"Bagaimana caranya aku mengundang keluarga terpandang...?"
Di ruang kelas, buku catatanku sudah terbuka di atas meja, tetapi isinya masih kosong melompong.
Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Mengundang orang tua Maritsuji-san dan Anri-chan ke Rumah Lama Keluarga Kiyomiya.
Karena pembicaraan pernikahan sudah mulai berjalan, sekarang memang giliran kami yang seharusnya mengundang mereka.
Lalu...
Menyajikan teh dan kue kepada ketiga anggota keluarga Maritsuji, membuat mereka merasa nyaman dengan percakapan yang cerdas.
Memberi kesan bahwa aku menyambut baik lamaran pernikahan itu, tetapi pada saat yang sama menunda keputusan akhirnya.
Membuat keluarga Maritsuji berpikir bahwa bekerja sama dengan keluarga Kiyomiya akan menguntungkan mereka, sekaligus menjadikan Maritsuji Anri sebagai pendukung faksi yang akan kubentuk.
Membuat para siswa Sōshūkan memahami bahwa di balik Maritsuji Anri berdiri keluarga Maritsuji sendiri.
Maritsuji, Maritsuji, Maritsuji... apakah sepanjang hidupku nanti akan ada lagi saat nama "Maritsuji" memenuhi kepalaku sebanyak ini?
"U-Ugh... kalau cuma garis besarnya, sebenarnya sederhana sekali."
Namun begitu harus benar-benar melaksanakannya, kepalaku langsung terasa sakit.
Untuk sementara lupakan dulu kakek Maritsuji, sang Gozen.
Dia tinggal di Kyoto, dan membayangkan harus mengundangnya saja sudah terasa mengerikan.
Tetapi bahkan mengundang calon kepala keluarga Maritsuji berikutnya beserta istrinya ke rumah lama kami pun bukan perkara mudah.
Meskipun punya alasan yang sah, tetap saja menyeramkan kalau aku harus berurusan dengan Rina-san.
Rina-san benar-benar sulit dihadapi... rasanya saja sudah seperti keajaiban aku bisa bertemu dengannya dua kali dalam beberapa hari terakhir.
"Sayaka juga tidak ada... dia pergi ke mana?"
Sekarang jam makan siang, tetapi Sayaka tidak terlihat di mana pun.
Aku cepat-cepat menghabiskan bekalku lalu mulai menyusun rencana, tetapi...
Sayaka yang seharusnya membantuku menyusun strategi justru pergi entah ke mana sambil membawa novel saku.
Tidak, aku mengerti. Sayaka hanya akan mendukungku. Kalau aku sendiri tidak memikirkan garis besar rencananya, semua itu tidak ada artinya. Kalau sejak awal aku sudah bergantung pada orang lain, aku tidak akan pernah berkembang.
"Selamat siang, Kiyomiya-san."
"Ya, selamat si... eh, Maritsuji?!"
Saat sedang mengerang sendirian, tiba-tiba seseorang menyapaku dari samping.
Rambut hitam panjang yang tampak anggun, seragam yang dikenakan dengan sangat rapi, rok sepanjang lutut.
Di Sōshūkan, tidak ada lagi orang yang begitu mencerminkan sosok Yamato Nadeshiko¹ seperti dirinya.
"Rasanya menegangkan datang ke kelas lain. Aku sempat ragu cukup lama di depan pintu."
"B-Begitu ya."
Maritsuji adalah siswi Kelas A yang berada di sebelah, dan ini mungkin pertama kalinya dia datang ke ruang kelas Kelas B.
Kemunculan Maritsuji Anri, yang memiliki status sosial tertinggi di Sōshūkan, langsung membuat seluruh kelas menjadi heboh.
Sebagian besar murid Kelas B sudah bersekolah bersama Maritsuji selama lebih dari sembilan tahun, tetapi tetap saja keluarga Maritsuji, terutama pewaris langsungnya, Anri-chan, sudah cukup membuat orang-orang di sekitarnya tegang.
"Ada apa, Maritsuji? Ada yang kamu cari?"
"Aku tidak punya urusan dengan siapa pun selain dirimu, Kiyomiya-san."
"..."
Entah kenapa cara mengatakannya terdengar... tajam?
Seolah-olah dia memang tidak tertarik kepada siapa pun selain aku...
"Kiyomiya-san."
Maritsuji tampaknya tidak menyadarinya, lalu sambil tersenyum meletakkan kedua tangannya di atas mejaku.
Aroma lembut dan anggun menguar dari rambut hitamnya.
"Mari berkencan sepulang sekolah hari ini."
"Berkencan?!"
"Kita sudah bertunangan, jadi tidak masalah, bukan?"
"Tunggu, tunggu!"
Jangan terus mengucapkan hal-hal yang bermasalah seperti itu!
"Oh, pertunangan kita memang belum resmi, ya? Maaf. Aku terlalu senang sampai jadi terburu-buru."
"..."
Kalau mengungkapkan perasaanmu seterang-terangan seperti itu, justru masalahnya semakin besar. Kalau hanya urusan pertunangan, itu masih bisa dianggap urusan keluarga, tetapi kalau Maritsuji Anri sendiri mengaku senang, itu benar-benar masalah besar.
Aku ini masih Kiyomiya Keiji, anak di luar nikah yang dianggap sampah, tahu?
Seperti yang diduga, suasana kelas menjadi semakin gaduh.
"K-Kiyomiya-ku...?!"
Fujikawa malah mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.
"Ini bisa dijual sebagai berita... Untung tadi aku sempat merekam Keiji saat sedang mengerang sendirian!"
Temanku! Temanku sendiri malah mengkhianatiku!
Di saat seperti ini, mana pelayanku yang biasanya bisa diandalkan?!
"Maritsuji-san, ayo kita ke ruang UKS. Kamu pasti sedang demam."
"Kenapa kamu jadi memakai bahasa yang begitu sopan, Kiyomiya-san? Aku sehat seperti biasa..."
Tanpa memberinya kesempatan membantah, aku mendorong pelan punggung Maritsuji yang ramping lalu mulai berjalan.
Aku tidak akan memberi teman-teman sekelasku bahan gosip yang lebih menarik lagi.
Keluar dari ruang kelas, Maritsuji justru berjalan di depan memimpin jalan.
Sebenarnya aku bisa saja kembali ke kelas, tetapi entah kenapa rasanya aku akan dimarahi kalau melakukannya.
Maritsuji bahkan keluar dari gedung sekolah dan berjalan menuju taman belakang.
"Tempat ini lagi."
Di sana berdiri sebuah bangunan kayu kecil.
Itu adalah ruang teh milik klub upacara minum teh yang dulu pernah diperlihatkan Maritsuji kepadaku.
Maritsuji memang anggota klub upacara minum teh dan tampaknya bebas menggunakan tempat ini sesukanya.
Lama-kelamaan tempat ini benar-benar menjadi lokasi langganan untuk pertemuan rahasia dengan Maritsuji.
"Ah, benar juga. Mohon tunggu sebentar."
"Hm? Oh, baik."
Maritsuji masuk sendirian ke ruang teh.
Kurasa bukan karena di dalam berantakan... lagipula tempat itu masih rutin dipakai klub upacara minum teh.
Apa dia sedang membereskan peralatan? Aku menghabiskan sekitar lima menit sambil menggulir layar ponselku.
"Maaf membuatmu menunggu. Silakan masuk."
"Oh."
Suara Maritsuji terdengar dari dalam ruang teh, lalu aku masuk.
Memanggilku dari dalam alih-alih keluar menjemput... itu cukup malas untuk ukuran Maritsuji yang biasanya begitu sopan.
"Permisi... eh?"
"Selamat datang, Kiyomiya-san."
Maritsuji berdiri di dalam ruang teh yang kecil itu lalu membungkuk dengan sopan.
Untuk berjaga-jaga aku ikut membalas bungkukannya, lalu menatapnya lekat-lekat.
"I-Itu... bukankah cara berpakaianmu jadi seperti Maki?"
"M-Malu sekali..."
Maritsuji memainkan rambut hitam panjangnya tanpa alasan yang jelas.
Pipinya yang memerah mungkin disebabkan oleh penampilannya yang kali ini jauh lebih santai daripada biasanya.

Dia melepas blazer yang biasanya selalu dikenakannya dengan rapi. Di atas blus putihnya, ia mengenakan sweter sekolah berwarna kuning dengan lengan yang digulung.
Pita di lehernya tidak ada, dan beberapa kancing blusnya sengaja dibuka. Rok selututnya juga dilipat hingga menjadi jauh lebih pendek, dengan panjang yang cukup berani.
Dadanya yang mungil sedikit terlihat, dan pahanya yang biasanya tertutup kini terekspos. Penampilannya begitu menggoda hingga membuat bulu kudukku meremang.
Maritsuji bertubuh kecil dan ramping, jadi kenapa dia bisa memancarkan daya tarik sekuat ini?
"A-Ada apa, Maritsuji? Kalau berpakaian seperti itu, semua orang pasti akan kaget."
"Kalau hanya membuat mereka kaget saja sih tidak masalah. Mereka mungkin akan mengira aku sudah kehilangan akal."
Jadi dia sendiri juga paham. Aku tadi hanya berusaha menyampaikannya sehalus mungkin, seperti orang Kyoto.
"Kalau ada orang lain yang melihatku, mungkin mereka akan melaporkannya kepada keluarga Maritsuji, lalu aku akan dimasukkan ke penjara tatami. Ibuku sangat ketat."
"Mana mungkin Rina-san sampai segitunya... tunggu dulu, penjara tatami?! Sebentar, keluarga Maritsuji benar-benar punya penjara tatami?!"
"..."
Jangan diam begitu! Kedengarannya jadi seperti benar-benar ada, dan itu menakutkan!
"Karena itu, apa yang Anda lihat di sini akan menjadi rahasia hanya antara Anda dan saya, Kiyomiya-san."
"...Aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Malah rasanya ingin kusimpan hanya untuk diriku sendiri."
"Astaga, Anda masih saja seorang sampah... maksudku... Anda masih suka mengatakan hal-hal yang menggoda seperti itu."
"Padahal aku serius."
Jadi bahkan Maritsuji juga menganggapku sampah.
"Tapi aku senang karena Anda berkata ingin merahasiakannya... Aku harus berterima kasih kepada Sogano-san."
"Jadi Maki memang terlibat dalam ini?"
Bukankah dia terlalu banyak bergerak di balik layar?
"Sebenarnya... sudah cukup lama aku menunggu kesempatan untuk memperlihatkan penampilan ini kepada Anda..."
"U-Untuk apa?"
"I-Ini pertama kalinya aku memakai rok sependek ini. A-Aku jadi tidak bisa tenang."
Maritsuji mengabaikan pertanyaanku sambil menarik-narik ujung roknya agar lebih panjang.
Mau ditarik sekeras apa pun, panjangnya tetap tidak akan bertambah.
"D-Dan bagian atasnya juga... apa tidak terlalu vulgar kalau kancingnya dibuka sebanyak ini?"
"Jangan tanya padaku. Itu kan hasil padu padan dari Maki."
"Ya. Dia memastikannya lewat panggilan video. Katanya, 'Buka lagi kancingnya. Meskipun dadamu kecil, tetap ada belahannya. Justru di situlah letak daya tariknya.'"
"Aku ada urusan dengan Maki. Jadi boleh aku kembali ke kelas sekarang?"
"T-Tunggu! Kalau Anda pergi sekarang, berarti aku sudah memperlihatkan semua ini dengan sia-sia!" Maritsuji buru-buru menarik lengan bajuku.
Karena dia mendekat, aku otomatis melihat tubuh mungilnya dari atas, dan dari celah blusnya yang terbuka, aku bisa melihat 'belahan dada yang nyaris tidak ada' itu...!
"Hah? Kenapa wajah Anda juga merah, Kiyomiya-san? Eek!"
Maritsuji menyadari arah pandanganku dan buru-buru menutupi bagian blusnya yang terbuka.
"A-Aku sebenarnya juga punya sedikit dada, lho. Mungkin nanti bisa tumbuh sampai hampir ukuran C..."
"Tunggu, tunggu, tidak usah dijelaskan."
Maritsuji memang seorang Yamato Nadeshiko yang anggun, tapi kadang-kadang dia benar-benar aneh.
"Haa, percuma saja... Aku memang tidak cocok dengan penampilan siswi SMA yang modis seperti ini."
"Padahal kamu memang siswi SMA."
"Tapi aku bukan siswi SMA yang biasa..."
Maritsuji terduduk di lantai.
Entah kenapa aku merasa dia akan marah kalau kutinggalkan, jadi aku ikut duduk bersila di hadapannya.
"Jadi, kenapa berpakaian seperti ini?"
"Ruang teh ini adalah tempat perlindunganku. Aku tidak mungkin bisa berpakaian seperti ini di tempat lain..."
"Ya, aku mengerti. Kalau sampai ada yang melihatmu, bakal jadi masalah besar. Ojou-sama keluarga Maritsuji, salah satu Yamato Nadeshiko terbaik di sekolah, Maritsuji Anri yang anggun dan sopan."
"Anda jahat..."
Maritsuji menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf. Tidak, sebenarnya penampilan ini cocok sekali untukmu. Lucu, kok."
"L-Lucu... T-Terima kasih. Memang itu tujuan utamaku, ingin mendengar Anda mengatakan itu."
Maritsuji tersenyum tipis, lalu mungkin karena masih merasa tidak nyaman, ia mengancingkan kembali blusnya.
Rasanya agak disayangkan, tapi mungkin memang penampilan ini lebih cocok untuk dirinya.
"Aku sebenarnya ingin mencoba berkencan dengan berpakaian seperti siswi SMA biasa begini, tapi ternyata tidak mungkin. Hanya memperlihatkannya kepadamu saat kita berdua saja pun sudah membuatku sangat malu."
"Bukan berarti tidak bisa... hanya saja, jangan memaksakan diri."
Sepertinya memang sulit bagi Maritsuji untuk pergi keluar dengan penampilan seperti ini.
"Tahu tidak, Kiyomiya-san."
"Ya?"
"Di dunia ini, tidak banyak tempat di mana aku bisa benar-benar bebas."
"...Karena kamu seorang Maritsuji."
Zaman sekarang, anak-anak keluarga terpandang belum tentu selalu dikekang keluarganya.
Namun, tingkat kebebasan seorang tuan muda atau nona muda biasanya berbanding terbalik dengan status keluarga mereka.
Semakin terpandang keluarganya, semakin banyak pula batasan yang dikenakan kepada anak-anaknya.
"Kalau keluarga Kiyomiya sih pengecualian. Atau mungkin akulah pengecualiannya. Aku hampir dibiarkan sesukaku. Ngomong-ngomong, sampai sekarang Ayah juga belum mengatakan apa pun tentang lamaran kita. Mungkin beliau menyerahkan semuanya kepadaku."
"...Keluarga Kiyomiya sudah diberi tahu mengenai hal itu."
"Aku yakin begitu. Aku memang bebas, tapi kamu tidak, Maritsuji. Bahkan cara memakai seragammu sendiri pun tidak boleh sesukamu?"
"Aku menjalani kehidupan yang sangat berkecukupan, jadi aku tidak berhak mengeluh. Lagi pula..."
"Apa?"
"Sebenarnya aku juga sedikit suka berpura-pura. Aku sengaja memainkan peran sebagai 'anggun dalam penampilan, sopan dalam sikap, biasa saja dalam pelajaran, dan lucunya buruk dalam olahraga.'"
"Akting yang luar biasa. Kamu benar-benar menampilkan sosok yang sesuai dengan harapan semua orang."
"Aku sudah terlalu lama memainkan peran itu sampai sekarang tidak bisa melepaskannya lagi. Rasanya seperti aku sendiri yang mengikat diriku."
Maritsuji terkekeh pelan sambil mengusap-ngusap tatami dengan gelisah.
"Aku ingin memperlihatkan kepadamu, Kiyomiya-san, bahwa sisi diriku yang seperti ini juga ada. Bahwa meskipun aku mengikat diriku sendiri, aku tetap mengagumi siswi SMA biasa seperti ini."
"Terlepas dari apakah pakaian hasil padu padan Maki bisa disebut 'biasa' atau tidak..."
Aku benar-benar mengerti kenapa Maritsuji berpakaian sangat berbeda dari biasanya. Singkatnya, kalau lamaran ini benar-benar berlanjut dan kami benar-benar bertunangan, dia ingin aku mengenal sisi dirinya yang lain lebih dulu.
Sementara aku sendiri bahkan belum bisa menceritakan rahasia kelahiranku kepadanya. Tapi rahasia itu juga menyangkut Sayaka, jadi aku tidak bisa memberi tahu siapa pun...
"Anri-chan, penampilan ini benar-benar cocok untukmu. Rasanya aku ingin melihatnya lebih lama."
"Kalau Anda yang mengatakannya, Kiyomiya-san, aku akan berusaha."
Maritsuji berdiri lalu berputar satu kali.
Karena lupa kalau rok yang dikenakannya terlalu pendek, dia berputar cukup kuat hingga ujung roknya terangkat.
"Ah!"
"...Celana dalam yang terlihat cukup mahal, ya, Ojou-sama."
Aku sempat melihat sekilas celana dalam renda putih mengilap miliknya. Hanya sesaat, tetapi pemandangan itu sudah terpatri di kepalaku.
"A-Aku belum pernah membeli pakaian dalam sendiri. Jadi aku tidak tahu mahal atau tidak."
"Di situasi seperti ini malah keluar kartu 'ojou-sama'..."
"K-Kalau begitu, Anda membeli pakaian dalam sendiri, Kiyomiya-san?!"
"Pertanyaannya aneh sekali. Tentu saja aku pernah membeli pakaian dalam sendiri."
"Pendidikan keluarga Kiyomiya ternyata cukup keras... nanti kalau kita punya anak, kira-kira pola asuh yang mana yang akan kita pakai?"
"Kamu terlalu jauh melompat."
"Terlalu jauh melompat... b-betapa mesumnya! Kiyomiya-san, mengatakan hal seperti itu kepada seorang gadis sebelum menikah... Anda benar-benar laki-laki!"
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, Maritsuji."
Tidak, sebenarnya aku cukup mengerti.
Ojou-sama ini... jangan-jangan yang dibayangkannya bukan soal membesarkan anak, melainkan proses membuat anak?
"B-Baiklah. Mari kita tenang."
"Kamu dulu yang tenang, Maritsuji."
"Ya, aku dulu."
Maritsuji tampaknya benar-benar sudah tenang. Ia kembali duduk sambil memegang ujung roknya dengan kedua tangan.
"Seragam modernku... apa Anda... sudah melihatnya dengan jelas?"
"Ya, benar-benar cocok untukmu. Sekali-sekali Maki memang melakukan sesuatu yang bagus."
"Hmph."
Maritsuji menatapku tajam.
"Walaupun kita sedang berdua saja, aku lebih suka kalau Anda tidak menyebut nama gadis lain. Aku ingin Anda hanya melihatku. Kalau bisa, seumur hidup."
"Seumur hidup hanya bersamamu?"
Ojou-sama ini benar-benar suka mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Aku hanya bercanda. Tapi bukan berarti aku berbohong saat mengatakan bahwa aku merasa bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Maritsuji menggenggam tanganku erat.
"Sederhana saja. Aku benar-benar senang dengan lamaran ini, Kiyomiya-san... Kei-kun."
"Anri-chan..."
Kei-kun. Kalau dipikir-pikir, dulu saat kami pertama kali bertemu ketika masih kecil, dia memang memanggilku begitu.
Namun tak lama kemudian ibunya menegurnya, mengatakan bahwa seorang gadis tidak boleh memanggil anak laki-laki dengan seakrab itu. Kenangan itu terasa sangat nostalgis.
Aku teringat seorang gadis kecil dengan senyum polos di taman indah kediaman keluarga Maritsuji.
"Kei-kun, maaf ya. Aku sudah merepotkanmu, kan? Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaan bahagia ini."
Gadis kecil itu kini telah tumbuh dewasa, dengan senyum yang jauh lebih matang di wajahnya.
"Aku begitu bahagia dan bersemangat sampai-sampai ingin berpakaian seperti ini dan memperlihatkannya kepadamu."
"Begitu ya..."
Dari sudut pandangku, lamaran dari Maritsuji lebih dari sekadar mencurigakan. Aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa pasti ada suatu rencana di balik semua ini.
Namun, di hadapanku sekarang ada seorang gadis yang benar-benar bahagia dengan lamaran ini, dan aku sendiri tidak membencinya.
Masalah ini ternyata tidak sesederhana menghancurkan rencana keluarga Maritsuji.