“Hei, Kuzujirou.”
“Apa, bodoh?”
“…Boleh kupukul ulu hatimu?”
Begitu aku bertanya sambil tersenyum, dengan kepalan tangan sudah siap, Kuzujirou atau nama aslinya, Kuzumi Youjirou menghela napas dan mengangkat bahu dengan gaya berlebihan.
“Heroine yang suka main kekerasan sudah nggak tren lagi belakangan ini, Haruka.”
“Tenang aja, kamu bukan protagonis. Kekerasan ke villain sampah itu dimaafkan di anime dan manga mana pun.”
“Begitu ya. Wawasan mendalam dari seorang cewek otaku memang sungguh mendidik!”
Dia menepis ucapanku yang keterlaluan dengan sindiran, lalu,
“Jadi? Kali ini bagian mana yang nggak kamu ngerti?” tanyanya.
Sabtu sore di awal Juli. Di study carrel perpustakaan yang dibuka untuk umum, aku sedang rajin belajar buat ujian bersama teman masa kecilku.
…Bukan berarti kami sengaja memilih berduaan.
Awalnya ada Kurimoto-kun dan Jun-chan juga, dua orang temanku, tapi begitu kami balik setelah makan siang, kursinya hampir habis terisi, jadi kami terpaksa berpencar berpasangan. Iya, terpaksa. Dengan sangat terpaksa!
“…Nih.”
“Coba lihat, coba lihat…”
Study carrel itu masing-masing dipisahkan sekat berbentuk huruf U, dan aku serta dia belajar di carrel yang berdampingan.
Lalu setiap beberapa saat, aku atau lebih tepatnya, kebanyakan aku akan bertanya soal yang tidak kupahami. Tapi, “Aduh, ribet banget. Haruka, geser sana.”
Mungkin karena frekuensinya terlalu sering. Dia mulai memindahkan alat belajarnya ke mejaku. Sepertinya dia berniat memakai satu study carrel buat berdua. Aku pun,
“Oke, oke.”
menurut saja dan memberi ruang. Dari pihakku sendiri, jarak tanggung seperti tadi memang terasa agak merepotkan, jadi timing-nya pas.
Study carrel itu memang dari awal dibuat cukup luas, jadi meski dipakai berdua, kami tetap bisa belajar tanpa masalah. Cuma agak susah kalau mau membentangkan catatan dan buku latihan sekaligus.
“…Haruka, parfum yang kamu pakai kebanyakan nggak sih? Baunya kuat.”
“Hei, bangsat, mau kutusuk pensil mekanik ke hidungmu? Hah?”
“Aku lagi kasih saran. Gloomy otaku yang baru high school debut kayaknya belum terbiasa pakai parfum, ya. Cukup setetes di pergelangan tangan, habis itu baru diratakan.”
“Bukan itu yang kutanya. Ajari aku, ajari aku cara belajar.”
“Tapi tetap saja, Dolce & Gabbana Light Blue, ya… niat banget kamu.”
“Fakta kalau kamu bisa tahu cuma dari baunya itu yang menjijikkan. Jijik banget!”
Sambil adu mulut begitu, kami terus lanjut belajar buat ujian, bahu menempel bahu. Karena sedekat ini, aku jadi gampang menyikutnya tiap kali teman masa kecilku itu ngomong hal bodoh, dan itu cukup membantu.
“Hei—”
Belakangan ini, kita memang jadi lebih sering begini ya?
Aku hampir mengatakannya, tapi kutelan lagi kata-kataku.
Soalnya itu bakal terdengar seperti aku sadar dan memikirkannya. Dan aku nggak mau diejek gara-gara itu.
“…Hei?”
katanya bingung sambil terus menggerakkan pena. Aku baru sadar penaku sendiri sudah berhenti, lalu buru-buru memalingkan wajah seolah menyembunyikan ekspresi dan berkata,
“Aku nggak semangat. Buat apa sih belajar bahasa klasik Jepang, matematika, sama fisika? Zaman sekarang bahasa Inggris tinggal pakai aplikasi penerjemah juga bisa. Belajar itu cuma buang-buang waktu. Nggak ada gunanya.”
“Itu kalimat klasik orang yang nggak bisa belajar!”
Dia menghentikan tangannya lalu malah tepuk tangan mendengar keluhanku.
Aku refleks hampir menyikutnya tapi aku teringat kalau dalam sepuluh menit terakhir aku sudah tiga kali ditegur pustakawan dan orang sekitar karena “berisik,” jadi aku tahan.
Dia yang tadi sempat melindungi diri dengan lengannya pun menurunkan kewaspadaannya.
Selama beberapa saat, kami berdua lanjut belajar dalam diam dengan sungguh-sungguh.
“…Kalau kamu nggak semangat,”
gumamnya tiba-tiba. Aku langsung menegakkan tubuh dari posisi yang tadi condong ke arahnya, lalu mengusap air liur yang hampir menetes dari sudut bibir dengan punggung tangan. Gawat, tadi aku nyaris ketiduran…
“A-Apa?”
“Gimana kalau begini? Kalau kamu menang lawan aku di ujian, aku bakal nurutin satu permintaanmu, apa pun itu.”
“Hah? Apaan itu. Serius?”
“Serius, serius. Serius dalam artian serius. Kalau total nilai dan ranking semua pelajaranmu lebih tinggi dari aku… ya, gitu deh? Aku bakal nurut apa pun yang kamu bilang.”
“Apa pun…”
Aku mengulang kata-katanya, lalu bertanya hati-hati.
“Ngomong-ngomong, kalau kamu yang menang?”
“Nggak ada.”
“Hahh?”
“Soalnya nggak mungkin jangankan satu banding sejuta, satu banding semiliar pun nggak mungkin aku bakal kalah dari kamu. Kemungkinannya sekecil dadamu tiba-tiba jadi gede.”
“Oke, aku sudah putuskan. Kalau aku menang, aku bakal suruh kamu dogeza telanjang.”
Semangatku langsung meledak.
Dia tersentak. “Hah—!?”
“H-Haruka… kamu, kamu itu beneran… pengin lihat aku telanjang segitunya!?”
“Tentu aja nggak.”
Aku benar-benar muak.
“Aku sudah lihat badan telanjangmu jutaan kali.”
“………………………………Itu waktu kita masih kecil,” semburnya sambil memalingkan wajah.
Dalam hati aku langsung berpikir, Hah? Reaksi ini bukan yang kubayangkan.
Malah, ini—
“…Dadamu,” tambahnya pelan. Dia melirik ke arah dadaku saat aku masih bingung, lalu—
“Oh, maaf! Soalnya masih datar seperti biasa sih—Awwwwww!?”
Aku langsung menghantam ulu hati teman masa kecilku yang sedang tertawa itu. Pustakawan kembali menegurku, “Harap tenang,” tapi aku tidak peduli. Ah, dia memang sampah.
Aku kembali menggenggam penaku, dan semangat tempurku menyala.
“Aku pasti menang! Dan kalau aku menang, aku bakal nyuruh kamu melakukan hal yang lebih memalukan daripada dogeza telanjang!”
“Mau nyuruh aku ngapain memang!?”
Melihat dia yang ketakutan, aku menyeringai. “Siapa tahu?”
“Nanti juga kamu tahu sendiri kalau waktunya tiba. Fuhihi.”
Begitu kataku, tapi bahkan saat mengatakannya pun aku sudah tahu.
Bahwa tak mungkin aku bisa mengalahkannya.
Tapi justru karena itu aku jadi berpikir.
Bagaimana kalau.
Bagaimana kalau, dengan kemungkinan satu banding sejuta, satu banding semiliar, itu benar-benar terjadi?
Aku akan, pada dia—
aku berpikir begitu.
“…………Wh-Whoooooooooooooaaaaah~~~~!”
“Wah!? Hei… k-kenapa! Tenang, Haruka!”
Bang, bang, bang, bang! Saat aku mulai membenturkan kepala ke meja untuk menghancurkan dan melupakan pikiran jahat yang tiba-tiba muncul itu, dia langsung panik.
Aku memang mengangguk-anggukkan kepala ke atas dan ke bawah, tapi di dalam hati aku sedang menggeleng keras ke kanan dan kiri, menyangkalnya.
(Nggak, nggak, nggak, nggak.)
Serius, nggak mungkin!