Amamori Junna is Humid Volume 1 Chapter 4 — Hydrangea dan Hantu

Aku menerima pesan dari Junna yang berbunyi, “Aku sudah sampai, sedikit lebih awal”, tak lama setelah pukul sembilan pagi.

Padahal waktu janji kami masih dua jam lagi.

Dibangunkan oleh notifikasi LINE lebih dari sejam sebelum alarmku berbunyi, aku buru-buru bersiap lalu berlari keluar rumah.

Langit cerah. Karena sehari sebelumnya hujan, udara terasa berat dan lembap. Aku berlari menembus hawa lengket yang naik dari aspal yang dipanaskan matahari menuju tempat kami bertemu. Meski sempat berhenti sebentar untuk mengatur napas saat lampu merah, jarak itu tetap bisa kutempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

“Maaf, aku bikin kamu nunggu”

“Kamu telat, Shigure.”

Di depan toko es krim di pintu utara Stasiun Kichijouji, Junna menyadari kedatanganku, menurunkan headphone-nya, lalu langsung menegurku. Aku mengusap keringat di dahiku lalu membalas protes.

“Kamu yang terlalu cepat. Dua jam itu bukan ‘sedikit’.”

“...Itu singkatan dari ‘aku ingin bersama kamu selama mungkin, jadi aku datang sangat awal’, tahu?”

“Hah? O-Oh... memangnya aku harus tahu singkatan macam begitu!?”

Aku sedikit terguncang oleh deadpan joke khas Junna, tapi tetap saja aku membalasnya.

Junna menggumam, “...Mmm,” dengan wajah tidak puas, tapi ia lalu menyimpan ponselnya seolah menyerah, kemudian bertanya dengan ekspresi khawatir.

“Gimana badanmu? Nggak kambuh atau apa?”

“Nggak. Aku sudah istirahat yang cukup.”

Hari saat aku pulang lebih awal dari sekolah itu adalah hari Kamis, dan hari ini hari Minggu. Jumat aku sengaja libur untuk jaga-jaga, jadi sudah tiga hari sejak terakhir kali aku bertemu Junna.

Selama itu, kami sudah membuat janji jalan keluar lewat LINE.

『JUN: Kamu tinggal di mana, Shigure?』

『Shigure: Kichijouji.』

『JUN: Kalau begitu, kita ke sana.』

Dan begitu saja, hanya dengan percakapan singkat itu, tujuan kami langsung diputuskan.

“Ngomong-ngomong,”

aku menatap Junna.

“Bajumu...”

Ini pertama kalinya aku melihat Junna memakai baju santai, dan dia mengenakan kaus putih longgar kebesaran, tank top hitam, serta sepatu boots pendek hitam dengan sol tebal.

Dari bagian pergelangan kakinya terlihat kaus kaki bergaris dengan warna biru keunguan dan hitam, sama seperti warna rambutnya.

Di lehernya ada choker tipis. Tasnya adalah tas selempang mini kulit hitam dengan ornamen logam berat yang mencolok, dan hari ini dia tidak membawa tas gitar.

“Gayamu lumayan boyish, ya.”

“Iya. Rock, kan?”

“Lebih tepatnya agak punk, sih? Tapi cocok buatmu”

Dan tepat setelah aku mengatakan itu, Junna tiba-tiba memegang ujung kausnya dengan kedua tangan lalu mengangkatnya begitu saja.

Ujung kain dengan panjang yang terlalu panjang untuk kaus tapi terlalu pendek untuk disebut gaun, dan dari bawah sana membentang kaki telanjang putih bersih miliknya.

“Sebagai informasi, aku pakai bawahan di dalam.”

“………………”

“Celana pendek denim. Aduh.”

Aku langsung menepak kepala Junna lalu menaikkan suara.

“J-Jangan bikin orang kaget begitu! Aku kira kamu nggak pakai apa-apa... lagi.”

“‘Lagi’?”

“...Nggak ada apa-apa.”

Aku buru-buru mendorong ingatan tentang apa yang kulihat di hari hujan sepulang sekolah itu keluar dari kepalaku. Aku berdeham lalu kembali ke topik.

“P-Pokoknya! Cocok buatmu, iya. Bagus banget.”

“...Mm.”

Setelah dipuji, ekspresi Junna pun melunak.

Matanya sedikit menyipit, dan bibirnya membuka membentuk senyum. Meski tipis, aku tahu dia senang. Pipi Junna juga tampak sedikit merona.

“Kamu juga, Shigure.”

Junna memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah dengan saksama.

“...Sederhana, tapi cocok buatmu.”

Aku sendiri mengenakan kaus abu-abu pucat, celana panjang hitam, dan sepatu kets putih.

“Itu Hay Smith kulit asli?”

“Itu Stan Smith. Dan iya, bajuku memang murah, tapi buat sepatu aku lumayan keluar uang.”

“Oh. Kenapa?”

“Kenapa...? Ya”

Karena aku pernah dikasih saran kalau begitu kelihatannya jadi lebih modis. Oleh si Youjirou itu.

“Karena aku anak atletik. Sepatu penting, kan?”

Karena rasanya bakal memalukan kalau menjawab jujur, aku pun mengatakan sesuatu yang terdengar masuk akal. Junna mendongak menatapku.

“Oh?”

“Kenapa... aku kira alasannya bakal sesuatu yang cerdas seperti ‘biar kelihatan lebih modis’.”

Itu kan kata-katamu, Youjirou.

“Kamu ini diam-diam ada bau normie juga ya, Shigure...”

“Di mana?”

“Karena kamu berteman dengan cowok tampan dan cewek gyaru. Dan juga karena kamu anak klub olahraga.”

“Yang pertama sih terserah, tapi yang kedua penilaiannya longgar banget. Kalau kamu mau bilang begitu, menurutku justru anak band lebih normie dan lebih playboy.”

“Nggak juga. Rasio introvert di anak band ternyata tinggi, kok... meski memang banyak juga cowok yang pikirannya cuma mesum, tukang mainin cewek. Lebih cocok FUCK daripada ROCK.”

“...Kamu pernah punya pengalaman buruk soal anak band? Kalau mau, aku dengar kok.”

“Nah itu, kalimat ‘kalau mau aku dengar’... kalimat andalan cowok player.”

Saat kami berdiri di sana sambil terus mengobrol, keringat yang tadi sudah kuhapus mulai muncul lagi. Aku pun menyerukan gencatan senjata.

“Pokoknya, kita nggak pindah tempat? Ke tempat yang ada pendingin ruangannya.”

Gara-gara Junna datang terlalu awal, tempat yang tadi sudah kupilih dari rumah belum buka, tapi setidaknya kafe waralaba atau restoran cepat saji pasti sudah buka.

Junna, yang sama sekali tidak terlihat berkeringat, mengangguk.

“Iya juga.”

“Kalau begitu ayo. Ke rumahmu, Shigure.”

“Nggak, nggak. Yang kepikiran beginian terus itu kamu, Nona Otak Mesum.”

Sejak tujuan kami diputuskan ada di kota tempat tinggalku, aku memang sudah menduga bakal begini.

Aku menepis ucapan sembrono Junna dan mulai berjalan ke arah pertokoan.

“Ngomong-ngomong,”

kataku sambil duduk di sofa merah anggur di sebuah kedai kopi asal Nagoya, setelah lebih dulu membasahi tenggorokan dengan kopi dingin yang disajikan bukan dalam gelas, melainkan mug stainless.

“Akagi-sensei itu EIMEE dari ENDY, ya...?”

“Mm.”

Junna, dengan sendok di mulutnya, menoleh ke arahku. Dia memesan cream soda, dan di atas melon soda yang memenuhi gelas khas berbentuk sepatu itu, ada es krim lembut menjulang tinggi menggantikan es krim biasa.

“...Kamu dengar? Dari Sensei sendiri?”

“Iya. Waktu kemarin dia nganterin aku. Aku sampai kaget banget... benar-benar syok. Jujur, sampai sekarang pun aku masih susah percaya. Soalnya itu ENDY, ENDY.”

Tanganku yang memegang mug itu sedikit bergetar. Demam flu-ku memang sudah turun, tapi gejolak semangat yang kurasakan hari itu, bukannya reda, malah justru makin kuat. Aku pun melanjutkan, meluapkan gairahku seperti membuang uap panas.

“Aku mulai tergila-gila sama mereka waktu SD, dan CD pertama yang kubeli pakai uangku sendiri itu milik mereka, itu! Aku juga pengin pergi ke konser mereka, tapi saingan tiketnya terlalu gila sampai aku nggak pernah kebagian, itu! Semua orang yang pernah kukenalkan ke mereka pasti ikut suka, dan sehari setelah pembubaran mereka diumumkan, hampir setengah kelas nggak masuk sekolah karena syok, itu! ENDY yang itu!”

“...Iya.”

Junna menyendok es krim lembutnya dan mengangguk.

“Aku paham. Soalnya aku juga suka mereka.”

“Iya, kan!? Dan lagi, vokalis mereka, EIMEE-san itu... benar-benar pusat utama band itu, frontwoman sejati tanpa tandingan. Kenapa orang kayak begitu bisa ada di SMA kita? Mana mungkin, kan!?”

“Iya, kamu benar. Mana mungkin.”

Junna menusukkan sendok ke es krimnya.

“...Ngomongin perempuan lain saat lagi kencan denganku, itu yang mana mungkin,”

gumamnya dengan suara rendah dan pelan. Aku langsung membeku, seperti disiram nitrogen cair.

“Itu tadi bercanda.”

“...Nggak terdengar seperti bercanda sih.”

“Aku berutang budi pada Sensei,”

kata Junna sambil menunduk dan mengaduk cream sodanya dengan sendok.

“Baik secara pribadi maupun soal pekerjaan. Berkat Sensei aku diizinkan bersekolah dari ruang kesehatan, dan karena dia jugalah aku mulai ingin mengincar ‘puncak’ di dunia musik... kalau dipikir-pikir, alasan aku sampai membentuk band juga sebagian besar karena pengaruh mereka. Jadi aku paham kenapa kamu semangat sekali, Shigure.”

“Oh... jadi begitu. Kamu membentuk band karena terpengaruh ENDY.”

Soal bagaimana dia bisa diizinkan bersekolah dari ruang kesehatan memang sudah kudengar dari Akagi beberapa hari lalu. Katanya kepala sekolah adalah fans berat ENDY, terutama EIMEE, sampai-sampai kalau Akagi yang minta, permintaan yang agak berlebihan pun bakal diiyakan. Tapi aku tidak tahu kalau ternyata dialah juga alasan Junna mulai bermusik.

Memang ENDY luar biasa. Memang EIMEE-san luar biasa.

“Tapi,”

Junna memonyongkan bibir sambil menyesap soda bergelembungnya.

Lalu ia mendongak menatapku tajam.

“Shigure, kamu lebih heboh sekarang dibanding waktu tahu aku itu JUN dari YOHILA, ya?”

“……………… N-Nggak kok... kurasa...?”

“Itu jeda apaan? Terus gagap. Dan jawabannya malah kayak pertanyaan.”

Junna langsung menggembungkan pipinya karena marah. Lalu, sambil menggenggam sendok, ia menusukkannya ke bagian sudut es krim lembut yang mulai runtuh.

“Pada akhirnya, YOHILA itu... aku cuma sebatas itu buatmu, ya, Shigure. Padahal kamu bilang kamu menyukaiku...”

gerutunya, sambil menyuap es krim itu terus-menerus ke mulutnya.

“...Ini menyedihkan... dan menyakitkan... nggak adil... depresif...”

Mungkin lidahnya jadi mati rasa karena dingin, jadi ucapannya terdengar pelo. Aku menyandarkan pipi di tangan di atas meja lalu hanya memandangi Junna dalam diam.

Melihat itu, Junna malah mulai terlihat cemas.

“...Shigure. Kenapa... kamu nggak bilang apa-apa? Pada akhirnya orang sepertiku”

“Nggak, aku cuma lagi mikir kalau ternyata kamu imut juga waktu lagi ngambek, Junna.”

“...!?”

Junna langsung terkesiap lalu menjatuhkan sendoknya. Sendok itu pun lenyap ke bawah meja.

“…………Player.”

Aku pun buru-buru menambahkan penjelasan untuk Junna, yang kini cuma memperlihatkan separuh atas wajahnya dari bawah meja.

“Aku bukan player. Cuma, aku memang sempat curiga dari awal kalau kamu mungkin adalah JUN dari YOHILA, jadi rasa syokku nggak sebesar itu. Kalau aku benar-benar nggak menduganya, aku pasti bakal sama kaget dan semangatnya.”

“...‘Sama’?”

Kilatan berbahaya muncul di mata Junna. Aku langsung buru-buru memperbaiki ucapanku.

“YOHILA lebih! Aku rasa aku bakal lebih heboh soal kamu, Junna.”

“………………”

Seolah ingin memastikan kata-kataku bukan bohong, Junna menyipitkan mata dan terus menatapku. Padahal ruangan toko itu dingin karena pendingin ruangan, tapi keringat lengket mulai terasa di punggungku. Lalu akhirnya,

“Begitu ya,”

sikap Junna pun melunak, dan ia kembali duduk di sofa.

“Jadi kamu lebih heboh... maksudnya lebih terangsang oleh aku daripada oleh Akagi-sensei.”

“Aku nggak ngomong begitu sama sekali.”

“Aku salah?”

“...Nggak salah.”

Kalau aku menyangkal di sini, Junna pasti bakal ngambek lagi, jadi dengan patuh aku mengakuinya saja.

“Kamu benar. Soalnya kalau terlalu besar, orang jadi nggak tahu harus bagaimana, kan?”

Ngomong apaan sih? Aku tidak bertanya. Aku hanya diam meminum kopiku yang pahit tanpa gula, menikmati rasa pahit yang membuatku tetap sadar.

Tapi setelah itu.

“Itu nggak adil banget!”

Begitu Junna tahu kalau Akagi sempat menyanyi untukku di dalam mobil, ia langsung berteriak.

“Aku juga mau nyanyi buatmu, Shigure. Nggak adil!”

Dia benar-benar marah lagi. Dan kemudian menuntut kami pergi ke karaoke. Aku pun hanya bisa tersenyum kecut.

“Nggak, maksudnya ‘nggak adil’ itu... bagian itu?”

Selama tiga jam penuh, dimulai dari pukul sepuluh pagi. Setelah puas bernyanyi karaoke, kami sedang makan siang di sebuah kafe restoran di dalam pusat perbelanjaan.

“Lagu YOHILA memang sedikit ya.”

“Yah, soalnya masih band indie.”

“Tapi lagu Sensei dan teman-temannya banyak banget... sampai video musik dan rekaman konsernya juga banyak.”

“Yah, soalnya mereka band major yang super populer.”

“...Aku juga harus lebih berusaha lagi,”

gumam Junna sambil memakan pasta yang bertumpuk tomat dan prosciutto seperti Gunung Everest.

Jumlah lagu YOHILA yang tersedia di karaoke sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari, dan kami cepat sekali menyelesaikan semuanya. Setelah itu, kami menyanyikan lagu-lagu yang kami suka satu per satu.

Dari lagu Jepang sampai Barat, lagu anime sampai Vocaloid, lagu-lagu hits baru sampai lagu dari sepuluh tahun lalu.

Semua itu memang bukan lagu yang dibuat oleh JUN, tapi yang menyanyikannya tetaplah JUN, jadi rasanya seperti mendengarkan lagu cover.

Bisa mendengar penyanyi favorit kita menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi favorit lain, itu pengalaman mewah yang bahkan tidak bisa didapat di konser biasa.

Tidak, dalam kasus YOHILA, mereka bahkan tidak pernah mengadakan konser sama sekali, jadi biasanya tidak ada kesempatan untuk mendengar suara nyanyian mereka secara langsung.

Meski begitu, tetap saja ada banyak penggemar YOHILA lain selain aku.

“Kamu memang nggak berencana tampil live meski nanti sudah debut major, Junna?”

tanpa sadar aku bertanya. Sebagian karena murni penasaran, tapi

“Padahal nyanyian live kamu luar biasa.”

aku juga merasa sayang sekali.

Begitu mendengar Junna bernyanyi, aku mulai berpikir, apa benar suara itu boleh kumiliki sendiri seperti ini?

Bukankah suara itu seharusnya sampai ke lebih banyak orang?

Junna berhenti makan lalu menunduk.

“Aku... nggak bisa tampil live. Aku nggak punya anggota.”

“Kalau pakai anggota pendukung”

“Aku nggak mau.”

Junna menggeleng pada ucapanku lalu menjawab tegas.

Ekspresinya tertutup oleh bulu mata panjang dan poninya, kaku seolah membeku. Wajah tanpa suhu, sedingin titik nol mutlak, yang bisa membekukan hati siapa pun yang melihatnya.

“...Begitu.”

Aku menghentikan diriku untuk bertanya lebih jauh lagi. Lalu dengan suara yang dibuat cerah untuk mengusir suasana muram itu,

“Maaf, aku nanya yang aneh. Sore ini kamu mau ke mana?”

aku mengalihkan topik. Junna mengangkat wajahnya.

“Terserah apa saja,” katanya. Mata mengantuknya seperti biasa tetap tanpa ekspresi, tapi dingin yang tadi ada sudah lenyap. Tatapannya kini terasa hangat dan sedikit lebih lembut.

“Asal aku bisa menghabiskan waktu bersamamu, Shigure, apa saja nggak masalah.”

“J-Jawaban kayak gitu justru yang paling susah dihadapi...”

Tatapan Junna terlalu lurus, sampai aku pun refleks mengalihkan pandangan.

Rasanya sama seperti saat aku memonopoli suara nyanyiannya. Perasaan seperti menerima sesuatu yang terlalu besar untuk bisa kupegang dengan kedua tanganku. Di tengah rasa senang dan bahagia itu, ada emosi lain yang terasa sedikit kasar di dalamnya.

Tapi aku pura-pura tidak menyadarinya. Aku menoleh kembali ke Junna lalu tersenyum.

“Kalau begitu, gimana kalau kita jalan-jalan santai sambil belanja? Cuacanya bagus, dan kamu juga sepertinya sesekali perlu kena matahari, Junna.”

Senandung Junna menggema di taman yang hijau rimbun itu.

Inokashira Park sedang ramai di segala sudut pada hari libur ini, dan banyak orang yang lewat tertarik pada melodi yang sedang dirangkai Junna, atau mungkin pada kecantikannya yang tampak jauh lebih bersinar di bawah matahari, sampai mereka menoleh ke belakang.

Tas selempangnya memantul naik turun mengikuti langkah, menciptakan irama ceria bersama bunyi boots pendek bersol tebal miliknya saat menyentuh tanah.

Katak yang tergantung di tasnya, figur karet katak panah beracun dengan corak kuning dan hitam yang terasa mencolok, berayun-ayun seperti sedang menari.

“Kamu lagi senang ya.”

kataku saat senandung Junna berhenti, dan Junna pun menoleh.

“Iya. Aku nggak suka hari cerah dan keramaian, tapi Shigure ada di sini. Dan aku dapat katak panah beracun Geroppi yang kuinginkan dari gacha!”

Geroppi adalah karakter katak pohon yang sangat disukai Junna.

Katanya, latar resmi karakter itu adalah “katak surgawi yang jatuh ke bumi bersama hujan”, dan ada banyak variasi resmi serta barang-barangnya.

Versi normalnya berwarna hijau, Geroppi biru keunguan di tas gitarnya adalah warna hydrangea favoritnya, dan yang sekarang tergantung di tasnya adalah versi langka katak panah beracun yang tadi dia dapatkan dari mesin kapsul.

“Katak panah beracun... di lagu YOHILA yang judulnya ‘Yellow Frog’ juga dasarnya katak panah beracun, kan?”

“Iya, iya. Racunnya dua ratus kali lebih kuat daripada morfin, tahu? Keren banget. Dan warnanya juga mencolok dan lucu.”

Junna memainkan figur katak panah beracun itu di tangannya. Kalau itu asli, bahkan menyentuhnya pun berbahaya. Setelah itu ia datang berdiri di sebelahku.

“Kalau nggak salah itu disebut warna peringatan. Mereka sengaja punya warna yang mencolok supaya pemangsa tahu kalau mereka beracun.”

“Iya. Sama seperti warna rambutku.”

kata Junna sambil mencubit ujung rambutnya yang punya inner color biru keunguan mencolok.

“...Kamu juga punya racun yang kuat ya, Junna?”

“Siapa tahu? Mungkin kamu bakal tahu kalau kamu coba gigit... ah.”

Aku langsung menghindari Junna yang mencoba menempel padaku sambil berkata begitu, melewatinya lalu berjalan lebih dulu.

Inokashira Park adalah taman besar yang berpusat pada Kolam Inokashira seluas kurang lebih 43.000 meter persegi. Di dalam taman ada banyak kafe dan kios, dan di sepanjang jalur pejalan kaki yang mengelilingi kolam terdapat banyak bangku untuk beristirahat.

Dan saat ini, hampir semuanya terisi. Ini hari Minggu sore. Mungkin karena ini hari cerah yang langka di tengah musim hujan, tempat ini lebih ramai dari yang kuduga.

“S-Shigure!”

Junna menyusulku dengan langkah kecil cepat. Ia tampak agak gelisah, sambil beberapa kali mengintip wajahku diam-diam.

“H”

“H?”

Tangan putih Junna di samping tubuhnya bergerak-gerak di udara.

“...Cuacanya... bagus, ya?”

Ia mengangkat tangan seperti membuat visor di atas dahinya. “Iya,” jawabku sambil menyipit melihat cahaya matahari yang turun deras.

“Mau cari tempat teduh buat istirahat? Kalau menjauh dari bagian tengah, mungkin nggak terlalu ramai.”

Saat aku mulai menyeberangi jembatan di atas kolam, Junna malah terlihat kesal.

“Kamu ini lambat sekali nangkep maksud, Shigure...”

“Hah? Memangnya kamu lebih suka kalau ramai?”

“Tentu nggak.”

“Kamu masih mau jalan?”

“Bukan itu!”

Junna menggenggam Geroppi-nya erat-erat.

“H”

“H?”

“…………Telecaster atau Stratocaster, kamu lebih suka yang mana, Shigure?”

“Kenapa tiba-tiba nanya begitu? Hmm. Kalau harus pilih, mungkin Tele”

“Aku tim Les Paul!”

Mungkin karena tidak suka jawabanku, Junna malah menyalipku lalu berjalan cepat di depan.

Geroppi katak panah beracun yang kini lepas dari tangannya terlihat seolah memandangku dengan mata bundarnya penuh protes. Aku menghela napas lalu mengejarnya.

“Ah.”

Junna tiba-tiba berhenti.

Aku pun melihat bunga hydrangea bermekaran di tepi kolam dekat pagar. “Hydrangea...” kata Junna, lalu berlari kecil ke sana, dan aku pun ikut mendekat.

“Kalau warnanya biru keunguan begini, berarti tanah di sini asam sampai netral.”

Warna hydrangea memang berubah tergantung tingkat keasaman tanah.

Bunga yang kemerahan atau merah muda akan jadi lebih biru di tanah asam, dan lebih merah di tanah basa.

“Iya. Di Jepang tanah asam memang banyak, jadi katanya yang merah muda itu lebih jarang.”

“Kalau orang membayangkan hydrangea, yang terlintas memang biru keunguan.”

Aku berdiri di sebelahnya, dan kami memandangi hydrangea itu bersama-sama. Bunga-bunga kecil berkelopak empat berkumpul membentuk satu gugusan besar. Perpaduan warna biru keunguan bunganya dan hijau daunnya tampak indah.

“Ngomong-ngomong,”

Junna membuka mulut. Ia menunjuk bagian yang sedang kulihat.

“Yang ini bukan kelopak hydrangea.”

“Hah? Masa? Dilihat dari mana pun ya ini jelas kelopak, kan...?”

“Ini yang disebut sepal atau bunga hias, yaitu bagian yang berubah bentuk untuk menopang kelopak asli. Kelopak aslinya bentuknya lebih mirip kuncup kecil dan tersembunyi di dalam bunga hias ini.”

“Oh... kamu tahu banyak ya.”

Pantas saja, orang yang menamai dirinya Yohira, hydrangea.

“Kenapa kamu menamai bandmu dari hydrangea, Junna?”

tanyaku santai sambil tetap memandangi bunganya. Lalu,

“Bukan aku yang menamainya.”

“Hah?”

Suara yang menjawab dari sampingku terasa dingin dan kering sekali. Lebih tanpa emosi dan lebih tak bernyawa dari biasanya.

Aku bingung dengan reaksinya yang tak terduga, lalu menoleh ke arahnya.

Dan pada saat itu, aku menahan napas.

Tatapan Junna tertuju lurus pada hydrangea itu. Dan di wajah sampingnya, berlawanan dengan nada bicaranya, tampak emosi yang kuat sedang merembes keluar. Warna rumit yang seolah bercampur dari kesedihan, kesepian, dan kemurungan.

“…………”

Dengan mulut masih tertutup, Junna mengulurkan tangannya. Tubuhnya condong ke arah hydrangea.

Seolah sedang mencari bunga asli yang tersembunyi di antara bunga palsu, ia dengan lembut membelah bunga hias biru keunguan itu dengan jarinya.

Dan di sana tampak gugusan sederhana dari kuncup biru rapat dan bunga putih kecil

serta seekor katak pohon mungil yang lucu.

Katak berwarna kuning kehijauan yang bertengger di atas kelopak itu memandang Junna dengan mata hitam bulat yang sama seperti Geroppi. Pada detik berikutnya,

“Pyah!?”

Katak itu melompat ke arah Junna. Junna pun melonjak mundur besar-besaran.

“…………Ah... ah...”

Lalu ia membeku dan mulai gemetar. Aku sempat berpikir ia senang karena tiba-tiba bertemu katak kesayangannya di dunia nyata, tapi

“S-Shigureee...”

Mata Junna membelalak, dan wajahnya pucat.

“T-T-T-Tolong... aku...”

“Hah?”

“A-Ada katak!”

Mata Junna mulai dipenuhi air mata.

“Aku nggak tahan! Aku suka Geroppi, tapi aku benci katak asli... aku nggak bisa... Singkirkan!”

Apaan itu, pikirku dengan pasrah. Tapi rasa takut Junna sangat besar, dan wajahnya benar-benar kacau. Saat ia menggeliat dan melambaikan tangan sambil terus berkata, “Singkirkan, singkirkan,” aku malah tidak bisa menahan tawa.

“Shigure!”

suara Junna pecah.

“J-Jangan ketawa doang, cepetan! Singkirkan, singkirkan!”

“Iya, iya. Umm... singkirkan dari mana?”

“Dari dalam bajuku.”

“Hah?”

Junna menatapku dengan mata berair saat kami berdiri saling berhadapan. Lalu ia menarik turun kerah kaus longgar dan tank top-nya, seolah membukanya.

“I-Itu masuk ke dadaku!”

“Haaah!?”

“Singkirkan!”

“J-Jangan ngaco!”

Aku berteriak sambil buru-buru memalingkan pandangan dari kain warna hydrangea yang tampak mekar di lembah dalam itu, tapi Junna malah langsung bergerak ke arah garis pandangku yang kupalingkan.

Aku pun mengangkat pandangan dari dadanya lalu menatap Junna tajam.

Junna, dengan air mata di mata, tampak sangat panik untuk ukuran dirinya yang biasanya, dan sepertinya dia memang tidak sedang bercanda. Tapi tetap saja

“K-Kamu bilang singkirkan, tapi caranya gimana...”

“Tinggal masukin tanganmu dan raba-raba di dalam. Kalau kamu yang melakukannya nggak apa-apa, Shigure!”

“Bagiku justru nggak apa-apanya di mana!?”

Tidak mungkin aku memasukkan tanganku ke sana. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Junna yang benar-benar ketakutan seperti itu begitu saja, jadi aku benar-benar bingung harus bagaimana. Tepat saat itulah

di sudut pandangku ada sesuatu berwarna kuning kehijauan yang melompat.

“Eh?”

Katak pohon yang katanya tadi melompat ke tubuh Junna, ternyata ada di dekat kaki kami.

“Pyaah!”

Junna yang baru menyadarinya sesaat kemudian langsung melompat mundur dan mengambil jarak. Melihat reaksinya, sepertinya dia memang sungguh-sungguh percaya kalau katak itu tadi masuk ke dalam bajunya.

“Kamu ini penakut banget... itu juga bukan katak panah beracun.”

“K-Katak pohon juga punya racun.”

Suara Junna bergetar saat dia bersembunyi di belakangku.

“Makhluk hidup... menakutkan...”

“...Sudah jam lima ya. Jam nanggung banget. Sekarang kita mau gimana?”

tanyaku sambil terus berjalan di dalam taman. Kami berhenti di depan peta taman.

“Katanya ada kebun binatang.”

“Aku sudah bilang, makhluk hidup itu menakutkan.”

“Kalau naik perahu angsa?”

“Aku dengar pasangan yang naik itu bakal putus.”

“Itu bukan masalah, kan? Soalnya kita juga nggak pacaran Aduh.”

Dia menendangku. Cukup keras.

“...Kalau ke kuil? Katanya bisa bawa keberuntungan dalam uang dan seni.”

“Aku bukan tipe yang mengandalkan dewa.”

“Dan juga jodoh.”

“Ayo.”

Junna langsung berubah pikiran secepat para dewa dan melangkah cepat. Aku mengusap pantatku yang ditendang lalu ikut menyusul.

“Habis dari kuil, mau makan malam? Atau pulang?”

“Makan malam satu-satunya pilihan.”

Jawaban Junna tegas tanpa goyah. “Oke,” jawabku sambil mengangguk, dan beberapa pilihan tempat pun langsung terlintas di kepalaku. Ini kota tempat tinggalku, dan aku juga sudah sempat riset sebelumnya, jadi setidaknya aku harus bisa menyesuaikan dengan keinginannya sampai batas tertentu.

“Ada yang pengin kamu makan? Atau tempat yang pengin kamu datangi?”

“Rumahmu, Shigure.”

“Selain itu. Kamu selalu saja berusaha main ke rumahku.”

“Ehh...”

Kami berjalan berdampingan di atas batu jalan setapak. Saat kami keluar dari area pepohonan yang lebih sepi, keramaian sudah sedikit berkurang, dan bahkan tanpa naungan pohon, cahaya matahari yang tadi turun deras juga mulai melembut.

Saat aku mendongak, kulihat langit kelabu penuh awan. Padahal ramalannya bilang cerah, tapi cuacanya mulai terasa mencurigakan, dan tepat ketika aku memikirkan itu, setetes hujan dingin jatuh di pipiku.

Satu tetes, dua tetes, tiga, empat, lima, enam. Dalam sekejap hujan turun makin deras dan langsung berubah menjadi hujan lebat. Aku langsung berlari.

“...! Junna, sini!”

Aku meraih tangannya.

“...!?”

Mata Junna melebar kaget, tapi aku tidak memedulikannya dan langsung menariknya sambil mempercepat langkah. Aku keluar dari jalur utama pejalan kaki dan masuk ke jalan kecil di samping. Tersembunyi oleh pepohonan dari jalur utama, ada tempat istirahat beratap mirip gazebo. Tak lama kemudian atap kayu persegi itu terlihat di depan, dan aku menarik Junna masuk sambil berlari. Tidak ada orang lain di sana.

“Hujan dadakan sore hari. Deras banget.”

Begitu kami berlindung di bawah atap, hujan makin menggila, sampai pandangan di depan pun terasa kabur. Suara dan bau hujan deras serta udara lembap membungkus ruang kecil kami.

“S-Shigure...”

Junna membuka mulut dengan ragu.

“...Tanganmu.”

“Hm? Oh ah, maaf.”

Aku segera minta maaf lalu melepaskan tangannya. Junna malah memonyongkan bibir.

“...Padahal aku baru mau bilang ‘jangan dilepas’.”

Kata-kata yang ia gumamkan dengan suara kecil itu buyar tertelan bunyi guntur. Junna berdiri di sana, sama sekali tidak takut pada petir, lalu menatapku tajam dari bawah.

Sedikit terintimidasi oleh bunyi petir yang mendadak dan sikap Junna, aku mengeluarkan saputangan dari saku belakang celana.

“Kamu bawa sesuatu buat lap-lap, Junna?”

“Ada, tapi kamu yang lapkan aku.”

Junna mengobrak-abrik tasnya lalu mengangkat saputangan yang dikeluarkannya.

“Kita saling mengelap, ya?”

“Lap sendiri. Nanti kalau ada orang datang jadi canggung.”

Tapi tidak ada orang yang datang. Setelah aku selesai mengeringkan rambut dan tubuhku sampai kira-kira cukup, aku menyimpan kembali saputanganku. Kami memang tidak terlalu basah karena gazebo itu dekat, tapi hujan juga tidak tampak akan berhenti dalam waktu dekat. Aku duduk di bangku dan memandangi tetes air yang jatuh dari tepi atap seperti tirai.

“....Kamu nggak terlalu jauh?”

Junna malah duduk di bangku kayu paling jauh dariku, sambil menggenggam saputangannya dengan wajah murung. Dia menatapku balik tanpa suara.

“...Kamu nggak terlalu dekat?”

Junna langsung pindah duduk di sebelahku. Sampai bahu kami bersentuhan.

“Egois banget sih kamu, Shigure...”

“Kamu juga lumayan egois, Junna.”

Aku mengalihkan pandangan kembali ke luar, seolah mau melarikan diri dari mata sipitnya.

Keheningan pun turun. Lalu akhirnya,

“Hei, Shigure. Kamu tahu bahasa bunga hydrangea?”

Junna membuka mulut dan bertanya.

“Warna yang berbeda, artinya juga beda,” katanya, dengan pandangan masih tertuju ke kakinya.

Saat aku menjawab, “...Nggak tahu,” Junna tetap menunduk lalu melanjutkan.

“Yang merah muda artinya perempuan yang ceria, cinta yang kuat. Yang biru keunguan artinya dingin, sombong. Dan yang sama untuk semua warna adalah... berubah-ubah, ketidakkekalan.”

Tak ada emosi dalam suaranya. Junna berbicara datar.

“Segala sesuatu yang fana. Meskipun arti ‘tanpa perasaan’ dari kata yang lain itu juga nggak salah kalau dipakai untuk hydrangea biru keunguan. Asalnya dari fakta bahwa warna bunga ini terus berubah tergantung musim dan tanahnya. YOHILA... band kami juga seperti itu.”

Band kami, bukan bandku. Di internet memang tertulis kalau anggota resmi YOHILA dari dulu sampai sekarang hanya JUN, tapi

“Awalnya YOHILA itu punya empat anggota. Band rock perempuan beranggotakan empat orang, dibentuk saat SMP oleh empat gadis dari sekolah yang sama. Empat orang, untuk Yohira, empat kelopak.”

Hira berarti kelopak.

Dulu sekali, bunga YOHILA punya empat kelopak.

“Alasan nama band itu diambil dari hydrangea adalah karena waktu itu pas musim hujan... dan semua anggotanya punya karakter kanji yang berhubungan dengan hujan atau air di namanya. Salah satu dari mereka mencari tahu tentang hydrangea, menemukan nama lain Yohira, lalu bilang, ‘Kita berempat, jadi pas banget!’ Dia bilang itu takdir.”

Mungkin alasan kenapa suara Junna terdengar basah bukan karena hujan. Tangan yang menggenggam saputangan warna hydrangea itu sedikit bergetar.

“...Band itu... menyenangkan sekali. Awalnya kami membawakan cover band seperti ENDY, lalu mulai bikin lagu sendiri, dan semua orang berkembang cepat sekali. Jadi mungkin karena itu... kami benar-benar percaya bisa jadi band terbaik! Bahwa kami bisa terus begini selamanya. Tapi”

Entah sejak kapan, suara hujan menghilang dari telingaku.

Bukan karena hujannya berhenti.

Tapi karena aku tersedot sepenuhnya ke dalam ceritanya.

“...itu nggak berjalan baik. Bahkan setahun pun nggak bertahan. Aku terlalu serius, dan anggota yang lain nggak bisa mengimbangiku. Satu orang pergi karena cara pandang dan semangat kami terhadap musik berbeda, lalu satu lagi... waktu berlalu, dan saat musim hujan kedua datang, yang tersisa di YOHILA cuma aku sendiri. Dan setelah itulah”

Junna mengangkat wajah, menatap ruang kosong di atas sana. Wajah seperti boneka, tanpa ekspresi. Matanya segelap dan semuram langit yang tertutup awan hujan tebal.

“YOHILA mulai diperhatikan dan jadi populer.”

Aku teringat artikel Wikipedia itu.

‘Pada tanggal 31 Juli 20XX, mereka memulai aktivitas dengan mengunggah video lirik “Hydrangea and the Ghost” ke sebuah situs berbagi video.’

YOHILA yang kukenal, yang dikenal semua penggemar, dimulai dari sana.

“Aku,”

Junna meneteskan satu kata seperti tetes air mata.

“Kalau bisa, aku berharap itu tetap... selamanya...”

Ia tidak melanjutkan lagi.

Udara berat yang penuh air memenuhi ruang itu.

Dalam keheningan, lagu YOHILA “Hydrangea and the Ghost” mulai terdengar kembali di dalam kepalaku.

Hydrangea yang basah oleh air mata hujan. Warna bunga yang telah berubah. Biru yang tertutup. Hantu yang tertawa

Lirik-lirik YOHILA memang sering abstrak dan sulit ditafsirkan.

Sampai sekarang, aku selalu mengira “Hydrangea and the Ghost” adalah lagu tentang cinta yang berakhir, tapi mungkin bukan itu. Kata-kata Akagi kembali terngiang dalam kepalaku.

‘Jadilah payungnya.’

Aku melirik wajah samping Junna lalu dengan lembut menaruh tanganku sendiri di atas tangannya yang sedang menggenggam saputangan warna hydrangea itu.

“...!?”

Bahu Junna bergetar, dan dia menatapku seperti baru saja dipukul oleh sesuatu. Aku hanya menggenggam tangannya. Kehangatan kami bercampur lalu perlahan melebur.

“...! Shigure”

Suara Junna tersumbat. Isak yang menyusul setelah itu pun larut ditelan suara hujan yang kembali membungkus dunia.

Aku tetap diam.

Aku terus memegang tangannya.

Supaya tangan itu tidak terlepas.

Dan aku tetap begitu sampai hujan berhenti.

“Junna.”

Cahaya jingga menerangi dunia yang basah. Bahkan setelah hujan berhenti, aku masih belum melepaskan tangannya, dan sambil berjalan berdampingan aku berkata padanya dengan mantap.

“Aku nggak bisa jadi anggota bandmu, Junna.”

Aku bisa merasakan tatapannya jatuh ke sisi wajahku. Tetap menatap lurus ke depan, aku melanjutkan.

“Aku nggak bisa berjalan bersamamu di jalur musik yang sedang kamu tempuh... tapi,”

aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat dan meneruskan,

“aku bisa tetap berada di sisimu, seperti ini, di tempat yang nggak ada hubungannya dengan musik.”

“…………Mm...”

Junna berhenti melangkah. Aku pun ikut berhenti, lalu berbalik menghadapnya langsung.

Mata beningnya bergetar dan bergoyang, memantulkan warna senja.

Emosi gelap seperti bayangan ikan melintas di kedalaman matanya yang sebening danau. Aku menatap tatapannya yang bercampur harapan dan kecemasan, lalu mengatupkan bibir.

Sejak mendengar cerita tentang masa lalu YOHILA, ada satu hal yang terus kupikirkan.

Junna bilang dia suka sendirian, tapi apa itu benar?

‘Aku,’

‘Kalau bisa, aku berharap itu tetap... selamanya...’

Bukankah kata-kata yang tadi ingin dia lanjutkan sebenarnya adalah, ‘aku ingin kami berempat tetap bersama’?

Bukan sendirian, tapi sebagai empat anggota YOHILA.

Sama seperti hydrangea yang menyembunyikan kelopak aslinya, perasaan Junna yang tersembunyi juga penuh misteri.

Tapi lagu-lagu yang ditulis Junna mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.

“Hydrangea and the Ghost,” yang menyanyikan keterikatan dan cinta yang belum selesai dari hydrangea terhadap musim hujan yang akan berakhir.

“Yellow Frog,” yang mengeja kesedihan dan kesepian katak panah beracun yang melukai siapa pun yang menyentuhnya.

“Rain, Ruin, Rain,” yang menggambarkan reruntuhan kota yang dihantam hujan sebagai lanskap batin.

Kata-kata yang keluar dari mulut Junna sendiri bertumpuk dan beresonansi dengan kata-kata yang dipintal menjadi lirik, lalu memperlihatkan garis samar hati yang tak terlihat itu. Sebagai seseorang yang sudah banyak mendengarkan musiknya, aku tahu.

Ini bukan cuma soal anggota bandnya.

Junna pasti selama ini ingin bersama seseorang.

“Jadi, hei”

“Iya.”

Cahaya di mata Junna saat menatapku menjadi lebih terang. Ia menggenggam tanganku erat.

Aku menarik napas panjang, seolah akan menyelam ke dalam air.

“Ayo cari teman.”

“Iya! …………Iya?”

Junna mengangguk cepat mendengar kata-kataku, lalu memiringkan kepala ke samping. Aku pun melanjutkan dengan suara tegas.

“Kurasa bakal bagus kalau kamu punya teman yang bisa diajak menghabiskan waktu di tempat yang nggak berhubungan dengan musik. Selain aku.”

“………………”

“Kamu bertengkar dengan anggota bandmu gara-gara musik dan akhirnya hubungan kalian gagal, kan? Jadi kalau nggak melibatkan musik, mungkin semuanya bisa berjalan baik.”

“...Ah, iya.”

Mata Junna yang membelalak tadi pun kembali layu menjadi tatapan mengantuk. Suaranya juga kembali datar.

“Kamu benar. Mungkin begitu...”

“Kan? Sebagai percobaan, minggu depan gimana kalau kita makan siang bareng beberapa kenalanku? Youjirou sama Yamada. Mereka juga sudah tahu kalau kamu bersekolah dari ruang kesehatan.”

“Iya...”

Jawabannya terdengar setengah hati, dan semangatnya kelihatan turun drastis, tapi karena itulah Junna biasanya, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Junna pun menggerutu.

“...Itu bukan yang kupikir bakal kamu katakan.”

“Bukan yang kamu pikir?”

“G-Gak ada!”

Junna mendengus lalu memalingkan wajah, melepaskan tanganku, dan berjalan cepat meninggalkanku.

Yang tertinggal di belakang hanya aku, diam-diam menggaruk pipiku yang memanas. Kata-kata yang dibayangkan Junna mungkin adalah kata-kata yang dulu tak berani kuucapkan.

“Wah, aku senang banget! Nggak nyangka Amamori-chan mau ngajak aku makan siang... Jadi begini ya rasanya melayang di atas awan! Ahh, syukurlah aku masih hidup.”

“Kamu terlalu heboh.”

“Kamu bisa sekalian naik ke surga dan mati aja tahu?”

“...Bukan aku yang ngajak dia.”

Reaksiku, Yamada, dan Junna terhadap komentar Youjirou semuanya berbeda.

Pada hari Selasa, dua hari setelah aku pergi jalan bersama Junna, pagi-pagi aku mengajak Youjirou dan Yamada makan siang bareng, dan keduanya langsung setuju.

Padahal sebelumnya Junna sempat menunjukkan sikap seperti itu pada mereka

“Maaf ya, Amamori-chan... namanya memang Kuzujirou, tapi”

Yamada yang duduk di seberang Junna meminta maaf sambil menunjuk Youjirou di sebelahnya dengan roti melon di tangan.

Kami berempat, aku, Junna, Youjirou, dan Yamada, sedang makan mengelilingi satu meja di ruang kesehatan. Akagi tidak ada di sana. Sesuai papan sedang pergi yang dipasang di pintu, dia dengan sengaja menyingkir dari tempat.

“Dia memang begini ke semua cewek.”

“Kurang ajar... nggak ke semua cewek juga!”

Youjirou, setelah dipanggil sampah, langsung protes sambil melambaikan sumpitnya.

“Nggak, nggak.”

“Hanya ke cewek cantik.”

“Nah kan? Sampah, kan?”

“Uh, um, iya.”

Junna mengangguk ragu-ragu.

Awalnya kupikir dia sedang berusaha menjaga perasaan Youjirou yang baru benar-benar berinteraksi dengannya, tapi ternyata

“Dia sampah. Aku nggak suka kalau dia memberi pengaruh buruk pada Shigure-ku, jadi tolong mulai sekarang jangan terlibat dengannya lagi.”

katanya dengan wajah datar sambil melempar racun yang mungkin bahkan bisa bikin katak panah beracun kaget.

Mata Youjirou sampai melotot.

“Ehh!?”

“M-My!? Jangan-jangan kalian berdua sudah”

“Iya. Kami pacaran.”

“...Dia ini kalau bercanda memang wajahnya tetap datar, jadi jangan terlalu ditanggapi, kalian.”

“Nggak, tadi itu bukan bercanda.”

Junna langsung menyangkal.

“Kami memang nggak pacaran, tapi kami sudah ‘melangkah sejauh itu’... cuma jenis langkahnya beda.”

“...Itu lelucon mesum?”

“Ini buktinya.”

Sama sekali tak peduli pada kekesalanku, Junna mulai memainkan ponselnya.

Aplikasi yang dibukanya adalah perekam suara.

Dari daftar memo suara yang panjang, dia memilih berkas bernama “Earpick?” lalu memutarnya. Dan seketika,

『...Junna. Oke, aku masukin ya, ya?』

suara diriku yang agak tegang keluar dari speaker, disusul oleh,

『I-Iya...』

suara Junna yang tipis dan bergetar. Aku langsung punya firasat buruk.

『Kalau sakit bilang ya.』

『...Mm... ah... e-enak... rasanya enak, Shigure... ah, hah... ah, ahh.』

Jangan bikin suara aneh! Teriakanku yang sebenarnya terdengar keras itu ternyata sudah dipotong. Bukan cuma aku, Yamada, bahkan Youjirou pun sama-sama membeku.

“...Dan itulah adegan sepulang sekolah. Shigure dan aku sudah sampai pada tahap melakukan hal-hal seperti itu”

“Itu cuma korek kuping!”

Aku langsung merebut ponsel dari tangan Junna lalu menunjukkan nama berkasnya pada dua orang lainnya.

“Beberapa hari lalu gadis ini tiba-tiba bilang mau ‘membersihkan telingaku’... dan bukan cuma aku yang dibersihkan, pada akhirnya aku juga malah membersihkan telinganya...!?”

Lalu aku pun mati-matian menjelaskan, tapi situasi membersihkan telinga seseorang sepulang sekolah itu sendiri sudah terlalu aneh, sampai-sampai di tengah penjelasan aku mulai bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya aku ini lagi ngomong apa?

“Lagi pula kenapa kamu merekamnya? Dan kenapa potongannya sejahat itu!”

“Soalnya kupikir mungkin nanti bisa kupakai...”

“Mau kamu pakai buat apa!?”

“Memang semua percakapanku dengan Shigure kurekam, sih.”

“...Kamu bohong, kan?”

Saat aku mencoba memeriksa daftar berkasnya, Junna langsung merebut kembali ponselnya. Aku pun memegang bahunya dan mengguncangkannya.

“Kamu bohong, kan!?”

“…………”

Junna diguncang ke sana kemari dengan wajah tetap datar. Melihat kami begitu, Yamada mendadak pecah tertawa.

“Pfft!”

Ia memegangi perutnya sambil tertawa.

“Ahahahahahaha! Amamori-san lucu banget. Serius lucu.”

“Wah, wah. Nggak nyangka ada gadis yang bisa mengeluarkan lebih banyak balasan dari Shigure dibanding aku, sahabat terbaiknya... Baiklah, gelarku sebagai partner lawak resmi Shigure kuwariskan padamu, Amamori-chan.”

Youjirou juga menatap langit-langit dengan gaya berlebihan sambil tersenyum masam.

Suasana pun langsung mencair dan jadi akrab.

“Ya ampun. Kita ke sini bukan buat mempertontonkan acara lawak.”

Aku menghela napas, tapi di saat yang sama aku juga merasa lega. Junna awalnya tidak antusias, dan aku sempat khawatir semua ini akan berakhir kacau seperti sebelumnya, tapi

“Acara lawak... lawak suami istri? Ditulisnya ‘suami istri’, tapi dibacanya ‘lawak suami istri’.”

Junna sendiri ternyata terlihat cukup santai, tetap bersikap sama seperti saat hanya berdua denganku.

Atau mungkin memang Junna seperti inilah, lebih ramah dan ceria, saat dulu ia masih bersama anggota band-nya waktu SMP.

“Ngomong-ngomong. Bekal Amamori-san keren banget, ya?”

Dan tepat setelah itu, mata Yamada jatuh ke bekal yang sedang dimakan Junna. Bekal bergaya Barat yang berpusat pada hamburger steak saus tomat itu, hari ini pun tetap penuh warna dan kelihatan sangat niat.

“Bekalmu juga keren, Haruka. Roti manis, roti manis, roti manis, roti manis... Kalau begini kamu bakal gemuk. Meski kamu memang agak terlalu kurus, jadi kalau sedikit lebih berisi mungkin malah pas Aduh!”

“Diam! Aku biasanya makan di kantin... hari ini cuma buru-buru beli roti dari toko sekolah. Jadi, Amamori-san.”

Yamada, setelah membungkam Youjirou dengan sikutan ke perut, kembali pada topik.

“Itu semuanya bikinan rumah?”

“Iya. Aku yang buat.”

Tidak, kamu nggak bikin.

“Mau coba? Ini acar tiga warna dari paprika hijau, wortel, dan bawang.”

Kalau Akagi ada di sini, dia pasti akan langsung menegur: jangan coba-coba menyuruh orang lain memakan makanan yang kamu sendiri nggak suka. Tapi,

“Eh, serius!? Amamori-san baik banget! Ah, tapi sumpitku”

“Nih. Aah...”

“Eh!? A-Aah...”

Rasanya bakal nggak enak kalau aku ikut campur, jadi aku hanya diam melihat apa yang akan terjadi.

“Mmmmmm, enak! Lada hitamnya terasa banget... kamu jenius ya, Amamori-san?”

Yamada memegangi pipi dengan bahagia sambil memuji masakan buatan Akagi itu.

“Iya. Aku memang jenius.”

Sambil melihat itu, ekspresi datar Junna yang diterangi cahaya matahari terang dari jendela dan senyum Yamada tampak sedikit, hanya sedikit, melunak.

“...Yah, nggak buruk.”

Malam itu, setelah aku menyelesaikan latihan atletik sore dan pulang ke rumah, aku kembali bertanya pada Junna bagaimana menurutnya siang tadi, dan itulah jawaban singkatnya.

Karena kami sedang menelepon, aku tidak bisa melihat ekspresinya. Suara Junna yang terdengar lewat ponsel terasa bahkan lebih dingin dan kering dibanding saat bertemu langsung. Tapi di sisi lain, isi kata-katanya justru positif.

“Dua-duanya terlalu penuh tenaga sampai rasanya menyilaukan... tapi Yamada-san ternyata lebih gampang diajak bicara dari yang kukira, dan dia baik. Rasanya seperti gyaru yang baik pada anak kutu buku.”

“Lebih tepatnya, ‘gyaru yang baik ke semua orang kecuali Youjirou’. Dasarnya dia memang baik pada semua orang.”

“Kasihan Kuzujirou,”

gumam Junna dengan nada yang sama sekali tidak terdengar tulus.

Setelah interaksi saat makan siang tadi, sepertinya dia mulai sedikit melunak pada Yamada, tapi tetap saja ada tembok tinggi yang berdiri di antara dirinya dan Youjirou.

Yang itu sih jujur memang sudah kuduga.

“Kalau aku ini, ya, musisi desktop suram yang suka diam di kamar, dan cuma bersikap manis padamu saja, Shigure.”

“Iya, kamu memang harus lebih sering keluar rumah.”

“...Itu berarti kamu mau lebih sering pergi kencan denganku? Dan kamu sengaja mengabaikan bagian pertama tadi? Hei, tadi itu sengaja?”

Dia langsung menekan terus. Duduk di tepi ranjang, aku bergeser sedikit lalu membetulkan posisi ponsel di telingaku.

“B-Bukan itu maksudku... Kamu juga bersikap manis ke orang lain kok? Misalnya ke Akagi-sensei.”

“Hmm. Kalau dengan Sensei, lebih ke ‘dimanja’ daripada ‘bersikap manis’, mungkin?”

“Begitu ya...”

“Orang yang benar-benar kubukakan hatiku hanya kamu, Shigure.”

Suara Junna yang kering mendadak mendapat gema lembap dan berat. Aku pun tanpa sadar menahan napas lalu terdiam. Keheningan seperti sedang diseret ke bawah air pun berlanjut beberapa detik.

Di seberang sana, Junna mengembuskan napas.

“...Untuk saat ini, sih,”

tambahnya, dan suaranya kembali ke nada kering semula.

“Aku memang harus cari teman, kan? Selama ini kupikir sendirian itu nggak masalah, bahkan aku suka sendirian... tapi setelah bertemu denganmu, lalu bicara dengan orang-orang seperti hari ini, aku jadi merasa ternyata nggak sendirian juga nggak buruk. Jadi”

Kehangatan mulai merembes ke dalam suara Junna. Kehangatan yang berbeda dari sebelumnya.

“Makasih, Shigure.”

“Junna...”

Kata-katanya itu membuat hatiku ikut hangat.

Aku pun tersenyum.

“...Iya.”

“Aku akan mengajakmu lagi. Makan siang dengan mereka... dan jalan berdua cuma dengan kita saja. Lain kali aku yang akan mengajak. Soalnya masih banyak sekali tempat yang ingin kudatangi.”

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa