Begitu Luxia berteriak, suasana tegang langsung menyelimuti seluruh kelas.
Wajar saja kalau Luxia tidak tahu karena dia datang terlambat, tetapi lawan bicaranya adalah seorang putri dari negara adidaya.
Semua orang tampaknya khawatir kalau dia baru saja bersikap tidak sopan kepada orang sepenting itu.
Namun, seolah ingin menghapus kekhawatiran mereka, Liliana tersenyum lembut lalu berdiri.
"Perkenalkan, nama saya Liliana von Eisfelt. Mulai hari ini saya menjadi murid pindahan di kelas ini. Mohon bantuannya mulai sekarang."
"Oke! Aku Luxia Photon! Salam kenal ya, Liliana!"
Seketika itu juga kelas kembali menjadi gaduh.
Semua orang seolah ingin berkata, "Berani sekali dia bersikap seperti itu kepada seorang putri."
Di tengah suasana itu, orang pertama yang bergerak adalah seorang gadis berambut cokelat sebahu.
Dialah Miku Adlet, ketua kelas E sekaligus heroine utama yang juga merupakan teman masa kecil sang protagonis, Gray.
Miku menarik ujung pakaian Luxia lalu berbisik panik,
"T-tunggu, Luxia. Begitu dengar nama Eisfelt, masa tidak sadar juga?"
"Hah? Hmm..."
Setelah berpikir sejenak, Luxia menepukkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya.
Melihat itu, seluruh kelas akhirnya menghela napas lega karena mengira dia baru sadar.
"Nama itu keren banget ya!"
...Namun kecemasan mereka langsung menyala kembali.
Seluruh kelas mulai ketakutan, khawatir Luxia baru saja benar-benar melewati batas terhadap seorang putri.
Saat kulirik ke samping, Yuina pun tampak memasang wajah cemas.
Di tengah suasana seperti itu...
"Hehe."
Justru Liliana sendiri tertawa kecil.
"Namamu Luxia, ya? Aku sudah pernah mendengar tentangmu."
"Hah? Serius?"
"Ya. Aku mendengar bahwa ada seseorang di Kelas E yang memperoleh nilai tertinggi dalam ujian praktik. Informasi itu kugunakan sebagai alasan untuk meyakinkan... ehem, maksudku, sejak lama aku berharap kita bisa saling berkembang bersama."
"...Aku nggak begitu ngerti sih, tapi intinya kamu mau berteman denganku?"
"Tentu saja. Dengan senang hati. Salam kenal, Luxia."
Setelah percakapan itu, suasana akhirnya kembali tenang.
Namun, memang begitulah karakter Liliana von Eisfelt.
Dia tidak berhenti sampai di situ.
Liliana memandang seluruh kelas sebelum melanjutkan,
"Tentu saja bukan hanya kepada Luxia saja. Hal yang sama juga berlaku bagi kalian semua. Hanya karena aku adalah putri dari negara tetangga, tidak berarti kalian harus menjaga jarak. Di akademi ini, dan sebagai teman sekelas yang belajar di ruangan yang sama, aku berharap kalian memperlakukanku dengan santai."
Begitu Liliana selesai berbicara, seluruh ruangan terdiam.
Beberapa detik kemudian, entah kenapa terdengar seruan, "Ooo...", disusul tepuk tangan yang bergema.
"Syukurlah semuanya berjalan baik."
"...Iya."
Aku mengangguk menanggapi gumaman Yuina.
Karena aku sudah tahu seperti apa sifat Liliana, aku memang yakin semuanya tidak akan menjadi masalah. Namun bagi murid-murid lain, tentu belum tentu begitu.
Meski begitu, ada satu hal yang menguntungkan bagiku dari percakapan barusan.
Karena Luxia berbicara kepada Liliana dengan gaya bicara biasanya dan Liliana menerimanya begitu saja, seharusnya orang-orang juga tidak akan merasa aneh kalau aku berbicara santai kepadanya.
Mungkin aku memang harus berterima kasih kepada Luxia.
Lagipula...
"...Pemandangan yang aneh."
"Hm? Tadi kau bilang sesuatu, Allen-kun?"
"Nggak, tidak ada apa-apa."
Sambil menjawab begitu kepada Yuina, aku terus memandangi percakapan antara Luxia dan Liliana yang masih berlangsung dengan perasaan campur aduk.
Tak lama kemudian...
"Ehem! ...Kurasa kita sudah bisa kembali ke pelajaran?"
Ucapan Lion membuat semua murid baru sadar bahwa pelajaran masih berlangsung. Mereka pun segera kembali duduk dengan rapi menghadap ke depan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Luxia dan Liliana.
"Eh!? Putri Kekaisaran!?!?"
Beberapa puluh detik kemudian, teriakan Luxia kembali menggema memenuhi ruang kelas.
Dan dengan teriakan itulah, pelajaran akhirnya benar-benar dimulai kembali.
◇◆◇
Setelah jam pelajaran berakhir.
Kondisi tubuhku sudah pulih, jadi sebenarnya aku ingin langsung berlatih melawan【Boneka Abadi】. Namun karena tempat latihan pasti ramai begitu sekolah usai, kupikir lebih baik pergi ke Perpustakaan Sihir dulu.
Tepat saat pikiran itu terlintas...
Brak!
Pintu kelas terbuka dengan suara keras.
Di sana berdiri seorang siswa laki-laki berambut perak dengan tatapan mata tajam.
Albert Gaindot.
Dia adalah karakter pendukung yang muncul di DanAka.
Murid Kelas A itu merupakan salah satu pengikut Yuri yang datang ke tempat latihan bersama Yuri saat insiden perebutan【Boneka Abadi】beberapa waktu lalu.
"Jadi ini Kelas E...!"
Dengan wajah penuh amarah, dia menyapu seluruh isi kelas dengan pandangannya.
Selain Luxia yang langsung pulang begitu pelajaran selesai, semua murid Kelas E memandangnya dengan waspada, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Namun di antara mereka...
Hanya aku seorang yang tetap tenang sambil mengatur pikiranku.
(Begitu ya. Sudah masuk waktu untuk kejadian ini.)
Peristiwa ini memang ada di dalam game.
Besok, Kelas E dan Kelas A tempat Albert berada dijadwalkan mengadakan pertandingan persahabatan sebagai bagian dari pelajaran.
Tentu saja ini hanya pertandingan latihan. Senjatanya hanya boleh terbuat dari kayu dan sihir yang digunakan dibatasi sampai sihir tingkat dasar.
Namun dalam pertandingan latihan itu, Albert akan berkata,
"Besok di pertandingan persahabatan, bertarunglah denganku, Gray Ark!"
Dia menantang Gray karena mendengar bahwa Gray yang sebelumnya tidak mampu berbuat apa-apa saat menghadapi Yuri kini telah membangkitkan Double Job. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu.
Gray kemudian mengalahkan Albert dalam pertandingan latihan dan membuktikan kemampuannya kepada semua orang.
Sejak saat itulah DanAka benar-benar memasuki Main Episode 1.
(Benar. Meskipun banyak kejadian di luar dugaan, alur utamanya masih berjalan dengan baik.)
Seperti saat aku mengalahkan salah satu dari dua War Liger sehingga alur cerita kembali ke jalurnya, meskipun kini muncul peristiwa besar berupa kepindahan Liliana, selama aku berusaha, seharusnya skenario game tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Belakangan ini memang banyak hal terjadi berturut-turut hingga nyaris membuatku putus asa.
Tetapi untuk menyerah sekarang masih terlalu cepat.
Kehidupan sebagai karakter mob yang diam-diam mengincar posisi terkuat sambil tetap membiarkan protagonis bersinar baru saja dimulai!
Tepat setelah aku membulatkan tekad itu, Albert berteriak lantang.
"Besok di pertandingan persahabatan, bertarunglah denganku, Allen Claude!"
....................................
Kenapa jadi aku?