“………………Capek.”
Begitu sampai di rumah, aku langsung menyalakan AC lalu ambruk di sofa.
Mood-ku, setelah seharian dihantam matahari yang menyilaukan, rasanya seperti serbet yang jatuh di atas aspal panas. Dalam sekejap meleleh jadi air lalu lenyap.
Hari ini adalah hari setelah turnamen olahraga, hari terakhir semester pertama.
Sekolah cuma sampai siang. Setelah menahan kantuk selama upacara penutupan dan menyelesaikan misi membawa pulang tasku yang berat, mengembung penuh buku pelajaran dan buku latihan yang kutinggal di sekolah, libur musim panas yang indah akhirnya menanti. Hari-hari terbaik, hari-hari di mana aku tidak perlu pergi ke sekolah.
Tapi meski begitu, aku sama sekali tidak merasa senang.
Karena aku jadi tidak bisa bertemu dengannya.
Kalau pergi ke sekolah, setidaknya aku masih bisa melihat dan bicara dengannya sekali saat jam makan siang, bahkan kalau tidak hujan pun. Dan kalau aku memberanikan diri pergi ke kelas lain, aku bahkan bisa bertemu lebih lama. Tapi kalau tidak ada sekolah?
Bertemu setiap hari jelas mustahil. Cuma angan-angan.
Rumahku dan rumahnya juga tidak dekat, dia punya kegiatan klub, aku punya pekerjaan. Seberapa pun aku ingin menemuinya, aku tidak akan bisa bertemu sesering dulu.
Karena itu, aku mencoba menantang diriku untuk berjauhan darinya.
Sebagai gantinya, aku mencoba hang out dengan anak-anak sekelasku yang mulai agak kukenal lewat turnamen olahraga kemarin. Sekelompok anak “cerah” yang berpusat pada seorang gadis tinggi dan cantik. Silau.
Acara jalan-jalan yang mewah, sekaligus perayaan turnamen olahraga. Kami makan siang di restoran dessert buffet yang juga punya pasta dan kari, lalu pergi belanja… sempat ada rencana karaoke, tapi aku berbohong bilang aku buruk dalam bernyanyi, lalu kami menikmati minuman edisi terbatas di sebuah kafe. Dan semuanya benar-benar menyenangkan.
Makanya aku jadi makin sadar.
Ah, memang dia itu istimewa.
Saat membandingkan warna-warna yang meluap ketika aku bersama teman-teman sekelasku dengan warna yang dia ciptakan untukku, aku merasakannya dengan sangat jelas. Yang biasa dan yang istimewa. Sama sekali berbeda.
JUN: Aku sudah memutuskan, Shigure!
Aku bangkit duduk, lalu mengiriminya pesan LINE.
JUN: Soal permintaan itu…