“Ah. Halo, Jun-tan?”
“…Sudah berapa kali kubilang jangan pakai ‘-tan’? Aku tutup, ya.”
“Tunggu!? Maaf, a-aku cuma bercanda! Jangan ditutup dong—”
“Lidahmu.”
“Serem banget!”
“Paham nggak? Tan... lidah…”
“…Padahal sudah musim panas, tapi malam ini dinginnya aneh ya.”
Malam itu, aku sedang duduk di sofa ruang tamu, menggigit es batang setelah mandi sambil menelepon Yamada-san. Tekstur es yang renyah dengan aroma soda buatan memenuhi hidungku. Rasa yang benar-benar mengingatkanku pada musim panas.
“Nggak nyangka aku bisa tukeran kontak sama Jun-chan… rasanya kayak mimpi. Guhehehehe.”
Suara Yamada-san meleleh manis seperti es krim.
Aku diam-diam menggigit es batangku.
“Dan kamu juga langsung pengin ngobrol sama aku… aku senang banget, sampai rasanya nggak masuk akal! Ada apa? Kamu mau ngomongin apa?”
“…Aku langsung ke intinya aja.”
Menjilat bibir, lalu mengembuskan napas tipis bercampur hawa dingin, aku pun bertanya.
“Yamada-san… jangan-jangan kamu mengincar Shigure? Sebagai lawan jenis…”
“Ahaha, nggak mungkin, nggak mungkin!”
Jawaban Yamada-san terdengar ceria dan cepat. Terlalu cepat, sampai-sampai malah bikin kesal. Tapi,
“Kurimoto-kun itu memang menarik, lho? Dia enak diajak ngobrol, hobi kami mirip… terus dia juga keren. Tapi aku nggak mengincarnya, nggak mungkin, jelas nggak!”
Yamada-san langsung melanjutkan sambil tertawa cerah.
“Soalnya… kamu tahu tanpa harus aku bilang pun, kan, Jun-chan?”
“…………”
Aku menggigit es batangku dalam diam.
Aku memejamkan mata, mengunyah dalam hati kata-kata Yamada-san, lalu…
“Kamu lulus.”
Aku mengangguk. Tak ada tulisan apa pun pada stik kayunya. Zonknya.
Sambil mengayunkannya seperti tongkat dirigen,
“Kamu lulus tes pertemanan, Haruka-san.”
“…!? K-Kamu manggil aku pakai nama depan… Yesssssssssssss!”
Sambil mendengarkan suara Yamada-san atau sekarang, Haruka-san yang meluap-luap kegirangan, aku pun mulai bersenandung kecil.