bekerja, Junna meregangkan tubuh sambil mengeluarkan suara, “Mmm…”

Dia melepas headphone, berdiri, lalu mulai melakukan peregangan ringan.

Tanpa perlu melihat ponsel sama sekali, aku yang sejak tadi memperhatikannya dengan saksama pun memanggil,

“Kerja bagus… tahu nggak, rasanya itu…”

Setelah sedikit ragu,

“pekerjaan yang mengejutkan biasa, ya?”

aku mengatakan kesan jujurku. Junna sama sekali tidak tampak tersinggung.

“Iya. Tadi aku cuma motong, nempel, dan menyusun sedikit demi sedikit di DAW.”

“DAW?”

“Digital Audio Workstation. Software buat bikin musik di komputer.”

“Begitu.”

Dari luar memang tadi cuma kelihatan seperti dia klik-klik mouse di depan komputer.

Kadang dia menyentuh keyboard MIDI juga, tapi cuma mengetuknya seperti sedang memastikan sesuatu lalu langsung kembali ke mouse. Benar-benar kerja meja.

“Kelihatannya capek juga ya, duduk terus begitu.”

“Iya. Capek banget… Jadi,”

Junna berbalik menghadapku.

“Pijit.”

Mata Junna memantulkan cahaya ruangan dan berkilat.

“Please?”

“Hah?”

Dari tadi begitu dia bilang “jadi”, aku memang sudah punya firasat buruk. Junna mendekat ke arahku yang duduk di tepi kasur. Dengan wajah datar, dia menggerak-gerakkan jari-jarinya.

“Kalau kamu mau, aku yang pijitin juga boleh. Aku sentuh kamu sambil isi ulang energi…”

“Tunggu tunggu tunggu tunggu!”

Karena di belakangku ada dinding, aku tak bisa kabur, jadi aku mengangkat kedua tangan untuk menghentikannya.

“Ini cepat banget! Kalau capek, kan ada energy drink di kulkas—”

“Kamu sendiri yang bilang itu ‘nggak bagus buat tubuh’, Shigure.”

“Kamu bisa rebahan dan istirahat saja—”

“Nggak. Kamu lupa?”

Junna menangkap kedua tanganku lalu menggesernya ke samping, mendekat hingga nyaris menempel. Aroma sabun yang kuat mengingatkanku pada insiden mandi tadi, dan aku menahan napas.

“Janji itu.”

“…!”

Aku teringat lagi percakapan kami sebelum ujian.

“Kalau nilaiku lebih tinggi dari Kuzujirou, aku mau dipijitin.”

“…Aku yang mijitin?”

“Mau aku yang sentuh kamu, atau kamu yang sentuh aku, dua-duanya boleh.”

Benar juga.

Aku benar-benar lupa, karena perhatian terfokus pada janji terbesar, “satu permintaan apa pun,” padahal masih ada satu lagi yang tersisa.

Dan dia baru membawanya keluar pada timing begini… terlalu licik kamu, Amamori Junna.

“Jadi kamu pilih yang mana?”

Pegangan Junna pada pergelangan tanganku menguat.

“Kamu yang pijit? Atau kamu yang dipijit?”

Sudah tak ada jalan keluar, baik secara fisik maupun mental. Janji tetaplah janji.

“Shigure.”

Sekali lagi aku merevisi pikiranku.

Junna memang benar-benar memancingku masuk ke ruang ini sebagai jebakan, dan aku benar-benar masuk perangkap. Seperti predator yang telah menangkap mangsanya, Junna menyeringai.

“Pilih.”

Memijat Junna, atau dipijat oleh Junna. Dihadapkan pada pilihan pamungkas seperti itu, yang kupilih adalah—

“…………Aku serahkan padamu.”

yang kedua, dipijat. Menurutku, disentuh akan lebih sedikit merusak mental daripada menyentuhnya. Mendengar jawabanku, Junna melepaskan tanganku sambil berkata, “Mm.”

“Tiarap.”

“…Nggak bisa di sofa saja? Di ruang tamu.”

“Nggak. Di kasur, tiarap,” perintahnya dengan nada yang tak memberi ruang bantahan, lalu dia menggeser selimut ke sisi dekat dinding.

“Oke,” kataku, lalu dengan enggan menelungkup di atas kasur.

Kasurnya lembut dan empuk, dan baunya manis, tapi bukan sabun atau parfum.

“Kamu boleh pakai bantal, lho.”

“…Nggak usah.”

Aku memakai lenganku sendiri sebagai bantal dan memiringkan pipi ke arah dinding.

Lalu mataku bertemu dengan—

boneka Geroppi warna hortensia.

Ukurannya cukup besar. Aku sempat bertanya-tanya apa Junna tidur sambil memeluknya lalu buru-buru menyingkirkan bayangan yang mulai terbentuk di kepalaku.

“Nnsho…”

Kasur berderit dan turun. Tepat setelah itu,

“Peron.”

Junna mengangkat ujung t-shirt yang kupakai. Dan bahkan sebelum sempat terkejut, Junna sudah duduk mengangkang di punggung bawahku yang terbuka.

Paha telanjangnya yang sejuk menempel dan menekan kulitku. Karena kontaknya langsung kulit ke kulit, sensasinya terasa sangat mentah.

“Hah—!? Hei—”

“Jangan gerak, jangan gerak.”

Junna menepuk-nepuk punggungku yang meronta seperti sedang menenangkan. Lalu dia mengusapnya.

“Nggak apa-apa. Aku pelan-pelan kok…”

Meskipun masih terhalang t-shirt, rangsangannya sudah lebih dari cukup. Aku mengutuk tipisnya kain baju musim panas ini.

“Rileks.”

Mana bisa aku rileks! Aku nyaris berteriak, tapi kutahan. Aku merasa Junna sedang menahan tawa.

Jumlah tangan yang membelai punggungku bertambah, lalu perlahan dia mulai menekan dengan sungguhan.

“Aku longgarkan ya,” katanya, dan area yang dituju adalah bahuku. Dengan bantalan ibu jarinya, dia menekan sisi dalam tulang belikatku. Seolah ingin menambah kekuatan, dia menjepit pinggangku dengan pahanya.

“…Shigure. Enak?”

“Mm. I-Iya…”

“Bagus. Buatku juga enak.”

“…‘Buatku juga’ apanya? Kalimat macam apa itu? Jangan bilang kamu merekam ini lagi buat disalahgunakan—Ow!”

Dia menekan titik di bahuku seperti hendak mencungkilnya keluar. Dalam sekali.

“Setiap kamu membantah, pijatannya bakal lebih kuat.”

“H-Hey, kamu jangan seenaknya—”

“…Nn, fu… nnuh.”

“Berhenti bikin suara aneh begitu waktu lagi ngeluarin tenaga!”

Mata hitam bundar boneka Geroppi memantulkan sosokku yang sedang berteriak.

Junna melanjutkan pijatan itu, bukan cuma dengan jari, tapi juga dengan telapak tangan dan berat tubuhnya. Mungkin karena belum terbiasa, gerakannya agak canggung, dan justru itulah yang terasa manis sekaligus nyaman.

“Kamu ternyata lumayan berotot ya.”

gumam Junna sambil memijat bisepku.

“Padahal tubuhmu ramping.”

“…Aku anak klub olahraga.”

jawabku sambil setengah mengantuk karena nyaman, setelah mulai terbiasa dengan rangsangannya.

“Aku lumayan sering latihan…”

“Mm, soalnya kamu anak klub atletik.”

Dia memijatku berurutan, dari lengan atas ke lengan bawah, dari telapak tangan ke jari-jari, lalu—

“Tubuh bagian bawahmu pasti lebih gila lagi.”

kata Junna pelan.

Aku merasakan nuansa buruk dalam suaranya, dan langsung terseret kembali dari ambang kantuk.

“Junna?”

“Ganti posisi. Buat mijit tubuh bagian bawahmu… aku muter.”

Pada saat itu juga, beban di punggung bawahku lenyap dan pahanya tak lagi menyentuh kulitku. Kasur berderit, dan udara manis yang mengendap ikut bergerak.

“Nn… sho…”

Punggungku ditimpa lagi dengan bunyi dumph.

Napas tertahan di tenggorokanku. Kuku yang dicat biru keunguan berkilat di depan pandanganku, dan sepasang kaki putih menutupi pandangan Geroppi. Junna yang masih duduk di atas tubuhku rupanya sudah berputar 180 derajat.

“…!?”

Boneka katak itu hilang dari pandanganku, dan kini yang memenuhi penglihatanku adalah kulitnya, dari betis sampai kaki.

Posisi ini buruk, untuk banyak alasan.

Bokongnya yang tadi berada di punggung bawahku sekarang ada tepat di punggungku. Karena aku telungkup dengan kepala menghadap samping, kaki telanjangnya ada tepat di depan mataku.

“H-Hoi! Junna—”

“Ah.”

Tanpa sadar aku mengangkat kepala untuk menoleh ke belakang, tepat saat Junna mengeluarkan suara kecil.

Pintu sekat kamar itu terbuka, dan seorang wanita berdiri di sana.

“Kalian berdua…”

Rajut musim panas merah tanpa lengan, celana jeans hitam robek-robek. Dia tidak memakai masker. Akagi, dengan pakaian jalanannya, tersenyum, ujung bibirnya yang memakai lipstik merah sedikit terangkat.

“Anggap aku nggak ada.”

Dia menurunkan kacamata hitam berlensa terang yang tadi dipegang dengan satu jari, lalu,

“Lanjutkan?”

“Dimengerti, Sensei.”

“Jangan dimengerti! Nggak bisa, aku nggak bisa!?”

Ucapan Akagi diikuti jawaban Junna dan teriakanku.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa