Amamori Junna is Humid Volume 2 Chapter 1 — Hujan Sepulang Sekolah, Aku, Dia, dan Yamada

“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah! Stresnya numpuk teruuuuuuuuuuuuuus, waaaaaaaaaaaaaah!”

Itu sama sekali bukan “sedikit”.

Berdiri di atas meja panjang dengan sepatu dalam ruangannya, Junna menggebuk gitar yang nadanya kacau sambil menjerit sampai suaranya serak.

Volume mini-amp-nya mentok maksimal. Ledakan suara distorsi menggetarkan udara lembap bekas hujan dan menyebar ganas ke segala arah. Rasanya seperti binatang buas listrik yang memamerkan cakar lalu mengamuk.

Kalau ini bukan ruang AV yang kedap suara, suaranya pasti sudah menggema ke seluruh gedung sekolah.

“Aku nggak butuh teman jadi nggak bikin teman? Salah! Bukan nggak bikin, tapi nggak bisa! Mau bikin juga nggak bisa! Soalnya satu-satunya temanku cuma musik... Selama ini, musiklah sahabat terbaikku, satu-satunya yang sama sekali nggak bakal mengkhianatiku! Aku sudah lama lupa gimana caranya berinteraksi dengan manusia... No music, no life! No friends, my life! Akulah Bocchi! Bocchi the Rock! Dengan penuh duka, dari ruang AV...”

Di atas petikan gitarnya, mulai terdengar narasi. Mirip bagian spoken-word yang kadang suka muncul di lagu-lagu rock.

“…Huff.”

Lalu tepat saat aku berpikir begitu, semuanya berakhir.

Setelah puas melampiaskan semuanya, Junna berhenti bermain, menaruh gitarnya, lalu turun dari atas meja. Setelah itu, dia meringkuk sambil memeluk lutut.

“Shigure.”

Menempelkan pipinya ke lutut, dia mendongak menatapku yang berdiri di sana.

“Hibur aku...”

“Baik, tuan putri patah hati.”

Aku duduk di sebelah Junna dan, seperti yang dia mau, mulai mengelus kepalanya.

Junna mengeluarkan suara kecil, “…Mm,” seperti geli, lalu ekspresinya perlahan melunak menjadi senyum. Menenangkannya mirip seperti melihat anak anjing.

Sejak pertama kali aku melakukannya, Junna jadi sangat suka dielus kepalanya seperti ini, dan sekarang dia jadi minta terus setiap ada kesempatan.

Mengelus kepala cewek rasanya memang agak malu-maluin, jadi aku sempat ragu, tapi begitu dilakukan, mood Junna langsung membaik dalam sekejap. Alhasil, ini jadi semacam jurus yang lumayan berguna.

“…Kamu memang pengin punya teman?” tanyaku sambil menikmati rambutnya yang halus dan lembut, dan Junna mengangguk. “Iya.”

“Waktu bilang begitu ke Sensei, aku cuma sok kuat. Tapi aku tahu aku harus berubah. Aku merasa sudah berusaha dengan caraku sendiri. Tapi…”

“Nggak berjalan lancar, ya.”

“…Iya. Rasanya kayak... obrolannya nggak nyambung, cuma mentok di permukaan doang. Mungkin aku merasa begitu lebih parah karena aku terlalu cocok sama kamu? Jadi tanpa sadar aku membandingkan.”

Junna bergumam begitu sambil memetik senar gitar yang tergeletak di atas meja panjang. Amp-nya sedang mati, jadi suara senarnya yang kering dan polos bertumpuk dengan suara hujan deras di luar.

“Jadinya aku malah kasih respons yang datar... dingin. Mungkin mereka mikir aku cuma cewek cantik yang murung dan ngebosenin.”

“Berarti kamu sadar kalau mereka nganggep kamu cewek cantik…”

“Itu salahmu, karena kamu terus-terusan bilang aku imut.”

“Tapi memang imut, kok.”

“Kamu bilang lagi…” Junna cemberut dengan wajah memerah.

Kalau teman-teman sekelasnya tahu sisi imut Junna yang ini, bukan cuma wajahnya saja, kesan mereka pasti bakal langsung berubah.

“Waktu itu kamu bisa ngobrol cukup normal sama Yamada dan Youjirou, kan? Yang pas kita makan siang bareng setelah aku bilang kamu harus ‘coba cari teman.’ Memangnya kamu nggak bisa ngobrol kayak gitu ke orang lain?”

“Nggak mungkin. Waktu itu soalnya… soalnya kamu ada di sampingku.”

Mengangkat kepala dari gitar, Junna menatapku lurus. Dia bicara dengan suara yang lebih murni dan polos daripada bunyi senar akustik yang tak tersambung amp.

“Kalau nggak ada kamu, Shigure, aku nggak bisa apa-apa.”

“………………”

Kata-kata Junna meresap ke dadaku, menyebarkan kehangatan.

“Shigure?”

“Hm? Oh, eh… nggak.”

Aku menggaruk pipiku yang mulai panas, lalu mengalihkan tatapan manis Junna yang terasa seperti membelitku. Aku lanjut bicara untuk menutupinya.

“Aku cuma lagi mikir, sebaiknya gimana, ya. Maksudku, aku sih bakal tetap nemenin kamu, tapi kelas kita beda... dan kalau kita kelihatan terlalu nempel terus di depan orang-orang, mungkin nggak bagus juga.”

“Kenapa nggak bagus?”

“Kenapa…? Ya, gitu deh. Nanti orang-orang bisa salah paham.”

“Salah paham gimana?”

Dia menekanku. Sambil mencondongkan badan dan mengintip wajahku, dia memaksaku menatap matanya.

“Mereka bakal salah paham gimana?”

“…Bahwa aku sama kamu... pacaran.”

“Kamu nggak mau dibilang begitu?”

“N-Nggak, bukan gitu…”

“Kamu nggak mau dibilang begitu?”

“Nggak, bukan itu! Maksudku bukan ‘aku nggak mau’... tapi lebih ke ‘bukannya aku nggak mau, cuma…’ Tenang dulu. Jangan langsung nyimpulin sendiri.”

Saat aku panik melihat cahaya dalam mata Junna mulai menghilang, dia menyipitkan mata. “‘Cuma’?”

“Cuma… apa?”

“Kita belum sampai situ,” kataku tegas supaya nggak kalah oleh tekanannya. Mata Junna membelalak.

“Mmm…”

Dia menunduk, bulu matanya yang panjang menjatuhkan bayangan. “…‘Belum’ ya? Begitu.”

Dia tersenyum lembut, senyum yang berkilau seperti pelangi, seolah menghapus suram yang lahir dari percakapan kami tadi.

“Kamu benar… pelan-pelan, ya? Pelan-pelan saja…”

Junna menatapku lagi dengan mata yang berkilau.

“Aku nggak akan buru-buru. Kita jalan maju pelan-pelan. Dalam segala hal.”

“…Iya.”

“Untuk sekarang, aku berhenti ngasih jari tengah diam-diam tiap ada yang nanya hubungan kita karena itu nyebelin banget. Mulai sekarang, aku juga bakal jawab, ‘kita belum sampai situ.’”

“…Iya.”

Jadi itu alasan kamu nggak bisa punya teman, ya.

“Shigure. Main Shiritori Band, yuk.”

Junna mengusulkannya saat aku sedang memainkan ponselku.

“Shiritori Band” adalah permainan yang kadang aku mainkan bersama Junna, karena selera musik kami mirip. Aturannya begini:

  1. Yang boleh dipakai cuma nama band rock Jepang.
  2. Harus menyebut band yang huruf awalnya berasal dari huruf terakhir nama band sebelumnya.
  3. Kalah kalau menyebut nama band yang berakhir dengan “n” 「ん」. Kalah juga kalau menyebut band yang sama dua kali.

Sampai sini, aturannya nyaris sama seperti shiritori biasa, tapi—

  1. Sebelum menyebut band berikutnya, harus menyebut minimal satu lagu dari band yang tadi disebut lawan. Kalau nggak bisa, kalah.

Ada aturan spesial itu.

Dengan kata lain, ini permainan yang menguji seberapa jauh pengetahuan kami soal band.

“…Oke.”

Aku menaruh ponselku di atas meja lalu menghadap Junna yang duduk di bangku panjang seberang. Tentu saja, cari jawaban di internet mutlak dilarang.

“Dua kali terakhir aku kalah, tapi hari ini aku pasti menang!”

“Nggak bakal, nggak bakal. Aku bakal ngalahin kamu sekejap. Aku pengin lihat kamu nangis.”

“Kamu sadis, ya? Aku nggak bakal nangis cuma karena kalah shiritori.”

“Aku masokis. Kalau kalah, kayaknya aku malah nangis. Nanti kamu hibur aku, ya.”

Dia dengan santainya membocorkan preferensi seksualnya di tengah percakapan, tapi aku mengabaikannya dengan mulus dan berkata, “Jangan sengaja kalah cuma karena pengin dihibur.”

“Aku nggak akan gitu. Tapi mungkin aku bakal nangis bohongan karena pengin dihibur…”

“Kalau aku tahu itu nangis bohongan, ya nggak bakal aku hibur.”

“…Hiks,” kata Junna dengan wajah datar. Yah, balik ke topik awal.

Setelah suit, aku dapat giliran pertama.

Band yang kupilih tentu saja adalah,

“YOHILA.”

“Kamu suka banget, ya.”

Pipi Junna mengendur jadi senyum. Memang aku nggak selalu buka dengan mereka, tapi karena YOHILA adalah band favoritku, kalau ada kesempatan pasti kupakai.

“‘Sorrow & Love’... Memang belum rilis, tapi boleh, kan?”

Itu lagu baru yang dijadwalkan jadi debut major mereka, lagu yang dinyanyikan Junna, atau lebih tepatnya JUN dari YOHILA, di tengah badai topan itu.

“Ya, boleh.” Aku mengangguk.

“Aku saking nggak sabar pengin dengar versi jadinya sampai cuma bisa tidur malam hari*.”

“Itu sehat. Aku bukan cuma tidur malam, pagi sama siang juga. Soalnya aku suka kehidupan malam*, tahu. Aku selalu mikir enak ya kalau selalu tengah malam terus…*”

“Kamu juga mesti benerin ritme hidupmu itu, wahai ‘Gadis Pecinta Malam.’”

Kami melanjutkan shiritori dengan santai sambil sesekali ngobrol. Candaan soal musik yang kami selipkan kapan pun ada kesempatan sudah jadi bahasa kami sendiri.

“…La… LACCO TOWER.”

LACCO TOWER. Band yang nama lucunya menipu karena lagu-lagunya keren dan liriknya dalam serta literer. Aku sempat bingung memilih lagu apa yang mau kusebut, tapi—

“‘Hare After Rain’.”

“…Hmph.”

Alis Junna bergerak tipis. Aku melanjutkan.

“WANIMA.”

“‘Ameagari’.”

“…Oh.”

Kali ini alisku yang bergerak. Junna lalu mendeklarasikan pilihan berikutnya dengan penuh percaya diri.

“MyGO!!!!!”

“‘Hitoshizuku’… eh, tunggu, ‘Refrain.’”

“‘Ame’ yang ditulis pakai kanji hujan. Mustahil bisa kebaca sekali lihat, kan? Selain itu ada juga…”

Junna mengambil pensil mekanik lalu menuliskan “迷星叫”, “影色舞”, dan “詩暮病” di buku not balok yang selalu dia bawa untuk mencatat melodi yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

“‘Mayoii Uta’, ‘Kageiro Mai’… yang terakhir... ‘penyakit Shigure?’ Aku nggak tahu lagu itu. Bacanya apa?”

“‘Amamori Junna’*.”

“Nggak mungkin kebaca begitu.”

“…Kalau ‘Kurimoto Shigure’? Menurutmu tulisannya gimana?”

tanyanya sambil menyerahkan pensil mekaniknya padaku. Setelah ragu sejenak, aku menulis,

“……… Mungkin kayak gini.”

tanpa bermain kata apa-apa, aku menulis ‘Kurimoto Shigure’ sebagai 栗本詩暮. Junna langsung menggembungkan pipinya.

“Gagal. Tambah seribu Depression Points.”

Poin yang mewakili tingkat ketidakbahagiaannya langsung melonjak drastis. Aku menggenggam lagi pensil itu lalu,

“…Bisa juga ditulis begini.” Di samping “栗本詩暮”, kutambahkan “penyakit YOHILA*”.

Junna berkedip.

“Shigure, kamu tahu cara nulis kanji ‘葩’ (hana)…?”

“Sebagai fans garis keras YOHILA, ya tentu saja.”

“…Mm. Memang bukan karakter yang aku harapkan, tapi ya sudahlah. Lulus. Kurang lima ribu Depression Points.”

“Bukan poinnya yang jadi masalah, perubahan emosimu itu terlalu ekstrem, tahu!?”

Yah, selama hasil akhirnya tetap minus sih, harusnya aman.

“Shigure, shiritorinya. Giliranmu, mulai dari ‘go’.”

“Go… go… GO!GO!7188.”

“Bukan Vanillas (go!go!vanillas).”

“Iya. Tadi sempat ragu juga sih.”

“…Hmph?” Junna menatapku lekat-lekat. Lalu dia melanjutkan.

“‘Ame Nochi Ame Nochi Ame’… ‘Ameagari Asphalt Atarashii Kutsu De’… ‘Eiga to Amefuri no Asa’… ‘Kaminari ga Natte Takusan Ame ga Furu Yoru’… ‘Amenohi Dakeno Koi.’”

“Banyak banget.”

“Chirinuruwowaka*.”

Band yang dipimpin gitaris sekaligus vokalis dari GO!GO!7188 yang sudah bubar.

Aku melipat tangan dan menopangkan dagu sambil berpikir. Mataku sempat melirik ponsel di atas meja.

“Nggak boleh googling.”

“…Aku tahu.”

Lalu aku melirik ke arah pintu masuk kelas. Pintu itu terbuka sedikit. Tadi waktu ke toilet, aku memang lupa menguncinya. Junna buru-buru menghitung.

“Batas waktu. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh…”

“‘Fukahi na Haiboku’*.”

“Eh?”

“Aku nggak apa-apa kalah. Aku nggak kepikiran lagu yang berhubungan sama hujan.”

Sebenarnya itu bukan aturan. Tapi entah sejak kapan, kami berdua sama-sama mulai bermain dengan batasan tambahan itu.

Junna menatapku penuh protes.

“…Shigure. Kamu sengaja kalah, ya? Alasan kamu nggak milih Vanillas itu karena kamu nggak kepikiran lagu bertema hujan dari mereka, kan?”

“Kamu kebanyakan mikir.”

“Kamu pengin kalah biar aku hibur…”

“Itu bukan kebanyakan mikir, itu cuma nuduhan liar.”

“Ya, ya.”

Junna mulai mengelus kepalaku, dan aku menggeliat karena geli.

“H-Hey, stop…”

“Rambutmu kayak kucing, Shigure. Kamu lucu banget kalau lagi malu.”

“Kataku berhenti.”

“Kamu selalu bilang aku imut, jadi ini balasanku. Kamu imut, Shigure. Imut banget.”

“………………”

Aku mendadak diam cemberut dan memalingkan wajah darinya.

Menghadap ke pintu yang kini terbuka lebih lebar dari sebelumnya,

“Yamada-san!”

Aku memanggil ke sana.

Terdengar suara, “Bffft!?”

Tangan Junna berhenti, dia mengernyit dan menoleh ke arah pintu masuk.

“…Yamada-san?”

“Jangan cuma ngintip, masuk aja.”

“…………Shigure?”

Junna memandangiku dengan curiga, tapi aku tetap diam menunggu respons. Tak lama kemudian,

“P-Permisi,” muncul seorang gadis glamor berambut cokelat terang, membuka pintu dengan ragu-ragu.

Dengan makeup yang sempurna dan rok pendek, dia benar-benar terlihat seperti gyaru ceria pada umumnya, teman sekelasku, Yamada Haruka.

“…M-Maaf. Soalnya suasana ‘dunia berdua’ kalian terlalu kuat, jadi aku nggak berani masuk, Kurimoto-kun. D-Dan juga—”

Matanya yang mengingatkan pada langit biru cerah menatap Junna. Lalu,

“H-Heh heh,”

wajah Yamada mendadak berubah jadi seringai aneh, dan tawa ganjil lolos dari bibirnya. Bukan cuma itu, saat dia masuk ke dalam, dia menendang sisi pintu dan berseru “Aduh!?” sambil melompat dengan satu kaki, lalu—

“…H-Halo. A-A-A-Amamori-tan! Heh heh heh…”

Dia tertawa lagi, seperti sedang menutupi rasa malunya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Junna justru yang kelabakan dan cuma bisa mengeluarkan, “Hah?” dengan bingung.

Dia menatapku lalu menunjuk Yamada sambil bertanya.

“…………Siapa otaku creepy ini?”

“Hmm. Jadi Yamada-san… suka YOHILA…”

kata Junna dengan ekspresi datar sambil menunduk, setelah mendengar penjelasanku.

Tentang bagaimana Yamada mengetahui YOHILA dari kata kunci “Depression Rock” yang tak sengaja kubocorkan, lalu mencarinya, mendengarkannya, dan curiga kalau vokalisnya, JUN, adalah Junna.

Tentang bagaimana dia akhirnya benar-benar jatuh cinta pada musik YOHILA.

Dan tentang bagaimana aslinya dia adalah mantan otaku suram yang mengalami high school debut, lalu di depan idolanya, Junna alias JUN, dia kembali berubah jadi otaku creepy karena terlalu gugup…

Yamada yang berdiri di samping meja menutupi mulutnya. “Ya ampun.”

“B-Bukan salah Kurimoto-kun, kok!? Ini salahku sendiri karena nyari tahu sendiri! J-J-J-Jadi, Amamori-tan—”

“Jangan panggil aku ‘-tan’, jijik.”

Mendengar ucapan beracun Junna, Yamada kelihatan hampir menangis. Mungkin karena merasa sedikit bersalah melihat reaksinya,

“Yang jijik itu kepribadianmu, tapi menurutku wajahmu lucu,” lanjut Junna seperti sedang menambal ucapannya sendiri.

“…!”

Mata Yamada membelalak, lalu ekspresi yang nyaris menangis itu meleleh jadi senyum belepotan.

“L-Lucu… ehehe. Amamori-ta… san bilang aku lucu… guhehe. Ueheheheheh.”

“Masih jijik.”

Wajah Yamada langsung terdistorsi oleh penderitaan. Junna malah sedikit tersentak. “Ugh.”

“…Tapi tetap lucu.”

“Dyufufufu.”

“Jijik.”

“Ugh…”

“Lucu.”

“Fuhehehehe.”

“Jijik.”

“Uuh…”

“Jangan mainin Yamada-san. Ini jadi kayak permainan cabut kelopak bunga, ‘suka, nggak suka.’”

Ekspresi Yamada berubah tiap kali Junna mengulang kata “lucu” dan “jijik”.

Ketika akhirnya Junna bergumam, “…Jijik-imut,” Yamada memasang wajah yang sulit dijelaskan, tapi pada akhirnya rasa bahagianya pasti menang, karena dia tertawa kecil, “Fuhihi.”

Hujan masih turun di luar. Aku menekan pelipisku seolah sedang menahan migrain.

“Jadi,” kataku sambil menatap Junna dan Yamada bergantian,

“alasan aku manggil kamu kemari, Yamada-san, adalah karena aku mau ngajak kamu ikut ‘Perkumpulan Hari Hujan’ ini.”

Sementara Yamada berseru kaget, “Eeeeh!?”, Junna cuma sedikit mengernyit.

“N-N-N-Nggak mungkin! Itu terlalu terhormat buatku. Orang kayak aku nggak mungkin ikut mengganggu waktu berdua kalian yang berharga…”

“Nggak tiap hari juga. Sesekali aja cukup. Kalau begitu—”

Aku menatap lurus ke arah Junna dan berkata, “bukankah ada kemungkinan kamu bisa sedikit lebih nyambung sama orang selain aku, misalnya teman sekelasmu?”

“Sama orang selain Shigure…”

Junna menatap balik lekat-lekat. “Maksudmu, aku harus latihan ngobrol sama orang?”

Setelah melirik Yamada yang sedang gugup,

“…………Mm.” Dia mengangguk kecil.

“Aku paham.”

“Wah. Serius!?”

“Namun—”

Junna mengangkat jari tengahnya dan menambahkan dengan suara dingin, “ada satu syarat.”

“…Mbak, pakai jari telunjuk yang normal kek.”

“Kamu harus bisa jawab semua soal kuis intro lagu YOHILA dengan benar. Kalau bisa, aku akan mengakui perasaanmu tulus dan meluluskanmu. Itu syarat buat masuk ke ‘Klub Apresiasi Depressive Rock’ kami.”

“Oh iya… kita punya klub itu, ya. Eh, aku juga anggota?”

“Miss Pessimist.”

“…Benar.”

Yamada menjawab seketika begitu intro-nya terdengar, dan Junna berhenti bermain.

Dia membeku dengan ekspresi kosong selama kira-kira lima detik, lalu tangan kirinya bergerak lagi di fret gitar.

“Oxygen-Deprived Mermaid.”

Suara Yamada bertumpuk dengan bunyi arpeggio.

Junna yang tadi seperti ditekan tombol pause, bergumam getir,

“…………Benar. N-Nggak buruk.”

Matanya yang biasanya setenang danau bening mulai goyah, tatapannya pun kehilangan arah. Sisi jarinya yang memegang pick mengetuk-ngetuk body gitar warna surf green itu.

Lalu dia menatap tajam Yamada, menantang.

“Kalau yang ini?”

“I Can’t Go Back to Asphalt, But…”

“…B-Benar… Tapi yang ini jelas nggak bakal bisa—”

“Gonna KI☆LL☆ The Guy Who Stole My Umbrella.”

“…………Shigure.”

Junna menoleh ke arahku yang berdiri di sampingnya. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tapi mata yang goyah dan bibir yang bergetar jelas memperlihatkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

“Otaku ini serem.”

“…Iya. Aku juga mulai agak takut sekarang.”

Bagaimana bisa dia jawab semua lagu itu cuma dari satu atau dua nada, bahkan sebelum satu frasa pun selesai?

Bahkan buat maniak YOHILA sepertiku, kecepatan jawab seperti itu nyaris mustahil.

Oh iya, yang lagu terakhir itu juga dia jawab dengan sempurna.

Itu lagu denpa bergenre “Depression Digi-Rock” yang dibuat JUN saat marah besar gara-gara ada orang mencuri payungnya, memakai alat-alat yang jarang dia gunakan seperti autotune dan synthesizer. Lagunya cuma pernah dirilis online dan tidak pernah keluar versi fisiknya.

“Hmph. Begitu doang.”

Yamada memasang wajah paling smug yang pernah kulihat.

“Setiap satu nada yang dimainkan JUN-sama menembus sampai ke seluruh sel tubuhku! Begitu aku dengar, tubuhku langsung bergetar, dan semua enam puluh triliun mitokondriaku serempak meneriakkan jawabannya!”

“Cara ngomongmu itu jijik banget.”

Ekspresi datar Junna akhirnya benar-benar pecah. Dia memeluk gitarnya erat.

“Terus, jangan pakai ‘-sama’ juga…” katanya gemetar. Bahkan bahasa formalnya mulai luntur.

“Fwooooooooooah!”

“…!?”

Junna sampai melompat saat Yamada tiba-tiba mengeluarkan teriakan aneh. Yamada memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“S-Sial! Nggak nyangka aku bakal ngelakuin itu! Ini padahal kesempatan buat dengar JUN-sa…n main live! Kenapa… kenapa aku malah jawab secepat itu!? Aku goblok, ya!? Hei, aku goblok, ya!? Whooooooooooah!”

Bang, bang, bang, bang! Dia mulai membenturkan dahinya ke meja di dekatnya seperti sedang headbang. Emosi orang ini kenapa kacau banget? Junna benar-benar ketakutan.

“Y-Yamada-san! Sadar dong—”

“Yang terakhir.”

Junna berkata pelan. Bahkan sebelum aku turun tangan, Yamada sudah mengangkat wajahnya.

“Eh?”

“…Dengar baik-baik,” ucap Junna sambil kembali memposisikan gitarnya.

Lalu, dia mulai bermain.

Itu lagu yang belum pernah kudengar.

Riff gitar yang tajam menggema di udara lembap, membelahnya. Bunyi yang cepat dan melesat, penuh rasa kecepatan, tapi sekaligus punya gelombang halus dan tempo yang naik-turun.

Jari-jari Junna memainkan senar dengan teknik mahir seperti bending dan pulling, menanamkan emosi ke dalam tiap notnya.

Itu nada yang membuatmu merasakan pertentangan, kesedihan di dalam kegembiraan, ketenangan di dalam kemuraman, dan keputusasaan yang hidup berdampingan dengan harapan, sambil menyanyikan melodi yang liris.

Melodi yang entah kenapa terasa familiar.

Aku teringat kembali pada senandung Junna. Sebuah jejak samar darinya.

Begitu harmonik distorsi itu bergaung, “jawabannya” langsung muncul di kepalaku.

“…! Lagu ini—”

Aku melirik Yamada. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka, dan dia hanya mendengarkan permainan Junna dalam keadaan setengah trance. Bahkan setelah intro-nya selesai, dia tetap tak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab.

Ya jelas. Itu lagu yang belum pernah dia dengar. Tapi,

“‘Sorrow & Love’.”

Aku tahu. Meski belum pernah mendengarnya, aku tahu ini lagu apa. Harmoni transparan yang dimainkan di atap sekolah itu, pada hari itu, di saat itu.

Mendengar jawabanku, Junna tersenyum lalu berhenti bermain.

“…Benar, Shigure.”

Badai suara itu berhenti, lalu keheningan turun. Suara hujan. Sisa-sisa gema membelai hatiku.

“Keren.”

“Hmph.”

Saat Junna memujiku, aku langsung memasang wajah smug terbaikku. Lalu aku menoleh ke arah Yamada. Dia…

“…………Wh-Whoooooooooooooaaaaah~~~~!”

Sudah tenggelam dalam haru. Menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca, pipinya memerah, seluruh tubuhnya gemetar.

“Ini… ini bagus banget… ini………”

Kosakatanya mati karena emosinya terlalu meluap.

“Live-nya JUN-san… maksudku, Amamori-san, gila banget! Haaah… ini yang terbaik… rasanya aku bisa hidup sisa umurku cuma dari afterglow ini saja, apa pun yang terjadi! Segila itu!”

“…Lebay,” kata Junna jengah. Yamada mengusap air mata di sudut matanya lalu tertawa.

“Aku memang nggak lulus, tapi… iya. Aku puas banget! Makasih, Amamori-san, Kurimoto-kun. Sudah memberiku kesempatan yang begitu berharga. Sebagai fans berat YOHILA, mulai sekarang aku akan terus mendukung kalian dari balik bayangan—”

“Tunggu.”

Saat Yamada hendak pergi, jari Junna menangkap ujung seragamnya dan menghentikannya. Terkejut, Yamada menoleh balik, dan Junna menatapnya dari bawah dengan tatapan tajam.

“…Aku nggak bilang kamu gagal. Syarat buat lulus memang harus jawab semua soal dengan benar, tapi… yang terakhir tadi lagu yang belum rilis, jadi nggak dihitung.”

“Eh?”

Yamada benar-benar melongo.

“Nggak dihitung? Berarti—”

“Iya, kamu lulus.”

Junna melepaskan pegangannya lalu mengangguk. Dengan wajah datarnya, dia berkata, “Cinta Yamada-san pada YOHILA, keotakuanmu, itu asli… Aku dan Shigure tidak punya pilihan selain mengakuinya.”

“Benar kata Junna. Cara kamu mendengarkan mereka dalam banget, padahal kamu baru tahu belum lama. Sebagai sesama fans berat YOHILA, aku jadi sadar kalau aku juga nggak boleh kalah! Kamu lulus dengan warna-warna terbang, nggak diragukan lagi.”

“…! A-Amamori-san… Kurimoto-kun…”

Wajah Yamada mengerut haru, lalu dia membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah mau bersorak. “Makasihhhhhhh—Heh!?”

Dia mencoba memeluk Junna, tapi langsung ditahan gitar yang dipakai sebagai tameng.

“Jarak pribadi. Punyamu error, ya?”

“Ngomong apaan, kamu sendiri juga begitu, Junna.”

“Fuhehehehe…”

Aku tersenyum kecut melihat balasan Junna. Satu tetes darah merah mengalir dari hidung Yamada saat dia tertawa, mungkin karena tadi kebentur gitar.

“…Aku senang banget. Nggak nyangka aku bisa terus menghirup udara yang sama dengan Amamori-tan… guehehehehe.”

“Jijik. Jangan pakai ‘-tan’. Dan kamu kotor.”

Junna mendorong wajah Yamada yang mimisan itu menjauh lalu memalingkan muka. Suaranya tetap datar, kata-katanya tetap tajam. Tapi,

“…Shigure. Boleh nggak aku cabut kelulusannya?” Wajah yang dia tunjukkan saat bertanya itu entah kenapa terlihat bahagia.

“Hei, Jun-chan!”

Keesokan harinya, sepulang sekolah. Begitu Yamada yang datang ke ruang AV bersamaku melihat Junna, dia langsung melambaikan tangan dengan semangat dan menyapanya.

Jun-chan? Cepat juga akrabnya.

“…Yamada-san. Kamu datang lagi hari ini.”

Atau begitulah yang kupikir, tapi Junna tetap seperti biasa. Dia melepas headphone-nya lalu menjawab dengan tatapan sayu bermata setengah terbuka dan wajah datar. Bahasa formal yang tadi kukira sudah hilang ternyata kembali lagi.

“Mmm. Aku sempat mikir mungkin aku akan mengganggu… tapi aku ingin bertemu denganmu. Jadi aku datang. Ehehe.”

“Jijik.”

Lidah tajamnya juga tetap sehat walafiat. Tapi, fakta bahwa dia tidak bilang Yamada itu pengganggu dan menyebalkan berarti dia mungkin sebenarnya tidak terlalu keberatan.

“…Ngomong-ngomong, bisa berhenti manggil aku begitu? Kalau orang lain dengar, mereka bisa sadar kalau aku juga pakai nama JUN.”

“Eh, nggak apa-apa.”

Yamada melangkah mendekati Junna, yang sudah mengalihkan pandangannya lagi ke smartphone.

“Aku cuma manggil kamu ‘Jun-chan’ kalau nggak ada orang lain kok… ini SPE☆SI☆AL☆”

Sambil meniupkan kiss pada bagian “chu”-nya.

“Jijik…”

Junna melempar komentar beracunnya lagi.

Namun, Yamada yang sepertinya sudah membangun toleransi, sama sekali tidak goyah, malah tampak senang sambil terkikik, “Fuhihi.” Kuat juga dia.

“Jijik.”

“Berhenti bilang ‘jijik’ terus dong. Kamu bot ‘jijik’, ya?”

“Lucu.”

“…!? Jun-cha—”

“Kamu lucu, Shigure.”

“Aku!?”

“…zuun… meramera…”

“Jangan cemburu, Yamada-san…”

“‘Mela!’”

“Itu lagu Ryokuoushoku Shakai.”

Balas-balasan kami berjalan cepat tanpa ampun. Aku menaruh tas enamel-ku di atas meja panjang, lalu, “…………”

Setelah beberapa detik diam, aku duduk di baris belakang Junna.

Junna mengeluarkan suara terkejut. “Eh?”

Lalu dia menatapku dengan tatapan penuh protes.

“Shigure. Kenapa kamu duduk di sana?”

Yamada duduk di baris depan Junna, dan kursi di sebelah Junna jelas-jelas kemungkinan besar sudah disiapkan untukku. Dan alasan kenapa aku sengaja tidak duduk di situ adalah,

“Yah, soalnya…”

“Soalnya apa?”

Jangan buru-buru dong. Aku melirik melewati Junna yang cemberut ke arah Yamada yang mengamati percakapan kami dengan tatapan tajam, lalu melanjutkan.

“Kalau ada orang lain, itu tuh… agak bikin malu, tahu? Duduk sedeket itu.”

Kalau cuma kami berdua, aku sudah terbiasa dan nggak terlalu terganggu. Tapi kalau ada orang ketiga yang melihat, rasanya beda. Kalau lawannya orang yang jauh lebih tua seperti Akagi sih nggak terlalu masalah, tapi kalau seumuran, aku jadi lebih sadar.

Sejak keributan itu kejadian saat Junna mulai masuk sekolah seperti biasa dan jadi pusat perhatian seluruh murid aku jadi makin sadar bagaimana orang lain melihat dan memikirkan kami.

Mendengar jawabanku, Junna menyipitkan mata. “Oh?”

“Jadi kamu bukannya nggak suka?”

“W-Well… iya. Aku sih nggak nggak suka.”

“Kamu cuma malu?”

“…Iya.”

“Begitu ya. Kalau begitu—”

Junna berdiri lalu berpindah tempat. Dia mendorongku makin masuk ke kursi.

“…!? H-Hey, tunggu!”

“Nggak mau,” katanya lalu duduk di sebelahku.

Kemudian, saat aku mencoba menjauh, dia langsung melingkarkan kedua tangannya ke lenganku,

“Biar kamu makin malu,” bisiknya. Dengan wajah datar.

“…………”

Meski begitu, telinganya samar-samar memerah.

Melihat itu, Yamada menjerit kecil. “Fwaaaaaaaaaah!”

“Ya ampun! Jun-chan yang kelihatannya cool padahal sebenarnya clingy dan agresif, sama Kuri-chan yang kelihatannya cool padahal aslinya pemalu, dua-duanya imut banget!”

“Siapa juga Kuri-chan!?”

“Kuri-chan imut sih, apa aku panggil kamu begitu juga ya?”

“Jangan, tolong…”

Aku mulai capek melihat Yamada dan Junna mulai sinkron di level yang aneh.

Udara yang makin gerah karena musim panas semakin mendalam sebenarnya didinginkan AC, tapi keringat lengket yang nggak nyaman tetap merembes di punggungku.

“Kuri-chan. Hari ini kita ngapain?” tanya Yamada.

Sebelum aku sempat jawab, Junna yang lebih dulu bicara.

“Ini adalah ‘Pertemuan Mengenang Kenangan Manis yang Kita Buat Bersama Edisi Juni Tahun Pertama’. Kita akan mendengarkan percakapan kita yang direkam selama bulan Juni lalu tenggelam dalam masa lalu yang manis… benar kan, Kuri-chan?”

“Nggak ada pertemuan begituan. Dan lelucon ‘aku merekam semua percakapan kita’ itu sama sekali nggak lucu, jadi tolong berhenti. Sekalian yang ‘Kuri-chan’ juga.”

“Mm… Oke. Aku berhenti manggil kamu Kuri-chan. Shigure.”

Penekanan aneh pada bagian “manggil kamu Kuri-chan” itu bikin merinding, tapi aku yakin itu juga cuma bercanda. Paling nggak, aku mau percaya begitu.

Kelembutan dan berat tubuh Junna yang bersandar padaku, lengannya masih terkait di lenganku. Saat aku mulai limbung karena aroma manis tubuhnya, Yamada bertanya lagi.

“Jadi? Kuri…moto-kun. Kita sebenarnya ngapain? Dan biasanya kalian ngapain berdua?”

“Petunjuk. Kedap suara, terkunci, cowok dan cewek berdua di dalam ruangan tertutup—”

“Kebanyakan cuma ngobrol,” jawabku sambil mengabaikan candaan berlapis Junna.

“Sambil dengerin Junna latihan gitar. Selain itu, kami sering saling cerita soal hal yang lagi kami suka, atau nonton video rekomendasi. Kadang juga nonton film di layar.”

“Mesra banget, wkwk.”

“Kalau jujur sih, sebenarnya nggak penting kami ngapain. Selama sama Junna, apa pun terasa menyenangkan.”

“Itu pamer banget, wkwkwk.”

“S-Shigure… jangan tiba-tiba ngomong hal yang bikin jantungku deg-degan gitu.”

“Jun-chan yang malu-malu gini imut banget, aku bisa mati. Serius.”

“Aku saking senangnya sampai serangan jantung…”

“Jun-chan yang bahagia itu terlalu berharga, aku nggak kuat… emosiku hancur!”

Tepat saat “wkwk” Yamada berkembang jadi “emosiku hancur”, aku mengembalikan jalur percakapannya.

“Namun, hari ini. Ada sesuatu yang harus banget kita lakukan.”

“Sesuatu yang harus dilakukan? Kira-kira apa, ya?”

“Nggak… aku nggak mau dengar.”

Yamada memiringkan kepala. Aku menahan Junna yang sudah mau memasang headphone lagi, lalu melanjutkan.

“Kita harus belajar. Buat ujian.”

“………………”

Cahaya dari mata Junna dan Yamada langsung lenyap. Bahkan tak ada suara hujan yang bisa mengisi keheningan itu.

Ujian akhir semester pertama tinggal kurang dari seminggu lagi.

Seberkas cahaya musim panas merembes masuk lewat celah tirai tebal penutup cahaya.

Cuaca cerah, dan kegiatan klub sore yang biasanya berlangsung telah dihentikan sejak dua hari lalu karena masa ujian tepat satu minggu sebelum ujian akhir yang dimulai di tengah minggu.

Untuk tujuan apa? Ya tentu saja buat belajar.

Bukan buat ngobrol.

“Oke, pertanyaan!”

Yamada menghentikan penanya yang bergerak lalu mengangkat tangan dengan semangat. “Jun-chan dan Kurimoto-kun, kalian berdua awalnya gimana bisa kenal!?”

“…Yamada-san—”

“Dia ngegodain aku di sini,” jawab Junna, memotong teguranku.

“Suatu hari sepulang sekolah, pas aku lagi baca, dia tiba-tiba ngajak bicara… lalu tiba-tiba menyentuhku.”

“Keberatan!”

Aku meninggikan suara dan melotot ke Junna di sebelahku.

“Buku yang dibaca Junna waktu itu bukuku, dia ketinggalan. Makanya aku nyapa dia, jadi bagian ‘ngegodain’ itu fitnah. Soal menyentuh… dia hampir membocorkan spoiler novel misteri yang belum selesai kubaca! Aku cuma refleks menutup mulutnya dengan tangan!”

“Meski begitu, itu pertama kalinya ada orang menyentuh bibirku, jadi secara praktik, kamu mencuri first kiss-ku… Tanggung jawab itu lebih berat daripada spoiler, bukan?”

“Jangan ngaco. Dari semua jenis spoiler, yang paling kejam itu trik dan pelaku dalam novel misteri. Lagian itu bukan ciuman. Jadi aku tidak bersalah.”

“Hakim Yamada. Bagaimana putusannya?”

“…Hmm.”

Yamada memejamkan mata dan berpura-pura berpikir dengan wajah serius. Dia mengetuk meja dengan penanya lalu mengumumkan,

“Aku terlalu iri, jadi kalian berdua bersalah! Hukumannya: hidup bahagia selamanya!”

“Aku menerima hukumannya dengan hormat. Benar begitu, kan, Shigure?”

“Iya, iya.”

“…Dua kali ‘iya’ dan jawabannya setengah hati. Tambah seribu dua ratus Depression Points.”

“Yang harus kamu tambah itu nilai ujianmu… oke?” kataku sambil menghela napas, lalu menunjuk buku latihan matematika yang sedang dikerjakan Junna.

Kemudian aku menoleh ke sisi lain dan memperingatkan Yamada-san, “Yamada-san. Tolong cuma tanyakan hal-hal yang berhubungan dengan belajar.”

Bahunya Yamada langsung turun. “…Oke,” katanya, lalu mulai menghafal kosakata bahasa Inggris.

Aku menghela napas sekali lagi dan kembali menatap soal matematika di depanku.

Sesaat hening mengalir.

Ruang AV sepulang sekolah tanpa suara hujan terasa sunyi, dan bunyi ujung pena yang menggesek, lembaran yang dibalik, dengung AC, sampai suara napas yang samar, semuanya terdengar anehnya begitu jelas.

(shu…)

Aku berusaha menelan ludah yang terkumpul di mulutku sepelan mungkin. Perhatianku justru lebih tertuju pada orang-orang di sampingku daripada buku latihan di tanganku.

(Aku nggak bisa fokus…)

Junna di kananku, Yamada di kiriku.

Aku diapit dua cewek.

Bagaimana bisa akhirnya jadi susunan duduk begini?

Ada dua alasannya.

Pertama, ruang AV punya meja panjang dan bangku panjang.

Tidak seperti meja kursi biasa, semua itu tidak bisa dipindah-pindahkan, jadi kalau mau belajar bersama, kami harus duduk berdampingan.

Kedua, Yamada menolak duduk di sebelah Junna sambil bilang hal-hal seperti, “Itu terlalu terhormat,” “Aku bakal terlalu gugup,” dan “Aku nggak bakal bisa belajar sama sekali.”

Dan hasilnya—

“…Shigure, tanganmu berhenti.”

“Ada yang nggak kamu ngerti? Yang mana, yang mana?” Lahirlah situasi “bunga di kedua tangan” ini. Junna sedang menatapku, dan Yamada sedang mengintip buku latihanku.

“…J-Jangan pedulikan aku.”

Mereka terlalu dekat.

Kalau bahu Junna menempel ke bahuku, itu sih sudah biasa. Tapi kenapa Yamada juga sedekat itu sampai bahu kami hampir bersentuhan?

(Apa sense jarak pribadinya rusak gara-gara terlalu memaksakan diri jadi extrovert padahal aslinya gloomy? Yang repot, dia sendiri nggak sadar… meski Junna yang sadar penuh dan tetap sengaja mendekat juga sama-sama merepotkan.)

Campuran aroma manis bunga dan wewangian citrus yang segar menggelitik hidungku. Konsentrasi ringkih seorang anak SMA laki-laki sedang dihancurkan tanpa ampun.

“Shigure?”

“Kurimoto-kun?”

Karena tanganku tak kunjung bergerak, Junna dan Yamada sama-sama mencoba mengintip wajahku dari kanan dan kiri bersamaan. Aku sudah tak tahan lagi dan,

“…………Aku ngantuk.”

Aku membenamkan wajah ke buku latihan yang masih lebih dari setengah kosong dan pura-pura kurang tidur. Dari atas kepalaku, aku bisa merasakan Junna dan Yamada saling berpandangan.

“Padahal yang nyuruh belajar itu kamu, Shigure…”

“Jangan-jangan Kurimoto-kun ini sebenarnya anak nggak berguna?”

“Zzz….”

Karena tak sanggup membalas, aku pura-pura tidur.

Setelah itu, belajarku berjalan selambat siput, dan akhirnya bel pulang berbunyi, mengguncang udara kering di ruangan.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa