Kokou no Hana to Yobareru Eikoku Bishoujo, Gimai ni Nattara Fukiyou ni Amaete Kita Volume 2 Epilog

"Ah, itu dia!" (Siswi)

"Shirakawa-kun, kamu luar biasa!" (Siswi)

Saat aku keluar dari stadion setelah pertandingan, sekelompok siswi dari sekolahku yang rupanya sudah menunggu langsung memanggilku.

"Serius deh, memukul tiga home run itu gila banget!" (Siswi)

"Memang pantas jadi cleanup hitter kami! Aku mau tanda tanganmu!" (Siswi)

Tidak, tunggu. Tanpa kusadari, aku sudah dikerumuni.

Apa... ini...?

"Wah... Bukannya jumlah penggemarnya lebih dari tiga kali lipat biasanya?" (Kapten Tim)

"Sialan, kenapa selalu Kento dan Shuuto...!" (Shouta)

"Kapten, aku juga mau dikerubungi cewek..." (Wakil Kapten Tim)

Mendengar suara rekan-rekan setimku, aku melirik ke arah mereka dan melihat wakil kapten, kapten, dan Shouta menatapku dengan penuh iri.

Saat mengalihkan pandangan, kulihat Shuuto juga berada dalam situasi yang sama, dikelilingi para siswi.

Yah, bagi Shuuto ini bukan hal baru. Dia mungkin akan langsung mengusir mereka sendiri, jadi itu bukan urusanku... tapi kenapa aku juga...?

Selama ini paling hanya tiga atau empat siswi yang datang mengajakku bicara setelah pertandingan...

"Uh... terima kasih atas dukungannya..." (Kento)

Karena mereka sudah menyemangatiku, setidaknya aku memutuskan untuk mengucapkan terima kasih.

Begitu aku melakukannya, jeritan bernada tinggi langsung terdengar dari sekelilingku, yang sejujurnya membuatku sedikit ketakutan.

Serius, aku harus bagaimana sekarang...?

"Maaf semuanya. Dia sedang lelah, jadi bisakah kalian membiarkannya pergi?" (Nadeshiko)

Saat aku kebingungan menghadapi situasi yang tidak biasa ini, terdengar suara Kujouin-san dari balik kerumunan para siswi.

"Kujouin-san..." (Kento)

"Tapi..." (Para Siswi)

Mungkin mereka tidak sanggup menentang Kujouin-san, karena para siswi itu langsung terdiam.

Dengan senyum lembut, Kujouin-san kembali berbicara.

"Terima kasih atas dukungan kalian hari ini. Kalian masih punya banyak kesempatan untuk berbicara dengannya di sekolah, jadi jangan ragu untuk menghampirinya di sana nanti." (Nadeshiko)

Dengan senyum sempurna yang tidak menyisakan ruang untuk membantah, Kujouin-san dengan mudah membungkam kerumunan.

Mungkin karena tidak ingin dibenci oleh seseorang yang sepopuler dirinya di sekolah, para siswi itu pun diam-diam mundur.

...Bukankah pengaruhnya agak terlalu besar...?

"Kamu benar-benar populer, ya?" (Nadeshiko)

Setelah kerumunan siswi itu menghilang, Kujouin-san menatapku sambil tersenyum sedikit geli.

"Semuanya begitu mendadak sampai aku benar-benar lengah..." (Kento)

"Itu artinya kamu sudah menjadi pemain bintang sungguhan, Kento-kun. Yang lebih penting, adik perempuanmu yang manis sedang menunggumu." (Nadeshiko)

Sambil berkata begitu, Kujouin-san sengaja mengalihkan pandangannya ke suatu arah.

Mengikuti arah tatapannya, aku menoleh dan melihat Sophia mengintip dari balik sudut bangunan.

...Sedang apa dia?

"Sepertinya dia kesulitan keluar karena kerumunan tadi. Aku akan memberi tahu pelatih, jadi pergilah menemuinya, ya?" (Nadeshiko)

"Aku menghargai perhatianmu, tapi aku bisa bicara dengannya di rumah..." (Kento)

"Aku yakin ada sesuatu yang ingin kalian berdua katakan sebelum euforia pertandingan ini menghilang, kan?" (Nadeshiko)

Menurutku sebenarnya tidak perlu berbicara sekarang juga, tetapi senyum ceria Kujouin-san seolah berkata, "Sudah, jangan banyak alasan dan cepat pergi," sehingga aku tidak bisa membantah.

Akhirnya, tanpa protes, aku berjalan menghampiri Sophia.

"Ah..." (Sophia)

Begitu aku sampai di hadapannya, Sophia mengalihkan pandangan dengan gelisah, seolah tidak tahu harus berbuat apa.

Dia tampak canggung.

"Terima kasih sudah menyemangatiku. Dengan begini, Sophia, kamu resmi menjadi manajer tim bisbol." (Kento)

Aku tidak tahu apa yang membuatnya ragu, tetapi untuk mempermudah suasana, aku berbicara sambil tersenyum.

Mendengar itu, ekspresinya langsung melunak menjadi penuh kebahagiaan.

Dia mulai memainkan ujung rambutnya dengan jari-jarinya sebelum perlahan membuka mulut.

"Seharusnya aku yang berterima kasih... Semua ini berkatmu, Kento-kun..." (Sophia)

"Ini karena kamu sudah bekerja keras, Sophia." (Kento)

Aku hanya sedikit membantunya. Alasan dia bisa bergabung adalah karena kerja kerasnya sendiri.

Aku tidak boleh mengabaikan hal itu.

Kalau saja tidak ada campur tangan yang tidak perlu, dia pasti bisa bergabung ke klub hanya dengan usahanya sendiri.

...Apa tidak ada yang bisa mengurus wali kelas itu?

Saat sedang memikirkan Kuzumine-sensei, Sophia tiba-tiba terdiam.

Dia terlihat aneh. Gelisah, bahkan.

Apa lebih baik kuberi dia waktu?

Lagipula kami masih bisa bicara di rumah.

"Maaf, aku harus mengejar bus. Kita lanjut bicara nanti di rumah." (Kento)

Aku membalikkan badan.

"T-Tunggu..." (Sophia)

Dari belakang, dia menarik ujung lengan bajuku.

"Sophia?" (Kento)

Terkejut karena dia menghentikanku, aku menoleh ke arahnya.

Wajah Sophia memerah terang, sementara matanya yang berkaca-kaca menatapku.

"Aku tidak ingin perasaanku ketahuan... jadi aku akan mengatakannya dalam bahasa Inggris... Kento-kun, hari ini kamu benar-benar keren... Dan mengetahui kalau kamu berusaha keras demi aku membuatku sangat bahagia... Terima kasih banyak..." (Sophia)

Entah kenapa, dia mengatakannya dalam bahasa Inggris meski tidak terlihat terlalu gugup.

Aku mengerti bagian "Thank you" di akhir, tapi... kenapa harus bahasa Inggris?

"Maaf, tapi bisa kamu ucapkan dalam bahasa Jepang?" (Kento)

"...Maaf, tidak bisa." (Sophia)

Karena penasaran dengan apa yang dia katakan, aku memintanya mengulanginya, tetapi dia hanya menggeleng sambil tersenyum canggung.

Sepertinya dia memang sengaja berbicara dalam bahasa Inggris agar aku tidak mengerti.

"Ada sesuatu yang terjadi?" (Kento)

Sophia memang kadang bertingkah aneh, tetapi hari ini terasa berbeda dari biasanya.

Saat kutanya, dia hanya mengangkat bahu.

"Sekarang aku sudah bisa menjadi manajer, rasanya aku tidak bisa lagi menahan emosiku... Tapi yang lebih penting, kamu harus pergi, kan?" (Sophia)

Setelah berkata begitu, dia dengan lembut mendorong punggungku.

Ini benar-benar tidak seperti dirinya.

"Tidak apa-apa, untuk sekarang aku hanya sedang memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar, benar-benar berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untukku, Kento-kun." (Sophia)

Sophia terus berbicara sambil mendorongku maju.

Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi rasanya dia sedang bergumul dengan sesuatu lagi.

"Kalau ada yang mengganggumu, ceritakan saja padaku, ya...?" (Kento)

"Aku tahu. Sekarang, orang yang paling kuandalkan adalah kamu, Kento-kun." (Sophia)

Aku sama sekali tidak menyangka Sophia, yang biasanya tidak terlalu terbuka, akan mengatakan hal seperti itu.

Justru karena itulah rasanya aneh. Namun setelah mendengarnya berkata sejauh itu, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya.

"Begitu ya. Kalau begitu, teruslah mengandalkanku kapan saja." (Kento)

"Ya, akan kulakukan. Sungguh, terima kasih." (Sophia)

Setelah mengatakan itu, dia melepaskan tangannya dari punggungku.

Aku berbalik, ingin melihat ekspresinya, tetapi dia sudah lebih dulu membalikkan badan dan berjalan pergi, seolah menghindari kerumunan orang.

...Sebenarnya ada apa dengannya?

Sudut Pandang Sophia

Sekitar sepuluh menit sebelumnya...

"Selamat karena berhasil bergabung dengan klub, Sophia-chan." (Nadeshiko)

Setelah pertandingan berakhir dan Kento-kun dengan luar biasa memukul tiga home run, Nadeshiko-senpai mengucapkan selamat kepadaku.

Di belakangnya, ketiga manajer perempuan ikut memberikan ucapan selamat satu per satu.

Aku menundukkan kepala untuk berterima kasih kepada mereka semua sambil berusaha tetap tenang, tetapi di dalam hati aku sangat bahagia.

Bagaimanapun juga, akhirnya aku berhasil menjadi manajer tim bisbol, sesuatu yang dulu sempat kurelakan. Tentu saja aku bahagia. Dan lebih dari itu, mulai sekarang aku akan punya lebih banyak waktu bersama Kento-kun. Hanya memikirkan itu saja sudah membuat jantungku berdebar.

Mulai sekarang, hubungan kami pasti akan menjadi semakin dekat.

"Ngomong-ngomong... tadi aku belum sempat membahas ini, jadi sekalian saja sekarang." (Nadeshiko)

Saat aku diam-diam merayakannya di dalam hati sambil tetap memasang ekspresi tenang seperti biasa, Nadeshiko-senpai tiba-tiba mengangkat suatu topik dengan cara yang membuatku merinding.

Di saat seperti ini, apa yang ingin dia katakan...?

"Klub bisbol kami punya aturan dilarang berpacaran... kamu yakin tidak masalah?" (Nadeshiko)

"...Hah?" (Sophia)

Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang baru saja dia katakan.

Apa aku salah dengar?

Aku pasti salah dengar, kan?

Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungku sambil mati-matian berharap bahwa aku memang salah dengar.

Namun...

"Begini, karena tim bisbol kami sangat kuat, ada beberapa pemain yang bercita-cita menjadi atlet profesional. Karena itu, ada juga siswi yang ingin menjadi manajer hanya supaya bisa mendekati mereka." (Manajer Lain)

"Iya, iya. Dan karena itu bisa memicu berbagai masalah yang tidak perlu, aturan ini sudah diterapkan sejak lama. Di sekolah sebenarnya aturan ini cukup terkenal." (Manajer Lain)

"Kurogane-kun memang sangat populer, tapi tidak banyak siswi yang bercita-cita menjadi manajer gara-gara aturan itu. Yah, kalau kami sih berpikir kalau bisa dekat dengan mereka sebagai manajer dan membangun hubungan, peluang kami akan lebih besar setelah mereka lulus nanti. Makanya kami tetap jadi manajer." (Manajer Lain)

Ketiga manajer perempuan itu menimpali dari belakang Nadeshiko-senpai, menyodorkan kenyataan pahit kepadaku.

Apa ini? Tidak ada yang pernah memberitahuku soal ini...!

Ini benar-benar pertama kalinya aku mendengarnya...!?

Dan kalau memang seterkenal itu, kenapa aku sama sekali belum pernah mendengarnya?!

"N-Ngomong-ngomong... apa yang terjadi kalau ada yang melanggar aturan itu...?" (Sophia)

Dengan tenggorokan yang terasa kering, aku berhasil memaksakan diri mengajukan pertanyaan kepada Nadeshiko-senpai.

"Kalau melanggar, pemain dan manajernya sama-sama harus keluar dari tim... Ah, tapi selama belum resmi berpacaran, kalian tetap boleh jalan bareng dan semacamnya!" (Nadeshiko)

Nadeshiko-senpai menambahkan kalimat itu seolah ingin menghiburku.

Itu sama sekali tidak menghibur.

Yang benar saja...!?

Aku sudah lama memimpikan menjadi manajer tim bisbol, dan sudah menunggu momen ini begitu lama!

Tapi setelah akhirnya berhasil bergabung, ternyata ada aturan dilarang berpacaran!?

Apa itu berarti kalau aku ingin tetap menjadi manajer, aku tidak bisa berpacaran dengan Kento-kun...!?

Tiba-tiba saja aku merasa sangat ingin langsung mengundurkan diri dari tim.

Tetapi tentu saja, setelah bekerja sekeras itu dan menerima begitu banyak bantuan dari berbagai orang, terutama dari orang yang kucintai, aku tidak mungkin langsung berhenti begitu saja.

Lebih dari itu, setelah akhirnya bisa melihat harapan di depan mata, tidak mungkin aku menyerah semudah itu.

Jadi setidaknya...

Kenapa semua ini harus terjadi padakuuuuuuuuuu!?

Yang bisa kulakukan hanyalah menjerit dalam hati.

Ya, rasanya aku benar-benar ingin menangis.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa