Mari putar waktu kembali ke Sabtu sore saat aku membuat “janji” itu dengannya. Sejak hari itu, sejak saat itulah, pertarunganku dimulai.
“Aku pulang,” kataku singkat sambil berdiri.
Sembari membereskan barang-barangku, aku mendeklarasikan, “Aku mau fokus penuh buat belajar, jadi jangan hubungi aku sampai semuanya selesai.”
“…………Eh?”
“Nanti.”
Melemparkan kata-kata sepihak itu, aku meninggalkannya yang masih bengong lalu segera keluar dari perpustakaan. Dalam perjalanan keluar, dari sudut mataku aku sempat melihat Haruka-san dan yang lainnya tampak terkejut, tapi aku tak memedulikannya.
Di perjalanan pulang naik kereta, aku mengecek ulang cakupan materi dan jadwal ujian, lalu menyusun rencana belajar yang bahkan memasukkan hari-hari ujian itu sendiri.
Ya… kalau aku tidak tidur sama sekali, harusnya aku bisa.
Aku membeli persediaan makanan untuk seminggu penuh di supermarket nutrition bar dan jelly drink bersama energy drink dalam jumlah besar, lalu begitu sampai di rumah, yang ada hanya belajar, belajar, belajar, belajar, belajar, belajar, belajar, belajar, belajar.
Karena aku tinggal sendirian, aku tak perlu khawatir akan diganggu.
Aku sudah lebih dulu mengirim pesan pada Akagi-sensei, yang memegang kunci cadangan apartemenku, “Sampai ujian selesai aku off dulu. Tolong biarkan aku sendiri,” dan aku juga sudah menghubungi manajerku, Kotegawa-san, memberi tahu, “Aku sedang sibuk ujian, jadi untuk sementara aku tidak bisa dihubungi.”
Kurasa tidak ada urusan yang benar-benar mendesak. Kalaupun ada…
Aku mematikan ponselku.
Lalu begitulah, aku terus terjaga semalaman sampai hari pertama ujian tiba, dan begitu ujian hari pertama selesai, aku langsung pulang untuk belajar buat hari kedua. Selama tiga hari. Tanpa istirahat sedikit pun, aku menyelesaikan semua ujian tanpa hambatan—
Begitu semuanya selesai, kesadaranku pun ambruk seperti komputer yang crash.
Kepalaku menghantam meja, lalu aku pingsan, dan saat terbangun berikutnya, aku sudah berbaring di tempat tidur. Sensei, yang rupanya membawaku pulang lalu merawatku, berkata dengan wajah serius,
“Amamori. Rajin belajar itu bagus, tapi ini keterlaluan… sudah berapa hari kamu tidak tidur?”
“Enam.”
“Jangan bercanda.”
“…………”
Sambil memakan bubur Tiongkok bergizi buatan Sensei yang penuh isi, aku berpikir samar-samar.
Tentang janji yang kubuat dengannya, sumber kekuatanku itu.
Apa ya yang harus kuminta dari Shigure?