“Halo. Progresnya sejauh ini bagaimana?”
Hari itu aku pulang lebih awal dari biasanya, lalu sedang bekerja di meja kamarku ketika mendapat telepon dari manajerku, Kotegawa-san. Aku menyalakan pengeras suara lalu menjawab,
“Lumayan.”
“Artinya?”
“Bagian musiknya... hampir selesai.”
“Hmm. Berarti tinggal liriknya saja, ya. Kalau begitu, sepertinya masih sempat.”
kata Kotegawa-san dengan nada lega.
Kotegawa-san, yang menjadi manajer baruku setelah aku pindah label, adalah teman Akagi-sensei. Dia wanita dengan ketenangan khas orang dewasa. Cara bicaranya juga lembut, sangat bertolak belakang dengan Akagi-sensei.
“...Iya. Mungkin...”
“Mungkin? Barusan kamu bilang ‘mungkin’ dengan suara kecil, ya?”
Tapi sesekali dia menekanku seperti ini, dan itu menakutkan. Jadi masuk akal kalau dia memang akrab dengan Akagi-sensei. Keduanya sama-sama punya aura kuat yang bikin gentar.
“Yah, kalau molor sedikit sih nggak masalah.”
Saat aku mulai ciut, Kotegawa-san langsung menyusul begitu.
“Tapi tolong, buatlah sesuatu yang benar-benar memuaskan buatmu, JUN-san. Soalnya ini singel debut majormu. Kita hantam mereka habis-habisan, ya? Kayak muter tinju langsung ke ulu hati mereka, terus, bam! Kita serbu dunia musik!”
“I-Iya...”
Wanita ini pasti dulunya anak liar. Di luar kelihatannya tenang, tapi bara dalam dirinya malah terasa lebih ganas daripada Akagi-sensei. Waktu mendengar dia main gitar pun aku sering memikirkan hal itu.
“Soalnya kami... gagal.”
Suara Kotegawa-san mendadak dibalut kesuraman.
Udara terasa menegang, seperti senar yang ditarik sampai nyaris putus, dan aku tanpa sadar menahan napas.
“Waktu kami pindah dari indie ke major, kami terlalu mengubah gaya musik kami demi menyesuaikan keinginan dan tuntutan orang-orang di sekitar. Hasilnya memang laku... tapi justru karena laku, ketegangan yang lahir saat itu akhirnya menghancurkan ikatan kami dan merusak kami.”
YŌ, maksudnya Kotegawa Yō-san, adalah mantan gitaris ENDY. Setelah band itu bubar tiga tahun lalu, dia pensiun sebagai pemain lalu mendirikan agensi musik kecil.
Aku tidak tahu alasan atau keadaan apa yang membawanya ke titik itu. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi
“Aku nggak mau hal itu terjadi pada YOHILA, pada JUN-san.”
Perasaannya tersampaikan dengan sangat jelas. Perasaan murninya terhadap band YOHILA, terhadap diriku, dan terhadap musik.
Karena itulah aku memutuskan untuk menerima uluran tangan mereka. Tangan Kotegawa-san dan Akagi-sensei.
“Kamu nggak perlu memikirkan apa yang sedang tren, apa yang populer, atau apa yang diinginkan pasar, nggak perlu semua itu. Seperti yang sudah berkali-kali kubilang, meski kamu debut major bukan berarti kamu harus menyesuaikan diri dengan selera massa... Yang perlu kamu lakukan, JUN-san, cuma tetap menjadi YOHILA seperti biasanya, dan melakukan apa yang memang ingin kamu lakukan.”
“...Iya. Terima kasih.”
Kotegawa-san sangat menghargai musik YOHILA dan menghormatinya.
Keinginan untuk tidak dipaksa mengubah gaya musikku juga berasal dari diriku sendiri, dan itu memang salah satu syarat yang kutetapkan saat kami pindah label, jadi seharusnya tidak ada masalah.
Atau setidaknya, seharusnya memang begitu.
“…………Haa...”
Setelah telepon dengan Kotegawa-san berakhir, aku mengembuskan napas panjang.
Selembar kertas lepas berwarna putih.
Belum ada satu kata pun tertulis di atasnya.