Amamori Junna is Humid Volume 1 Short Story

Bersama Hujan

Kalau kamu tanya apa aku suka hujan, jawabanku adalah tidak.

Soalnya aku jadi basah, repot harus melindungi alat musikku dari air, dan kepalaku juga suka sakit, mungkin karena tekanan udara... meski berkurangnya orang yang mondar-mandir di luar itu memang lumayan menyenangkan buatku, karena aku nggak suka keramaian.

Aku sebenarnya nggak terlalu suka hujan.

Malah, aku membencinya. Nama keluargaku memang memakai kanji “hujan”, tapi aku benci hujan.

...Tapi, pernah ada masa ketika aku menyukainya.

Juni, saat aku kelas satu SMP. Dari saat nama band pertamaku diputuskan memakai nama lain hydrangea, YOHILA, sampai Juni saat aku kelas dua SMP, ketika dari empat orang yang ada akhirnya cuma aku yang tersisa, selama kira-kira setahun.

Aku suka hujan.

Kurasa aku mulai menyukainya secara alami, karena hujan adalah lambang yang mewakili kami, YOHILA, dan juga konsep musik kami.

Irama yang dimainkan miliaran tetes hujan, beratnya udara lembap, pemandangan yang terlihat lebih pudar dan tenang dibanding hari cerah, menu khusus hari hujan di kafe yang dulu sering kami datangi bersama.

Aku mulai menyadari hal-hal baik yang sebelumnya tak pernah kusadari, lalu aku jadi menyukai hujan. Dan pada saat yang sama ketika YOHILA layu, aku pun kembali berubah. Dari suka menjadi tidak suka. Dari tidak suka menjadi benci.

Meski begitu, sampai sekarang aku masih terjebak oleh hantu dari masa saat aku menyukai hujan itu, masih terus berpegangan pada perasaan yang sudah basah dan berat, tak mampu melepaskannya, dan bahkan sekarang, setelah aku layu dan tinggal satu orang saja, aku masih terus menulis tentang hujan yang tak kunjung berhenti.

Dan aku yang seperti itu

“Apa kalau kamu, Junna?”

ada seseorang yang menemukanku.

Dia menatapku lalu bertanya.

“...Kamu suka hujan?”

Suara yang lembut. Senyum yang halus. Tatapan yang dingin, tapi sekaligus hangat.

Bertemu dengannya adalah hal yang kembali mengubah duniaku. Hujan deras ini memang tak berhenti, tapi tetap saja.

Karena bersama hujan, ada suaranya, ekspresinya, kehangatannya, aromanya, dan nadanya.

“Iya,”

jawabku dengan jelas.

“Aku suka sekali.”


Terhubung dengan LexiNovel

Ikuti update chapter dan komunitas LexiNovel.

Komentar

🤏
Aa