Amamori Junna is Humid Volume 2 Chapter 3 — Masa Muda & Sianida

Ujian akhir sudah selesai, dan menjelang upacara penutupan semester, sekolah kami mengadakan turnamen olahraga.

Murid kelas satu memainkan voli dan basket, dengan pertandingan digelar di sisi timur dan barat gymnasium.

Derit sepatu di lantai, bunyi bola memantul, dan sorakan antusias para murid. Suara jangkrik musim panas bertumpuk di atas semua itu, seolah ikut menyanyikan lagu musim ini.

Cuacanya cerah, tapi udaranya terasa agak lembap. Apa karena keringat yang memenuhi tempat ini? Atau mungkin sisa-sisa musim hujan yang baru saja berakhir beberapa hari lalu.

Bau kayu tua, wax, dan karet bercampur jadi satu.

Angin yang masuk dari pintu terbuka mengaduk udara, membelai kulitku yang memanas.

“…Panas,” gerutuku sambil duduk di sudut gym yang pengap, bersandar ke dinding, dan menyeka keringat dengan handuk.

Poni yang lengket di dahiku rasanya mengganggu.

Kalau ada yang bertanya apa aku suka musim panas, jawabanku mungkin, “Suka sih, tapi benci.”

Alasannya, ya karena terlalu panas.

Satu poin minus itu saja sudah cukup menghapus semua nilai plusnya.

Seperti kata orang, makin kuat cahayanya, makin dalam pula bayangannya.

Singkatnya, mungkin karena musim ini terlalu terang. Terlalu menyilaukan dan terlalu jelas.

Untuk orang-orang seperti kami, yang mencintai hujan.

“…Panas,” kata Junna, menimpali gumamanku yang keluar begitu saja. Sepertinya dia juga bukan penggemar udara panas. Suaranya tak bersemangat, dan tubuhnya pun lemas.

Meski begitu, ekspresinya tetap dingin, dan dia hampir tidak terlihat berkeringat sama sekali.

Kalau melihatnya begini, tanpa sadar terlintas pikiran, apa dia sebenarnya boneka? Wajahnya yang proporsional, kulitnya yang putih dan terlalu mulus, matanya yang seperti permata, dan rambut hitam berkilau dengan inner color warna hortensia itu, semuanya terasa sempurna—

“Shigure. Tanganmu berhenti.”

“Hm. Ah, maaf.”

Setelah diingatkan, aku kembali menggerakkan tanganku. Dengan lembut, aku mengelus rambut Junna, kepalanya.

Ini adalah janji yang kami buat sebelum ujian: “Kalau lulus semua mata pelajaran, dapat elus kepala tanpa batas.” Karena itu janji, aku tak punya hak untuk menolak.

“…Menenangkan. Bau tubuhmu, Shigure.”

“Jangan gosok-gosok pipimu ke aku. Geli.”

“Aku ini sebenarnya masih menahan diri, lho.”

“…Begitu ya. Kalau gitu, teruskan usaha bagusmu.”

Saat ini aku sedang memberi Junna lap pillow. Aku duduk dengan kaki terjulur, lutut ditekuk untuk menyesuaikan tinggi, dan kepala Junna bertumpu di pahaku.

Ini juga salah satu janji yang kubuat dengan Junna sebelum ujian.

“Lap pillow tanpa batas.”

Dan syaratnya adalah—

“Angkat tangan! Polisi mesra-mesraan datang!”

Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Yamada mengacungkan botol plastik sport drink ke arahku seperti pistol, dengan tutup putihnya mengarah lurus ke sini.

Dia mengenakan seragam olahraga sekolah yang sama dengan kami, dengan handuk biru muda tersampir di lehernya.

“…Suaranya kekencangan.”

“Jangan angkat tangan. Jangan berhenti ngelus kepalanya juga.”

“Canda, canda. Kalian berdua mesra-mesraan saja terus seumur hidup.”

Yamada menurunkan pistol sport drink-nya lalu mendekat. Dia duduk di sebelahku dan berkata,

“Kalau aku bisa lihat pemandangan beginian, kalah telak pun rasanya jadi sepadan,” lalu memasang wajah lesu penuh rasa capek hidup.

Ranking Yamada di ujian akhir adalah 305. Dalam artian tertentu, itu hasil yang luar biasa, karena persis sama dengan ranking UTS-nya. Karena Yamada kalah dari Junna, sekarang aku harus memberi Junna lap pillow.

“Aku benar-benar merasa bisa ngalahin Jun-chan, padahal.”

“Maaf ya sudah jadi jenius… bukan yang ‘sebaliknya’, tapi jenius beneran.”

Junna berkata sarkastis, seolah masih menyimpan dendam pada ucapan saat sesi belajar sebelum ujian, lalu tertawa kecil.

Yamada sama sekali tidak tersinggung dan malah tertawa segar. “Ahaha!”

“Tapi kamu memang hebat banget, Jun-chan.”

Dia menatap ke depan dan bergumam. Sambil merendahkan suaranya agar orang sekitar tidak mendengar, dia melanjutkan, “Bisa bikin musik seindah itu, terus masih pintar belajar juga… itu gila! Spekmu mau setinggi apa lagi?”

“Iya, kan?”

Aku setuju dengan kata-kata Yamada.

“Dapat ranking satu seangkatan itu, jujur saja, aku benar-benar syok… Pintarmu keterlaluan.”

“…Aku nggak sepintar itu.”

Junna memejamkan mata sementara aku terus mengelus kepalanya.

“Aku cuma benar-benar pengin hadiahnya.”

“…Tapi rasanya hasil setinggi itu nggak mungkin cuma karena alasan itu deh.”

“Bisa.”

Junna membuka matanya dan menatapku dengan pupilnya yang jernih.

“Cuma karena itu.”

“O-Oh… begitu.”

“Iya.”

Aku menyeka keringat dengan handuk sambil mengalihkan pandangan dari tatapannya yang terlalu lurus. Kakiku mulai terasa kesemutan karena berat kepala Junna. Kesemutan yang manis, menyenangkan.

“Ngomong-ngomong soal spek. Kurimoto-kun juga diam-diam high-spec, bukan?” kata Yamada sambil melihat para cowok yang sedang mengejar bola basket di lapangan.

“Masuk sepuluh besar, badannya lumayan tinggi. Dari hobinya baca dia kelihatan intelek, tapi dia juga anak klub olahraga, dan mukanya juga nggak jelek.”

“Bukan ‘nggak jelek’, tapi sangat ganteng.”

“…Nggak, nggak.”

Aku mengernyit. Rasanya suara sumbang di tengah bunyi-bunyi musim panas tadi tiba-tiba jadi terdengar lebih nyaring.

“Itu nggak benar. Kalau tidak—”

“Siapa tadi namanya… oh iya, Kurimoto dari Kelas 8. Curang banget, sih. Bisa ditempeli cewek imut kayak gitu!”

“Iya, beruntung banget. Mukanya sih nggak jelek, tapi agak biasa aja. Nggak terlalu menonjol gitu.”

“Jujur, aku juga mikir, ‘kenapa dia?’”

“…Dia satu klub atletik sama kalian, kan? Nggak pernah dengar detailnya? Misalnya mereka kenal dari mana.”

“Nggak sih… Kami nggak sampai ngobrol soal begituan. Dia juga nggak terlalu supel. Tapi aku benar-benar nggak nyangka dia diam-diam ketemu cewek secantik itu! Aku bisa mati karena iri.”

“H-Heh, dia pamer banget! Dapat dua bunga sekaligus. Kasih satu buat aku!”

“Beneran mereka belum jadian?”

Suara-suara para cowok itu masuk ke telingaku. Emosi yang terkandung di dalamnya mengaduk hatiku dengan tidak nyaman. Aku sempat kehilangan kata-kata, lalu Yamada meneguk sport drink-nya dan memiringkan kepala.

“Hmm?”

“…Nggak apa-apa.” Aku menggeleng dan tersenyum kecut.

“Aku nggak istimewa. Nilai sih lumayan, tapi nggak ada yang benar-benar menonjol… dan aku juga kalah di babak pertama.”

“Kalau kamu ngomong begitu, aku juga sama. Aku dihancurkan total.”

Aku ikut voli, sedangkan Yamada ikut basket, tapi kami berdua sama-sama kalah di babak pertama.

Turnamen ini sistemnya antarkelas, jadi begitu kalah langsung gugur. Karena itulah kami sekarang punya waktu luang dan sedang menonton pertandingan.

“Kamu nggak ikut, ya, Junna?”

“…Iya. Aku sebenarnya masuk daftar cadangan voli, tapi begitu sadar-sadar pertandingannya sudah selesai.”

Tim voli putri kelas Junna, 1-4, menang di babak pertama dan maju ke semifinal. Yamada bertanya, “Jun-chan nggak jago olahraga, ya?”

“Aku bukan nggak jago olahraga. Aku cuma nggak jago orang.”

“Kayaknya dua-duanya sih. Aku bisa membayangkan kamu bikin gerakan aneh banget dengan wajah datar… fuhihi.”

“Tolong berhenti ketawa otaku creepy begitu. Kamu ngajak ribut? Karena kalau iya, aku ladeni.”

“Ya, ya.”

Aku mengacak rambut Junna untuk menenangkannya saat dia masih dalam posisi rebahan sambil memasang pose siap berantem.

Junna menyipitkan mata, “Mfuu,” lalu melunak.

Dan tepat saat itu, satu arena mendadak heboh.

Youjirou, yang sedang bermain di pertandingan basket putra, baru saja memasukkan three-point shot penentu kemenangan.

Youjirou melambaikan tangan membalas sorakan para cewek yang bernada tinggi.

“…Tch!”

Terdengar bunyi decakan lidah yang tajam.

“Dasar bajingan. Sok keren banget sih… tch!”

Yamada tampak kesal. Seolah sengaja memancingnya lebih jauh, Youjirou menyeringai lalu mengedipkan mata. Yamada pun terus berdecak.

“Tch! Tch! Tch! Kalau ini tenis, aku pasti… tch!”

“Yang high-spec itu Youjirou, bukan aku.”

Dia cukup jago basket sampai bisa jadi pemain inti meski masih kelas satu, kemampuan atletiknya juga luar biasa. Nilainya bagus, badannya lebih tinggi dariku, mukanya bagus, dan dia juga supel.

“Dia nggak guna karena sampah,” Yamada memonyongkan bibir mendengar ucapanku sambil memeluk lututnya.

“Poin minus yang satu itu langsung ngehapus semua poin plusnya! Malah bukan sekadar nol, itu sudah masuk minus, tahu?”

“Begitu ya…”

Sama seperti musim panas. Aku menyeka keringat di dahiku dengan handuk, lalu, “Hei. Yamada-san sama Youjirou itu—”

baru saja aku hendak bertanya, peluit akhir berbunyi.

“Yeah!” seru Youjirou. Sepertinya three-pointer-nya di detik terakhir tadi benar-benar jadi penentu, dan timnya menang lalu maju ke final.

“Ngaaaaaaaaaah!” Yamada menjerit sambil mengacak rambutnya.

“Parah banget! Masa dia yang jadi bintang utamanya!”

“Yamada-san—”

“Aku pergi dulu!”

Begitu berdiri, Yamada meninggalkan botol plastiknya yang bahkan belum habis lalu berlari pergi. Tak sempat kutahan. Pada saat itu, Youjirou yang baru selesai bertanding menghampiri kami.

“…Tch, kabur dia. Padahal aku mau pamer ke mukanya.”

Gerutunya sambil mengambil barang Yamada yang tertinggal, lalu, “Hei, Shigure, Amamori-chan. Panas ya?”

Dia lalu meminumnya seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Pertandingannya bagus,” kataku memujinya.

“Keren banget kamu. Sesuai dugaan anak basket. Three-pointer penutup tadi benar-benar gila… Yamada tadi sampai frustrasi banget, tahu?”

“Syukurlah kalau begitu.”

Youjirou menggoyang-goyangkan botol plastik kosong itu lalu tersenyum lebar. Di sisi lapangan yang lain, pertandingan voli putra juga baru saja selesai, dan kelas-kelas yang lolos ke final putra pun telah ditentukan.

Berikutnya adalah semifinal putri.

“Kamu juga lihat permainan kerasku tadi, kan, Amamori-chan—”

“Shigure.”

Junna memotong pertanyaan Youjirou lalu menatapku lurus.

“…Kamu suka orang yang jago olahraga, ya, Shigure? Menurutmu mereka keren?”

“Hm? Iya, kurasa begitu. Ya, secara umum sih keren.”

“…Begitu.”

Junna memejamkan mata lalu bangkit duduk.

Dia memutar lehernya sekali lalu berkata,

“Aku akan main di pertandingan berikutnya.”

Semifinal voli putri, pertandingan pertama. Kelas Junna, 1-4, berhadapan dengan 1-1—tim kuat, kata Youjirou, yang dipimpin anggota klub voli yang berbakat.

Pertandingannya satu set, siapa lebih dulu sampai 25 poin menang. Tiap tim terdiri dari enam pemain, dan maksimal enam pemain cadangan bisa didaftarkan serta ditukar kapan saja selama pertandingan.

Junna adalah salah satu pemain cadangan itu.

“Servis bagus!”

“Nggak apa-apa, nggak apa-apa!”

“Semangat!”

“Oh!”

“Bunuh mereka.”

Para pemain cadangan menyemangati teman sekelas mereka yang terus mengejar bola dan bertarung habis-habisan.

Kurasa tadi aku sempat mendengar satu suara datar yang sedikit kurang semangat tapi penuh niat membunuh bercampur di sana, tapi mungkin itu cuma imajinasiku.

“Wah, yang berpengalaman memang kuat…”

Sambil bersandar di pagar, Youjirou bergumam sambil melihat ke bawah dari lorong atas yang menghadap lapangan. “Iya,” aku mengangguk.

Voli adalah olahraga yang jarak kemampuannya antara yang berpengalaman dan yang tidak sangat lebar. Tidak seperti sepak bola atau basket, kesempatan memainkannya tidak sebanyak itu, dan teknik dasar seperti set maupun receive sendiri sudah susah.

Satu kesalahan kecil bisa langsung jadi poin untuk lawan, dan karena bola harus tersambung rapi antarpemain, kerja sama tim juga sangat penting. Itu membuat ambang kesulitannya semakin tinggi.

Terutama untuk orang seperti aku, dan Junna.

“…Tapi Kelas 4 lumayan ngotot juga.”

Skornya 13 banding 18. Setter dari Kelas 1 tampaknya pemain berpengalaman, jadi dia jadi poros serangan sekaligus pertahanan, mengangkat toss dengan rapi meski receive-nya agak melenceng, lebih memilih mengembalikan bola kalau tak bisa menyerang, dan sesekali mengejutkan lawan dengan serangan dua sentuhan.

Sementara Kelas 4 punya satu attacker tinggi dan kuat, tapi mereka sering kesulitan mengirim bola padanya, dan secara keseluruhan permainan mereka agak berantakan.

Tampaknya mereka akan habis digilas.

Tepat saat aku berpikir begitu, peluit pergantian pemain berbunyi.

Waktunya adalah saat giliran servis kembali ke pihak mereka setelah lawan melakukan kesalahan. Menggantikan pemain kanan-belakang yang tadinya akan melakukan servis, Junna masuk ke lapangan.

“Wah! Amamori-chan beneran main…”

“Ekspresinya datar banget.”

Gymnasium langsung ramai saat “gadis cantik yang tiba-tiba mulai masuk sekolah, pingsan di hari terakhir ujian akhir, lalu merebut ranking satu seangkatan” itu muncul. Belakangan ini memang dia sedang jadi topik pembicaraan.

Di tengah semua itu, Junna berjalan menuju area servis dengan wajah kosong seolah dia tak merasakan apa-apa, lalu menerima bola dari teman setimnya.

“A-Amamori-san. Nice servis?”

“Siap.”

Junna mengangguk lalu mengambil posisi dengan bola di tangan. Dengan mata sayu, dia menatap para pemain di lapangan lawan seolah sedang mengukur mereka.

Peluit berbunyi.

Junna melambungkan bola ringan dengan tangan kirinya lalu memukulnya dengan tangan kanan, pelan, thwack.

Servis itu lemah, dan lintasannya lembut. Sepertinya dia sengaja memilih servis aman agar pasti melewati net.

Pemain kanan-belakang tim lawan, dengan ekspresi yakin, bersiap menerima bola yang meluncur lurus ke arahnya dengan terus terang sampai terasa hampir lucu. Tapi—

“…!?”

Bola itu menyentuh lantai. Peluit berbunyi. Piiip.

15 banding 18.

“Hm? Itu kenapa, ya?”

gumam Youjirou.

“Dia tadi kayak nggak gerak sama sekali, kan?”

“Bukan.”

Gymnasium mendadak riuh. Aku menelan ludah.

“Bukan nggak gerak…”

Junna kembali mengambil posisi tanpa ekspresi. Dengan tatapan dingin, dia menembus pemain kanan-belakang yang masih terguncang itu.

“Dia nggak bisa gerak.”

Begitu peluit berbunyi, Junna langsung melakukan servis lagi.

Poof, thwack. Servis yang sama, lembut, melayang, dan agak goyah seperti sebelumnya.

Namun, tepat setelah melewati net, bola itu mendadak goyah dan menyerang pemain lawan dengan gerakan tak menentu.

Bola itu meleset dari lengan receive yang sudah direntangkan dan menghantam lantai. Peluit berbunyi. 16 banding 18.

Sesaat sunyi, lalu sorak-sorai meledak.

“Knuckleball serve.”

Junna yang baru mencetak dua service ace berturut-turut tetap tanpa ekspresi seperti biasa. Gelombang kebingungan mulai menyebar di kubu lawan.

“Kalau bola dipukul tanpa putaran lalu dibiarkan mengikuti arus udara… lintasannya jadi acak. Buat pemain yang belum berpengalaman, itu susah diterima.”

Rasanya seperti lelucon tak terduga yang dibawakan dengan muka datar.

Gerakan yang sangat “Junna”.

“T-Tenang! Dia cuma goyang di udara, kalau kita fokus—”

Poof, thwack.

“Hah!? Aku lagi! Ugh…”

Kali ini sih berhasil menerima, tapi karena kontaknya jelek, bola justru melambung ke arah yang salah.

Setter buru-buru menutupinya, tapi tak sempat, dan peluit poin pun berbunyi. 17 banding 18. Selisih tinggal satu.

“…Wah. Jahat juga ya, Amamori-chan.”

“Dia jelas sengaja narget orang yang sama.”

Kalau terus bikin kesalahan, tekanannya akan membuatmu makin sering salah. Gadis yang jadi sasaran itu mungkin sekarang sudah hampir menangis.

Tapi Junna tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

Dengan tatapan dingin dan wajah datar, dia terus menekan lawannya.

Poof, thwack.

“Aku ambil!”

Tak tahan lagi, setter lawan bergerak.

Alih-alih naik ke dekat net untuk melakukan set, dia tetap di belakang. Mengangkat tangan, dia memotong masuk dan menerima servis itu sendiri.

“Jangan sok—”

Sesuai dugaan pemain klub voli, receive-nya bersih, lalu dari toss teman setimnya dia melompat dan melakukan spike.

“—keren!”

Sebuah serangan kuat dari lini belakang dilepaskan.

Pemain tengah-belakang Kelas 4 berhasil menerima dengan sangat bagus, tapi bolanya malah terbang jauh dari setter di depan, menuju belakang, hampir keluar lapangan.

Kali ini, pasti kehilangan poin—

“Aku angkat!”

Pada saat itu, terdengar suara tajam. Suara soprano bening yang sangat nyaring. Sesaat aku bahkan tak tahu siapa yang bicara.

Di bawah bola yang melambung tinggi itu, Junna sudah mengambil posisi untuk set. Mata sayunya terbuka lebar. Bola terpantul di pupil matanya yang besar.

“Kiri!”

Suaranya yang indah, yang terlatih sebagai vokalis, bergetar di udara panas.

Bola itu tertarik ke tangan Junna, lalu dengan jari-jarinya sebagai bantalan, dia mengangkatnya dengan lembut dalam busur halus. Ke kiri depan, posisi paling jauh di sisi berlawanan.

Bola itu meluncur membentuk parabola.

Pemain depan lawan, yang berkumpul di kanan dari sudut pandang Junna, buru-buru bergerak untuk menghadang, tapi sudah ada seseorang yang lebih dulu melompat, lebih cepat dari mereka.

Attacker tinggi dan kuat itu.

“Oraaaaaaaaaaah!”

Di udara, tepat di depan net, tangan attacker kiri menghantam bola dan menembus lapangan lawan.

18 banding 18. Imbang.

“Bagus.”

Dengan wajah datar, Junna mengangkat tangannya saat kembali ke posisinya di lapangan. Bukan hanya lawan dan kami para penonton, bahkan teman-teman setimnya sendiri pun ikut terpana.

“…………Eh, hah? Um…”

“Amamori-san! Itu kerennnn banget!”

Saat Junna hampir menurunkan tangan itu dengan canggung, gadis yang barusan melakukan spike menepuknya. Tepat setelah itu, seluruh gymnasium dipenuhi sorak yang nyaris mengangkat atap.

“Keren banget, Junna-chan! Maksudku benar-benar… keren banget!”

“Iya, memang keren. Tapi menurutku kamu juga keren, Haruka. Pilihan katanya dan segala macam. Sama kayak dadamu, minimnya juga luar biasa woah!? Jangan-spike kepalaku!”

“Nyaris banget. Tadi benar-benar pertandingan yang tipis, siapa pun bisa menang.”

“Aku sudah mencapai batas maksimal jadi hikikomori…”

Program pagi telah selesai, dan sekarang sudah waktunya makan siang. Kami sedang makan di sudut lorong penghubung antara gymnasium dan gedung kolam renang. Di atas beton berpasir, kami menggelar alas piknik yang dibawa Yamada, lalu duduk berempat di sana.

Sebenarnya kami bisa saja ke UKS, tapi kami pikir di sana pasti ramai orang-orang dari turnamen olahraga, dan karena ini acara khusus, kami memilih lokasi yang rasanya lebih pas.

Ternyata tempatnya cukup sejuk. Aroma klorin yang berbeda dari bau disinfektan menggantung di udara, dan di luar lorong, di bawah sinar matahari, bayangan pagar jatuh di lantai. Entah siapa yang begitu penuh energi, sepertinya ada yang sedang main di kolam, karena dari sana terdengar suara cipratan air dan tawa ceria.

“…Capek.”

Junna langsung lemas dan menyandarkan tubuhnya padaku.

“Isi ulang… energi…”

“Kerja bagus,” kataku, tapi aku mendorongnya balik dengan bahuku supaya dia duduk tegak lagi.

“Energi bisa diisi dari makan juga, tahu?”

“Aku mau makan kamu, Shigure.”

“Nggak usah yang begitu sekarang.”

“…Hmph.”

Selain kami berempat, ada lumayan banyak orang lain di sekitar. Setelah aksinya di pertandingan voli tadi, perhatian pada Junna jadi semakin besar, dan aku mulai merasakan tatapan-tatapan yang bahkan lebih panas dari matahari.

Mungkin tadi kami memang seharusnya cari tempat yang lebih sepi tapi sekarang sudah terlambat.

“Junna-chan, kamu dulu pernah ikut klub voli? Tadi kamu jago banget.”

tanya Yamada sambil mengobrak-abrik kantong plastik minimarket. Junna menggeleng. “Nggak. Aku cuma pernah main pas pelajaran olahraga.”

“…Dan kamu tetap sejago itu? Kebangetan jeniusnya. Kamu emang bisa semuanya?”

Semifinal voli putri, pertandingan pertama. Pertarungan antara kelas Junna, 1-4, melawan 1-1 berakhir dengan kemenangan 1-1. Tak lama setelah itu, stamina Junna habis, dan tim yang tadi mulai berkumpul mengandalkannya cepat runtuh. Mereka kalah 22 banding 25.

Setelah pertandingan, Junna nyaris dikerubungi teman setim dan teman-teman sekelas yang tadi menyemangatinya, tapi dia melarikan diri dan berlindung di UKS, tempat aku menyusulnya lalu Yamada dan Youjirou ikut datang, dan begitulah kami sampai di situasi sekarang.

“Hei, dari tadi aku penasaran soal ini,”

kata Yamada sambil menunjuk sesuatu di samping Junna dengan onigiri tuna mayo-nya.

“…Itu bungkusan apa?”

Sebuah benda persegi yang dibungkus kain furoshiki¹ merah. Tingginya kira-kira 30 sentimeter dan ukurannya cukup besar.

“Itu bukan… bento, kan?”

“Itu memang bento.”

Junna membuka simpul furoshiki itu.

Yang muncul adalah jūbako² hitam berlapis pernis yang megah. Total ada empat tingkat.

Yamada menjatuhkan onigiri minimarketnya dengan bunyi plop.

“Whaaaaaaaaaat!? J-Jūbako!?”

Di depan Yamada yang tercengang, Junna membuka tutup-tutup jūbako itu dan menatanya satu per satu.

Tingkat pertama berisi masakan Jepang, tingkat kedua Western, tingkat ketiga Chinese, dan tingkat keempat… ethnic? Tiap tingkat punya tema berbeda, dan variasi isinya luar biasa banyak. Warna-warninya juga indah dan menggugah selera.

“Ini hadiah untuk kalian semua yang sudah berjuang keras di ujian.”

Kata-kata Akagi saat menyerahkan bento ukuran ekstra besar itu padaku waktu aku menjemput Junna kembali terngiang.

“Aku buat lebih banyak. Kerja sama dan habiskan bersama-sama, ya?”

“…Bukannya ini terlalu banyak? Kamu porsi makannya besar, Amamori-chan?”

“Itu bukan buat satu orang. Aku menyiapkannya untuk semuanya.”

Gadis pembohong itu membusungkan dada dengan bangga di depan Youjirou yang sedang mengernyit. “Serius!?” Yamada langsung mencondongkan badan.

“Kamu dewa, ya!? Lebih dari mahakuasa, ini sudah omnipotent!”

“Benar. Aku adalah dewa maha tahu dan maha kuasa. Menyembahlah padaku.”

““Baik, Yang Mulia!””

Yamada dan Youjirou langsung bersujud berdampingan. Junna yang melihat mereka dari atas tampak penuh kemenangan. Murid-murid di sekitar mulai berbisik, “Ada apa tuh?” dan aku pun menghela napas.

“Yang buat itu Sensei, bukan Junna.”

Aku membongkar kebohongannya.

Dua teman masa kecil itu mendongak bersamaan. ““Hah?”” Timing mereka sempurna.

“Sensei… maksudmu ‘Oni Merah’ Akagi-sensei? Guru UKS itu?”

“Iya.”

“Yang dadanya gede dan seksi, tapi karena terlalu seksi jadi susah didekati, Akagi-sensei itu?”

“Iya, dia.”

“…Shigure.”

Junna, yang kebohongannya terbongkar, melotot padaku dari samping. “Menurutmu Sensei dadanya gede dan seksi…?”

Yang kamu fokuskan itu? Aku menghela napas lagi, lalu sambil membagikan sumpit sekali pakai dan piring kertas yang sudah disiapkan,

“Sejak Junna mulai datang ke UKS, setiap hari dia bikin bento yang bergizi dan seimbang buat Junna. Orang-orang memang takut padanya, tapi sebenarnya dia baik.”

“…Nada suaramu itu kenapa, sih? Kayak cuma kamu yang tahu. Ngeselin.”

“Ayo terima kasih ke Sensei lalu makan.”

“Nge-se-lin.”

Thump, thump, thump, thump. Aku mengabaikan Junna yang memukuliku lalu mulai makan.

Yamada mengambil lumpia dari tingkat makanan Chinese lalu menggigitnya. Terdengar bunyi renyah yang enak.

“Whoa, nggak mungkin! Ini apa, enak banget… Ini bukan frozen, kan? Ada zucchini, okra, jagung, sama daging babinya… terus minyak wijennya pas banget. Enak.”

“Serpihan bonito sama cream cheese! Dan nasinya mixed grain. Sesuai dugaan guru UKS, sehat banget. Begitu kepikiran kalau semua ini dibuat langsung oleh tangannya, rasanya malah makin mantap. Enak.”

Youjirou bersorak kecil sambil memejamkan mata, pipinya menggembung penuh onigiri.

Aku mengambil semacam tumisan mi ala pad thai dengan udang, kucai, tauge, dan paprika dari tingkat yang tampaknya berisi makanan ethnic.

“…Junna, kamu juga. Berhenti mukulin aku lalu makan siang, ya? Sensei sudah repot-repot bikin semua ini untuk kita.”

kataku pada Junna yang terus memukuliku tanpa henti meskipun sudah kuabaikan. Suaranya memang cuma thump, thump, tapi tenaganya ada dan itu sakit. Tatapan semua orang sekitar juga sama sakitnya.

“S-Sialan si Kurimoto… mesra-mesraan banget!”

“Bento itu, apa dibuat Amamori-san? Kalau iya, aku nggak bisa tetap tenang.”

“Gwaaaaaaaaaah!? Tenang! Tenang, lengan kiriku! Api kecemburuan yang mengamuk… akan membakar habis saudara-saudara seperjombloanku!”

Ini bukan mesra-mesraan, aku cuma lagi dipukul, dan yang bikin bento juga bukan Junna. Dan tolong berhenti kena episode chuunibyou di SMA.

“………… Kamu suka Sensei, kan, Shigure,” gerutu Junna sambil mengambil roast beef sandwich dari tingkat makanan Western.

“Kamu makan bentonya tiap hari sambil pasang wajah ‘guhehe’ bahagia…”

“Aku nggak pernah bikin wajah ‘guhehe’. Aku bukan Yamada-san.”

“…Jadi bagian ‘suka’ dan ‘bahagia’-nya nggak kamu sangkal?”

“Susah banget memang kalau ngomong sama kamu.”

Kalau jawabanku meleset sedikit saja, semacam Depression Points itu bisa langsung numpuk.

Yamada, yang sejak tadi “guhehe”-ing memilih menu berikutnya sambil benar-benar mengabaikan makan siang minimarketnya, menatapku dengan wajah heran.

“Jadi bukan cuma Junna-chan, kamu juga, Kurimoto-kun, tiap hari bisa makan makanan seenak ini?”

“…Yah, belakangan ini sih. Tiba-tiba saja jadinya begitu?”

“Cur—Hei! Curang banget kalian berdua!”

“Gwaaaaaaaaaah!? Tenang! Tenang, lengan kananku!”

“Jangan kamu juga mulai kena episodenya, Youjirou.”

Dua pasang mata iri tambahan kini menatap kami. Aku menoleh ke Junna yang pipinya masih menggembung penuh sandwich.

“Mau gimana lagi. Bikin bento itu agak repot. Walaupun awalnya cuma sekalian buat Junna, kalau ada orang yang menawarkan buat bikinin bento seenak ini setiap hari, mana mungkin aku nolak—”

“Higurye. Hyouhi, hehihuho?”

“Kita coba telan dulu sebelum bicara.”

“…gulp… Kamu bisa masak, Shigure?”

“Iya. Orang tuaku dua-duanya kerja… jadi pekerjaan rumah dibagi sama kakakku, dan aku yang lebih sering masak.”

Dulu aku juga sering membuatkan bento untuk kakakku, tapi sejak dia masuk kuliah, yang kubuat cuma punyaku sendiri, dan itu lama-lama jadi terasa merepotkan. Walau kalau jujur, kebanyakan cuma sisa lauk dan aku juga sering mengandalkan frozen food.

“Bikinin aku juga.”

Junna mendekat, lubang hidungnya sedikit mengembang.

“Bikinin aku bento. Setiap hari. Gantiin punya Sensei.”

“…………”

Aku menelan sesuatu yang rasanya seperti pangsit goreng dengan campuran rempah yang kompleks, lalu berkata,

“Ehm. Aku mungkin nggak sebagus yang kamu bayangkan, tahu? Punya Sensei jauh lebih unggul, baik dari segi rasa maupun keseimbangan gizinya, ngomong-ngomong,”

aku menoleh lagi pada Junna dan bertanya,

“Ini ‘permintaan’ dari ‘janji’ kita itu? Kalau iya, akan kulakukan, sih…”

“Mm…”

Junna ragu. Dia menunduk, lalu setelah berpikir sejenak, “…Nggak. Lupakan,” katanya sambil menarik diri. Dia mengamati banyaknya hidangan yang terhampar di depannya, lalu mengangguk.

“Aku juga suka bento dan masakan Sensei. Dan kalau aku mau minta sesuatu, aku ingin minta sesuatu yang bahkan lebih luar biasa lagi.”

“Yang lebih luar biasa lagi…”

Aku jadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan dia minta. Dengan sedikit rasa gentar, aku meraih sepotong karaage yang jelas bukan hasil dari makanan beku kemasan.

Final basket putra, satu-satunya cabang yang berhasil dimasuki kelas kami, 1-8.

Hasilnya adalah kekalahan telak. Penyebab kekalahan kami adalah—

“…Urp.”

Performa buruk Youjirou akibat kebanyakan makan. Di atas bento Akagi, dia juga menghabiskan bekal yang dibawanya sendiri tanpa sisa, dan gerakannya jelas jadi lambat, berujung pada rangkaian kesalahan.

Ace yang selama ini memimpin tim justru malah menyeret mereka menuju kekalahan.

“Ugh. Nggak nyangka aku bakal… Kamu menjebakku, Haruka!?”

“Hah? Itu mah kamu sendiri yang rakus. Payah. Cupu.”

Setelah pertandingan, Yamada mengejek Youjirou yang mengusap perutnya yang agak menonjol.

Waktu makan siang tadi, saat dia menyuapi Youjirou yang sebenarnya sudah kenyang sambil bilang, “Nih, bilang aaah…”, ternyata itu bukan momen mesra, melainkan langkah strategis.

Setelah pertandingan putra, final voli putri juga digelar, dan dalam cabang voli, Kelas 1-1 yang mengalahkan kelas Junna, 1-4, berhasil keluar sebagai juara.

Dan dengan itu, turnamen olahraga pun selesai atau harusnya begitu.

Masih ada satu pertandingan pamungkas setelah basket dan voli: “Dodgeball Campuran Cowok-Cewek.”

Cabang santai yang dimainkan dengan dua belas orang di tiap sisi, enam cowok dan enam cewek.

Para cowok dilarang memakai tangan dominan mereka, dan seharusnya ini lebih bernuansa seru-seruan daripada pertandingan serius—setidaknya seharusnya begitu.

“Bunuh… Kurimoto, bunuh.”

“Aku sudah menunggu momen ini. Saat aku bisa menghancurkanmu terang-terangan!”

“Selama ini kamu pamer terus, ya!? Akan kubikin kamu jadi contoh di depan umum!”

“Bidik wajahnya. Kalau begitu nanti dihitung ‘safe’, dan kita bisa nyakitin dia terus.”

“Heh heh heh. Sekaranglah saatnya melepaskan kekuatan yang tersegel di lengan kiriku!”

“Hyahahaha! Sebentar lagi yang turun bukan hujan… tapi darah!”

Niat membunuh dari para murid cowok terasa luar biasa kuat.

“Ayo, Shigure!”

“Semangat, Kurimoto-kun!”

“Nanti aku pungut tulang-belulangmu, Shigure… urp.”

Sorakan datang dari tribun.

Terlepas dari komentar Youjirou, sorakan Junna dan Yamada justru hanya menyiram minyak ke kobaran niat membunuh itu.

Berdiri di dalam lapangan, aku mulai berkeringat dingin.

“A-Aku nggak seharusnya ikut ini…”

Aku menyesal, tapi semuanya sudah terlambat. Aku bermain suit dengan para cowok di tim lawan yang menatapku dengan mata merah penuh dendam, lalu menang dan menerima bola.

“Y-Yah, mau gimana lagi.”

Aku mengembuskan napas, meneguhkan hati, lalu menatap balik para pria yang berbaris di depanku.

“Kalau kalian maunya begini—”

Peluit tanda pertandingan dimulai berbunyi.

Aku menarik lenganku ke belakang, mengambil ancang-ancang, lalu—

“Majulah! Kita lakukan!”

aku melempar bola itu sekuat tenaga.

Sepuluh menit kemudian.

Bola yang dilempar bocah chuunibyou itu menghantam wajahku.

“‘Aku akan menghancurkan masa mudamu itu’!”

“Guh!?”

Benturannya membuat tubuhku terpental ke belakang, dan bola itu melambung tinggi ke udara.

“Safe!” teriak seorang rekan setim yang berhasil menangkap bolanya dengan bagus.

“Kamu masih bisa lanjut!? Tahan, Kurimoto!”

Rekan setim lain menopang tubuhku yang hampir roboh sambil menyemangatiku. Keduanya cowok.

“…K-Kalian…”

Aku yang wajahnya sudah beberapa kali dihantam bola, mengusap darah dari bibirku lalu meludah.

“Kalian sebenarnya ada di pihak mereka, kan?”

“Sh-Shigure!”

Junna berlari mendekat saat aku sedang diangkut dengan tandu.

“Kamu nggak apa-apa!? Shigure…”

“…Aku nggak apa-apa. Ini cuma luka rin—Ugh!?”

Air mata yang jatuh membasahi mataku, membuatku mengerang. Saat aku membuka mata sambil berkedip, cahaya di pupil Junna telah lenyap.

“Aku nggak akan maafin mereka.”

Air mata yang meluap itu berhenti, dan dari seluruh tubuhnya mulai muncul aura gelap dan mengerikan setidaknya begitulah rasanya. Sebelum sempat kukatakan apa-apa, Junna sudah berbalik.

“Bunuh.”

Suara yang keluar rendah, berat, dan dingin sampai menusuk. Pandangannya tertuju lurus pada para cowok dari tim lawan yang sedang merayakan kemenangan mereka.

“Akan kubantai mereka semua.”

Pertandingan terakhir festival olahraga, final dodgeball campuran cowok-cewek.

Pertarungan antara Kelas 1-7, kelas yang menghancurkan Kelas 1-8 kami habis-habisan di babak pertama, melawan Kelas 1-4, kelas Junna, berubah menjadi pembantaian sepihak.

“A-Aku minta maaf! Ini salahku, jadi tolong ampu—Gah!?”

“Mata macam apa itu… Serem banget. Tubuhku kaku, aku nggak bisa ger—Gyaaah!?”

“I-Itu iblis! Iblis turun ke bumi!—Gyehh!?”

“T-Tolong hentikan! Jangan wajahnya, jangan lag—Guhh!?”

“T-Tenang dulu! Tolong!—Gugaaah!?”

“Kami menyerah! Kami menye—Abeshi!?”

Seolah ingin menghemat tenaga, Junna yang di pertandingan-pertandingan sebelumnya fokus pada “kabur” kini justru mengamuk, menumbangkan keenam cowok lawan sendirian.

Dengan wajah datar. Tapi di dalam matanya menyala kemarahan dan kebencian yang ganas.

Para cewek di tim lawan meringkuk bersama, gemetar ketakutan oleh intensitasnya, dan para murid yang menonton pertandingan pun ikut ngeri.

“…Jangan pernah lagi,”

kata Junna, untuk pertama kalinya berbicara selama pertandingan, dengan suara seperti geraman rendah.

“berani menyakiti Shigure lagi—”

Seolah bukan cuma memperingatkan lawan, tapi seluruh orang di tempat itu.

“—ya?”

katanya dengan suara rendah dan berat, sambil tersenyum.

Senyum yang cemerlang. Senyum lebar yang terang.

Tapi matanya, hanya matanya, tetap gelap dan sama sekali tidak tersenyum.

“““““I-Iya.”””””

Suara tangis para cowok itu bertumpuk. Para cewek yang tersisa menawarkan menyerah, dan peluit pun berbunyi, menandai akhir dari pembantaian itu.

“Pemenang turnamen dodgeball campuran cowok-cewek adalah Kelas 1-4!”

Suara pengumuman yang terdistorsi menggema. Ekspresi Junna sudah kembali datar, dan dia berdiri di sana sambil memeluk bola dengan kedua tangan.

Dia memandang sekeliling gymnasium yang sunyi, melihat para murid dengan mata sayunya, lalu—

“………………”

menunduk.

Cengkeramannya pada bola menguat. Pada saat itu,

“Amamori-saaaaaaaaaan!”

salah satu teman sekelasnya di lapangan berlari menghampiri Junna dan memanggilnya dengan ceria.

Itu adalah gadis tinggi yang tadi mencetak banyak spike di pertandingan voli, dan sampai final dodgeball pun menjadi kontributor besar.

“Bagus banget tadi. Kamu keren banget!”

“…!?”

Junna mengangkat kepala, matanya membelalak. Seolah itulah sinyalnya, murid-murid Kelas 1-4 langsung meledak bersorak dan berkumpul di sekeliling Junna.

Junna sempat tersentak, tapi dia cepat sekali dikerubungi dan tak bisa kabur. Gymnasium pun ikut bergemuruh, dan tepuk tangan turun seperti hujan mendadak.

Teman-teman sekelasnya langsung bicara padanya bersahut-sahutan.

“Kamu hebat banget. Di voli tadi juga keren, tapi…”

“Amamori-san, kamu ternyata jago olahraga juga!? Pintar, kuat, cantik, berbakat!”

“…Eh… um…”

“Menumbangkan semua cowok itu gila banget! Kamu memang beda, Amamori-san.”

“MVP festival olahraga ini jelas Amamori-san!”

“…Eh, um…”

“Ayo kita toss dia, toss dia!”

“Kalian cowok ngomong begitu cuma biar bisa nyentuh Amamori-san, kan? Yang lempar cukup cewek saja!”

“…Eh? N-Nggak… jangan…”

“Siap, satu dua!”

“Yoisa!”

“Yoisaaaaaaa!”

“~~~~~~~~~~!”

Tubuh Junna dilempar ke udara berulang kali mengikuti teriakan itu.

Junna terlihat menciut ketakutan, dan dari jauh pun ekspresinya jelas tegang, tapi saat acara lempar-lemparan itu selesai dan dia diturunkan lagi, tampaknya dia mulai sedikit terbiasa.

“Kalau pacarmu terluka terus kamu langsung serius begitu, berarti aslinya kamu cukup penuh gairah ya, Amamori-san…?”

“Dia bukan pacarku. …Belum.”

“Belum? Ooh… begitu, begitu.”

“Cerita lebih banyak dong.”

“Aku juga, aku juga! Penasaran banget.”

“…Aku sih nggak keberatan. Tapi kalau aku mulai ngomong soal Shigure, aku nggak akan berhenti selama tiga hari tiga malam, tahu?”

“Nggak mungkin, kelamaan banget. Nanti keburu libur musim panas!”

“Aku juga punya rekaman percakapan kami. Obrolan yang menunjukkan betapa dekatnya kami.”

“Rekaman!? Kamu bercanda, kan, Amamori-san… walau mukamu datar.”

“Kamu ini cewek yang menarik, ya.”

“Aku sering dibilang begitu.”

Tanpa kusadari, balasan-balasan lincah mulai mengalir dari mulut Junna, dan ekspresinya pun melunak.

Senyum malu-malu mekar di wajahnya. Senyum seperti pelangi yang ingin kulihat lebih sering senyum yang justru kuinginkan hanya dia tunjukkan padaku.

Aku ingin punya teman.

Aku ingin akrab dengan teman sekelas.

Aku ingin berubah.

Melihat langsung pemandangan di mana semua harapannya itu benar-benar terwujud.

“Junna…”

Aku merasakan kelegaan dan kebahagiaan, dan pada saat yang sama—

“Jun-chan sekarang jadi populer banget, ya.”

“…………Iya.”

Rasanya seperti melihat band indie yang sudah kamu dukung sejak debut, tiba-tiba punya lagu hit lalu berubah jadi band major yang terkenal.

Aku tak bisa menahan rasa sepi kecil yang menusuk.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa