Sekitar tiga puluh menit setelah perdebatan ringan dengan Frost-san...
"Bisa kita bicara?"
Saat aku sedang menonton video di kamarku, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dan aku mendengar suara yang ketus.
Hanya ada satu orang yang bisa membuat suara seperti itu.
Aku bahkan tidak menyangka Frost-san akan mendatangiku sendiri...
"Ada apa?"
"Bolehkah aku masuk ke kamarmu?"
"…………"
Aku melihat ke sekeliling kamar.
Rak buku di kamar dipenuhi dengan majalah bisbol, buku bisbol dan pelatihan, serta video lama bisbol profesional dan Stadion Koshien.
Yang paling penting, ada banyak poster pemain asing tertentu di dinding, yang sudah lama kukagumi.
Aku tidak ingin orang lain melihatnya.
"Tidak, aku yang keluar. Tunggu sebentar."
Aku berkata begitu dan keluar ke koridor, bersikap sangat berhati-hati agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam kamar.
"Tingkah lakumu seolah-olah kamu tidak ingin aku melihat ke dalam kamarmu."
Tentu saja, Frost-san, yang memiliki mata tajam, akan menyadari hal ini jika aku membuat gerakan yang begitu mencurigakan.
"Aku cowok seumuran denganmu, aku punya banyak hal yang tidak ingin dilihat oleh para cewek."
"Hah!?"
Bagaimana dia menafsirkan kata-kataku?
Wajahnya yang putih seketika berubah menjadi merah padam.
Itu reaksi yang tidak terduga.
『Dasar binatang...!』
Frost-san memelototiku dengan tatapan menyalahkan dengan wajah yang memerah.
Begitu ya, dia cukup menjaga diri untuk hal-hal semacam ini, ya?
Hal terakhir yang dia katakan adalah dalam bahasa Inggris, tetapi seperti yang bisa diduga, setidaknya aku tahu apa arti 'beast'.
"Salahku. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"
"…………"
Aku mencoba meminta maaf, tapi Frost-san terus menatapku dan tidak mau mengatakan apa-apa.
Karena dia yang datang kepadaku, dialah yang ingin berbicara denganku, jadi aku diam dan menunggu Frost-san langsung ke intinya.
Lalu dia tiba-tiba menarik napas dalam-dalam dan menatapku dengan ekspresi tegas.
"Aku baru saja mandi, seperti yang bisa kamu lihat. Aku tidak mau masuk angin karena mengobrol di koridor, jadi bisakah kamu membiarkanku masuk ke kamarmu?"
Saat ini dia mengenakan piyama berwarna persik dan rambutnya sedikit lembap.
Dari segi waktu, dia mungkin langsung datang ke kamarku setelah keluar dari kamar mandi.
Sejujurnya aku tidak peduli apakah dia baru saja mandi atau tidak, tetapi dia sengaja berusaha masuk ke kamarku, mungkin karena aku berusaha menyembunyikan kamarku darinya...
"Kenapa aku harus melakukannya? Apa kamu tertarik dengan apa yang ada di kamarku?"
『B-Bukan begitu...! Aku cuma...!』
Mungkin karena dia gugup, dia mulai berbicara dalam bahasa Inggris lagi.
Saat dia tinggal berdua dengan Jessica-san, dia pasti berbicara bahasa Inggris di rumah, dan mungkin dia punya kebiasaan berbicara bahasa Inggris saat sedang gugup.
Alasan ini tidak menjadi rumor di sekolah hanyalah karena tidak ada yang pernah melihatnya saat dia sedang gugup.
Aku tidak begitu mengerti apa yang dia katakan, tapi aku tahu dia sedang menyangkalnya.
"Fakta bahwa kamu ingin masuk berarti kamu tertarik, kan?"
『~~~~! A-Aku tidak tertarik...! Aku sama sekali tidak tertarik, jadi bisakah kamu berhenti bicara omong kosong...!?』 [TLN: Bro, apakah dia benar-benar seorang Kuudere? Sumpah, dia bertingkah seperti Tsundere 🗿🗿🗿]
Mungkin dia tidak nyaman dengan pembicaraan semacam ini, dia mulai berbicara dengan sangat cepat.
Namun, sejak awal aku tidak terlalu pintar bahasa Inggris, jadi kalau dia berbicara cepat seperti ini, aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yang dia katakan.
"Hei, bicaralah padaku dalam bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris."
Jadi aku memintanya untuk berbicara dalam bahasa Jepang.
Frost-san, yang menyadari bahwa dia sedang berbicara dalam bahasa Inggris, sengaja terbatuk, dan menatapku dengan ekspresi tajam.
Tapi wajahnya masih merah.
"O-Oke, baiklah, terserah! Aku akan bicara denganmu di sini!"
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan ini dari alur percakapan sebelumnya, tapi dia mungkin berpikir itu adalah ide yang buruk.
Itu adalah keputusan yang bijak darinya untuk mundur pada saat ini, karena aku berencana untuk menggodanya tanpa ragu-ragu sekarang setelah aku menemukan kelemahannya.
...Yah, aku mendengar rumor bahwa dia adalah gadis yang sangat dingin dan tidak kenal ampun sama sekali, tetapi aku tidak mendapat kesan bahwa dia sesulit yang dikatakan rumor tersebut.
Dia bisa jadi suka memerintah, angkuh, atau sombong, tapi dia juga bisa didekati jika dia menunjukkan reaksi awal seperti ini.
"Jadi sekali lagi, apa yang ingin kamu katakan padaku?"
Aku tidak akan menggodanya dengan cara yang buruk, karena dia sudah menerima situasi ini.
Jika seseorang ingin mengatakan sesuatu padamu, maka kamu harus segera menanyakan apa yang mereka inginkan dan mengakhiri percakapan.
"Maaf aku menyebutmu berandal sebelumnya..."
"...Eh?"
Tuntutan tidak masuk akal macam apa yang akan dia bebankan padaku?
Aku sudah mempersiapkan diri untuk ini, tapi Frost-san justru meminta maaf padaku.
"Seperti yang kubilang, aku minta maaf atas apa yang kukatakan sebelumnya..."
Dia pasti mengira aku bertanya balik.
Dia dengan cemberut memalingkan wajahnya dan mengatakan hal yang sama lagi.
Aku tidak tahu dia bisa meminta maaf...
Aku merasa tidak enak mengatakan ini, tapi itu sangat tidak terduga.
"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini...?"
"Jangan menatapku seolah-olah kamu melihat sesuatu yang tidak kamu mengerti. Aku cuma merasa aku salah."
Apa Jessica-san memarahinya karena suatu hal?
Meskipun begitu... aneh sekali melihatnya meminta maaf dengan begitu jujur.
"Yah, kuharap kamu sadar itu cuma kesalahpahaman..."
Sejujurnya, ini agak menakutkan karena dia tampak seperti orang yang berbeda.
Apakah besok akan turun hujan lebat?
"Tapi bukan berarti kamu boleh keluyuran sampai larut malam, lho."
Rupanya, percakapannya belum selesai.
Mungkin topik utamanya adalah yang ini.
Pada akhirnya, sepertinya dia datang untuk mengeluh.
...Meskipun aku berkata begitu, tapi dia tidak sedingin saat pertama kali kami bertemu.
"Kita baru saja menjadi keluarga dan aku tidak tahu apakah benar untuk mengatakan hal-hal yang mungkin memaksamu, tapi berbahaya keluar dan bermain larut malam, jadi tolong hentikan."
Frost-san sedikit mengalihkan pandangannya dariku dan memintaku melakukan sesuatu, melipat tangannya karena tidak setuju.
Bagaimanapun juga, itu sedikit berbeda dari gambaran yang kubayangkan.
Jika itu dirinya yang selama ini kudengar, dia pasti sudah menyuruhku melakukan banyak hal tanpa bertanya dan tanpa berpikir, tapi yang mengejutkan, dia menggunakan metode permohonan.
Dia bahkan menungguku keluar dari kamar, jadi dia mungkin bukan gadis yang buruk.
...Tidak, aku masih berpikir dia punya kepribadian yang mengerikan.
"Begitu ya, maafkan aku. Yah, aku ini bukan berandal, jadi jangan khawatir soal itu."
"Ya, aku tidak berpikir kamu itu berandal. Kamu justru terlihat lebih suka main-main."
"…………"
Apa? Kenapa kamu dengan naturalnya memancing pertengkaran denganku seperti ini?
Apa arti permintaan maafmu tadi?
Memang benar aku pernah dipanggil sebagai cowok yang suka main-main lebih dari satu atau dua kali.
Tapi aku tidak pernah menjadi pria yang berkeliling memangsa para gadis, dan belum lagi, aku belum pernah berpacaran sebelumnya. [TLN: Sama, bro.]
Aku tidak berusaha menjadi cowok yang suka main-main, aku hanya berhati-hati dengan penampilan dan perilakuku untuk menghindari membuat musuh sebanyak mungkin.
"Ahaha, itu kejam sekali."
Aku merespons dengan senyum palsu, meskipun aku sedikit bingung.
Pada kenyataannya, aku ingin membalas kata-katanya, tapi sejujurnya, aku kesulitan memahami karakter Frost-san.
Jika dia memang bukan orang jahat, maka kami telah menjadi saudara tiri dan aku ingin kami akur.
Jika memang begitu, aku jelas harus menghindari konflik yang tidak perlu.
"Apa kamu akan berhenti keluar di malam hari?"
Ah sungguh, tepat saat aku memikirkan hal itu, dia menanyakan pertanyaan yang merepotkan...!
"Aku akan memikirkannya."
Aku tidak akan berhenti berlatih di masa depan.
Aku menganggukkan kepala karena aku tidak ingin memicu konflik, tetapi jika aku ketahuan keluar malam, itu akan membuat segalanya menjadi lebih rumit.
Itulah sebabnya aku mengatakannya seperti itu, namun...
"Jadi kamu tidak mau mendengarkanku, kan?"
Seperti dugaan, dia tidak akan tertipu hanya dengan ini, kan?
Ini agak kacau sekarang.
Jika aku memberitahunya sekarang bahwa aku keluar untuk berlatih... dia tidak akan mempercayaiku.
Terlebih lagi, aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku bekerja keras.
"Jangan asal tebak. Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tapi hei, aku pasti akan berhenti."
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di luar sana sampai selarut ini?"
"Itu tidak ada hubungannya dengan Frost-san, kan?"
"Oh, begitukah? Sebagai adik perempuanmu, aku perlu memastikan kakakku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Bukankah begitu menurutmu, Kakak?"
Rupanya, aku telah memberinya kesempatan untuk memanfaatkanku.
Kukira dia tidak menyetujui hubungan kakak-adik ini, tapi dia cukup pintar untuk memanfaatkannya.
Mata jahat dan menguji yang diarahkan kepadaku begitu menarik, sampai-sampai itu hampir seperti hadiah bagi mereka yang menyukai hal semacam itu.
Aku benci mengatakannya, tapi aku tidak memiliki kecenderungan sedikit pun terhadap hal itu. [TLN: Enggak bro, kamu sudah bilang begitu, jadi berhenti ngeles.]
"Hanya karena kita ini keluarga, bukan berarti kita harus menceritakan segalanya satu sama lain, kan?"
"Tentu saja tidak. Tapi meskipun begitu, keluarga normal tidak akan membiarkan anggota keluarganya keluar sampai selarut ini."
Sekarang, aku dalam masalah.
Dia benar tentang apa yang dia katakan, jadi dia tidak akan mundur sampai aku memberitahunya.
Alasan dia datang jauh-jauh ke kamarku mungkin karena dia pikir orang tua kami akan menghentikannya jika dia berbicara di ruang tamu.
Aku tidak tahu bagaimana aku akan menutupinya.
"Hanya karena aku keluar malam bukan berarti Frost-san dan yang lainnya dalam bahaya. Apa itu belum cukup bagimu?"
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?"
"Eh?"
Balasan yang sama sekali tidak terduga itu membuatku terdiam tanpa kata.
『A-Aku cuma mengkhawatirkanmu karena kita ini bersaudara, aku tidak punya niat lain, oke...!?』
Saat aku mematung, wajah Frost-san, yang seharusnya sudah kembali putih, berubah sedikit merah, dan dia buru-buru menambahkan komentar lain.
Namun, aku tidak mengerti apa pun yang baru saja dia katakan karena itu dalam bahasa Inggris, mungkin karena dia sedang gugup.
"K-Kenapa...?"
『A-Apa maksudmu kenapa!? Apa itu aneh sekali!? Kita ini keluarga sekarang, bukankah wajar untuk saling mengkhawatirkan satu sama lain...!?』
Wajah Frost-san menjadi semakin merah, seolah-olah dia mengira aku sengaja memancingnya, dan dia mulai mengoceh lagi.
"Aku tidak mengerti bahasa Inggris, jadi tolong ucapkan dalam bahasa Jepang..."
Aku bisa mengerti bahwa dia berusaha keras untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selama aku tidak mengerti bahasanya.
Jadi ketika aku memintanya dalam bahasa Jepang seperti sebelumnya, Frost-san tampak terperanjat.
Bagaimanapun juga, dia sepertinya berbicara bahasa Inggris tanpa sadar.
"Ehem..."
Dia terbatuk dengan sengaja dan menatapku dengan ekspresi tajam lagi.
Entah kenapa, dia malah terlihat agak imut saat melakukan hal sejauh ini...
Dia tampak lebih seperti gadis yang kikuk daripada gadis yang dingin...?
Saat aku memikirkan hal ini, dia memalingkan pandangannya dariku.
Dan kemudian...
"Sudah sewajarnya mengkhawatirkan keluargamu..."
Ucapnya malu-malu sambil gelisah.
Makhluk apa ini, seorang tsundere? [TLN: Lihat, bahkan tertulis tsundere di sini, mereka membohongi kita di sinopsis!]
"Erm, umm... Begitu ya, jadi kamu mengkhawatirkanku..."
Mungkinkah dia hanya tsuntsun karena dia tidak bisa jujur?
Tidak, ya... serius, menurutku itu agak imut...
"A-Apa seaneh itu!? Kita ini keluarga sekarang, bukankah wajar untuk saling mengkhawatirkan... !?"
Berapa banyak orang yang bisa mengkhawatirkan seseorang yang tadinya orang asing sampai kemarin, hanya karena mereka telah menjadi keluarga?
Sejak awal, mungkin sulit untuk bahkan mengakui mereka sebagai keluarga.
Setidaknya, aku masih berusaha mengakui Frost-san dan Jessica-san sebagai keluarga, dan aku masih merasa sangat seperti orang asing.
Padahal, dia...
『...Sophia, jangan bertengkar, oke?』
Saat Frost-san berwajah merah dan marah, Jessica-san menyadari ada yang tidak beres dan menaiki tangga ke arah kami.
Yah, jika dia berteriak sekeras itu, suaranya akan terdengar di lantai bawah, setidaknya di koridor.
Meski begitu, Jessica-san juga berbicara bahasa Inggris, bukan bahasa Jepang.
Terlepas dari ketenangan dalam suaranya, Jessica-san mungkin kesal di dalam hati.
...Yah, jika putrinya dan putra barunya bertengkar, wajar saja jika dia kesal.
Sama seperti yang kupikirkan, mereka biasanya berbicara dalam bahasa Inggris.
『Kami tidak bertengkar...』
『Kamu juga tidak seharusnya marah.』
『Tidak, bukan begitu...』
Sambil mengatakan itu, Frost-san menatapku dengan penuh rasa kesal.
Aku tidak pintar bahasa Inggris, jadi aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi aku bisa menebak apa yang dia coba katakan dari suasananya.
Mungkin dia menyalahkanku.
...Tidak, ini salahku. ......?
『Pokoknya, mari kita bicara di kamarmu. Maaf soal ini, Kento-kun.』
『Ah, tunggu, Ibu...!』
Jessica-san tertawa canggung dan mendorong Frost-san kembali.
Dia kemudian masuk ke kamar Frost-san.
Kupikir dia mungkin ingin segera menyelesaikan masalah ini agar tidak ada masalah lebih lanjut dan hubungan kami tidak memburuk.
Namun...
"Aku sangat yakin kalau Frost-san membenciku sekarang..."
Frost-san menjadi orang jahat dalam alur kejadian ini.
Jessica-san itu baik, jadi kurasa dia tidak akan benar-benar marah, tapi kemungkinan besar dia akan... memberikan sedikit teguran.
...Tidak, dari apa yang kurasakan saat makan siang, dia mungkin cukup marah pada Frost-san.
Jika itu terjadi, permusuhan terhadapku akan semakin membengkak di benak Frost-san...
"Apakah kehidupanku mulai sekarang akan baik-baik saja...?"
Aku tidak bisa tidak merasa cemas.