Sudah hampir tiga minggu sejak aku mulai tinggal di rumah Kishō.
Sejak saat itu, Akane-san tidak lagi mengikutiku, dan bahkan saat kami tidak sengaja bertemu di kota, dia tidak menanyakan Onee-san. Kehidupanku sehari-hari pun kembali seperti biasa.
Dengan kata lain, kurasa bisa dibilang ini bukti kalau rencana kami berhasil.
Sambil memikirkan itu, pada Sabtu pagi...
Aku sedang menuju kondominium tempat Onee-san tinggal untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"...Rasanya agak nostalgia."
Aku bergumam sambil memasuki lobi, dan pramutamu yang biasa bertugas ada di sana.
Dia mengangguk kepadaku, dan aku membalasnya dengan anggukan ringan sebelum naik ke lift.
Menjelang pertemuan yang sudah lama kutunggu, rasa gugup dan bahagia memenuhi dadaku seiring lift melewati lantai demi lantai.
Aku tiba di depan kamar Onee-san di lantai paling atas, membuka kunci dengan kartu aksesku, dan begitu pintunya kubuka...
"Aku pula..."
"Eita-kuuuuun!"
"Geh!?"
Onee-san langsung menerjangku dengan pelukan yang begitu kuat.
Tidak, itu bahkan tidak bisa disebut pelukan. Lebih mirip sebuah tabrakan. Napasku langsung terhempas keluar, dan sambil tersedak aku mati-matian menahan diri agar tidak jatuh terdorong.
"T-Tunggu sebentar, Onee-san...!"
Berusaha agar tidak terlihat orang lain, aku masuk ke dalam sambil tetap dipeluk, lalu menutup pintunya.
Itu benar-benar mengejutkanku... Mungkin dia sudah tidak sabar dan menunggu di depan pintu masuk.
Aku kembali memanggil Onee-san yang masih memelukku.
"Aku pulang."
"..."
"...Onee-san?"
Namun Onee-san tidak menjawab.
"...Astaga!"
Aku buru-buru melepaskan tubuhnya dariku, dan ternyata dia sudah benar-benar pingsan.
Tubuhnya lemas tak bertenaga, bahkan rasanya seperti jiwanya hampir keluar dari mulut saat dia bersandar padaku. Aku mengguncang bahunya untuk membangunkannya, tetapi kepalanya hanya terkulai ke sana kemari seperti boneka rusak dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Aku lupa karena sudah terlalu lama, tapi Onee-san memang pingsan kalau bersentuhan langsung denganku!
Karena tidak ada pilihan lain, aku hendak masuk ke dalam sambil tetap menopangnya, tetapi langkah kakiku tiba-tiba terhenti.
"I-Ini..."
Tempat itu berantakan seolah-olah baru saja dibobol pencuri.
Mulai dari pintu masuk, lorong, sampai ruang tamu yang terlihat di bagian dalam, semua yang tampak di mataku sudah porak-poranda.
Pakaian dan kantong-kantong sampah berserakan di mana-mana hingga hampir tak ada tempat untuk berpijak. Dari kantong-kantong sampah itu meluap kotak bekal dari minimarket tempatku dulu bekerja. Sulit menyebut tempat ini sebagai lingkungan yang layak dihuni.
Ya, pemandangannya benar-benar seperti lokasi yang baru saja dirampok.
Entahlah... aku merasakan déjà vu yang sangat kuat.
"Benar juga. Onee-san memang tidak bisa bersih-bersih..."
Tanpa sadar aku menghela napas panjang, tetapi di saat yang sama, keadaan ini juga terasa sedikit membangkitkan kenangan.
"Uun..."
Saat aku sedang tenggelam dalam rasa nostalgia itu, Onee-san terbangun di pelukanku.
Aku membaringkannya di sofa, lalu dia memandang sekeliling dengan wajah linglung sambil mengedip-ngedipkan mata mengantuk.
"Sudah sadar?"
Aku berjongkok di depannya dan memanggilnya. Perlahan-lahan cahaya kembali ke matanya.
"E-Eita-kun..."
Ekspresinya perlahan berubah dari terkejut menjadi sendu.
Dia mencengkeram erat lengan bajuku, lalu mulai menitikkan air mata.
"Selamat pulang... Eita-kun."
"Aku pulang..."
"Uwaaaah..."
Dia terisak pelan sambil menangis.
"Aku sangat kesepian..."
Aku mengusap bahunya dengan lembut sambil menenangkannya.
"Tentang Akane-san, aku sudah bilang kalau untuk sementara aku tinggal di rumah Kishō. Kurasa dia sudah tidak mencurigai kita lagi. Memang kita tidak boleh lengah, tapi kalau tetap berhati-hati, seharusnya semuanya baik-baik saja."
Mendengar kata-kataku, Onee-san mengangkat wajahnya dengan lega lalu bertanya.
"Jadi mulai hari ini... kamu akan tinggal di apartemen ini lagi, Eita-kun?"
"Iya. Sekali lagi, mohon bantuannya."
"Syukurlah..."
Dia bergumam begitu, lalu kembali menangis.
Aku sempat mengira dia akan menyambutku dengan penuh semangat, jadi reaksinya kali ini sedikit mengejutkanku.
Melihatnya bersikap tidak seperti biasanya, aku sadar dia pasti benar-benar merasa kesepian.
Hanya saja aku terlalu malu untuk mengatakan kalau aku juga merasa kesepian.
"Kalau di pihakmu bagaimana, Onee-san? Apa ada tindakan balasan yang bagus?"
Saat kutanya begitu, dia mengusap air matanya lalu tersenyum penuh percaya diri.
"Fufufu... tentu saja. Kurasa sebentar lagi aku bisa memberikan laporan yang bagus kepadamu, jadi tunggu saja."
Dia tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan, tetapi melihat wajah bangganya seperti itu, kurasa semuanya akan baik-baik saja. Meski begitu, aku masih sedikit cemas...
Untuk saat ini ancaman dari Akane-san sudah hilang, jadi aku akan menunggu dengan sabar sampai waktunya tiba.
"Baiklah. Hari ini kita akan mengadakan pesta penyambutan untukmu, Eita-kun."
Lalu Onee-san tiba-tiba berkata.
"Pesta penyambutan?"
"Kalau dipikir-pikir, waktu pertama kali kamu datang ke apartemen ini semuanya terjadi terlalu mendadak sehingga aku tidak sempat melakukan apa pun untukmu. Sekarang kita bisa tinggal bersama lagi, jadi tentu saja kita harus merayakannya."
Aku lega karena cara bicaranya sudah kembali seperti biasanya yang tenang.
Melihat cara dia menyatakan kalau kami "akan mengadakan" pesta, sepertinya keputusan itu sudah bulat di kepalanya.
Dan sejujurnya, aku senang dengan niatnya itu.
"Terima kasih."
"Kalau begitu sudah diputuskan. Sekarang kita langsung pergi belanja."
Onee-san berdiri dengan penuh semangat.
"Tapi Onee-san, sebelum itu..."
"Sebelum itu?"
"Boleh aku membersihkan kamarnya dulu?"
Kataku sambil kembali melihat keadaan ruangan.
Bukan cuma sampah yang berserakan, pakaian dan pakaian dalam juga tergeletak di mana-mana. Dalam banyak hal, pemandangan ini benar-benar membuatku bingung harus mengalihkan pandangan ke mana.
Ya... memang terasa nostalgia, tapi ini benar-benar bukan lingkungan tempat manusia tinggal.
"Kalau kita mau mengadakan pesta, aku ingin melakukannya di ruangan yang bersih. Cucian yang menumpuk juga akan kucuci, jadi tolong beri aku sedikit waktu. Kurasa sekitar dua jam sudah cukup."
"A-Aku juga akan membantumu bersih-bersih, jadi kita selesaikan dalam satu jam!"
Onee-san mengambil kantong sampah lalu mulai memunguti sampah.
Aku senang melihat dia berusaha sekuat tenaga membantu, meskipun dia memang tidak pandai melakukannya.
Sambil memperhatikannya, aku mulai membersihkan ruangan dan mencuci pakaian.
Ngomong-ngomong, koleksi pakaian dalamnya yang mencolok bertambah banyak... Kapan dia membelinya, ya?
ω ω ω
"Rasanya enak sekali."
"Iya. Anginnya juga tenang."
Setelah selesai membersihkan apartemen, kami keluar untuk berbelanja di pusat pertokoan dekat stasiun.
Karena cuacanya bagus, kami memutuskan mengambil sedikit jalan memutar dan berjalan di sepanjang jalur pejalan kaki di tepi sungai.
Tanggul sungai yang tertata rapi dijadikan jalur lari, dan terlihat beberapa orang sedang jogging. Di bawah tanggul terdapat hamparan rumput tempat keluarga-keluarga bermain bersama anak-anak mereka.
Pertengahan Juni, masih sedikit terlalu awal untuk musim panas. Hari yang benar-benar sempurna untuk berjalan santai.
"Bagaimana kalau kita bersantai sebentar di sini?"
"Bersantai?"
Onee-san melepas sepatunya lalu berbaring di atas rumput.
"Kamu juga, Eita-kun."
Dia melambai mengajakku, dan aku pun berbaring di sampingnya dengan cara yang sama.
Langit di atas kami benar-benar tanpa awan, hanya hamparan biru yang membentang tanpa akhir. Saat aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, aroma rumput langsung menyelimutiku.
"Enak sekali... melakukan hal seperti ini."
"Iya, kan? Kalau pekerjaanku sedang buntu, kadang aku datang ke sini sendirian. Tapi mulai sekarang aku bisa datang bersama seseorang, bukan sendirian lagi... Memikirkan itu saja membuatku sedikit bahagia."
"Bersama seseorang." Mendengar kata-kata yang Onee-san ucapkan dengan malu-malu itu membuatku berpikir.
Selama ini, aku selalu melakukan semuanya sendirian.
Aku menganggap itu hal yang biasa. Karena itulah melihat pemandangan yang sama bersama seseorang, menghirup udara yang sama, memikirkan berbagai hal bersama... semuanya merupakan pengalaman pertama bagiku.
Aku senang bisa berbagi baik kebahagiaan maupun kesulitan dengan seseorang seperti ini.
Kurasa aku bisa merasakan hal seperti ini karena kata-kata yang pernah Onee-san ucapkan waktu itu.
"Onee-san."
"Ada apa?"
"Terima kasih."
"...?"
Karena itulah aku memutuskan untuk benar-benar mengungkapkan perasaan ini dengan kata-kata.
"Waktu kita menonton drama favoritku bersama, Onee-san pernah bilang, 'Sekarang kamu sudah tidak sendirian lagi, Eita-kun,' kan? Kata-kata itu benar-benar membuatku sangat bahagia..."
"Eita-kun..."
Kata-kata yang seolah menerima seluruh diriku apa adanya.
Kalau bukan karena kata-kata itu, aku yakin sekarang aku masih sibuk mencari cara untuk hidup sendirian, dan aku tidak akan mampu menerima kebaikan hatinya.
Aku juga mungkin tidak akan ingin kembali bersamanya sampai rela melakukan sesuatu untuk menghadapi Akane-san.
Bagiku, hidup sendirian adalah sesuatu yang senormal itu. Karena itulah, bahkan bagiku sendiri terasa aneh... sekarang aku justru ingin terus bersama Onee-san selama mungkin.
"Aku yakin mulai sekarang akan ada banyak hal yang terjadi. Tapi sekali lagi, mohon bantuannya."
"Tentu saja. Aku juga mengandalkanmu."
Saat aku mengucapkan terima kasih, Onee-san mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya, Eita-kun."
Onee-san bergumam seolah baru teringat sesuatu, lalu duduk.
Setelah itu dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kamera.
"Aku membawanya karena ingin berfoto bersamamu, Eita-kun."
Aku teringat saat Kishō datang ke apartemen ini.
"Ayo kita membuat banyak kenangan bersama." Kata-kata yang pernah Onee-san ucapkan untukku, seseorang yang selama ini tidak pernah menyimpan kenangan dalam bentuk apa pun.
"Tersenyumlah, Eita-kun."
"I-Iya!"
Karena tidak terbiasa difoto, aku memaksakan senyum sambil menahan rasa malu.
"...?"
Namun meski sudah menunggu cukup lama, Onee-san tidak juga menekan tombol rana. Aku sampai merasa pipiku pegal karena terus tersenyum, lalu dia menurunkan kameranya dengan wajah kebingungan.
"Ada apa?"
"Aneh... aku tidak bisa mengambil fotonya."
Dia terlihat kebingungan sambil mengutak-atik kameranya.
"Sudah lama tidak kupakai, mungkin rusak..."
Aku mengambil kamera itu lalu mencoba menyalakannya.
"Hm?" "Hm?"
Kamera itu menyala tanpa masalah, dan tombol rananya juga berfungsi dengan baik.
"...Sepertinya tadi kameranya belum dinyalakan."
"..."
Wajah Onee-san langsung memerah terang.
"Kenapa alat elektronik selalu sulit digunakan?"
Onee-san menggerutu sambil mengalihkan pandangannya ke sana kemari agar tidak bertatapan denganku.
Bukan begitu... tinggal tekan tombol daya saja...
"Onee-san, apa kamu membaca buku petunjuknya?"
"...Kenapa buku petunjuk selalu ditulis serumit itu? Kelihatannya memang bahasa Jepang, tapi rasanya bukan bahasa Jepang. Tinggal tulis tekan di sini, tekan di sana, lalu selesai, bisa dipakai! Bukankah harusnya sesederhana itu?"
Ternyata Onee-san memang tidak pandai menggunakan perangkat elektronik.
Kalau dipikir-pikir lagi, dia memang punya microwave dan penyedot debu model mahal, tetapi tidak pernah terlihat tanda-tanda pernah dipakai. Mungkin bukan karena dia tidak mau menggunakannya, melainkan memang tidak bisa.
Jadi selama ini sebenarnya bagaimana dia menggunakan kamera ini, ya?
"Kalau begitu, kita coba lagi..."
Lalu Onee-san mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil mengangkat kameranya.
Terkejut karena begitu mendadak, aku tersenyum dan menatap ke arah lensa.
"Senyum ya♪"
Gawat... wajahnya terlalu dekat. Sepertinya wajahku mulai memerah.
Onee-san menampilkan hasil swafotonya di layar, lalu aku ikut mengintip bersamanya.
"..." "..."
Ternyata kami berdua sama-sama menutup mata rapat-rapat.
Melihat kami berdua tersenyum lebar dengan mata terpejam terasa sedikit lucu.
"A-Ayo ambil lagi!"
Onee-san berkata dengan nada menyesal lalu kembali memotret, tetapi dia tetap tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dan akhirnya mengulanginya lebih dari belasan kali... tepat saat otot-otot wajahku mulai terasa lelah.

“Oke! Yang ini hasilnya bagus.”
Layar yang dia sodorkan memperlihatkan kami berdua dengan wajah yang tampak sangat bahagia.
“Karena dapat foto yang bagus, nanti kita cetak lalu pajang di kamar.”
Onee-san berkata dengan gembira sambil memasukkan kameranya ke dalam tas.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat.”
“Iya.”
Kami kembali memakai sepatu lalu mulai berjalan berdampingan di sepanjang jalur pejalan kaki.
“Eita-kun.”
Lalu Onee-san memanggilku dengan gelisah.
Entah kenapa aku merasa tatapannya terus mengarah ke bawah.
“Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kuminta saat kamu pulang, Eita-kun.”
“Minta sesuatu? Apa itu?”
Lalu Onee-san mengatakan sesuatu yang benar-benar di luar dugaanku.
“Aku ingin bergandengan tangan denganmu, Eita-kun.”
“Eh...”
B-Bergandengan tangan...?
“Tadi kamu bilang akan melakukan apa saja untukku, kan, Eita-kun?”
“Iya... memang aku bilang begitu.”
Kalau tidak salah, itu waktu kami membicarakan membeli berbagai keperluan untuk tinggal bersama.
Sebagai imbalan karena dia membayar semua biayanya, aku bilang bukan hanya pekerjaan rumah, aku juga akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan.
Dan tentu saja, perasaanku itu tidak berubah.
“Sejak saat itu aku terus memikirkan apa yang harus kuminta darimu, Eita-kun. Lalu... aku berpikir, saat kamu kembali nanti, aku ingin berjalan di jalur ini sambil bergandengan tangan denganmu.”
Permintaan sesederhana itu saja sudah cukup?
“Kamu... tidak mau?”
“Aku tidak keberatan. Tapi, Onee-san, bukannya kamu akan pingsan kalau menyentuhku...?”
Mendengar itu, Onee-san memasang wajah penuh percaya diri seperti biasanya lalu merogoh tasnya.
Dia mengeluarkan sepasang sarung tangan tipis dan menunjukkannya kepadaku.
“Bagaimana? Dengan ini seharusnya tidak apa-apa, kan?”
Setelah berkata begitu, dia mengenakan sarung tangan itu lalu menggenggam tanganku dengan lembut.
“...” “...”
Kami berdua menatap tangan yang saling menggenggam seolah sedang memastikan keadaan satu sama lain.
Meski sudah beberapa saat berlalu, Onee-san tidak pingsan.
“T-Tuh, kan! Tidak apa-apa!”
Aku memang sudah tahu hasilnya akan baik-baik saja, tetapi karena dia memintanya dengan begitu serius, tanpa sadar aku jadi ikut tegang.
Maksudku, di hotel cinta saja dia pernah pingsan hanya karena membayangkannya. Sudah lama memang sejak terakhir kali kami bersama, tetapi sampai sekarang aku masih belum mengerti apa sebenarnya yang membuatnya pingsan.
“Ayo♪”
Onee-san menarik tanganku dengan riang, seolah ada not musik melayang di atas kepalanya.
Sambil merasakan kehangatan samar yang tersalurkan melalui sarung tangan kami, dengan jantung yang sedikit berdebar aku berpikir...
'Semoga hari-hari yang damai seperti ini terus berlanjut selama mungkin.'
Sambil memanjatkan harapan itu, kami pun melanjutkan perjalanan untuk berbelanja.
☆Buku Harian Onee-san☆
Eita-kun sudah pulang!
Aku senang sekali!
Aku benar-benar kesepian!
Tapi sekarang kami bisa tinggal bersama lagi, jadi semua penantian ini benar-benar terbayar.
Sepertinya Eita-kun juga sudah berusaha keras menghadapi masalah polisi cosplay itu, jadi aku harus mengadakan pesta besar sebagai ucapan terima kasih! Semua persiapannya sudah selesai, dan aku yakin dia pasti akan senang.
Lalu, lalu... akhirnya aku berhasil mendapatkan foto bersama Eita-kun!
Selama ini aku hanya bisa diam-diam memotretnya saat dia bekerja di minimarket, tapi sekarang aku bisa memotretnya secara terang-terangan. Kebahagiaan ini benar-benar berlebihan! Aku harus memperbarui sepuluh album Eita-kun milikku♪
Ngomong-ngomong soal foto, kira-kira kapan Kishō-kun akan membawa foto-foto Eita-kun saat masih SMP, ya?