“Aku memang bilang serahkan padaku, tapi... sebenarnya aku harus mulai dari mana...?” (Sophia)
Saat jam istirahat, aku hanya bisa memikirkan hal itu.
Tentu saja, yang kupikirkan adalah bagaimana membuktikan bahwa Kento-kun tidak bersalah.
Cara terbaik untuk membuktikan bahwa Kento-kun tidak bersalah adalah mendapatkan versi asli video itu... tapi secara realistis, itu mustahil.
Untuk memulainya saja, aku bahkan tidak tahu siapa orang di balik semua ini.
“U-Um, Shirakawa-san...? Apa kamu punya waktu sebentar...?” (Teman Sekelas)
Saat aku sedang tenggelam dalam pikiranku, seorang gadis dari kelasku menghampiri dengan ragu-ragu.
Meskipun kami sudah setengah tahun berada di kelas yang sama, sepertinya dia masih gugup saat berbicara denganku.
“Ada apa?” (Sophia)
Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak terlihat mengintimidasi.
Entah berhasil atau tidak... aku sendiri tidak yakin.
“Ada seseorang yang mencarimu...” (Teman Sekelas)
Dia melirik sekilas ke arah pintu kelas.

Di sana, mengintip ke dalam kelas dengan ekspresi yang bahkan lebih gugup darinya, seorang gyaru sedang mengamatiku dengan hati-hati.
Aku langsung mengenalinya dari rambut ungu mudanya yang khas.
Dia adalah Rindou Arisu-san, gadis yang tergila-gila pada Kento-kun.
Kalau tidak salah ingat, dia sempat diskors... tapi karena sekarang dia ada di sekolah, berarti hukumannya sudah dicabut.
“Terima kasih.” (Sophia)
Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya.
Aku tidak tahu apa tujuannya datang, tetapi melihat betapa gugupnya dia, pasti butuh keberanian besar baginya hanya untuk mengajakku bicara.
Bahkan saat menyadari aku berjalan ke arahnya, dia terdengar menarik napas.
Sejauh yang kulihat, dua gadis lainnya, selain pemimpin gyaru yang sudah dikeluarkan dari sekolah, tidak bersamanya.
“Ada perlu apa?” (Sophia)
Karena aku belum memaafkannya, nada bicaraku sedikit lebih dingin dibanding saat berbicara dengan teman sekelasku tadi.
Dia mengalihkan pandangan dengan canggung sebelum perlahan membuka mulut.
“Aku ingin membicarakan soal Kento-kun...” (Arisu)
Mendengar itu, aku berpikir sejenak.
Tidak aneh kalau dia mengetahui keadaan Kento-kun.
Video itu sudah tersebar luas, jadi seluruh sekolah pasti sudah tahu apa yang terjadi.
Dan mungkin kabar tentang Kento-kun yang tidak masuk sekolah juga sudah menyebar.
Mungkin saja dia lebih dulu pergi ke kelas Kento-kun sebelum datang menemuiku.
“Aku rasa kamu datang bukan untuk mengejeknya atau semacamnya, tapi aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan tentang dia.” (Sophia)
Karena dia adalah penggemar Kento-kun, rasanya kecil kemungkinan dia datang untuk mengolok-olok atau mengganggunya.
Meski begitu, ini juga bukan situasi di mana aku bisa menyambutnya dengan tangan terbuka.
Namun...
“Aku tahu gadis yang muncul di video itu...” (Arisu)
Rindou-san membisikkan sesuatu yang selama ini sangat ingin kuketahui.
“...Benarkah?” (Sophia)
“Iya. Suaranya dan penampilannya sangat khas. Aku yakin itu dia...” (Arisu)
Gadis di video itu memang memiliki suara bernada tinggi yang khas, seperti suara karakter anime, mungkin karena wajahnya yang terlihat sangat muda.
Wajahnya memang disamarkan, tetapi rambutnya yang berwarna merah muda sangat mencolok. Rupanya itulah yang membuat Rindou-san langsung teringat padanya.
Memang ada kemungkinan dia hanya salah mengenali orang yang mirip, tetapi aku harus memastikan apakah benar orang yang sama atau bukan.
“Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Bisa kita lanjutkan saat jam makan siang?” (Sophia)
“Baik... kita bertemu di mana...?” (Arisu)
Dia tampaknya bersedia bekerja sama dan tanpa mengeluh setuju untuk kembali nanti.
“Tempat biasa saja. Kau tahu, tempat kita pernah bicara waktu itu.” (Sophia)
Aku menyebut lokasi yang hanya kami berdua yang akan mengerti, supaya murid lain tidak menangkap maksud kami.
Tentu saja dia tampak sedikit canggung, tetapi aku bukan mengatakannya untuk menyindir.
Aku hanya tidak ingin ada orang lain ikut mencampuri urusan ini.
“Baik, aku akan datang.” (Arisu)
“Mungkin pembicaraannya akan agak lama, jadi bawalah bekalmu atau roti. Kalau begitu, lebih baik kamu kembali ke kelas dulu.” (Sophia)
Seorang gyaru seperti dia sangat mencolok jika berada di gedung Kelas Persiapan Khusus.
Terlebih lagi, sudah beredar rumor bahwa dia pernah diskors karena menggangguku. Kalau kami terlihat berbicara bersama, pasti akan mengundang perhatian yang tidak perlu.
“Iya... sampai nanti...” (Arisu)
Dengan begitu, Rindou-san melambaikan tangan kecil sebelum pergi.
Dia benar-benar tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Mungkin dia memang merasa menyesal... tapi untuk berjaga-jaga, kurasa lebih baik aku mengajak Nadeshiko-senpai juga.
Lagipula, biasanya aku memang makan siang bersama Nadeshiko-senpai.
◆
Jam makan siang.
“Kenapa... kamu ada di sini...?” (Sophia)
Aku tak bisa menyembunyikan kebingunganku saat seseorang yang tak kuduga muncul di belakang gedung sekolah.
Bukan hanya aku, bahkan Rindou-san dan Nadeshiko-senpai juga terlihat kebingungan.
Sepertinya tak seorang pun menyangka dia akan datang.
“Tenang saja. Aku cuma berjaga. Aku tidak akan ikut campur dalam pembicaraan kalian.” (Shuuto)
Kurogane-kun berkata dengan santai sambil mengangkat roti yang dibawanya.
“Berjaga...?” (Sophia)
“Kau tahu maksudku. Mana mungkin aku membiarkan gadis di sana begitu saja mendekati adik perempuan Kento.” (Shuuto)
Sambil berkata begitu, dia menatap tajam ke arah Rindou-san.
Rupanya dia datang untuk memastikan tidak terjadi sesuatu padaku.
Hanya saja, bagaimana dia bisa tahu aku akan bertemu dengannya, bahkan tahu tempatnya, masih menjadi misteri.
“Sulit membayangkan kamu mau repot-repot melakukan hal seperti ini, Kurogane-kun...” (Nadeshiko)
Nadeshiko-senpai masih tampak belum yakin sambil menatapnya dengan wajah bingung.
Aku juga belum yakin.
Selain terhadap Kento-kun, Kurogane-kun biasanya bukan tipe yang mau bergerak demi orang lain.
“Kento yang memintaku. Dia bilang kalau suatu saat aku melihat adiknya diganggu, aku harus membantunya. Bukan cuma aku, dia juga mengatakan hal yang sama kepada seluruh anggota klub bisbol.” (Shuuto)
“Onii-chan... melakukan itu...?” (Sophia)
Aku sama sekali tidak tahu.
Tidak... mungkin memang Kento-kun sengaja tidak ingin aku mengetahuinya.
Jadi begitu... Dia terus mengkhawatirkanku karena aku memang sering terlibat masalah...
“Kento-kun memang terlalu protektif... Yah, aku juga mengerti kenapa dia begitu.” (Nadeshiko)
Sepertinya Nadeshiko-senpai juga baru pertama kali mendengarnya. Dia tertawa kecil sambil menghela napas pasrah.
Namun senyum itu terasa begitu hangat.
Bahkan mata sayunya memancarkan kelembutan.
“Rindou-san, kamu tidak keberatan kalau Kurogane-kun ada di sini?” (Nadeshiko)
Tampaknya Nadeshiko-senpai sudah menerima kehadiran Kurogane-kun, lalu beralih bertanya kepada Rindou-san.
Dia bertanya kepadanya, bukan kepadaku, mungkin karena Rindou-san yang akan menjelaskan semuanya.
“Aku tidak keberatan, tapi...” (Arisu)
Rindou-san terus melirik Kurogane-kun dengan gugup.
Rasa takut jelas terlihat di wajahnya.
Mungkin dia memang merasa terintimidasi olehnya.
Kurogane-kun mungkin adalah siswa laki-laki paling populer di sekolah.
Dan sekaligus yang paling ditakuti.
Karena itulah menurutku jumlah gadis yang menyukainya dan jumlah gadis yang takut mendekatinya mungkin hampir sama banyak.
Dan Rindou-san tampaknya termasuk kelompok yang kedua.
“Terima kasih. Kurogane-kun, Rindou-san datang untuk membantu Kento-kun dengan memberikan informasi, jadi bisakah kamu berusaha untuk tidak membuatnya merasa tertekan?” (Nadeshiko)
Sejauh ini kami baru mendengar bahwa Rindou-san mengenal gadis di video itu.
Meski begitu, Nadeshiko-senpai tampaknya percaya bahwa Rindou-san datang demi membantu Kento-kun, sehingga dia menenangkan Kurogane-kun lebih dulu.
“...Baik. Aku akan mendengarkan pembicaraan kalian, tapi aku akan menjaga jarak.” (Shuuto)
Kurogane-kun menerima perkataannya tanpa membantah dan mundur beberapa langkah.
Mungkin dia memang tipe orang yang patuh kepada orang yang diakuinya.
“Sambil makan, bisakah kamu ceritakan tentang gadis itu?” (Nadeshiko)
Nadeshiko-senpai duduk di tempat yang biasanya kami gunakan bertiga untuk makan siang, lalu memberi isyarat agar kami ikut duduk.
Sesuai sarannya, aku mulai membuka bekalku sambil mendengarkan.
Namun Rindou-san tampaknya ingin langsung ke inti pembicaraan.
“Gadis yang ada di video itu... dia adalah teman masa kecil Ri-chan, Shigurazaka Rio.” (Arisu)
Mendengar nama itu, aku dan Nadeshiko-senpai sama-sama berhenti mengangkat sumpit.
Kurogane-kun tampak tidak mengenalnya dan memandang kami dengan curiga.
“Tunggu... bukankah dia...” (Nadeshiko)
“Iya. Orang yang dikeluarkan dari sekolah... karena kasus perundungan terhadapku.” (Sophia)
Jadi dalang di balik semua ini memang Shigurazaka-san...
Apa tujuannya membalas dendam kepada Kento-kun?
Karena kami berdua yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah...?
“Tapi gadis ini, dilihat dari tinggi badan dan suaranya, bukankah kelihatannya masih anak SD atau SMP?” (Nadeshiko)
Nadeshiko-senpai mengeluarkan ponselnya dan kembali memutar video Kento-kun yang sudah tersebar luas itu.
Aku juga berpikir begitu.
Bahkan Kento-kun sendiri mengira dia masih anak SD.
Namun karena gadis itu berteriak menyebut "pacar", Kento-kun akhirnya menyimpulkan kemungkinan besar dia sudah SMP.
“Dia hanya terlihat lebih muda dari usianya... sebenarnya usianya sama denganku dan Shirakawa-san.” (Arisu)
Kalau Rindou-san yang mengenalnya berkata begitu, mungkin memang benar.
“Gadis seperti apa dia?” (Sophia)
Aku ingin memahami lebih dulu seperti apa gadis yang ada di video itu.
Mungkin dari sana kami bisa menemukan petunjuk.
“Aku cuma bertemu dengannya beberapa kali, jadi tidak terlalu mengenalnya... tapi menurutku dia gadis yang sangat polos, seperti anak kecil...” (Arisu)
“Sangat polos...? Setelah melakukan hal seperti itu...?” (Sophia)
Bagian bahwa dia seperti anak kecil memang menarik perhatianku.
Namun aku lebih terpaku pada kata "sangat polos".
Sulit mempercayai bahwa gadis yang menjebak Kento-kun bisa disebut seperti itu.
“Justru karena dia polos, dia dimanfaatkan. Kalau Shigurazaka mengatakan sesuatu, dia percaya sepenuhnya lalu melakukan apa pun yang diperintahkannya.” (Arisu)
Mungkin karena kami ada di sini, Rindou-san memilih menyebut pemimpin kelompok itu dengan nama keluarganya.
Namun benarkah seseorang bisa mempercayai orang yang begitu jelas-jelas jahat dan tidak punya empati seperti itu?
“Seakrab apa pun mereka sebagai teman masa kecil, apa itu benar-benar mungkin...?” (Sophia)
“Itulah maksudku dia sangat polos. Kudengar sejak kecil dia banyak dibantu oleh Shigurazaka, dan Shigurazka juga selalu melindunginya.” (Arisu)
“Apa maksudmu...?” (Sophia)
Aku tidak begitu memahami maksud "dibantu" dan "dilindungi", jadi aku memintanya menjelaskan.
“Keluarga Shigurazaka kaya. Orang tuanya memiliki beberapa perusahaan, jadi sejak kecil dia sudah bebas menggunakan uang sesukanya. Gadis di video itu, karena penampilannya yang imut dan keadaan pribadinya, dianggap Shigurazaka sebagai seseorang yang bisa dimanfaatkan. Dia merasa gadis itu punya nilai dan bisa dijadikan salah satu pionnya. Aku tahu ini karena Shigurazaka sendiri yang mengatakannya kepadaku.” (Arisu)
Karena ini sekolah swasta, bukan hal aneh kalau ada murid dari keluarga kaya.
Mungkin itulah alasan Shigurazaka-san bisa mengumpulkan para gyaru di sekitarnya.
Dan tampaknya dia memanfaatkan keadaan pribadi gadis itu untuk mendapatkan kepercayaannya.
“Jadi itu sebabnya dia mau membantu melakukan hal sebodoh ini...? Apa kamu tahu dia sekarang bersekolah di SMA mana?” (Sophia)
“Seharusnya dia tidak sekolah lagi. Kudengar setelah lulus SMP dia langsung bekerja.” (Arisu)
“Langsung bekerja setelah lulus SMP?” (Sophia)
“Bukan, katanya cuma kerja paruh waktu.” (Arisu)
Bekerja paruh waktu setelah lulus SMP...
Yah, memang bukan sesuatu yang mustahil.
Ada juga orang yang memilih tidak melanjutkan ke SMA.
Tetapi dari cerita yang kudengar, kemungkinan besar ada alasan mengapa dia tidak bisa melanjutkan sekolah.
“Apa kamu tahu lebih banyak tentang keadaannya?” (Sophia)
“Sedikit... Tapi kami memang tidak dekat. Kurasa sebenarnya dia tidak menyukai kami semua...” (Arisu)
“Dia tidak menyukai kalian?” (Sophia)
“Iya... Dia merasa kami merebut Shigurazaka darinya...” (Arisu)
Seingatku, setiap kali melihat mereka di sekolah, keempat gadis itu selalu bersama.
Kalau mereka sering bersama di sekolah, mungkin sepulang sekolah pun mereka juga sering berkumpul.
Namun gadis itu mulai bekerja paruh waktu, tidak bisa masuk SMA yang sama dengan Shigurazaka-san, sehingga waktu yang bisa mereka habiskan bersama menjadi jauh berkurang.
Dan saat sesekali dia diajak berkumpul, Shigurazaka-san selalu bersama Rindou-san dan yang lain.
Tidak aneh jika dia tidak menyukai mereka.
Kalau Rindou-san memang dibenci olehnya, dan gadis itu sangat bergantung pada Shigurazaka-san, maka meminta Rindou-san membujuknya jelas bukan pilihan.
“Kalau pria yang ada di video itu? Apa kamu mengenalnya?” (Nadeshiko)
Senpai tampaknya juga menyimpulkan bahwa membujuk gadis itu tidak akan mudah, lalu mengalihkan pembicaraan kepada pria yang ada di video.
Namun Rindou-san menggeleng.
“Aku tidak mengenalnya... Tapi Shigurazaka selalu memilih orang yang bergaul dengannya berdasarkan penampilan... Terutama kalau laki-laki, dia sangat pilih-pilih. Jadi kurasa pria itu bukan temannya.” (Arisu)
Meskipun wajahnya disamarkan, garis wajahnya masih sedikit terlihat sehingga masih bisa dibayangkan seperti apa rupanya.
Jadi menurut Rindou-san, pria itu bukan tipe yang disukai Shigurazaka-san.
“Kalau begitu... apa mungkin dia teman gadis yang ada di video itu?” (Nadeshiko)
“Kurasa juga bukan. Kalau dia bergaul dengan laki-laki yang tidak disukai Shigurazaka, dia pasti akan dijauhi. Jadi kurasa dia tidak akan melakukan itu.” (Arisu)
“Tunggu... kalau begitu sebenarnya hubungan mereka apa?” (Nadeshiko)
“Mungkin... seseorang yang dia temukan di internet lalu dibayar untuk berpura-pura.” (Arisu)
Dugaan Rindou-san begitu mengejutkan hingga aku dan Nadeshiko-senpai saling berpandangan.
Dia memakai orang yang bahkan tidak bisa dipercaya untuk melakukan hal seperti ini...?
Memang akhir-akhir ini berita tentang pekerjaan paruh waktu ilegal sering muncul di televisi...
“Tapi tetap saja, sulit dipercaya...” (Sophia)
Setidaknya aku tidak akan memakai orang yang kelihatannya mudah membocorkan semuanya hanya karena diberi uang.
“Shigurazaka memang sering melakukan hal nekat tanpa berpikir panjang, tapi dia memang bukan tipe yang menyusun rencana dengan matang...” (Arisu)
“Kalau dipikir-pikir memang begitu...” (Sophia)
Aku teringat sesuatu yang terus mengganggu pikiran Kento-kun.
Meskipun dia dijebak dan polisi ikut terlibat, pihak lawan sama sekali tidak meminta uang. Sebaliknya, mereka justru tampak tidak ingin polisi mengetahui terlalu banyak tentang luka mereka. Tingkah aneh itulah yang membuat Kento-kun menduga mereka punya tujuan lain.
“Onii-chan bilang kedua orang di video itu sama sekali tidak melebih-lebihkan luka mereka. Malah mereka seperti tidak ingin polisi mengetahui soal luka itu. Mereka bahkan mengatakan sudah memaafkannya agar dia tidak dituntut dan tidak membuat laporan.” (Sophia)
Aku menceritakan sesuatu yang kemungkinan belum diketahui Rindou-san.
Karena dia hanya menilai berdasarkan video yang beredar, dia tentu tidak tahu polisi sempat datang, sebab bagian itu sudah dipotong.
“Jadi polisi sempat datang... Mereka mungkin tidak ingin masalahnya menjadi terlalu besar, makanya mereka menyembunyikan luka mereka dan tidak membuat laporan. Bisa jadi mereka sadar rencana mereka punya banyak celah, sehingga kalau polisi menyelidiki terlalu dalam, akan ketahuan kalau mereka sedang menjebak Kento-kun. Atau mungkin mereka khawatir kalau videonya nanti menyebar dan menjadi ramai, polisi akan bertanya kenapa rekaman itu tidak diserahkan sejak awal. Kalau Kento-kun benar-benar sampai dituntut mungkin ceritanya berbeda, tapi karena kasusnya tidak sampai menjadi perkara resmi, sekalipun muncul bukti baru, kemungkinan polisi juga tidak akan repot membuka penyelidikan lagi.” (Arisu)
Rindou-san yang biasanya terlihat santai ternyata cukup tajam dalam menganalisis.
Aku sependapat dengannya.
“Biasanya kalau mereka memang tidak ingin polisi menyelidiki, mereka tidak akan melapor sama sekali. Tapi meskipun tidak menjadi perkara resmi, masalah yang menimpa Kento-kun tetap tercatat di kepolisian. Jadi saat video itu menyebar dan pihak sekolah atau pihak lain bertanya kepada polisi, catatan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa pernah terjadi tindakan kekerasan. Itu saja sudah cukup bagi mereka, bukan?” (Nadeshiko)
“Iya. Itulah kenapa setelah melaporkan onii-chan, mereka justru berusaha supaya masalahnya tidak membesar.” (Sophia)
Aku mengangguk kepada Nadeshiko-senpai.
Kalau mereka berhasil menciptakan fakta itu saja, lalu menyebarkan video yang membuat Kento-kun terlihat sebagai pelaku, pihak sekolah maupun federasi bisbol tentu akan menjatuhkan hukuman kepadanya.
Mungkin memang itulah tujuan mereka.
Namun rencana itu penuh celah, sehingga kami masih punya kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Mungkin itulah yang dimaksud Rindou-san saat mengatakan bahwa Shigurazaka bukan tipe yang berpikir matang.
Biasanya orang tidak akan menjalankan rencana yang penuh lubang seperti ini.
Mereka melibatkan polisi secara gegabah, dan videonya pun dipotong secara tidak wajar di banyak bagian.
“Mereka memotong bagian saat polisi datang dan menyembunyikan fakta bahwa mereka tidak membuat laporan. Kalau kita bisa mendapatkan kesaksian polisi mengenai hal itu, kita mungkin bisa berargumen bahwa video tersebut dibuat dengan niat jahat.” (Sophia)
“Tapi... pada akhirnya gadis itu tetap dianggap korban. Apa polisi benar-benar mau bekerja sama dengan kita?” (Nadeshiko)
Nadeshiko-senpai menanggapi usulku dengan raut ragu.
Tentu saja aku juga menyadari hal itu.
Tetapi...
“Kalau kita mendapatkan bukti yang kuat, lalu pihak sekolah langsung meminta keterangan kepada polisi, bukankah kemungkinan besar mereka akan memberikan kesaksian bahwa onii-chan tidak bersalah di hadapan federasi bisbol? Sepertinya federasi juga sebenarnya cenderung berpihak kepadanya. Memang bukti ketidakbersalahan saja mungkin sudah cukup, tapi semakin banyak kartu yang kita miliki untuk membatalkan hukumannya, akan semakin baik.” (Sophia)
Kalau keputusan bergantung pada penilaian manusia, kita tidak pernah tahu hasil akhirnya.
Karena itulah kami membutuhkan sebanyak mungkin bukti yang menguntungkan.
“Mungkin benar, tapi... pada akhirnya kita tetap harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah...” (Nadeshiko)
“Itu memang yang paling penting. Kalau pria di video itu benar-benar dibayar, kemungkinan besar dia akan bicara kalau kita berhasil menemukannya. Tapi untuk menemukan dia, pada akhirnya...” (Sophia)
“Kita harus mendapatkan informasi itu dari Shigurazaka atau gadis itu... begitu, kan?” (Nadeshiko)
Rindou-san menunjuk ke arah gadis di video dengan wajah muram.
Benar.
Sebanyak apa pun kita bisa membujuk pria di video itu, semuanya akan sia-sia kalau kita tidak bisa membujuk gadis yang dapat menghubungi pria tersebut.
Pada akhirnya, semuanya bergantung pada apakah kami bisa membujuknya.
“...Kalau begitu memang tidak ada cara lain. Rindou-san, apa kamu bisa mengatur supaya kami bertemu dengan gadis itu?” (Sophia)
Walaupun dia berada di pihak Shigurazaka-san, kalau memang itu satu-satunya jalan, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya secara langsung.
“Tunggu, Sophia-chan.” (Nadeshiko)
Sebelum Rindou-san sempat menjawab, Nadeshiko-senpai menghentikanku dengan ekspresi serius.
Jarang sekali dia menghapus senyumnya seperti itu, sehingga kesungguhannya terasa semakin jelas.
“Apa kamu sadar seberapa besar risikonya?” (Nadeshiko)
“Iya, aku tahu. Tapi kita juga memang tidak punya waktu lagi untuk mencari cara dengan tenang. Tentu saja aku tidak akan mendatanginya secara memaksa. Aku hanya ingin melihat sendiri seperti apa orangnya.” (Sophia)
Yang terus terngiang di kepalaku adalah bagaimana Rindou-san menyebut gadis itu "sangat polos".
Seberapa besar pun budi yang dia rasakan kepada Shigurazaka-san, kalau dia sadar bahwa dirinya hanya dimanfaatkan, pasti ada celah dalam hubungan mereka.
Kalau aku bisa menemukan celah itu dan memanfaatkannya, dengan kepolosannya seperti yang dikatakan, kurasa masih ada peluang membuatnya berpihak kepada kami.
“Begitu ya... Yah, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku akan menghormati keputusanmu, Sophia-chan. Itu tidak berubah. Tapi tolong bicarakan baik-baik dengan Kento-kun. Dan lakukan sesuai apa yang dia katakan. Kalau dia bilang jangan, berarti jangan dilakukan, mengerti?” (Nadeshiko)
Aku yakin Nadeshiko-senpai benar-benar akan menghormati keputusanku, seperti yang dia katakan.
Namun lebih dari itu, kini aku sadar bahwa dia sangat menghargai keputusan Kento-kun.
Itu berasal dari kepercayaannya kepada Kento-kun, dan mungkin juga karena dia lebih mengutamakan dirinya daripada aku.
Lagipula, ini memang masalah Kento-kun, dan pelatih juga berbicara langsung kepadanya.
Jadi masuk akal kalau dia mengatakan aku harus mengikuti keputusannya.
Mungkin dia juga ingin mencegahku bertindak gegabah.
“Aku setuju. Kento memang orang yang paling bisa diandalkan dalam situasi seperti ini. Kalau dia bilang aman, berarti memang aman. Kalau dia bilang berbahaya, berarti memang berbahaya. Kalau kau mau langsung masuk ke markas musuh, setidaknya datanglah dengan rencana yang matang.” (Shuuto)
Bahkan Kurogane-kun, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya ikut angkat bicara.
Apa mereka semua benar-benar menganggap aku akan bertindak gegabah?
Kalau aku mencoba membantu Kento-kun tetapi justru memperburuk keadaannya, semua usahaku akan sia-sia. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh seperti itu.
Lagipula, akulah orang yang paling memercayai Kento-kun, jadi tentu saja aku akan mengikuti apa yang dia katakan.
Itulah yang kupikirkan, tetapi rasanya percuma membantah, jadi aku hanya mengangguk pelan.
◆
"Tentu saja tidak." (Kento)
Saat Sophia pulang ke rumah dan mulai membicarakan rencananya, aku langsung menolaknya.
Mendengar itu, Sophia terkejut lalu menundukkan bahunya dengan kecewa.
Sepertinya dia mengira aku sedang memarahinya.
"Aku tidak marah, kok. Hanya saja... ini terlalu berbahaya." (Kento)
Bukan berarti aku tidak mengerti apa yang ingin Sophia lakukan.
Bahkan, kalau semuanya berjalan lancar, keadaan bisa langsung berbalik.
Namun peluangnya nyaris nol, dan ada kemungkinan besar Sophia justru akan berada dalam bahaya.
Tidak mungkin aku mengizinkan hal seperti itu.
"Aku juga merasa itu bukan ide yang bagus... Gadis itu benar-benar hanya mendengarkan apa yang dikatakan Shigurazaka, dan menganggap Shigurazaka sebagai sosok yang mutlak..." (Arisu)
Yang ikut berusaha menghentikan Sophia bersamaku adalah Rindou-san.
Sophia memang membawanya ke sini, tetapi tampaknya sebagian besar informasi kali ini berasal darinya.
Sejujurnya, aku belum terlalu memercayai gadis ini.
Dulu dia sering datang menyemangati kami, dan saat kami mengobrol aku menganggapnya gadis yang baik. Namun di masa lalu, dia pernah menjebak Sophia.
Aku tidak bisa memercayai seseorang yang pernah melakukan hal seperti itu, meski hanya sekali. Terlebih lagi, setelah menerima skorsing, ada kemungkinan dia menyimpan dendam kepada kami.
Dia bukan hanya pernah bekerja sama dengan Shigurazaka, tetapi meskipun mungkin dia sudah melampiaskan dendamnya kepadaku, dia belum melakukannya kepada Sophia. Sangat mungkin dia akan mencoba menjebak Sophia bersama Shigurazaka sebagai bentuk balas dendam.
Karena itulah aku harus sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.
"Aku tahu kakak mengkhawatirkanku. Tapi kakak juga mengerti, kan? Kalau ini berhasil, semuanya bisa menjadi titik balik." (Sophia)
"Itu memang benar, tapi kalau kemungkinan kamu berada dalam bahaya sangat besar, tidak mungkin aku menyetujuinya." (Kento)
"...Kakak menganggap kemungkinan aku berada dalam bahaya tinggi karena kakak tidak memercayai Rindou-san, kan?" (Sophia)
Setelah berpikir sejenak, Sophia menatapku lurus dengan tatapan serius.
Dia memang sangat cerdas. Begitu memikirkannya, dia langsung memahami apa yang sebenarnya kutakutkan.
"Hah...?" (Arisu)
Rindou-san tampaknya tidak menyangka namanya akan disebut dan menoleh ke arah Sophia dengan bingung.
Dia mungkin gadis yang pintar, tetapi rupanya dia tidak menyadari kalau aku mencurigainya.
Kemungkinan itu sama sekali tidak pernah terpikir olehnya.
"Memang, melihat posisi Rindou-san dan semua yang sudah terjadi, aku paham kenapa kakak tidak bisa memercayainya. Tapi aku bisa memastikan satu hal. Dalam kasus ini dia tidak akan mengkhianati kita, dan dia benar-benar ingin membantu kakak." (Sophia)
Entah kenapa Sophia tampaknya sangat memercayai Rindou-san.
Seingatku, Rindou-san baru saja selesai menjalani masa skorsing.
Sejak saat itu mereka tidak pernah berhubungan, jadi mereka seharusnya baru bertemu lagi hari ini.
Aku sulit percaya Sophia bisa memercayainya hanya dalam waktu sesingkat itu. Kupikir mungkin dia hanya berpegangan pada Rindou-san karena melihat adanya peluang untuk menyelesaikan masalah ini.
"Kalau begitu katakan apa yang membuatmu seyakin itu." (Kento)
Apa yang kupikirkan tadi hanyalah dugaan, jadi aku perlu mendengar langsung alasan dari Sophia.
Aku tidak tahu apakah dia akan jujur kepadaku, tetapi dari apa yang dia katakan dan bagaimana sikapnya, aku bisa menilai apakah dia hanya bergantung pada Rindou-san atau tidak.
"Justru aku ingin bertanya, kenapa kakak masih belum mengerti?" (Sophia)
Entah kenapa, Sophia menunjukkan ekspresi rumit sambil melirik sekilas ke arah Rindou-san.
Rindou-san langsung memerah, mencubit ujung lengan baju Sophia dengan jarinya, lalu menggeleng pelan.
"S-Sebenarnya, kamu tidak perlu mengatakannya..." (Arisu)
"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak peka seperti itu." (Sophia)
Sophia tersenyum lembut kepada Rindou-san.
Padahal dia seharusnya tidak menyukai Rindou-san, jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Bahkan ada sedikit kesan persahabatan di antara mereka.
"Kalau yang dipermasalahkan hanya diriku, aku akan sepenuhnya mempertimbangkan kemungkinan dia mengkhianati kita." (Sophia)
"!" (Arisu)
Mendengar kata-kata Sophia yang tanpa ampun, Rindou-san menelan ludah.
Tadi Sophia hanya mengatakan bahwa Rindou-san tidak akan berkhianat dalam kasus ini, bukan berarti dia tidak akan pernah mengkhianatiku.
Tampaknya dasar kepercayaan Sophia kepada Rindou-san memang terletak pada perbedaan itu...
"Tapi kali ini yang dipermasalahkan adalah kakak. Dia sedang berusaha menyelesaikan masalah kakak. Karena itulah dia tidak akan mengkhianatimu." (Sophia)
"Kenapa kamu bisa berkata seyakin itu...?" (Kento)
Memang benar, dulu dia sering datang mendukung kami saat pertandingan, dan dia lebih sering berbicara denganku daripada dengan Shuuto.
Kalau dilihat dari situ, mungkin memang dia menjadi penggemarku.
Terlebih lagi, saat Sophia bertengkar dengan para gyaru, aku ingat sempat mendengar percakapan yang mengarah ke sana.
Tapi... perasaan seseorang bisa berubah dengan mudah, dan orang akan mempertimbangkan situasi lalu memilih apa yang paling menguntungkan bagi dirinya.
Semuanya juga tergantung seberapa besar rasa sukanya. Jadi aku tidak menganggap itu sebagai bukti kuat bahwa dia tidak akan mengkhianati kami.
"Waktu aku bertengkar dengan gadis-gadis itu, lalu kakak datang, Rindou-san langsung mendengarkan perkataan kakak dan menghapus videonya. Padahal dia tahu itu akan membuat posisinya sulit dan menjadikannya musuh Shigurazaka-san, tapi dia tetap memilih berpihak kepada kakak. Karena itulah... orang seperti dia tidak akan mengkhianati kakak sekarang juga." (Sophia)
Mendengar keyakinan Sophia yang begitu teguh, aku memejamkan mata.
Benar seperti yang dia katakan. Seseorang yang memilih berpihak kepada kami dalam situasi seperti itu tidak mungkin berbalik melawan kami sekarang.
Melihat perbedaan hukuman yang diterima, Rindou-san hanya diskors sedangkan Shigurazaka dikeluarkan dari sekolah, tidak aneh kalau hubungan mereka memburuk.
"...Sophia, apa kamu benar-benar ingin menemui gadis itu?" (Kento)
"Iya. Walaupun mungkin aku tidak bisa meyakinkannya, kalau masih ada secercah harapan, aku ingin menemuinya dan berbicara dengannya." (Sophia)
Bukan hanya dari kata-katanya, ekspresi seriusnya juga menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh.
Karena Kujouin-san sudah berbicara dengannya, aku ragu Sophia akan pergi menemui gadis itu tanpa seizinku. Tapi kalau aku tidak mengizinkannya, dia pasti akan terus mengungkit masalah ini berulang kali.
Aku juga belum menemukan solusi yang lebih baik. Kalau gadis di video itu memang seperti yang dikatakan Rindou-san, mungkin masih ada harapan.
Mungkin akan lebih baik mempercayai naluri Sophia dan membiarkannya menangani ini.
Tentu saja, hanya jika keselamatannya bisa dipastikan.
"Baiklah. Lakukan saja menurut penilaianmu, Sophia." (Kento)
"Benarkah!?" (Sophia)
Saat aku mengangguk, Sophia tampak sangat senang.
Mungkin dia tidak menyangka aku akan semudah ini mengalah.
"Tapi ada satu syarat. Pertama, kamu harus ditemani Rindou-san." (Kento)
Apa pun situasinya, membiarkan Sophia pergi sendirian tetap menakutkan.
Kalau Rindou-san memang bisa dipercaya, membawanya ikut adalah pilihan terbaik.
"Baik. Rindou-san, tidak masalah, kan?" (Sophia)
"Iya, tentu..." (Arisu)
Rindou-san tampak kurang bersemangat, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan Sophia dan mengangguk pelan.
"Selanjutnya, kita buat grup obrolan di aplikasi pesan dan biarkan panggilan suara tetap tersambung selama kalian bersama gadis di video itu." (Kento)
Kalau kami benar-benar akan masuk ke markas musuh, aku harus terus mengetahui keadaan Sophia.
Kalau terjadi sesuatu, aku harus siap langsung turun tangan.
"Syarat terakhir, aku juga ikut." (Kento)
"Hah!?" (Sophia & Rindou)
Begitu aku mengatakan akan ikut, mereka berdua berseru kaget.
Dari sudut pandang mereka, mungkin keputusan itu benar-benar tidak terpikirkan.
"A-Aku rasa itu benar-benar ide yang buruk, tidak, pokoknya sama sekali tidak boleh...!" (Sophia)
"I-Iya! Mereka pasti curiga, dan kalau sampai mereka memotretmu, posisi Kento-kun malah akan makin buruk...!" (Arisu)
Mereka berdua langsung panik, dan entah kenapa tingkah mereka terlihat lucu.
Mungkin karena mereka melakukan semua itu demi mengkhawatirkanku, jadi terasa semakin menggemaskan.
"Tenang saja. Aku akan menyamar sebaik mungkin agar tidak ketahuan dan hanya menunggu di dekat sana." (Kento)
Kalau sesuatu terjadi pada Sophia, kalau aku berada terlalu jauh aku tidak akan sempat menolongnya.
Jadi aku hanya akan berada di dekat sana untuk berjaga-jaga.
Selain itu, aku juga berencana memberi tahu Ayah dan pelatih lebih dulu agar mereka bisa bergerak kalau diperlukan.
"Kento-kun, kamu agak terlalu protektif..." (Arisu)
Rindou-san bergumam dengan heran, tampaknya menyadari kalau aku berniat mengikuti Sophia karena mengkhawatirkannya.
Dari sudut pandangnya, kejadian di belakang gedung sekolah mungkin terlihat seperti aku bersembunyi di sana demi mengawasi Sophia, jadi wajar kalau dia berpikir begitu.
"Haha... ngomong-ngomong, maaf soal tadi. Karena membuatmu harus mendengar percakapan yang tidak menyenangkan itu." (Kento)
Aku dan Sophia tadi membicarakan soal tidak memercayai Rindou-san tepat di depannya.
Pasti rasanya sangat tidak enak.
Karena aku sudah memutuskan untuk memercayainya, kupikir aku harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Ah... tidak, semua ini memang terjadi karena aku..." (Arisu)
"Tolong jaga Sophia. Dan terima kasih sudah memberitahuku semua informasi ini." (Kento)
"~~~~~!" (Arisu)
Saat aku mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, dia mengeluarkan suara aneh lalu menundukkan kepala.
Setelah itu dia sibuk memainkan kedua jari telunjuknya.
Apa dia memang selalu seperti ini...?
Saat aku menatap Rindou-san, Sophia sedikit mengembungkan bibirnya.
Dia terlihat agak kesal.
Aneh... kenapa dia malah sedikit marah...?
"Ngomong-ngomong, Rindou-san, sepertinya aku belum sempat mendengar nama gadis itu..." (Sophia)
Setelah itu, sementara aku masih kebingungan, Sophia mulai bersiap menemui gadis yang ada di video itu.
◆
"Hmm, capek sekali! Riku-kun, aku hampir sampai..." (?)
"Aku sudah menunggumu, Haimiya Miumi-san." (Sophia)
Aku menunggu di dekat sebuah apartemen yang terlihat cukup kumuh, lalu memanggil gadis yang sedang kucari begitu dia pulang.
Tentu saja dia terkejut mendengar suaraku yang tiba-tiba dan langsung menoleh.
Lalu, mungkin karena menyadari aku seorang perempuan, dia langsung menurunkan kewaspadaannya dan memiringkan kepala dengan ekspresi bingung.
Memang, wajahnya yang mungil, imut, dan terlihat muda itu sangat cantik hingga Shigurazaka-san menganggapnya berharga untuk dimanfaatkan.
Selain itu, padahal ini pertemuan pertama kami dan aku langsung mengetahui namanya, dia justru segera lengah. Itu membuatku merasa dia agak ceroboh.
"Um, siapa Anda? Seingatku aku tidak punya kenalan perempuan asing secantik Anda." (Miumi)
Ya, dia sama sekali tidak bersikap bermusuhan.
Sederhananya, dia hanya penasaran siapa aku karena aku orang asing.
Aku merasa dunia ini benar-benar terlalu kelam. Bagaimana mungkin gadis sebaik ini bisa terlibat dalam menjebak Kento-kun?
"Aku Shirakawa Sophia. Atau mungkin akan lebih mudah kalau aku memperkenalkan diri sebagai Sophia Frost?" (Sophia)
"Frost...!?" (Miumi)
Begitu aku menyebut nama lamaku, mata Haimiya-san langsung membelalak dan dia buru-buru mundur selangkah.
Jadi benar dia mengenal namaku.
Aku memang sudah menduga Shigurazaka-san menjelek-jelekkanku di belakangku, dan ternyata dugaanku benar.
Yang menarik perhatianku adalah, meskipun seharusnya dia hanya waspada, ada sedikit rasa takut yang bercampur dalam ekspresinya.
Apa diam-diam dia takut padaku?
"Bagaimana kamu tahu tempat tinggalku...!?" (Miumi)
"Karena aku yang memberi tahu dia." (Arisu)
Orang yang keluar dari balik gedung adalah Rindou-san.
Aku ingin mengetahui kesan pertama Haimiya-san terhadapku tanpa dipengaruhi siapa pun, jadi aku meminta Rindou-san bersembunyi di belakang gedung. Namun saat dia muncul, mata Haimiya-san kembali membelalak.
"Arisu-chan...!" (Miumi)
Lalu, dengan ekspresi yang sama sekali berbeda dari saat melihatku, penuh amarah, dia menatap tajam Rindou-san.
Hanya karena Rindou-san memberitahuku tempat tinggalnya, sampai menunjukkan kemarahan seperti itu?
Tidak, ini jelas bukan sesederhana itu.
Sepertinya sejak awal dia memang sudah menyimpan dendam kepada Rindou-san.
Jawabannya muncul dari kata-kata Haimiya-san berikutnya.
"Orang yang mengkhianati dan meninggalkan Ri-chan... apa maumu dariku!?" (Miumi)
Begitu ya... Shigurazaka-san pasti menanamkan dalam pikiran Haimiya-san bahwa Rindou-san telah mengkhianatinya.
Dari sudut pandangnya saat kejadian di belakang gedung sekolah, memang kelihatannya Rindou-san telah mengkhianatinya.
Tapi apakah hanya itu cukup untuk menimbulkan kemarahan sebesar ini?
Mungkin ceritanya sudah dibesar-besarkan.
"Apa? Kalian berdua datang ke sini untuk membalas dendam demi Kento itu!?" (Miumi)
Hanya karena melihat aku dan Rindou-san muncul bersama, dia langsung sampai pada kesimpulan itu. Sepertinya dia cukup cepat menangkap situasi.
Namun karena dia tidak langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi teman-temannya, tampaknya dia bukan tipe yang pandai berpikir cepat di tempat.
Mungkin rasa takutnya lebih besar, jadi dia hanya berusaha mengintimidasi kami.
"Tenang saja. Aku bersumpah kepada Tuhan kami tidak datang untuk menyakitimu sedikit pun." (Sophia)
Karena dia ketakutan, aku berbicara dengan tenang sambil berusaha menunjukkan senyum versiku sendiri agar dia lebih rileks.
Dan mungkin dia memang merasa sedikit tenang karena ketegangan di wajahnya menghilang.
"Ah...!" (Miumi)
...Atau begitulah yang kupikirkan. Namun Haimiya-san tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, lalu kembali menatap kami dengan tajam, seolah berusaha mengintimidasi kami.
Sekarang aku mengerti kenapa Rindou-san mengatakan dia gadis yang cukup polos.
Kemungkinan besar dia sengaja memasang tatapan tajam untuk meyakinkan dirinya sendiri agar tidak lengah terhadap Shirakawa Sophia.
Apa Shigurazaka-san sudah mengatakan kepadanya agar jangan pernah memercayaiku?
"Aku hanya ingin berbicara denganmu." (Sophia)
"Aku tidak tahu! Aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan! Kalian juga sedang merekam pembicaraan ini, kan!?" (Miumi)
Video rahasia yang direkam Kento-kun saat kejadian di belakang sekolah dijadikan barang bukti.
Dia pasti mendengarnya dari Shigurazaka-san, sehingga sekarang dia waspada terhadap kemungkinan direkam.
Dan memang benar.
Kalau dia sampai keceplosan mengatakan sesuatu yang penting, rekaman itu akan menjadi keuntungan bagi kami.
Karena itulah kami memang merekam seluruh percakapan ini.
Dengan kewaspadaannya setinggi ini, rasanya mustahil bisa berbicara dengan baik. Tepat saat aku berpikir begitu, seseorang yang tak terduga muncul di hadapan kami.
"Kak, ribut-ribut apa ini...?" (?)
"Hah, kamu yang waktu itu... Baru terpikir sekarang, nama belakangmu juga Haimiya, ya..." (Sophia)
Orang yang muncul adalah Haimiya Riku-kun, anak laki-laki yang datang ke rumah kami tempo hari.
Karena Miumi-san memanggilnya "kak", ternyata dia adalah adik laki-lakinya.
Benar-benar hubungan yang tak terduga...
Dia tampaknya mengenaliku dan menatapku dengan dingin.
Kehangatan di matanya benar-benar berbeda dibanding saat kami bertemu sebelumnya, seolah dia adalah orang yang sama sekali lain.
"Riku-kun, kenapa kamu kenal mereka berdua...?" (Miumi)
Begitu adiknya muncul, Haimiya-san langsung menjadi tenang.
Ekspresi galaknya tadi berubah menjadi lembut dan damai.
Sepertinya dia memasang topeng di depan adiknya.
"Aku sempat mendapat sedikit bantuan dari mereka belum lama ini..." (Riku)
"Hah...?" (Miumi)
Haimiya-kun... yah, karena nama belakang mereka sama, aku memutuskan tetap memanggilnya Riku-kun.
Saat Riku-kun menundukkan pandangan dengan sedih dan menjawab, Miumi-san tampak benar-benar bingung.
Sepertinya dia tidak banyak menceritakan kejadian hari itu karena tidak ingin kakaknya tahu kalau dia pernah datang ke rumah kami.
Jangan-jangan...
"Pria yang menyerang kakak... Shirakawa Kento... aku pernah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya..." (Riku)
Aku sedikit terganggu karena dia menyebut nama Kento tanpa sapaan kehormatan, tetapi sambil mendengarkan pengakuannya yang jujur, aku mengamati reaksi Miumi-san dengan saksama.
Mata Miumi-san bergetar hebat.
Apa reaksi itu muncul karena dia terguncang memikirkan adiknya telah mengkhianatinya?
"K-Kamu sama sekali tidak pernah menceritakan itu...!" (Miumi)
"..." (Riku)
Riku-kun tidak menjawab perkataan kakaknya.
Karena kami membahasnya di rumah sebagai sesuatu yang sensitif, mungkin dia memang tidak ingin kakaknya mengetahui hal itu.
Hmm... mungkin dia tidak ingin membicarakannya karena merasa itu hanya akan membuat kakaknya sedih atau semakin tertekan.
Dia juga pernah mengatakan kalau keadaan ekonomi keluarganya buruk...
Riku-kun berdiri melindungi kakaknya sambil menatapku tajam.
"Aku... benar-benar syok. Kukira kakakmu orang yang baik, keren... benar-benar orang hebat... bahkan aku menghormatinya. Aku tidak pernah menyangka dia ternyata sampah yang menyerang sepasang kekasih..." (Riku)
Korbannya adalah kakaknya sendiri.
Dia pasti sudah mendengar seluruh ceritanya.
Tentu saja, versi palsunya.
Saat aku kembali melihat Miumi-san yang berdiri di balik tubuh adiknya, wajahnya tampak pucat dan dipenuhi keringat.
Tanpa sengaja, kata-kata Riku-kun tampaknya menusuk hati nuraninya.
Tentu saja. Dia telah menjebak seseorang yang dihormati adik laki-lakinya.
Lebih dari itu, saat Kento-kun dijebak, dia sebenarnya berlari untuk menolong setelah mendengar teriakan seorang gadis.
Dan gadis itu tidak lain adalah Miumi-san sendiri.
Tidak jelas sudah berapa lama dia berteriak, tetapi mengenal Kento-kun, dia pasti langsung berlari menolong tanpa berpikir dua kali.
Bahkan kalau lawannya pria besar sekalipun, dia tetap akan menerjang.
Dari videonya, awalnya Miumi-san memang terlihat berdiri agak jauh, sehingga mudah membayangkan Kento-kun bertarung sambil melindunginya.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Shigurazaka-san tentang Kento-kun, tetapi pasti Miumi-san masih ingat bahwa Kento-kun adalah anak laki-laki yang datang untuk menyelamatkan dan melindunginya.
Dan menjebak orang yang bahkan dikagumi oleh adik laki-lakinya sendiri pasti akan terus menggerogoti hatinya seperti racun.
Kalau begitu...
"Kakakku tidak menyerang kakakmu ataupun pria yang mengaku sebagai pacarnya. Dia hanya berusaha melindungi kakakmu, lalu dijebak." (Sophia)
Setelah menemukan jalan keluarnya, aku mulai menyusun langkah untuk membujuk Miumi-san.
"Itu bohong...! Tidak mungkin kakakku melakukan hal seperti itu...!" (Riku)
Jelas sekali Riku-kun sangat mengagumi kakaknya.
Bahkan saat berada di rumah kami dulu, dia membicarakan kakaknya dengan penuh kebanggaan.
Kalau begitu, wajar saja dia tidak bisa memercayai perkataanku.
Siapa pun pasti memilih memercayai keluarganya daripada orang asing. Tidak, lebih tepatnya mereka memang ingin memercayai keluarganya.
Tapi... bagaimana denganmu?
Aku mengalihkan pandanganku kepada orang yang paling mengetahui kebenaran, seolah bertanya hanya dengan tatapan.
"...!" (Miumi)
Saat pandangan kami bertemu, Miumi-san langsung berkeringat dingin dan buru-buru memalingkan wajah.
Dia menghindari tatapanku. Dia melarikan diri dari kebenaran.
Yang dipikirkannya pasti, "Bagaimana kalau Riku-kun mengetahui semuanya?"
Karena itulah dia memilih diam, berharap semuanya berlalu tanpa harus menghadapi kenyataan.
Dan ironisnya, itu justru menguntungkanku.
"Riku-kun, apakah kakakku, tidak... Kento-kun benar-benar terlihat seperti orang yang akan menyerang kakakmu dan pacarnya?" (Sophia)
"..." (Riku)
Mendengar pertanyaanku, Riku-kun menarik napas tajam.
Seperti yang kuduga, bukan berarti dia benar-benar percaya Kento-kun melakukan hal itu.
Tidak... lebih tepatnya, jauh di dalam hatinya dia sebenarnya meragukan apakah Kento-kun benar-benar akan melakukan tindakan seperti itu.
Namun kalau dia meragukannya, berarti dia juga meragukan orang yang seharusnya menjadi korban, yaitu kakaknya sendiri. Karena itulah dia memaksa dirinya untuk tidak memikirkannya.
"Kalau memang begitu, apa motifnya? Kenapa Kento-kun harus menyerang sepasang kekasih dengan mempertaruhkan turnamen penting yang sedang dia persiapkan?" (Sophia)
"Aku tidak tahu...! Mungkin dia stres lalu lepas kendali, atau mungkin dia menganggap kakakku lucu lalu mencoba mendekatinya. Bisa saja ada banyak alasan...!" (Riku)
Dia meninggikan suaranya seolah ingin menenggelamkan keraguan yang mulai muncul dalam dirinya.
Keinginannya untuk memercayai kakaknya sepenuh hati memang patut dikagumi. Tapi apa dia sadar?
Semakin keras dia membela kakaknya, semakin dia justru mendorong kakaknya ke sudut.
Buktinya ada tepat di belakangnya. Miumi-san memegangi dadanya dengan wajah kesakitan.
Dia jelas sedang disiksa rasa bersalah.
Terkadang menjadi gadis yang baik hati dan polos juga bisa berbahaya.
"Kento-kun tidak sedang mengalami stres yang berarti. Dan dia juga cukup populer sehingga tidak perlu mempertaruhkan segalanya hanya demi mendekati kakakmu." (Sophia)
Memang benar Miumi-san gadis yang cantik dengan tubuh mungil, wajah imut, dan suara seperti karakter anime. Dia pasti sangat menarik bagi kalangan tertentu.
Tapi dia jelas bukan tipe Kento-kun.
...Mungkin.
...Harusnya bukan, kan...?
"Shirakawa-san...?" (Arisu)
"T-Tidak apa-apa." (Sophia)
Aku sempat melamun karena sesuatu terus menggangguku, tetapi suara Rindou-san menyadarkanku.
Meski begitu, pikiranku masih terusik.
Cowok itu... bahkan saat melihatku telanjang pun dia tidak berbuat apa-apa.
Bahkan saat kami tidur bersama, dia juga tidak mencoba apa pun...
Lebih dari itu, bahkan saat bersama Nadeshiko-senpai yang begitu polos, manis, baik hati, dan berdada besar, dia juga tidak terlihat memiliki perasaan romantis kepadanya...
Jangan-jangan... memang dia lebih suka tipe seperti itu?
Masa iya... dia penyuka loli atau semacamnya...!?
Aku benar-benar yakin dia tidak menyerang Miumi-san, tetapi dalam urusan percintaan, aku tidak bisa menahan diri untuk mencurigai kemungkinan itu.
"Tapi kalian juga tidak punya bukti kalau kakakmu tidak bersalah, kan!? Sama sepertiku, kamu hanya bertindak berdasarkan perasaanmu karena ingin percaya dia tidak bersalah. Benar, kan!?" (Riku)
Riku-kun tidak berniat menerima perkataanku begitu saja, jadi dia memilih menyerang titik lemah kami.
Dia benar. Aku memang tidak memiliki bukti pasti bahwa Kento-kun tidak melakukannya.
Karena itulah aku datang ke sini, untuk mendapatkan bukti itu.
Namun meski dia mengatakan hal itu, sedikit pun aku tidak goyah.
Berbeda dengannya, aku bisa memercayai Kento-kun sepenuh hati. Seberapa pun dia menyerang keyakinanku, kepercayaanku kepada Kento-kun yang memang tidak melakukan apa pun tidak akan goyah.
Tapi... pada titik ini, Riku-kun justru menjadi penghalang.
"Begitu ya. Sepertinya sekalipun kita terus berbicara, kita hanya akan saling beradu pendapat." (Sophia)
"Iya. Jadi tolong pulang sekarang. Kakak baru pulang kerja paruh waktu dan sudah kelelahan." (Riku)
Dia pasti mengira percakapan ini sudah selesai dan aku akan pergi.
Ketegangannya pun kembali mereda.
Itu saja sudah menunjukkan betapa percakapan kami tadi sempat mengguncang hatinya.
"Satu hal lagi. Kamu adiknya, jadi pasti tahu orang seperti apa teman kakakmu itu, kan? Orang seperti apa dia? Dan kenapa kamu bisa yakin kakakmu tidak bersalah?" (Sophia)
Shigurazaka-san dan Miumi-san adalah teman masa kecil.
Dan Riku-kun, dari apa yang dia ceritakan tempo hari di rumah kami, sudah berhenti dari tim, jadi dia pasti sekarang kelas tiga SMP.
Karena usianya hanya terpaut setahun dan sejak kecil selalu bersama kakaknya, dia pasti juga mengenal Shigurazaka-san.
Terlebih lagi, Shigurazaka-san cukup tidak waras, jadi tidak seperti kakaknya yang polos, kupikir kemungkinan besar Riku-kun menyadari sisi anehnya.
"Iya, aku mengenalnya. Dia orang baik yang sejak kecil selalu baik kepadaku dan kakakku." (Riku)
Begitu ya... jadi Shigurazaka-san bahkan berpura-pura menjadi orang baik di depan Riku-kun.
Mungkin karena dia memahami seberapa besar pengaruh Riku-kun terhadap kakaknya.
...Tidak, apa hanya itu saja...?
Semakin kupikirkan, semakin kuat perasaanku bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Apa aku melewatkan sesuatu?
"Dan juga, kakak..." (Riku)
Sepertinya Riku-kun masih ingin melanjutkan ceritanya, jadi aku kembali memusatkan perhatian kepadanya.
"Sejak dulu, kakak selalu menjadi orang yang baik dan bekerja mati-matian demi aku. Jadi bagaimana mungkin aku meragukan kakakku?" (Riku)
Tatapan Riku-kun jernih, tanpa sedikit pun keraguan.
Saat mengucapkan kata-kata itu, dia pasti teringat masa lalunya bersama sang kakak, lalu memutuskan untuk memercayainya sepenuh hati.
Aku tidak tahu sejarah seperti apa yang mereka lalui bersama, tetapi keraguan yang sempat terlihat darinya tadi kini benar-benar lenyap. Itu menunjukkan ada sesuatu yang sangat dalam di hatinya terhadap kakaknya.
Pada titik ini, dia mungkin sudah tidak akan meragukannya lagi.
Namun... kata-kata terakhirnya terasa seperti pukulan penentu.
"Begitu ya. Aku mengerti perasaanmu. Maaf sudah mengganggu. Dan Miumi-san, maaf juga mengganggumu saat kamu sedang sangat lelah." (Sophia)
Saat aku mengatakan itu, Miumi-san yang terlihat benar-benar kelelahan menoleh ke arah kami.
Tubuhnya dipenuhi keringat, wajahnya pucat, dan tatapannya yang kosong membuatnya terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda dibanding beberapa menit sebelumnya.
"Kak, ada apa!?" (Riku)
"Kurasa dia sedang tidak enak badan. Tolong cepat bawa dia ke kamarnya." (Sophia)
Saat aku mendesaknya dengan lembut, Riku-kun menopang bahu Miumi-san lalu membawanya masuk ke apartemen.
Aku sempat berpikir apakah tadi aku terlalu menekannya, tetapi akhirnya kuputuskan bahwa itu adalah hukuman yang pantas karena dia telah menjebak Kento-kun.
"Yakin tidak apa-apa...? Tadi kupikir dia hampir mengaku..." (Arisu)
Rindou-san yang sejak tadi diam agar tidak mengganggu melirik wajahku.
Benar seperti yang dia katakan. Melihat Miumi-san sudah begitu kelelahan, kupikir tadi dia hampir saja mengaku dengan sendirinya.
Tapi dia tidak akan mengatakannya.
"Itu mustahil. Selama Riku-kun berada di sisinya, dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya." (Sophia)
Aku berbalik dan mulai berjalan pulang sambil menjawab pertanyaan Rindou-san.
"Kenapa...?" (Arisu)
"Sejak Riku-kun muncul, sikap Miumi-san berubah drastis menjadi jauh lebih lembut. Kurasa itu karena dia tidak ingin menunjukkan sisi dirinya yang jelek dan penuh amarah kepada Riku-kun. Kalau begitu, berarti dia sangat menghargai Riku-kun dan tidak ingin dibenci olehnya, kan? Dari perkataan Riku-kun juga terlihat jelas bahwa dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Miumi-san. Menurutmu, apakah seseorang yang tidak ingin dibenci adik laki-lakinya akan mengaku di hadapannya bahwa dia telah menjebak orang lain?" (Sophia)
"Ah... benar juga..." (Arisu)
Rindou-san memang cukup tajam, jadi dia langsung mengerti.
Benar sekali. Itulah sebabnya, setelah Miumi-san terpojok, kehadiran Riku-kun justru menjadi penghalang.
"Tapi bagaimana kamu bisa menyadarinya...?" (Arisu)
"Aku hanya tahu." (Sophia)
Karena aku juga tidak ingin Kento-kun membenciku atau melihat sisi terburukku.
"Yang lebih penting, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Waktu kita berbicara saat makan siang, kamu terdengar seperti tahu keadaan Miumi-san, kan?" (Sophia)
Rindou-san pernah mengatakan bahwa Miumi-san tampaknya dimanfaatkan karena keadaan hidupnya.
Melihat apartemen tua tempat dia tinggal dan ucapan Riku-kun tadi, aku memang sudah punya gambaran, tetapi aku ingin mengetahui detailnya dengan pasti.
"Akhirnya kamu bertanya juga..." (Arisu)
Memahami maksudku, dia mulai menceritakan semua yang diketahuinya tentang Miumi-san dan yang lainnya.
Mereka ditinggalkan orang tua mereka sejak kecil lalu dibesarkan di sebuah panti asuhan.
Karena itu mereka sering dirundung oleh orang-orang di sekitar, tetapi Shigurazaka-san membantu mereka.
Lalu, setelah menyadari bakat Riku-kun dalam olahraga, Shigurazaka-san menyarankan agar dia bermain bisbol, dan semua biayanya ditanggung dengan syarat Miumi-san harus menuruti perintah Shigurazaka-san.
Dia juga mengatakan bahwa setelah lulus SMP, Miumi-san mulai bekerja di beberapa pekerjaan paruh waktu sekaligus, keluar dari panti asuhan, dan sekarang tinggal berdua dengan Riku-kun.
Namun hal yang paling menarik perhatianku adalah Riku-kun sedang mati-matian berusaha membalas kebaikan kakaknya dengan bercita-cita menjadi pemain bisbol profesional.
Karena itulah akhirnya aku mengerti penyebab rasa janggal yang kurasakan tadi.
Namun untuk saat ini, masalah itu bisa ditunda.
Sejujurnya, setelah mendengar kisah mereka, ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, seperti "Jangan menelantarkan anak-anak", "Apa pantas anak SD mengalami semua ini?", atau "Berhentilah merundung orang." Namun lebih dari itu, aku merasa Miumi-san yang sejak kecil bekerja keras demi adiknya, dan Riku-kun yang berusaha mati-matian membalas pengorbanan kakaknya, benar-benar orang-orang yang luar biasa.
Aku benar-benar bisa memahami kenapa mereka begitu menyayangi satu sama lain.
Namun justru karena itulah, keadaan sekarang tidak baik.
Bukan hanya bagi Kento-kun. Kalau semuanya terus seperti ini, Miumi-san dan yang lainnya juga akan dihancurkan oleh Shigurazaka-san.
"Kakak, kamu di sini, kan?" (Sophia)
Saat tiba di tempat Kento-kun menunggu, aku memanggilnya.
Karena tadi dia mendengarkan semuanya lewat telepon, dia pasti sudah tahu.
Dia sedang menatap langit yang diwarnai cahaya senja sambil memegangi dahinya, seolah sedang sakit kepala.
"Ada apa?" (Kento)
Sambil menghela napas, Kento-kun menurunkan tangannya lalu menatapku dengan ekspresi serius.
"Kali ini memang kakak yang dijebak, dan Miumi-san sendiri mungkin juga tidak punya perasaan baik terhadap kakak, jadi aku ingin bertanya. Kalau aku bilang aku ingin membantu mereka berdua, apa yang akan kakak katakan?" (Sophia)
Prioritas utamaku kali ini adalah Kento-kun.
Itu bukan hanya berarti membantunya, tetapi juga menghormati perasaannya.
Lagipula, wajar kalau dia merasa tidak nyaman membantu orang yang telah menjebaknya.
Karena itulah aku ingin memastikan jawabannya secara langsung.
"Sophia, kamu boleh melakukan apa pun yang menurutmu benar. Menurutku keadaan juga tidak bisa terus seperti ini." (Kento)
...Seperti yang kuduga, dia benar-benar orang yang luar biasa.
Dia bahkan bisa tersenyum begitu lembut ketika berbicara tentang membantu orang yang telah menjebaknya.
◆
"Bu, aku ada permintaan." (Sophia)
Setelah sesi belajarku malam itu selesai, aku memanggil Ibu sebelum beliau keluar dari kamar.
Ibu kemudian tersenyum lembut dan kembali duduk di kursinya.
"Ada apa? Jangan sungkan, katakan saja apa yang kamu inginkan." (Jessica)
Senyumnya begitu lembut, tetapi aku tetap merasa sedikit gugup.
Karena apa yang hendak kusampaikan adalah sesuatu yang cukup keterlaluan.
"Begini... aku ingin meminjam uang peninggalan Papa... Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi nominalnya cukup besar..." (Sophia)
Aku bersiap dimarahi sambil mengatakannya.
Namun...
"Tentu saja boleh." (Jessica)
...Ibu mengangguk sambil tersenyum lembut tanpa bertanya apa pun.
"Boleh...? Tunggu, serius!? Padahal jumlahnya besar, dan aku bahkan belum bilang mau dipakai untuk apa!" (Sophia)
Aku sama sekali tidak menyangka beliau akan langsung mengizinkannya, jadi meskipun beliau sudah berkata iya, aku malah balik mempertanyakannya.
Papa dulu adalah pemain bintang bisbol profesional yang menghasilkan ratusan juta, ditambah lagi uang asuransi jiwa yang sangat besar, jadi tabungan yang ditinggalkan seharusnya juga sangat banyak. Meski begitu, Ibu selalu sangat ketat soal uang.
Tidak mungkin beliau mengizinkan uang sebanyak itu dipakai tanpa tahu tujuannya.
Pasti ada alasan lain.
Saat aku memandanginya dengan curiga, beliau berkata,
"Kento-kun sudah bilang kemungkinan ini akan terjadi. Dia mengatakan Sophia mungkin akan datang membicarakan soal uang, dan dia memintaku untuk mendengarkan tanpa marah dan tanpa terlalu banyak bertanya untuk apa uang itu." (Jessica)
"Kakak..." (Sophia)
Memang aku sempat bilang ingin membantu Miumi-san dan yang lainnya, tetapi aku belum sempat menjelaskan kepada Kento-kun apa sebenarnya rencanaku.
Namun, setelah melihat percakapanku dengan Miumi-san dan mengetahui keadaan mereka, rupanya dia sudah menebak apa yang akan kulakukan.
Bahkan, dia sudah lebih dulu berbicara kepada Ibu agar kami tidak berakhir bertengkar.
Mungkin dia melakukan itu supaya bebanku berkurang.
...Tunggu, apa!?
"Berarti kakak tahu kalau Ibu punya uang dalam jumlah besar, ya!? Dari mana dia tahu!? Apa Ibu sudah memberitahunya tentang Papa!?" (Sophia)
Biasanya, kalau urusannya soal uang, orang akan meminta kepada kepala keluarga, yaitu Ayah.
Meskipun Ayah bukan ayah kandungku, itu tetap tidak mengubah keadaan.
Bahkan, wajar kalau dia mengira aku akan meminta kepada Ayah yang selalu baik kepadaku, bukan kepada Ibu yang lebih tegas terhadap anak perempuannya sendiri.
Tapi kalau dia langsung memintaku berbicara kepada Ibu, berarti dia sudah tahu kalau Ibu memiliki uang dalam jumlah besar.
"Tentu saja dia tahu. Aku yang memberitahunya." (Jessica)
"Kenapa!? Bukannya Ibu sendiri yang bilang sebaiknya jangan membicarakan Papa karena Ayah dan kakak pasti akan merasa tidak nyaman dan tidak menyukainya...!" (Sophia)
Karena itulah aku merasa tidak perlu secara khusus meminta Ibu merahasiakannya.
Kalau Kento-kun tahu Papa adalah Riley Clark, dia pasti akan memandangku sebagai...
"Tenang saja. Yang kuberitahukan hanya bahwa beliau meninggalkan uang dalam jumlah besar, jadi sekalipun Sophia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kita tidak akan kesulitan secara finansial." (Jessica)
Melihatku panik, Ibu meletakkan tangannya di atas kepalaku.
Lalu beliau mengusapnya dengan lembut.
Ibu memang jahil... beliau sengaja mengatakannya seperti itu supaya aku salah paham...
"Kenapa Ibu tidak bilang dari tadi...?" (Sophia)
"Kurasa Sophia yang terlalu bereaksi." (Jessica)
Tentu saja aku panik.
Papa adalah orang yang dikagumi Kento-kun, dan kalau dia tahu aku putri orang yang dikaguminya, dia pasti akan melihatku dengan cara yang berbeda, bukan sebagai seseorang yang bisa dia cintai.
Kalau itu terjadi, rasanya dia tidak akan pernah lagi memandangku sebagai pasangan.
Lagi pula, Papa sudah meninggal, dan meskipun aku putri Riley Clark, tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membuatnya bahagia.
Karena itulah kupikir lebih baik tidak membicarakannya.
Aku memutuskan hanya akan menceritakannya setelah resmi menjadi pacar Kento-kun.
"Pokoknya, jangan khawatir. Ibu akan meminjamkan uangnya. Tentu saja, saat waktunya tiba, Ibu juga akan ikut, dan kita akan mengurus semua dokumennya dengan benar, ya?" (Jessica)
Ibu mengatakan itu sambil tersenyum jahil, lalu meninggalkan kamar.
Kupikir meyakinkan Ibu akan menjadi bagian tersulit, tetapi berkat Kento-kun, semuanya terselesaikan jauh lebih mudah daripada yang kubayangkan.
Berkat itu, aku bisa langsung bergerak mulai besok.
Dengan begitu, persiapanku untuk membujuk Miumi-san pun selesai.
◆
Keesokan harinya.
"Kenapa kamu datang lagi...?" (Miumi)
Sepulang sekolah, aku segera berganti pakaian di rumah, mampir sebentar ke sebuah toko, lalu tiba-tiba datang ke rumah Miumi-san. Dia keluar dengan wajah yang jelas tidak senang.
Dia bekerja di beberapa pekerjaan paruh waktu, tetapi berkat Rindou-san yang masih mengingat kira-kira jadwal kerjanya, aku berhasil datang saat dia benar-benar sedang di rumah.
Kemungkinan dia tidak senang karena kemarin aku terus mendesaknya dan sekarang aku memegang kelemahannya.
"Aku ingin berbicara sekali lagi denganmu." (Sophia)
"Aku tidak mau... Dan hari ini kamu sendirian, ya...?" (Miumi)
Meski bilang tidak mau, dia tetap melanjutkan percakapan.
Sebenarnya dia bisa saja langsung menolakku dan kembali masuk ke dalam rumah, tetapi dia memang gadis yang berhati baik.
"Aku ingin berbicara jujur berdua saja. Lagi pula, aku juga membawa kabar baik untukmu." (Sophia)
Miumi-san tampaknya jauh lebih membenci Rindou-san daripada aku, jadi kali ini aku memintanya tetap di rumah.
Tentu saja, Kento-kun masih berada di sekitar sini seperti kemarin.
"Aku tidak percaya... dan aku juga tidak punya apa pun untuk dibicarakan soal Kento-san..." (Miumi)
Aku tidak melewatkan cara dia menyebut "Kento-san".
Dilihat dari itu, percakapannya dengan Riku-kun kemarin benar-benar mengguncangnya.
Dia tidak lagi melihat Kento-kun sebagai musuh Shigurazaka.
"Begitu, ya? Tapi ini sesuatu yang akan menguntungkan Riku-kun, lho." (Sophia)
"Hah...!?" (Miumi)
Begitu aku menyebut nama Riku-kun, sikapnya langsung berubah total dan dia menunjukkan ketertarikan yang besar.
Aku benar-benar khawatir gadis ini bakal mudah ditipu orang...
Atau lebih tepatnya, dia memang sudah ditipu...
"Untuk sementara, bolehkah aku masuk? Kita bisa mengobrol dengan nyaman di kamarmu." (Sophia)
Aku mengangkat kotak hadiah yang kubawa sambil tersenyum lembut kepadanya.
Karena tidak tahu isi kotak itu, dia hanya memiringkan kepala dengan bingung.
Jadi aku membuka kotaknya dan memperlihatkan isinya.
"Kue...!?" (Miumi)
Wajahnya langsung berbinar.
Aneh sekali... usianya seharusnya sama denganku, tetapi dia benar-benar imut.
Aku sampai ingin menjadikannya adik perempuanku.
Saat itu juga aku benar-benar ingin membawanya pulang.
"Karena aku akan menyita waktumu, setidaknya aku harus membawa ini." (Sophia)
"......" (Miumi)
Miumi-san tampaknya benar-benar ingin memakan kuenya. Dia menelan ludah sambil menatap isi kotak tanpa berkedip.
Namun saat sadar aku sedang melihatnya, dia buru-buru menggeleng kuat-kuat seolah ingin mengusir keinginannya sendiri, lalu memaksakan senyum yang kaku kepadaku.
"Yakin tidak apa-apa? Kalau aku mengizinkanmu masuk lalu memanggil teman-teman cowokku, semuanya bakal selesai, lho. Sophia-san mungkin memang cantik, tapi..." (Miumi)
Itu jelas ancaman.
Padahal dia begitu imut, tetapi gal itu pasti sudah menanamkan pikiran-pikiran aneh kepadanya...
Menahan sedikit amarah, aku tetap mempertahankan senyumku.
"Kamu tidak akan melakukan hal seperti itu, kan? Lagipula, ini rumah tempat kamu tinggal bersama adikmu yang sangat berharga." (Sophia)
"...Masuklah." (Miumi)
Mungkin dia menyerah.
Atau mungkin dia memang benar-benar ingin memakan kuenya.
Tanpa banyak ragu, dia mengizinkanku masuk.
Aku sempat mengira kemungkinan besar dia sudah menghubungi Shigurazaka-san sejak kemarin, tetapi rupanya dia belum melakukannya.
Persis seperti yang dikatakan Rindou-san.
Kalau Shigurazaka-san memanggilnya, Miumi-san pasti akan datang. Tetapi Miumi-san sendiri hampir tidak pernah menghubungi Shigurazaka-san lebih dulu.
Alasannya, karena Miumi-san yang sangat bergantung kepada Shigurazaka-san dulu sering menghubunginya, dan Shigurazaka-san merasa terganggu sehingga melarang Miumi-san menghubunginya lebih dulu.
Dia benar-benar hanya dimanfaatkan sebagai pion yang praktis.
Andai saja Miumi-san bisa menyadarinya...
Tetapi kalau sejak kecil dia sudah dimanipulasi, mungkin memang mustahil.
Atau mungkin dia mati-matian meyakinkan dirinya sendiri bahwa Shigurazaka-san tidak membencinya dan belum sanggup menerima kenyataan.
Apa pun itu, hubungan mereka jelas bukan hubungan yang sehat.
"Pilih saja yang kamu suka." (Sophia)
Setelah dipersilakan duduk di meja kecil, aku membiarkannya memilih kue.
"Kalau begitu... yang ini." (Miumi)
Dia menunjuk shortcake klasik dari tiga pilihan yang kubawa.
Aku meletakkan shortcake itu di atas piring kertas yang sudah kusiapkan, lalu menyerahkannya bersama garpu plastik.
"Terima kasih..." (Miumi)
Miumi-san menerimanya dengan gembira dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Ya... aku jadi bertanya-tanya, apa dia sudah lupa kalau aku ini adik Kento-kun...?
Kewaspadaannya benar-benar kurang.
Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum Riku-kun pulang... tetapi sebelum itu, aku harus mempererat hubungan kami.
Kalau ingin membujuknya, aku harus lebih dulu mendapatkan kepercayaannya.
Karena itulah kupikir kami bisa menjadi lebih akrab dengan makan kue bersama.
"Enak sekali..." (Miumi)
Setelah menggigit kuenya, Miumi-san menghela napas penuh kekaguman.
Aku bahkan melihat air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Kamu jarang makan kue, ya?" (Sophia)
"Iya... Hanya untuk memenuhi biaya hidup kami dan supaya Riku-kun bisa terus bermain bisbol saja sudah menghabiskan semua uangku... Kalaupun ada sisa, aku simpan untuk berjaga-jaga kalau nanti dia butuh banyak biaya untuk bisbol..." (Miumi)
Mungkin karena sedang makan kue, perasaannya menjadi lebih rileks.
Begitu saja dia mulai bercerita tentang keadaan mereka.
Seorang gadis yang baru berusia lima belas atau enam belas tahun bekerja sendirian demi menghidupi dirinya dan adik laki-lakinya...
Mungkin ada lebih banyak anak seperti dirinya daripada yang kusadari.
Seharusnya aku membeli lebih banyak kue.
"Sisakan sisanya untuk Riku-kun." (Sophia)
"Iya, terima kasih...!" (Miumi)
Dia tersenyum manis seperti anak kecil lalu mengucapkan terima kasih.
Melihat senyuman itu, aku berpikir,
Shigurazaka-san, aku tidak akan pernah memaafkanmu...
Aku benar-benar membencinya karena telah menyeret gadis sebaik ini ke jalan yang salah.
"Baiklah, sekarang kita masuk ke pokok pembicaraan." (Sophia)
Setelah selesai makan kue, aku mengatakannya sambil tersenyum.
Namun seperti yang kuduga, begitu mengetahui alasan sebenarnya aku datang, Miumi-san langsung kembali waspada dan menegang.
Meski begitu, sekarang aku tidak bisa mundur lagi.
"Aku akan langsung bicara. Aku ingin kamu jujur kepadaku tentang kakak." (Sophia)
Begitu aku mengatakannya, Miumi-san langsung menundukkan kepala dan menghindari tatapanku.
Kemarin dia bersikeras mengatakan "tidak tahu", tetapi jelas ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sejak saat itu.
Penyebabnya mungkin percakapannya dengan Riku-kun kemarin.
Aku yakin hati nuraninya sudah sangat terusik dan dia sedang diliputi rasa bersalah yang berat.
"Aku berjanji kami tidak akan menyalahkanmu atas apa pun. Yang kami inginkan hanya membuktikan bahwa kakak tidak bersalah dan mengembalikannya ke turnamen. Kalau kita tidak bertindak, seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa pun, tidak, seseorang yang berusaha menolongmu, akan dihukum secara tidak adil." (Sophia)
Saat ini Miumi-san mungkin sedang terombang-ambing antara hati nuraninya dan rasa berutang budinya kepada Shigurazaka-san.
Bagi seseorang seperti Miumi-san yang percaya dirinya telah diselamatkan oleh Shigurazaka-san sejak kecil, mengkhianatinya mungkin terasa mustahil.
Karena itulah aku terus menekan hati nuraninya.
"Miumi-san, sejak dulu kamu selalu mengikuti perintah Shigurazaka-san dan menerima uang sebagai imbalannya, bukan? Kali ini juga begitu, kan? Dan kalau memang begitu, menurutmu bagaimana perasaan Riku-kun kalau dia tahu selama ini dia bermain bisbol dengan uang yang didapat dari menyakiti atau menipu orang lain?" (Sophia)
"............" (Miumi)
Dia tidak mengatakan apa pun.
Namun dia juga tidak menyangkalnya.
Orang normal pasti akan langsung membantah dengan tegas.
Fakta bahwa dia tidak menyangkal, atau lebih tepatnya tidak bisa menyangkal, sudah sama saja dengan pengakuan tidak langsung.
Terlebih lagi, kalau sejak dulu hubungannya dengan Shigurazaka-san memang selalu berupa menjalankan perintah lalu menerima uang, maka kali ini pasti juga sama.
"Riku-kun anak yang sangat baik dan jujur, bukan? Aku yakin dia tidak tahu hubunganmu yang sebenarnya dengan Shigurazaka-san. Kalau suatu hari dia mengetahuinya... apa kamu masih bisa menghadapinya?" (Sophia)
Bahu Miumi-san sedikit bergetar.
Mungkin dia menganggap itu ancaman.
Aku sama sekali tidak berniat memberi tahu Riku-kun, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkannya karena mengartikannya seperti itu.
Yang kuinginkan hanya terus mengguncang hati nuraninya.
Namun bahkan begitu pun, Miumi-san tetap tidak mau bicara.
Sudah jelas sekarang. Rasa utang budinya kepada Shigurazaka-san terlalu besar.
Tidak ada pilihan lain. Aku sebenarnya tidak ingin sampai sejauh ini, tetapi...
"Shigurazaka-san bukan orang seperti yang kamu bayangkan. Dia..." (Sophia)
"Jangan jelek-jelekkan Rii-chan!!" (Miumi)
Seperti dugaanku.
Seberapa pun aku mengguncang atau menekannya, rasa syukur dan keterikatan Miumi-san kepada Shigurazaka-san menjadi tembok yang menghentikannya.
Karena itulah aku harus menghancurkan bagian itu.
Artinya, aku harus menunjukkan siapa sebenarnya Shigurazaka-san.
Namun Miumi-san masih memegang bayangan indah tentang dirinya, sehingga dia bereaksi sekeras itu.
"Aku hanya mengatakan fakta." (Sophia)
"Kamu bahkan hampir tidak pernah bersama Rii-chan, kan...! Aku mengenalnya sejak SD, jadi jelas aku lebih mengenalnya daripada kamu...!" (Miumi)
"Contohnya?" (Sophia)
"Hah?" (Miumi)
"Contohnya, apa sebenarnya yang begitu baik dari Shigurazaka-san?" (Sophia)
Saat aku menanyakan itu, mata Miumi-san langsung dipenuhi kegelisahan.
Jelas dia sama sekali tidak menyangka pertanyaan seperti itu.
"Y-Ya... benar! Dia baik! Waktu aku dirundung di SD, Rii-chan yang menolongku! Dia menyuruh anak-anak yang merundungku berhenti...! Dan setelah itu mereka benar-benar langsung berhenti menggangguku...!" (Miumi)
Mendengar jawaban putus asa yang diberikan Miumi-san...
Sebuah kemungkinan langsung terlintas di benakku.
"Perundungan itu mulai kapan?" (Sophia)
"Maksudmu mulai kapan...? Kenapa kamu menanyakan itu...?" (Miumi)
"Tolong jawab saja." (Sophia)
"Kurasa setelah aku naik kelas dua SD..." (Miumi)
Seperti dugaanku.
Dalam kasus Miumi-san, kalau gadis seimut dan sebaik dia dirundung, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena dia tidak memiliki orang tua dan dibesarkan di panti asuhan.
Namun fakta itu sudah diketahui sejak kelas satu.
Meski begitu, perundungan baru dimulai saat kelas dua.
Itulah hal pertama yang menarik perhatianku.
"Bukankah sejak masuk SD Riku-kun sudah menjadi pelari tercepat di angkatannya?" (Sophia)
"I-Iya, dari dulu dia memang yang paling cepat..." (Miumi)
Seperti yang kuduga...
Dengan keyakinan memenuhi hatiku, aku perlahan membuka mulut.
Shigurazaka Rio... wanita seperti apa sebenarnya dia...?
Dia pasti telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin dilakukan anak kelas dua SD.
"Miumi-san... kemungkinan besar kamu dirundung karena diperintahkan oleh Shigurazaka-san." (Sophia)
Saat aku mengutarakan dugaanku, ekspresi Miumi-san berubah.
Bukan wajah pucat karena sadar dirinya telah ditipu sejak awal.
Sebaliknya, wajahnya memerah karena marah.
"Sampai sejauh itu kamu menghina Rii-chan...! Mana mungkin itu benar...! Rii-chan sudah menyelamatkanku...!" (Miumi)
"Miumi-san, tadi kamu sendiri yang mengatakannya, kan? Bahwa Shigurazaka-san memberi perintah kepada anak-anak yang merundungmu, lalu perundungannya langsung berhenti. Itu berarti dia berada pada posisi yang membuat para perundung itu mau mendengarkan perkataannya." (Sophia)
"Ah..." (Miumi)
Miumi-san kehilangan kata-kata.
Dia sudah menyadari maksud perkataanku.
Kalau seseorang punya kekuatan untuk menghentikan perundungan, tentu saja dia juga punya kekuatan untuk memulainya.
"Miumi-san, kalau melihat kamu yang cantik dan baik hati sampai dirundung, orang pasti mengira penyebabnya adalah keadaanmu. Tapi kamu tidak dirundung saat kelas satu. Perundungan itu baru dimulai setelah Riku-kun masuk SD. Itu karena Shigurazaka-san melihat Riku-kun lalu memutuskan ingin menjadikan kalian berdua pionnya." (Sophia)
Miumi-san sangat imut, jujur, dan penurut.
Sementara Riku-kun memiliki kemampuan atletik yang luar biasa. Shigurazaka-san mungkin berpikir akan sangat berguna kalau bisa mengendalikan mereka berdua.
Tentu saja, saat itu mungkin dia belum memikirkan soal bisbol profesional.
Karena itu dia memutuskan menjadi "orang yang menghentikan perundungan", seseorang yang mudah mendapatkan kepercayaan Miumi-san dan menanamkan rasa utang budi palsu kepadanya.
Penjelasan itu membuat semuanya masuk akal.
"T-Tapi... Rii-chan tidak mungkin melakukan hal seperti itu..." (Miumi)
Bahkan sekarang Miumi-san masih belum bisa sepenuhnya mempercayainya.
Namun tampaknya kepercayaannya yang selama ini tidak tergoyahkan kepada Shigurazaka-san akhirnya mulai retak.
"Aku sendiri hampir dijebaknya, bahkan dia juga menyiramku dengan air. Karena itulah dia dikeluarkan dari sekolah." (Sophia)
"...Rii-chan bilang dia dikeluarkan karena Sophia-san dan Arisu-chan yang menjebaknya..." (Miumi)
Seperti yang kuduga, Shigurazaka-san telah menanamkan kebohongan kepada Miumi-san.
Aku benar-benar ingin berkata, "Bagaimana mungkin dia bisa berbohong setega itu?"
"Kalau begitu coba jawab. Kenapa Rindou-san dan yang lain, yang katanya menjebaknya, justru hanya menerima hukuman skorsing?" (Sophia)
"Itu..." (Miumi)
Miumi-san tidak mampu menjawab.
Tentu saja.
Mustahil mempercayai cerita selain kenyataannya.
"Alasan dia terus memberimu uang juga sama. Dia tidak pernah menganggapmu sebagai teman, hanya pion yang praktis. Bahkan, kalau uang yang dia berikan bisa membesarkan Riku-kun hingga menjadi pemain profesional, itu akan menjadi keuntungan besar baginya." (Sophia)
Shigurazaka-san mendorong Miumi-san agar Riku-kun bermain bisbol karena dia tahu uang yang diberikannya pasti akan digunakan demi Riku-kun.
Dengan begitu dia bisa mengendalikan Miumi-san sesuka hati sekaligus membesarkan orang lain menggunakan uang yang dia keluarkan.
Kalau Miumi-san menaruh rasa syukur mutlak kepadanya, maka Riku-kun juga akan menganggapnya orang yang istimewa. Kalau suatu hari Riku-kun menjadi pemain profesional, dia tinggal menikmati hasilnya.
Kalaupun gagal, mereka berdua tetap menjadi pion yang berguna baginya, jadi dia tidak akan rugi.
Lagipula, menurutku gagasan bahwa Riku-kun harus "menjadi pemain bisbol profesional demi membalas kebaikan kakaknya" juga merupakan sesuatu yang ditanamkan oleh Shigurazaka-san.
"Belum lagi, dengan menjebak kakakku kali ini, Miumi-san sekarang memiliki kelemahan besar yang bisa digunakan Shigurazaka-san. Apa kamu benar-benar menyadarinya?" (Sophia)
Saat kutanyakan itu, wajah Miumi-san langsung pucat, tetapi dia menggeleng kuat-kuat.
Dia tidak menyadarinya.
Begitulah kalau terlalu mengikuti seseorang tanpa berpikir.
"Lebih dari itu, kali ini Shigurazaka-san memanfaatkanmu untuk melakukan kejahatannya, dan setelah Riku-kun menjadi pemain profesional nanti, dia berencana menggunakan hal ini sebagai bahan ancaman terhadapmu. Karena itulah dia membayar para pria dengan uang, tetapi untuk pihak perempuan dia menggunakanmu, Miumi-san." (Sophia)
Itulah bagian yang sejak kemarin terus mengganjal pikiranku.
Kalau dia menyewa para pria dengan uang, seharusnya dia juga bisa menyewa seorang perempuan untuk memerankan bagiannya.
Dengan begitu risikonya akan lebih kecil.
Risiko terbesar dalam kasus ini justru berada pada orang-orang yang menjalankan aksinya.
Walaupun wajah mereka dipikselkan, mereka tetap muncul di dalam video, dan kalau semuanya terbongkar, merekalah yang pertama kali akan tertangkap.
Karena itulah para pria sengaja disewa.
Lalu kenapa untuk pihak perempuan mereka justru memakai Miumi-san?
Karena kalau Riku-kun benar-benar menjadi pemain profesional, mereka bisa menggunakan kasus ini sebagai alat pemerasan. Selain itu, karena Miumi-san hanya dimanfaatkan sepihak, mereka juga bisa dengan mudah membuangnya kalau terjadi sesuatu.
Mereka mungkin menganggap Miumi-san bisa dikorbankan karena saat ini peluang Riku-kun menjadi pemain profesional masih kecil.
Lagipula, selama SMP prestasinya memang belum terlalu menonjol.
Karena itulah rasanya mereka juga tidak berniat membantunya melanjutkan ke SMA.
Yah, mungkin memang biaya SMA swasta cukup mahal...
Tetapi kalau memang benar-benar mau, biaya itu seharusnya masih bisa ditanggung bersama dengan Miumi-san yang bekerja di beberapa pekerjaan paruh waktu.
Keluarga Shigurazaka-san sendiri tampaknya cukup berada.
Kalau dipikir seperti itu, mereka memang menjadikan Miumi-san pion sekali pakai yang bisa dibuang kapan saja. Dan kalau suatu hari Riku-kun berhasil menjadi pemain profesional, mereka tinggal memakai kejadian ini sebagai alat pemerasan.
"Tapi... memang benar Rii-chan yang memberi perintah, jadi sekalipun kamu mengancamku... ah...!" (Miumi)
Dia baru saja mengaku.
Bahwa memang ada sesuatu dalam kejadian ini yang bisa dijadikan bahan ancaman oleh Shigurazaka-san, dan bahwa dia melakukannya atas perintah Shigurazaka-san.
Pada saat yang sama, dia juga mengakui bahwa para pria itu memang disewa.
Karena dia tidak menyangkalnya.
Kalau para pria itu sebenarnya teman mereka sendiri, dia pasti akan langsung menertawakanku dan membantahnya.
Namun karena dia menjawabnya dengan serius, berarti para pria itu memang benar-benar disewa.
"Tenang saja, aku tidak merekam apa pun." (Sophia)
Bohong.
Sebenarnya aku merekamnya.
Tetapi kalau aku berhasil membujuknya, aku akan mendapatkan kesaksian yang jauh lebih kuat daripada rekaman ini.
Jadi, selama dia cukup memercayaiku untuk terus berbicara, rekaman ini tidak perlu digunakan.
"Syukurlah..." (Miumi)
Dia tampak benar-benar lega sambil meletakkan tangan di dadanya.
Padahal tanpa sadar dia sudah mengaku.
"Soal ancaman itu juga belum terjadi. Kalau dia benar-benar menggunakannya, itu baru akan dilakukan saat Riku-kun menjadi pemain bisbol profesional. Kerugian yang diterima orang biasa dan atlet profesional benar-benar berbeda." (Sophia)
Skandal orang terkenal sering kali menjadi berita besar, padahal kalau pelakunya orang biasa mungkin tidak akan pernah diberitakan.
Dan banyak orang tidak mau memaafkan skandal seorang selebritas. Mereka justru ingin menjatuhkannya.
Bahkan kalau yang bermasalah bukan dirinya sendiri, ada banyak tokoh terkenal yang tetap harus menanggung akibat karena ulah orang tua, anak, atau saudara mereka.
Kalau kebenaran kasus Kento-kun sampai terbongkar saat itu, Riku-kun akan langsung menjadi sasaran kecaman.
Tentu saja Miumi-san yang sangat menyayangi adiknya akan melakukan apa pun untuk mencegah hal itu, sehingga dia akan terus dimanfaatkan oleh Shigurazaka-san.
Kalau sampai begitu, dia akan terus dieksploitasi tanpa akhir sampai hari kematiannya.
"Rii-chan... tidak mungkin melakukan sesuatu sekejam itu..." (Miumi)
"Benarkah? Coba pikirkan baik-baik semua yang terjadi sejak urusan dengan Kujouin-sama sampai sekarang. Apa kamu benar-benar bisa bilang selama ini kamu tidak lebih dari sekadar dimanfaatkan? Apa setelah lulus SMP kamu tidak pernah merasa dipandang rendah olehnya?" (Sophia)
Aku menggenggam tangan Miumi-san dan menatap lurus ke matanya.
Perlahan-lahan air mata mulai memenuhi kedua matanya.
Pasti ada sesuatu yang diingatnya.
Dan kenyataan bahwa dia telah dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya benar-benar menghantam hatinya.
"Hiks... uwaaaahhh! Aku harus bagaimana!? Aku harus bagaimana!? Riku-kun sudah bekerja begitu keras! Dia benar-benar memberikan segalanya! Gara-gara aku, Riku-kun bakal celaka!" (Miumi)
Begitu menyadari keadaan yang sebenarnya, Miumi-san langsung menangis sejadi-jadinya.
Yang pertama keluar dari mulutnya bukan kebencian kepada Shigurazaka-san, melainkan kekhawatiran terhadap adik laki-lakinya.
Itulah bukti betapa baik hatinya dia.
"Tenang saja... kalau kamu mengatakan yang sebenarnya dengan jujur, kakak dan aku akan melindungi kalian berdua." (Sophia)
Aku memeluk Miumi-san erat-erat sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
Dia mendongak menatapku dengan mata yang penuh air mata.
"Hiks... sungguh...?" (Miumi)
"Iya, aku tidak berbohong." (Sophia)
"Padahal aku sudah menjebak Kento-san?" (Miumi)
"Tidak apa-apa. Kakak itu orang yang sangat baik dan berhati lapang. Dia tidak pernah meninggalkan orang yang sedang kesusahan, sangat bisa diandalkan, dan merupakan orang paling luar biasa sekaligus paling keren di dunia, jadi kamu tidak perlu khawatir." (Sophia)
Setelah aku mengatakan itu, Miumi-san menangis sambil menceritakan seluruh kebenarannya.
Dia mengaku bahwa semua itu dilakukan atas perintah Shigurazaka-san, bahkan memperlihatkan seluruh riwayat percakapannya di aplikasi pesan.
Untungnya, dia juga orang yang diperintahkan mengedit video itu, sehingga rekaman asli masih tersimpan di komputernya.
Komputer itu sendiri merupakan pemberian Shigurazaka-san, jadi sebelum sempat diambil kembali, aku memastikan video aslinya sudah diamankan.
Sekarang kami memiliki bukti lengkap yang membuktikan bahwa Kento-kun tidak bersalah.
Sebagai balasannya, aku berjanji bahwa sampai mereka berusia sembilan belas tahun, Miumi-san dan Riku-kun akan bisa hidup tanpa kesulitan. Aku juga akan meminjamkan uang yang diperlukan agar Riku-kun bisa terus bermain bisbol, termasuk biaya jika nanti dia masuk SMA swasta.
Kami juga sepakat bahwa uang itu hanya perlu dikembalikan kalau Riku-kun berhasil menjadi pemain bisbol profesional. Kalau tidak, mereka tidak perlu mengembalikannya.
Miumi-san menangis sambil berulang kali mengucapkan terima kasih kepadaku.
Namun aku sama sekali tidak mengharapkan rasa terima kasih itu.
Ini hanyalah kepuasan pribadiku sendiri, karena akhirnya seseorang yang telah begitu lama menderita, tetapi tetap bekerja keras demi adik laki-lakinya, bisa mendapatkan kebahagiaan yang pantas dia terima.