Jadi, namanya Amamori Junna.
Namanya ditulis dengan kanji yang berarti “hujan” dan “menjadi basah.” Nama aslinya, yang ia berikan setelah tahu kalau aku ini sesama penikmat, terasa sangat cocok dengan cuaca hari itu.
Suara hujan yang turun deras. Beratnya udara yang lembap terasa nyaman.
Setelah kami terbawa suasana cukup lama membicarakan musik yang sama-sama kami suka, aku melirik jam di dinding. Tanpa sadar, tiga puluh menit sudah berlalu begitu saja.
“Hei, Amamori.”
“Kamu boleh panggil aku Junna, ya? Shigure.”
Saat aku menoleh lagi ke arahnya, wajahnya sudah ada di sana, sangat dekat di depan mataku.
Aku spontan mundur sambil berseru, “Whoa!?” tapi Amamori bahkan tidak berkedip.
“Aku memanggilmu dengan nama depanmu, kan...? Lagipula, aku suka nama Shigure,” katanya.
Dibilangi begitu tanpa malu-malu malah membuatku makin tersentak. Aku memalingkan wajah sambil menggaruk pipi.
“O-Oh...”
“Bukan ‘oh.’”
“...Makasih?”
“Bukan itu juga.”
Tatapan Amamori tetap tertuju padaku, menatap sisi wajahku lekat-lekat. Di bawah sorotan matanya yang tak goyah itu, akhirnya aku mengucapkan hal yang kupikir ingin ia dengar.
“...Junna.”
“Mm.”
Amamori Junna mengangguk kecil. Rupanya itu jawaban yang benar. Lalu, tanpa terburu-buru, ia bertanya, “Kalau kamu, Shigure?”
“Hm?”
“Kamu suka namaku?” tanyanya, kembali mendekat seperti ingin mengintip langsung ke mataku. Aku menahan napas. Tidak ada jalan kabur.
“Uh, iya... suka. Menurutku namamu indah, baik tulisan maupun bunyinya.”
“Mm...”
Mendengar jawabanku, Junna berkedip, lalu tatapannya sempat mengembara sebentar sebelum ia menunduk. Ia mundur, duduk rapi di kursinya, lalu menggerutu.
“...Jangan bilang kata-kata seperti ‘suka’ atau ‘indah’ begitu saja tanpa malu.”
“Itu justru kalimatku buatmu, Nona Tanpa Ekspresi,” balasku, setengah jengkel.
Junna sendiri sama sekali tidak terlihat malu.
Mungkin melempar candaan dengan wajah datar memang ciri khasnya. Datangnya tiba-tiba dan susah ditebak.
“Ngomong-ngomong, tadi kamu mau bilang sesuatu, kan?”
“Hah? Oh, iya...”
Aku mengulang ingatan sebentar. Sebelum obrolan soal cara saling memanggil tadi...
“Jadi, Junna. Kenapa kamu suka depressive rock?” tanyaku, tanpa alasan khusus.
“Bukannya masa ramainya depressive rock itu sudah lama lewat?”
Istilah depressive rock sendiri muncul dan mencapai puncaknya dari tahun 1990-an sampai awal 2000-an. Sampai sekarang memang masih ada banyak band dan lagu yang cocok dimasukkan ke dalam kategori itu, tapi sebagai nama genre, istilah itu nyaris sudah mati.
“Jadi, kenapa?”
“…………”
Junna tidak menjawab. Tatapannya juga beralih ke tempat lain.
“Kalau aku, awalnya gara-gara YOHILA.”
Jadi aku melanjutkan, sambil melirik ke arah kotak gitar yang disandarkan ke dinding.
“Aku tahu mereka waktu musim dingin kelas tiga SMP. Waktu itu aku lagi mengulik lagu-lagu di situs video, terus tanpa sengaja nemu mereka... dan aku langsung ketagihan sejak sekali dengar. Sampai sekarang aku masih ingat jelas rasa kaget dan berdebarnya saat itu.”
YOHILA adalah band yang memakai slogan ‘The New Generation of Depressive Rock’.
Mereka dikenal lewat lirik-lirik gelap dengan sensibilitas khas, suara gitar berat yang penuh distorsi, dan vokal sendu berbisik yang kadang tiba-tiba berubah jadi liar dan emosional. Mereka cukup populer di kalangan anak muda di internet. Sebuah band indie rock yang sedang naik daun.
“Liriknya, musiknya, suaranya, semuanya pas banget... Dunia yang mereka bawa memang gelap, tapi justru itu yang bikin kena banget. Rasanya benar-benar nyambung, tahu nggak? Sama hati yang bengkok dan lelah.”
Saat bicara, aku teringat lagi percakapanku dengan teman-teman klub atletik sebelum datang ke sini.
Aku tidak bisa terang-terangan bilang kalau aku tidak mau melakukan sesuatu. Aku juga tidak bisa begitu saja menyukai apa yang semua orang suka. Aku bisa membaca suasana, tapi tidak bisa memaksa diriku ikut mengalir bersama arus. Dari keras kepala itu, kesuraman, ketidakpuasan, frustrasi, dan rasa jengkel menumpuk sedikit demi sedikit setiap hari, seperti endapan...
Aku suka YOHILA karena mereka menyanyikan perasaan-perasaan gelap dan negatif itu apa adanya, tanpa berusaha mempercantiknya. Rasanya seperti negatif dikali negatif jadi positif; mereka bisa membalikkan suasana hatiku yang muram.
“………… Kamu suka... YOHILA?”
Junna, yang sedari tadi diam sambil menunduk, mengangkat wajahnya. Dari balik poninya, ia mengintip ke arahku dan bertanya dengan ragu,
“Beneran?”
“Iya. Aku suka banget!” jawabku mantap sambil mengepalkan tangan.
“...Kalau begitu, tes.”
Junna berdiri dengan gerakan halus. Ia membelakangiku, meninggalkan tempat duduknya, lalu menghampiri gitarnya.
Ia meraih katak biru keunguan yang tergantung di resleting, lalu sambil menoleh ke arahku dari atas bahunya, ia mengumumkan. Dengan mata menyipit, ia menatapku seolah sedang menantang.
“Tebak intro lagu YOHILA. Kalau kamu bisa jawab semuanya dengan benar, baiklah. Aku akan mengakui kalau perasaanmu memang sungguhan, Shigure.”
☂
“Hydrangea and the Ghost.”
“...Benar.”
Mendengar jawabanku, Junna mengangguk sekali.
Jari-jarinya menari di atas fret, lalu dengan petikan tajam dari pick berbentuk tetesan air, ia mengganti frasa berikutnya dengan mulus. Suara gitar listrik yang diperkuat ampli mini dan dihias oleh pedal efek menggema, menelan suara hujan.
“Kalau yang ini?”
“Rain, Ruin, Rain.”
“Mm. Benar...”
Junna kembali mengangguk mendengar jawabanku yang langsung keluar, lalu mulai memainkan melodi A sambil memikirkan pertanyaan berikutnya.
Dengan badan gitar warna hijau laut itu bertumpu di pahanya, Junna terlihat sangat santai saat bermain. Bahkan bagi orang awam sepertiku pun, jelas kelihatan kalau dia jago.
Melodi elektrik yang terjalin dari permainan jarinya yang memukau membuat udara lembap bekas hujan dan gendang telingaku ikut bergetar, sebelum akhirnya terserap ke dalam banyak lubang kecil di dinding peredam suara.
“...Berikutnya ini. Tahu?”
“Yellow Frog.”
“Iya, benar. Kita coba lagu yang bukan lagu utama juga, ya? Misalnya ini.”
“The Scum.”
“B-Benar... Hmm, baiklah, yang terakhir. Ini lagu sisi-B yang tidak masuk album... mungkin agak susah.”
“The Self-Identity of a Cold Pancake.”
“…………Mm.”
Berbanding terbalik dengan riff gitar yang liar, ekspresi Junna tetap tenang dan datar. Wajahnya sedikit mengerut. Bahkan setelah aku menjawab pun, dia tetap terus bermain.
Junna mengangkat pandangannya dari tangannya, lalu menatapku.
Aku balas menatapnya dalam diam.
“Benar.” Junna menghela napas lalu berhenti bermain. Keheningan dan suara hujan kembali mengisi ruangan.
“Aku benar-benar nggak nyangka kamu bisa jawab semuanya dengan benar...”
Suara Junna tetap datar seperti permukaan danau yang tenang. Tapi,
“Kamu benar-benar mendengarkannya, ya,” gumamnya, dan bibirnya sedikit, tapi jelas, melunak membentuk senyum tipis. Senyum seperti seberkas cahaya matahari yang tiba-tiba menembus celah awan hujan yang tebal.
Itu ekspresi pertama yang benar-benar kulihat di wajah Junna sejak kami bertemu.
“Hei.”
Tanpa sadar aku membuka mulut dan bertanya,
“Junna, kamu ini...”
Tepat saat itu, suara elektronik yang kasar memecah ruangan dari pengeras suara dekat langit-langit. Bel tanda waktu terakhir murid harus meninggalkan sekolah.
Junna, yang tadi sedang membersihkan senar gitarnya dengan hati-hati, berhenti dan melirik jam. Jarumnya menunjuk pukul enam sore. Ia melipat kainnya, meraih gitar di bagian leher, lalu berdiri.
“Sudah waktunya. Aku harus pergi...”
“Oh, hei!”
Saat Junna dengan cepat membereskan peralatannya, gitar, ampli, dan kabel-kabelnya, aku memilih kata-kata dengan hati-hati. Junna melirik ke arahku.
“...Mau tukeran kontak?” tanyaku ragu-ragu.
Junna tidak menjawab. Aku melanjutkan, seperti ingin mengisi keheningan.
“Aku masih pengin ngobrol banyak hal. Bukan cuma soal musik, tapi juga buku. Dan aku juga pengin dengar pendapatmu lagi soal novel ini setelah aku selesai baca...”
“Maaf.”
Memotong ucapanku, Junna menutup resleting tas gitarnya. Ia menyampirkannya ke bahu lalu berdiri.
“Aku nggak pakai LINE.”
“Hah? Oh, uh... begitu ya.”
Membelakangiku yang masih bingung, Junna mulai berjalan cepat dengan gitar di punggungnya. Katak biru keunguan itu bergoyang-goyang. Rasanya hujan di luar mendadak terdengar makin deras.
“…………”
Ia berjalan menuju pintu kelas dalam diam, dengan kepala sedikit tertunduk. Lalu ia membuka pintu dan nyaris pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi, atau setidaknya begitu yang kukira.
“Shigure.”
Ia berhenti tepat sebelum keluar dan menoleh. Mata mengantuknya bertemu dengan mataku.
“Sampai nanti.”
“...!?”
Mengalihkan pandangan dari wajahku yang terkejut, Junna akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan.
Suara langkah kakinya yang ringan perlahan menjauh di lorong, menyisakan hanya suara hujan di kaca jendela dan aku yang benar-benar terpaku.
“...Jadi, maksudnya gimana?”
Aku menggaruk belakang kepala lalu bergumam.
“Bilang nggak pakai LINE... bukannya itu kebohongan klise buat nolak orang...? Tapi dia bilang ‘sampai nanti,’ berarti dia masih mau ngobrol lagi, kan?”
Di atas meja tergeletak novel terlupakan yang menjadi awal dari semua ini. Aku mengambilnya lalu tersenyum masam.
“Dia susah dibaca banget...”
Tanpa ekspresi, perasaannya sulit ditebak, sesaat terlihat jauh lalu tiba-tiba mendekat. Sulit diraih, tapi justru itulah yang membuatnya memikat. Gadis yang aneh.
Apa aku bakal bertemu dia lagi?
Sambil mendengarkan suara hujan yang menyelimuti dunia, dan menikmati sisa-sisa gema permainan gitar Junna, aku mendapati diriku berharap semoga besok hujan lagi.
☂
Keesokan harinya, langit cerah indah. Awan cumulonimbus, seperti tumpukan krim kocok, mengambang di langit biru soda.
Karena cuaca cerah, tentu saja latihan sore klub atletik diadakan penuh sepulang sekolah. Di bawah langit yang menumpahkan sinar matahari panas, aku berlari mengelilingi lapangan dengan tubuh bermandikan keringat.
Tanahnya sudah lama kering, tapi mungkin karena sisa hujan sebelumnya, udara terasa berat dan lembap. Aku tidak suka dan tidak benci hujan, tapi kurasa aku memang agak benci hari setelah hujan. Apalagi saat musim panas.
“Duluan.”
Berpisah dari anak-anak atletik yang ramai membicarakan para streamer dan lagu-lagu yang sedang populer, bahkan mulai merekam video pendek buat media sosial, aku menuju lantai dua gedung barat. Ke ruang audiovisual.
Waktu sudah lewat pukul lima lewat tiga puluh, dan gedung sekolah yang dipenuhi ruang-ruang kelas khusus itu hampir kosong. Mungkin mereka anggota brass band yang latihan di ruang musik lantai empat, sekelompok gadis dengan kotak alat musik hitam turun dari tangga dan berpapasan denganku.
Aku teringat kotak gitar Junna, lalu dengan harapan bisa bertemu lagi dengannya, aku meraih gagang pintu ruang audiovisual. Tapi,
“...Terkunci.”
Pintunya terkunci, dan tidak ada jawaban saat aku mengetuk. Aku mengintip dari celah tirai yang menutupi jendela pintu. Lampunya sepertinya mati. Junna tidak ada di sana.
“Yah, tentu saja nggak ada...”
Aku menghela napas kecewa, mengeluarkan earphone nirkabel, lalu memakainya.
Aku memutar mini album pertama YOHILA, The Eye of the Typhoon is Watching You, dari lagu pertama, menimpa keheningan tanpa hujan dengan musik sebelum akhirnya berbalik pergi. Cahaya matahari sore yang masuk ke koridor terasa menyilaukan, mungkin karena hatiku masih tertinggal pada hari hujan itu.
Semoga besok hujan.
Sambil menatap langit yang mulai memerah, aku berdoa. Tapi keesokan harinya, dan hari setelahnya lagi, cuaca tetap cerah tak seperti biasanya untuk bulan Juni. Sejak hari itu, aku belum melihat Junna lagi.
Sepertinya ritme harian Junna dan aku hanya saling bertemu pada saat klubku libur, dengan kata lain, hanya saat turun hujan sepulang sekolah.
“Peluang hujan berikutnya itu... hari Senin. Lama banget.”
Aku menyeringai melihat deretan simbol matahari di ramalan cuaca.
Apa musim hujannya memang belum resmi mulai? Sudah tiga hari sejak kami bertemu. Ditambah akhir pekan di antaranya, berarti hampir seminggu sebelum aku bisa melihatnya lagi.
“...Itu pun belum tentu aku bakal ketemu dia kalau hujan.”
Mungkin ini pertama kalinya seumur hidup aku mengharapkan hujan sebegini kuatnya.
Apa ada ya versi kebalikan dari teru teru bozu, pikirku sambil berjalan pulang melewati jalanan kering yang diwarnai cahaya senja.
☂
Ternyata, kalau teru teru bozu digantung terbalik, namanya jadi furefure bozu untuk memohon hujan.
Seolah permohonanku dikabulkan, hari Senin turun hujan deras.
Begitu bangun tidur, suara hujan lebat sudah mengguyur dari luar, dan dalam hati aku mengucapkan terima kasih pada furefure bozu tanpa wajah yang kugantung terbalik di batang tirai kamarku.
Katanya, cara yang benar untuk teru teru bozu maupun furefure bozu adalah menggantungnya dulu tanpa wajah, lalu baru menggambar wajahnya setelah permohonanmu terkabul.
Setelah itu, boneka itu harus segera dibuang. Kejam juga, ya.
“Permohonanku... belum terkabul sih, jadi biar saja dulu begini.”
Permohonanku adalah agar hujan terus turun dan aku bisa bertemu Junna di ruang audiovisual sepulang sekolah. Jadi, dengan furefure bozu tanpa wajah masih tergantung, aku meninggalkan rumah. Tetesan hujan memukul payung vinil beningku, membentuk bunyi seperti alat perkusi.
Hujannya begitu deras sampai-sampai aku tetap basah meski sudah berpayung, dan sepatuku penuh air sampai terasa belepotan saat dipakai berjalan. Tidak ada latihan pagi untuk klub atletik. Kalau begini, latihan sore kemungkinan besar juga dibatalkan, atau paling cuma latihan ringan di dalam ruangan. Mungkin akhirnya aku bisa bertemu Junna.
Lalu...
Sepulang sekolah. Hujan belum juga berhenti, malah makin deras. Begitu latihan sore dibatalkan, aku langsung menuju ruang audiovisual. Aku meletakkan tangan di pintunya, pada jendela kecil yang tertutup tirai. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku membukanya dengan mantap. Pintunya tidak terkunci.
Ruangan itu terang, lampunya menyala. Aku mengarahkan pandangan ke belakang.
Yang kulihat adalah sepasang kaki telanjang berwarna putih bersih.
“...Junna?”
Tidak ada jawaban. Aku mendekat dengan hati-hati.
“………………”
Itu memang Junna. Kaki telanjangnya disandarkan di atas meja, dan ia sedang menatap layar ponsel yang diposisikan menyamping. Ia memakai headphone hitam. Sepertinya sedang mendengarkan musik, karena ada suara samar yang bocor keluar.
Seperti biasa, dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku.
(Mungkin aku kerjain sedikit.)
Karena tiba-tiba merasa iseng, aku menahan diri agar tidak membuatnya sadar, lalu diam-diam mendekat dari belakang.
Di layar ponselnya, sedang diputar video musik bergaya anime, “Ham” milik Zutto Mayonaka de Iinoni. Judulnya berarti “Dia dan aku.” Ponsel itu diletakkan di atas dadanya, tepat di tonjolan penuh yang terasa kontras dengan tubuhnya yang ramping.
Saat pandanganku tanpa sengaja naik ke atas, kulihat kakinya yang telanjang, tersandar begitu saja di atas meja.
Pahanya yang putih dan berisi.
Sama seperti dadanya, bagian itu juga jauh lebih berisi dari yang kuduga. Karena posisi duduknya yang longgar, ujung rok pendeknya tersingkap naik, memperlihatkan lebih dari separuh kulit lembut berkilau itu.
Dia juga tidak memakai kaus kaki di kedua kakinya, dan di ujung jari-jari kakinya, kuku-kuku cantik berwarna merah muda pucat seperti cangkang bunga sakura memantulkan cahaya lampu neon.
Ditambah lagi, entah kenapa baju dan kulit Junna sedikit lembap. Aroma hujan dan samar wangi manis yang naik dari tubuhnya, daya tarik yang memabukkan itu, membuat kepalaku sedikit limbung.
Aku menelan ludah sekali sebelum mengulurkan tangan, lalu berkata, “Hei,” sambil menepuk bahu Junna.
“Hk!?”
Junna langsung melonjak kaget dengan reaksi berlebihan, bahunya terangkat tinggi.
“Eh, hyaah!” serunya, lalu dalam kepanikan saat berusaha menoleh ke belakang, ia terjatuh dari kursinya.
Ponselnya terpental dan jatuh ke karpet dengan bunyi berdebuk.
Roknya terangkat, dan sesaat, mataku yang membelalak menangkap sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
“…………Hah!? J-Junna!”
Setelah sempat membeku sesaat, aku buru-buru jongkok, sedangkan Junna hanya menatapku kosong. Ia melepas headphone-nya, berkedip dua atau tiga kali, lalu memanggil namaku.
“Shigure?”
“M-Maaf! Aku nggak nyangka bakal bikin kamu kaget separah itu... Kamu nggak apa-apa?”
“...Iya, aku nggak apa-apa.”
Saat aku menunjukkan rasa khawatir, Junna mulai gelisah. Sambil berkali-kali merapikan rambutnya dengan tangan kanan dan ujung roknya dengan tangan kiri, ia menjawab,
“Aku lengah... Aku pikir kamu sudah nggak akan datang lagi,” gumamnya pelan.
“Hah?”
Aku tercengang, tapi segera paham apa yang ia rasakan, lalu sambil memungut ponselnya yang jatuh, aku menjelaskan keadaannya.
“Begini, aku kan anak klub atletik. Kalau nggak hujan dan lapangannya bisa dipakai, latihan sore kami berat. Sejak hari itu cuacanya terus cerah, kan? Itu satu-satunya alasan aku nggak bisa datang. Padahal habis latihan aku tetap sempat mengintip ke sini.”
Tapi aku tidak pernah melihat Junna di ruang audiovisual sepulang sekolah.
Dari caranya bicara, sepertinya dia juga tetap datang saat hari cerah, tapi mungkin sudah pulang lebih dulu saat aku datang setelah latihanku selesai. Rupanya ritme kami memang benar-benar tidak cocok kalau hari cerah.
“...Oh. Jadi begitu.”
Junna mengerti lalu mengambil ponselnya dari tanganku. Ponsel itu dilindungi silikon biru keunguan berbentuk katak yang disederhanakan.
Sambil memeluknya ke dada, Junna bergumam,
“Syukurlah.”
Suaranya tetap datar, dan setelah keterkejutan awal tadi, ia tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Tapi wajahnya merah sampai ke telinga.
Penyebabnya mungkin...
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu basah kuyup kena hujan, Junna?”
tanyaku sambil duduk di kursi, berusaha untuk tidak melihat apa yang ada di sudut pandangku.
“Kamu habis keluar atau apa?”
“Mm. Nggak bisa dibilang ‘keluar’ sih, tapi...”
Junna duduk kembali di tempat semula, di baris kursi belakangku. Bukan dengan kaki dinaikkan ke meja seperti tadi, melainkan duduk rapi sambil merapatkan kedua kakinya erat-erat.
“Aku baru sampai sekolah sekarang.”
“...Baru sekarang? Ini kan sudah sepulang sekolah.”
Kalau telatnya separah itu, bukannya mending sekalian bolos saja, pikirku. Tapi kalau Junna benar-benar tidak masuk, kami juga tidak akan bisa bertemu seperti ini.
Apa dia juga datang jauh-jauh dengan harapan bisa bertemu denganku? Sempat terpikir untuk mengatakannya sambil bercanda, tapi aku mengurungkannya. Itu terlalu pede, tegurku pada diri sendiri.
“Penyebabnya karena aku ketiduran.”
“Ketiduran?”
“Itu rock ‘n’ roll, kan?”
“Kamu pikir semua hal bisa dimaafkan cuma dengan bilang begitu, ya?”
“Kalau aku berusaha supaya gitarku nggak basah,” kata Junna, dengan mulus mengganti topik. Gitarnya, yang tersimpan dalam tas hitam lembut, disandarkan di dinding dekat situ.
“Aku malah yang jadi basah. Basah kuyup dari kepala sampai kaki.”
“Begitu ya. Jadi itu sebabnya kamu melepas kaus kakimu.”
“Betul. Aku melepas kaus kaki, lalu menjemurnya.”
Junna mengangguk mantap, memberi penekanan khusus pada kata “lalu”.
Aku memalingkan wajah dari Junna dan berusaha mengalihkan kesadaran dari apa yang tadi kulihat saat dia jatuh dari kursi dan dari benda yang tergantung miring di atas sana.
Kalau bukan karena suara hujan lebat, mungkin detak jantungku sendiri bisa terdengar. Saat aku duduk diam dengan perasaan kacau, Junna menggeser tubuhnya di kursi.
“A-Aku nggak melepas apa-apa selain kaus kaki... jadi...”
Jangan malah menekankan bagian itu.
Ke arah yang diam-diam ditatap Junna.
Aku pura-pura tidak melihat celana dalam biru keunguan pucat yang digantung di batang tirai bersama kaus kakinya.
☂
“Baiklah, aku pulang dulu.”
Sebelum bel waktu terakhir untuk meninggalkan sekolah berbunyi, sekitar pukul lima lewat tiga puluh, aku angkat suara.
Junna berkata, “...Mm,” lalu berhenti bermain gitar dan memeriksa jam di ponselnya yang sedang menampilkan aplikasi mesin drum.
“...Sudah selarut ini.”
Irama drum elektronik yang sedari tadi berdetak teratur seperti metronom pun berhenti, dan suara hujan mengisi keheningan yang tertinggal. Derasnya hujan sudah agak reda. Kalau begini, sepertinya aku bisa pulang tanpa terlalu basah.
“Shigure...”
Saat aku hendak berdiri, Junna menghentikanku dengan menarik ujung lengan bajuku, lalu menatapku.
Ia terdiam sesaat, seolah sedang memilih kata-kata, lalu berkata,
“...Kita ketemu lagi, ya. Di hari hujan berikutnya.”
Setelah itu ia melepaskan tanganku. Aku pun tersenyum.
“...Iya. Kita ketemu lagi di hari hujan.”
Begitu mengucapkannya keras-keras, aku kembali sadar betapa anehnya hubungan kami. Kami hanya bertemu diam-diam di salah satu sudut gedung sekolah yang kelabu dan muram, pada sore hari saat hujan turun, lalu menghabiskan waktu bersama.
Kami membicarakan musik yang kami suka, bertukar pendapat soal buku, dan aku mendengarkan Junna memainkan gitar. Waktu yang kami habiskan bersama dalam balutan suara hujan itu terasa menyenangkan dan damai, mengalir begitu lambat, tapi saat dipikir kembali, semuanya lewat dalam sekejap.
“Lain kali, kita main ‘tebak intro lagu tentang hujan’, ya?”
“Lagu tentang hujan... seperti coldrain atau amazarashi?”
“Itu nama band, bukan judul lagu. Kalau amazarashi, misalnya ‘Rain Man’.”
“Oh begitu. Seperti ‘Rain and Cappuccino’ milik Yorushika, atau ‘A Lost Dog and the Beat of the Rain’ milik Ajikan, atau ‘About Water and Rain’ milik UNISON...”
“Iya.”
“Atau ‘Raining’ milik Cocco?”
“Iya... Hmm? Judulnya memang tentang hujan, tapi liriknya justru terasa cerah, ya?”
“Atau ‘After the Rain’ milik Remioromen.”
“Itu hujannya malah sudah berhenti...”
“Aku mau penutupnya pakai ‘Niji’.”
“‘Niji’? Yang mana? ELLE? SPYAIR? Fujifabric?”
“Shinku Horou.”
“Kamu memang cinta banget sama depressive rock. Aku suuuka intro ‘Discomfort from Paranoia and Autosuggestion’.”
Rasanya menyenangkan dan menenangkan bahwa dia langsung paham setiap referensi yang kulemparkan.
Selera Junna dan aku memang mirip, dimulai dari musik, dan mungkin karena selera kami nyambung, kami jadi cocok dalam hal lain juga.
“Orang yang selera musiknya sama biasanya cocok juga dalam banyak hal.”
Itulah teori Junna.
“Jangan sampai masuk angin,” kataku sambil berdiri dan menyampirkan tas enamel ke bahu.
Pakaian Junna sudah benar-benar kering, dan kalau begini, benda-benda yang ia gantung di batang tirai juga pasti sudah bisa dipakai lagi. Junna, sambil menahan roknya dengan badan gitarnya, mengangguk dan berkata, “Iya.”
“Kamu juga, Shigure. Oh, tapi mungkin kamu nggak apa-apa.”
“...Maksudnya apa tuh?”
“Maksudnya orang bodoh nggak gampang sakit.”
“Orang bodoh? Nilai-nilaiku lumayan bagus, ya.”
Di ujian tengah semester yang kami jalani setelah libur panjang, aku mendapat hasil lumayan bagus, peringkat 16 dari 320 murid untuk lima mata pelajaran utama.
Junna bereaksi seolah kaget. “Nggak mungkin...” katanya. Tentu saja dengan wajah datar tanpa perubahan.
“A-Aku kira kita sama... Aku merasa dikhianati... Suram sekali...”
“...Nilaimu jelek, ya?”
“Setiap pelajaran nyaris cuma lolos tipis. Peringkat 319. Nyaris jadi juru kunci.”
“.........Nanti kapan-kapan kita belajar bareng.”
“Tolong.”
Nada suaranya terdengar begitu putus asa sampai rasanya memang benar-benar gawat.
“Aku akan memainkan gitar biar kamu bisa lebih fokus...”
“‘Do Your Homework.’”
“Itu lagunya Zutomayo. Tapi kalau ‘midnight all night’, begadang semalaman juga jadi gampang, kan?”
“‘Do Your Homework.’”
“Jangan diputar terus.”
Kalau obrolan ala pasangan pelawak ini diteruskan selamanya, aku benar-benar tidak akan pulang-pulang. Jadi aku memaksa menutup percakapan dengan, “Oke, kalau gitu aku hentikan pemutarannya,” lalu berjalan ke pintu keluar.
Aku membuka pintu yang tertutup, lalu menoleh ke belakang.
“Duluan.”
“Iya. Sampai nanti.”
Junna melambaikan tangan kecil. Dengan mata mengantuk dan wajah tanpa ekspresi. Seperti biasa, dia sulit dibaca, tapi...
Semoga besok hujan lagi.
Aku berharap, di balik wajah tanpa ekspresinya itu, diam-diam dia juga memikirkan hal yang sama seperti yang baru saja kuucapkan dalam hati.