Amamori Junna is Humid Volume 1 Chapter 5 — Cerah, Lalu Hujan, Lalu Badai

“Junna?”

Aku memanggil Junna yang berjalan di sampingku, payung kami berdampingan. Matanya yang tadi menatap kosong ke arah pemandangan kota perlahan beralih padaku lalu kembali fokus. Ia berkedip.

“Mm... maaf. Aku sedang melamun.”

Ia membetulkan genggamannya pada gagang payung. Payung berwarna hydrangea itu bergoyang, memercikkan tetes-tetes hujan.

“Ini tempat yang ingin kamu datangi, Shigure. Um...”

“Ada sesuatu yang terjadi?”

tanyaku sambil membalas tatapan matanya. Baik saat kami berada di ruang audiovisual maupun saat pulang bersama seperti sekarang, hari ini Junna berkali-kali tampak kosong dan jauh. Ia menunduk lalu menggenggam erat tali tas gitarnya.

“Soal penulisan lagunya... itu...”

jawabnya setelah jeda singkat.

“...sedang masuk tahap penting. Tenggat waktunya makin dekat. Selambat-lambatnya, aku harus menyelesaikannya sebelum musim hujan berakhir.”

“Oh. Benar juga. Ini memang masa yang penting, ya? Buat YOHILA.”

Band Junna, YOHILA, saat ini sedang bersiap untuk debut major. Mereka sedang mati-matian mengerjakan lagu pertama untuk itu.

“Maaf ya. Kayaknya sekarang memang bukan waktu yang tepat buat ngajakmu jalan-jalan...”

“Nggak, nggak apa-apa. Aku sendiri juga ingin jalan denganmu, ingin lebih lama bersamamu. Tapi”

“Iya. Untuk sekarang, kamu memang harus fokus ke musikmu.”

kataku dengan nada tegas dan pasti. Junna berhenti melangkah. Aku berpindah dari sampingnya ke depan, berdiri tepat di hadapannya, menatap matanya lurus-lurus, lalu melanjutkan.

“Nggak usah pikirkan aku, dan curahkan semua energimu buat menulis lagu.”

“Shigure...”

Junna berkedip. Sebuah mobil melintas di samping kami, dan angin hangat-suamu bertiup. Rambut hitamnya berkibar, memperlihatkan warna hydrangea di bagian dalam.

“...Iya. Kamu benar.”

Junna menunduk. Ekspresinya yang tertutup poni dan bayang-bayang payung tampak suram dan tenggelam. Setetes air yang jatuh dari ujung payungnya menghantam genangan di dekat kakinya dan menimbulkan riak.

“Akan kulakukan. Mulai besok, untuk sementara aku akan fokus ke musikku”

Ia menatapku dari bawah bayangan gelap itu.

“Sampai lagu ini selesai, nggak ada lagi pertemuan sepulang sekolah. Aku berhenti dari Shigure.”

ucapnya dengan nada yang lebih cerah dari biasanya, seolah sedang berusaha mengusir muram.

“Dengan kata lain... cinta terlarang. Seperti berhenti minum atau berhenti merokok.”

“Bukannya itu malah bikin ‘cinta terlarang’-nya jadi terdengar agak beda?”

“Nggak. Malah justru pas sekali. Benar-benar pas.”

“Pas di mana coba...?”

Candaan biasa kami membuat suasana sedikit mencair, dan hawa di sekitar kami pun ikut melunak. Aku tersenyum lalu berbalik. Sepatuku menginjak genangan air, dan aku kembali berjalan.

“Yah, pokoknya, aku menantikannya,”

kataku, mengucapkan perasaanku yang jujur kepada Junna di belakangku.

“Sebagai penggemarmu, penggemar JUN, lagu baru YOHILA.”

“…………”

Tak ada jawaban. Pada saat itu, sebuah truk melintas, menghambur kasar membelah air di jalan, jadi aku berhenti dan menoleh ke belakang, mengira suaranya tertelan bising.

Payung berwarna hydrangea itu melewatiku.

“Lagu baru itu,”

katanya dari bawah payung.

“Aku pasti akan menjadikannya karya terbaikku.”

Kata-kata yang dipenuhi emosi kuat itu justru entah kenapa terdengar anehly lemah.

Seolah ingin membasuh rasa tak enak itu, hujan pun makin deras. Pada akhirnya, aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengikutinya berjalan.

Aku menatap langit abu-abu yang tampak bisa menurunkan hujan kapan saja, lalu menghela napas.

Ramalan cuaca bilang hari ini mendung dengan kemungkinan hujan. Kalau hujan benar-benar turun seperti ramalan, berarti lapangan tidak bisa dipakai untuk latihan sore.

Hatiku, yang biasanya akan menari ringan dua langkah, kali ini duduk diam bersimpuh. Sebagian memang karena aku tidak bisa bertemu Junna, tapi

“...Masih belum dibalas.”

Aku menunduk ke layar ponsel dan bergumam.

『Shigure: Hei. Kita memang bilang nggak ketemu sepulang sekolah, tapi kalau jam makan siang gimana?』

Sudah hampir tengah hari, tapi pesan LINE yang kukirim ke Junna pagi ini bahkan belum juga dibaca. Apa dia benar-benar sibuk...? Atau aku malah mengganggu? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku.

Saat istirahat siang, aku mendatangi ruang kesehatan sambil membawa bekal.

Di pintunya tergantung papan bertuliskan Sedang Pergi.

Tok, tok-tok, tok-tok-tok, tok, tok.

Aku mengetuk dengan pola irama yang sudah ditentukan, katanya sih namanya “Shave and a Haircut”, lalu

“...Masuk.”

suara Akagi terdengar dari dalam.

“Kurimoto.”

Akagi duduk menyilangkan kaki di kursi meja seperti biasa, dengan penampilan yang acak-acakan dan terlalu terbuka. Jas lab yang dikenakan asal-asalan, blus rajut tanpa lengan, rok ketat, stoking jala, dan masker putih nonwoven yang menutupi wajah aslinya sekaligus identitasnya.

“Siang, Sensei. Junna ada?”

“Belum datang,”

kata Akagi sambil mengangkat bahu telanjangnya saat aku menyapu pandang ke seluruh ruangan.

“Dari dia belum ada kabar, dan pesanku juga belum dibaca.”

“...Sensei juga? Dia nggak apa-apa?”

“Ini sering terjadi.”

Akagi menghela napas di balik masker. Di atas mejanya ada bekal yang dibungkus kain merah.

“Sejak dia ketemu kamu, kejadian begini jauh berkurang. Tapi tenggat waktunya sudah dekat, jadi kemungkinan besar dia lagi tenggelam dalam penulisan lagu. Ada juga kemungkinan dia cuma ketiduran.”

“Begitu ya?”

Kalau Akagi yang sudah lama mengenal Junna bilang begitu, berarti mungkin memang begitu. Aku diam-diam merasa lega, lalu meletakkan bekalku sendiri di atas meja dan mendadak membeku.

Junna tidak ada di sini.

Yang berarti

“Cuma kita berdua.”

Akagi menyipitkan matanya lalu mengangkat tangan ke tali masker.

Dan yang muncul adalah wajah yang begitu cantik sampai terasa nyaris menyerang. Wajah wanita yang berkali-kali kulihat di TV dan video musik.

“Jangan tegang begitu.”

Bibir merah mengilapnya melengkung naik, dan Akagi, EIMEE dari ENDY, menatapku yang membeku di tempat. Ia melipat tangan, membuat dadanya yang penuh terangkat, lalu berkata menggoda,

“Tenang saja. Aku akan lembut, kok.”

“J-Jangan godain saya.”

“Heh heh,” Akagi tertawa kecil melihat suaraku yang panik dan wajahku yang kupalingkan.

“Aku nggak tahu kamu tadi membayangkan apa, tapi sudah cukup lama sejak hari itu... Aku memang ingin bicara lagi denganmu, jadi ini pas sekali. Duduk.”

“...Haa.”

“Dalam dua arti.”

“Itu maksudnya apa!?”

Sama seperti saat pertama kali bertemu, aku lagi-lagi reflek membalas dengan bahasa santai.

Candaan-candaan Junna pasti pengaruh wanita ini, pikirku dengan pasrah, lalu duduk di kursi di hadapannya.

“Kurimoto. Kamu dan Amamori sudah sampai sejauh mana?”

Dan langsung begitu, pertanyaan to the point tanpa basa-basi. Karena sudah sempat menduga arah percakapannya dari obrolan kami sebelumnya, kali ini aku bisa membalasnya dengan tenang.

“...Belum sampai mana-mana. Tapi minggu lalu memang pertama kalinya kami pergi jalan berdua.”

“Oh. Ke hotel?”

“Nggak. Sensei ini apa cuma bisa melontarkan candaan mesum...?”

“Cuma? Aneh. Setahuku aku juga sering bicara hal-hal sehat. Apa semua di kepalamu memang sudah seberdistorsi itu? Efek pedal pink sekali ya punya kamu.”

“...Saya makin yakin. Justru Sensei inilah pengaruh buruk buat Junna.”

Bayangan keren dan berwibawa tentang EIMEE di kepalaku runtuh dengan suara berderak. Akagi tertawa keras.

“Bercanda disamping itu.”

Akagi melepaskan lipatan tangannya lalu mencondongkan tubuh ke depan. Dengan tatapan penuh minat, ia berkata,

“Jadi kamu berhasil mengajak si anak rumahan itu keluar ya? Kalian ke mana?”

“Kichijouji.”

“...Kamu.”

“B-Bukan, Sensei salah paham.”

Akagi memang pernah menanyakan alamat rumahku waktu mengantarku dulu. Melihat matanya yang setengah terpejam dengan tatapan sugestif itu, aku buru-buru menambahkan,

“Kami nggak pergi ke rumah saya. Cuma makan biasa, jalan-jalan... lalu pulang juga biasa. Nggak ada yang... spesial”

Saat hampir mengucapkan itu, aku teringat sesuatu.

Tempat berteduh dari hujan. Perasaan Junna yang ia ungkapkan di tengah hujan deras, dan kisah tentang hydrangea.

“...Saya dengar tentang YOHILA. Masa lalu yang nggak tertulis di Wikipedia. Sensei tahu soal itu?”

“Iya. Tahu.”

Akagi mengangguk. Ia menurunkan matanya yang dihias bayangan merah.

“Dari pembentukan band sampai anggota-anggotanya pergi satu per satu... sebagian besar cerita tentang bagaimana YOHILA menjadi YOHILA yang sekarang sudah kudengar dari Amamori. Tapi soal bagaimana perasaannya waktu itu dan apa yang dipikirkannya, aku belum pernah diberi tahu.”

“...Begitu.”

“Kamu mendengarnya, kan, Kurimoto?”

Melihat reaksiku, ekspresi Akagi sedikit melunak.

“Kalau begitu, jagalah itu baik-baik. Itu bukti kalau Amamori sudah membuka hatinya padamu, sesuatu yang belum pernah ia berikan pada siapa pun sampai sekarang. Kamu berkembang bagus, ya?”

“Sensei...”

“Aku kasih hadiah.”

Yang disodorkan Akagi kepadaku adalah bekal makan siangnya yang sama sekali belum disentuh.

“...Boleh?”

“Iya. Amamori sepertinya hari ini libur, dan aku memang nggak makan siang. Kamu yang habiskan.”

“T-Terima kasih!”

Aku menerimanya dengan gembira. Sejak melihat Junna dan Yamada memakannya, aku memang penasaran sekali. Sudah pasti karena kelihatannya enak, tapi juga karena itu masakan rumahan dari wanita yang kukagumi, EIMEE

Aku tak pernah membayangkan akan datang hari di mana aku bisa mencicipinya.

“Jangan ada yang disisakan.”

“Nggak mungkin saya melakukan hal semubazir itu!”

“Bekalmu sendiri dan bekalku... dua-duanya, ya.”

“Nggak masalah!”

Perut anak laki-laki yang sedang tumbuh jangan diremehkan. Dengan jantung berdebar penuh antisipasi, aku membuka bekal itu. Hari ini isinya masakan Cina, dan di dalamnya tertata rapi tumis ayam kacang, udang saus pedas, tumis kucai telur, salad soun, dan lain-lain. Aku menyatukan tangan.

“Terima kasih atas makanannya.”

Aku melahapnya dalam waktu singkat. Rasanya enak sekali sampai sumpitku tak bisa berhenti.

Akagi yang sedari tadi melihatku makan sambil menopang pipi di meja, bergumam pada dirinya sendiri.

“...Hmm. Mungkin mulai sekarang aku akan bikin porsi untuk satu orang lagi juga.”

Balasan dari Junna baru datang saat jam istirahat siang hampir selesai.

『JUN: Maaf, baru bangun. Kamu benar... kurasa kalau cuma dapat sedikit Shigure malah bikin nggak fokus, jadi makan siang juga kita skip saja. Kita berdua sama-sama berjuang dalam “cinta terlarang” kita, ya?』

Pesan itu disertai stiker Geroppi, si katak yang tampak murung di bawah payung daun saat hujan. Tidak bisa bertemu Junna memang berat, tapi yang juga sayang adalah kini bekal masakan Akagi, EIMEE, pun jadi tak terjangkau. Aku kan nggak mungkin terus-terusan datang ke ruang kesehatan cuma buat menemui Akagi.

Setelah mengetik balasan, “Oke.” Iya, aku juga akan berusaha, aku sedang memilih stiker yang cocok untuk dikirim bersama itu, ketika pesan baru dari Junna masuk.

『JUN: Bilang ke Sensei kalau hari ini aku libur.』

“Sensei. Junna bilang hari ini dia libur.”

“Sudah kuduga.”

『Shigure: Sudah kubilangin.』

Balasan langsung datang seketika.

『JUN: ...Kamu lagi bareng dia?』

『JUN: Di ruang kesehatan, kan? Berdua saja?』

『JUN: Bekalku... maksudnya masakan Eimi-san, kamu makan?』

『JUN: Nggak adil.』

Ting, ting, ting, berturut-turut. Jangan-jangan suruhanku untuk “bilang ke Sensei kalau hari ini aku libur” itu jebakan? Fakta bahwa dia menulis “Eimi-san” bukannya “Sensei” juga terasa penuh maksud.

Saat aku masih bingung harus membalas bagaimana, bel pendahulu tanda istirahat siang akan selesai pun berbunyi. Jadi aku cuma mengirim stiker kucing bersiul untuk mengalihkan pembicaraan, lalu menyimpan ponsel.

“Hei. Mau karaoke?”

Sepulang sekolah. Saat hujan yang diperkirakan itu benar-benar turun, dan latihan sore hanya sedikit lalu dibubarkan, anggota klub atletik langsung mulai membicarakan rencana bermain. Mereka ini benar-benar suka karaoke.

“Kurimoto.”

Seorang teman sekelas memanggilku.

“Sampai nanti.”

“Iya. Nanti.”

Akhir-akhir ini, aku memang sudah tidak diajak main lagi. Pada hari hujan sepulang sekolah, sudah menjadi rutinitasku bertemu Junna, dan lagipula aku juga memang jarang menerima ajakan. Lebih mudah begitu.

Setelah mengganti baju olahraga ke seragam sekolah, aku kembali berjalan sendirian menyusuri lorong gelap seperti biasa.

Tujuanku bukan ruang audiovisual seperti biasanya, melainkan perpustakaan. Tempat yang tenang, berpendingin ruangan, dan nyaman untuk membaca. Fakta bahwa buku-bukunya juga bisa dipinjam gratis sangat bersahabat dengan dompet pelajar SMA.

Karena itu, perpustakaan sepulang sekolah ternyata cukup ramai. Ada yang tenggelam membaca, ada yang belajar serius, ada juga yang sudah berangkat lebih dulu ke dunia mimpi... Di antara semua itu, aku menemukan wajah yang kukenal.

Itu Yamada.

Yamada sedang duduk sendirian membaca dengan tenang di ujung meja yang tidak mencolok di bagian belakang.

Di sebelahnya ada jendela, dan dia membalik halaman dengan ekspresi tenang di bawah cahaya dingin tempat cahaya matahari samar dan lampu neon bercampur.

Lalu, mungkin karena baru saja selesai membaca bagian yang bagus, Yamada menghela napas dan mengangkat wajah. Mata kami pun bertemu.

Mata Yamada sedikit melebar, tapi ia langsung tersenyum. Bukunya tertutup pelan.

Melihat bacaannya terganggu karenaku, aku sempat ragu sejenak sebelum akhirnya tetap berjalan mendekat.

“Kurimoto-kun, hei. Nggak nyangka ketemu di sini.”

“Iya.”

Aku menjawab sambil mencoba melihat sampul buku yang dibaca Yamada. Tapi bukunya dipasangi pelindung sampul, jadi aku tak bisa tahu judulnya. Pelindung itu berbahan kain dengan pola kotak-kotak gingham biru yang cukup bergaya.

“Kamu suka buku?”

“Iya. Kaget?”

“...Jujur, iya.”

“Tahu, kan?”

Yamada menggaruk pipinya. Di pergelangan tangannya melingkar gelang persahabatan biru muda.

“Aku memang anak klub tenis, tapi kalau hujan kan lapangan nggak bisa dipakai, jadi nggak ada latihan... biasanya di waktu senggang aku nongkrong di sini.”

“Kamu nggak keluar main gitu?”

“Aku sih keluar, tapi... capek kalau harus begitu terus...”

“...Capek?”

“Y-Ya. Dompetku, maksudnya. Aku nggak kerja paruh waktu atau apa. Dan banyak juga barang yang pengin kubeli. Jadi ya anggaplah lagi hemat.”

“Aku paham. Kalau di perpustakaan, buku bisa dipinjam gratis.”

“Iya, iya! Sayangnya buku dalam genre yang kusuka di sini nggak terlalu banyak.”

“Oh... kamu suka genre apa?”

“Um, fantasi... terus yang berlatar sekolah juga?”

Tatapan Yamada mulai berkelana. Dari sela telunjuknya yang dipakai sebagai penanda halaman, aku bisa melihat ilustrasi hitam-putih yang tampaknya ada di dalam buku itu.

“Aku nggak terlalu baca sastra murni atau buku yang isinya terlalu berat. Lebih ke hiburan, light novel, mungkin”

“Light novel?”

“Bffft!?”

Yamada mengeluarkan suara aneh. Beberapa murid di dekat kami menoleh, dan dia langsung menenggelamkan wajah ke dalam lengannya seolah ingin melarikan diri dari tatapan mereka. Kuncir cokelat mudanya bergoyang.

“...Aku ini nerd.”

Yamada mengaku padaku yang sedang melihat pengumuman di rak buku, wajahnya masih tertutup.

“Nerd cukup parah. Tipe yang nggak cuma suka anime dan manga, tapi juga baca light novel... tipe yang justru lebih suka karya-karya kurang dikenal dan niche daripada yang populer dan sudah diadaptasi jadi anime.”

Aku mengambil buku yang ia sodorkan dengan lemas, lalu memeriksanya.

Di ilustrasinya, seorang gadis memegang tongkat besi berlumuran darah, disiram darah dan potongan daging dalam jumlah besar, sambil tersenyum lebar. Judulnya Punishment School.

“Itu buku yang kemarin aku ajukan buat dibeli.”

“Hah?”

Yamada mengangkat wajah. Ekspresinya benar-benar kaget.

“Kamu juga, Kurimoto-kun?”

Kamu juga, artinya Yamada juga pernah mengajukan permintaan pembelian?

Perpustakaan sekolah kami memang selalu menerima permintaan pembelian buku dari murid.

“Iya. Cerita tentang seorang cowok yang salah tuduh lalu dikirim ke sekolah tempat berkumpulnya pembunuh... aku sendiri nggak terlalu mendalami light novel, tapi karya ini cukup ramai dibicarakan di kalangan penggemar misteri. Katanya trik-trik pembunuhan yang muncul di dalam ceritanya cukup berkualitas.”

“Serius!?”

Yamada spontan meninggikan suara lalu berdiri. Lalu ia langsung menutup mulutnya sendiri.

“Hah!”

“...Ah... m-maaf.”

Ia buru-buru membungkuk minta maaf pada orang-orang sekitar lalu kembali duduk lesu di kursinya. Dengan suara kecil ia berkata,

“...Aku cuma jadi agak semangat. Soalnya hampir nggak ada orang di sekitarku yang baca light novel.”

“Dibanding anime dan manga, ini memang genre yang lebih sempit. Kalaupun orang tahu karya yang sudah jadi anime, tetap saja hampir nggak ada yang benar-benar baca versi aslinya... makanya aku juga kaget. Nggak nyangka orang seperti kamu, Yamada-san, baca yang beginian.”

Sambil bicara, aku meletakkan tas enamel yang tadi kuselempangkan di bahu ke atas meja lalu duduk. Rasanya terlalu dekat kalau langsung duduk di sebelahnya, jadi aku sengaja menyisakan satu kursi di antara kami.

“‘Orang seperti aku’?”

Aku mengembalikan buku itu ke Yamada yang sedang mengerutkan dahi, lalu tersenyum miring.

“Orang yang kelihatannya mencolok, normie, semacam ‘aku lebih suka luar ruangan daripada dalam ruangan, dan aku lebih banyak keluar uang buat baju serta kosmetik daripada buat buku!’ gitu.”

“Ah...”

Yamada menerima kembali buku itu lalu mengalihkan pandangan. Ia memainkan ujung kuncir rambutnya yang dicat terang dengan jari. Sesaat kemudian,

“Dengar ya,”

ia menggeser kursinya mendekat. Tepat ke sebelahku.

Lebih jauh lagi, Yamada mendekatkan bibirnya ke telingaku yang tercengang. Sambil menutupi mulut dengan buku di tangannya agar tidak terlihat orang sekitar,

“Dulu, sampai SMP, aku benar-benar nerd suram,”

bisiknya. Aroma jeruk manis yang segar, mungkin dari parfumnya, menggelitik hidungku.

“Aku baru mulai memperhatikan penampilan belakangan ini... istilahnya, debut SMA. Dan satu-satunya anak dari SMP-ku yang satu angkatan di sini cuma si sampah Youjirou itu, dan aku sudah bikin dia bersumpah buat tutup mulut, jadi kurasa nggak ada yang tahu.”

Setelah mengaku begitu, Yamada menjauh, tapi tetap saja jaraknya masih dekat.

“Oh, jadi begitu. Aku sama sekali nggak tahu. Kukira kamu memang normie tulen sejak lahir.”

“Hehe. Aku banyak belajar sambil menjadikan gyaru dari manga dan light novel... juga influencer tipe begitu, sebagai referensi. Soalnya bahan mentahku sendiri juga bagus!”

Jangan ngomong begitu tentang dirimu sendiri. Meski aku juga nggak bisa menyangkal sih.

“Jadi, itu ya? Yang tadi kamu gerutukan soal ‘capek’?”

“I-Iya, capek pura-pura jadi normie! Cewek-cewek yang biasanya nongkrong denganku itu semuanya berkilau banget. Memang seru, tapi buat mantan anak suram sepertiku terlalu silau... kalau nggak sesekali istirahat, aku nggak kuat!”

“Begitu ya, jadi makanya kamu ngungsi ke perpustakaan...”

“Iya. Kalau mereka melihatku baca light novel, semuanya bakal ketahuan. Apalagi aku sukanya yang edgy, jadi susah juga direkomendasikan ke orang. Yang sekarang kubaca ini contohnya banget.”

Yamada melambaikan novel itu. Sampul aslinya, dengan ilustrasi splatter berdarah seperti yang ada di dalam, tertutup rapi oleh pelindung buku yang lucu.

“...Aku paham. Aku juga cenderung suka karya yang perlu selera khusus. Pengen rasanya menyebarkan ke orang-orang, tapi nggak bisa. Aku bakal sedih kalau kusarankan ke orang lalu mereka bilang nggak suka.”

“Serius. Aku saking setujunya sampai rasanya leherku mau copot.”

Begitu aku menunjukkan empati, Yamada langsung menyambung balik dengan empati juga, dan percakapan kami pun mengalir deras.

Rasa akrabku terhadap Yamada tumbuh cepat dalam diriku.

Dengan Junna juga begitu, tapi saat kamu menemukan sesuatu yang kalian sama-sama suka, memang rasanya jadi jauh lebih dekat. Dan makin niche, makin kuat efeknya.

“Ngomong-ngomong, buku ini sudah kamu selesai baca belum, Kurimoto-kun?”

“Belum sih, sebenarnya...”

Aku mengobrak-abrik tas enamelku lalu mengeluarkan novel yang sedang kubaca.

“Aku kepikiran akan baca itu setelah yang sekarang selesai.”

“Oh... aku nggak kenal judul ini. Sampulnya cantik. Ini karya yang agak sastra ringan?”

Yamada mengambil novel dari tanganku lalu membaca sinopsis di belakangnya.

“Iya. Genrenya... roman.”

“Roman? Itu agak mengejutkan”

ucapan Yamada terhenti, lalu ia nyengir.

“atau mungkin nggak juga. Dyu-fu.”

“Jangan ketawa kayak nerd menyeramkan.”

“Hehe, maaf. Jati diriku tadi... keluar.”

“Jadi jati dirimu itu nerd menyeramkan?”

Jarak antara penampilannya dan kepribadiannya ternyata besar sekali.

Lip gloss tipis berwarna pada bibirnya berkilau memantulkan cahaya lampu neon.

Yamada menyipitkan mata yang dibingkai bulu mata panjang.

“...Aku jadi agak tertarik sama buku ini. Ini punyamu, Kurimoto-kun?”

“Iya. Itu rilisan baru. Mungkin di perpustakaan belum ada.”

“Hmm... kalau begitu, nanti setelah kamu selesai, boleh pinjam ke aku? Atau malah”

Ia mendekatkan wajahnya.

Mendadak sekali sampai aku tak sempat mundur, dan tubuhku langsung membeku. Rasanya seperti langit tiba-tiba jatuh. Mata beningnya, yang mengingatkanku pada langit biru, ada tepat di depanku.

“Kasih tahu aku rekomendasimu, Kurimoto-kun. Seleraku aneh sih... tapi aku merasa kita bakal cocok, Kurimoto-kun.”

“...O-Oh.”

Aku ciut, terintimidasi. Dulu Junna, sekarang Yamada juga. Kenapa gadis-gadis yang dekat denganku semuanya selalu dekat secara fisik juga?

“Kamu suka hujan, Kurimoto-kun?”

tanya Yamada sambil sedikit memiringkan payung biru pastelnya. Aku mengangkat payung vinil beningku dan menjawab sambil berjalan di sampingnya.

“Lumayan suka.”

Jarak di antara dua payung kami dipenuhi hujan. Intensitasnya tidak terlalu deras, dan kota yang dibungkus suara gerimis lembut itu tampak seperti sedang mengantuk. “Begitu ya,” kata Yamada dengan senang.

“Aku juga! Kalau hujan, aku bisa tetap di dalam ruangan tanpa merasa bersalah. Nggak ada latihan klub juga, jadi aku bisa baca banyak... kamu anak atletik, kan, Kurimoto-kun? Nomor apa?”

“Menurutmu?”

“Hmm. Kalau lihat-lihat, sepertinya bukan sprint... antara jarak menengah atau jauh... bisa juga lompat jauh, tapi bukan lompat tinggi. Lempar-lemparan juga jelas bukan... hmm, jarak jauh!”

“Benar. Kok tahu?”

“Yess! Hehe... karena aura kamu yang cool dan kelihatannya stoik itu terasa begitu. Kamu suka lari?”

“Aku nggak benci.”

“Berarti kamu juga nggak suka-suka amat?”

“Kurang lebih... capek sih. Tapi aku lumayan suka dengar musik atau mikir sambil lari. Meski waktu latihan klub tentu nggak bisa dengar musik.”

“Oh. Kamu biasanya dengar yang seperti apa?”

“Depressive rock dan yang semacam itu.”

“...Depressive rock?”

Seperti dugaan, dia nggak tahu. Saat Yamada memiringkan kepala sekaligus payungnya, aku pun mencoba mengatakannya dengan cara lain.

“Rock Jepang. Kayak 04 Limited Sazabys, atau My Hair is Bad. Atau ENDY.”

“ENDY!?”

Yamada langsung terpancing. Matanya yang tetap berkilau meski di bawah langit mendung itu bersinar terang.

“Mereka bagus banget! Aku paling suka yang itu, ‘End of Night’ sama ‘Dawn Yells’!”

“Double single terakhir mereka yang judulnya diambil dari nama band sendiri. Secara emosional itu luar biasa banget, dalam segala arti!”

“Iya. Sampai sekarang aku juga belum move on dari pembubaran mereka... kalau kamu, Kurimoto-kun? Lagu favoritmu yang mana?”

“Lagu favorit ya... mungkin ‘Red Hot Bomb’. Itu rekaman ulang dari masa indie mereka, lagu yang agak nggak terkenal dan liriknya full Inggris, tapi intensitasnya gila banget. Beberapa waktu lalu aku nyanyiin itu di karaoke.”

“Hah, kamu bisa nyanyi lagu itu, Kurimoto-kun? Bukannya susah banget? Wah, aku pengin dengar... mau nggak kita pergi? Berdua sekarang juga, ke karaoke!?”

“...Sekarang?”

Aku agak ragu mendengar ajakan mendadak itu.

Wajah Junna sempat terlintas di kepalaku. Bayangan dia dengan headphone terpasang, tenggelam dalam penulisan lagu.

Setelah ragu sejenak, aku menggeleng.

“Kalau sekarang agak mendadak. Aku baru pergi minggu lalu.”

“Mm... begitu ya. Sayang sekali.”

Yamada kembali menatap lurus ke depan.

Air yang menumpuk di dedaunan pinggir jalan jatuh menghantam payung kami dengan bunyi berat. Tapi langkah Yamada tetap ringan, dan suaranya tetap cerah.

“Yah, kalau begitu besok aku akan tamatkan ‘Paniscu’. Habis itu aku baca novel yang kamu rekomendasikan, Kurimoto-kun!”

“Berarti aku juga harus menamatkan punyaku dulu. Kalau yang sekarang ini bagus, aku rekomendasikan itu. Kalau biasa saja, aku cari yang lain. Kamu suka tipe yang kayak gimana?”

“Hmm...”

Yamada menaruh telunjuk di dagu, berpikir. Lalu, dengan senyum lebar seterang matahari, senyum yang sulit dibayangkan berasal dari mantan anak suram, ia menjawab,

“Tulisannya ringan dibaca, tapi isinya berat dan gelap! Kalau roman, aku mau yang bikin hati sesak... aku suka karya yang merobek hati, tipe-tipe depresif begitu!”

“Pagi, Kurimoto-kun!”

Keesokan paginya. Setelah latihan atletik pagi, aku sempat ke toilet sendirian, dan saat hendak kembali ke kelas, suara ceria itu memanggil punggungku. Aku menoleh dan membalas singkat,

“Mm, pagi, Yamada-san.”

Yamada sepertinya juga baru selesai latihan paginya. Bau semprotan deodoran dan tisu pengelap badan cukup kuat. Di luar jendela, langit biru cerah seperti sirup Blue Hawaii tumpah membentang luas.

“Padahal rasanya baru kemarin ketemu ya?”

Wajah Yamada saat tersenyum tampak agak lelah, tapi apa itu hanya efek bayangan dari matahari silau yang masuk lewat jendela? Aku berjalan di lorong berdampingan dengannya.

“Oh iya. Aku bawa buku yang kemarin kurekomendasikan buatmu. Yang roman itu sebenarnya juga bagus, cuma agak beda dari tipe yang bikin sesak hati... aku nggak yakin itu cocok dengan seleramu, jadi aku bawa yang lain. Mau kuberikan sekarang?”

tanyaku, dan Yamada tersenyum canggung sambil minta maaf.

“Ah, maaf. Punyaku belum selesai...”

Bahu Yamada turun lesu, dan kali ini dia memang kelihatan sangat lelah.

Meski tertutup rapi oleh riasan, sepertinya dia memang kurang tidur, dan matanya tampak agak keruh.

“Nggak apa-apa kalau soal buku... tapi kamu lagi nggak enak badan? Atau kemarin sibuk hal lain? Kalau begitu, kamu nggak perlu memaksakan diri.”

“N-Nggak, bukan begitu,”

Yamada tampak ragu sambil memainkan ujung kuncirnya. Sesaat keheningan lewat.

“Kurimoto-kun.”

Yamada berhenti berjalan.

Aku juga ikut berhenti lalu menatapnya. Matanya menatapku lurus dan di kedalaman tatapan yang biasanya cerah itu, kini ada cahaya tekad yang menetap.

“Kamu ada waktu waktu istirahat siang nanti?”

Di detik berikutnya, kata-kata yang keluar dari mulut Yamada jauh lebih mengejutkanku dibanding plot twist novel murahan mana pun.

“Ada hal yang ingin kubicarakan... cuma berdua denganmu!”

Saat anak laki-laki SMA dipanggil sendirian oleh seorang gadis, peristiwa pertama yang biasanya terlintas di kepala adalah pengakuan cinta.

Namun sampai kemarin, hubungan Yamada dan aku hanyalah teman dari teman, dan hampir tak pernah sekali pun kami bicara sendirian tanpa kehadiran kenalan bersama kami, Youjirou.

Tapi lalu mendadak pengakuan cinta? Mustahil. Meski begitu, aku juga tak bisa sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan itu, mengingat betapa nyambungnya kami saat bicara soal hobi dan betapa cepat Yamada jadi akrab.

Cara dia mendekat, lolos dari sensor batas jarakku lalu menutup celah dengan cepat. Dengan Yamada, bukan hal aneh kalau dia mengaku setelah baru akrab sehari.

Aku tahu, aku sadar ini namanya terlalu sadar diri dan terlalu pede, tapi aku juga percaya bahwa waktu memang tak ada hubungannya dengan jatuh cinta pada sesuatu.

Kadang, di detik pertama bertemu, hatimu langsung dicengkeram, lalu kamu ditarik masuk tanpa bisa menolak.

Seperti saat aku pertama kali mendengar musik YOHILA.

Dia juga

“Hei,”

Di tempat yang terasa paling dekat dengan langit, di atap yang seperti kandang karena dikelilingi pagar pencegah jatuh yang tinggi, aku sedang berdiri berhadapan dengan Yamada.

Ini memang jam istirahat siang, tapi selain kami berdua tak ada murid lain di sana. Tempat ini adalah gedung barat, yang dipenuhi ruang kelas khusus, dan karena jauh dari kelas biasa, murid-murid memang jarang naik ke sini.

Yamada yang memilih tempat makan siang terpencil ini, begitu kami sampai di atap, langsung membuka percakapan dengan ekspresi serius, atau lebih tepatnya penuh beban.

Di tangannya ada kantong plastik minimarket berisi sandwich dan salad.

Sambil menggenggam tali plastik itu erat-erat, Yamada membuka bibirnya yang gemetar.

“Aku”

Ia menatap lurus ke mataku yang tegang.

“Sepertinya mungkin... nggak, aku yakin! Amamori-san itu JUN dari YOHILA, kan!?”

Apa yang ia katakan benar-benar di luar dugaan.

“...! Kenapa”

Yang reflek keluar dari mulutku bukan pengakuan atau penyangkalan, tapi pertanyaan. Kenapa Yamada bisa tahu soal YOHILA?

“Kemarin, waktu pulang dan aku tanya kamu suka musik apa... kamu jawab ‘depressive rock’, kan? Waktu itu aku nggak terlalu paham. Tapi aku jadi penasaran, jadi malamnya aku cari tahu. Dan ternyata banyak band yang keluar.”

Sambil bicara, Yamada mengoperasikan ponselnya.

“Dan di antara semuanya, aku coba dengar yang paling baru. Yaitu ini!”

Di layar ponsel yang disodorkannya ke hadapanku, di sebuah artikel blog musik, terpampang thumbnail video.

Itu adalah video lirik “Hydrangea and the Ghost.”

“Aku langsung jatuh suka seketika...”

Begitu menarik kembali ponselnya, Yamada menekan tombol putar pada video yang tertaut.

Di bawah langit cerah, intro gitar listrik yang patologis dan sangat terdistorsi, berpadu piano yang mengingatkan pada suara hujan, mulai mengalun. Tak lama kemudian, suara malas seperti bisikan mulai merangkai lirik yang segelap langit mendung.

“Begitu lagu pertama selesai, aku langsung putar ulang! ...Dan semakin aku dengar, aku malah merasa, ‘Tunggu dulu?’ Kayak, suara ini pernah kudengar di mana ya. Rasanya kayak, masa iya.”

Sambil memeluk ponsel yang masih terus bernyanyi itu ke dada, suara Yamada dipenuhi semangat.

Lagu masuk ke bagian reff, dan vokal yang tadi hanya nyaris berbisik mendadak meledak, seolah melepaskan sesuatu yang selama ini ditekan. Yamada pun ikut berteriak penuh semangat.

“‘Ini Amamori-san!’ sampai aku reflek teriak di kamar... haa. Lagunya benar-benar bagus banget... aku suka sekali... eh, Kurimoto-kun? Ada apa?”

Yamada yang sedang tenggelam dalam lagu YOHILA dan suara JUN menatapku heran. Saat itu aku sedang memegangi kepala sambil jongkok di tempat.

Waktu tak ada hubungannya dengan jatuh cinta.

Iya, benar.

Justru Yamada langsung terpikat dalam sekejap dan benar-benar tenggelam.

Bukan padaku, tapi pada YOHILA.

Salah paham yang sangat total.

“...Nggak.”

Aku bangkit lagi, setelah memulihkan diri dari kerusakan hatiku. Aku menggeleng.

“Yah, iya, memang begitu. Tentu saja... siapa pun pasti sadar. Kalau orang yang kenal Junna mendengarnya, pasti langsung tahu itu suaranya. Hampir sama persis.”

“Ahaha, iya. Meski bagian reff dan bagian yang emosinya lebih kuat memang terdengar seperti orang yang beda sih.”

Yamada tertawa, sama sekali tidak menyadari salah paham memalukanku itu. Lagu milik JUN, milik Junna, masih terus menggema di atap.

“...Lalu, yah, gara-gara itu aku langsung ketagihan sama YOHILA. Aku terus dengar semua yang bisa kutemukan, dan tanpa sadar tahu-tahu sudah pagi... kayak, eh, matahari sudah terbit? Akibatnya aku nggak jadi baca bukuku, dan sekarang aku kurang tidur... haaam.”

Ia menutup mulut dengan tangan sambil menguap, lalu menyeka air mata yang muncul di sudut matanya. Jadi, alasan Yamada kelihatan kelelahan hari ini memang karena begadang.

“Dan, kalau bicara Amamori-san, pasti nyambung ke Kurimoto-kun, kan? Jadi aku pikir aku harus bicara langsung sama kamu, makanya aku manggil kamu. Diam-diam, supaya nggak ada yang dengar.”

“B-Begitu...”

JUN sama sekali belum pernah mengungkap identitas aslinya. Dan melihat sifat Junna, dia pasti ingin menyembunyikan aktivitas musiknya dari orang lain sebisa mungkin.

“Apa aku juga sebaiknya bilang langsung ke Amamori-san? Kalau aku tahu Amamori-san adalah JUN dari YOHILA?”

“Kurasa... untuk sekarang, lebih baik jangan bilang dulu.”

Sambil mendengarkan bagian instrumental dari “Hydrangea and the Ghost,” aku berjalan ke arah pagar.

“Junna sekarang sepertinya lagi sibuk. Dia lagi fokus banget menulis lagu... kalau memang nanti mau bilang, mungkin lebih baik tunggu sampai semuanya agak tenang. Nanti aku jelaskan situasinya. Alasan kamu tahu soal YOHILA itu juga gara-gara aku ceroboh ngomong.”

YOHILA memang belum sampai sebesar itu, tapi kalau orang mencari kata kunci depressive rock, mereka memang akan muncul dengan mudah. Aku pun bertekad mulai sekarang harus lebih hati-hati.

“...Tapi aku senang yang tahu itu kamu, Yamada-san.”

Aku duduk di dasar pagar lalu bergumam.

Yamada berkedip. “Hah?”

“Junna itu... lebih membuka diri ke kamu dibanding ke orang lain. Untuk ukuran dirinya, maksudku.”

“Eh!”

Mendengar itu, kantong plastik minimarket di tangan Yamada sampai jatuh. Ia memegangi kedua pipinya lalu berseru.

“Serius!? B-B-B-Bagaimana... g-g-gimana dong?”

Tenaga tangannya yang menekan pipinya bertambah, sampai wajahnya mirip lukisan The Scream.

“Amamori-san, maksudnya JUN-sama, terbuka padaku... a-aku terhormat sekali!”

“JUN-sama?”

“Nanti kalau ketemu lagi, apa aku bisa ngobrol biasa dengan Amamori-san!? Bisa-bisa aku terlalu heboh dan malah berubah jadi fangirl total! Nanti dia tahu dong kalau aku ini sebenarnya nerd menyeramkan! Foooooh!”

“...Bukannya justru begitu dia bakal merasa lebih akrab dan lebih suka sama kamu? Nerd menyeramkan yang mengenakan kulit gyaru. Sekalian saja kalian saling bongkar rahasia masing-masing.”

Aku tersenyum miring melihat Yamada yang panik, lalu membuka tas makan siangku sendiri. Yamada akhirnya menenangkan diri dan duduk di dasar pagar di sampingku.

“Mm, kamu benar... kita ini senasib ya! Hehe.”

Setelah itu, sepanjang istirahat siang kami berdua justru heboh membicarakan YOHILA tanpa henti, dan akibatnya kami sama-sama terlambat masuk kelas setelah istirahat.

“Shigure. Belakangan ini kamu selingkuh, ya?”

Aku dituduh melakukan sesuatu yang tidak kulakukan.

Suatu hari sepulang sekolah, saat aku sedang membereskan barang-barang, Youjirou tiba-tiba mengatakan itu begitu saja.

Aku mengernyit, “Hah?” lalu menatap Youjirou yang berdiri sambil melipat tangan.

“Nggak tuh... kamu ngomongin Yamada?”

“Kamu mengaku! Berarti aku boleh menganggap itu bukti, kan?”

“Enggak bisa dong. Kenapa jadi begitu?”

“Padahal kamu sudah punya Amamori-chan!”

“...Junna nggak ada hubungannya dengan ini.”

kataku sambil hati-hati memasukkan buku pelajaran dan catatan ke dalam tas enamel supaya tidak tertekuk.

“Aku dan Yamada nggak seperti itu.”

“‘Aku dan Yamada’? Berarti artinya”

Bruk!

Tas sekolah menghantam belakang kepala Youjirou yang mulai mendekat dengan mata berbinar.

“Kuzujirou, kamu ganggu.”

kata Yamada dingin sambil menatap Youjirou yang menggeliat kesakitan. Seperti biasa, dia memang gyaru yang hanya jahat pada Youjirou.

“Dan jangan asal menyimpulkan. Aku dan Kurimoto-kun cuma teman.”

“‘Aku dan Kurimoto-kun’? Berarti artinya”

“Sudahlah.”

Aku menarik resleting tasku lalu berdiri.

“Cepat pergi latihan. Klub basket kan latihan meskipun hujan?”

Di luar jendela, hujan yang sudah diprediksi itu turun sejak sore hari, membasahi dahan dan daun pepohonan yang bergoyang diterpa angin. Karena tadi pagi kami sudah latihan penuh, latihan sore hari ini dibatalkan total.

“Kalau kalian berdua gimana? Pulang bareng lagi hari ini? Atau kencan di perpustakaan?”

Begitu Youjirou bertanya, kami berdua saling memandang.

“Gimana ya? Aku sih oke kalau ke perpustakaan, tapi...”

“Kurang enak buat ngobrol... karaoke aja gimana?”

“Boleh, ayo!”

“Lihat tuh, kalian memang selingkuh!?”

teriak Youjirou saat kami berdua dengan santai mendiskusikan rencana. Tatapan teman-teman sekelas langsung berkumpul ke arah kami, dan Yamada pun mengerutkan kening dengan jengkel.

“Nggak begitu. Kalau dipikir-pikir, kami ini sebenarnya sesama jenis roh.”

“...Maksudnya apaan?”

“Nggak kubilang. Ayo, Kurimoto-kun.”

“Iya. Sampai nanti, Youjirou.”

Meninggalkan Youjirou yang kebingungan, aku keluar kelas bersama Yamada. Sambil berjalan, aku menoleh dan bertanya,

“Dia nggak benar-benar salah paham, kan...?”

“Entahlah. Tapi nggak apa-apa juga sih. Aku sama Kuzujirou juga bukan begitu... dan kalaupun dia salah paham, ya bukan masalah besar.”

Jawaban Yamada terdengar kering. Aku memang penasaran seperti apa sebenarnya hubungan Yamada dan Youjirou sebagai teman masa kecil, tapi

“Kalau Amamori-san? Kamu belum dapat kabar sama sekali?”

Sebelum aku sempat menggali lebih dalam, Yamada sudah dengan mulus mengganti topik. Aku pun menjawab,

“...Nggak. Sama sekali.”

Percakapan terakhirku dengan Junna adalah seminggu lalu, saat aku membalas pesan cemburunya karena aku makan bekal Akagi hanya dengan stiker.

Pesan itu dibaca, tapi tak ada balasan. Sejak itu aku juga belum melihatnya lagi di ruang kesehatan, jadi aku bahkan tak tahu apakah dia datang ke sekolah atau tidak.

“Dia pasti sibuk.”

Aku menambahkan itu dengan nada santai, tapi di dalam hati, kegelisahan dan frustrasi seperti menatap langit mendung yang tampak akan hujan tapi tak pernah benar-benar turun, terus menumpuk.

Yamada mengintip wajahku lalu bertanya sambil menyeringai.

“Kamu kesepian?”

“Yah, sedikit...”

kataku, lalu langsung mengoreksi diri.

“...Nggak. Jujur saja, aku lumayan kesepian.”

Beberapa hari terakhir cuaca sangat sering hujan, tapi aneh rasanya tak bisa bertemu Junna bahkan saat hujan turun. Seperti ada satu sekrup yang hilang, seperti ada sesuatu yang penting tercabut.

Kalau aku lengah, rasanya aku ingin menghubunginya.

Gimana progresnya? atau kamu masuk sekolah nggak? Aku ingin mendengar kata-katanya, walau cuma lewat pesan.

Tapi tidak. Justru Junna sendiri yang bilang dia ingin fokus sampai lagunya selesai, dan aku tak boleh jadi orang yang menghubunginya hanya karena aku merasa kesepian.

Maka aku menekan hatiku sendiri. Bahkan meski tanpa sekrup.

“Ahaha! Begitu ya. Kamu jujur banget.”

Yamada tertawa lalu mengeluarkan sepatunya dari loker. Sepatu kets biru-putih berwarna langit.

“Karena sudah kebetulan ngomongin ini, aku mau tanya. Sebenarnya hubungan kamu dan Amamori-san itu apa sih?”

“A-Apa maksudmu dengan hubungan apa...?”

“Kalian cuma teman?”

Saat ia menekan dengan pertanyaan itu, aku langsung berhenti di lantai kayu berjajar itu. Aku bingung harus menjawab bagaimana.

“...Mm. Itu”

Tapi jawabannya sebenarnya jelas.

Bukan.

Mungkin memang sejak awal sudah begitu. Sejak hari itu, sejak momen kami tanpa sengaja bertemu di ruang audiovisual pada sore hujan sepulang sekolah, aku sudah punya perasaan yang istimewa pada Junna.

Sama seperti saat pertama kali aku mendengar musik YOHILA.

Tapi

“Kami teman,”

kataku sambil mengenakan sepatu.

“Untuk sekarang.”

“...Begitu.”

Mata Yamada sedikit melebar, lalu ia tersenyum lembut. Ia berjalan ke tempat payung, menarik payung pastel birunya, lalu

“Kalau karaoke nanti, kita nyanyi apa?”

tanyanya ceria, mengubah topik sekaligus suasana dengan sangat halus. Aku berdiri di samping Yamada lalu berkata,

“YOHILA, tentu saja.”

Saat melihat payung berwarna hydrangea yang diletakkan diam-diam di sudut belakang yang tak mencolok di antara hutan payung vinil bening, kehangatan seperti rasa lega mengisi dadaku.

“Meski lagunya memang nggak banyak sih. Cuma lima.”

“Kita nyanyikan lima itu terus-terusan! Sekalian kasih JUN-sama tambahan royalti satu yen pun jadi...”

“Fanatik yang taat ya.”

Kami terus mengobrol sambil membuka payung lalu keluar ke luar gedung. Hujannya memang tidak begitu deras, tapi anginnya kencang, dan hujan yang dibawa angin membasahi celana seragamku dari samping. Payungku sampai terangkat dan hampir ikut terbawa.

“Wah!? Anginnya kencang banget...”

“Mungkin pengaruh topan.”

Yamada mengangkat payungnya untuk melawan angin, sambil menahan rok pendeknya dengan satu tangan.

Menurut ramalan cuaca, topan kali ini adalah tipe topan hujan. Kekuatan anginnya sangat besar, dan diperkirakan akan mencapai titik terdekat dengan wilayah Kanto mulai besok sore sampai malam.

“Jangan-jangan sekolah diliburkan.”

“Entahlah. Entah kenapa, biasanya selalu meleset dari Kanto.”

Kami berjalan ke arah gerbang sekolah berdampingan. Tepat saat itu,

“Kya!?”

Hembusan angin kencang datang, dan payung Yamada hampir terhempas.

Aku spontan menangkap Yamada yang hampir tersandung, menopangnya. Berat tubuh yang ramping tapi lembut menempel padaku, dan aroma jeruk manis bercampur angin.

“Ah”

Di bawah payung bening itu, Yamada membeku. Setelah kira-kira lima detik, ia buru-buru menjauh.

“M-M-M-M-Maaf!”

Dalam keadaan sedikit kehujanan, Yamada membalikkan kembali payungnya yang sempat tertekuk lalu buru-buru membukanya lagi. Untungnya payung itu sepertinya tidak rusak. Aku mengeluarkan handuk dari tasku lalu menyodorkannya.

“Nggak apa-apa. Ini belum dipakai.”

“...M-Makasih.”

Yamada menerima handuk itu dengan ragu lalu mengelap tubuh dan rambutnya yang basah. Aku memalingkan wajah darinya, dan tanpa sengaja melihat ke arah gedung sekolah.

Ruang audiovisual di lantai dua gedung barat. Sedikit bagian ujung tirai gelap tebalnya terbuka. Lampunya tidak menyala.

“Aku nanti akan cuci handuknya lalu kubalikan”

Aku menoleh lagi karena mendengar suara Yamada.

Pipinya, saat memegang handuk itu, tampak sedikit merona.

“Nggak usah, nggak usah. Nggak perlu dipikirkan”

Aku tersenyum miring, mengambil kembali handuk dari tangannya, lalu berkata,

“Tapi mungkin karaoke-nya lain kali saja. Hujannya bisa makin parah. Lebih baik kamu cepat pulang lalu menghangatkan badan, jangan sampai masuk angin. Itu nasihat dari orang yang belum lama ini masuk angin gara-gara kehujanan.”

Sambil mengatakan itu, aku kembali memandang ruang audiovisual.

Dari kejauhan, tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam ruangan itu.

Suara hujan yang menghantam dunia.

Dedaunan yang diacak-acak angin kencang berdesir ribut.

Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa