“Serius deh, polisi cosplay itu sebenarnya kenapa sih!?”
Keesokan harinya, Minggu pagi...
“Aku akan menuntutnya karena mengurungku semalaman di tempat sekecil itu.”
Onee-san mengomel sambil menyantap sarapan yang kubuat.
Dia makan dengan lahap, seolah-olah semalam dia tidak menangisi kenaikan berat badan dua kilogramnya.
“Aku tidak bisa makan, tidak bisa mandi juga... benar-benar yang paling buruk.”
“Ya sudah, ya sudah. Yang penting sekarang Onee-san sudah pulang dengan selamat...”
Aku mencoba menenangkannya sambil berkata begitu, tetapi...
Kenapa Onee-san yang seharusnya ditangkap sekarang sudah kembali ke rumah?
Ya.
Aku juga ingin tahu jawabannya.
Begini...
Setelah Onee-san ditangkap, aku terlalu khawatir sampai tidak bisa tidur. Baru menjelang pagi aku tertidur, lalu tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Onee-san berkata, “Aku pulang!”
Sepertinya Akane-san sendiri yang mengantarnya pulang, tetapi ucapan terakhir yang dia tinggalkan, “Jangan kira kali ini kalian menang...!” membuatku yakin pasti telah terjadi sesuatu.
Sesuatu yang begitu di luar dugaan hingga Akane-san terpaksa membebaskannya.
Sebenarnya aku ingin langsung menanyakan apa yang terjadi, tetapi sesampainya di apartemen perut Onee-san langsung berbunyi keras.
Akhirnya kami sepakat membicarakan semuanya nanti. Aku menyuruhnya mandi dulu sementara aku menyiapkan sarapan, dan sekarang jadilah situasinya seperti ini.
“Enak sekali~♪”
Onee-san mengusap perutnya sambil tersenyum puas.
“Memang masakanmu yang paling enak, Eita-kun. Lauk dari toserba memang tidak buruk, tapi kalau dimakan terus selama tiga minggu tetap saja bosan... Aku juga harus hati-hati, soalnya kalau lengah sedikit langsung kebablasan makan.”
Meski berkata begitu, dia tetap menyantap puding sebagai pencuci mulut.
Benar-benar khas Onee-san.
Setelah percakapan kami kembali seperti biasanya, akhirnya aku mengajukan pertanyaan yang paling ingin kuketahui.
Masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi untuk saat ini, itulah yang paling penting.
“Bagaimana Onee-san bisa dibebaskan?”
“Hm? Kamu penasaran?”
Ya jelas penasaran.
“Aku menghubungi pengacara yang biasa membantuku dari agensi.”
Pengacara dari agensi tempatnya bekerja sebagai aktris?
Begitu rupanya.
Kalau menangani artis terkenal, pasti pengacaranya memang hebat.
Tapi...
Sehebat apa pun pengacaranya, menurut penjelasan Akane-san kemarin, yang kami lakukan memang melanggar hukum.
Kalau tidak ada alasan yang sangat kuat, seharusnya Onee-san tidak mungkin langsung dibebaskan...
“Maaf ya. Sudah membuatmu khawatir.”
“Tidak... selama Onee-san baik-baik saja, itu sudah cukup.”
“Tapi sekarang kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi.”
“Apa pun?”
Saat aku memiringkan kepala karena bingung, Onee-san mengeluarkan selembar dokumen dari dalam tasnya.
Dia meletakkannya di atas meja lalu mendorongnya ke arahku.
“Coba lihat.”
Aku membaca dokumen itu sesuai ucapannya.
Lalu aku kehilangan kata-kata.
“Eh...? Ini...”
Aku membaca isi dokumen itu berulang kali untuk memastikan aku tidak salah lihat.
Bahasanya memang penuh istilah hukum yang sulit dipahami, tetapi jika disimpulkan...
Dokumen itu menyatakan bahwa Onee-san telah menjadi wali resmiku.
“Um... maksudnya ini...?”
“Aku menemui ayahmu, Eita-kun.”
“Eh!?”
Aku sampai meragukan pendengaranku sendiri.
“Waktu kamu mengikuti wawancara kerja paruh waktu, kamu ditolak karena tidak memiliki wali, kan? Begitu juga alasan kamu dipecat dari minimarket... Jadi aku memikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu, Eita-kun. Lalu aku sadar, bukankah aku tinggal menjadi walimu saja?”
Onee-san melanjutkan penjelasannya dengan tenang.
“Kurasa mulai sekarang pun kamu akan terus mengalami banyak kesulitan karena ayahmu tidak ada, Eita-kun. Tapi kalau aku menjadi walimu, semua masalah itu bisa diselesaikan. Kita juga bisa tinggal bersama tanpa perlu mengkhawatirkan polisi cosplay itu lagi. Begitu memikirkannya, aku tidak bisa tinggal diam, jadi aku pergi menemui ayahmu dan memintanya menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa aku akan menjadi walimu.”
Setelah berkata begitu, dia bahkan menambahkan sambil bercanda,
“Lumayan jauh sih perjalanannya.”
Tidak, tidak...
Itu bukan sekadar lumayan jauh.
Bukankah ayahku seharusnya sedang ditahan sebagai sandera?
“Setelah itu aku tinggal meminta pengacaraku mengurus semuanya, dan seluruh prosedurnya selesai tepat kemarin.”
Aku benar-benar sudah tidak sanggup mengikuti alur pembicaraan ini.
Selama tiga minggu aku tinggal di rumah Kishō...
Onee-san pergi menemui ayahku.
Meminta tanda tangannya untuk menyerahkan hak perwalian kepadanya...
Lalu benar-benar menjadi waliku.
Kalau diringkas seperti itu memang masuk akal...
Tapi...
Dia sampai melakukan semua itu demi orang sepertiku?
“Jadi benar ya...”
Tidak penting lagi bagaimana caranya dia bisa menemui ayahku.
Yang memenuhi dadaku saat ini hanyalah rasa syukur.
“Terima kasih...”
Aku sendiri sudah bertekad melakukan apa pun agar bisa tetap bersamanya.
Namun pada akhirnya usahaku gagal...
Sementara itu, tanpa kuketahui, dia justru bekerja keras mencari jalan keluar yang nyata demi kami berdua.
Dan perasaan itu...
Membuatku benar-benar bahagia.
“Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya karena memang ingin.”
Senyumnya dipenuhi kelembutan.
“Jadi, Eita-kun. Sekali lagi... mulai sekarang mohon bantuannya.”
“Aku juga.”
Aku menundukkan kepala.
Lalu Onee-san tiba-tiba berdiri.
“Kalau penjelasannya sudah selesai, Eita-kun... pesta penyambutanmu kemarin terpaksa berhenti di tengah jalan karena ada gangguan. Jadi aku berpikir kita harus mengadakannya lagi. Kita perlu membeli makanan dan beberapa keperluan, jadi ayo pergi bersama sekarang!”
“Oke.”
Aku pun berdiri di sampingnya.
“Tapi daripada membeli makanan jadi, biarkan aku yang memasak.”
“Eh... Tapi ini pesta penyambutanmu, Eita-kun. Rasanya tidak enak kalau malah menyuruhmu memasak...”
“Tidak apa-apa. Setidaknya biarkan aku melakukan itu. Aku memang ingin memasak.”
Saat kukatakan begitu, Onee-san tersenyum polos dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Kalau begitu... bolehkah aku meminta makanan yang ingin kumakan?”
“Tentu saja. Ayo kita belanja bersama ke supermarket.”
“Oke!”
Begitulah, kami pun meninggalkan apartemennya.
Masih banyak hal yang ingin kutanyakan.
Tentang fakta bahwa wanita yang kuselamatkan setahun lalu ternyata adalah Onee-san.
Tentang kenyataan bahwa dia adalah mantan aktris cilik yang pernah bermain bersama ibuku.
Tetapi...
Semua itu bisa kutanyakan nanti.
Saat ini, yang paling ingin kulakukan adalah merayakan dimulainya kehidupan baru kami bersama.