"Sudah selesai beres-beresnya?"
"Maaf ya. Kamu membantu dari awal sampai akhir."
"Tidak, tidak. Mana mungkin aku membiarkan kamu mengerjakan semuanya sendirian, Eita-kun."
Setelah selesai membereskan semuanya, aku melirik jam dan ternyata sudah lewat pukul sepuluh malam.
Biasanya aku masih segar di jam segini, tetapi mungkin karena perjalanan jauh dan persiapan serta beres-beres setelah barbeku, begitu semuanya selesai rasa kantuk langsung menyerang.
"Masih agak awal, tapi bagaimana kalau kita mandi lalu istirahat saja untuk hari ini?"
"Benar juga. Kita tidur lebih awal supaya besok fit."
"Onee-san, kamu duluan saja."
"Tidak, tidak. Eita-kun saja dulu."
"Tidak apa-apa?"
"Iya. Onee-san ingin santai minum teh sebentar."
"Baiklah. Kalau begitu aku duluan."
"Selamat berendam♪"
Setelah didorong untuk mandi lebih dulu, aku kembali ke kamar, mengambil perlengkapan mandi, lalu menuju kamar mandi.
Aku melepas pakaian di ruang ganti, lalu membuka pintunya, dan tanpa sadar menghela napas kagum melihat pemandangan di depanku.
"Wah... keren sekali."
Di depanku terbentang pemandian terbuka yang dikelilingi bebatuan.
Di area seluas kira-kira lima belas tatami terdapat tempat mencuci dan pemandian terbuka yang cukup luas. Pepohonan di sekitar sengaja dibuka di area ini, dan uap yang membumbung diterangi cahaya bulan menciptakan pemandangan yang begitu indah.
Aku ingin segera berendam, tetapi menahan rasa tidak sabar itu dan mulai mencuci badan terlebih dahulu.
Saat aku mengoleskan sampo ke rambut dan mulai membusakannya...
"Wah! Pemandian terbukanya bagus sekali!"
"Iya, kan? Aku ingin cepat-cepat mencuci badan lalu berendam."
"Aku juga!"
"...Hm?"
Suara yang sangat kukenal bergema di kamar mandi, membuat tanganku yang sedang menggosok kepala langsung berhenti.
Aku punya firasat yang sangat buruk... atau mungkin justru firasat yang luar biasa.
Tapi hanya karena mendengar suara, bukan berarti dugaanku benar.
"Kalau begitu Onee-san ikut masuk juga!"
Ternyata benar!
"K-Kenapa Onee-san ada di sini!?"
"Aku sudah tidak sabar lagi."
"Bukan, maksudku, walaupun tidak sabar..."
"Ini juga bukan pertama kalinya kita mandi bersama... ehehe."
"Ehehe", katanya...
Memang benar sih, tapi... aku sedang keramas.
Kepalaku penuh busa, bahkan mataku tidak bisa kubuka.
Sial... kenapa harus keramas sekarang? Kalau dipikir-pikir, mungkin justru lebih baik mataku tidak bisa terbuka. Tapi naluri laki-lakiku berteriak agar aku menahan pedihnya dan membuka mata.
Kesempatan seperti ini tidak datang setiap hari. Rasanya sayang kalau tidak kulihat!
Aku ingin memukul diriku sendiri sampai pagi karena sempat memikirkan itu.
"Eita-kun, kamu masih keramas ya. Kalau begitu Onee-san yang akan mencuci badanmu!"
"Hah... tidak usah!"
"Jangan malu-malu. Kamu pasti capek hari ini, jadi anggap saja ini pelayananku."
"Aku tidak butuh pelayanan seperti itu!"
Aku berteriak, tetapi aku bisa merasakan Onee-san sudah berdiri di belakangku tanpa memberiku kesempatan menolak.
Sesaat kemudian, Onee-san yang sudah membusakan handuk mandi mulai menggosok punggungku.
"Bagian mana yang gatal~?"
"T-Tidak ada."
Aku mencuci rambutku sendiri sementara Onee-san mencuci punggungku.
Aku tidak bisa melihat keadaanku, tetapi rasanya seluruh tubuhku sudah dipenuhi busa dari kepala sampai kaki.
Syukurlah... tadi sempat khawatir dia akan menggosokku memakai sikat pembersih kamar mandi seperti waktu itu, tapi ternyata kekhawatiranku sia-sia... bukan, bukan itu masalahnya!
"Oke. Punggung selesai. Sekarang bagian depan~"
"Bagian depan biar aku sendiri saja!"
"Yakin? Kalau begitu ini, handuk mandinya."
...Kenapa aku malah minta izin?
Sambil berpikir begitu, aku menerima handuk itu dan mulai mencuci badanku sendiri.
"Wah, Eita-kun! Kamu jadi seperti manusia salju!"
Aku memang tidak bisa melihat diriku sendiri, tapi mungkin memang begitu.
Yang penting dia kelihatan senang.
"Oke. Sekarang Onee-san bilas ya~"
"Tolong..."
Onee-san menyiramkan air dari kepalaku sampai kaki hingga semua busanya hilang.
"Oke. Kerja bagus~♪"
"Kerja bagus..."
Akhirnya terbebas dari busa, aku menoleh sambil berusaha menenangkan jantungku yang rasanya hampir meledak.
Di sana berdiri Onee-san yang hanya dibalut handuk mandi.
Bukan pertama kalinya aku melihatnya seperti itu, tapi... syukurlah aku masih hidup.
"Onee-san juga mau cuci badan dulu, jadi Eita-kun berendam saja dulu."
"Baik. Kalau begitu aku berendam dulu."
Aku harus menenangkan diri di air panas.
Dengan pikiran itu, aku langsung masuk ke pemandian terbuka.
"...Haa."
Awalnya terasa agak panas, tetapi setelah tubuhku terbiasa, suhunya justru pas.
Aku berendam sampai sebahu, menyiram wajahku dengan air, lalu menghela napas puas.
Saat pergi bersama Onee-san sebelumnya, onsen yang kami gunakan adalah pemandian pribadi kecil di dalam kamar. Memang nyaman karena lebih privat, tetapi kalau bicara onsen, yang terbayang tetaplah sensasi berendam sambil meluruskan kaki di pemandian terbuka seperti ini.
Setelah beberapa saat menikmatinya, Onee-san yang sudah selesai mencuci badan menghampiriku.
"Bagaimana airnya?"
"Enak sekali."
"Benarkah? Kalau begitu Onee-san ikut berendam."
Onee-san perlahan masuk ke dalam air, dan riak-riak kecil menyebar di permukaannya yang tenang.
"Memang enak... memang agak panas, tapi airnya nyaman."
Onee-san berkata sambil menghela napas pelan.
Saat aku melirik ke samping, yang pertama kali masuk ke pandanganku bukan wajahnya, melainkan lekuk dadanya.
Haruskah kusebut lembah? Tatapanku seolah tersedot ke celah yang begitu dalam di antara keduanya. Akal sehatku mati-matian menyuruhku mengalihkan pandangan, tetapi naluriku menolak.
Konon ada orang bijak di masa lalu yang pernah berkata... lebih banyak pria tenggelam karena payudara daripada karena dewa laut.
Sekarang aku benar-benar bisa memahami maksudnya.
Rasanya aku sendiri hampir tenggelam di pemandian ini.
"Ch-Chika-san tidak apa-apa?"
Tidak tahan dengan suasana canggung itu, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja. Setelah minum sebanyak itu, dia pasti tidak akan bangun sampai pagi."
...Apa maksud "baik-baik saja" dalam konteks itu?
Tanpa sadar aku mendoakan keselamatan Chika-san dalam hati.
"Tapi tetap saja, soal Kasumi-san tadi benar-benar mengejutkan ya."
"Iya... aku sama sekali tidak menyangka kalau dia ternyata manajer ibuku."
Sejujurnya aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
Onee-san masih belum menyadari bahwa alasan perceraian kedua orang tuaku mungkin benar-benar demi menerimanya, seperti yang dulu dia khawatirkan.
Kalau semua informasi disusun, kemungkinan itu justru semakin besar.
Kalau memang begitu, aku tidak ingin Onee-san menyadarinya.
"Karena Kasumi-san adalah manajer Misaki-san, mungkin waktu aku masih menjadi artis cilik aku pernah bertemu dengannya. Tapi aku sama sekali tidak ingat."
Onee-san pernah berkata sebelumnya.
Karena kedua orang tuanya meninggal, dia hampir tidak mengingat masa kecilnya.
"Tapi aku yakin Kasumi-san mengingatku."
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Seperti yang pernah kubilang, waktu pertama kali bertemu Kasumi-san, beliau langsung tahu kalau aku Yoshioka Satomi. Waktu itu ekspresinya sulit dijelaskan dan aku sempat bertanya-tanya kenapa... tapi sekarang kupikir mungkin beliau sedang mengenang masa lalu."
Dan ayah mempercayakanku kepada Onee-san kalau sesuatu terjadi padanya.
Mungkin karena dia tahu Onee-san dibesarkan oleh ibuku.
Pertemuanku dengan Onee-san memang hanya kebetulan.
Tetapi aku ragu menyebutnya sekadar kebetulan.
"Rasanya seperti... takdir ya."
Senyum Onee-san diterangi cahaya bulan.
Aku terpaku melihat ekspresinya yang ternyata memikirkan hal yang sama denganku.
"Misaki-san dan Kasumi-san adalah aktris dan manajernya. Dan sekarang kita malah berada dalam hubungan yang sama seperti mereka... mungkin terdengar berlebihan, tapi menurutku ini memang takdir."
"Aku juga merasa begitu..."
Kata-kata itu menghantam dadaku.
Ayah pasti tidak pernah membayangkan aku akan bertemu Onee-san.
Dia juga pasti tidak pernah membayangkan Onee-san akan muncul di hadapannya, apalagi setelah mempercayakanku kepadanya, hubungan kami justru menjadi seperti hubungan ayah dan ibu dulu, yaitu aktris dan manajernya.
Kalau saja ada satu pilihan yang berbeda, situasi ini tidak akan pernah terjadi.
Jadi rasanya tidak salah menyebutnya takdir.
"Aku juga berpikir begitu."
"Benar, kan?"
Saat aku menjawab sesuai isi hatiku, Onee-san tersenyum malu-malu.
Entah kenapa senyum itu menusuk dadaku dengan rasa sakit yang samar.
"Kira-kira mulai sekarang bagaimana ya..."
"Aku juga tidak tahu. Tapi... seperti kata Chika-san, kurasa suatu hari nanti kita pasti akan mengerti semuanya. Tentang kedua orang tuaku, tentang Second House..."
"Iya. Semoga begitu."
"Tapi ada satu hal yang kupikirkan."
"Apa itu?"
"Aku berharap hari-hari seperti ini bisa berlangsung selamanya."
Mungkin memang ada beberapa hal yang lebih baik tidak diketahui.
Namun kalau memang suatu hari kami harus mengetahui semuanya, dan kenyataan itu ternyata menyakitkan, setidaknya kami boleh berharap hari-hari damai seperti sekarang terus berlanjut.
"Iya... benar."
...Apa karena kami dikelilingi kegelapan?
Ekspresi Onee-san saat mengangguk tampak sedikit diselimuti bayangan.
"Ngomong-ngomong, Eita-kun."
"Ada apa?"
Lalu ekspresi Onee-san kembali berubah menjadi senyuman.
"Besok waktu hari libur, mau pergi ke kolam renang bareng?"
"Kolam renang?"
"Katanya ada kolam renang di hotel dekat sini. Sebenarnya aku ingin ke pantai, tapi tahun ini kita terlalu sibuk sampai tidak sempat, dan sayang sekali kalau baju renang yang kubeli tidak dipakai, kan? Makanya kubawa ke sini supaya bisa kupakai di kolam renang. Mau pergi denganku?"
Benar juga... selama ini kami memang tidak sempat memakainya.
"Boleh saja, tapi aku tidak membawa baju renang."
"Tidak apa-apa. Onee-san juga sudah membawakan baju renang untuk Eita-kun!"
Kapan dia menyiapkannya?
"Kalau begitu kita pergi."
"Oke. Setelah itu bagaimana kalau jalan-jalan di Karuizawa?"
"Boleh juga. Aku sempat mencari informasi, katanya ada tempat penyewaan sepeda. Karuizawa cukup luas, jadi kalau jalan kaki pasti melelahkan. Dengan sepeda kita bisa berkeliling lebih banyak."
"Aku jadi tidak sabar."
Onee-san tersenyum polos.
Mungkin karena tubuhnya masih hangat setelah berendam, senyum itu terlihat entah kenapa begitu menggoda.
"Onsen ini... buat Onee-san agak terlalu panas. Kurasa aku keluar dulu sebelum kepalaku pusing."
"Baik. Hati-hati jangan terpeleset seperti waktu itu."
"Terpeleset?"
Onee-san memiringkan kepalanya kebingungan.
Astaga... aku lupa kalau kejadian Onee-san terpeleset dan pingsan waktu di Nagano adalah rahasia!
Waktu itu aku pura-pura sudah tidur setelah keluar dari pemandian supaya dia tidak tahu kalau aku melihat tubuh telanjangnya dan merawatnya saat dia tidak sadarkan diri.
"Hm... sekarang kamu bilang begitu, rasanya memang seperti pernah terjadi, atau mungkin tidak ya..."
"Itu cuma perasaanmu!"
"Benarkah? Aku seperti punya ingatan Eita-kun menggendongku ala putri..."
"Po-Pokoknya hati-hati saja."
"Oke. Terima kasih."
Onee-san keluar dari pemandian terbuka dengan wajah masih kebingungan.
Aku melihat kepergiannya, lalu menenggelamkan setengah wajahku ke dalam air sambil menghela napas lega.
Nyaris saja...
Kalau dia sampai tahu aku melihat tubuh telanjangnya, pasti canggung sekali.
Memang Onee-san mungkin tidak akan marah, tetapi aku sendiri pasti akan dipenuhi perasaan campur aduk. Tanpa sadar aku kembali teringat malam itu dan wajahku memanas karena malu.
Sebenarnya aku berharap apa sih...
Hari ini ada Chika-san di sini, jadi seharusnya tidak akan terjadi apa-apa.
Namun, satu jam kemudian aku akan menyadari betapa naifnya pemikiranku.
ω ω ω
Setelah selesai mandi dan bersiap tidur, jarum jam hampir menunjukkan tengah malam.
Berkat berendam cukup lama di onsen, rasa lelahku hampir hilang seluruhnya. Tubuhku yang terasa nyaman setelah mandi seolah berkata sudah waktunya beristirahat.
Sepertinya aku akan langsung tertidur.
Sambil berpikir begitu, aku berbaring di tempat tidur lalu mematikan lampu.
Rasa kantuk langsung datang, dan saat aku mulai terlelap...
"...Hm?"
Aku tiba-tiba merasakan kehangatan yang aneh dan terbangun.
Saat mencoba membalikkan badan, tubuhku justru menyentuh sesuatu.
Selimut bergeser, lalu yang muncul adalah...
"Hah... Onee-san?"
"Permisi..."
Onee-san yang sudah menyelinap masuk ke dalam selimutku berbisik pelan.
"W-Kenapa?"
"Aku mau tidur bersama Eita-kun."
"Bukan, tapi..."
"Kamu tidak mau?"
"Bukan tidak mau, tapi Chika-san ada di kamar sebelah..."
"Kalau Chika-chan sudah minum, dia tidak akan bangun sampai pagi. Jadi tidak apa-apa."
Jadi itu maksudnya "tidak apa-apa"!?
"Itu sebabnya tadi kamu terus menyuruhnya minum?"
"Soalnya aku tidak akan bisa berduaan denganmu kalau tidak begitu, Eita-kun."
Cahaya bulan yang redup menerangi wajah Onee-san yang terlihat begitu mabuk oleh suasana.
Sama seperti malam itu saat perjalanan ke Nagano, wajahnya benar-benar berubah, seolah sedang mabuk. Padahal hari ini dia sama sekali tidak minum alkohol.
Apa dia mabuk karena terlalu bersemangat selama liburan?
"Hei, Eita-kun..."
"Iya..."
Onee-san melingkarkan kedua tangannya di leherku.
Pelukannya jauh lebih kuat dari yang kuduga hingga aku tidak bisa melepaskan diri.
Wajah Onee-san semakin mendekat.
"Mau kita lanjutkan yang kemarin...?"
Yang mana maksudmu!?
"...Boleh?"
Kalau ada orang yang masih bisa berkata tidak dalam situasi seperti ini, aku benar-benar ingin bertepuk tangan untuknya.
Wajah Onee-san yang memejamkan mata, bersama bibirnya yang tampak begitu lembut, semakin mendekat.
Tidak mungkin aku bisa menolaknya.
Tinggal beberapa sentimeter lagi sebelum bibir kami bersentuhan.
Tepat saat itu, terdengar suara keras, membuat kami berdua tersentak dan menoleh.
"...Kalian sedang apa?"
Di sana berdiri Chika-san dengan wajah penuh amarah.
Menyeramkan sekali sampai sulit dijelaskan. Kalau harus dibandingkan, dia benar-benar mirip Namahage yang sering muncul dalam acara tradisional di Prefektur Akita sambil berkata, "Ada anak nakal di sini?"
Ngomong-ngomong, katanya sekarang mereka sudah dijadikan maskot lucu, tetapi yang ada di depanku benar-benar yang asli.
"C-Chika-chan... kok bisa? Aku sudah menyuruhmu minum banyak sekali."
Chika-san berjalan mendekat sambil menatap kami.
"Aku sudah curiga sejak tadi waktu Saori terus menuangkan minuman untukku."
"Tidak mungkin...? Bukannya Chika-chan selalu tidur sampai pagi kalau mabuk?"
"Dasar bodoh. Kalau minum sebanyak itu, tentu saja aku bakal bangun tengah malam karena ingin ke kamar kecil."
Padahal tadi kupikir semuanya berjalan sempurna, ternyata justru menjadi bumerang.
Onee-san tampak sangat terkejut.
"Aku sudah menduga kamu pasti berniat menyelinap ke kamar Eita-kun setiap malam. Dan benar saja... menurutmu aku akan membiarkan kalian bermesraan di kamar sebelah saat aku sedang tidur?"
Onee-san yang ketakutan langsung berusaha bersembunyi di bawah selimut.
Namun Chika-san menarik selimut itu begitu saja lalu mencengkeram kerah belakang bajunya.
"Tidak! Aku mau tidur dengan Eita-kun!"
"Tidak boleh. Ayo."
"Eita-kun~"
Sambil hampir menangis, Onee-san diseret keluar sambil merengek.
Aku hanya bisa memandang dengan perasaan yang campur aduk, tidak tahu apakah ini seharusnya dianggap kabar baik atau buruk.
☆Buku Harian Onee-san☆
Ugh... tidak kusangka Chika-chan akan mengetahuinya.
Kupikir kalau kubuat mabuk pasti aman, tapi ternyata kesalahan besar memberinya minum terlalu banyak sampai dia bangun untuk ke kamar kecil. Sepertinya trik yang sama tidak bisa kupakai lagi, jadi aku harus memikirkan cara lain yang lebih bagus.
Tapi perjalanan ke Karuizawa baru saja dimulai. Pasti nanti masih ada kesempatan lagi!
Lagipula besok aku punya kencan dengan Eita-kun di kolam renang!
Akhirnya hari ketika aku bisa menunjukkan baju renangku kepada Eita-kun tiba juga. Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdebar. Aku menghabiskan dua jam hanya untuk memilih baju renang itu. Aku yakin Eita-kun juga pasti akan menyukainya!
Setelah dari kolam renang, jalan-jalan di Karuizawa juga pasti menyenangkan.
Mengunjungi tempat-tempat wisata, bersantai di kafe... hanya membayangkannya saja sudah membuatku terlalu bersemangat untuk tidur. Saat menulis buku harian ini saja sudah pukul dua dini hari... tidak, tidak! Aku benar-benar harus segera tidur!
Aku yakin kalau bisa berkencan dengan Eita-kun, perasaan yang mengganjal di dadaku ini akan hilang.
Memang banyak hal yang terjadi, tapi besok aku akan bersenang-senang sepuasnya!