Dan begitulah, pada malam hari di hari terakhir...
"Kurasa inilah saatnya."
Aku berdiri di depan cermin, mengenakan yukata yang diberikan Chika-san kepadaku.
Ini pertama kalinya aku memakai yukata, jadi aku sama sekali tidak tahu cara memakainya. Namun, inilah saat smartphone-ku benar-benar berguna. Saat mencari di internet, aku menemukan cara mengikat obi dan berbagai petunjuk lainnya, yang sangat membantuku.
Yukata pria lebih sederhana daripada yukata wanita, jadi aku tidak kesulitan memakainya sendiri.
Setelah selesai bersiap, aku melirik jam dan melihat waktu menunjukkan sedikit lewat pukul 17.30.
Masih sekitar dua jam sebelum festival kembang api dimulai.
"Apa Onee-san sudah siap, ya?"
"Fugu!"
"A-Apa suara itu...?"
Saat keluar dari kamarku, aku mendengar suara erangan dari kamar sebelah.
Itu suara tertahan yang terdengar begitu kesakitan hingga membuatku sedikit khawatir.
"Chika-chan, sesak!"
"Benarkah? Apa aku mengikatnya terlalu kencang?"
"Longgarkan sedikit... gueh!"
Kurasa aku mendengar suara seperti katak yang terinjak.
Sebenarnya mereka sedang apa?
"Tidak! Obi-nya terlalu kencang, rasanya seperti semuanya mau keluar!"
"Diam. Itu karena kamu memaksa ingin terlihat lebih langsing."
"Memang sih, tapi tetap ada batasnya... ngu!"
"Tapi ngomong-ngomong... Saori, apa kamu sedikit bertambah gemuk?"
"Ugh... ya, sedikit..."
"Kalau tidak hati-hati memang gampang naik berat badan, jadi lebih diperhatikan, ya."
"Tapi masakan Eita-kun enak sekali."
"Benar juga. Kalau setiap hari disuguhi makanan seenak itu, siapa pun pasti bakal makan kebanyakan dan akhirnya gemuk..."
"Iya, kan? Aku iri sekali dengan tubuhmu yang bagus, Chika-chan."
"Iri... Aku berusaha keras, lho. Bahkan saat makan di luar pun aku tetap memperhatikan kalori, dan aku juga berolahraga sebanyak aku makan. Mau ikut ke gym denganku, Saori?"
"Kalau olahraga sih agak..."
"Kalau begitu setidaknya tahan diri sedikit."
"Nguu!"
Dilihat dari percakapan mereka, sepertinya Chika-san sedang membantu Onee-san mengenakan yukata.
Rupanya berat badannya bertambah karena terlalu banyak makan masakan buatanku, sampai memakai yukata pun jadi susah. Aku senang mereka bilang masakanku enak, tapi di sisi lain aku juga merasa sedikit bertanggung jawab.
Onee-san adalah seorang aktris, jadi menjaga bentuk tubuh merupakan bagian dari pekerjaannya.
Sebagai pengurus rumah tangganya, tugasku adalah membuat menu rendah kalori.
Sambil memikirkan itu, aku mengetuk pintu untuk memastikan keadaan mereka.
"Onee-san, sudah siap?"
"A-Aku sebentar lagi selesai, jadi tunggu di bawah dulu!"
"Baik. Kita masih punya banyak waktu, jadi tidak perlu terburu-buru."
"Oke. Terima ka... ih!"
Dia benar-benar tidak apa-apa, kan...?
Aku memutuskan menunggu Onee-san di ruang tamu sambil mencari informasi tentang makanan diet.
Aku tidak mungkin bertanya berapa kilogram berat badannya bertambah, kan?
"Maaf membuatmu menunggu, Eita-kun!"
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit di sofa...
Bersamaan dengan suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan irama ringan, terdengar suara ceria Onee-san.
Aku spontan mendongak dan melihat Onee-san yang mengenakan yukata.
"B-Bagaimana? Cocok?"
Onee-san berkata dengan malu-malu, lalu perlahan berputar untuk memperlihatkan yukatanya.
Yukata berwarna ungu tua yang tenang dengan motif bunga asagao berukuran besar. Obi-nya berwarna senada, hanya sedikit lebih terang, sehingga keseluruhan penampilannya memancarkan kesan dewasa dan anggun.
Biasanya Onee-san memakai pakaian dengan warna-warna cerah, tetapi warna yang kalem seperti ini juga sangat cocok untuknya.
Dan yang paling memikat adalah tengkuknya yang terlihat dari balik rambut yang disanggul.
"Menurutku sangat cocok."
"Benarkah?"
"Iya. Cantik sekali."
"...Ehehe."
Onee-san tersenyum malu.
"Aku akan mengantar kalian sampai dekat sana."
"Benarkah tidak apa-apa kalau cuma kami berdua yang pergi?"
"Aku sedang sibuk memeriksa foto-foto yang kita ambil kemarin."
"Begitu ya..."
Aku jadi merasa sedikit bersalah.
Mungkin menyadari apa yang kupikirkan...
"Jangan dipikirkan. Kalian berdua pergi saja dan bersenang-senang."
Chika-san menepuk bahuku.
"Tolong jaga Saori, ya?"
bisiknya pelan.
Kurasa aku mengerti maksud perkataannya.
Bukan hanya karena kami akan pergi ke tempat yang dipenuhi banyak orang sehingga aku harus berhati-hati agar identitas Onee-san tidak terbongkar dan menimbulkan keributan, tetapi juga karena aku harus menghibur Onee-san yang belakangan tampak murung.
Onee-san sesekali masih terlihat tidak bersemangat.
Sampai sekarang aku masih belum tahu penyebabnya.
Sebagai jawaban, aku hanya mengangguk kecil.
"Nanti aku tidak akan menjemput kalian, jadi pulanglah naik taksi atau semacamnya."
"Baik. Terima kasih."
"Terima kasih, Chika-chan!"
Begitulah, aku dan Onee-san berangkat menuju lokasi festival kembang api dengan mobil Chika-san.
Nanti aku akan membelikan makanan dari kios sebagai oleh-oleh untuknya.
ω ω ω
Lokasi festival kembang api berada di sebuah taman dekat Stasiun Karuizawa.
Saat menuju ke sana dengan mobil, aku sempat mencarinya di internet. Meskipun disebut taman, ternyata tempat itu sangat luas dan bisa digunakan untuk berjalan-jalan. Kembang apinya kabarnya akan diluncurkan dari atas permukaan kolam yang berada di tengah taman.
Semakin dekat ke taman, kawasan itu sudah dipenuhi lautan manusia. Aku dan Onee-san akhirnya diturunkan agak jauh dari pintu masuk. Mungkin karena bukan hanya penduduk setempat, tetapi juga banyak wisatawan yang datang.
Matahari sudah hampir sepenuhnya terbenam, tetapi taman tetap terang oleh lampu-lampu dari kios makanan.
Kios-kios itu dipenuhi orang-orang yang ingin membeli makanan sebelum pertunjukan kembang api dimulai.
"Mau beli sesuatu juga?"
"Iya. Onee-san mau pisang cokelat."
"Sekalian beli oleh-oleh untuk Chika-san juga."
"Benar juga. Chika-chan suka cumi bakar."
"Benarkah? Kalau begitu jangan cuma beli oleh-oleh. Lain kali kita buatkan saja."
"Kurasa dia pasti senang."
Kami menyusuri kerumunan orang.
Namun karena orangnya terlalu banyak, kami sulit bergerak maju.
"Ah..."
Aku menoleh saat mendengar suara kecil Onee-san.
Onee-san hampir terseret arus manusia.
"Onee-san..."
"...Eita-kun."
Kami berdua sama-sama mengulurkan tangan.
Aku segera menggapai sekuat tenaga dan nyaris saja berhasil menggenggam tangan Onee-san.
"Kamu tidak apa-apa?"
"I-Iya... Kukira kita bakal terpisah."
Onee-san mengembuskan napas lega.
"Eita-kun, boleh kita bergandengan tangan supaya tidak terpisah?"
"Ayo."
Sudah berapa kali kami bergandengan tangan seperti ini, ya?
Pertama kali di jalan setapak tepi sungai, melalui sarung tangan. Lalu di hari pertama kami datang ke sini saat aku mengajarinya memasak. Setelah itu saat latihan berenang di kolam, lalu kemarin ketika kami berjalan-jalan di malam hari.
Masih ada banyak kesempatan lain saat kami saling bersentuhan, tetapi...
Kenapa, ya...
Aku merasa lebih gugup daripada biasanya.
"Onee-san, kamu benar-benar sudah tidak pingsan lagi, ya?"
"I-Iya... Meski tetap agak gugup."
Onee-san tersenyum kepadaku dengan pipi yang sedikit memerah.
Apa karena kami sedang bergandengan tangan, atau karena suasana festival?
Sepertinya kami sama-sama gugup. Namun, bukan hanya itu alasan aku gugup. Onee-san yang mengenakan yukata terlihat begitu cantik, jauh lebih cantik dari biasanya, sampai-sampai aku terlalu malu untuk menatapnya secara langsung.
"Ah, Eita-kun! Aku menemukan pisang cokelat!"
Onee-san menarik tanganku, lalu kami menghampiri kios itu dan memesan.
Kami juga membeli minuman dan cumi bakar untuk oleh-oleh Chika-san, lalu menikmati suasana festival dengan santai sampai pertunjukan kembang api dimulai.
Sejujurnya, aku sempat cemas pergi ke festival bersama Onee-san.
Bagaimanapun hati-hatinya kami, kupikir di tempat seramai ini pasti ada kemungkinan seseorang mengenalinya sebagai Yoshioka Satomi. Lagi pula, dengan yukata seperti ini dia tidak bisa memakai topi dan kacamata hitam.
Namun justru karena orangnya begitu banyak, kurasa akan lebih sulit baginya dikenali.
Bukan seperti menyembunyikan sehelai daun di tengah hutan, tetapi dengan keramaian sebanyak ini kami bisa membaur di antara orang-orang. Ditambah lagi hari sudah gelap, sehingga wajahnya tidak akan terlihat jelas kecuali berada di dekat kios yang terang.
Saat kami menikmati festival dengan perasaan lega, aku menyadari orang-orang di sekitar mulai bergerak.
Aku melirik jam dan ternyata waktu pertunjukan kembang api hampir tiba.
"Sudah hampir mulai. Ayo ke kolam."
"Iya. Ayo."
Aku menggenggam tangan Onee-san dan berjalan menuju tepi kolam.
Di sana sudah penuh oleh orang-orang yang sejak tadi mengambil tempat.
Sebenarnya aku ingin menontonnya dari dekat, tetapi mau bagaimana lagi.
Kami pun duduk di tempat yang masih memiliki pemandangan bagus meski agak jauh.
Tepat saat itu...
Sebuah cahaya melesat ke langit, lalu meledak dengan suara keras dan mekar menjadi bunga di tengah kegelapan.
Sorak-sorai terdengar di segala penjuru, dan Onee-san juga berseru gembira.
"Eita-kun! Sudah mulai!"
Aku melirik Onee-san di sampingku dan melihat matanya berbinar seperti anak kecil.
"Indah sekali..."
"...Iya."
Setiap kali kembang api meledak, aku justru terpikat oleh wajah samping Onee-san yang diterangi berbagai warna.
Aku hampir tidak memperhatikan kembang apinya, karena sepanjang waktu hanya memandangi wajah samping Onee-san.
Satu jam kemudian, pertunjukan kembang api pun berakhir.
Saat pengumuman penutupan festival terdengar, orang-orang yang tadi menikmati festival mulai berjalan meninggalkan taman. Akibatnya, jalan setapak dipenuhi orang-orang yang hendak pulang.
Suasana meriah tadi seolah menghilang begitu saja, berganti dengan rasa sepi.
"Kita tunggu sampai orang-orangnya berkurang."
"Iya."
Kami tetap duduk sambil menunggu kerumunan mulai bubar.
"Tapi tetap saja, tadi benar-benar indah."
"Iya. Sudah lama sekali aku tidak datang ke festival kembang api."
"Kalau aku, ini pertama kalinya."
"Benarkah?"
"Selama musim panas aku tidak pernah punya waktu untuk bersantai seperti ini. Aku memang pernah melihat kembang api dari apartemen, tapi ini pertama kalinya benar-benar datang ke festival."
Pantas saja Onee-san begitu bersemangat.
"Kalau bersama Eita-kun, aku bisa mengalami banyak hal untuk pertama kalinya, dan semuanya menyenangkan."
"...Tahun depan kita datang lagi ke festival kembang api bersama."
"Iya... Semoga kita bisa."
Setelah mengobrol beberapa saat, kerumunan pun jauh berkurang.
Saat aku tanpa sengaja melihat sekeliling...
"...Hm?"
Aku baru sadar bahwa orang-orang yang masih tinggal di sana hanyalah pasangan-pasangan.
Kalau diperhatikan lebih saksama, semuanya sedang bermesraan sambil menikmati sisa suasana setelah pertunjukan kembang api. Dari tadi aku heran kenapa masih banyak yang belum pulang setelah acaranya selesai, ternyata karena itu...
Dan entah kenapa, Onee-san memandangi mereka dengan ekspresi iri.
"Orangnya sudah berkurang. Ayo pergi!"
"I-Iya!"
Aku menggenggam tangan Onee-san lalu berdiri.
Begitulah, kami meninggalkan taman dengan suasana yang agak canggung.
Tidak masalah kalau ingin bermesraan, tapi setidaknya lakukan di tempat yang sedikit lebih sepi.
ω ω ω
Setelah itu kami berjalan menuju Stasiun Karuizawa.
Sesuai yang dikatakan Chika-san, kami berniat pulang naik taksi, tetapi...
"Tidak ada satu pun taksi..."
Sebaliknya, yang ada hanyalah antrean panjang orang yang menunggu taksi.
Kalau begini, entah berapa puluh menit lagi baru giliran kami.
Yah... semua orang pasti berpikir hal yang sama.
"Ini jadi masalah."
"Karena sudah begini, bagaimana kalau kita jalan kaki saja pulangnya?"
"Boleh saja, tapi mungkin akan memakan waktu."
"Malam ini malam terakhir kita, jadi aku ingin menikmatinya sedikit lebih lama."
Onee-san berkata dengan nada yang sedikit menyesal.
Seminggu yang terasa panjang sekaligus singkat ini akan berakhir besok.
Kemarin kami masih membicarakan betapa cepatnya seminggu berlalu, tetapi malam ini benar-benar malam terakhir. Setelah kembali ke cottage, yang tersisa hanya tidur, lalu besok kami kembali ke apartemen Onee-san.
Tiba-tiba aku merasa seperti ditarik kembali ke kenyataan.
Memikirkan hari-hari sibuk yang akan dimulai lagi lusa membuatku merasa enggan.
"Kamu benar. Ayo kita pulang dengan berjalan santai."
"Oke."
Begitulah, kami meninggalkan tempat antrean taksi dan mulai berjalan.
Seharusnya malam ini lebih hangat daripada kemarin, tetapi angin malam terasa anehnya begitu dingin di kulitku. Apa karena aku sedih perjalanan ini akan berakhir?
Tanpa kusadari, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Yang terdengar hanyalah suara serangga dari semak-semak.
Setelah berjalan puluhan menit di jalan hutan yang sepi...
Onee-san tiba-tiba berhenti.
"Onee-san?"
Aku memanggilnya, bertanya-tanya ada apa.
Saat mengikuti arah pandangannya, aku melihat sebuah taman kecil.
Tempat itu lebih mirip area istirahat dengan beberapa bangku di atas tanah lapang. Sebuah lampu jalan menerangi bangku di bawahnya.
"Ayo istirahat sebentar."
"Iya..."
Aku langsung sadar ada yang tidak beres dengan Onee-san.
Baru beberapa saat yang lalu dia begitu menikmati festival kembang api, tetapi sekarang dia kehilangan semangat.
Itu ekspresi yang sering kulihat darinya, ekspresi seseorang yang sedang meratapi sesuatu.
Onee-san melangkah masuk ke taman lalu duduk di bangku.
"Aku tidak ingin pulang..."
gumamnya.
"Kalau kupikir semuanya sudah berakhir, aku jadi sedih sekali... Kira-kira kapan lagi aku bisa pergi bersamamu seperti ini, Eita-kun?"
"Kita bisa pergi kapan saja."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kapan saja?"
"Iya."
Namun, bayangan kesedihan itu masih belum hilang dari wajah Onee-san.
Dia terus bertanya berulang kali, seolah ingin memastikan.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Lalu Onee-san menundukkan pandangannya.
"Akhir-akhir ini kamu tidak seperti biasanya, Onee-san. Mau cerita kepadaku? Mungkin aku tidak bisa melakukan apa-apa, tapi kalau ada yang membuatmu khawatir, aku ingin membantumu."
Kemudian Onee-san bersuara pelan.
"Aku hanya... berpikir."
"Berpikir?"
Aku menatap wajah Onee-san yang murung.
"Awalnya aku berpikir kita akan bisa terus bersama seperti ini selamanya. Tapi kemudian polisi yang cosplay itu dan Chika-chan mengetahui semuanya... memang mereka mengerti, tapi tidak semua orang akan seperti mereka."
Di tengah kesunyian, suara Onee-san terdengar lirih.
"Chika-chan menjadikanmu manajer sebagai tindakan berjaga-jaga kalau hubungan kita ketahuan... tapi aku tidak tahu apa yang benar-benar akan terjadi kalau sampai terbongkar. Dan... aku juga memikirkannya saat menghadiri pertemuan guru, orang tua, dan muridmu. Bahwa kamu juga punya masa depanmu sendiri, Eita-kun."
Onee-san menggenggam kedua tangannya erat di atas pangkuannya.
Bahu itu sedikit gemetar, begitu pula suaranya.
"Selama ini aku terlalu bahagia hanya karena bisa bersamamu, Eita-kun, sampai tidak memikirkan apa pun. Tapi setelah semuanya mulai tenang... dan aku memikirkan masa depan, aku baru sadar. Sebesar apa pun rasa cintaku padamu, Eita-kun, tidak ada jaminan kita bisa terus bersama selamanya."
"..."
"Aku selalu berharap hari-hari ini bisa berlangsung selamanya. Tapi mungkin cuma aku yang berpikir begitu. Lalu... aku jadi sedih sekali. Maaf... aku cuma memikirkan semua ini sendirian lalu malah mengkhawatirkannya."
"..."
Tidak ada jaminan kami bisa terus bersama.
Itu juga sesuatu yang sering kupikirkan.
Selama ini kami menghadapi berbagai masalah, lalu mengatasinya satu per satu hingga bisa bersama seperti sekarang. Namun aku tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan bertahan. Mungkin suatu hari nanti semuanya akan berakhir begitu saja.
Kadang-kadang aku memikirkannya tanpa sengaja.
"Onee-san..."
Akhirnya aku merasa mengerti apa yang dipikirkannya.
Dan aku juga merasa semua ini adalah salahku.
Saat Onee-san menghilang, dia sudah menyatakan perasaannya kepadaku, tetapi aku tidak pernah memberinya jawaban yang jelas.
Karena kupikir sebagai orang yang masih bergantung padanya, aku tidak seharusnya membicarakan masa depan tanpa kepastian.
Kupikir aku baru boleh mengatakannya ketika sudah mampu bertanggung jawab atas kata-kataku sendiri. Namun pada akhirnya, sikapku yang terus menghindari jawaban tegas justru menjadi sumber penderitaan bagi Onee-san.
Sekarang kalau kupikirkan lagi, itu memang wajar.
Jawabanku selama ini pada dasarnya hanya berputar-putar.
Karena itulah aku menyadari bahwa perasaan saja tidak cukup.
Walaupun bukan sesuatu yang berwujud, kami tetap membutuhkan sesuatu yang bisa kami yakini.
Misalnya, seperti janji antara Chika-san dan Onee-san untuk terus menjaga Second House sampai ibuku kembali. Sesuatu seperti ikrar di antara kami.
Mungkin hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan kecemasan Onee-san.
Kalau begitu...
"Onee-san."
Sama seperti waktu itu, aku berjongkok di depannya, menatap matanya, lalu menggenggam tangannya.
Jawaban yang selama ini kupikir suatu hari nanti harus kusampaikan dengan benar.
Bukan suatu hari nanti.
Melainkan sekarang.
"Eita-kun...?"
Saat hendak mengatakannya, kata-kata itu tidak mau keluar karena aku terlalu gugup.
Jantungku berdebar kencang, mulutku kering, tenggorokanku terasa seret.
Tanganku berkeringat, dan aku khawatir dia bisa merasakan betapa gugupnya aku.
Namun, kalau aku benar-benar ingin bersamanya, aku harus menyampaikan pengakuan cinta pertamaku dalam hidup.

"Aku... ingin terus bersamamu selamanya, Onee-san."
Aku mengucapkan kata-kata yang sama seperti waktu itu.
Lalu, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku mengucapkan sisanya.
"Karena aku mencintaimu, Onee-san."
"Eita-kun..."
Begitu kata-kata itu keluar, semua ketegangan dalam tubuhku seolah langsung menghilang.
Begitu berhasil mengatakannya, kata-kata berikutnya mengalir dengan sendirinya.
"Sejak Onee-san bilang mencintaiku, aku terus berpikir kalau aku harus memberimu jawaban. Tapi aku merasa itu bukan sesuatu yang pantas kuucapkan dengan mudah, selama aku masih bergantung padamu."
Mata Onee-san menatap lurus ke arahku.
Di balik tatapan itu, aku melihat emosi lain selain keterkejutan.
"Aku ingin terus bersamamu, bekerja keras sebagai manajermu, masuk universitas... lalu suatu hari nanti mungkin bekerja. Dan di masa depan yang kubayangkan, aku ingin kamu selalu berada di sisiku. Aku akan melakukan apa pun agar itu bisa terwujud."
Suaraku yang bergema di tengah kesunyian terdengar begitu jelas.
Perlahan-lahan air mata mulai memenuhi mata Onee-san.
"Tapi saat ini hanya itu yang bisa kukatakan."
"...Kenapa?"
Aku memilih kata-kataku dengan hati-hati agar Onee-san benar-benar mengerti.
Karena ini adalah hal penting yang harus dia pahami dengan baik.
"Seperti yang pernah kukatakan, sekarang aku masih berada di posisi yang bergantung padamu, Onee-san. Walaupun aku bekerja, aku hanya diasuh oleh Chika-san, dan aku belum bisa dibilang mandiri. Kalau aku ingin mengatakan hal berikutnya, menurutku itu harus dilakukan setelah aku benar-benar bisa bertanggung jawab atas hidupku sendiri."
Kalau disederhanakan, saat ini aku masih anak-anak yang belum bisa memikul tanggung jawab apa pun.
Namun aku juga tidak cukup kekanak-kanakan untuk berpikir bahwa perasaan saja bisa menyelesaikan semuanya.
"Seperti yang kamu bilang, Onee-san, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kemungkinan kita tidak bisa terus tinggal bersama memang bukan nol. Tapi tetap saja... karena aku mencintaimu, Onee-san, aku akan selalu berada di sisimu."
Air mata mengalir di pipi Onee-san.
"Ini janjiku. Jadi, percayalah padaku."
Aku mengulurkan jari kelingkingku kepada Onee-san.
"Sebuah janji..."
"Iya... sampai suatu hari nanti aku menjadi orang dewasa, maukah kamu menunggu apa yang akan kukatakan setelah itu?"
"Iya..."
Sambil mengangguk, air mata terus mengalir dari matanya.
Onee-san mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku, membuat janji kelingking.
"Maaf... pengakuan cintaku masih canggung. Ini pertama kalinya, jadi tolong maafkan aku."
"Tidak. Sama sekali tidak... terima kasih."
Onee-san memelukku dengan lembut.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu..."
Begitulah, kami saling meneguhkan perasaan kami dan mengakhiri liburan musim panas kami yang singkat.
Dengan sebuah janji kelingking yang mengikat masa depan kami.
Namun...
Saat kami menikmati perjalanan ini, keadaan sebenarnya sedang bergerak menuju perkembangan terburuk.
Dan saat itu, kami sama sekali belum mengetahuinya.
☆Buku Harian Onee-san☆
Whaaaaaaa!
Eita-kun menyatakan cintanya kepadakuuuuuu!
Kami saling mencintai... kan! Maksudnya memang begitu, kan!? Ini bukan mimpi, kan!?
Harus bagaimana... aku bahagia sekali sampai rasanya bisa mati. Tapi aku tidak akan mati!
Tapi aku juga tidak boleh terlalu terbawa suasana.
Seperti yang Eita-kun bilang, untuk saat ini kami tidak boleh melangkah lebih jauh.
Meskipun aku tidak keberatan, Eita-kun masih di bawah umur. Kalau terjadi sesuatu, justru dialah yang akan mendapat masalah.
Setidaknya aku harus menghindari apa pun yang bisa berdampak buruk pada masa depan Eita-kun.
Sekarang aku mengerti apa yang dipikirkan Chika-chan... mungkin dia lebih mengkhawatirkan Eita-kun daripada aku. Chika-chan memang baik sekali.
Tiga tahun lagi sampai Eita-kun menjadi orang dewasa... aku harus bersabar sampai saat itu!
Ehehe... aku bahagia sekali.