Sejak pagi, hujan sudah turun di hari Sabtu itu.
Memang cuma gerimis ringan, tapi tetap saja, kalau hujan begini orang-orang biasanya jadi malas keluar dan lebih memilih diam di dalam ruangan. Ikebukuro juga tidak seramai yang kubayangkan untuk ukuran hari libur. Dalam perjalanan menuju tempat janjian, aku sempat berpikir mungkin tadi lebih baik kami janjian langsung di dalam stasiun saja.
Sebuah taman kecil di sisi barat stasiun. Di salah satu sudut plaza yang ciri khasnya adalah atap berbentuk cincin, kulihat sebuah payung bermotif hortensia mekar di bawah hujan.
“Pagi, Junna.”
“…………”
Aku menghampirinya sambil memegang payungku sendiri dan memanggil namanya, tapi tak ada respons.
Payungnya diturunkan rendah sampai menutupi wajahnya. Saat aku mengintip ke dalam bayangan gelap di balik payung itu, mataku bertemu dengan mata Junna yang, seperti dugaan, sedang bertahan dengan headphone. Junna melepas headphone-nya.
“Mm. Shigure… pagi.”
“Iya, pagi.”
Walaupun ini akhir pekan, aku dan Junna sama-sama mengenakan seragam sekolah. Di punggung Junna bukan kotak gitar seperti biasa, melainkan ransel dengan desain yang khas. Vivienne Westwood. Punk.
“…Aku bikin kamu nunggu?”
“Nggak. Tadi malam aku tidur agak larut, jadi bangunnya kesiangan… Aku baru nunggu sekitar tiga puluh menit.”
“Padahal sekarang masih tiga puluh menit sebelum jam janjian…”
Berarti dia datang satu jam lebih awal. Tepat waktu seperti biasa.
“Enam orang.”
“Hah?”
“Jumlah orang yang ngajak aku kenalan waktu aku nunggu.”
“Sebanyak itu!? Kamu pakai seragam, lho, dan lagi hujan.”
“Artinya, makin telat kamu datang, Shigure… makin banyak orang aneh yang harus kuhadapi, dan stresku juga makin numpuk. Mulai sekarang, jemput aku lebih cepat, ya?”
“Bukannya lebih bagus kalau kamu datang pas jamnya aja?”
Sambil berkata begitu, aku mensejajarkan payungku dengan payungnya dan berdiri di sampingnya. Saat aku menoleh pada Junna, matanya menatapku, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“…Kenapa?”
“Kejauhan.”
gumam Junna, lalu tanpa peringatan dia menutup payungnya dan,
“Boleh aku masuk?” Bahkan sebelum sempat kutolak, dia sudah menyelinap ke bawah payung bening yang kupegang.
“Neduh dari hujan.”
“…Kamu punya payung sendiri, kan?”
“Aku lebih suka di bawah payungmu daripada payungku sendiri,” kata Junna dengan tenang sambil menyingkirkan tetesan air dari payungnya yang tertutup. Tatapan penasaran orang-orang di sekitar langsung tertarik pada sepasang cowok-cewek yang sengaja berbagi satu payung, dan tanpa sadar aku jadi menciut.
“Yah ampun. Maunya sendiri…”
Aku cepat-cepat menyerah untuk melawan dan memiringkan payung supaya Junna tidak kehujanan dan dia langsung merapat padaku. Dia menatap tanganku lalu berkata,
“Stiker YOHILA-nya hilang… Kamu selingkuh? Cintamu padaku sudah dingin?”
“Nggak.” Aku menghela napas pada Junna yang menatapku ke atas dengan tatapan penuh protes.
“Payung vinyl lamaku rusak dan terbang kebawa angin waktu topan kemarin.”
“…Begitu. Kalau begitu, nanti aku kasih stiker lagi. Di rumahku masih ada beberapa.”
“Oh, serius? Aku mau banget—”
“Mau ambil? Ke rumahku.”
“…Nggak, nggak usah. Bawa ke sekolah aja.”
“Nggak. Kalau kamu mau, kamu harus datang ke rumahku.”
“Segitunya pengin aku main ke rumahmu? Dasar ‘cewek tukang ngajak’.”
Saat kami sedang ribut kecil seperti itu—
“Eh!? Masa sih, kalian sudah sampai… Cepat banget!”
muncullah Yamada.
Padahal belum sampai sepuluh menit sejak aku bertemu Junna, dan masih dua puluh menit sebelum jam janjian.
“Dan kalian pakai payung bareng!? Mesra banget di tempat umum!” teriak Yamada sambil menunjuk kami dengan payung warna biru pastel miliknya.
Itu malah membuat perhatian orang-orang sekitar semakin tertuju pada kami, dan aku buru-buru berusaha menenangkannya.
“Y-Yamada-san! Suaramu kekencangan…”
“Selamat pagi, kalian berdua.”
Suara lain yang cerah dan santai menyusul terdengar. Seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi dengan payung warna mint menghampiri kami sambil tersenyum, senyum yang nyaris terasa terlalu ramah.
“Nikahnya kapan? Musim June bride memang sudah lewat, tapi pidato best man-ku sudah siap, jadi kasih tahu kapan saja. Aku dengan senang hati akan merayakannya.”
(TL/N: "June Bride" adalah tradisi budaya Barat yang meyakini bahwa pasangan yang menikah pada bulan Juni akan mendapatkan kebahagiaan dan kemakmuran seumur hidup)
“Pagi. Semangat banget, ya, pagi-pagi begini, Youjirou. Lagi pula, orang belum bisa nikah kalau belum delapan belas, tahu.”
“…………Pagi.”
Junna, yang kukira bakal dengan senang hati ikut menanggapi lelucon Youjirou, justru bersembunyi di belakangku dan membalas salam dengan suara yang rasanya bahkan bisa tenggelam oleh gerimis ringan.
“Haha,” Youjirou tertawa sambil memainkan rambut cokelat mudanya yang di-perm ringan.
“Soal nikah tadi cuma bercanda, tentu saja. Tapi kalau tunangan sih bisa mulai dari sekarang… gimana? Mau langsung kita cari cincin—”
“Berisik. Berhenti godain, Kuzujirou.”
Yamada menyikut Youjirou. Sepertinya cukup keras, karena Youjirou langsung ambruk sambil mengeluarkan suara, “Guh!?”
“Maaf ya, Junna-chan. Kamu anggap saja orang ini cuma angin lalu. Anggap aja dia nggak ada, ya?”
“Dimengerti, Haruka-san. Tapi soal pertunangannya tadi saran yang bagus. Akan kupikirkan.”
“Haruka-san?”
Bagian belakangnya kuabaikan sebagai candaan, tapi yang di depan justru membuatku memperhatikan.
“Kamu sekarang manggil Yamada-san pakai nama depannya?”
“Iya, karena aku sudah tahu dia bukan musuh.”
“…Musuh?”
“Itu urusan cewek!” sela Yamada sambil melambaikan tangan. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibir lalu mengedipkan mata.
“Pokoknya begitu deh, urusan cewek.”
“Begitu ya. Aku nggak terlalu paham, tapi ya paham aja deh.”
“…Kalau aku masih musuh nggak, ya.”
Youjirou yang tadi tumbang berhasil bangkit lagi dengan sempoyongan.
“Oke. Kalau gitu aku tinggal naikin favorability-ku di double date ini!”
“Hah?”
“Double date…” Yamada langsung cemberut.
Aku menatapnya jengah lalu meluruskan, “Ini belajar bareng, ya?”
“Kita datang bukan buat main-main.” Aku menegaskan itu, lalu mulai berjalan.
Tujuan kami adalah sekolah. Karena sedang masa ujian, beberapa ruangan seperti perpustakaan dan ruang belajar dibuka pada akhir pekan supaya bisa dipakai murid.
“…Semangat banget, ya, Shigure.”
Di bawah payung yang sama, Junna bergumam.
“Padahal kemarin kamu ketiduran.”
“…………”
Makanya aku manggil Youjirou, pikirku, mengingat sesi belajar kemarin yang benar-benar gagal total karena aku tak bisa konsentrasi sama sekali, diapit dua cewek, Junna dan Yamada.
“Ugh, ini paling buruk… Kalau dia ikut, aku jadi nggak bisa ngobrol bebas sama Junna-chan.”
Mendengar gerutuan Yamada itu, di dalam hati aku menjawab, makanya aku manggil Youjirou—
☂
“Oke, pertanyaan!”
Sedikit lewat pukul sembilan pagi. Suara Youjirou menggema di perpustakaan yang baru saja buka dan AC-nya belum benar-benar dingin. Tepat saat kami semua sudah membuka catatan dan buku latihan masing-masing, siap mulai belajar.
“Gimana sih awalnya kalian berdua, Shigure sama Amamori-chan, bisa kenal?”
“…Pertanyaan yang sama persis sudah ditanyain Yamada-san kemarin.”
Aku menoleh ke Yamada yang duduk diagonal di hadapanku. Yamada yang duduk di sebelah Youjirou sedang menatap tajam soal reading comprehension bahasa Inggris, seolah-olah tidak mendengar apa-apa.
Junna, yang duduk di sampingku, juga tengah serius menghafal bahasa klasik Jepang sambil pura-pura tidak tahu.
Satu-satunya yang tidak fokus hanyalah Youjirou.
“Nanti aja. Sekarang kita lagi belajar—”
“Ah, ayolah. Santai sedikit juga nggak apa-apa, kan, Shigure? Nilai kita nggak separah Haruka. Masih banyak waktu buat ngobrol. Beda sama Haruka dengan otak ranking tiga ratus sekian yang menyedihkan itu—Ow!?”
Ternyata ada yang menginjak kakinya dari bawah meja. Youjirou menjerit kesakitan.
“Berisik banget. Ini perpustakaan, tahu. Diam, goblok,” sembur Yamada.
“…Yang goblok kamu kali? Yamada ‘Lulus Nyaris Aja dengan Ranking 305 Waktu UTS’ Haruka-chan.”
“Jangan kasih nama tengah aneh gitu! M-Memang sih betul, tapi…”
“Oh my, oh my. Bukannya aku tadi dibilang angin lalu? Nggak tahan jadi tetap bereaksi juga? Wah, nggak bagus tuh, fokusnya segitu. Yang perlu kamu naikkan itu nilai, bukan level emosimu—Ow!?”
Yamada kembali menginjak kakinya, dan Youjirou menjerit lagi.
B-Berisik banget… Aku sudah mulai menyesal memanggil Youjirou.
Mungkin karena masih pagi dan lagi hujan, hampir tidak ada murid lain di perpustakaan selain kami. Tapi sebentar lagi pasti makin banyak yang datang. Kalau sampai begitu, kami jelas bakal mengganggu.
“Hei, kalian berdua. Berantemnya dikurangin—”
“Rankingku 319 sih…”
gumam Junna. Dengan suara yang sangat dingin. Youjirou dan Yamada, yang tadi saling melotot penuh percikan api, serempak menoleh ke Junna.
“T-Tiga ratus sembilan belas… Itu kan nomor dua dari bawah!”
“Ini pertama kalinya aku ketemu orang yang rankingnya lebih rendah dariku… ngeri banget.”
“~~~~~~~~~~!”
Junna tetap menunduk, bibirnya terkatup rapat. Tangan yang menggenggam buku pelajarannya bergetar. Youjirou dan Yamada langsung berhenti ribut dan beralih ke mode damage control.
“A-Anak yang agak bloon itu… ya, lucu, kan? Iya. Kalau sudah sampai tahap segitu, itu malah jadi bakat, tahu? Kata orang, batas antara orang bodoh dan jenius itu tipis… iya nggak, Haruka!?”
“I-Iya! Betul! Junna-chan itu jenius dengan caranya sendiri! Lagi pula kamu juga nyaris nggak jadi yang terakhir, kok. Masih ada yang di bawahmu, jadi aman! Lihat ke bawah, jangan ke atas, tahu? Coba lihat ke bawah terus tenang, ya?”
“Jadi maksudmu, Haruka, tadi kamu kira kamu yang paling bawah di grup ini… tapi begitu tahu Amamori-chan lebih rendah, kamu jadi lega? Jahat banget.”
“Hah? Jangan friendly fire dong. Mati aja sana.”
“…………Shigure.”
Junna menatapku. Ekspresinya tetap datar, tapi matanya sudah mati.
Aku menaruh tanganku di kepalanya, mengelusnya, lalu menghiburnya.
“Ya, ya. Junna kan sibuk dengan hal lain, ya? Nggak bisa diapa-apain.”
“Hal lain?” Youjirou, satu-satunya di ruangan ini yang belum tahu keadaan Junna, mengernyit.
“Kayak mesra-mesraan sama Shigure… gitu?”
““Betul.””
“Bukan itu.”
“Dua lawan satu. Sudah diputuskan, berarti dia sibuk mesra-mesraan.”
Karena Junna dan Yamada sama-sama membenarkannya, penyangkalanku pun otomatis tak berlaku. Aku melepaskan tangan dari kepala Junna dan menghela napas.
“Aku sih nggak terlalu peduli, tapi kalau memang begitu, seharusnya nilaiku juga nggak sebagus ini, kan? Lagi pula, UTS itu sebelum aku sama Junna kenal, jadi alasan ‘aku dan Junna mesra-mesraan’ jelas nggak bisa dipakai buat menjelaskan kenapa nilai ujiannya jelek. Jadi tolong kita serius belajar—”
“Shigure.”
Junna memotongku. Dia menempelkan jari telunjuk ke bibir memberi isyarat “ssst”, lalu berkata, “Kamu berisik. Tolong diam di perpustakaan.”
Dengan muka datar, dia menegurku tanpa rasa malu. Youjirou dan Yamada juga ikut mengangguk seperti berkata, “Nah, itu, itu.”
Nih orang-orang…
“Shigure ngambek.”
gumam Junna sampai ke telingaku, tapi aku diam saja, mengeluarkan earphone, memakainya, lalu melanjutkan belajar dengan wajah cemberut.
☂
“Kuzujirou-san dengerin musik kayak apa?”
Saat aku benar-benar mulai belajar serius, Junna dan yang lain masih lanjut ngobrol.
Aku jadi penasaran siapa tadi yang bilang “diam di perpustakaan”, tapi karena masih pagi dan perpustakaannya sepi, ditambah kami memilih meja di sudut, tak ada seorang pun yang datang menegur.
Wajah Youjirou langsung berbinar saat Junna menanyainya.
“Aku!? Yah, kalau aku sih dengerinnya—”
“Yang disukai cewek yang lagi kamu incar, kan? Biar gampang deketinnya.”
“Kurang lebih benar, tapi,”
jawab Youjirou sambil ringan menghindari tusukan Yamada.
“kalau soal selera pribadiku, mungkin Nulbarich atau Suchmos… belakangan ini aku lagi suka banget FIVE NEW OLD.”
Mungkin itu jawaban yang tak terduga, karena Junna sempat terdiam. “Hmm…”
Selera Youjirou ternyata condong ke rock yang kuat dipengaruhi jazz, soul, dan black music. Stylish dan urban.
“…Selera musikmu ternyata bagus juga. Sesuai dugaan dari teman Shigure.”
“Makasih. Walau aku bukan cuma temannya, tapi sahabat terbaiknya… iya, kan?”
Youjirou melirik ke arahku, tapi aku pura-pura tidak sadar dan terus menggerakkan penaku.
Tak ada musik yang diputar.
“Kalau kamu gimana, Amamori-chan? Kamu biasa dengar musik apa?”
“…Semacam Bungei Tengoku, Regal Lily, atau Soutaisei Riron.”
“Oh, bagus! Kurang lebih memang cocok sama bayanganku.”
“Mm—”
Aura kaku Junna sedikit melunak terhadap nama-nama band yang dia lemparkan seperti pukulan pembuka. Penaku pun berhenti.
“Semuanya band yang punya dunia unik masing-masing. Sangat Amamori-chan banget.”
“Kamu… tahu mereka?”
“Iya. Aku juga pengin di-‘LOVE Zukkyun’-in sama Amamori-chan, tahu?”
“…………”
Junna menunduk, lalu membuka mulut.
“Mati aja, brengsek.”
“Hah!? Aku bukan brengsek… aku nggak bersalah, itu fitnah!”
“Nggak, kamu bersalah! Berusaha naksir Junna-chan itu ilegal. Hukumannya mati. Masuk neraka aja, jangan surga.”
“Band-band itu yang dulu merekomendasikan ke dia justru aku,” kataku sambil menghela napas, menaruh penaku, lalu melepas earphone.
“Tepat setelah sekolah mulai… ‘orang yang selera musiknya mirip biasanya juga nyambung dalam hal lain’—iya kan, Junna?”
“Mm. Betul. Shigure satu-satunya… zukkyun.”
“Amamori-chan lupa ‘LOVE’-nya? Mana ‘lo’-nya—!?”
Yamada langsung menjitak kepala Youjirou yang sedang menggoda. Junna pun memalingkan wajah sambil mendengus.
“Kuzujirou, gagal.”
“N-Nggak mungkin! Kok aku doang…”
“Kuzujirou hancur tanpa perlawanan, puas banget! Junna-chan yang malu-malu imut banget! Terus Kurimoto-kun yang pura-pura belajar sambil denger musik padahal aslinya nguping obrolan dan cemburu sama Kuzujirou itu juga imut banget. Dyuhuh.”
“Otaku dalammu keluar, Yamada-san.”
“…Jadi high school debut-mu sudah ketahuan ya, Haruka?”
“B-Bukan ketahuan! Aku sendiri yang membocorkannya!”
“Aku lihat kamu baca light novel di perpustakaan…”
“Oh? Yang ecchi?”
“Tentu bukan. Kujotos pakai tinjuku, ya, Kuzujirou.”
“‘Goo no Ne’ dari RAD itu masterpiece.”
“Iya kan? Keren banget.”
Saat obrolan kami makin ramai, akhirnya kami benar-benar dapat teguran. Aku sadar hujannya sudah berhenti, dan cahaya musim panas yang panas dan menyilaukan mengalir deras dari jendela.
Sambil melihat debu-debu yang berenang seperti plankton di lautan cahaya dari sudut mataku, untuk sesaat kami pun diam dan menjalankan tugas kami sebagai murid.
☂
Kami memutuskan makan siang di restoran hamburger di depan stasiun. Memang hari Sabtu, tapi karena hujannya baru saja berhenti dan kami masuk tepat saat menu berganti dari breakfast ke lunch, tempatnya belum terlalu ramai.
Kami berhasil mendapat meja berempat di dekat jendela, di sudut ruangan, lalu duduk dengan susunan yang sama seperti saat belajar tadi sambil mengisi ulang kalori yang terkuras dengan junk food yang pada dasarnya cuma gumpalan karbohidrat dan lemak.
“…Shigure, kamu tahu nggak? Katanya fish burger itu laris kalau hari hujan,” kata Junna sambil mengangkat hamburger bungkus birunya.
Aku membasahi tenggorokan dengan cola lalu mengangkat hamburger bungkus merahku.
“Nggak. Maksudnya apa… hujan sama dengan air, air sama dengan ikan?”
“Kayaknya bukan deh.”
“Menurut teoriku! Kalau hujan, tubuh jadi dingin, jadi pengin sesuatu yang hangat, lembut, dan digoreng! Sama terus, tahu kan, orang-orang yang biasanya nggak pakai toko itu jadi masuk buat neduh, lalu mereka pesan menu yang biasanya nggak mereka pesan, jadi…”
“Itu pasti hasil baca dari smartphone-mu, kan? Hebat ya, praktis banget! Bahkan orang bloon seperti Haruka pun bisa dengan mudah pura-pura pintar—ups, nyaris.”
Youjirou berhasil menghindari injakan kaki Yamada yang turun. Yamada mendecak, “Grrr,” lalu melepas smartphone yang tadi dipakainya buat nyontek. Setelah itu, dengan lincah dia malah mencuri salah satu kentang goreng Youjirou.
“Hei!? Maling! Harusnya kamu makan saladmu. Dietmu jadi nggak ada artinya, tahu?”
“Diam. Kentangmu itu kentangku, dan saladku tetap saladku, Kuzujirou. Lagi pula, aku nggak diet.”
“Aku sudah tahu sih… Ya sudahlah. Demi menambah lemak di bagian dada yang memang membutuhkannya, makanlah sesukamu. Beruntung banget, ya, punya teman masa kecil sebaik aku!”
“Yay, makasih. Kalau gitu aku nggak akan sungkan… maksudku, aku nggak bakal nahan diri!”
Yamada merebut seluruh kotak kentang goreng Youjirou lalu mulai menumpahkannya langsung ke mulutnya yang menganga.
“Kamu makan kebanyakan!” teriak Youjirou.
Dua orang ini memang berantem terus.
“Shigure.”
“Hm?”
“Kasih aku satu gigitan itu.”
“…Ini?”
Yang sedang kumakan saat ini adalah hamburger. Burger ayam pedas edisi terbatas.
“Iya.” Junna mengangguk menjawab pertanyaanku.
“Aku sudah makan sebagian, lho.”
“Iya.”
“Lumayan pedas, tahu.”
“Iya.”
“…Kamu kan nggak kuat pedas?”
“Iya.”
“Kalau gitu—”
“Kasih aku satu gigitan.”
“…………Ya sudah, ya sudah. Nih.”
Aku menyodorkan chicken burger yang sudah kugigit dua kali itu ke Junna, yang terus mengangguk sambil menatap mataku.
Namun Junna justru menggeleng.
“Kedua tanganku penuh, suapin aku.”
Dia memegang fish burger-nya dengan kedua tangan lalu membuka mulutnya, “aa.”
“…Kenapa nggak ditaruh dulu?”
Dia menggeleng ke kanan dan kiri. Kalau Junna sudah begini, dia keras kepala. Mau kubilang apa pun, dia nggak bakal dengar, jadi aku menyerah dan dengan patuh membawa burger itu ke bibirnya.
Junna menggigitnya dengan mulut kecilnya, “aam,” lalu memejamkan mata menikmati rasanya. Seperti dugaanku, burger itu memang pedas, karena wajahnya langsung memerah. Setelah ditelan, aku bertanya,
“Gimana?”
“Rasanya seperti kamu, Shigure.”
“Hah!? Nggak begitu juga!”
Ucapan Junna membuatku sadar ini secara nggak langsung adalah ciuman tidak langsung. Saat aku memalingkan wajah dengan gugup, Junna justru menyodorkan fish burger miliknya kepadaku.
“…Ini juga buatmu, Shigure. Aku kasih satu gigitan.”
“N-Nggak usah. Aku—”
“Aku kasih.”
Junna sama sekali tidak mau mundur.
Aku menyerah, menaruh chicken burger-ku, dan hendak mengambil fish burger itu dari tangannya, tapi tangannya tidak juga melepaskannya.
“Aku yang nyuapin.”
“Nggak, aku makan sendiri!”
Tapi kali ini aku juga tak mau mengalah. Rasa maluku sudah sampai batas, aku benar-benar nggak kuat kalau begini terus.
“………………”
“………………”
Kami saling melotot selama sekitar sepuluh detik. Akhirnya Junna yang menyerah dan melepaskan tangannya dariku.
“…Hmph. Keras kepala banget sih, Shigure.”
“Kamu juga ngomong gitu.”
Aku menghela napas lega lalu membetulkan peganganku pada fish burger itu. Roti kukusnya lembut dan hangat samar-samar. Hamburger bulat itu sudah ada bekas gigitan berbentuk mulut Junna.
“Kalau begitu, satu gigitan. Aku makan ya…”
Aku memutar burger itu, menghindari bagian bekas gigitannya.
Kerutan muncul di antara alis Junna, dan dia memasang wajah cemberut tak puas.
“…?”
Aku memutar burger itu balik lagi. Lalu ekspresi Junna kembali datar. Seolah dia menyuruhku menggigit seperti adanya saja. Dengan pasrah, aku pun menggigitnya.
Aku memejamkan mata dan mengunyah. Bukan untuk menikmati rasanya, tapi untuk lari dari tatapan intens yang sedari tadi menusukku.
“…Gimana?”
Sejujurnya, aku nggak terlalu tahu. Wajahku terlalu panas sampai rasanya nyaris tak terasa. Junna, yang wajahnya sama merahnya, mendekat lalu menuntut jawaban.
“Rasanya seperti aku—”
“Tentu aja nggak!?”
“…Hei, Haruka.”
Salah satu teman masa kecil itu, yang entah sejak kapan sudah berhenti bertengkar dan sekarang menonton pertukaran kami sambil tersenyum, bertanya pada satunya lagi yang sedang makan hamburger rasa sama dengannya.
“Teriyaki memang dari dulu semanis ini, ya?”
☂
Setelah selesai makan siang, kami kembali ke sekolah dan mendapati jumlah murid di perpustakaan meningkat drastis. Mungkin banyak yang tadi pulang dulu buat makan siang lalu kembali lagi sore-sore untuk belajar.
Kami mencoba mencari kursi kosong, tapi susah menemukan tempat di mana kami berempat bisa duduk bersama, jadi dengan terpaksa kami memutuskan untuk berpencar jadi dua pasangan. Dan pasangannya tentu saja—
“…Ugh. Mending aku sendirian daripada sama cowok ini.”
“Sadis banget. Tapi ya, aku nggak masalah juga. Kalau Haruka memang bisa belajar dan produktif sendirian sih. Kalaupun ada yang nggak dimengerti, nggak bakal ada yang ngajarin… dan kalau kamu cukup percaya diri bisa lolos ujian akhir yang cakupannya lebih luas dan mata pelajarannya lebih banyak daripada UTS, ya silakan saja!”
“Guh…!? Ugh… ya sudah, terserah! Aku belajar sama kamu.”
“‘Belajar sama kamu’? Bukannya harusnya ‘tolong ajarin aku belajar’? Kan kamu yang diajar. Tahu posisi, lalu ulang lagi.”
“Hah? Jangan sok. Kutarik kupingmu sampai copot, bangsat.”
“Owowowow!? Jangan narik sekasar itu, goblok!”
“Jangan manggil aku goblok!”
“…Tau nggak, di titik ini mereka sudah muter balik dan malah jadi akrab beneran, kan?”
“Iya, mending jadian sekalian aja.”
Setelah melihat Yamada menyeret Youjirou pergi, aku dan Junna pun duduk.
Itu adalah meja belajar model carrel, setiap tempat duduk dipisahkan sekat berbentuk huruf U. Sebenarnya itu meja untuk satu orang, tapi cukup lebar jadi tidak terlalu terasa sempit.
Namun—
“Kita akhirnya berdua lagi, Shigure…”
Setelah menaruh ranselnya di atas meja untuk mengamankan ruang, Junna menggeser kursinya lalu menyerbu wilayahku. Dua kursi kini berdempetan, mengabaikan jarak yang seharusnya ada.
“…Padahal ini buat satu orang, lho?”
“Aku dan kamu adalah dua bagian dari satu kesatuan, Shigure. Satu tubuh, satu jiwa. Cinta timbal balik. Jadi nggak ada masalah.”
“Kurasa justru isinya cuma masalah…”
“Masalah? Contohnya?”
“…Sempit, misalnya.”
“Ini sudah cukup lebar, jadi nggak masalah.”
“Terlalu dekat…”
“Nggak beda jauh dari biasanya, kan?”
“Orang-orang sekitar—”
“Ada sekat, jadi nggak masalah.”
Dengan wajah datar, dia membantah semua alasanku dengan tenang dan logis.
“…………”
Saat aku terdiam, Junna mengeluarkan buku-buku belajarnya dari ransel di sebelah lalu mulai menatanya di mejaku. Dia meluruskan punggung lalu melanjutkan,
“Lagipula, kalau kita belajar bareng, sekat ini malah menghalangi. Jadi susah minta bantuan, kan?”
“Y-Ya… itu… memang benar.”
“Nah, kan.”
Nah, keluar juga jurus “nah, kan” andalannya yang memaksa itu!
Karena pandangan orang lain terhalang sekat, Junna langsung menempel padaku sampai bahu kami bersentuhan, lalu berbisik dengan suara semanis sirup.
“Ayo belajar… ya, Shigure?”
Apa sengaja suaranya dibuat menggantung pada kata “belajar” itu? Kalau harus bertaruh nyawa pun, aku yakin itu sengaja. Dasar cewek pendoping mental!
“…Baiklah.”
Aku menyerah dan menghela napas.
Belakangan ini rasanya aku memang semakin lunak pada Junna, terlalu gampang mengiyakan semua permintaannya.
Tapi kalau itu bisa bikin dia termotivasi belajar, ya sudah.
Harga diriku kutelan saja.
“……………………Zzzzz…………”
Sekitar belasan menit kemudian.
Saat aku sedang serius mengerjakan soal matematika, tiba-tiba ada beban jatuh di bahuku dan aroma manis memenuhi udara. Beberapa helai rambut halus menggelitik pipiku.
Junna memejamkan mata dan bersandar di bahuku, menumpukan kepala di sana.
“Hei, jangan tidur di sini!”
Belajar, belajar. Padahal tadi kukira dia termotivasi. Aku bersumpah dalam hati tak akan terus memanjakannya lagi, lalu memanggil Junna yang sedang tidur.
“Hei, Junna.”
“…Zzzzz… zzzzz…”
Ternyata suara saja tidak cukup untuk membangunkannya, jadi aku mengguncang bahunya.
“Bangun.”
“U-Ugh…”
“Belajar.”
“…ngorok.”
Ini pertama kalinya seumur hidup aku melihat orang benar-benar bilang “ngorok” saat tidur.
Kulihat kelopak matanya yang tertutup sedikit bergetar, lalu aku menatap tajam wajah tidurnya.
“Kamu pura-pura tidur, ya, Junna?”
“…Mumble mumble.”
Ini juga pertama kalinya aku dengar orang beneran ngomong “mumble mumble” di dunia nyata.
“Aku nggak bisa makan lagi…”
“Kalimat tidur yang klise banget.”
“‘Mercy Lou’.”
“Itu lagu dari band Negoto.”
“Satu domba sastra, dua domba sastra…”
“Hitsujibungaku? Kamu bukan tidur, tapi lagi berusaha tidur. Bangun!”
“…………Hmph.”
Junna akhirnya berhenti pura-pura tidur lalu menjauh dariku. Dia mengucek matanya dengan gerakan yang dibuat-buat, lalu mengeluh.
“Aku pengin nempel sama kamu sedikit lebih lama.”
“Makanya belajar. Kalau kamu nggak serius, yang nanti susah itu kamu sendiri.”
“…Aku tahu,” katanya sambil mengerucutkan bibir mendengar nada seriusku.
“Tapi memang habis makan aku jadi ngantuk… Aku sudah terbiasa sama makanan sehat buatan Sensei… Sudah lama nggak makan junk food… gula darahku… naik.”
Kepala Junna bergoyang naik turun saat dia bicara, seperti orang yang hampir tertidur.
“Aku juga masih ada… kerjaan…”
“Kalau itu ya memang nggak bisa dibantu, sih.”
“Kalau aku sampai nggak lulus… Sensei pasti akan… ngurus sesuatu di balik layar…”
“Itu nggak boleh!? Itu namanya curang!”
Kalau mengingat Akagi yang berhasil membuat kepala sekolah ada di bawah kendalinya, rasanya dia memang bisa saja melakukan sesuatu. Dengan tekad aku tak akan terus memanjakannya, aku mengguncang bahu Junna lebih kuat.
“Bangun-y. Belajar!”
“…Aku nggak bisa… kecuali ada ‘alasan’ buat berusaha… Ah!”
Junna yang hampir tertidur meski tubuhnya kugoyang-goyangkan mendadak membuka mata sayunya.
“Shigure.”
“Hm?”
“Hadiah.”
“…Hadiah?”
“Iya.”
Mata Junna berbinar saat mengatakannya, membuatku mengernyit.
“Kalau aku dapat nilai bagus, kasih aku hadiah!”
“…Hmm.”
Usulan itu tidak buruk. Masalahnya, “Kamu maunya hadiah seperti apa?”
“Mmm…”
Junna menutup mata dan berpikir.
Setelah hening yang sangat lama sampai aku mulai curiga dia sebenarnya tertidur lagi, Junna mengangkat jari tengahnya, lalu—
“Kalau aku lulus semua mata pelajaran, aku mau elus kepala tanpa batas.”
“Permintaanmu sederhana, ya. Oke, itu boleh… tapi kenapa jari tengah?” jawabku sambil terus mengerjakan soal di buku latihan.
Masih dengan jari tengah terangkat, Junna mengangkat jari telunjuknya dan melanjutkan.
“Kalau nilaiku lebih tinggi dari Haruka-san, aku mau lap pillow tanpa batas. Mau?”
“Aku yang ngasih lap pillow ke kamu? Itu juga masih sederhana sih… oh, jadi syaratnya lebih dari satu.”
“Kalau lebih tinggi dari Kuzujirou, aku mau dipijitin.”
“…Aku yang mijitin?”
“Mau aku yang sentuh kamu, atau kamu yang sentuh aku, dua-duanya boleh.”
“…Oh, begitu. Oke, tapi dia itu diam-diam cukup pintar. Waktu kemarin rankingnya masuk tiga puluh besar.”
“Dan, kalau aku lebih tinggi dari kamu, Shigure—”
Dengan tiga jari terangkat, Junna menatapku lurus. Jari keempat.
“Kamu akan menuruti satu permintaanku apa pun itu?”
“Oke.”
Aku langsung menjawabnya. Junna berkedip, tampak benar-benar kaget.
“…………Serius?”
“Iya. Kalau kamu bisa ngalahin aku dalam ranking keseluruhan, aku bakal menuruti apa pun yang kamu minta.”
Aku mengangguk dengan wajah tenang sambil menggoreskan pena merah di atas kertas. Lingkaran, lingkaran, lingkaran…
“Oke, janji ya. Sudah kurekam, jadi kamu nggak bisa tarik kata-katamu.”
“Jangan santai-santai merekam percakapan kita!”
Aku membalas Junna yang menunjukkan layar rekaman di smartphonenya, tapi sambil tersenyum. Dari sekitar sembilan puluh persen soal matematika yang tadi susah, aku berhasil benar. Aku bisa mengharapkan nilai yang lumayan tinggi.
Termasuk hari ini, ujian akhir tinggal empat hari lagi. Sementara ranking Junna waktu itu 319, aku ranking 16.
Jangankan satu banding sejuta, sama sekali tak ada kemungkinan aku bakal kalah dari Junna—
☂
“Nggak mungkin.”
Dua minggu kemudian. Aku menatap hasil ujian akhir yang baru dikembalikan, lalu bergumam tak percaya.
Selembar kertas yang dibagikan satu per satu, berisi nilai tiap pelajaran dan ranking masing-masing murid. Di sana,
Ranking: 1
huruf-huruf itu bersinar mencolok.
Total nilainya untuk dua belas mata pelajaran adalah 1150, rata-rata di atas 95. Ranking per mata pelajaran dipenuhi angka satu dan dua. Tanganku yang memegang kertas itu gemetar.
“…Ini nggak masuk akal.”
Aku mengucek mata berkali-kali, bertanya-tanya apakah aku salah lihat, tapi hasil cetaknya tak berubah. Kucubit pipiku. Sakit… ini bukan mimpi.
“Keren, Shigure.”
Junna memujiku. Aku mengangkat wajah.
“Tapi aku lebih keren lagi.”
Yang langsung masuk ke penglihatanku saat itu bukan wajah datarnya yang biasa melainkan ekspresi smug penuh kemenangan, bersinar karena bahagia.
“Kamu ranking sembilan, dan aku ranking satu, Shigure! Aku menang!”
Di tangan Junna yang tertawa, ada kertas hasil ujianku.
Aku sudah berjuang mati-matian. Dan hasilnya pun luar biasa, berhasil masuk sepuluh besar angkatan. Meski begitu, “…Nggak nyangka. Siapa sangka Amamori bisa dapat ranking satu.”
Akagi mengintip kertas di tanganku lalu mendengus.
“Aku memang selalu merasa dia tipe yang kalau mau serius pasti bisa, cuma selama ini nggak ada motivasi… tapi sampai sejauh ini! Hebat, Amamori. Penilaianku juga jadi ikut naik.”
“Aku bukan melakukannya buat Anda, Sensei,” kata Junna singkat pada Akagi yang tampak senang, lalu menatapku lurus.
“Shigure. Kamu ingat janji kita, kan?”
“…………Iya.”
Aku mengembalikan kertas hasil yang sempat tertukar itu, lalu berlutut di tempat.
“Kalau kamu mengalahkanku di ujian, aku bakal menuruti satu permintaanmu, apa pun itu… iya, kan? Sial, aku kalah telak!”
Di bawah mata Junna yang menatapku dari atas, ada lingkar hitam yang bahkan tak bisa ditutupi makeup. Kedalamannya tidak hanya bicara soal bakat, tapi juga kerja keras Junna.
Karena itu, aku pun mengakui kekalahanku dengan lapang dada. Aku memuji usahanya dan kemenangannya.
“Kamu sudah berusaha keras. Benar-benar hebat, Junna… luar biasa. Aku akan menepati janjiku. Lakukan sesukamu padaku, wahai gadis ranking satu.”