Ada banyak alasan kenapa aku tertarik padanya. Suaranya, wajahnya, auranya, selera musiknya, dan juga... fakta bahwa dia berkata kalau dia “suka sekali” lagu-lagu yang kuciptakan sebagai JUN dari YOHILA.
Tapi meski begitu, alasan nomor satunya adalah
“...Indah sekali.”
Aku memutar ulang melodi senandung yang kurekam di ponselku, lalu terpesona sendiri. Rasanya sulit dipercaya kalau melodi seindah ini bisa meluap dari dalam diriku.
Aku adalah pencipta lagu untuk YOHILA, dan aku mengerjakan semua lagu YOHILA.
Bukan cuma musiknya, liriknya juga. Ada orang yang mulai dari musik dulu, ada juga yang dari lirik dulu, tapi kalau aku, hampir selalu dimulai dari musik.
Melodi yang menjadi “dasar” bagi musik itu sering kali muncul tiba-tiba di momen-momen aneh dalam keseharianku.
Misalnya saat tanpa sengaja aku menatap langit dengan warna yang belum pernah kulihat sebelumnya, atau saat cokelat panas yang kuminum di kafe ternyata lebih pahit dari yang kuduga, atau saat seekor kucing liar entah kenapa langsung kabur begitu mata kami bertemu, atau saat payung baru yang baru kubeli malah dicuri di hari yang sama.
Atau saat aku tenggelam dalam novel yang ditinggalkan seseorang pada sore hari yang hujan sepulang sekolah.
Atau saat aku berjalan pulang sambil mengingat kembali percakapanku dengan pemilik novel itu.
Di saat-saat santai seperti itu, sebuah melodi akan mengalun, dan aku akan buru-buru mencatat nada yang langsung memudar begitu muncul itu ke memo suara di ponsel atau ke kertas paranada yang selalu kubawa.
Nada yang dia buat agar kumainkan itu luar biasa indah.
Karena itulah aku tertarik padanya. Atau mungkin justru aku tertarik padanya lebih dulu, lalu hatiku yang tersentuh oleh perasaan itu memainkan sebuah nada. Yah, yang mana duluan sebenarnya tidak penting.
Yang penting, dia itu spesial. Shigure itu spesial.
“...Apa dia bakal membacanya? Baca, baca... dia baca!”
Sambil rebahan di atas ranjang, aku terus menatap pesan LINE yang kukirim lima menit lalu, sampai akhirnya muncul tanda sudah dibaca.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit sejak itu, balasan dari Shigure akhirnya datang. Pesanku panjangnya kira-kira dua puluh baris, sedangkan punyanya cuma sembilan. Bahkan nggak sampai setengahnya. Sedikit kesal sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Harus kuakui, pesanku memang agak kepanjangan.
Lain kali harus kubuat lebih pendek supaya lebih mudah dibalas. Aku akan merangkum apa yang ingin kukatakan seperti menulis lirik. Soalnya, versi jadi pesanku tadi sebenarnya panjangnya lebih dari empat puluh baris. Kenapa bisa begitu?
Aku memang berusaha memendekkannya, tapi aku juga nggak mau membuatnya menunggu, jadi kukirim saja apa adanya.
Pesanku sudah dibaca. Dan balasannya adalah,
『 Shigure: Mau telepon aja? 』
Aku langsung bangkit dan membalas dalam sepersekian detik.
『 JUN: MAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!! 』
『 Shigure: Di chat kamu semangat banget, ya. 』
Lalu aku langsung meneleponnya, dan sama seperti saat istirahat makan siang atau sepulang sekolah, kami pun tenggelam dalam obrolan santai tanpa tujuan. Masih banyak hal lain yang harus kulakukan, tapi aku tidak peduli.
Suaranya, yang terdigitalisasi dan sedikit berbeda dari suara aslinya, menggetarkan gendang telingaku, mengusik hatiku, lalu memintal melodi yang manis.
Sambil mendengarkannya bertumpuk dengan suara hujan, aku menuliskannya ke kertas paranada, mencatatnya dengan hati-hati sambil mengayunkan tubuh ke kanan dan ke kiri.
Rasanya malam ini aku bisa tidur nyenyak.