YOHILA adalah band rock alternatif Jepang yang berpusat pada seorang musisi bernama JUN.
Mereka dijuluki sebagai “generasi baru depressive rock” karena lirik-lirik mereka memiliki pandangan dunia yang pesimistis dan cenderung membenci manusia.
Gambaran Umum
Pada tanggal 31 Juli 20XX, mereka memulai aktivitas dengan mengunggah video lirik “Hydrangea and the Ghost” ke sebuah situs berbagi video. Setelah itu mereka terus aktif merilis lagu, lalu pada 1 November di tahun yang sama, mereka melakukan debut CD di bawah label indie “FABLE RECORDS”.
Walaupun disebut sebagai band, anggota selain gitaris dan vokalis sekaligus pemain kibor, yaitu JUN, tidak bersifat tetap. Formasinya berubah tergantung lagunya.
Selain itu, hampir tidak ada informasi tentang JUN yang dipublikasikan, dan penampilannya di media, termasuk wawancara, nyaris tidak ada. Bahkan setelah debut pun, mereka belum pernah tampil langsung di panggung dan lebih berfokus pada produksi musik.
Anggota
JUN
Perempuan. Usia tidak diketahui. Menangani vokal, gitar, kibor, dan penciptaan seluruh lagu.
...
“Sejujurnya, sejak pertama kali bertemu, aku sudah sempat merasa ‘jangan-jangan memang dia’.”
Aku mengangkat wajah dari halaman Wikipedia yang terbuka di ponsel, lalu menatap Junna.
“Aku memang biasanya nggak cari tahu soal band, tapi karena penasaran sama YOHILA, aku sempat lihat juga... Aku tahu nama JUN, dan aku juga tahu kalau JUN sengaja menyembunyikan identitasnya.”
Hei.
Junna, jangan-jangan kamu
JUN dari YOHILA?
Aku teringat kata-kata yang dulu hampir sempat kuucapkan, tapi terpotong suara bel lalu menghilang begitu saja. Setelah itu, aku merasa lebih baik kalau aku tidak mengungkitnya sendiri, jadi kutaruh jauh-jauh di belakang pikiranku.
“Suaramu juga hampir sama persis.”
“...Iya, kan?” jawab Junna dengan nada datar. Karena dari awal dia memang minim ekspresi, jadinya nyaris tidak ada perubahan.
“Jadi, ya.”
Di sore hari hujan sepulang sekolah. Kami berdua berada di ruang audiovisual seperti biasa, menghabiskan waktu seperti biasanya, lalu aku tersenyum pada Junna.
“Nggak ada yang berubah. Sekarang aku sudah benar-benar tahu kalau Junna adalah JUN dari YOHILA... tapi tetap saja, nggak ada yang berubah.”
“...Iya.” Junna mengangguk, lalu memperlihatkan senyum tipis.
“Terima kasih, Shigure,” katanya, lalu ia mulai bersenandung dan menuliskan melodi ke buku catatan paranada.
Semalam, saat kami menelepon, aku sudah mendengar cerita soal melodi yang muncul tiba-tiba di kepalanya dan proses dia membuat lagu, jadi aku hanya diam mendengarkan senandungnya sambil memperhatikan jari-jarinya yang putih ramping bergerak ringan.
Aku bergumam, “Melodinya bagus.”
“Iya, kan?” pipi Junna sedikit melonggar puas.
“Itu suara yang Shigure mainkan buatku. Oh... ada lagu yang sedang kukerjakan dan memakai ‘suara Shigure’. Mau dengar?”
“...Nggak apa-apa?”
“Iya. Liriknya belum selesai, jadi sekarang masih cuma senandung, dan selain gitar sama piano, sisanya masih program... Kalau kamu nggak masalah dengar versi yang belum jadi, aku pengin kamu dengar. Aku juga pengin tahu pendapatmu.”
“Dengan senang hati.”
Satu-satunya jawaban yang mungkin memang cuma itu. Bisa mendengar lagu baru dari band favoritku sebelum rilis, dan bahkan versi mentah yang tidak akan pernah diperdengarkan ke publik, itu adalah kehormatan yang luar biasa besar.
Meski senang, aku juga gugup, dan saat aku sedang membetulkan posisi dudukku,
“Shigure, ke belakang. Geser.”
Junna berdiri dan pindah dari baris kursi belakang ke baris yang sama denganku, duduk tepat di sebelahku. Entah kenapa, dia membawa sepasang earphone berkabel. Bukan headphone nirkabel, melainkan yang tadi tergantung di lehernya.
“...Kenapa malah pindah ke sebelahku? Kalau cuma mau kasih, tinggal serahkan saja”
“Diam.”
Junna mendorongku ke samping dan memaksakan tempat duduknya.
Lengan atasnya yang lembut menyentuh lenganku, dan aroma manis pun menguar. Tubuhku makin kaku karena ketegangan yang berbeda.
“Aku yang pasangkan.”
Junna memasukkan earphone ke telingaku yang membeku. Telinga kanan lebih dulu, lalu kiri. Untuk sisi miliknya, telinga kanan, dia tinggal memasangnya begitu saja.
“Nah.”
Untuk sisi sebaliknya, telinga kiri, Junna harus melingkarkan tangannya dan mencondongkan tubuhnya. Aroma manis itu makin kuat, dan sesuatu yang lebih lembut dari lengan atasnya menekan tubuhku.
“Susah pasangnya...”
Saat dia bergerak-gerak dalam posisi seperti itu, aku benar-benar sudah tak tahan. Napas panasnya menggelitik telingaku, dan aku bahkan tak bisa bernapas dengan normal lagi.
“...Mm. Sudah. Oke, aku putar ya.”
Tepat saat rasanya aku sudah mencapai batas menahan napas, Junna akhirnya menjauh, mengoperasikan ponselnya, lalu memutar lagunya. Kualitas suaranya buruk, mungkin karena direkam di rumah, dan suara drum serta bass hasil program juga terdengar datar. Tapi justru itulah yang membuatnya terasa istimewa. Demo kasar yang biasanya tak mungkin bisa didengar orang lain.
Aku pun mendengarkan dengan saksama
“…………”
atau setidaknya harusnya begitu. Mungkin karena penasaran dengan reaksiku, Junna terus menatap wajahku selama aku mendengarkan lagu itu. Bukan cuma itu, tubuh kami juga masih saling menempel dekat. Jujur saja, aku sama sekali tidak bisa fokus pada musiknya.
“Gimana?”
Lagu yang rasanya sepanjang dua atau tiga lagu sekaligus itu akhirnya selesai, lalu saat diminta pendapat, aku melepaskan earphone dan menjawab sambil mengembalikannya.
“Uh, ya... bagus. Iya.”
“…………Mmm. Reaksimu dingin banget... Memang nggak bagus?” tanyanya cemas, dan aku langsung panik.
“B-Bukan begitu! Aku cuma tegang saja. Tadi benar-benar luar biasa. Aku suka.”
“...Begitu.”
Sambil menatap mataku lagi, tangannya menyentuh tanganku ketika menerima earphone itu, lalu Junna berkata,
“Aku juga suka.”
Dengan wajah datar.
Jantungku langsung melompat. Rasanya seperti dijepit kuat-kuat.
Melihatku membeku, Junna menyipitkan mata dan tersenyum. Lalu dia menambahkan dengan nada jahil, “Lagu ini.”
“O-Oh...”
Meski sekarang aku tahu Junna adalah JUN dari YOHILA, sikap dan cara pandangku terhadapnya tidak berubah. Tapi bagaimana dengan Junna?
Entah kenapa terasa seperti jarak kami menjadi jauh lebih dekat dibanding sebelum dia membuka identitasnya.
Baik secara fisik maupun secara batin.
☂
“Shigure, menurutmu hal terpenting untuk menikmati musik itu apa?” tanya Junna sambil menggulung kabel earphone.
Posisinya masih belum berubah. Tetap di sebelahku, sedekat itu sampai bahu kami bisa bersentuhan. Aku pun menjawab sambil diam-diam mengambil sedikit jarak dan membetulkan dudukku.
“Maksudmu... seperti earphone atau headphone yang bagus?”
“Iya. Itu juga penting, tapil”
Junna langsung bergeser dan menutup jarak hingga nol, atau malah kurang dari nol. Bahu kami saling menyentuh.
“Masih ada yang lebih penting, kan?”
Dia mendekatkan mulut ke telingaku.
“Telingamu,” bisiknya.
Napas lembapnya, seperti angin setelah hujan musim panas, menyapu telingaku. Aku spontan menutupi telinga dan menjauh cepat.
“A-Apa? Telingaku...?”
“Kalau nggak bisa dengar, ya nggak bisa mendengarkan. Jelas, kan?” Junna mengangguk seolah setuju sendiri. Kali ini dia tidak mengejarku.
Ia memasukkan earphone yang sudah digulung ke tas sekolahnya di meja belakang, lalu mulai mengobrak-abrik isinya.
“Dan karena itu,”
“...Dan karena itu?”
“Kurasa aku akan membersihkannya.”
Sambil berkata begitu, Junna mengeluarkan korek kuping. Model klasik, batang bambu tipis dengan ujung kecil pipih seperti spatula, dan di sisi lainnya ada bulu halus putih.
“Dan karena itu,” kata Junna sambil duduk kembali di kursinya lalu menepuk-nepuk pahanya sendiri.
“Silakan.”
“Silakan...?”
“Aku menyuruhmu rebahan di sini.”
“Tunggu, kenapa!?”
“Kenapa? Buat kubersihin telingamu, tentu saja...”
“Bukan itu maksudku. Kenapa kamu yang membersihkan telingaku!?”
“Supaya telingamu lebih siap menikmati musik. Bukannya tadi aku sudah bilang?”
Junna melambaikan korek kuping itu seperti tongkat dirigen, tampak heran.
“...Iya, memang harus dibersihkan. Sepertinya kamu nggak dengar apa yang kubilang. Berarti mau nggak mau harus kubersihkan baik-baik... jadi, rebahan?”
Apa dia nggak terlalu memaksa pakai kalimat ‘dan karena itu’ miliknya itu?
“Nggak, logikanya sih aku paham. Yang nggak kupahami itu alasan kenapa sampai jadi begini, atau mungkin semuanya berjalan terlalu cepat sampai aku nggak sempat ikut. Lagi pula, kalau kamu pinjamkan korek kupingnya, aku bisa bersihkan sendiri.”
“Nggak.”
Aku mencoba melawan arus, tapi Junna tegas sekali.
“Kalau sendiri itu berbahaya karena kamu nggak bisa lihat. Bisa melukai bagian dalam telinga. Lebih aman kalau orang lain yang membersihkan... jadi, rebahan?”
Tepuk, tepuk, tepuk, tepuk. Dia terus menepuk pahanya, mendesakku.
Aku melirik ke arah pintu ruang kelas. Pintunya terkunci, jadi tidak perlu khawatir ada orang masuk. Akhirnya aku menyerah dan mengangkat kedua tangan.
“...Baiklah.”
Lalu aku menatap kaki Junna. Kaki putih bersih yang membentang dari bawah ujung roknya.
Pahanya yang berisi memantulkan cahaya lampu neon, dan kain rok tipisnya menekan lekuk di antara keduanya. Karena itu, seluruh garis pahanya terlihat jelas.
Bahkan, rok itu terasa... lebih pendek dari biasanya.
“Jangan cuma ditatap, cepat rebahan.”
“A-Aku nggak... menatap.”
Fakta bahwa bantahanku terdengar begitu lemah mungkin cuma perasaanku saja.
Aku memaksa mengalihkan pandangan dari kaki Junna, melepas sepatu dalam ruanganku, lalu berbaring menyamping di bangku panjang.
Setelah memeriksa posisi “bantal”ku lewat bahu, aku perlahan menurunkan tubuh bagian atas.
“Hyaa!?”
Begitu bagian belakang kepalaku menyentuhnya, Junna mengeluarkan suara aneh.
“...Jangan bikin suara aneh.”
“G-Geli...”
Junna mengalihkan pandangan lalu sedikit bergerak. Di belakang kepalaku terasa kelembutan. Aku juga ikut merasa geli.
Bukan secara fisik, tapi secara mental.
Sudut pandang baru, menatap wajah Junna dari bawah dengan langit-langit ruangan sebagai latar.
Saat melihat tonjolan dadanya yang besar menghalangi pandanganku dari bawah, tanpa sadar aku kembali berpikir, serius, dia berkembang banget... dan ketika aku menatapnya, Junna memberi jitakan ringan di dahiku.
“Kepalamu. Miringkan ke samping.”
“...Iya.”
Aku sempat ragu harus memiringkan ke sisi mana, tapi akhirnya memilih ke kanan, menyerahkan telinga kiriku. Pahanya yang dingin dan lembut menyentuh pipiku, sementara telinga kananku menyentuh kain roknya.
Yang terlihat dalam pandanganku adalah ruang penyimpanan di bawah meja panjang dan bangku. Aku mencoba memusatkan perhatian pada pemandangan kaku itu, berusaha menekan detak jantungku agar larut dalam suara hujan.
“Coba lihat...”
Aku bisa merasakan Junna sedang mengintip liang telingaku. Suaranya makin dekat, dan aroma manisnya makin kuat.
“...Hmm. Ternyata lumayan bersih.”
Ini pertama kalinya telingaku dilihat orang lain, dan ada rasa malu yang sulit dijelaskan, sampai-sampai aku mulai gelisah.
“Oke, sekarang ya, aku... masukin... oke?”
“O-oke. Pelan-pelan.”
“Tenang saja. Kurasa nanti bakal agak sakit waktu selaputnya pecah, sih...”
“Kamu jangan bercanda aneh di situasi begini dong.”
Kalau yang pecah itu selaputnya, gendang telingaku, aku jelas bakal jauh dari menikmati musik. Melihat aku benar-benar takut, Junna minta maaf.
“Maaf.”
“Aku serius sekarang, jadi jangan bergerak.”
“...Iya.”
Aku menutup mata. Korek kuping itu perlahan masuk ke liang telingaku, lalu dengan ujung kecilnya, dia mulai mengeruk pelan... kerik... kerik...
Ada sedikit sakit. Tapi enak juga. Bunyi korek kuping yang menggesek dinding liang telinga dan rambut halus di dalamnya menggema, terasa tepat di dekat gendang telingaku.
“…………”
Junna diam, mungkin sedang fokus, jadi yang terdengar hanya napas kami. Dan lebih jauh dari itu, suara hujan. Saat mataku tertutup, indera selain penglihatan jadi lebih peka.
Dengan pendengaranku, aku merasakan napas Junna, suara hujan deras, dan suara korek kuping.
Dengan penciumanku, aku merasakan aroma manis sensual seperti campuran bunga dan sabun.
Dengan sentuhanku, aku merasakan gerakan ujung kecil yang mengeruk di dalam telinga serta kehangatan halus di pipiku.
“Wah. Dapat yang besar. Nanti aku tunjukkan.”
“O-Oh...”
Kerik, tarik keluar, masuk lagi dan kerik, tarik keluar lalu masuk lagi, dan kerik-kerik-kerik. Setelah gerakan itu berulang beberapa kali,
“...Iya. Kurasa segitu saja.”
Junna bergumam, lalu meniup lembut ke liang telingaku. Karena dia melakukannya tanpa aba-aba, aku langsung kaget dan berseru.
“Uwah!?”
“Hyah!?”
Suara teriak aneh Junna sendiri bertumpuk denganku.
“Shigure. Jangan bergerak, geli...”
“...Kamu juga, Junna. Jangan tiba-tiba meniup telingaku.”
“Itu buat membersihkan. Supaya kotoran halusnya terbang... fuuu.”
“Oah!? H-hei, jangan!”
“Hehe. Reaksimu lucu, Shigure. Telingamu merah banget. Imut.”
Junna terkikik. Aku ingin melihat ekspresinya dan mencoba menggerakkan mata, tapi dia menahan wajahku dengan tangan dinginnya.
“Nggak, jangan bergerak. Aku masih merapikan bagian akhirnya.”
Bulu halus putih di sisi lain korek kuping itu dimasukkan dan digerakkan pelan. Sentuhan serat-serat lembutnya terasa menggelitik.
“...Mm. Selesai.”
Saat dia menarik bulu itu keluar dari telingaku, dia meniupkan “fuu” puas, lalu berkata begitu. Aku mencoba bangun, tapi
“Shigure, belum. Sekarang telinga kanan.”
Junna menahanku.
“Miring ke sini.”
“...Iya.”
Aku menuruti kata-kata Junna, berguling di atas bantal paha yang lembut, atau lebih tepatnya paha sebagai bantal, lalu mengganti posisi.
Artinya, sekarang tubuh Junna berada tepat di depan wajahku.
“Kalau yang kanan, mungkin aku bakal lebih hati-hati... dan lebih lama.”
Aroma manis itu makin kuat. Selingan aneh yang terasa menyenangkan sekaligus menyiksa ini, di mana rasa malu jelas lebih besar daripada rasa nyaman, tampaknya masih akan berlangsung cukup lama.
☂
Sedikit lewat pukul lima sore. Masih terlalu awal untuk anak-anak yang serius dengan kegiatan klub pulang ke rumah, tapi sebagian besar murid lain sudah lebih dulu pergi.
“Sampai besok.”
Junna, dengan tas gitar di punggung dan tas sekolah di tangan, menoleh ke arahku dari dalam kelas dan berkata begitu. Aku mengangkat tangan lalu menjawab, “Iya.”
“Sampai besok.”
“...Mm.”
Junna meninggalkan ruang audiovisual. Begitu pintu tertutup dan keheningan kembali, suara hujan mendadak terasa sangat keras. Seperti saat kita melepas earphone peredam suara.
“Haa...”
Aku mengembuskan napas panjang.
Sejak tahu Junna bersekolah dari ruang kesehatan dan aku mulai makan siang bersamanya serta Akagi, kami jadi bisa bertemu bahkan saat tidak hujan. Tapi waktu yang bisa kami habiskan bersama tetap terbatas. Istirahat siang kurang dari satu jam, dan meskipun ditambah sepulang sekolah, paling hanya sekitar tiga jam.
Aku ingin berada lebih lama di sisinya.
“Hari ini juga aku nggak jadi menanyakannya.”
Kalimat ‘Mau pulang bareng?’ kembali tersangkut di tenggorokan.
Entah sejak kapan, seolah-olah sudah jadi aturan tak tertulis kalau kami berpisah di sini, dan belum pernah sekali pun kami keluar dari kelas berdampingan. Setiap kali aku berpikir, hari ini pasti kutanya, tapi saat waktunya tiba, aku malah ragu dan tak jadi mengucapkannya.
Aku terlalu banyak berpikir, khawatir akan menarik perhatian yang tidak perlu, atau kalau kami terlihat bersama nanti akan muncul rumor aneh. Dan pada akhirnya aku menelan kata-kataku sendiri.
Belum lagi, setiap kali aku bertemu Junna di ruang audiovisual, hari itu selalu hujan. Karena kami sama-sama membawa payung, berjalan berdampingan juga terasa sulit.
Meski mungkin semua itu cuma alasan yang kubuat untuk menutupi pengecutnya diriku sendiri.
“...Yah, sudahlah. Begini juga nggak apa-apa... sudah cukup.”
Aku memasang earbud, lalu sambil mendengarkan lagu YOHILA buatan Junna, JUN, aku mematikan lampu, mengunci ruangan, mengembalikan kunci, lalu menuju pintu masuk gedung.
Payung di tempat payung sudah tidak banyak. Dan kebanyakan adalah payung vinil bening murah yang sulit dibedakan tanpa tanda tertentu.
Di antara semuanya, ada satu payung yang menonjol.
Payung biru keunguan.
Wajah Junna sempat terlintas di kepalaku, tapi karena dia sudah pulang duluan, pasti itu milik murid lain.
Aku menyusuri kumpulan payung vinil yang membosankan itu lalu mengambil punyaku sendiri, yang pada gagang putihnya ditempeli stiker logo band YOHILA, bonus edisi cetakan pertama dari CD singel terbaru mereka.
Tepat saat aku hendak keluar, seseorang meloncat dari balik pilar. Seakan sudah pas waktunya, seorang siswi bertubuh kecil muncul.
“...!?”
Mataku membelalak, dan aku melepas earbud.
“J-Junna... kamu belum pulang?”
“Nggak. Payungku dicuri.”
kata Junna sambil menunduk lesu.
Aku melirik ke tempat payung. Di tengah lautan payung vinil bening, yang biru keunguan seperti hydrangea itu masih sangat mencolok bahkan dari jauh.
“Di sini banyak banget payung vinil. Tinggal pinjam satu lalu nanti dikembalikan, kan bisa?”
“Itu... nggak rock ‘n’ roll.”
Rock ‘n’ roll apaan sih. Junna mengetuk lantai dengan tumit loafers-nya.
“Nggak benar kalau seenaknya pakai barang orang lain... tapi hujannya deras, kan? Kalau nggak pakai payung aku bakal basah kuyup, kan? Jadi, Shigure.”
Dia menatapku.
“...Boleh numpang di payungmu juga?”
☂
“Kalau gitarmu?”
“Aku titip di ruang kesehatan. Memang sudah tahan hujan, tapi kalau bisa aku tetap nggak mau membasahinya... lagi pula merepotkan. Berat juga. Bahuku gampang pegal.”
“Oh begitu. Iya, kalau tiap hari dibawa pulang-pergi ke sekolah memang berat.”
Sambil mengobrol dengan Junna di sampingku, aku melirik ke sekeliling.
Untungnya, tidak ada orang lain di pintu masuk gedung. Hujan turun deras, dan air dari talang mengalir deras seperti air terjun.
“Iya. Dan yang ini juga... merepotkan, berat, dan bikin bahu pegal. Bedanya dengan gitar, aku nggak bisa ninggalin yang ini.”
“...Hah. Berat juga ya.”
Aku menjawab seadanya sambil tetap melihat ke luar, lalu membuka payung vinil murahku.
“Ayo, kita berangkat. Jangan ngomong aneh-aneh dan”
Sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh lengan yang kugunakan memegang payung, dan kata-kataku pun tertahan di tenggorokan. Aroma hujan bercampur harum bunga.
“Aneh? Buatmu ‘yang ini’ itu aneh, Shigure?”
“K-Kamu terlalu dekat. Jauh dikit.”
“Aku menjauh kalau kamu jawab pertanyaanku. Kamu lebih suka yang besar, atau yang besar banget?”
“Nggak ada pilihan ‘kecil’ ya...?”
“Kamu suka yang kecil?”
Suara Junna tiba-tiba menjadi serendah hujan dingin, dan hawa dingin menjalar di punggungku. Aku refleks menegakkan badan.
“A-Aku suka yang besar.”
“Kalau tinggi badan?”
“Tinggi badan? Aku nggak terlalu peduli”
“…………”
“A-Aku lebih suka yang lebih pendek... mungkin? Kalau harus milih.”
“Kamu lulus.”
Tes apaan ini? Setelah mendengar jawabanku, Junna akhirnya menjauhkan tubuhnya.
Tapi tetap saja, dia masih dekat. Diameter payungku sekitar tujuh puluh sentimeter, jadi kalau dipakai berdua, lengan kami pasti bersentuhan. Begitu kami melangkah keluar dari pintu masuk yang teduh, tetes hujan menghantam vinil di atas kepala kami, menimbulkan bunyi seperti soda berbuih.
Aroma hujan jadi makin kuat, tapi harum manis dari sampingku tidak memudar. Malah rasanya makin menonjol. Mungkin bau sampo, atau kondisioner.
Junna bertubuh pendek, sekitar awal 150-an, dan kalau kami berdiri berdampingan, kepalanya kira-kira setinggi bahuku. Saat kami sama-sama diam, rasanya panas tubuh kami meleleh ke udara lalu bercampur jadi satu.
Kami melewati area putar balik mobil yang suram dalam diam, lalu keluar dari gerbang sekolah yang sepi.
“...Gerbang sekolah,” kata Junna, akhirnya membuka mulut.
“Itu kata yang agak nggak enak diucapkan keras-keras. Soalnya bunyinya kayak ‘anus’.”
(TL/N: Junna membuat permainan kata. Dalam bahasa Jepang, “gerbang sekolah” adalah 校門 (koumon), yang pelafalannya sama dengan 肛門 (koumon), yang berarti “anus” atau “lubang dubur.”)
“Topik apaan itu!?”
Bukankah itu membuatku tampak bodoh karena tadi aku tegang sendiri, jantung berdebar, mati-matian berusaha mencari bahan obrolan saat kami berjalan berdampingan?
“Aku biasanya selalu lewat gerbang belakang. Jadi ini terasa baru.”
“Oh... begitu.”
“Iya. Pulang bareng seseorang, dan berjalan sambil mendengarkan suara hujan juga terasa baru... Biasanya aku selalu sendirian, pakai headphone. Jadi aku nggak perlu dengar kebisingan. Tapi”
Hujan menghantam payung, pepohonan di pinggir jalan, kota. Loafers kami menginjak aspal basah, beberapa mobil melaju lewat dan membelah genangan, menepis hujan yang turun. Obrolan orang-orang. Hiruk pikuk kota. Dunia dipenuhi suara.
“Sesekali berjalan pulang sambil mendengarkan suara selain musik juga enak.”
“...Iya.”
Aku memiringkan payung agar Junna tidak basah, lalu mengangguk.
“Kalau hari hujan, di hari-hari aku bertemu denganmu, aku juga selalu pulang sendirian sambil dengar musik.”
“Oh. Lagu siapa yang kamu dengar?”
“Lagumu.”
“Aku sudah tahu.”
Junna bergerak sedikit. Seolah merasa geli. Lalu
“...Sebenarnya, sebelum kita mulai ngobrol pun aku sudah penasaran. Payung yang di gagangnya ada stiker YOHILA itu. Aku sempat mikir, itu punya siapa, ya.”
Dengan lembut, dia meletakkan tangannya di tanganku yang sedang menggenggam gagang payung.
“Ternyata benar punyamu, Shigure...”
Mungkin agar aku tidak basah, Junna memiringkan payung ke arah sebaliknya. Pada saat yang sama, dia menempelkan tubuhnya, lengan atasnya menyentuh lenganku.
“Aku senang.”
Bahkan lebih dari itu, dia menyandarkan kepala di bahuku dan bergumam dengan suara penuh lega. Padahal ini tengah kota.
“J-Junna... kamu terlalu dekat.”
“Supaya kita sama-sama nggak basah.”
“Nggak, aku sih nggak masalah, jadi”
“Diam.”
Junna membungkam protesku lalu, sambil tetap menempel padaku, mengeluarkan ponselnya.
Dengan gerakan yang sudah terbiasa, dia membuka aplikasi perekam lalu mulai bersenandung. Gara-gara itu aku jadi tak bisa berkata apa-apa.
Melodi Junna, melodi JUN, mengalun di telingaku. Melodi yang dimainkan oleh “hatinya”. Cerah, murni, dan menyegarkan, seperti soda bening.
Apa langkahku jadi lebih lambat dan santai karena aku tak ingin suara langkah kaki dan sol sepatu kami di aspal basah merusak lagunya?
Atau karena dengan memperlambat langkah, aku ingin berada lebih lama di sisinya, walau hanya satu menit, satu detik lebih lama?
Mungkin dua-duanya.
Perjalanan sekitar sepuluh menit dari sekolah ke stasiun terdekat terasa sangat singkat, dan sangat padat.
“Hei,”
kataku tepat saat senandung Junna berhenti. Mungkin karena stasiun sudah makin dekat dan jumlah orang yang lewat juga bertambah, Junna perlahan menjauh dengan halus. Dia menyimpan ponselnya lalu menatapku.
Aku menghentikan langkah, dan di bawah payung, mata kami saling bertemu.
“Kalau kamu nggak keberatan”
tepat saat itu, sebuah truk besar dari arah depan melaju cepat dan membelah genangan air di cekungan jalan dengan cipratan besar.
Karena kami sedang berjalan di pinggir jalan, aku spontan ingin memutar payung, tapi kalau begitu Junna yang akan kena. Jadi aku refleks melindunginya dengan tubuhku sendiri.
“Kya!?”
Air dingin menyiram punggungku, dan Junna menjerit. Rasanya seperti disiram seember air. Angin yang membawa bau asap kendaraan melintas di samping kami.
“Shigure! A-A-Apa kamu nggak apa-apa!?”
Junna yang biasanya datar kini benar-benar panik. Hanya melihat reaksinya saja sudah cukup membuatku merasa basah kuyup ini tidak sia-sia.
“...Tunggu di sini sebentar. Aku mau cari sopir itu dan kupukul pakai gitar.”
“Kamu yang tenang. Gitarmu juga nggak kamu bawa sekarang. Santai.”
Aku menahan Junna yang hendak lari, lalu memiringkan kembali payung yang tadi kutahan ke arahnya.
“Aku nggak apa-apa. Cuma sedikit basah”
“Sedikit? Kamu basah kuyup.”
Seperti yang dibilang Junna, aku benar-benar basah, terutama di bagian punggung, seperti orang yang kehujanan tanpa payung. Air menetes dari poniku.
“...Ke sini.”
Junna menarik lengan bajuku dan membawaku ke bawah sebuah atap.
Di depan sebuah toko yang pintu gulungnya sudah tertutup. Saat aku melipat payung, Junna mengeluarkan saputangan dari tasnya.
“Kamu tadi... melindungiku? Supaya aku nggak kena air?”
Dia dengan rajin menyeka tubuhku yang basah. Meski tidak sedekat saat berada di bawah payung, kami tetap berdiri saling berhadapan di bawah atap yang sempit itu.
Aku memalingkan pandangan dari Junna lalu menjawab sambil menggaruk pipi.
“...Yah, refleks saja. Kamu nggak kena air, kan?”
“Iya. Aku nggak apa-apa.”
Saat Junna melingkarkan tangannya untuk menyeka punggungku, posisinya terasa seperti sedang memelukku. Dalam posisi itu, dia berbisik. Tepat di dekat telingaku.
“Tapi, mungkin aku jadi basah... dengan cara yang lain?”
“…………”
Aku pura-pura tidak mendengarnya.
“Mau ke hotel cinta?”
“Kamu ngomong apa!?”
Aku meloncat kaget mendengar ucapannya yang mendadak. Dengan wajah datar, Junna menjelaskan,
“Yah, ternyata kamu lebih basah dari yang kukira... oh, maksudku bukan aku, tapi kamu, Shigure. Bajumu basah sampai tembus. Kalau begini kamu bisa masuk angin, jadi kupikir kamu perlu istirahat. Tempat buat mengeringkan baju, menghangatkan tubuh, dan bersantai. Hotel cinta. Kesimpulannya begitu.”
“.........Begitu?”
Aku menaruh tangan di dagu lalu menutup mata.
“Memang sih, hotel punya pengering rambut buat mengeringkan baju, kamar mandi buat menghangatkan tubuh, dan tempat tidur buat istirahat. Ide bagus juga, seolah-olah! Dasar bodoh!”
“Aduh.”
Aku menepak kepalanya. Junna memegangi kepala dengan dua tangan dan mendongak menatapku dengan mata sipitnya.
“Pegang-pegang boleh, tapi kekerasan nggak boleh.”
“Kamu lagi-lagi bercanda begitu...”
“...Tapi Shigure, tadi kamu mau bilang sesuatu, kan?”
“Tadi?”
Maksudnya sebelum truk itu menyiram kami, mungkin.
Hei.
Kalau kamu nggak keberatan
“Kalau habis ini kita ke hotel.”
“Aku sama sekali nggak mau bilang itu! Emang kamu nganggap aku apa!?”
Baru pertama kali pulang bareng lalu mampir ke hotel itu sudah terlalu seperti cowok tukang tebar pesona.
“Yang mau kukatakan cuma, ‘Mulai sekarang, mau pulang bareng nggak?’”
kataku sambil memainkan poni yang masih lembap.
Junna berkedip. “Mm...”
“Pada hari hujan, setelah kita menghabiskan waktu di ruang audiovisual. Memang ada kemungkinan murid lain melihat kita, tapi”
“Oke.”
Junna langsung mengangguk sebelum aku selesai bicara, lalu menjawab tegas,
“Aku nggak peduli kalau ada yang lihat. Kalau itu berarti aku bisa lebih lama bersama Shigure.”
“...Begitu.”
Aku ingin berada lebih lama di sisinya. Rasanya menyenangkan mengetahui Junna pun tampaknya punya perasaan yang sama. Tubuhku basah dan dingin, tapi kehangatan perlahan menyebar di dadaku.
“Ngomong-ngomong,”
Junna memiringkan kepala.
“Jadi habis ini kita tetap ke hotel?”
“Kita nggak jadi ke sana, bodoh.”
“Aduh.”
Untuk kedua kalinya aku menepak kepalanya, dan mata Junna sampai berkaca-kaca.
“...Aku nggak bakal masuk angin cuma gara-gara beginian. Beda sama kamu, aku bukan orang bodoh, dan fisikku juga terlatih karena atletik. Jadi jangan khawatir.”
☂
Ternyata aku memang kena flu.
Sehari setelah aku pulang bersama Junna, cuacanya masih hujan. Waktu bangun aku masih merasa biasa saja, tapi di kereta yang penuh menuju sekolah badanku mulai terasa nggak enak, dan saat pelajaran kedua dimulai, kepalaku sudah berputar karena demam.
“Permisi... boleh saya ke ruang kesehatan? Oh, nggak usah ada yang menemani.”
Karena sudah tak tahan, aku mengangkat tangan, mendapat izin dari guru, lalu berdiri.
“Oh. Janjian rahasia ya, Shigure?”
Youjirou langsung menggoda dengan berbisik, tapi begitu melihat wajahku, dia langsung berkata cemas, “...Jaga diri.” Saat aku menuju pintu belakang kelas,
“Oh. Janjian rahasia... kayaknya bukan. Jaga diri.”
Yamada memberi reaksi yang persis sama. Sesuai dugaan, memang benar-benar cocok sebagai teman masa kecil.
Aku meninggalkan kelas lalu berjalan di lorong redup, sambil memandangi hujan yang menghantam kaca jendela dari sudut mataku. Saat aku melewati kelas-kelas dan menuruni tangga, keramaian perlahan menghilang, dan keheningan seperti lumpur memenuhi sekeliling.
Yang terdengar hanya suara hujan.
Rasanya aku hampir kehilangan kesadaran, tapi aku memaksa tubuhku yang berat dan lemas untuk terus bergerak, tertatih menyusuri garis putih di lantai.
Akhirnya aku sampai di ruang kesehatan. Di pintunya tergantung papan bertuliskan sedang pergi, tapi aku tetap mengetuk dan masuk tanpa menunggu jawaban.
Begitu membuka pintu, yang kulihat adalah tirai tempat tidur di sudut paling dalam ditutup cepat dengan gerakan tajam. Aku tersenyum tipis lalu memanggil ke balik tirai.
“...Junna. Aku.”
“Shigure?”
Junna mengintipkan kepala dari sela tirai.
“Kenapa? Mukamu jelek.”
Maksudmu warna wajahku. Bilang mukaku jelek itu cuma hinaan biasa. Tapi aku sudah tak punya tenaga untuk membalas. Aku langsung roboh ke ranjang terdekat.
“Sh-Shigure!”
Junna buru-buru menghampiri dengan panik. Ia menatapku dengan wajah penuh khawatir.
“Kamu kenapa? Badanmu nggak enak? Kena flu?”
“...Sepertinya. Badanku terasa panas.”
“Gawat. I-I-Ini gawat, ini gawat!”
Junna langsung panik.
“Acara merawat orang sakit!”
“Acara merawat orang sakit...?”
Junna membelakangi tatapanku yang curiga lalu mengoperasikan ponselnya.
“...Ah, halo? Sensei?”
Rupanya dia sedang menghubungi Akagi. Pasti mau memanggilnya cepat-cepat kembali
“Maaf, ada film lain yang aku butuh Sensei pinjamkan... iya... Bohemian Rhapsody. Tiba-tiba aku pengin nonton.”
atau setidaknya begitu kukira, tapi malah percakapan aneh yang mulai kudengar. Jangan-jangan dia benar-benar menyuruh Sensei pergi ke tempat rental? Padahal Sensei sedang bertugas.
“...Hah, sudah selesai dan sedang dalam perjalanan balik? I-Itu masalah... aku benar-benar pengin nonton, Freddie Mercury. Pengen nonton, pengen nonton, pengen nonton.”
Junna mulai ngambek. Kepalaku makin sakit.
“...Mm. Makasih! Pelan-pelan saja, ya? Pelan... pelan...”
Junna mengakhiri telepon dengan Akagi. Ia melipat tangan, menempelkan kepalan ke pipi, lalu memaksakan wajah tanpa ekspresinya menjadi cemberut palsu.
“Hmm, ini masalah... sepertinya Sensei nggak akan segera balik.”
Itu karena kamu yang bikin begitu. Aku dengar semuanya jelas sekali. Aku ingin bilang begitu, tapi tubuhku terlalu berat dan aku terlalu malas. Dalam diam aku membalik tubuh dari tengkurap ke telentang lalu meletakkan punggung tangan di dahiku. Panas sekali.
“Untuk sementara, kita ukur suhumu dulu. Termometer, termometer...”
Junna membuka laci meja. Aku sempat melihat benda yang tampaknya termometer.
“………Nggak ada.”
Padahal tadi ada, pikirku, tapi kepalaku sudah kacau karena demam, jadi mungkin aku salah lihat. Setelah mencari ke seluruh ruangan, Junna kembali dengan tangan kosong.
“Kalau begitu nggak ada pilihan.”
Junna berdiri di samping ranjang lalu menatapku.
“Aku harus pakai tanganku untuk mengecek. Coba ya...”
Jarinya perlahan mendekat, menyibakkan poniku, lalu telapak tangannya menyentuh dahiku. Lembut dan dingin.
Ia mengusapnya perlahan, seolah memeriksa tekstur, bukan suhu.
“...Pakai tangan susah tahu ya.”
“Ya bisa lah. Jelas-jelas panas banget”
“Yang sakit diam.”
Saat aku berusaha membalas, dia langsung memotongku datar. Junna melepaskan tangannya dari dahiku, mengangkat poninya sendiri, lalu memperlihatkan dahinya yang putih.
Lalu dia mendekatkan wajahnya.
“Apa!?”
Mata Junna terpejam. Sesaat aku kira dia mau menciummu, tapi ternyata tidak. Yang bertemu bukan bibir kami, melainkan dahi kami.
“…………”
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik
Waktu yang terasa panjang itu bergetar.
Suara hujan dan dengung pendingin ruangan.
Tidak ada suara napas. Kami sama-sama menahan napas.
Wajahku semakin panas, dan kehangatan bercampur di titik tempat dahi kami saling menempel.
“Demammu tinggi sekali.”
Akhirnya Junna menjauhkan dahinya dan bergumam. Poni yang tadi terangkat jatuh kembali dengan halus, dan warna hydrangea pun mengintip. Ia menyipitkan mata menatapku.
“Dan wajahmu juga merah sekali,”
katanya, padahal wajahnya sendiri juga semerah itu.
“Kamu harus dirawat. Sampai Sensei kembali, aku yang akan menjagamu, Shigure.”
☂
“Shigure. Mau minum air?”
Di ruangan sejuk yang dipenuhi aroma antiseptik, Junna duduk di kursi lipat di samping ranjang sambil memegang botol air mineral 500 ml dan bertanya begitu.
Aku menjawab, “...Iya,” lalu duduk perlahan. Mendengar itu, Junna membuka tutup botolnya.
“Mau aku kasih? Dari mulut ke mulut.”
Dia mengucapkannya seperti biasa, setengah bercanda. Namun,
“Iya, tolong...”
Karena kesadaranku kabur akibat demam, aku tidak benar-benar memahami ucapannya dan hanya mengangguk. Junna malah terlihat sangat kaget.
“Hah?”
“Itu tadi cuma bercanda, padahal.”
“Bercanda? Ya sudah cepat kasih. Aku haus...”
“A-wah-wah-wah-wah.”
Junna panik. Aku mengerutkan dahi.
“...Kenapa? Cepat dong. Tenggorokanku”
“O-Oke! ...Glek...”
Dengan wajah seperti sudah membulatkan tekad, Junna malah menempelkan botol itu ke bibirnya sendiri. Aku makin mengernyit.
“Kenapa malah kamu yang minum?”
“Mmff, mmff.”
“Aku nggak paham. Telan dulu baru ngomong.”
“Mmm-mff, mm-mff.”
Pipinya menggembung, dan Junna menunjuk mulutnya sendiri, tapi aku tetap tidak paham. Dia sebenarnya mau bilang apa?
“...Sudahlah. Sini.”
Aku merebut botol itu dari tangannya lalu langsung minum. Junna menelan air di mulutnya dan bergumam, “...Ah.”
“C-Ciuman tidak langsung...”
“Apa?”
“G-Nggak ada!”
Junna menunduk lalu mulai gelisah. Melihat telinganya memerah, aku berkata,
“Pokoknya, kamu nggak perlu repot-repot merawatku. Nanti kalau kamu ketularan malah berbahaya... repot, kan? Buat kerjaanmu. Bukannya kamu kemarin bilang sedang mepet tenggat?”
Meski dia bersekolah dari ruang kesehatan, Junna tetap menjalani sekolah sekaligus pekerjaan sebagai musisi profesional. Kalau dia sampai sakit, jadwalnya dan banyak hal lain pasti ikut terpengaruh.
YOHILA memang tidak tampil langsung di panggung, jadi mungkin tidak sesibuk artis kebanyakan, tapi tetap saja. Karena ini sudah pekerjaan profesional, dia tidak bisa begitu saja istirahat seenaknya.
“Mm. Yah... memang sih, tapi”
Junna memainkan ujung rambutnya. Rambut hitam-ungu itu dipelintir di jari telunjuknya.
“Waktu yang kuhabiskan dengan Shigure juga penting, dan”
Dia menatapku.
“Kalau flu yang kuterima berasal dari Shigure, aku malah senang.”
“Hadiah macam apa itu?”
“Lagipula!”
Junna mencondongkan tubuh. Wajahnya mendekat sampai napas kami bercampur.
“Alasan Shigure kena flu itu karena kamu menahan cipratan air itu buatku. Jadi wajar kalau aku merawatmu sampai sembuh. Itu kewajibanku. Penebusanku.”
“Penebusan...”
“Dan”
Saat aku menarik tubuh ke belakang, Junna mengarahkan telunjuknya tepat ke ujung hidungku.
“Masih ada alasan lain kenapa Shigure sampai flu. Karena kamu nggak istirahat seperti yang ‘kusarankan’... lain kali kalau kejadian mirip begini lagi”
Tepat saat Junna membawa jari yang tadi menunjuk itu ke bibirnya sendiri, pintu ruang kesehatan terbuka.
“Lain kali kita ke hotel saja, ya?”
“...!”
“Kalian berdua ini.”
Akagi, yang muncul di saat paling buruk, menghela napas di balik masker.
“Jangan pakai ranjang di sini buat hal-hal begitu. Seperti kata Amamori, kalau memang mau, lakukan di tempat lain. Dan aku juga nggak akan membiarkanmu bolos pelajaran, Kurimoto.”
Aku diserang sakit kepala hebat dan pusing, lalu melepaskan kesadaran seperti sedang kabur dari kenyataan.
☂
“Aku yang akan mengantarnya.”
Tiga puluh tujuh koma sembilan derajat. Setelah suhu tubuhku diukur ulang oleh Akagi, syukurlah aku diizinkan pulang lebih awal. Junna memayungiku sementara aku mengikuti Akagi menuju tempat parkir.
“...Kalau aku ikut gimana?”
“Nggak.”
Jawaban Akagi tegas sekali. Dengan payung merah bermotif seperti payung tradisional Jepang di bahunya, ia menoleh ke belakang.
“Ini masa yang penting, kan? Repot kalau kamu sampai ikut kena flu.”
“...Mmm.”
Junna mengerang. Payungnya bergoyang, dan air yang menempel di permukaannya jatuh berderai.
Payung Junna berwarna biru keunguan.
Itu payung yang sama dengan yang kulihat kemarin di tempat payung. Artinya payung Junna tidak dicuri, dia bohong.
Alasannya jelas. Supaya punya alasan untuk pulang bersamaku.
“Shigure.”
Di bawah payung yang sama seperti hari itu, Junna berbisik. Napas hangatnya menggelitik belakang leherku, dan harum manis bercampur bau aspal basah menyentuh hidungku.
“Istirahat yang baik, ya?”
“Iya...”
“Kalau sudah sembuh, nanti kita pergi ke suatu tempat, ya?”
“...Iya.”
Di tengah kebingungan, dia berhasil memaksaku memberi janji dengan sangat mulus, tapi aku sama sekali tidak keberatan. Aku tersenyum lalu mengangguk. “Yes!” kata Junna, tampak sangat senang dengan gaya datarnya yang biasa.
Namun kalau diperhatikan baik-baik, ada kerutan kecil di sudut matanya, sedikit lengkungan di bibirnya, dan naiknya nada suara yang sangat tipis, tanda-tanda kecil dari perasaannya. Setiap kali aku menyadari perubahan kecil di Junna seperti itu, hatiku terasa hangat.
“Masuk.”
Begitu sampai di mobil, Akagi melipat payungnya lalu masuk duluan. Aku pun bingung.
“...Sensei? Bukannya itu kursi penumpang?”
“Ini mobil luar negeri. Yang kiri kursi pengemudi, yang kanan kursi penumpang.”
“M-Mobil luar negeri...”
Sebuah mobil sport hitam. Aku tidak terlalu paham mobil, jadi tak tahu model apa, tapi baik bagian luar maupun dalamnya terlihat sangat keren dan sangat mahal.
“...Perawat sekolah gajinya sebesar itu ya?”
tanyaku terpukau, sementara Junna memayungiku saat aku masuk. Badan mobil itu rendah sekali, nyaris menyentuh tanah.
“Kalau begitu, sampai nanti. Yang lebih kukhawatirkan daripada kondisi Shigure justru Sensei nanti kecelakaan.”
“Tenang saja. Seumur hidup aku baru dua kali kecelakaan.”
Berarti memang pernah dua kali... Aku pun rajin memasang sabuk pengaman.
Akagi menutup pintu, memutus suara Junna yang masih mengomel soal “mengemudi yang aman” dan “denda seratus juta yen kalau kecelakaan,” lalu menyalakan mobil. Di bawah hujan, Junna berdiri memegang payung biru keunguan bermotif hydrangea sambil melambaikan tangan mengantarku. Sampai aku benar-benar tak terlihat lagi.
“Baiklah, kalau begitu. Ke stasiun terdekat terlalu sebentar... kamu tinggal di mana?”
“Kichijouji.”
“Jalur Chuo ya. Kalau begitu aku antar sampai Shinjuku. Kalau aku ngebut, kira-kira lima belas menit.”
“...Tolong nyetir yang aman.”
Kota Nishi-Ikebukuro mengalir di balik jendela mobil yang rendah bersama titik-titik hujan. Aku melirik profil Akagi.
“Soal Amamori,”
Akagi mulai bicara, bahkan tanpa perlu kutanya. Mungkin memang itulah alasan dia menawarkan diri mengantarku, supaya bisa bicara tanpa didengar Junna.
“Manajernya itu temanku.”
“Manajernya adalah...”
Dengan otakku yang masih kacau karena demam, aku mengingat isi artikel tentang YOHILA.
“FABLE RECORDS, ya? Orang itu bekerja di sana?”
“...Bukan. Ini memang belum diumumkan resmi, tapi YOHILA sebenarnya sudah pindah, dan sudah diputuskan mereka akan segera debut major.”
Aku tidak terlalu terkejut. Melihat popularitas YOHILA dan jumlah penayangan lagu-lagu mereka di situs video, justru rasanya memang sudah waktunya.
“Akulah yang lebih dulu menemukan YOHILA lalu memperkenalkannya ke agensi musik milik temanku. Itu sekitar setengah tahun lalu. Saat ini, temanku itu yang mengurus Amamori, maksudnya YOHILA, dan mereka sedang bersiap untuk debut major bersama label.”
“...Begitu.”
Di dalam mobil tidak ada musik yang diputar. Hanya suara hujan, pendingin ruangan, dan laju mobil yang memenuhi udara samar beraroma mint.
“Sensei sudah kenal Junna sebelum dia masuk sekolah ini?”
“Iya. Akulah yang menyarankan dia ikut ujian masuk SMA kami. Di sini aku bisa bicara dengan kepala sekolah dan mendapatkan izin agar dia bisa bersekolah dari ruang kesehatan. Kupikir akan lebih mudah baginya menyeimbangkan karier musik dan sekolah.”
“Sensei punya rahasia kotor kepala sekolah ya?”
“...Kalau soal Amamori.”
Akagi mengabaikan ucapanku, menekan gas, lalu melanjutkan.
“Kalau dengan JUN dari YOHILA, aku diperkenalkan oleh kenalan. Aku mengenal beberapa teknisi rekaman dan staf studio yang terlibat dalam proses rekamannya.”
“Relasi macam apa yang Sensei punya!?”
“Relasi lama. Kurimoto, kamu... tahu band bernama ENDY?”
“Tahu. Siapa pun yang suka musik Jepang dan rock pasti tahu.”
ENDY adalah band rock beranggotakan empat perempuan yang aktif saat aku masih SD.
Mereka band populer yang pernah membawakan lagu tema untuk beberapa anime dan film, dan sering muncul di acara musik TV nasional, tapi tiga tahun lalu mereka tiba-tiba mengumumkan bubar. Setelah konser terakhir di Budokan yang menjadi penutup tur nasional mereka, mereka lenyap dari sorotan publik.
Musik mereka yang berakar pada hard rock, nu metal, heavy metal, dan post-hardcore terasa sangat garang untuk ukuran band perempuan, dan dipadukan dengan vokal serak yang punya kemampuan menyanyi luar biasa, mereka benar-benar keren. Salah satu band yang membuatku jatuh cinta pada rock Jepang.
“Aku mantan vokalisnya.”
“………Apa?”
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru kudengar.
Aku menoleh ke kursi pengemudi dan menatap profilnya yang tertutup masker.
“Uh, um... aku salah dengar ya? Rasanya Sensei barusan bilang kalau Sensei itu mantan vokalis ENDY.”
“Aku EIMEE. Akagi Eimi.”
“Boleh minta tanda tangan!?”
“Aku sedang menyetir.”
Akagi tersenyum miring. Mungkin karena gaya riasannya juga berbeda, aku sama sekali tak sadar kalau Akagi adalah EIMEE dari ENDY hanya dari matanya saja. Rambut merah terang super pendek khas masa-masa band dulu juga sudah diganti dengan rambut hitam pendek yang biasa, tapi
“Aku selama ini terus pakai masker ya karena repot kalau harus menghadapi hal kayak beginian...”
Suara serak metalik itu. Meski sedikit tertahan masker, sekarang setelah tahu identitasnya, memang benar terasa sangat mirip.
“...Bukan cuma musik, dalam segala bentuk karya, proses berkarya sering disebut sebagai ‘tindakan mengikis jiwa.’”
Melihat aku menegang dan diam setelah tahu siapa dirinya, Akagi bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri. Dengan mata berhias bayangan merah yang tetap menatap jalan di depan,
“Itu karena karya lahir dari sesuatu yang membentuk penciptanya dari dalam. Ibarat menyelam jauh ke lautan hati sendiri, mencari satu permata di antara puluhan ribu, ratusan juta butir pasir, lalu memotong dan mengasahnya... Saat menyelam, kamu bisa kehabisan napas, atau bisa juga menyelam berkali-kali tapi tak pernah menemukan permata. Bahkan setelah mengasahnya di tengah jalan, kamu bisa sadar kalau yang kamu kira permata ternyata cuma batu biasa.”
Akagi berbicara dengan datar. Aku tidak bisa membaca emosi apa pun dari profil ataupun suaranya.
“Dan saat akhirnya karya yang sudah selesai itu kamu lepaskan ke dunia, yang menunggumu adalah penilaian orang lain yang tanpa ampun. Ketika sebuah karya dikritik, itu sama saja dengan jiwa penciptanya sendiri yang dikritik, dan itulah kenapa rasanya tak tertahankan. Ada orang yang hatinya hancur dan tak pernah kembali utuh... ya, alasan aku berhenti sih sama sekali berbeda. Tapi hidup sambil terus mengikis dan memperlihatkan jiwamu sendiri itu bukan perkara ringan.”
Tiga tahun lalu, alasan pembubaran ENDY di puncak popularitas memang diumumkan lewat komentar masing-masing anggota. Tapi bisa jadi, perasaan yang tertulis di sana bukanlah keseluruhan ceritanya. Bayangan gelap yang jatuh di mata Akagi menyalakan dugaan gelap dalam diriku.
“Tapi, aku dulu punya anggota. Teman-teman yang bisa berbagi suka dan duka. Sedangkan JUN dari YOHILA, Amamori, sekarang sendirian. Dia nggak punya siapa-siapa.”
Mungkin inilah inti utamanya. Suara Akagi dan tangan yang menggenggam setir menegang.
“Begitu berpindah dari indie ke major, tanggapan orang akan jauh lebih besar. Yang baik maupun yang buruk... segala macam perasaan dan pendapat orang akan turun seperti badai. Hatinya akan berada di ambang retak. Dan pada saat seperti itu”
lampu belakang mobil di depan kami mewarnai profil Akagi dengan merah tua. Lampu lalu lintas di persimpangan berubah merah. Ia menekan rem perlahan dan lembut.
“Jadilah payungnya.”
Akagi menatapku.
“Aku ingin kamu menopang Amamori. Aku, manajernya, dan orang-orang dewasa di sekitarnya tentu akan mendukungnya, tapi bagaimanapun kami tetap orang dewasa. Akan selalu ada jarak yang tak terhindarkan dengan seseorang yang jauh lebih muda. Jadi, Kurimoto”
dan bersama itu, Akagi menarik turun maskernya. Wajah yang selama ini tersembunyi akhirnya terlihat, lalu dengan suara yang tak lagi terhalang, ia mengatakan langsung kepadaku,
“Untuk Amamori, aku mengandalkanmu.”
“Sensei...”
Panas yang bukan berasal dari virus naik dari dalam diriku, sampai kata-kataku tersangkut di tenggorokan.
Di sudut penglihatanku, titik-titik hujan menghantam kaca depan lalu mengalir turun, wiper bergerak seperti metronom yang tak teratur, dan lampu penyeberangan pejalan kaki berkedip hijau. Tepat sebelum berganti merah, akhirnya aku mengangguk.
“...Iya.”
Aku menatap balik mata Akagi dan seandainya saja aku bisa menjawab dengan tegas, itu pasti akan keren.
Tapi, terintimidasi oleh aura Akagi tanpa masker, dan cemas apakah orang biasa sepertiku benar-benar bisa menjadi sandaran bagi Junna yang hidup sebagai musisi,
“A-Aku akan berusaha...”
itulah jawaban tak meyakinkan yang akhirnya bisa kukeluarkan.
Bibir merah Akagi melengkung membentuk senyum.
“Iya. Aku mengandalkanmu.”
Lalu, saat mobil mulai melaju lagi, ia mengoperasikan layar audio dengan satu tangan.
“Maaf ya, di saat badanmu lagi nggak enak karena flu... sebagai permintaan maaf,”
dia menampilkan daftar lengkap lagu-lagu ENDY, termasuk karya-karya era indie yang sekarang sudah tak beredar lagi.
“Sampai kita tiba di stasiun, aku akan menyanyi buatmu. Pakai lagu-lagu kami sendiri... ada permintaan?”