Amamori Junna is Humid Volume 1 Chapter 2 — Gadis Penyendiri yang Misterius

Tetesan hujan menghantam jendela, dan udara lembap yang berat terasa seperti menempel di kulit. Hujan terus turun selama beberapa hari tanpa henti, dan lagi-lagi deras. Cuaca seperti ini bahkan bisa bikin orang sepertiku, yang tidak membenci hujan, ikut mengeluh. Namun, berlawanan dengan langit kelabu yang gelap itu, hatiku justru cerah.

Karena hujan, tidak ada latihan pagi klub atletik, jadi aku datang ke sekolah lebih awal dan membuka novel saku di mejaku.

Judulnya Koi-suru Leucochloridium.

Jenisnya roman. Novel misteri yang kuselesaikan beberapa waktu lalu memang bagus, jadi aku mengambil karya lain dengan nilai tinggi dari penulis yang sama, dan kebetulan novel itu adalah kisah cinta.

Pertemuanku dengan Junna sama sekali tidak ada hubungannya dengan pilihan itu, dan jelas bukan karena aku senang sejak pagi hanya karena berkat hujan aku bisa bertemu dengannya.

Aku menetralisir manis yang terasa berlebihan dari cerita itu dengan pahitnya kopi, sementara sudut bibirku tanpa sadar melunak menjadi senyum.

“Pagi-pagi begini kamu lagi senang banget, ya, Shigure. Jarang-jarang.”

Yang menegurku begitu adalah seseorang dengan rambut cokelat yang jelas hasil salon, dipermak bergelombang dan diwarnai terang, bukan bergelombang alami sepertiku. Wajahnya agak androgini, tubuhnya tinggi kurus nyaris 180 sentimeter. Teman sekelasku, Kuzumi Youjirou. Ia menaruh tasnya yang basah di meja, lalu menyibak rambutnya dengan gaya yang mencolok.

“Hari-hari hujan begini, ditambah deras terus lagi... apa kamu sebegitu senangnya karena latihan pagi dibatalkan?”

Cara bicaranya sok keren dan agak mencurigakan, ditambah sikapnya yang seenaknya dan terus terang, itulah ciri khas orang ini. Dulu tempat duduk kami sempat berdekatan, lalu setelah pergantian tempat duduk usai libur panjang, kami kembali dekat, jadi dia adalah orang yang paling sering kuajak bicara di kelas.

“Ya, itu memang salah satunya.”

Aku menutup bukuku, berpindah dari mode membaca ke mode mengobrol. Ternyata hampir tiga puluh menit sudah berlalu sejak aku sampai di sekolah, dan kelas kini sudah ramai oleh murid-murid yang selesai latihan pagi.

Sebagai catatan, Youjirou masuk klub basket, dan karena mereka latihan di gimnasium, latihan pagi mereka tidak dibatalkan hanya karena hujan.

“Salah satunya?” alis Youjirou berkedut.

Ia menggeser kursinya mendekat.

“Berarti ada alasan lain dong. Hal sederhana misalnya bukunya bagus?”

“Itu juga salah satunya.”

“Lagi-lagi ‘salah satunya’!? Banyak banget alasanmu buat senang!”

Reaksi Youjirou memang selalu besar. Ia menaruh tangan di dagu, berpikir.

“Apa ya? Kamu lihat celana dalam cewek cantik yang ketahuan dari baju basahnya karena hujan?”

“Nggak.”

“Kamu dempet-dempetan sama cewek cantik di kereta penuh?”

“Nggak.”

“Kamu sama cewek cantik lalu”

“Pilihan tebakanmu sedikit banget, ya?”

“Kamu ketemu satu?”

“…………”

Aku mengalihkan pandangan tanpa bicara. Mata Youjirou langsung membelalak.

“Hah?” katanya sambil mencondongkan badan. Ia menepakkan kedua tangannya ke mejaku sampai bokongnya terangkat dari kursi.

“Nggak mungkin, tebakan gue bener!? Kamu ketemu cewek cantik, Shigureee!”

“Keras banget suaramu.”

Aku menegur Youjirou yang berteriak itu. Sekelompok siswi dari klub olahraga yang sedang mengobrol di dekat meja guru menoleh ke arah kami. Youjirou lalu bertanya dengan berbisik,

“...Seperti apa orangnya?”

“Kalau dibilang seperti apa...” Aku membayangkan Junna lalu menjawab, “Rambutnya bob pendek hitam dengan warna bagian dalam biru keunguan.”

“Oh. Unik juga. Terus? Tingginya berapa, atau ukuran dadanya misalnya.”

“...Aku mana tahu ukuran dadanya. Tingginya sekitar awal 150-an. Selain rambutnya, ciri yang menonjol itu dia pakai headphone nirkabel hitam dan bawa tas gitar.”

“Oh! Berarti anak musik?”

“Dia murid di sekolah ini, seangkatan sama kita.”

Aku berhenti sejenak, lalu bertanya, “Nggak kenal?”

Youjirou punya lingkar pertemanan jauh lebih luas daripadaku, sangat mengikuti tren, dan tahu banyak soal yang terjadi di sekolah. Dia juga lemah terhadap cewek cantik, jadi kukira dia pasti tahu soal Junna, tapi...

“Belum pernah dengar.”

Youjirou mengernyitkan alis. Ia mengetuk pelipisnya dengan jari.

“Warna bagian dalam rambut biru keunguan dan bawa tas gitar. Dengan ciri sejelas itu harusnya mencolok... apa cuma nggak kelihatan karena warnanya di bagian dalam? Dan anak yang main gitar di band juga banyak. Ada juga kemungkinan dia sebenarnya nggak secantik itu, cuma seleramu aja yang aneh, Shigure”

“Bukan.”

Aku langsung menyangkal ucapan Youjirou. Junna itu tipe gadis yang seratus dari seratus orang pasti setuju kalau dia cantik, meski memang aku sendiri tidak bisa menyangkal kalau seleraku sering agak melenceng dari arus utama.

“...Oh, iya. Kalau kamu seyakin itu, berarti memang begitu. Malah jadi makin aneh. Nggak mungkin mataku melewatkan gadis secantik itu, apalagi kalau dia sekolah di sini...”

“Namanya Amamori Junna.”

“Amamori Junna? Nggak pernah dengar.” Youjirou melipat tangan. Lalu, “Hei, Haruka!” panggilnya. Di depan kelas, salah satu gadis yang tadi sedang mengobrol menoleh dengan tatapan curiga.

“...Apa?”

“Sini bentar. Ke sini!”

“Hah? Ribet banget...”

Gadis yang dipanggil itu mengumpat pada Youjirou yang melambai-lambai. Yamada Haruka. Anggota klub tenis dan teman masa kecil Youjirou. Ekor kuda tingginya bergoyang saat ia mendekat dengan langkah lebar, mata tajamnya menyipit.

“Apa?”

Tekanan dari suaranya setajam tatapannya. Tapi Youjirou tidak gentar.

“Kamu tahu anak bernama Amamori Junna nggak? Anak kelas satu di sini,” tanyanya. Ekspresi Yamada malah makin tajam.

“Nggak tahu, tapi... jangan-jangan kamu mau deketin dia, Kuzujirou?”

“Bukan gue. Shigure.”

“Hah?” Mata Yamada yang menyipit berbahaya itu melebar, lalu ia menatapku.

“...Kurimoto-kun?”

“Jarang banget, kan?”

“Iya, jarang banget. Dan ternyata aku nggak nyangka kamu tertarik sama cewek, Kurimoto-kun...?”

“Ya, bagaimanapun aku tetap anak laki-laki seusia remaja.”

Aku sampai agak jengkel melihat Yamada begitu terkejut.

Karena dia teman masa kecil Youjirou dan sekelas juga, aku memang sempat beberapa kali mengobrol dengannya, tapi aku benar-benar tidak tahu kalau dia punya kesan seperti itu terhadapku.

“...Aku memang nggak sebobrok Kuzujirou, tapi ya, tetap tertarik sampai tingkat tertentu kali?”

Kuzujirou adalah julukan untuk Youjirou. Menurut Yamada, sejak dulu Youjirou memang mata keranjang dan genit, dan julukan itu melekat sejak SMP ketika dia mencoba mendekati empat gadis sekaligus. “Kuzu” diambil dari “Kuzumi.”

“Ahaha, begitu ya. Yah, selama kamu bukan sampah, syukurlah.”

Ia terkikik sambil menutup mulut.

Yamada memang cuma galak pada orang sampah seperti Youjirou. Secara umum dia gadis yang ceria, terang, dan gampang diajak bicara. Dengan mata jernih yang bersinar penuh rasa ingin tahu, ia berjongkok di depan mejaku agar sejajar dengan pandanganku.

“Jadi? Gadis seperti apa yang mau didekati Kurimoto-kun kita yang sedang puber ini?”

Kalau Junna itu seperti langit mendung penuh hujan, Yamada seperti langit biru cerah tanpa awan.

Aku menceritakan ciri-ciri Junna pada Yamada yang relasinya luas dan sama populernya, atau bahkan lebih, dibanding Youjirou, lalu bertanya apakah ia tahu sesuatu. Namun sekali lagi, hasilnya nihil.

Gadis yang hanya bisa kutemui sepulang sekolah, di ruang audiovisual, pada hari hujan.

Sebenarnya dia ini siapa?

Sepulang sekolah, hujan masih turun deras seperti pagi tadi.

Aku mendatangi ruang audiovisual dan mendapati Junna sedang memainkan gitarnya dengan mata setengah mengantuk. Ia tidak mengenakan headphone, dan karena dia yang lebih dulu menyadari kedatanganku, ia menghentikan penyetelan gitarnya lalu menyapaku.

“Pagi, Shigure.”

“Yo, pagi... ya?”

“Di dunia ini, sapaan yang benar selalu ‘pagi.’”

“Dunia yang mana? Jangan-jangan kamu kesiangan lagi?”

“Nggak. Aku datang benar-benar dari pagi. Hebat, kan?”

“Hebat ya?”

Aku tersenyum kecut melihat Junna yang tampak bangga, lalu menaruh tas enamelku yang menggembung karena penuh baju olahraga dan buku pelajaran di atas meja. Setelah duduk di tempat biasanya, yaitu baris depan tempat Junna duduk, aku memutar seluruh tubuh menghadapnya. Langsung saja ke intinya. Mumpung sekarang.

“Ngomong-ngomong”

Aku sebenarnya hendak bertanya, ‘Junna, kamu di kelas berapa?’ tapi pertanyaan itu tersangkut di tenggorokan.

Yang membuatku terhenti adalah cara Junna mengatakannya. Bagi murid seperti kami, datang ke sekolah dari pagi adalah hal normal dan wajar, tapi mungkin berbeda bagi Junna.

“…………”

Junna menatapku. Setelah beberapa detik diam, aku melanjutkan,

“Gitar itu...”

Yang keluar bukan pertanyaan yang tadi sudah kusiapkan.

“Itu Telecaster?”

Entah kenapa, aku merasa tidak seharusnya menanyakan hal itu. Jadi aku buru-buru memikirkan pertanyaan lain dan melemparkannya.

Sambil melihat gitar berbadan hijau laut itu, dengan pelindung putih dan bagian logam emas yang berkilau, aku bertanya. Junna menggelengkan jari sambil berkata, “Hampir.”

“Kelihatannya mirip, tapi bukan. Ini gitar Jepang namanya MOON Reggae Master.”

“Reggae?”

“Iya. Reggae yang sama seperti yang dipakai SiM.”

“Kamu suka? Aku selalu merasa musik itu kesannya cerah.”

Dalam benakku muncul bayangan Junna di bawah matahari terik, memakai kacamata hitam, melompat-lompat di pantai berpasir sambil memutar handuk. Rasanya sama sekali nggak cocok.

“Aku nggak membencinya. Secara musik ada banyak unsur yang kusuka... tapi reggae nggak ada hubungannya dengan alasan aku memilih gitar ini. Kamu nggak tahu?”

“…………”

Aku benar-benar tidak tahu.

“Karena Igarashi-san memakainya.”

“Igarashi-san?”

“Gitaris sekaligus vokalis Syrup. Igarashi Takashi.”

Syrup16g adalah salah satu band perwakilan depressive rock.

Mereka disebut “Raja Depressive Rock,” bahkan ada yang bilang merekalah alasan istilah depressive rock bisa lahir. Mereka mungkin yang paling terkenal di ranah itu, dan tentu saja aku juga tahu tentang mereka.

Namun...

“Oh, begitu ya. Aku nggak tahu. Aku memang dengar banyak macam musik, tapi hampir nggak pernah cari tahu info soal band-nya sendiri. Jujur saja, untuk sebagian besar band, aku bahkan nggak tahu nama anggotanya.”

“Ehh...” Junna terdiam, mengeluarkan suara yang campuran antara kaget dan heran.

Apa aku mengecewakannya? Menghadapi Junna, yang emosinya sulit terbaca dari wajah, aku bertanya dengan hati-hati,

“Memangnya... itu buruk? Apa aku jadi penggemar palsu?”

“Hah? Ah, bukan,”

kata Junna setelah sesaat kosong, lalu menggeleng kuat-kuat ke kiri dan ke kanan. Rambutnya bergoyang, menampakkan warna biru keunguan di bagian dalam. Untuk ukuran Junna, itu reaksi yang sangat besar.

“Aku nggak berpikir begitu. Orang menikmati musik dengan caranya masing-masing. Aku sendiri memang tipe yang banyak mencari tahu... seperti latar belakang penciptanya, kepribadiannya, atau keadaan saat sebuah lagu lahir... tapi kurasa kalau nggak terlalu mendalami semuanya, kamu justru bisa lebih menikmati musiknya sendiri, tahu? Iya, menurutku nggak apa-apa kok nggak cari tahu detail kecil satu per satu. Buatmu, Shigure.”

Dia mengatakannya sekaligus tanpa jeda. Aku pun santai kembali, merasa lega.

“...Mm. Begitu ya.”

Lebih baik tidak mencari tahu semuanya secara detail. Kami memang sedang bicara soal musik, tapi kupikir hal yang sama juga mungkin berlaku pada Junna sendiri.

Bertemu Junna seperti ini pada sore hari saat hujan dan menghabiskan waktu bersamanya terasa sangat menyenangkan sampai hampir tak masuk akal. Jadi mungkin itu saja yang penting.

Aku tidak perlu memaksa diri menggali latar belakangnya atau mencari tahu segalanya hanya karena penasaran siapa dirinya sebenarnya.

Nikmati saja apa adanya.

Aku yakin Junna juga ingin aku melakukannya.

Namun, pertanyaan yang barusan kutelan itu, tanpa sengaja, akan segera terjawab.

Saat pelajaran olahraga jam keempat keesokan harinya, aku terluka.

Cuacanya cerah. Kami sedang bermain sepak bola di lapangan yang belum sepenuhnya kering ketika seorang pemain bertahan menjegal kakiku, dan aku jatuh cukup keras, lututku lecet.

Untungnya lukanya sendiri tidak parah, dan aku tetap lanjut bermain, tapi begitu pertandingan selesai, guru olahraga berkata, “Kurimoto! Ke ruang kesehatan.”

Didorong oleh guru olahraga, dengan enggan aku meninggalkan pelajaran dan pergi ke ruang kesehatan. Tidak ada yang mengantarku.

“...Haa. Padahal kalau bisa, aku benar-benar nggak mau ke sini.”

Alasannya karena perawat sekolah kami reputasinya sangat buruk. Menurut rumor...

“Waktu aku ketuk pintunya, dia bilang ‘tunggu’ kayak lagi nyuruh anjing, terus aku dibiarkan menunggu lima menit.”

“Waktu aku bilang badanku nggak enak dan minta pakai tempat tidur, dia malah bilang tidur di lantai aja.”

“Cara ngobatin luka dan cara ngomongnya sama-sama kasar. Aku datang buat nyembuhin luka fisik, pulangnya malah bawa luka batin.”

“Aku dengar jeritan dari dalam yang rasanya bukan suara dari dunia ini. Aku keburu takut buat masuk.”

Dan seterusnya. Katanya, dia perempuan bermarga Akagi. Di kalangan murid, dia ditakuti dengan julukan “Oni Merah.” Bahkan ada senior di klub atletik yang begitu benci ke ruang kesehatan sampai dia bawa kotak P3K sendiri dan mengobati dirinya sendiri.

Karena itu, jumlah murid yang menggunakan ruang kesehatan di sekolah kami sangat sedikit, dan ini juga pertama kalinya bagiku. Aku menarik napas panjang di depan pintu, lalu mengetuk pelan.

“...Masuk.”

Aku sempat khawatir kalau jawabannya “tunggu,” tapi rupanya kekhawatiranku sia-sia. Suara perempuan yang rendah dan agak tertahan. Tidak terdengar jeritan apa pun. Aku pun membuka pintu.

Udara dingin dari pendingin ruangan membelai kulitku yang berkeringat, dan bau cairan antiseptik langsung menyentuh hidung.

“Apa? Bolos pelajaran?”

Begitu masuk, aku langsung disambut sindiran. Seorang wanita berambut bob pendek hitam dengan masker putih sedang menatapku curiga dari meja di tengah ruangan.

Ia mengenakan jas putihnya dengan asal sampai bahu putih dari blus rajut tanpa lengan di dalamnya sedikit terlihat. Di bawahnya, ia memakai rok ketat pendek. Meski begitu, kakinya disilangkan, dan aku jadi tak tahu harus melihat ke mana. Udara hangat dari lorong dan udara dingin dari ruangan saling bertabrakan, membelai kulitku dengan sentuhan yang suam-suam.

“B-Bukan...”

Aku menutup pintu lalu mendekati perawat sekolah yang kukira adalah Akagi itu.

“Lutut saya lecet waktu pelajaran olahraga.”

“Hmph, bodoh.”

Aku dihina begitu saja dengan suara serak tajam seperti bilah pisau. Saat aku berdiri terpaku, Akagi menurunkan kaki silangnya, menghela napas keras-keras, lalu

“Cepat sini. Kubersihin,” katanya ketus. Nada bicaranya sangat sebal.

“Luka beginian mah cukup dicuci air lalu dikasih ludah juga sembuh.”

“Ludah itu nggak higienis.”

Aku spontan membalas begitu, dan Akagi langsung melotot.

“Apa?”

Aku tak bisa melihat seluruh wajahnya karena tertutup masker, tapi matanya yang diberi riasan merah itu panjang dan sipit, memancarkan aura wanita cantik berkepribadian kuat. Benar-benar menakutkan, sesuai julukannya.

“Kamu juga ngomong omong kosong begitu waktu lagi ciuman sama cewek?”

“...Hah?”

Aku mengernyit mendengar balasan tak terduga itu. Akagi langsung meringis.

“Hah? Kamu bilang hah? Parah banget.”

“Saya bukan ngomong ‘iya’ dalam arti itu!”

Aku sampai reflek membalas tanpa bahasa formal.

Kupikir dia bakal marah, tapi

“Heh, udah kuduga,” kata Akagi sambil tertawa senang.

“Kamu bahkan belum pernah ciuman, kan?” ejeknya sambil mendongak angkuh.

“Sejak masuk ke ruangan ini kamu sibuk bingung harus lihat ke mana. Kelihatannya tenang, tapi matamu sibuk mondar-mandir. Bukti kalau kamu nggak terbiasa sama perempuan.”

Saat Akagi bergeser, tonjolan besar yang menekan kain rajut tipisnya ikut bergoyang. Kalau aku menurunkan pandangan, kaki sensual yang dibungkus stoking jala menungguku.

“...Silakan berimajinasi sendiri.”

Aku memalingkan wajah dari Akagi dan merapatkan bibir.

Walau berbeda dari rumor, tetap saja sulit dihadapi dengan caranya sendiri, dan canggung. Aku bisa melihat kalau dia menikmati menggodaku, memainkan pesona seksnya yang agresif serta kata-kata dan gerakan yang provokatif, sambil menikmati reaksiku.

Begitu ini selesai, aku akan cepat-cepat pergi. Dengan pikiran itu, aku menerima perawatan luka yang ternyata, juga berbeda dari rumor, dilakukan dengan hati-hati.

Lalu, dari sudut pandanganku yang sengaja dialihkan, aku tiba-tiba melihat sesuatu.

Sebuah ranjang di sudut terdalam. Sepertinya ada yang memakainya, karena dari balik tirai yang tertutup terlihat sesuatu seperti tas gitar hitam menyembul. Di resletingnya tergantung katak biru keunguan.

“Junna?”

Begitu aku bergumam, Akagi menghentikan gerakannya mengoleskan antiseptik.

“Kamu kenal Amamori?”

“Hah? Uh, ya... maksudnya...”

“Hubungan kalian apa?”

“H-Hubungan? Umm...”

Aku kehilangan kata-kata. Hubungan yang isinya cuma saling bertemu dan mengobrol pada sore hari saat hujan. Cara menyebutnya yang benar apa? Kenalan? Teman?

Saat aku masih mencari jawaban, tirai ranjang itu tersibak.

“...Sudah hampir makan siang. Sensei, aku lapar”

Orang yang muncul sambil melepas headphone itu memang benar Junna. Saat mata kami bertemu, Junna langsung membeku seperti batu, tak bisa berkata-kata. Sesaat kemudian,

“Shigure?”

Suara yang keluar dari Junna pelan dan gemetar.

“Kenapa kamu ada di sini...?”

“Aku terluka waktu pelajaran. Kenapa kamu ada di sini, Junna? Kamu sakit?”

“A-Aku”

Junna menunduk dan ragu-ragu.

“………………”

Aku menunggu sesaat, tapi tidak ada kata-kata setelah itu. Ia tetap diam sambil menggenggam ujung roknya erat dengan kedua tangan. Aku pun bingung.

“Junna...?”

“Amamori,” yang bicara justru Akagi. Ia menempelkan plester pada luka yang sudah dibersihkan, lalu setelah melirik Junna yang tertunduk, ia berkata, “adalah murid yang bersekolah dari ruang kesehatan.”

“Bersekolah dari ruang kesehatan” rupanya berarti menghabiskan sebagian besar kehidupan sekolah di ruang kesehatan, bukan di kelas. Tidak mengikuti pelajaran bersama murid lain, dan dengan bantuan perawat sekolah, menjalani belajar mandiri untuk memperoleh jumlah nilai dan hari hadir yang diperlukan agar bisa lulus.

“Ya, singkatnya tinggal selangkah lagi dari bolos sekolah. Bedanya, kalau anak bolos benar-benar memutus hubungan dengan sekolah, dia masih berusaha tetap jadi ‘murid’ dengan datang ke ruang terbatas seperti ruang kesehatan. Kurang lebih begitu.”

“...Begitu.”

Setelah mendengar penjelasan Akagi, aku memilih kata-kata dengan hati-hati.

Setelah berpikir apa yang harus kutanyakan lebih dulu, aku mengutarakan kekhawatiran yang sejak tadi muncul begitu mendengar istilah “bersekolah dari ruang kesehatan.”

“Bukan karena dia mengidap penyakit serius, kan? Semacam penyakit kronis.”

“Oh, kalau fisik sih dia sehat-sehat saja. Kalau harus dibilang”

“Itu juga bukan penyakit mental,”

potong Junna, yang sampai saat itu diam saja, pada ucapan Akagi. Duduk di ujung ranjang, Junna mengayun-ayunkan kakinya sambil melanjutkan dengan ekspresi datarnya yang biasa.

“Aku cuma suka sendirian... Aku nggak mau berurusan dengan orang lain tanpa perlu, jadi aku datang ke ruang kesehatan yang lebih sepi. Aku belum pernah ke kelas... bahkan sekali pun sejak masuk sekolah ini.”

Bahkan belum pernah ke kelas sejak masuk sekolah. Jadi begitu, batinku paham. Pantas saja Youjirou, Yamada, dan yang lain tidak tahu siapa Junna.

“Aku juga sengaja mengatur waktu datang. Kadang jam pulangnya bisa sama dengan yang lain, tapi aku selalu berusaha sebisa mungkin nggak mencolok dengan lewat gerbang belakang.”

“Serius banget kamu menyamarkannya...”

Memang, aku tidak pernah melihatnya. Kecuali di tempat itu.

“...Kalau terus-terusan di ruang kesehatan aku bosan, jadi sepulang sekolah aku pergi ke ruang audiovisual. Kedap suara, jadi aku bisa main gitar, dan kalau panas bisa nyalakan pendingin ruangan. Aturan nggak boleh makan dan minum memang minus, tapi selain itu tempat itu paling enak. Rasanya seperti studio.”

“Dan sepulang sekolah hampir nggak ada orang juga.”

“Iya, jadi aku lengah. Aku lupa menguncinya. Lalu”

Junna menoleh ke jendela. Tirai putihnya terbuka lebar. Ia menyipit melihat cahaya matahari dari langit biru cerah, bukan langit mendung seperti hari itu, lalu

“Aku bertemu Shigure,” gumamnya.

“Aku suka sendirian, dan nggak mau berurusan dengan orang-orang yang nggak perlu... tapi kalau Shigure, nggak apa-apa.”

Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Tapi suaranya lembut dan jernih, seolah merembes keluar dari bagian terdalam hatinya. Perasaan yang murni, tanpa campuran apa pun.

“Junna...”

Pasti ada alasannya.

Sulit membayangkan sekolah membiarkannya bersekolah dari ruang kesehatan hanya karena dia “suka sendirian”, pasti masih ada sesuatu yang disembunyikan Junna.

Tapi meski begitu, aku tidak merasa perlu membongkarnya.

Kalau Junna, yang sampai memilih ruang kesehatan demi menghindari interaksi dengan orang lain, tetap mau menerima kehadiranku.

“Aku cuma punya satu permintaan.”

“...Permintaan?”

Junna menatapku. Aku menatap balik matanya yang sedikit cemas, lalu tersenyum.

“Iya.”

“Mulai sekarang, bukan cuma di ruang audiovisual, tapi... boleh nggak aku juga datang menemuimu di ruang kesehatan? Misalnya saat makan siang. Di sini juga nggak tergantung cuaca.”

“...!”

Mata Junna melebar. Kebahagiaan yang jelas membuncah memenuhi wajahnya yang tadi terlukis kaget. Namun tepat saat bibirnya terbuka dan senyum hendak mekar,

“I-Iya...”

Junna menunduk, buru-buru menyembunyikan ekspresinya. Ia gelisah di atas ranjang. Matahari yang terang menyinari poni yang terkulai, menerangi hitam dan biru keunguan rambutnya.

Mengintip ke arahku dari sela-sela rambutnya, Junna menjawab dengan suara yang menekan emosinya.

“Nggak apa-apa. Aku juga makan siang di sini... jadi, mau nggak... makan bareng? Berdua...”

“Aku juga ada di sini, tahu? Maaf ya kalau merusak suasana.” Akagi, yang tadi membaca situasi dan nyaris melebur dengan latar belakang, akhirnya angkat suara lagi sambil tersenyum kecut.

Makan siang di ruang kesehatan adalah pengalaman pertamaku. Bukan di kelas, bukan di kantin, melainkan di ruang kesehatan. Meski ruangan ini dipenuhi aroma antiseptik, tempat ini sejuk dan nyaman karena pendingin ruangannya bekerja baik.

Seragam musim panas baru mulai kami pakai sejak awal minggu lalu, dan meski musim panas sepenuhnya masih agak jauh, hari cerah seperti hari ini tetap saja lembap dan panas.

Di sekolah seperti kami, yang cuma punya pendingin ruangan di beberapa tempat terbatas seperti ruang guru dan perpustakaan, ruangan ini benar-benar oase berharga.

“Apalagi kalau lagi panas, banyak anak yang datang ke sini sampai merepotkan,”

kata Akagi sambil mengangkat bahu telanjangnya, duduk di kursi dengan kaki bersilang.

“Padahal sebenarnya nggak sakit. Makanya aku sengaja bersikap seburuk mungkin supaya murid-murid merasa ‘pengen sebisa mungkin nggak pakai tempat ini.’”

Ini posisi macam apa buat seorang perawat sekolah? Sanggahan itu kutelan bersama sepotong ayam goreng.

Junna yang duduk di sebelahku mengaduk-aduk paprika hijau dalam kotak makannya dengan sumpit, lalu berkata,

“Sensei memang nyebelin bahkan tanpa perlu berusaha. Makanya mulutmu ditutup masker?”

“Amamori.” Mata Akagi membentuk senyum di balik masker. “Akan kukirim kamu ke rumah sakit.”

“Itu ucapan macam apa dari perawat sekolah!?” tanpa sadar aku menyela, tapi Junna tetap tenang.

“Nggak boleh pakai kekerasan. Nggak boleh hina-hina juga.”

“Hmph... Paprika hijaumu itu. Jangan disisakan, paham?” Akagi dengan santai mengganti topik. Sepertinya percakapan seperti ini sudah biasa bagi mereka berdua.

“Kalau sampai ada satu potong saja yang tersisa, mulai besok aku nggak bikin makan siang buatmu lagi.”

“...Jahat banget.”

Junna mengernyit lalu memasukkan paprika hijau yang tadi diaduk-aduknya ke mulut.

“Mm... ternyata nggak sepahit yang kukira. Malah lumayan enak?”

Aku mengalihkan pandangan dari Junna yang berkedip-kedip itu ke Akagi yang duduk di seberang.

“Sensei yang buat bekal Junna?”

“Iya. Amamori ini pemilih soal makanan.”

Bekal yang dibuka Junna memang kecil, seperti yang biasa dibawa gadis, tapi isinya banyak macam, warnanya bagus, dan kelihatan dibuat dengan sungguh-sungguh. Paprika hijau tumis dengan ikan kecil, telur gulung dengan daun shiso, tumis akar burdock dan wortel, brokoli, tumis jahe babi... Nasinya nasi campur biji-bijian, diberi taburan shiso merah. Bahkan pencucinya pun ada, yoghurt dengan selai merah.

“Kalau kubiarkan, dia cuma akan makan roti manis atau camilan lain yang nggak bagus buat tubuh. Jadi, sebagai perawat sekolah, aku menyiapkan makanan sehat dengan gizi seimbang buat dia.”

“Setiap hari?”

“Setiap hari. Dan sekadar informasi, aku nggak pakai bahan jadi. Semuanya masakan rumah.”

“L-Luar biasa...”

Aku menatap ayam goreng beku di bekalku sendiri lalu mengeluh kecil. Menurutku makanan jadi juga enak, tapi tingkat keseriusannya benar-benar beda.

“Mulutnya memang paling buruk,” kata Junna sambil mengunyah tumis jahe babi yang dibuat dengan banyak irisan bawang yang dimasak sampai manis, lalu mengacungkan jempol.

“Tapi masakannya yang paling enak.”

“Yah, terima kasih.” Akagi menyipitkan mata dan tersenyum. Aku pun merevisi penilaianku tentangnya.

“Sensei benar-benar teladan perawat sekolah...”

Mungkin dia cuma bermulut kasar, tapi sebenarnya guru yang baik dan peduli pada muridnya.

“Jujur, kupikir Sensei bakal lebih menakutkan. Sesuai rumor.”

“...Rumor? Rumor apa?”

“Katanya waktu ada yang ketuk pintu, Sensei bilang ‘tunggu’ kayak lagi nyuruh anjing, lalu orang itu ditungguin lima menit.”

“Itu supaya Amamori sempat bersembunyi.”

“Katanya waktu ada yang bilang badan nggak enak dan minta pakai ranjang, Sensei suruh tidur di lantai.”

“Itu karena jelas-jelas cuma pura-pura sakit. Aku boleh malas, tapi murid-murid nggak boleh.”

“Katanya cara ngobatin luka dan cara ngomongnya sama-sama kasar, jadi datang buat nyembuhin luka badan malah pulang bawa luka batin.”

“Itu bohong. Cara ngomongku boleh lah, tapi cara ngobatinnya tadi lembut dan hati-hati, kan?”

“Katanya pernah terdengar jeritan yang rasanya bukan berasal dari dunia ini.”

“Itu suara geraman maut. Waktu itu aku lagi memutar Crossfaith atau A Crowd of Rebellion.”

“Tolong jangan memutar rock keras-keras di ruang kesehatan.”

“Bisa jadi waktu itu yang kuputar Maximum the Hormone atau Fear, and Loathing in Las Vegas?”

“Junna, kamu juga pakai headphone, dong.”

“Kadang kamu nggak pengen cuma mendengar musik dengan telinga, tapi juga merasakannya dengan seluruh tubuh...?”

“...Pengen sih, tapi maksudku pilih tempatnya, Gadis Berisik.”

“Iya. NOISEMAKER keren ya?”

“Aku bukan lagi ngomongin nama band. Tapi aku memang suka ‘NAME’.”

Saat kami terus saling menimpali seperti biasa, Akagi mengeluarkan suara tawa kecil dari tenggorokan. Ia menyandarkan pipi di tangannya di meja, memperhatikan kami.

“Kalian akrab sekali. Ini pertama kalinya aku lihat Amamori seceriwis ini.”

“...Begitu ya?”

Aku selama ini merasa dia memang blak-blakan dan sebenarnya cukup banyak bicara, atau lebih tepatnya, banyak melontarkan candaan. Rupanya kalau hanya berdua dengan Akagi, dia justru pendiam. Bahkan saat makan pun tadi dia nyaris tidak bicara.

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia mengomentari masakanku. Biasanya dia cuma mengeluh ini nggak suka, itu nggak suka.”

“Aku malah makin kagum Sensei masih mau bikin buat dia setiap hari.”

Saat aku melirik ke samping, mungkin Junna mengira aku sedang menegurnya soal sikapnya, jadi ia mendengus lalu memalingkan wajah. Aku mengalihkan pandangan kembali pada Akagi dan bertanya,

“Ngomong-ngomong, Sensei nggak makan siang?”

Di depan Akagi tidak ada bekal, dan dia juga sama sekali tidak tampak akan mulai makan. Akagi mengangguk kecil.

“Ah.”

“Aku cuma makan dua kali sehari. Makan siang aku lewatkan. Dan biasanya aku sekalian bikin banyak bekal dalam satu kali masak, jadi bagian yang nggak habis kumakan sendiri ya kubungkus. Nggak seribet itu.”

Aku memang tidak bisa membaca ekspresi Akagi sepenuhnya karena masker, tapi perhatian dan kepeduliannya pada Junna begitu jelas terlihat, sampai aku kembali merasa bahwa dia benar-benar guru yang baik.

“Sensei,” Junna membuka mulut. Ia menatap wajah Akagi, tampaknya hendak mengubah rasa terima kasih yang biasa ia simpan di hati menjadi kata-kata.

“Kamu nggak pernah lepas masker, ya?”

Ternyata bukan. Bahkan, kalimat berikutnya malah luar biasa tidak sopan.

“Pasti semua orang di sekolah mikir wajahmu jelek.”

“...Amamori.” Mata Akagi tersenyum, tapi sama sekali tidak terasa sedang tersenyum.

“Mulai besok kamu nggak dapat bekal.”

Sejak hari itu, aku mulai datang ke ruang kesehatan saat jam makan siang, dan sekarang aku bisa bertemu Junna setiap hari, bahkan saat tidak hujan.

Namun, keesokan harinya dan hari setelahnya lagi, hujan turun terus tanpa putus. Wilayah Kanto akhirnya diumumkan memasuki musim hujan, meski sedikit terlambat. Akibatnya, waktu yang kuhabiskan bersama Junna pun otomatis bertambah, dan sebagai konsekuensinya

“...Shigure. Mau ninjin shirishiri?”

Junna bertanya begitu sambil menggeser kursinya lebih dekat dari biasanya, sampai bahu kami hampir bersentuhan. Bahkan kalau aku diam-diam menjauh, dia akan menutup jarak itu lagi, jadi percuma.

Aroma sampo manis tercium dari rambut hitam pekatnya yang berkilau.

“Enak, loh. Nih, aah...”

“Makan sendiri.”

Begitu aku menolak, teguran Akagi langsung terbang dari samping tanpa jeda.

“Jangan coba-coba melempar wortelmu ke orang lain cuma karena kamu nggak suka.”

“Sensei salah paham. Tujuannya bukan buat melempar wortelnya ke dia, tapi buat menyuapi Shigure. Tolong jangan salah paham.”

“…………”

Harusnya aku membalas nggak, sih? Ucapannya begitu lengket, tapi suara dan ekspresinya terlalu kering sampai sulit menebak dia bercanda atau serius.

“Amamori.”

Akagi menegurnya dengan nada lebih rendah dan tegas dari sebelumnya.

“Makan sendiri. Nanti keseimbangan gizinya rusak.”

“...Mmm.”

Junna manyun lalu menurunkan sumpitnya. Dalam hati aku merasa lega. Kalau Akagi tidak turun tangan, mungkin aku sendiri akan bingung harus bereaksi bagaimana, dan suasana jadi canggung.

“...Kalian berdua... memang selalu selengket ini?” Akagi menghela napas di balik masker lalu melipat tangan. Ia menatap kami berdua dan bertanya.

“Kalian ngapain aja sih di ruang audiovisual sepulang sekolah?”

“Memanfaatkan kedap suaranya buat ini itu...”

“Kami dengar Junna main gitar, atau ya ngobrol biasa,” jawabku sambil mengabaikan cara bicara Junna yang terdengar menggoda.

“Kemarin dan lusa kami nonton film. Di layar besar.”

Ruang audiovisual dilengkapi peralatan pemutar materi visual dan proyektor, maksudnya media seperti DVD. Memang tak bisa sambil makan popcorn karena makan dan minum dilarang, tapi tempat itu lingkungan yang sempurna buat menikmati film.

“...Oh. Nonton apa?”

“Kami masing-masing pilih satu. Aku pilih Se7en, dan”

“Aku pilih The Mist.”

“Pilihan film suramnya kok kompak begitu...”

“Selera Junna dan aku mirip. Di film, buku, juga musik. Alasan kami bisa nyambung itu karena selera kami ketemu di genre musik yang cukup khusus.”

Saat aku sedang bicara, Junna yang duduk di sebelahku mulai bersenandung.

Junna memang kadang suka tiba-tiba bersenandung begini.

Katanya sih itu adalah “suasana hati saat ini”, tapi entah kenapa setiap kali kudengar, melodi itu selalu enak didengar, sampai tanpa sadar aku terpikat.

“Musik yang cukup khusus?” Akagi bertanya lagi.

“Yang agak lama, seperti depressive rock.”

Sambil mendengar senandung Junna, aku melanjutkan percakapanku dengan Akagi. Junna terus bersenandung, berhenti makan, dan mengayun tubuh ke kanan-kiri sambil memeluk ponselnya ke dada.

“Kami sama-sama suka band bernama YOHILA.”

“Hah?”

Akagi mengernyitkan alis. Mungkin dia tidak mendengar jelas ucapanku karena tertutup senandung Junna.

“YOHILA. Mereka memang masih band indie, tapi aku suka banget lirik dan musik mereka... band baru yang juga dijuluki ‘Generasi Baru Depressive Rock.’ Sensei nggak tahu?”

“…………”

Aku menduga dia bakal langsung menjawab, “Nggak pernah dengar,” tapi Akagi justru diam. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kurimoto, kamu”

Tepat saat itu, terdengar ketukan di pintu ruang kesehatan.

“...!”

Junna tersentak dan langsung berhenti bersenandung.

Kami bertiga serentak menoleh ke pintu masuk. Padahal harusnya ada papan bertuliskan ‘Tidak di tempat’ di pintu, tapi

“Permisi!”

Pintu itu langsung dibuka geser tanpa ragu.

Yang muncul adalah murid laki-laki tinggi berambut cokelat terang dan murid perempuan ramping dengan rambut ekor kuda, duo teman masa kecil itu, Youjirou dan Yamada.

Sejak pintu terbuka, waktu seperti berhenti, dan keheningan tegang memenuhi ruang yang berbau antiseptik itu. Yang memecahnya adalah,

“Umm... Shigure?”

Youjirou, si pembuka pintu.

Ia menatapku, lalu menunjuk orang yang duduk di sebelahku dan bertanya.

“Jangan-jangan ini dia... Amamori Junna-chan yang terkenal itu?”

“Yang terkenal?” Junna menatapku. Aku mengalihkan pandangan darinya sambil menggaruk belakang kepala.

Sudah mudah dibayangkan kenapa ini bisa terjadi.

Sebelum aku mulai datang ke sini, aku biasa makan siang bersama Youjirou di kelas. Lalu tiba-tiba aku bilang, “Mulai besok aku makan siang di tempat lain.”

Bahkan kalau aku mengarang alasan seperti “akhir-akhir ini aku dekat dengan anak klub atletik dari kelas lain”, wajar saja kalau dia curiga.

“Shigure sendiri yang bilang ke kami,” kata Youjirou sambil berjalan mendekat dengan senyum menawan di wajah tampannya.

“Kalau dia ketemu cewek cantik banget!”

“Cewek cantik banget. Cantik banget... cantik... hmm?”

Tatapan Junna di sisi wajahku terasa makin berat. Aku juga tidak bisa menyangkalnya, karena sebagian besar itu memang benar. Maka aku memutuskan mengganti topik.

“...Kalian ngikutin aku?”

“Iya. Soalnya habis obrolan itu, kan. Aku curiga ada yang aneh, jadi aku putuskan buat cek sendiri. Siapa sebenarnya orang yang ditemui Shigure!”

“A-Aku sebenarnya menentang, lho!”

Berbeda dengan Youjirou yang mengakuinya tanpa rasa malu sedikit pun, Yamada menutup pintu ruang kesehatan, melirik gugup ke arah Akagi, lalu setelah berbisik, “P-permisi...”, ia mendekat ke arah kami.

“Tapi aku penasaran. Soalnya gadis yang sedang didekati Kurimoto-kun”

“Aku nggak lagi mendekati dia!?”

Aku yakin sudah menyangkal itu dengan halus waktu bercerita pada Yamada soal Junna. Dan lagi, aku juga berharap dia tidak mengatakan hal itu di depan orangnya langsung.

Seperti dugaan, Junna menolehkan mata sanpakunya ke arahku dan

“………………”

menatapku tajam seolah ada yang ingin dia katakan. Mengira dia curiga aku ini cowok tukang tebar pesona, aku buru-buru menambahkan,

“A-Aku nggak sedang mendekati kamu, kok?” tapi alis Junna malah berkerut. Itu justru nggak perlu ya?

“Pokoknya, Shigure. Gadis ini beneran cantik banget!”

Orang yang menolongku justru Youjirou. Junna, yang wajahnya sedang dia dekati untuk diperhatikan, tersentak kecil dengan suara, “Hk!?” lalu membeku.

Seolah ingin menenangkannya, Youjirou memperdalam senyumnya.

“Salam kenal, Amamori-san! Aku Kuzumi Youjirou. Sahabat terbaiknya Shigure.”

“Sahabat terbaik? Maksudmu pengaruh buruk.”

“Aku Yamada Haruka! Kalau sama Kurimoto-kun, hubungan kami... ya semacam teman dari teman?”

“Aku sih berharap kamu bilang teman aja, tapi...”

“…………”

Junna diam membandingkan wajah Youjirou dan Yamada.

“Youjirou dan Yamada...” gumamnya sambil memiringkan kepala.

“RAD dan Jennifer Yamada-san?”

“Dia manggil aku pakai nama depan, iya!”

“Jennifer siapa!? Aku Haruka!”

“Itu bukan Misoshiru’s.”

Aku, Youjirou, dan Yamada masing-masing bereaksi dan membalas. Lalu Junna menunjukku dan menyatakan,

“Shigure, lulus. Dua lainnya gagal.”

“Kenapaaa!?”

Jeritan Youjirou dan Yamada bertumpuk. Junna tidak menjawab, lalu bersembunyi di belakangku.

Sebagai catatan, RADWIMPS, atau RAD, adalah band rock terkenal yang berpusat pada Noda Youjirou, dan “Jennifer Yamada-san” adalah lagu yang bahkan di antara karya utama RAD sekalipun termasuk agak kurang dikenal.

Misoshiru’s sendiri adalah band bertopeng misterius yang katanya berteman akrab dengan RAD dan konon memberikan lagu “Jennifer Yamada-san” pada mereka.

“U-Um, Amamori-san?”

“…………”

“Haloo?”

“...Aku nggak berinteraksi dengan orang yang gagal,” jawab Junna singkat pada Youjirou dan Yamada yang mencoba mengajaknya bicara, lalu kembali duduk di kursinya. Ia mengenakan headphone yang tadi tergantung di lehernya, memutar musik, dan tanpa bicara melanjutkan makan.

Di layar ponselnya yang diletakkan di meja, lagu yang sedang diputar adalah “Hikikomori Rollin’” milik RADWIMPS.

Suara hujan, dengung pendingin ruangan, dan musik keras yang bocor dari headphone-nya mewarnai keheningan setelah itu.

Melihat Junna benar-benar menutup diri ke dunianya sendiri,

“...Amamori ini sangat pemalu terhadap orang asing,” Akagi yang sedari tadi diam mengamati situasi, menghela napas lalu angkat bicara.

“Dia bersekolah dari ruang kesehatan. Akan sangat membantu kalau kalian merahasiakan hal ini.”

Mendengar kata-kata Akagi, Youjirou dan Yamada saling bertatapan.

Mereka melihat Junna yang tetap menggerakkan sumpitnya dengan wajah murung sambil mengenakan headphone.

“Rasanya kita ini...”

“Kayak menerobos masuk, ya?”

Mereka tampak murung lalu menyatukan tangan meminta maaf padaku.

“Maaf!”

Aku juga rasanya ingin ikut minta maaf.

“Sikapmu tadi keterlaluan, tahu.”

Sepulang sekolah hari itu. Saat tinggal berdua dengan Junna di ruang audiovisual, aku membicarakan kejadian siang tadi.

Cuacanya masih hujan. Hari ini juga lembap, jadi pendingin ruangannya dinyalakan. Tapi alasan udara terasa lebih dingin dari biasanya mungkin bukan hanya itu.

“Memang salah mereka ngikutin dan masuk begitu saja, tapi tetap saja, kamu tadi terlalu nggak ramah, hei, jangan! Jangan pakai headphone dulu.”

“...Mmm. Berisik, Shigure.”

Headphone yang baru saja ingin dia pakai kuturunkan, dan Junna sedikit mengernyit.

Emosi negatif Junna memang lebih mudah terlihat di wajah dibanding emosi positifnya. Ia memonyongkan bibir lalu menggerutu.

“Aku sudah bilang, kan? Aku nggak mau terlibat... dengan orang-orang yang nggak perlu. Jadi aku nggak masalah kalau terlihat nggak ramah.”

“Junna...”

“Aku nggak mau dengar ceramah lagi. Suaramu juga bakal kututup, Shigure.”

Junna mengangkat headphone kedap suara berkinerja tingginya seperti ancaman. Sepertinya rasa enggannya terhadap orang lain memang jauh lebih serius dari yang kubayangkan.

“Oke, aku nggak akan ngomel lagi... nggak akan ngomel lagi.” Aku menghela napas lalu mengangkat kedua tangan.

“Sebaliknya, biar aku tanya satu hal,” aku menatap lurus ke mata Junna lalu bertanya, “Kenapa kamu begitu ramah sama aku? Karena selera kita mirip?”

“Itu juga salah satunya, tapi...”

Junna mengalihkan pandangan lalu menunduk.

“Alasan utamanya... firasat?”

“Firasat?”

“Dan juga suaramu, wajahmu, auramu... dan lainnya.”

“Jangan ngomong kayak penyanyi panggung festival.”

“Sama seperti waktu aku mendengar musik yang kusuka. Aku langsung merasa, ‘Ah, ini bagus.’ Bukan kupikirkan, tapi kurasakan. Itu alasannya, ya?”

“...Begitu.”

“Dan lainnya.”

“Eh, masih ada lagi!?”

“Masih. Sebenarnya pemeran utamanya bahkan belum diumumkan.”

Pemeran utama adalah musisi paling terkenal yang tampil di sebuah festival, penampil utama. Mungkin dia mau bilang masih ada alasan lain yang lebih besar kenapa dia begitu ramah padaku, tapi rasanya kurang sopan kalau kutanya sekarang. Padahal biasanya pemeran utama diumumkan paling awal, sih, tapi tanggapan itu kutahan juga.

“Hei, Shigure,” gumam Junna dengan suara yang begitu pelan sampai nyaris tenggelam oleh bunyi hujan lembut, tapi entah bagaimana tetap terdengar jelas di telingaku.

“Setelah tahu aku bersekolah dari ruang kesehatan pun, kamu tetap memperlakukanku seperti biasa. Jadi... boleh nggak? Kalau aku memberitahumu ‘rahasia’ku yang lain.”

“Hah?” kataku kaget. Di sampingku, Junna mulai memainkan ponselnya.

Casing silikon biru keunguan. Warna yang sama seperti katak yang tergantung di resleting tas gitarnya dan warna bagian dalam rambutnya.

Dan hydrangea juga dikenal sebagai

“Yohira.”

“...Ini LINE-ku. Tambahkan.”

“O-Oh...”

Bukannya dulu kamu bilang nggak punya? pikirku, tapi aku tetap mengeluarkan ponselku dan memindai kode QR penambahan teman yang muncul di layarnya.

Nama akunnya “JUN”, dan ikon profilnya adalah ilustrasi hydrangea yang dihantam hujan. Itu logo band YOHILA.

“Waktu dulu kubilang aku nggak punya, itu bohong... sekarang LINE-ku kupakai terutama buat ‘kerjaan’, jadi kupikir dari namanya nanti ketahuan, dan aku belum bisa memberitahumu waktu itu.”

Angin bertiup pelan, dan aroma manis menggelitik hidungku. Saat aku mengangkat kepala dari layar ponsel, mata Junna sudah sangat dekat di depanku. Aku tenggelam dalam matanya yang jernih dan dalam seperti danau, sampai napasku tertahan.

“Mungkin kamu nggak tahu, Shigure, soalnya kamu nggak mencari info soal ‘pencipta’. JUN itu nama lainku.”

Sambil menatap wajahku dari jarak dekat, Junna mengungkapkannya. Identitas istimewa yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.

“Aku vokalis, gitaris, pemain kibor, dan pencipta lagu YOHILA.”

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa