Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan sedang menyiapkan sarapan.
Setelah Onee-san dibawa pergi larut malam tadi, sepertinya aku langsung tertidur, karena tahu-tahu saat membuka mata, waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi.
Rasanya aku bangun agak terlalu pagi, dan karena ini sedang liburan, sempat terpikir untuk bersantai saja. Tapi ini juga bukan waktu yang pas untuk tidur lagi, jadi aku turun ke lantai bawah.
"Ya. Kurasa sudah cukup."
Sarapan hari ini sederhana: roti, sup jagung, dan salad.
Untuk rotinya, aku mengoleskan mayones secara merata, menyusun beberapa lembar bacon di atasnya, memecahkan sebutir telur, lalu memanggangnya di oven. Sup jagungnya menggunakan sup instan. Sarapan yang sederhana.
Ini cuma kesan pribadiku, tapi entah kenapa roti terasa lebih cocok daripada nasi untuk pagi hari di sebuah cottage.
Tepat saat semuanya selesai kusiapkan...
"Eita-kun... selamat pagi."
"Selamat pagi."
Onee-san yang masih mengantuk turun dari lantai dua.
Dia masih setengah tertidur, sampai-sampai gumamannya terdengar tidak jelas.
"Kamu bangun pagi sekali. Tidur lagi sebentar juga tidak apa-apa, kok."
"Tidak. Hari ini aku berkencan dengan Eita-kun, jadi aku harus bangun pagi."
Wah... luar biasa.
Onee-san yang biasanya tidak akan bangun kalau aku tidak membangunkannya atau kalau belum mencium aroma sarapan.
Harusnya aroma sarapan belum sampai ke lantai dua, jadi hebat sekali dia bisa bangun dengan kemauannya sendiri.
Kalau dipikir-pikir, waktu perjalanan ke Nagano dia juga bangun sendiri.
Apa dia cuma kesiangan kalau hari kerja saja... begitu, ya?
"Chika-san masih tidur?"
"Aku sudah bangun."
Mengikuti Onee-san, Chika-san turun dari tangga, tapi... penampilannya membuatku terkejut.
Yang membuatku kaget adalah tingkat artistik rambut acaknya setelah bangun tidur.
Rambut panjangnya berdiri ke segala arah seolah menentang gravitasi. Dipadukan dengan wajahnya yang masih mengantuk dan lesu, kalau bertemu dengannya di jalan gelap, dia benar-benar akan terlihat seperti monster film horor.
"...Kelihatannya kamu ingin mengatakan sesuatu."
Chika-san menatapku dengan wajah tidak puas.
"Tidak, tidak ada..."
"Jangan ditahan. Bilang saja terus terang."
"Yah... kalau dilihat dari sudut tertentu, kurasa itu cukup artistik."
"Posisi tidur Chika-chan ternyata memang cukup parah. Malah hari ini termasuk salah satu yang lebih baik."
Ini termasuk yang lebih baik?
Yang seperti ini saja sudah cukup untuk membuat anak kecil yang sedang menangis langsung terdiam.
"Dia sering bangun dengan posisi kepala dan kaki tertukar, dan tempat tidurnya di rumah dipasangi pagar supaya tidak jatuh. Tadi malam tempat tidur di sini tidak ada pagarnya, jadi aku sempat dengar suara gedebuk... aduh, aduh!"
"Jangan membocorkan rahasia orang pagi-pagi begini."
Chika-san mencubit pipi Onee-san lalu menariknya.
Dia memang selalu terlihat rapi, tapi ternyata dia juga punya sisi ceroboh.
"Sarapannya sudah siap, jadi kalian berdua cuci muka dulu."
"Okaaay~"
Masih setengah mengantuk, mereka berdua berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.
Rasanya aku mendapat sesuatu setelah mengetahui sisi lain dari Chika-san.
"Ngomong-ngomong, apa rencana kalian hari ini?"
Chika-san tiba-tiba bertanya saat kami sedang sarapan.
"Aku berencana pergi ke kolam renang bersama Eita-kun."
"Setelah itu kami ingin jalan-jalan di sekitar Karuizawa. Katanya ada tempat penyewaan sepeda dekat stasiun, jadi kami akan menyewa sepeda dulu, lalu pergi ke kolam renang."
"Begitu ya. Kalau begitu aku antar kalian ke stasiun sekalian."
"Sekalian? Chika-chan mau ke mana?"
"Bukannya sudah kubilang? Aku mau survei lokasi untuk pemotretan."
"Sendirian?"
"Iya. Besok aku bertemu dengan tim kamera, jadi aku ingin mengeceknya lebih dulu."
"Ah... jadi kami malah jalan-jalan sendiri."
"Jangan dipikirkan. Ini kesempatan langka, jadi kalian berdua bersenang-senang saja. Tapi, maaf kalau aku terus mengulanginya, Saori, setidaknya lakukan sesuatu supaya tidak dikenali. Memang tidak seramai Tokyo, tapi tetap saja ini tempat wisata yang dipenuhi orang."
"Oke. Terima kasih, Chika-chan."
Setelah selesai makan, kami pun mulai bersiap-siap untuk pergi.
Aku merasa tidak enak pada Chika-san, jadi nanti akan kubelikan oleh-oleh sebagai gantinya.
ω ω ω
Setelah sarapan, kami selesai bersiap lalu meninggalkan cottage.
Chika-san mengantar Onee-san dan aku ke Stasiun Karuizawa dengan mobil.
Setelah mengantar kepergian Chika-san yang menuju lokasi survei, Onee-san dan aku menyewa sepeda tandem di tempat penyewaan sepeda dekat stasiun, lalu berangkat menuju tujuan pertama kami, kolam renang.
Aku mendengar dari Onee-san bahwa di Karuizawa tidak ada kolam renang luar ruangan, tetapi ada hotel yang membuka kolam renangnya untuk tamu yang datang hanya sehari.
Ngomong-ngomong, pakaian Onee-san hari ini adalah gaun one-piece bermotif bunga dengan dominasi warna putih.
Gaun putih polos yang pernah kulihat sebelumnya memang cantik, tapi yang penuh warna seperti hari ini juga sangat menarik. Pita di pinggangnya juga menjadi aksen yang manis.
Sebagai langkah agar tidak dikenali, topi jerami dan kacamata hitam tetap menjadi perlengkapan andalannya.
"Sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali aku naik sepeda... Aku agak gugup."
"Kita jalan pelan-pelan dulu sampai terbiasa."
Aku membantu Onee-san naik ke kursi belakang lalu perlahan mengayuh pedal.
Sepedanya sempat oleng sesaat, tapi setelah mulai terbiasa, laju kami perlahan menjadi stabil.
"Bagaimana?"
"Iya. Ternyata tidak masalah."
"Kalau begitu kita tambah sedikit kecepatannya."
"Oke! Ayo berangkat♪"
Mendengar semangat Onee-san, aku mengayuh sepeda sedikit lebih cepat.
Cuaca hari ini cerah, dan suhu tertingginya diperkirakan dua puluh tujuh derajat. Kedengarannya memang sejuk, tapi kalau terkena sinar matahari langsung tetap terasa sangat panas.
Namun angin yang berembus saat bersepeda terasa sejuk dalam kadar yang pas.
"Rasanya enak sekali~♪"
"Cuacanya juga bagus."
"Ngomong-ngomong, Onee-san."
"Ada apa?"
"Memang bagus kita sudah berangkat, tapi... kita menuju arah yang benar, kan?"
"Aku tidak tahu!"
Tidak, meskipun mengatakannya dengan semangat begitu...
Yah, sebenarnya aku memang sudah menduga.
"Tapi seingatku letaknya di sisi selatan stasiun. Tidak terlalu jauh."
"Nama hotelnya masih ingat, kan?"
"Iya. Itu tidak masalah."
"Kalau begitu tidak perlu terburu-buru. Kita cari saja sambil menikmati jalan-jalan."
"Benar juga. Mumpung sudah di sini, aku ingin melihat banyak tempat."
"Kalau begitu sudah diputuskan."
Kami pun menuju hotel sambil menikmati suasana Karuizawa dengan santai.
Setelah sekitar tiga puluh menit menikmati perjalanan dengan sepeda, kami akhirnya tiba di tujuan pertama kami, hotel tersebut.
Kami memarkir sepeda di area parkir sepeda lalu langsung masuk ke dalam.
Saat Onee-san menyebutkan namanya di meja resepsionis, entah kenapa para staf langsung tampak panik.
Apa mereka menyadari kalau dia adalah aktris Yoshioka Satomi?
Padahal penyamarannya sangat rapi. Masa bisa ketahuan secepat ini?
Saat aku sedang cemas memikirkannya, seorang pria tua berpenampilan anggun keluar dari bagian belakang. Di papan namanya tertulis "Manager", dan dia terus membungkuk hormat kepada Onee-san.
Sampai-sampai manajer sendiri menyambut tamu yang hanya datang sehari. Pelayanannya benar-benar luar biasa...
Kami diantar dengan sopan menuju ruang ganti, lalu Onee-san dan aku sepakat bertemu lagi di dalam setelah selesai berganti pakaian.
Saat sedang berganti ke pakaian renang di loker, tiba-tiba terpikir sesuatu.
"Aku tidak menyangka dia juga membawa pakaian renangku..."
Sebenarnya aku sudah membeli pakaian renang, tapi jadwalku terlalu padat sampai akhirnya tidak sempat pergi ke pantai.
Onee-san begitu kecewanya seolah dunia akan berakhir, dan karena merasa sangat bersalah padanya, aku berpikir kalau ada kesempatan kami sebaiknya pergi ke kolam renang... tapi aku benar-benar tidak menyangka itu akan terjadi di Karuizawa.
Untuk hal-hal seperti ini, persiapan Onee-san memang selalu sempurna.
Dia pasti benar-benar kecewa karena tidak jadi pergi ke pantai.
Setelah selesai berganti pakaian, aku membuka pintu dan melangkah ke area kolam renang.
"Wah... luar biasa."
Tanpa sadar aku menghela napas kagum melihat pemandangan di hadapanku.
Karena berada di dalam ruangan, tempatnya memang tidak terlalu luas, tetapi interiornya modern dengan dinding dan lantai marmer.
Di tepi kolam berjajar sofa untuk beristirahat, dan di sana juga bisa memesan minuman. Yang paling menarik perhatianku adalah jendela kaca besar dengan hutan hijau lebat yang terbentang di baliknya.
Angin yang masuk dari jendela membawa aroma dedaunan segar, membuatku merasa seolah berada di tengah hutan. Tempat ini memiliki kesan mewah yang tidak bisa dibandingkan dengan kolam renang besar di Tokyo.
Terlebih lagi, tidak ada tamu lain sama sekali. Seluruh tempat ini hanya untuk kami.
Apa karena masih pagi di hari kerja selama liburan musim panas, jadi pengunjungnya sedikit?
Saat aku sedang memikirkan itu...
"Eita-kun~!"
Aku menoleh dan melihat Onee-san yang sudah mengenakan pakaian renang sambil membawa pelampung besar.
Bikini ungu cerah dengan potongan kain yang minim. Desainnya sederhana, tetapi memancarkan kesan dewasa, atau lebih tepatnya menggoda, dan kontrasnya dengan kulit putih Onee-san benar-benar sempurna.
Hanya sisi kiri pinggangnya yang diikat dengan tali, tapi mungkin itu hanya hiasan.
Saat kami pergi membeli pakaian renang, Onee-san pernah berkata kalau pakaian renang wanita memang dibuat agar tidak mudah lepas. Aku jadi ingin menarik talinya untuk memastikan apakah ucapan yang menghancurkan impian para pria itu benar atau tidak.
"H... bagaimana? Cocok tidak?"
"Eh... iya. Menurutku sangat cocok."
Onee-san bertanya sambil menundukkan kepala dengan malu-malu.
Saat dia memasang ekspresi seperti itu, aku jadi ikut malu.
"Benarkah? Syukurlah... ehehe."
"Ka-kalau begitu, ayo masuk!"
"Oke!"
Aku sadar sedari tadi terus menatap sosok Onee-san dalam pakaian renangnya, jadi aku menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran-pikiran duniawi.
Kupikir berendam di air dingin akan membuatku tenang, tapi...
"...Eh? Hangat?"
Tanpa sadar aku berseru begitu saat masuk ke dalam kolam.
Air kolamnya terasa hangat.
"Ini kolam air hangat."
"Begitu."
Ini pertama kalinya aku masuk ke kolam seperti itu, jadi rasanya agak aneh.
Karena Karuizawa sejuk, mungkin mereka tidak ingin para tamu kedinginan.
"Ngomong-ngomong, Onee-san."
"Ada apa?"
Setelah akhirnya bisa menenangkan diri, aku menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal pikiranku.
"Kolam ini... padahal terbuka untuk tamu yang datang sehari, tapi tidak ada orang sama sekali. Bahkan tamu hotel juga tidak ada... bukankah itu agak aneh?"
"Iya. Aku sudah menelepon sebelumnya dan menyewa seluruh tempat ini."
"Menyewa... seluruhnya?"
Barusan aku mendengar sesuatu yang luar biasa.
"Aku pikir kita tidak akan bisa santai kalau ada tamu lain, jadi aku langsung menyewa seluruh kolamnya."
"Memangnya kolam hotel menyediakan layanan penyewaan eksklusif seperti itu?"
"Tidak."
"Hah...?"
Kalau begitu bagaimana caranya?
"Awalnya mereka menolak, tapi aku meminta agar diizinkan menyewa dengan harga berapa pun yang mereka inginkan. Setelah menyuruhku menunggu sebentar, manajernya akhirnya menyetujuinya."
Aku terlalu takut untuk bertanya berapa biaya yang dia keluarkan...
Belakangan ini Onee-san memang sudah tidak lagi memberiku setumpuk uang tunai setiap kali aku mengerjakan pekerjaan rumah, jadi aku sempat lupa... benar juga. Cara Onee-san menggunakan uang memang sedikit tidak biasa.
"Makanya tadi manajernya sampai mengantar kita sendiri..."
"Iya. Kurasa karena aku membayar sangat mahal."
...Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Aku terlalu kagum sampai kehilangan kata-kata.
"Kalau begitu ayo bermain di kolam♪"
"Oke."
Aku masuk ke kolam lebih dulu lalu memegang pelampung besar yang dibawa Onee-san.
Onee-san dengan cekatan naik ke atas pelampung itu dan mulai mengapung dengan anggun.

"Biar kukatakan dulu, Onee-san sama sekali tidak bisa berenang."
"Aku sih sudah merasa begitu."
"Ah! Barusan kamu mengolok-olokku, ya!"
"Tidak, tidak. Bukan begitu. Aku cuma merasa itu memang sangat khas Onee-san."
Onee-san menggembungkan pipinya, tampak belum benar-benar percaya.
"Apa ada olahraga yang kamu kuasai?"
"Tidak ada!"
Dia langsung menjawab dengan penuh semangat.
"Benar-benar tidak ada satu pun?"
"Tidak ada. Onee-san bahkan tidak bisa lompat skip."
"Lompat skip...?"
"Menurutku sih aku sudah melakukannya dengan benar. Tapi semua orang bilang aneh."
"Ah..."
Memang ada orang yang cara lompat skip-nya agak aneh.
Aku memang mengira dia tidak terlalu pandai olahraga, tapi tidak kusangka separah ini.
"Waktu kecil aku jarang masuk sekolah karena pekerjaan. Aku juga tidak ikut pelajaran olahraga, jadi mungkin kemampuan fisikku memang tidak berkembang."
Dia sendiri tampaknya sama sekali tidak mempermasalahkannya, jadi mungkin memang tidak apa-apa... tapi memang benar.
Orang yang menjalani kehidupan seperti Onee-san mungkin tidak sempat menikmati masa muda yang normal. Bukan berarti mereka mengorbankannya, tapi mereka melepaskannya demi kehidupan yang mereka jalani sekarang.
Mungkin ada banyak orang seperti itu di dunia ini, dan bukan soal siapa yang lebih bahagia, tapi justru karena itulah aku berpikir...
Alasan Onee-san selalu begitu senang dengan hal-hal biasa mungkin karena itu.
"...Mau kubelajari berenang?"
"Hah...?"
Mungkin ini terdengar ikut campur, tapi tidak apa-apa.
Aku hanya ingin dia merasakan hal-hal yang biasa dinikmati orang lain, meski baru sekarang.
"Bukan cuma berenang. Hal-hal yang dulu tidak sempat kamu lakukan atau harus kamu tahan karena sibuk. Seperti kemarin kita memasak bersama, mulai sekarang ayo kita lakukan banyak hal bersama. Menurutku tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru."
Aku tahu aku tiba-tiba mengatakan hal seperti ini.
Aku tahu ini hanyalah keinginanku yang egois, tapi memang begitu yang kupikirkan.
"Kamu baik sekali, Eita-kun."
"Hah...?"
"Kalau begitu Onee-san akan berusaha sebaik mungkin!"
Onee-san berkata sambil tersenyum.
Begitulah, setelah kelas memasak kemarin, hari ini diadakan kelas berenang.
Onee-san turun dari pelampungnya lalu berdiri di depanku.
"Kita mulai dengan latihan gerakan kaki."
"Siap, Sensei!"
"Boleh kalau aku memegang kedua tanganmu, Onee-san?"
"Kemarin juga tidak apa-apa, dan aku sudah mulai terbiasa, jadi kurasa tidak masalah!"
"Aku masih khawatir, jadi tolong pegang erat-erat untuk berjaga-jaga."
"Oke!"
Onee-san mengangkat tangannya dengan semangat lalu menggenggam kedua tanganku.
Ya. Karena Onee-san sendiri yang menggenggam tanganku, sepertinya tidak masalah.
"Eita-kun, jangan dilepas tangannya, ya."
"Tenang saja."
"...Kalau dilepas, Onee-san bakal tenggelam."
"Tidak usah khawatir."
"...Kalau begitu nanti selamatkan Onee-san dengan benar."
Alasan kami tidak kunjung mulai mungkin karena dia benar-benar takut.
Yah, itu juga wajar. Ini pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.
"Oke, sekarang aku tarik, ya."
"Hah? Ah, tunggu se..."
Aku mulai berjalan mundur sambil menarik kedua tangan Onee-san yang panik.
Saat kutarik, kaki Onee-san terangkat dari dasar kolam, dan tubuhnya mulai mengapung.
"Waaah~!"
"Onee-san, sekarang aku yang menarikmu, jadi coba gerakkan kaki."
"Oh, benar."
Onee-san mulai mengibaskan kedua kakinya seolah baru teringat.
"Ya, ya. Seperti itu."
"A-Aku merasa maju!"
Mata Onee-san berbinar penuh semangat.
Aku merasa agak tidak enak merusak suasana, tapi untuk saat ini sebenarnya yang membuatnya maju hampir sepenuhnya adalah aku yang menariknya.
Meski begitu, melihat Onee-san berlatih dengan begitu gembira entah kenapa terasa menghangatkan hati.
Setelah itu kami terus berlatih selama beberapa saat.
Tentu saja dia tidak langsung bisa berenang, tetapi Onee-san tampaknya mulai merasakan serunya berenang dan terus berlatih dengan penuh semangat. Bahkan saat kusarankan untuk beristirahat, dia tetap ingin melanjutkan.
Aku mengerti perasaannya. Bisa melakukan sesuatu yang baru memang membuat orang senang dan bahagia.
Setelah berlatih selama satu jam...
Mungkin karena sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat.
"Rasanya aku sudah mulai paham caranya!"
"Iya. Menurutku sekarang kamu sudah jauh lebih bisa bergerak maju."
"Itu karena Sensei pandai mengajar!"
Onee-san tersenyum seperti anak kecil.
"Ayo keluar lalu istirahat di sofa."
"Oke. Sekalian pesan minuman."
"Benar juga... wah!?"
Itu terjadi saat aku keluar dari kolam setelah Onee-san.
Karena terlalu lelah membantunya berlatih, kakiku tiba-tiba terpeleset.
Tanganku yang refleks terulur sempat meraih sesuatu, tetapi tidak mampu menopang tubuhku, dan aku pun terjun ke kolam dengan wajah lebih dulu.
Gawat... pikirku sambil muncul ke permukaan dan menyibakkan rambutku yang basah kuyup.
Lalu entah kenapa, tepat di depan mataku muncul sesuatu yang bulat berwarna kulit.
"Hm...?"
"Hah...?"
Kami saling menatap tanpa sengaja.
Dan pada saat aku menyadari apa yang baru saja terjadi.
"A-Aku benar-benar minta maaf!"
Ternyata tangan yang kujulurkan saat terpeleset tadi bukan meraih udara kosong, melainkan tanpa sengaja menarik bagian bawah bikini Onee-san.
Tentu saja kain itu tidak mungkin menahan berat badanku, dan akhirnya tertarik turun, menciptakan bencana besar.
"T-Tidak apa-apa. Di sini cuma ada kita berdua, dan tidak ada yang melihat..."
Onee-san berkata begitu, tapi... wajahnya jelas sudah semerah tomat.
Aku merasa sangat bersalah sampai-sampai terus meminta maaf sambil berlutut cukup lama.
Setelah itu kami makan siang di restoran hotel sebelum pergi.
Padahal kami tidak memesan makanan, tetapi rupanya itu merupakan layanan dari pihak hotel.
Dan satu demi satu hidangan yang tampak sangat mewah terus disajikan... kurasa memang pelayanannya jadi berbeda kalau membayar cukup mahal untuk menyewa seluruh kolam. Aku benar-benar penasaran sebenarnya dia membayar berapa.
Rasa lelah setelah bermain di kolam terasa begitu menyenangkan. Onee-san tampak mengantuk saat makan siang, tetapi setelah tidur sebentar di lounge, dia sudah kembali segar.
Benar-benar ya, rasa lelah karena bersenang-senang memang terasa membahagiakan, atau lebih tepatnya, kemewahan tersendiri.
ω ω ω
Setelah meninggalkan hotel, tujuan kami berikutnya adalah tempat bernama Kyu-Karuizawa Ginza Street.
Tempat ini merupakan salah satu objek wisata terkenal di Karuizawa.
Jalan utama itu dipenuhi berbagai toko, mulai dari restoran yang menggunakan bahan-bahan lokal, toko pernak-pernik, hingga toko suvenir. Hampir semua orang yang datang ke Karuizawa pasti mengunjunginya.
Kami memarkir sepeda sewaan di tempat parkir di pintu masuk jalan itu lalu mulai berjalan masuk. Kyu-Karuizawa Ginza Street ramai dipenuhi wisatawan. Banyak pasangan muda maupun rombongan teman. Mungkin mereka mahasiswa yang sedang menikmati liburan musim panas.
"Eita-kun! Lihat!"
Onee-san menunjuk ke arah depan sambil berseru penuh semangat.
Saat kulihat, ada papan bertuliskan "Mocha Soft".
Bangunannya berupa kedai kopi bergaya cottage, dan ketika kulirik ke dalam, suasananya terasa klasik. Mereka juga melayani pembelian di depan toko, dan melihat antrean yang panjang, tempat itu tampaknya sangat populer.
Katanya ini memang kedai kopi terkenal yang juga memiliki cabang di Tokyo.
"Aku dengar mocha soft serve di sini terkenal!"
"Sepertinya begitu."
Saat mencari informasi wisata Karuizawa di ponsel sebelum berangkat, aku merasa pernah melihat toko ini. Bangunannya yang khas membuatnya mudah dikenali.
Kalau ingin membeli, sepertinya kami harus mengantre sebentar...
"Karena sudah sampai di sini, ayo beli."
"Oke! Ayo beli!"
Onee-san yang sedang bersemangat langsung mengantre di barisan paling belakang.
Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya giliran kami. Kami memesan dua mocha soft serve.
Setelah menerimanya dari pegawai dan keluar dari antrean, Onee-san menatap es krim itu dengan mata berbinar.
"Kelihatannya enak sekali~♪"
"Iya."
"Ayo kita foto dulu."
Onee-san mengeluarkan ponselnya dari saku lalu membuka kamera.
Saat hendak memotret, dia rupanya sadar posisinya membelakangi cahaya, sehingga mulai berpindah-pindah mencari sudut yang pas.
Tepat ketika dia berhasil menghindari cahaya belakang dan hendak memotret...
"Ah!"
Onee-san sedikit tersandung hingga kehilangan keseimbangan.
Dia berhasil mempertahankan ponsel dan mocha soft serve di tangannya agar tidak jatuh, tetapi...
"..." "..."
Hanya bagian es krim di atasnya yang jatuh ke tanah, menyisakan cone di tangannya.
Ini benar-benar terlalu tragis... harus bilang apa?
Sebelum sempat menghiburnya, bahu Onee-san mulai bergetar, dan air mata mulai menggenang di matanya.
"Huuuu..."
"A-Ambil punyaku saja!"
Dia pasti benar-benar terpukul, karena Onee-san mulai menangis.
Lalu seorang pegawai yang sedari tadi memperhatikan kami segera menghampiri.
"Anda tidak apa-apa? Pakaiannya tidak kotor?"
"A-Aku tidak apa-apa..."
Saat kujawab begitu, pegawai itu mulai membersihkan es krim yang jatuh.
Aku sedang kebingungan karena merasa tidak enak sambil memperhatikannya, ketika seorang pegawai lain datang membawa mocha soft serve yang baru.
"Silakan."
"Hah... apa benar tidak apa-apa?"
"Tentu. Jangan sungkan."
Onee-san berhenti menangis lalu menerima mocha soft serve yang baru dengan senyum di wajahnya.
"Selamat menikmati perjalanan Anda."
"Terima kasih." "Terima kasih."
Aku dan Onee-san sama-sama membungkukkan kepala.
Melihat para pegawai itu pergi, Onee-san bergumam.
"Mereka baik sekali."
"Iya."
"Berkat orang-orang seperti mereka, perjalanan kita jadi lebih menyenangkan."
Mungkin bagi para pegawai, kejadian seperti ini sudah biasa.
Kalaupun bukan kami yang menjatuhkannya, kurasa mereka akan tetap melakukan hal yang sama. Meski begitu, kami tetap tersentuh oleh kebaikan mereka.
"Kedai kopi ini juga punya cabang di Tokyo."
"Sepertinya begitu."
"Onee-san akan jadi pelanggan setia kedai kopi ini seumur hidup."
"Nanti setelah pulang kita ke sana bersama."
"Oke."
"Tapi jangan dijatuhkan lagi, ya."
"A-Aku tidak akan menjatuhkannya dua kali!"
Walaupun begitu kami tetap khawatir, jadi kami duduk di bangku terdekat sambil menikmati mocha soft serve kami.
Setelah puas berjalan-jalan di Kyu-Karuizawa Ginza Street, kami mampir ke sebuah kedai kopi di dekat sana.
Kami sudah lelah setelah berjalan-jalan usai bermain di kolam. Matahari juga semakin terik pada siang hari, jadi kami memutuskan beristirahat di tempat yang sejuk sampai cuaca sedikit lebih bersahabat.
"Mau pesan apa, Eita-kun?"
"Ya... lihat dulu."
Kami melihat-lihat menu sambil menentukan pilihan.
"Kurasa aku pesan melon soda."
"Itu juga enak. Rasanya agak nostalgia. Onee-san juga pesan itu."
Kami memanggil pelayan lalu memesan minuman yang sama.
"Kalau pesan minuman yang sama, kami juga punya versi pasangan dengan dua sedotan dalam satu gelas besar. Apakah Anda mau?"
Versi pasangan!?
Tidak, tidak, itu terlalu memalukan...
"Iya, mau!"
Bahkan sebelum sempat kupikirkan, Onee-san langsung menjawab penuh semangat.
Tak lama kemudian minumannya datang, tapi...
"Wah..."
Suara aneh keluar begitu saja dari mulutku.
Melon soda di dalam satu gelas besar, dengan dua sedotan yang saling terjalin membentuk lambang hati. Minuman yang selama ini hanya kulihat di televisi kini terletak di antara aku dan Onee-san.
"Wah! Jadi seperti ini rupanya!"
"I-Iya..."
"Ayo langsung diminum!"
Onee-san dengan riang langsung mendekatkan mulutnya ke sedotan.
Harus bagaimana... kalau aku ikut minum, wajah kami pasti akan sangat dekat. Sudah cukup memalukan, apalagi di depan banyak orang, rasanya seperti pasangan yang terlalu lengket.
"Kamu tidak minum, Eita-kun?"
"T-Tentu... aku minum."
Kalau sekarang aku bilang, "Aku tidak sanggup, terlalu malu," Onee-san pasti tidak akan puas.
Aku menguatkan tekad lalu mendekatkan mulutku ke sedotan.
Ini bukan pertama kalinya aku melihat wajah Onee-san dari jarak dekat. Waktu aku bangun dan dia ada di tempat tidurku, atau tadi malam saat dia menyelinap ke tempat tidurku, jaraknya bahkan lebih dekat.
Dibandingkan itu... begitu aku meyakinkan diri sendiri, aku pun menyesap melon soda itu.
...Ini benar-benar terlalu memalukan kalau dilakukan di tempat umum!
"Enak!"
"I-Iya..."
Entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan misi pasangan itu.
Wajahku terasa anehnya panas, tapi anggap saja cuma perasaanku.
"Tapi tahu-tahu sudah jam segini saja."
Aku melirik jam di dalam kedai dan ternyata waktu sudah lewat pukul tiga sore.
"Benar. Kalau sedang bersenang-senang, waktu memang cepat berlalu."
"Masih banyak tempat yang ingin kukunjungi."
Onee-san berkata dengan nada penuh penyesalan.
"Besok pemotretannya sudah dimulai... ah, baru mengingatnya saja aku sudah sedih."
Ekspresi Onee-san langsung muram.
"Memangnya kamu benar-benar sebenci itu dengan pemotretan?"
"Iya. Aku benci..."
Dia menjawab seketika...
"Awalnya aku memang cuma suka berakting."
Dengan kata lain, selain akting dia tidak begitu menyukai hal lain.
Memikirkan itu, tiba-tiba muncul satu pertanyaan di benakku.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Iya. Apa?"
"Kenapa dulu kamu menjadi aktris, Onee-san?"
Aku tahu sejak kecil dia sudah berada di dunia hiburan.
Tapi sebenarnya apa alasan dia memulai sebagai aktris cilik?
Kami sudah bersama cukup lama, tetapi aku belum pernah menanyakannya.
"Hmm... kalau aku sih sudah berkecimpung di dunia akting sejak kecil, jadi kalau ditanya alasannya secara jelas agak sulit dijelaskan... tapi kurasa karena orang tuaku senang."
"Orang tuamu...?"
"Waktu di taman kanak-kanak ada pertunjukan drama, kan? Orang tuaku melihat aku sangat menikmati bermain drama, lalu mereka mendaftarkanku ke audisi aktris cilik. Dari situlah aku debut."
Jadi orang tuanyalah yang mendaftarkannya.
Kurasa memang kebanyakan aktris cilik memulainya seperti itu.
"Aku senang saat mereka memujiku karena aktingku bagus... mungkin waktu kecil aku berpikir kalau berakting bisa membuat orang tuaku bahagia, jadi aku akan berusaha sebaik mungkin. Karena itu saat orang tuaku meninggal, aku benar-benar bingung harus bagaimana."
"..."
"Tapi Misaki-san menerimaku, dan seperti orang tuaku dulu, dia juga memujiku setiap kali aktingku bagus... kurasa itulah yang membuatku bahagia dan bisa terus bertahan. Lalu semakin dewasa, aku mulai menikmati akting itu sendiri, bukan hanya senang dipuji... sebelum kusadari, aku benar-benar tenggelam di dalamnya."
"..."
"Selama ini aku cuma berakting, jadi aku tidak tertarik pada hal lain."
Rasanya aku baru saja melihat sekilas alasan mengapa akting Onee-san begitu luar biasa.
Mungkin sejak awal dia memang memiliki bakat alami.
Namun, tetap saja itu adalah hasil dari dirinya yang mencurahkan seluruh hidupnya pada akting sejak cukup besar untuk memahami semuanya.
Hasil dari mengabdikan seluruh masa muda yang biasanya dijalani orang lain untuk akting.
Sisi Onee-san yang terkadang terasa sedikit aneh mungkin memang berasal dari sana.
"Sampai sekarang kupikir itu sudah cukup. Aku hanya punya akting, dan aku hanya bisa berakting. Kupikir selama ada satu hal yang bisa kubanggakan, itu sudah membuatku bahagia. Tapi... sekarang berbeda."
"Berbeda...?"
Onee-san mengangguk sambil tersenyum.
"Hal-hal yang dulu menurutku biasa saja kini menjadi sangat berharga sejak aku bertemu denganmu, Eita-kun. Waktu santai di rumah, waktu kita pergi bersama. Bahkan makan, yang dulu kupikir asal kenyang sudah cukup, sekarang semuanya terasa begitu berharga saat kulalui bersamamu."
"Onee-san..."
"Pekerjaan memang penting. Aku akan tetap berusaha sebaik mungkin, tapi... sekarang ada banyak hal lain yang juga sangat kuhargai. Kurasa semua itu karena aku bertemu denganmu, Eita-kun. Kemarin kamu mengajariku memasak, hari ini mengajariku berenang... kalau tidak bertemu denganmu, kurasa aku tidak akan tertarik melakukan semua itu."
Saat dia mengatakannya seperti itu, dadaku terasa sesak.
"Jadi... terima kasih sudah selalu bersamaku."
Justru itu seharusnya kata-kataku.
Sama seperti Onee-san, ada banyak hal yang dulu juga sudah kurelakan.
'Yah, hidupku memang seperti tinggal sendirian, jadi mau bagaimana lagi...' Entah sudah berapa banyak hal yang kuterima begitu saja dengan pikiran seperti itu.
Tapi alasan aku bisa sebahagia sekarang adalah karena waktu itu Onee-san mengajakku berbicara.
Kalau aku tidak bertemu dengannya, mungkin hidupku hanya akan berputar antara sekolah dan pekerjaan paruh waktu, bahkan setelah ayahku menghilang mungkin aku sudah terlantar tanpa tujuan.
Yang terpenting, aku pasti tidak akan pernah merasakan liburan musim panas yang seberharga ini.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih."
Onee-san menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Mulai sekarang ayo kita lakukan banyak hal bersama. Hal-hal yang dulu tidak sempat kita lakukan, maupun hal-hal yang ingin kita lakukan mulai sekarang. Aku berharap kita bisa menikmatinya bersama tanpa perlu menahan diri."
"Iya. Aku... juga berharap begitu."
Senyum yang dia tunjukkan saat mengatakan itu masih menyisakan sedikit kecanggungan.
Perkataaan Chika-san tiba-tiba terlintas di benakku, "akhir-akhir ini dia agak aneh."
Saat itu, aku masih belum memahami perasaan Onee-san.
Setelah itu kami menikmati jalan-jalan selama waktu masih memungkinkan.
Saat kembali ke cottage dan melihat jam, waktu sudah lewat pukul tujuh malam.
Rupanya setelah selesai survei lokasi, Chika-san sempat berbelanja di outlet, sehingga ruang tamu dipenuhi tumpukan kantong belanja yang membuatku sedikit terkejut.
Aku memasakkan makan malam untuk mereka berdua yang mengeluh lapar, lalu malam pun semakin larut diiringi obrolan kami.
Begitulah, dengan sedikit rasa gelisah, hari kedua perjalanan kami di Karuizawa pun berakhir.
☆Buku Harian Onee-san☆
Kencanku dengan Eita-kun hari ini benar-benar menyenangkan~♪
Sejak Eita-kun menjadi manajerku, waktu yang kami habiskan bersama memang bertambah, tapi kesempatan untuk pergi bersama masih belum banyak. Hari ini aku mengambil banyak foto, jadi nanti setelah pulang harus kucetak lalu kumasukkan ke album.
Ini akan menjadi album foto Eita-kun yang kesebelas... ah, benar juga! Aku masih belum mengambil foto-foto Eita-kun saat SMP yang dijanjikan Kishō-kun! Nanti setelah pulang aku harus segera mengambilnya.
Tapi sungguh, hari ini benar-benar jadi waktu istirahat yang menyenangkan. Mulai besok kembali bekerja... ya. Kira-kira aku bisa berusaha, tidak ya...
Pemotretan buku foto, ya...
Aku masih benar-benar belum bersemangat.
Bukan berarti aku membencinya sepenuh hati, tapi memang tidak menyenangkan.
Kalau aku bilang begitu, Chika-chan pasti akan memarahiku lagi, tapi memang begitulah perasaanku.
Kalau saja mereka mau memotretku berdua dengan Eita-kun, aku pasti akan berusaha sekeras apa pun yang mereka minta, tapi itu tidak mungkin terjadi... aaah! Membayangkannya saja sudah membuatku murung!
Tapi aku mengerti apa yang ingin dikatakan Chika-chan, jadi aku harus berusaha.
Eita-kun juga menantikannya... setidaknya aku harus mencoba.